Anda di halaman 1dari 2

Guruh Sukarno Putra

Lina Silalahi
Pipit Anggraini
Riris Saraswati
Wulandari Agustini

Kelompok 3

RESUME TERMODINAMIKA

HUKUM KE II TERMODINAMIKA
a. Reversibel dan Ireversibel
Reversible adalah sebuah proses yang bisa "dibalik" dengan cara sangat kecil
perubahan dalam beberapa properti dari sistem tanpa produksi entropi (yaitu disipasi
energi).
Karena terhadap perubahan sangat kecil, sistem dalam kesetimbangan
termodinamika sepanjang seluruh proses. Karena itu akan mengambil jumlah tak terbatas
waktu untuk proses reversibel untuk menyelesaikan, proses reversibel sempurna tidak
mungkin. Namun, jika sistem mengalami perubahan merespon lebih cepat daripada
perubahan diterapkan, deviasi dari reversibilitas mungkin dapat diabaikan. Dalam siklus
reversibel, sistem dan sekitarnya akan persis sama setelah setiap siklus.
Definisi alternatif dari proses reversibel adalah proses yang, setelah itu telah
terjadi, dapat dibalik dan tidak menyebabkan perubahan baik dalam sistem atau
sekitarnya. Secara termodinamika, proses "berlangsung" akan mengacu pada transisi dari
awal negara ke keadaan akhir.
Dalam proses ireversibel hingga perubahan yang dibuat, sehingga sistem ini
tidak pada kesetimbangan selama proses berlangsung. Pada titik yang sama dalam siklus
ireversibel, sistem akan berada dalam keadaan yang sama, tetapi lingkungan yang
berubah secara permanen setelah setiap
b. Pernyataaan Kelvin Planck
Tidak mungkin untuk membuat sebuah mesin kalor yang bekerja dalam suatu siklus
yang semata-mata mengubah energi panas yang diperoleh dari suatu sumber pada suhu
tertentu seluruhnya menjadi usaha mekanik. Dengan kata lain, formulasi kelvin-planck
menyatakan bahwa tidak ada cara untuk mengambil energi panas dari lautan dan
menggunakan energi ini untuk menjalankan generator listrik tanpa efek lebih lanjut,
misalnya pemanasan atmosfer. Oleh karena itu, pada setiap alat atau mesin memiliki nilai
efisiensi tertentu. Efisiensi menyatakan nilai perbandingan dari usaha mekanik yang
diperoleh dengan energi panas yang diserap dari sumber suhu tinggi.
c. Pernyataan Clausius
Tidak mungkin untuk membuat sebuah mesin kalor yang bekerja dalam suatu siklus
yang semata-mata memindahkan energi panas dari suatu benda dingin ke benda panas.
Dengan kata lain, seseorang tidak dapat mengambil energi dari sumber dingin (suhu
rendah) dan memindahkan seluruhnya ke sumber panas (suhu tinggi) tanpa memberikan
energi pada pompa untuk melakukan usaha.
d. Mesin Kalor

Guruh Sukarno Putra


Lina Silalahi
Pipit Anggraini
Riris Saraswati
Wulandari Agustini

Kelompok 3

RESUME TERMODINAMIKA

mesin kalor adalah mesin yang dapat mengkonversikan energi kalor menjadi energi
gerak. mesin kalor ini dapat kita klasifikasikan menjadi mesin pembakaran dalam dan
mesin pembakaran luar, yaitu tergantung dari tempat pembakaran bahan bakarnya ada di
dalam atau di luar mesin. contoh dari mesin pembakaran dalam adalah mesin bensin,
mesin diesel dan mesin jet, sedangkan mesin pembakaran luar adalah turbin uap dan
mesin stirling.
secara termodinamis, kita dapat mengatakan mesin kalor memiliki karakter :
1. menerima kalor dari sumber yang bersuhu panas (misalkan pembakaran bensin, batu
bara, nuklir, panas bumi, panas matahari, dll)
2. merubah sebagian panas menjadi gerak (biasanya gerak putaran poros)
3. membuang sebagian panas yang tidak berubah menjadi gerak ke suhu yang lebih
dingin.
4. mesin ini bekerja dalam suatu siklus.
Dari poin-poin di atas, kita dapatkan bahwa mesin kalor hanyalah mengambil sebagian
panas (energi dari bahan bakar) menjadi energi gerak, dan harus ada energi yang di buang
untuk melaksanakan siklusnya, atau dengan kata lain mesin kalor tidak mungkin memiliki
efisiensi 100% (efisiensi mesin kalor adalah persentase banyaknya kalor yang berubah
menjadi energi gerak), mesin bensin yang sering kita gunakan hanya memiliki efisiensi
sekitar 20-30% serta diesel sekitar 50%, perlu dicatat bahwa efisiensi ini tidak tergantung
dari mekanisme gerak mesin, gesekan atau faktor pelumasan mesin, namun hanya
tergantung pada suhu tertinggi dan suhu terendah mesin kalor tersebut, artinya bahwa
efisiensi sesungguhnya bisa lebih rendah dari angka tersebut.
Mungkin pertanyaanya adalah, dapatkah kita merubah seluruh energi kalor menjadi
energi gerak?. jawabanya adalah tidak, karena jika kita tidak membuang kalor tersebut ke
suhu yang lebih dingin, mesin tidak bisa menjalani siklusnya. bayangkan piston silinder
yang tidak membuang sisa pembakaranya yang masih panas tidak mungkin bisa bergerak
lagi meskipun di panaskan lebih lanjut karena sudah pada batas volume maksimalnya
(kepala piston pada posisi ujung).