Anda di halaman 1dari 2

STANDAR OPERASIONAL

PROSEDUR

PEMERINTAH
KABUPATEN
MALANG

TATALAKSANA KLINIS LAYANAN


PRIMER
No. Dokumen
............................
.

No. Revisi
............................
.

Tgl. Mulai
berlaku
............................

Halaman

DINAS
KESEHATAN
PUSKEMAS
WAGIR

1 dari 2

Penanggung Jawab,

SOP
PENATALAKSANA
AN REAKSI
GIGITAN
SERANGGA

Disusun
Pokja Yanis

Diperiksa
Koord. Manaj. Mutu

Disahkan,
Ka. PKM Wagir

Dr. Dyah Ayu


Ikeningrum
NIP.
198407212010012016

Ottik Franisca F,
A.Md.Farm.

Drg. Widodo Widjanarko


NIP.
196306151989011003

NIP.
198502252009042002

Pengertian

Reaksi gigitan serangga (insect bite reaction) adalah


reaksi hipersensitivitas atau alergi pada kulit akibat
gigitan (bukan terhadap sengatan/stings), dan kontak
dengan serangga. Gigitan hewan serangga, misalnya oleh
nyamuk, lalat, bugs, dan kutu, yang dapat menimbulkan
reaksi peradangan yang bersifat lokal sampai sistemik.

Tujuan

Menangani Reaksi Gigitan Serangga

III

Kebijakan

Sebagai pedoman penanganan Reaksi Gigitan Serangga

IV

Prosedur

1. Anamnesa
2. Pemeriksaan Fisik
3. Penegakan diagnosa : Penanganan Reaksi Gigitan Serangga
4. Tatalaksana
a. Prinsip penanganan kasus ini adalah dengan
mengatasi respon peradangan baik yang bersifat lokal
maupun sistemik. Reaksi peradangan lokal dapat
dikurangi dengan sesegera mungkin mencuci daerah
gigitan dengan air dan sabun, serta kompres es.
b. Atasi keadaan akut terutama pada angioedema

Referensi
VI

Unit Terkait

karena dapat terjadi obstruksi saluran napas.


Penanganan pasien dapat dilakukan di Unit Gawat
Darurat. Bila disertai obstruksi saluran napas
diindikasikan pemberian ephinefrin sub kutan.
Dilanjutkan
dengan
pemberian
kortikosteroid
Prednison 60-80 mg/hari selama 3 hari, dosis
diturunkan 5-10 mg/hari.
c. Dalam kondisi stabil, terapi yang dapat diberikan
yaitu:
1. Antihistamin sistemik golongan sedatif: misalnya
hidroksizin 2x25 mg per hari selama 7 hari atau
Chlorpheniramine Maleat 3x4 mg selama 7 hari
atau Loratadine 1x10 mg per hari selama 7 hari.
Topikal: Kortikosteroid topikal potensi sedang-kuat:
misalnya krim mometasone furoat 0.1% atau krim
betametasone valerat 0.5% diberikan selama 2 kali sehari
selama 7 hari.
Buku Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Primer Edisi I tahun 2013
UGD, Rawat Jalan, Rawat Inap