Anda di halaman 1dari 112

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

POLA KONSUMSI BUAH DI KOTA BEKASI

Oleh :
DIAN HARDIANA
A 14102665

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2006

RINGKASAN
DIAN HARDIANA. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pola Konsumsi Buah
Di Kota Bekasi . (di bawah bimbingan MUHAMMAD FIRDAUS, SP, MSi)
Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam buah tropis yang
khas dan berpotensi dijadikan unggulan dipasaran dunia maupun lokal.
Diperkirakan terdapat 300 jenis buah tropis tumbuh di Indonesia. Tetapi pada
akhir-akhir ini buah-buahan yang beredar di pasaran adalah buah impor, bahkan
volume ekspor buah-buahan Indonesia dari tahun 1999 lebih rendah dari volume
impor.
Menurut BPS, pada tahun 2005 akan terjadi peningkatan konsumsi buah
sebesar 32,5 persen. Dimana rata-rata konsumsi buah akan mencapai angka 45,76
kg/kapita/tahun dengan total konsumsi adalah sebesar 10375 ribu ton. Rata-rata
tingkat konsumsi buah Indonesia diperkirakan akan terus meningkat hingga
mencapai angka 78,74 kg/kapita/tahun pada tahun 2015.
Masih rendahnya tingkat konsumsi buah di Indonesia dibandingkan
dengan rekomendasi FAO, mencerminkan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia
akan peningkatan kesehatan dan gizi masih kurang dan perlu ditingkatkan. Seiring
dengan peningkatan pengetahuan masyarakat Indonesia pada saat sekarang ini,
kebiasaan mengkonsumsi buah mengalami perubahan terutama pada masyarakat
perkotaan. Pola konsumsi buah pada masyarakat perkotaan secara rutin juga
dipengaruhi oleh tingginya kesadaran akan nilai gizi, sehingga konsumen menjadi
lebih kritis dalam memilih buah baik dari kualitas maupun kuantitasnya.
Kota Bekasi wilayahnya berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, yang
merupakan pusat pemerintahan Indonesia. Kota Bekasi ditetapkan sebagai bagian
dari wilayah pengembangan Jabotabek yang dipersiapkan untuk mengurangi
ledakan penduduk DKI Jakarta berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 13 tahun
1976.
Sebagai daerah penyangga Ibukota menjadikan Kota Bekasi memiliki
letak yang strategis untuk pemasaran buah-buahan, termasuk buah impor. Dengan
masuknya buah impor ke Kota Bekasi akan memeberikan banyak pilihan pada
masyarakat dalam mengkonsumsi buah. Dari hal ini perlu dilakukan faktor-faktor
yang mempengaruhi pola konsumsi buah di Kota Bekasi.
Brand image yang tertanam di masyarakat perkotaan termasuk Kota
Bekasi adalah buah impor memiliki kualitas yang lebih baik dari buah nasional.
Di Kota Bekasi pada umumnya buah dipasarkan melalui supermarket, kios buah
dan pedagang kaki lima. Ketiga pasar ini, selain tempat yang membedakan juga
komposisi asal buah, jenis buah dan kualitas buah. Perbedaan tempat pemasaran
buah akan mempengaruhi terhadap harga dan keputusan pembelian buah oleh
konsumen. Di supermarket konsumen memiliki banyak pilihan buah, baik itu jenis
dan jumlah buah atau asal buah yang lebih beragam dibandingkan dengan kios
buah dan pedagang kaki lima.
Berdasarkan masalah yang ada maka tujuan penelitian ini adalah sebagai
berikut: (1) Mendeskripsikan pola konsumsi buah pada konsumen rumah tangga
di Kota Bekasi yang dekat dan jauh dari supermarket, (2) Menganalisis faktorfaktor yang mempengaruhi pola konsumsi buah pada konsumen rumah tangga di
Kota Bekasi yang dekat dan jauh dari supermarket dan (3) Mengklasifikasikan

faktor-faktor yang mempengaruhi pola konsumsi buah konsumen rumah tangga di


Kota Bekai yang dekat dan jauh supermarket.
Penelitian ini dilakukan dengan survei terhadap rumah tangga sebagai
konsumen buah. Survei terhadap konsumen buah dilakukan di Kota Bekasi.
Pemilihan Kota Bekasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan
pertimbangan bahwa Kota Bekasi merupakan salah satu daerah dengan kepadatan
penduduk tertinggi di Jawa Barat dan memiliki pengeluaran rata-rata per kapita
per bulan untuk buah-buahan yang cenderung meningkat setiap tahunnya sehingga
merupakan salah satu daerah tujuan pemasaran buah-buahan yang potensial.
Alasan lain Kota Bekasi merupakan daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang
pesat karena merupakan kawasan perindustian dan perdagangan Jabotabek. Survei
terhadap konsumen buah dilakukan pada bulan September sampai dengan bulan
Oktober 2005.
Secara umum rata-rata umur responden adalah 40,57 tahun, terdiri dari
laki-laki dan perempuan yang sudah berkeluarga dengan latar belakang
pendidikan responden beragam mulai dari lulusan Sekolah Dasar sampai dengan
Pasca Sarjana. Secara keseluruhan responden biasa mengkonsumsi buah, baik
buah nasional maupun buah impor. Jenis buah yang dikonsumsi sangat beragam.
Responden biasanya membeli buah tidak terfokus pada satu tempat, karena buah
yang dikonsumsi bisa berasal dari supermarket, kios buah, pedagang kaki lima
dan pedagang keliling.
Pola konsumsi buah di Kota Bekasi untuk masyarakat yang dekat dan jauh
dari supermarket memiliki banyak persamaan diantaranya dapat dilihat dari jenis
buah yang dikonsumsi, namun perbedaan yang paling terlihat adalah jumlah buah
konsumsi buah dan frekuensi pembelian buah. Jenis buah nasional yang paling
banyak digemari oleh masyarakat dekat supermarket adalah mangga dan
masyarakat jauh dari supermarket adalah jeruk. Sedangkan buah impor yang
paling digemari untuk responden yang dekat dan jauh supermarket adalah apel.
Hasil analisis regresi logistik terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi
pola konsumsi buah rumah tangga di Kota Bekasi, yaitu faktor frekuensi
pembelian buah dan tempat pembelian buah. Berdasarkan analisis diskriminan
diketahui bahwa tempat pembelian merupakan variabel/faktor yang memiliki
perbedaan antar grup atau memiliki hubungan dengan asal buah yang dikonsumsi
oleh konsumen di Kota Bekasi. Dimana konsumen yang membeli buah di
supermarket akan mengkonsumsi buah impor, hal ini disebabkan buah yang
ditawarkan oleh supermarket sebagian besar merupakan buah impor dengan
berbagai jenis dan bentuk fisik buah yang menarik. Sedangkan konsumen yang
membeli buah di kios buah dan pedagang kaki lima akan mengkonsumsi buah
nasional karena banyaknya buah nasional yang ditawarkan.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


POLA KONSUMSI BUAH DI KOTA BEKASI

OLEH :
DIAN HARDIANA
A 14102665

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar


SARJANA PERTANIAN
Pada
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2006

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Dengan ini kami menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh:
Nama

: Dian Hardiana

NRP

: A14102665

Program Studi

: Ekstensi Manajemen Agribisnis Pertanian

Judul

: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pola Konsumsi Buah


Di Kota Bekasi

Dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Ekstensi
Manajemen Agribisnis Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Muhammad Firdaus, SP, MSi


NIP.132 158 758

Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Supiandi Sabiham, M. Agr


NIP. 130 422 698

Tanggal Kelulusan : 24 Maret 2006

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI POLA KONSUMSI BUAH DI
KOTA BEKASI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI
YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA
SUATU PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Bogor, 24 Maret 2006

Dian Hardiana
A 14102665

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Ciamis pada tanggal 02 Agustus 1981. penulis adalah


anak tunggal dari pasangan bapak Sugandi dan ibu Endah. Penulis mengawali
pendidikan pada tahun 1987 di SDN Karang kamulyan 3. Pada tahun 1993,
penulis melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Cisaga. Pada tahun 1996 penulis
melanjutkan pendidikan di SMUN 2 Ciamis lulus tahun 1999. Pada tahun yang
sama penulis di terima di Institut Pertanian Bogor pada Program Diploma III
Manajemen Hutan Alam Produksi, Fakultas Kehutanan, Jurusan Manajemen
Hutan, Lulus pada tanggal 23 Oktober 2002. Pada bulan Pebruari penulis diterima
pada Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor.
Selama menjadi mahasiswa Diploma III Manajemen Hutan Alam
Produksi, penulis pernah menjadi Asisten Praktikum pada mata kuliah
Pemantauan dan Perancangan DAS Lab. Pengaruh Hutan serta Asisten praktikum
pada mata kuliah Ilmu Ukur Tanah dan Pemetaan Wilayah Lab. Inventarisasi
Hutan. Penulis juga pernah terlibat dalam proyek-proyek kehutanan khususnya
pemetaan wilayah antara lain proyek pembuatan peta zonasi hewan di Pulau
Rambut gugusan Pulau Seribu, dan ikut mengoreksi peta pohon di sekitar Monas
pada proyek percobaan penanaman Rusa.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada
waktunya. Shalawat dan salam kepada nabi Muhammad SAW yang telah
membawa umatnya dari kegelapan ke alam yang penuh pengetahuan.
Skripsi yang berjudul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pola Konsumsi
Buah Di Kota Bekasi merupakan salah satu syarat kelulusan untuk memperoleh
gelar sarjana pertanian pada program sarjana ekstensi manajemen agribisnis,
fakultas pertanian, institut pertanian bogor.
Pemahaman tentang karakteristik dan faktor-faktor yang mempengaruhi
pola konsumsi buah pada konsumen rumah tangga di Kota Bekasi sangat
diperlukan untuk melihat peluang pasar khususnya untuk penerapan strategi
pemasaran jenis buah-buahan nasional.
Penulis menyadari skripsi ini masih banyak kekurangan, sehingga saran
dan kritik dari semua pihak sangat berguna bagi penulis. Akhir kata terima kasih
pada semua pihak yang telah memberikan masukan sehingga skripsi ini selesai,
dan semoga bermanfaat bagi semus pihak yang memerlukan.

Bogor, 24 Maret 2006

Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH


Puji syukur kepada Allah SWT berkat rahmat dan hidayah-Nya dan
Shalawat salam semoga senantiasa terlimpah pada nabi Muhammad SAW, yang
telah memberikan pegangan dan kekuatan dalam menyelesaikan skripsi ini. Pada
kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih
dan penghargaan kepada semua pihak yang telah membantu selama masa
perkuliahan dan juga dalam menyelesaikan skripsi ini, yaitu:
1. Bapa dan mamah yang telah menunjukan indahnya hidup di dunia ini serta
atas semua kasih sayang, doa, kesabaran, dan dorongan moril maupun
material yang diberikan pada penulis.
2. Muhammad Firdaus, SP. Msi. Selaku dosen pembimbing skripsi atas
bimbingan dan kesabarannya dalam mengarahkan penulis untuk
menyelesaikan skripsi ini.
3. Ir. Nindiantoro MSc. Selaku dosen evaluator pada kolokium proposal
penelitian.
4. Febriantina Dewi SE, MM. Selaku dosen penguji utama dalam ujian
sidang skripsi.
5. Ir. Murdianto MSc. Selaku wakil komisi pendidikan dalam ujian sidang
skripsi.
6. Drs. Mochammad Solehudin dan Dra. Nurliana yang telah memberikan
bantuan selama penulis menyelesaikan studi dari Diploma III sampai
Sarjana.
7. Dra. Nining Puspaningsih, MSi dan bapak Endim, Bscf yang telah
memberikan pengalaman-pengalaman kerja selama di Fakutas Kehutanan.
8. Keluarga besar bapak Daswa SPd, MPd dan keluarga H. Beni Hamdani di
Margahayu Bekasi atas bantuannya pada penulis saat penelitian.
9. Saudara Arry Twadikaryanto Sudiarso AMd, Aida Nurfatma AMd,
Sibghatallah SP, Edwin Mahatir SP, Tarmidi SP, Masayu Azka SP, Siti
Zakiah AMd, Ahmad Mardian SP.
10. Semua teman-teman Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis IPB, Special
thank for Palayu Crew .

10

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI..................................................................................................

DAFTAR TABEL ..........................................................................................

iv

DAFTAR GAMBAR......................................................................................

vi

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................

vii

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...............................................................................

1.2 Perumusan masalah........................................................................

1.3 Tujuan Penelitian ...........................................................................

1.4 Kegunaan Penelitian .....................................................................

1.5 Ruang Lingkup Penelitian.............................................................

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Buah Tropika Nasional ..................................................................

2.2 Ciri Produk Holtikultura (Buah-buahan) .......................................

10

2.3 Konsumsi Buah-buahan di Indonesia ............................................

10

2.4 Hasil Penelitian Tedahulu ..............................................................

12

2.4.1 Preferensi Konsumen Buah...................................................

12

2.4.2 Analisis Regresi Logistik ......................................................

14

BAB III. KERANGKA PEMIKIRAN


3.1 Kerangkan Pemikiran Teoritis .......................................................

16

3.1.1 Teori permintaan ...................................................................

16

3.1.2 Tahapan Keputusan Konsumen ............................................

17

3.1.2.1 Pengenalan Kebutuhan...............................................

17

3.1.2.2 Pencarian Informasi ...................................................

18

3.1.2.3 Evaluasi Alternatif .....................................................

19

3.1.2.4 Pembelian...................................................................

20

3.1.2.5 Evaluasi Hasil Pembelian...........................................

20

3.1.3 Evaluasi Pasca keputusan Pembelian....................................

21

11

3.1.4 Analisis Regresi Logistik ......................................................

22

3.1.5 Analisis Diskriminan.............................................................

23

3.2 Kerangka Pemikiran Konseptual ...................................................

25

3.3 Hipotesis.........................................................................................

28

BAB IV. METODE PENELITIAN


4.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian.........................................................

30

4.2 Metode Pengumpulan Data ............................................................

30

4.3 Metode Pengambilan Responden...................................................

31

4.4 Metode Pengolahan Dan Analisis Data..........................................

32

4.4.1 Tabulasi Deskriptif................................................................

32

4.4.2 Analisis Model Logistik........................................................

32

4.4.3 Analisis Diskriminan.............................................................

34

4.5 Definisi Operasional.......................................................................

38

BAB V. KEADAAN UMUM DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN


5.1 Keadaan Umum Daerah Penelitian ................................................

41

5.2 Karakteristik Responden ................................................................

44

5.2.1 Umur .....................................................................................

44

5.2.2 Jenis Kelamin ........................................................................

44

5.2.3 Pekerjaan ...............................................................................

45

5.2.4 Tingkat Pendidikan ...............................................................

46

5.25 Jumlah Anggota Keluarga......................................................

46

5.2.6 Kapasitas Listrik Terpasang..................................................

47

5.2.7 Pendapatan Keluarga.............................................................

48

5.2.8 Pengeluaran ...........................................................................

49

5.2.9 Pengeluaran Khusus Pangan .................................................

49

BAB VI. POLA KONSUMSI BUAH RUMAH TANGGA


6.1 Pola Kebiasaan Konsumsi Buah Untuk Rumah Tangga................

52

6.2 Pola Konsumsi Rumah Tangga Menurut Waktu Konsumsi Buah.

58

6.2.1 Pola Konsumsi Buah Rumah Tangga Satu

12

Minggu Terakhir .................................................................

58

6.2.3 Pola Konsumsi Buah Rumah Tangga Satu Bulan Terakhir ..

60

6.3 Pola Konsumsi Buah Nasional Rumah Tangga .............................

62

6.4 Pola Konsumsi Buah Impor Rumah Tangga..................................

66

6.5 Reaksi Tehadap Ketersediaan Buah Nasional Dan


Harapan Responden Terhadap Buah Nasional...............................

70

BAB VII. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI POLA KONSUMSI BUAH


DI KOTA BEKASI
7.1 Analisis Regresi Logistik ...............................................................

73

7.2 Analisis Diskriminan......................................................................

80

BAB VIII. KESIMPULAN DAN SARAN


8.1 Kesimpulan ...................................................................................

83

8.2 Saran...............................................................................................

84

DAFTAR PUSTAKA

13

DAFTAR TABEL

Nomor

Teks

Halaman

1. Neraca Perdagangan Buah Indonesia Tahun 1998-2004. ..................

2. Perkiraan Permintaan Buah-Buahan Indonesia Sampai Tahun 2015.

3. Sentra Produksi Buah di Indonesia ...................................................

4. Konsumsi Per Kapita Buah-Buahan Di Indonesia 1990-2002...........

11

5. Jumlah Penduduk,Luas Wilayah, Dan Kepadatan


Penduduk Masing-Masing Kecamatan Di Kota Bekasi Tahun 2004

42

6. Luas Panen, Hasil Per Hektar Dan


Produksi Buah-Buahan Di Kota Bekasi Tahun 2004.........................

43

7. Sebaran Responden Menurut Umur ...................................................

44

8. Sebaran Responden Menurut Jenis Kelamin......................................

45

9. Sebaran Responden Menurut Jenis Pekerjaan....................................

46

10. Sebaran Responden Menurut Tingkat Pendidikan.............................

46

11. Sebaran Responden Menurut Jumlah Anggota Keluarga ..................

47

12. Sebaran Responden Menurut Daya Listrik Terpasang.......................

47

13. Sebaran Responden Menurut Pendapatan Keluarga ..........................

48

14. Sebaran Responden Menurut Jumlah Pengeluaran Per Bulan ...........

49

15. Sebaran Responden Menurut


Jumlah Pengeluaran Khusus Pangan Per Bulan ...............................

50

16. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut


Jenis Buah Yang Biasa Dikonsumsi ..................................................

52

17. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut


Jumlah Buah Yang Biasa Dikonsumsi..............................................

53

18. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut


Frekuensi Pembelian Buah ...............................................................

55

19. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut


Tempat Pembelian Buah ....................................................................

56

20. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut


Alasan Pembelian Buah .....................................................................
21. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut

57

14

Kendala Pembelian Buah ..................................................................

58

22. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut


Jenis Buah Yang Dikonsumsi Satu Minggu Terakhir.......................

59

23. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut


Jumlah Buah Yang Dikonsumsi Satu Minggu Terakhir ....................

60

24. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut


Jenis Buah Yang Dikonsumsi Satu Bulanterakhir ............................

61

25. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut


Jumlah Buah Yang Dikonsumsi Satu Bulan Terakhir .......................

62

26. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut


Jenis Konsumsi Buah Nasional..........................................................

63

27. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut


Jumlah Konsumsi Buah Nasional Per Bulan ....................................

64

28. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut


Frekuensi Pembelian Buah Nasional .................................................

65

29. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut


Tempat Pembelian Buah Nasional .....................................................

66

30. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut


Jenis Konsumsi Buah Impor .............................................................

67

31. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut


Jumlah Konsumsi Buah Impor Per Bulan..........................................

68

32. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut


Frekuensi Pembelian Buah Impor Per Bulan .....................................

69

33. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut


Tempat Pembelian Buah Impor .........................................................

70

34. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut


Reaksi Terhadap Ketersediaan Buah Nasional
Pada Proses Pembelian.......................................................................

71

35. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut


Harapan Terhadap Buah Nasional .....................................................

72

36. Hasil Analisis Logistik


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pola Konsumsi .........................

73

15

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Teks

Halaman

1. Kerangka Pemikiran Konseptual..........................................................

27

16

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Teks

Halaman

1. lokasi Pengambilan Responden............................................................

89

2. Output Regresi Logistik .......................................................................

91

3. Hasil Analisis Diskriminan ..................................................................

92

17

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam buah tropis yang
khas dan berpotensi dijadikan unggulan dipasaran dunia maupun lokal.
Diperkirakan terdapat 300 jenis buah tropis tumbuh di Indonesia. Tetapi pada
akhir-akhir ini buah-buahan yang beredar di pasaran adalah buah impor, bahkan
volume ekspor buah-buahan Indonesia dari tahun 1999 lebih rendah dari volume
impornya dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Neraca Perdagangan Buah Indonesia Tahun 1999-2004
Tahun

Volume Ekspor
(Ton)

Volume Impor
(Ton)

Neraca
(Ton)

1998

83,370

71,628

11,742

1999

95,193

104,323

-9,130

2000

186,181

238,394

-52,213

2001

188,294

242,225

-53,931

2002

236,358

267,019

-30,661

2003

259,512

321,304

-61,792

2004

274,637

379,778

-105,141

Sumber: BPS Pusat, 1998-2004

Berdasarkan Tabel 1, volume impor dari tahun ketahun meningkat


sehingga dapat diindikasikan bahwa permintaan buah impor di Indonesia
meningkat. Dari hal ini yang perlu diperhatikan adalah pola konsumsi buahbuahan di Indonesia. Menurut BPS, pada tahun 2005 akan terjadi peningkatan
konsumsi buah sebesar 32,5 persen. Dimana rata-rata konsumsi buah akan
mencapai angka 45,76 kg/kapita/tahun dengan total konsumsi adalah sebesar
10375 ribu ton. Rata-rata tingkat konsumsi buah Indonesia diperkirakan akan

18

terus meningkat hingga mencapai angka 78,74 kg/kapita/tahun pada tahun 2015,
perkiraan permintaan buah-buahan sampai tahun 2015 dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Perkiraan Permintaan Buah-buahan Indonesia Sampai Tahun 2015
Tahun

Populasi
(Juta)

Peningkatan
Konsumsi/ 5
tahun (%)

Konsumsi/kapita (Kg)

Total
Konsumsi
(Ribu Ton)

2000
2005
2010
2015

213
227
240
254

32,5
34,0
44,5

36,76
45,76
57,92
78,74

7830
10375
13900
20000

Sumber: BPS, 2000

Berdasarkan perkiraan BPS dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2010
tingkat konsumsi buah per kapita Indonesia masih relatif rendah. Rata-rata
konsumsi buah masyarakat Indonesia adalah sekitar 40,06 kg/kapita/tahun.
Dibandingkan rekomendasi FAO, yaitu sebesar 65,75 kg/kapita/tahun, maka
tingkat konsumsi buah-buahan Indonesia masih dikategorikan rendah (Deptan,
2003). Sebagai perbandingan konsumsi buah per kapita dengan negara
berkembang lain, Indonesia masih di bawah Malaysia yang mencapai 47,8
kg/kapita/tahun, Fhilipina 100,6 kg/kapita/tahun, Thailand 91,1 kg/kapita/tahun,
dan rata-rata konsumsi negara berkembang adalah 53,4 kg/kapita/tahun
(Prayudi, 2002).
Masih rendahnya tingkat konsumsi buah di Indonesia dibandingkan
dengan rekomendasi FAO, mencerminkan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia
akan peningkatan kesehatan dan gizi masih kurang dan perlu ditingkatkan. Seiring
dengan peningkatan pengetahuan masyarakat Indonesia pada saat sekarang ini,
kebiasaan mengkonsumsi buah mengalami perubahan terutama pada masyarakat
perkotaan. Pola konsumsi buah pada masyarakat perkotaan secara rutin juga di
pengaruhi oleh tingginya kesadaran akan nilai gizi, sehingga konsumen menjadi
lebih kritis dalam memilih buah baik dari kualitas maupun kuantitasnya.

19

Kota Bekasi wilayahnya berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, yang


merupakan pusat pemerintahan Indonesia. Kota Bekasi ditetapkan sebagai bagian
dari wilayah pengembangan Jabotabek yang dipersiapkan untuk mengurangi
ledakan penduduk DKI Jakarta berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 13 tahun
1976.1
Sebagai daerah penyangga Ibukota menjadikan Kota Bekasi memiliki
letak yang strategis untuk pemasaran buah-buahan, termasuk buah impor. Dengan
masuknya buah impor ke Kota Bekasi akan memberikan banyak pilihan pada
masyarakat dalam mengkonsumsi buah. Dari hal ini perlu dilakukan analisis
faktor-faktor yang mempengaruhi pola konsumsi buah di Kota Bekasi.

1.2. Perumusan Masalah


Produk buah-buahan dari negara-negara Asia Pasifik, baik buah daerah
temperate maupun buah tropik yang kualitasnya lebih baik merupakan ancaman
yang serius terhadap buah nasional. Kualitas buah impor yang relatif lebih baik
dari buah nasional akan mengakibatkan konsumen tidak berminat lagi terhadap
buah produk lokal, apabila hal ini terjadi permintaan buah nasional akan menurun
yang implikasinya menurunkan harga dipasaran. Harga yang rendah ini jelas tidak
mendorong produsen dalam negeri untuk berproduksi karena keuntungannya akan
semakin kecil. Pada saat buah nasional semakin tidak efisien untuk diproduksi,
importir buah akan memanfaatkan kondisi ini untuk meningkatkan efisiensi buah
impor melalui pengurangan promosinya, sehingga harga buah impor dipasaran
akan semakin murah dan buah nasional semakin sulit untuk bersaing. Disisi lain,

http://www.kotabekasi.go.id (2005)

20

dengan tingginya tingkat pendidikan, pengetahuan, dan informasi yang dimiliki


oleh konsumen buah akan menuntut standar mutu yang lebih baik.
Masuknya buah impor tidak terlepas dari kemampuan buah impor dalam
membentuk citranya sebagai buah yang bermutu, bergengsi, mudah diperoleh
dipasaran, penampilan menarik serta mampu menunjukan status sosial pembeli
buah tersebut. Agar buah nasional dapat bersaing dengan buah impor , maka buah
nasional harus berbenah diri melalui peningkatan kualitas produk dan menjamin
ketersediaan sepanjang waktu, selain itu hal yang paling penting untuk dapat
bersaing dengan buah impor maka produksi buah nasional harus tetap
memperhatikan pola konsumsi dan preferensi masyarakat akan buah.
Rendahnya kesadaran akan pentingnya brand image oleh para petani
buah kita, menyebabkan kalahnya produk-produk buah nasional kita di pasar
dalam negeri sendiri. Walaupun dapat bertahan di pasar dalam negeri, buah-buah
nasional (lokal) sebagian besar mengisi pasar-pasar tradisional saja. Sedangkan
buah-buah impor mengisi baik di pasar tradisional dan juga merajai di pasar
modern (supermarket). Hal memprihatinkan terjadi pada awal tahun 90an, ketika
serbuan buah impor terutama buah dari Thailand merajai pasar dalam negeri.
Banjirnya buah-buah berlabel Bangkok, seperti pepaya bangkok, jambu bangkok,
durian bangkok dan sebagainya2. Hal tersebut mengubah pandangan konsumen
dalam negeri, bahwa produk buah impor lebih unggul daripada buah nasional
(lokal). Brand image yang tertanam di masyarakat perkotaan termasuk Kota
Bekasi adalah buah impor memiliki kualitas yang lebih baik dari buah nasional.
Di Kota Bekasi pada umumnya buah dipasarkan melalui supermarket, kios buah

www.sinarharapan.com (2002)

21

dan pedagang kaki lima. Ketiga pasar ini, selain tempat yang membedakan juga
komposisi asal buah, jenis buah dan kualitas buah. Perbedaan tempat pemasaran
buah akan mempengaruhi terhadap harga dan keputusan pembelian buah oleh
konsumen. Di supermarket konsumen memiliki banyak pilihan buah, baik itu jenis
dan jumlah buah atau asal buah yang lebih beragam dibandingkan dengan kios
buah dan pedagang kaki lima.
Supermarket merupakan tempat perdagangan yang menyediakan
berbagai macam kebutuhan sehari-hari termasuk buah-buahan memberikan
banyak pilihan dan kemudahan kepada konsumen untuk memperoleh barang yang
diinginkan pada satu tempat. Pada masyarakat perkotaan seperti di Kota Bekasi
supermarket adalah salah satu tempat perdagangan yang banyak didatangi untuk
tujuan tertentu khususnya yang berhubungan dengan aktivitas jual beli. Jika
dilihat dari lokasi supermarket yang banyak dibangun dipusat kota, dimana
konsumen yang dekat dengan supermarket dengan kemudahan akses dalam
berbelanja akan cenderung lebih konsumtif dan mementingkan gengsi
dibandingkan dengan konsumen yang jauh dari supermarket. Sifat yang lebih
konsumtif, jika dihadapkan pada pilihan buah impor dan buah nasional, konsumen
yang dekat supermarket akan cenderung lebih banyak mengkonsumsi buah impor
dibandingkan buah nasional. Sedangkan sebaliknya dengan konsumen yang jauh
dari supermarket akan cenderung lebih banyak mengkonsumsi buah nasional
dibandingkan dengan buah impor.
Perubahan pandangan konsumen buah pada masyarakat perkotaan yang
dekat dan jauh dari supermarket merupakan landasan untuk melakukan analisis
faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi buah di Kota Bekasi. Salah satu cara

22

untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pola konsumsi buah yaitu


dengan mengaplikasikan analisis regresi logistik dan untuk mengetahui perbedaan
antar grup/kelompok pada faktor-faktor yang mempengaruhi pola konsumsi buah,
maka dilakukan analisis diskriminan. Dengan analisis logistik, diharapkan
keputusan pembelian konsumen buah yang beragam dapat diketauhi berdasarkan
faktor-faktor yang secara nyata mempengaruhi konsumsi buah. Sedangkan dengan
analisis diskriminan diharapkan dapat mengetahui perbedaan antar faktor kedalam
grup berdasarkan jarak tempat tinggal responden dari supermarket.
Berdasarkan uraian diatas maka permasalahan yang akan dikemukakan
adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran umum pola konsumsi buah pada konsumen rumah
tangga di Kota Bekasi yang bertempat tinggal dekat dan jauh dari
supermarket?
2. Faktor apa yang mempengaruhi pola konsumsi buah pada konsumen
rumah tangga di Kota Bekasi yang bertempat tinggal dekat dan jauh dari
supermarket?
3. Apakah ada perbedaan yang jelas antara grup pada variabel dependen
faktor-faktor yang dianalisis?

23

1.3. Tujuan Penelitian


Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan pola konsumsi buah pada konsumen rumah tangga di
Kota Bekasi yang bertempat tinggal dekat dan jauh dari supermarket.
2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pola konsumsi buah pada
konsumen rumah tangga di Kota Bekasi yang bertempat tinggal dekat dan
jauh dari supermarket.
3. Mengklasifikasikan perbedaan faktor-faktor yang mempengaruhi pola
konsumsi buah konsumen rumah tangga di Kota Bekasi yang bertempat
tinggal dekat dan jauh supermarket.

1.4. Kegunaan Penelitian


1. Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan pertimbangan
pihak-pihak yang terkait dalam sistem distribusi dan sistem agribisnis
khususnya buah nasional, sehingga dapat mengetahui apa yang dibutuhkan
oleh konsumen dan melakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan
untuk meningkatkan daya saing pasar buah.
2. Bagi peneliti, mahasiswa, dan pihak-pihak yang memerlukan informasi
tentang preferensi konsumsi buah nasional dan buah impor, penelitian ini
diharapkan dapat dijadikan referensi/bahan penelitian lebih lanjut.
3. Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai sarana untuk
melatih diri dalam menganalisis perkembangan pola konsumsi buah pada
rumah tangga.

24

1.5. Ruang Lingkup Penelitian


1. Responden yang digunakan adalah rumah tangga yang berdomisili di Kota
Bekasi.
2. Dalam penelitian ini tidak dibedakan jenis dari setiap buah
3. Pola konsumsi buah di analisis secara deskriptif.
4. Analisis logistik dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi pola konsumsi buah di Kota Bekasi.
5. Analisis diskriminan dilakukan untuk mengetahui grup dari variabel
dependen yang dianalisis secara regresi logistik.

25

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Buah Nasional


Dengan memperhatikan potensi pasar dan sumberdaya yang tersedia,
prioritas pengembangan komoditi buah-buahan menurut Direktorat Jendral
Pertanian Tanaman Pangan (1990) dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok I
adalah komoditi yang akan dikembangkan untuk mengurangi impor, yaitu apel,
jeruk dan anggur. Kelompok II adalah komoditi buah-buahan yang akan
dikembangkan untuk ekspor yang selama ini sudah dilaksanakan meliputi alpukat,
sirsak, durian, mangga, rambutan dan lainnya. Sedangkan kelompok III adalah
komoditi yang akan dikembangkan karena memiliki potensi ekspor yaitu pisang,
sirsak, nenas, markisa, strawbery dan lainnya.
Tabel 3. Sentra Produksi Buah di Indonesia
No.

1.

Komoditas Buah

Mangga
Manggis

2.
Jeruk
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pisang
Nenas
Salak
Rambutan
Durian

Provinsi Sentra Produksi

NAD, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Bali, NTB, NTT,


Sulsel, Sulteng, Sultra
NAD, Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, Babel, Sumsel,
Bengkulu, Lampung, Jabar, Banten, Jateng, DIY,
Jatim, Bali
NAD, Sumut, Sumbar, Jambi, Lampung, Jabar,
Jateng, Jatim, Bali, NTT, Sulsel, Sultra, Kaltim,
Kalbar, Kalsel
Sumut, Sumbar, Sumsel, Lampung, Jabar, Jateng,
Jatim, Bali, NTB, Sulsel, Kalsel
Sumut, Riau, Sumsel, Lampung, Jabar, Jatim
Sumut, Jabar, DIY, Jateng, Jatim, Bali, Sulsel, Sulut,
Irian Jaya (Papua)
NAD, Sumut, Sumbar, Riau, Sumsel, Lampung,
Banten, Jabar, Jateng, Jatim, Kalsel, Sulsel
Sumut, Riau, Jambi, Sumbar, Lampung, Jabar,
Jateng, DIY, Jatim, Kalbar

Sumber: Direktur Jenderal Bina Produksi Hortikultura (2002)

26

2.2. Ciri Produk Hortikultura (Buah-buahan)


Indonesia merupakan salah satu negara tropis dengan iklim yang sangat
potensial bagi pengembangan komoditi hortikultura. Salah satu diantara komoditi
hortikultura adalah buah-buahan segar. Harjadi, et all dalam Febriani (2003)
menyebutkan bahwa produk hortikultura termasuk buah mempunyai ciri sebagai
berikut: 1) dipanen dan dimanfaatkan dalam keadaan hidup atau segar sehingga
bersifat mudah rusak (perishable) yang disebabkan karena masih adanya prosesproses kehidupan yang berjalan. 2) Komponen utama mutu ditentukan oleh
kandungan air, bukan kandungan bahan kering (dry matter). 3) Produk
hortikultura bersifat meruah (voluminous atau bulky), sehingga sukar dalam
pengangkutan dan memerlukan biaya mahal. 4) Harga pasar komoditi selain
dipengaruhi oleh kuantitas juga dipengaruhi oleh mutunya (kualitas). 5) Bukan
merupakan kebutuhan pokok yang diperlukan dalam jumlah besar namun
diperlukan sedikit-sedikit setiap hari. Bila tidak mengkonsumsinya tidak segera
dirasakan akibatnya. 6) Produk hortikultura merupakan sumber vitamin dan
mineral.

2.3 Konsumsi Buah-Buahan di Indonesia


Buah-buahan adalah salah satu jenis hasil holtikultura disamping sayursayuran. Di dalam buah-buahan terdapat zat pembangun tubuh serta pengatur
proses dalam tubuh berupa air mineral dan vitamin, oleh karena itu pemenuhan
gizi tubuh, buah-buahan termasuk bahan pangan yang penting untuk dikonsumsi.
Komposisi yang seimbang bagi tubuh bukan saja berupa karbohidrat dan protein,
tetapi juga berupa vitamin yang pemenuhannya bersumber dari buah-buahan.

27

Konsumsi buah-buahan di Indonesia mulai tahun 1990-2002, mengalami


banyak pergeseran tingkat konsumsi per kapita per tahun (tabel. 4), pada tahun
1990 jumlah rata-rata konsumsi buah indonesia 27,29 kg/kapita/tahun, kemudian
pada tiga tahun berikutnya (1993,1996 dan 1999) konsumsi buah mengalami
penurunan yaitu secara berurutan 23,25 kg/kapita/tahun, 21,49 kg/kapita/tahun,
dan 10,98 kg/kapita/tahun. Penurunan konsumsi buah per kapita per tahun
merupakan akibat dari adanya krisis ekonomi di Indonesia, pada Tabel 4. terlihat
bahwa pada tahun 1999 terjadi penurunan drastis jauh di bawah anjuran konsumsi
buah FAO yaitu 65,75 kg/kapita/tahun. Kemudian pada tahun 2002 tingkat
konsumsi buah kembali meningkat hampir 90 persen dari tahun 1999 yaitu 18.25
kg/kapita/tahun. Seiring dengan kondisi perekonomian yang terus membaik,
harga, jenis dan alternatif buah yang semakin beragam konsumsi buah
diperkirakan akan meningkat.
Tabel 4. Konsumsi per Kapita buah-buahan di Indonesia 1990-2002
No

Komoditi

1 Jeruk
2 Mangga
3 Apel
4 Alpukat
5 Rambutan
6 Duku
7 Durian
8 Salak
9 Nenas
10 Pisang
11 Papaya
Jumlah
Rata-rata
perkembangan (%)
Sumber

1990

1993

1996

1999

2002

(Kg/kapita/
thn)

(Kg/kapita/
thn)

(Kg/kapita/
thn)

(Kg/kapita/
thn)

(Kg/kapita
/thn)

0.88
0.42
0.10
0.26
4.78
1.14
1.25
0.42
1.09
13.83
3.12
27.29

0.94
0.52
0.21
0.16
3.48
0.16
0.52
0.62
1.04
12.58
3.02
23.25

1.30
2.13
0.68
0.21
2.44
0.16
0.52
1.20
0.94
9.05
2.86
21.49

1.18
0..26
0.15
0.26
1.95
0.05
0.15
0.72
0.66
1.23
4.37
10.98

1.95
0.30
0.61
0.25
7.35
1.80
0.92
0.92
0.46
2.36

11.16

-14.80

-7.57

48.90

: BPS dalam Dirjen Tanaman Pangan dan Hortikultura,2002

18.25
66.21

28

2.4. Hasil Penelitian Terdahulu


2.4.1. Preferensi Konsumen Buah
Adelina (1996) melakukan penelitian tentang analisis preferensi konsumen
dan pilihan usaha pedagang pengecer terhadap buah lokal dan buah impor (studi
kasus

di

Kotamadya

Bogor)

dengan

menggunakan

teknik

the

after

consumptioning technique untuk mengetahui posisi buah sub tropis impor dan
lokal pada tingkat konsumen. Data tentang preferensi konsumen hasil tes produk,
preferensi konsumen dan pedagang pengecer diolah dengan menggunakan analisis
korespondensi pada program SAS 604 untuk melihat posisi buah pada peta
konfigurasi. Sedangkan untuk melihat segmentasi pasar buah lokal digunakan
tabulasi sederhana.
Hasil dari tes produk terhadap buah sub tropis impor dan lokal
menunjukan bahwa buah sub tropis impor ditinjau dari atribut fisik buah, lebih
disukai dibanding buah lokal, hal ini menunjukan bahwa atribut fisik buah impor
lebih baik dari pada buah lokal. Namun dari hasil analisis preferensi konsumen
terhadap buah impor dan lokal menunjukan bahwa buah lokal masih disukai
daripada buah impor, faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen adalah
harga.
Rahmawati (2000) melakukan penelitian mengenai preferensi konsumen
terhadap atribut buah-buahan di Kotamadya Bogor dengan menerapkan analisis
konjoin. Buah-buahan yang diteliti adalah jenis buah yang sering dikonsumsi
keluarga, terdiri dari jeruk, pepaya, pisang, mangga, dan apel. Nilai kegunaan
analisis konjoin data gabungan, secara umum untuk lima jenis buah yang
dianalisis menunjukan taraf buah yang diinginkan responden adalah buah yang

29

matang, ukuran sedang, kecuali untuk buah rambutan respoden lebih menyukai
ukuran yang besar, kulit bersih, daging buah agak keras kecuali pisang (lunak)
serta sering tersedia di pasar, sedangkan warna dan rasa buah cenderung relatif
untuk masing-masing jenis buah.
Febriani (2003) melakukan penelitian tentang Analisis segmentasi gaya
hidup dan perilaku konsumsi buah segar dikecamatan Serang Propinsi Banten
menggunakan analisis faktor untuk mendapatkan variabel dominan yang akan
digunakan untuk analisis Cluster. Variabel dominan yang dipilih adalah yang
memiliki nilai communality lebih besar dari 70 persen. Analisis faktor dilakukan
terhadap seluruh aspek dimensi gaya hidup, yang tercakup kedalam aktivitas,
minat dan opini terhadap diri dan lingkungannya. Analisis Cluster digunakan
untuk mendapatkan segmen gaya hidup. Analisis secara deskriptif digunkan untuk
melihat perilaku/karakteristik konsumen dalam mengkonsumsi buah. Dari hasil
analisis Cluster, segmen yang terbentuk adalah segmen pekerja keras yang
optimis (15 persen), pemburu sukses (dua persen), kelompok marginal
(15 persen), idealis yang berhasil (27 persen), dan bertahan hidup (lima
persen).
Perilaku konsumsi buah segar pada masing-masing segmen gaya hidup,
menujukan gaya hidup yang berbeda: sebagian besar segmen mengkonsumsi buah
untuk memenuhi kebutuhan mereka akan komposisi gizi yang seimbang. Alasan
lain yang ditemukan adalah rasa yang sesuai, harga yang murah, kandungan serat,
dan sebagai pencuci mulut. Kriteria yang dipilih hampir oleh semua segmen
adalah rasa yang sesuai, sedangkan kriteria lainnya adalah ukuran yang besar dan
warna yang menarik. Pilihan tempat pembelian pada segmen pekerja keras yang

30

optimis, idealis yang berhasil, dan kelompok marjinal adalah kios buah.
Sedangkan tempat membeli segmen pemburu sukses adalah pasar tradisional
dan super market. Pasar tradisional merupakan pilihan dari segmen bertahan
hidup. Jenis buah yang dominan yang dibeli oleh semua segmen adalah jenis
lokal. Sebagian besar anggota segmen pekerja keras yang optimis beranggapan
bahwa buah merupakan kebutuhan pokok, akan tetapi mereka tidak bisa
mengkonsumsi setiap hari, sedangkan bagi sebagian besar anggota segmen
kelompok marginal dan bertahan hidup buah bukan merupakan kebutuhan
pokok dan mereka tidak bisa mengkonsumsinya setiap hari, dan pada segmen
idealis yang berhasil sebagian besar segmen menganggap buah adalah adalah
kebutuhan pokok yang bisa dikonsumsi setiap hari.
2.4.2. Analisis Regresi Logistik
Eveline (1998) menganalisa perilaku konsumsi buah segar konsumen
rumah tangga dan faktor-faktor yang mempengaruhinya dengan analisis model
logistik.

Konsumen dari ketiga golongan (atas, menengah dan bawah) lebih

banyak menyukai buah nasional dengan alasan berturut-turut yaitu harga yang
terjangkau, rasa yang khas, dan suplai yang selalu ada.

hampir tidak ada

konsumen yang memilih bahwa kualitas buah nasional lebih baik dari buah impor.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga buah nasional maupun buah impor
merupakan faktor penting bagi konsumen dalam mempertimbangkan pemilihan
buah nasional dan buah impor.
Rahmawati (2004) menganalisa persepsi konsumen terhadap atribut
manggis yang tersedia di pasar dan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan
tempat pembelian manggis oleh konsumen rumah tangga dengan analisis model

31

logit atau logistik.

Konsumen rumah tangga mempunyai persepsi yang baik

terhadap manggis untuk atribut rasa, warna daging buah, ukuran, dan warna kulit
manggis, sedangkan kebersihan kulit, harga, kekerasan kulit, dan ketersediaan
buah merupakan atribut yang dipersepsikan buruk. Untuk hotel yang persepsi
tertinggi mulai dari yang paling disukai adalah rasa, ukuran, warana daging buah,
kebersihan kulit, warna kulit, harga, ketersediaan, dan kekerasan kulit. Faktorfaktor yang signifikan mempengaruhi konsumen rumah tangga dalam membeli
manggis apakah di pasar swalayan atau tradisioanal adalah harga, frekuensi
pembelian, dan rata-rata jumlah pembelian manggis. Untuk hotel ketersediaan
merupakan faktor pertama yang mempengaruhi keputusan untuk menyediakan
manggis, diikuti faktor negara mayoritas pengunjung, permintaan, harga, atribut
fisik buah, dan terakhir adalah faktor anggaran.

32

BAB III
KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis


3.1.1. Teori Permintaan
Permintaan dapat diartikan sebagai jumlah produk dan jasa yang diminta
oleh konsumen. Konsep dasar dari permintaan konsumen adalah kuantitas suatu
komoditi yang mampu dan ingin dibeli oleh konsumen pada suatu tempat dan
waktu tertentu pada berbagai tingkat, faktor lain yang tidak berubah (cateris
paribus). Dalam istilah ekonomi, permintaan mengacu pada jumlah produk yang
rela dan mampu dibeli oleh orang-orang berdasarkan sekelompok kondisi tertentu.
Kebutuhan atau keinginan merupakan komponen yang diperlukan tetapi harus
disertai dengan kemampuan keuangan sebelum permintaan ekonomi tercipta. Jadi,
dalam permintaan ekonomi memerlukan para pembeli potensial dengan keinginan
untuk menggunakan atau memiliki sesuatu dan kemampuan keuangan untuk
memperolehnya (Papas dan Hirschey, 1995).
Sedangkan

menurut

Lipsey

(1992)

permintaan

suatu

komoditi

didefinisikan sebagai seperangkat hubungan antara harga dan jumlah komoditi


yang diminta pada tingkat harga tertentu, sedangkan permintaan pasar suatu
komoditi adalah penjumlahan dari permintaan individu suatu komoditi. Menurut
Sudarsono dalam Komarudin (2005) permintaan diartikan secara absolut yaitu
jumlah barang yang dibutuhkan, tetapi bila dipikirkan lebih jauh dalam dunia
nyata, barang dipasar mempunyai harga. Dengan kata lain permintaan baru
mempunyai arti apabila didukung oleh tenaga beli permintaan barang. Permintaan
yang didukung oleh kekuatan tenaga beli tersebut permintaan efektif, sedangkan

33

permintaan yang hanya didasarkan atas kebutuhan saja disebut sebagai permintaan
absolut atau potensial.
Permintaan merupakan fungsi yang dipengaruhi oleh banyak variabel
(multivariate function). Menurut ilmu ekonomi, permintaan suatu komoditi
dipengaruhi oleh harga komoditi itu sendiri, harga komoditi barang substitusi dan
komplemen, pendapatan konsumen, serta selera. Harga komoditi itu sendiri dan
harga barang komplementer memiliki hubungan negatif yang artinya bila terjadi
peningkatan harga komoditi itu sendiri maka permintaan terhadap komoditi
tersebut akan menurun. Sedangkan harga variabel harga barang substitusi,
pendapatan dan selera keduanya memiliki hubungan yang positif dengan
permintaan sehingga bila terjadi kenaikan harga barang substitusi, pendapatan
konsumen atau peningkatan selera akan meningkatkan permintaan terhadap
komoditi tersebut, cateris paribus (Raharja dalam Komarudin, 2005)

3.1.2. Tahapan Keputusan Pembelian Konsumen


Proses keputusan konsumen dalam menentukan lokasi pembelian dapat
diurutkan berdasarkan tahap keputusan konsumen dalam melakukan pembelian.
Menurut Engel et all (1994) tahapan keputusan konsumen terdiri dari lima
tahapan, yaitu pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif,
pembelian dan evaluasi hasil.
3.1.2.1. Pengenalan Kebutuhan
Dalam

tahap

pengenalan

kebutuhan,

konsumen

mempersepsikan

perbedaan antara keadaan yang diinginkan dan situasi aktual yang memadai untuk
membangkitkan dan mengaktifkan proses keputusan. Proses pembelian suatu

34

produk oleh konsumen dimulai ketika suatu kebutuhan mulai dirasakan dan
dikenali. Adanya kebutuhan tersebut disebabkan oleh konsumen yang merasakan
adanya ketidaksesuaian itu berada di bawah ambang, maka pengenalan kebutuhan
pun tidak terjadi (Engel et all, 1994).
3.1.2.2. Pencarian Informasi
Dalam tahap pencarian informasi, konsumen mencari informasi yang
disimpan di dalam ingatan (pencarian internal) atau mendapatkan informasi yang
relevan dengan keputusan dari lingkungan (Engel et all, 1994).
Seberapa besar pencarian informasi yang dilakukan seseorang tergantung
pada kekuatan dorongannya, jumlah informasi yang dimiliki, kemudahan
memperoleh informasi tambahan, nilai yang diberikan pada informasi tambahan
dan keputusan yang diperoleh dari pencarian tersebut. Bila informasi yang didapat
dari pencarian internal tidak memadai untuk memberi arah tindakan, maka
pencarian eksternal akan dilakukan. Pada tahap ini, perhatian utama pemasar
adalah sumber informasi utama yang akan dicari konsumen.
Menurut Sumarwan (2002) faktor-faktor yang mempengaruhi pencarian
informasi terdiri dari :
a. Faktor resiko produk, faktor-faktor yang berkaitan dengan resiko produk
adalah: resiko keuangan, resiko fungsi, resiko psikologis, resiko waktu, resiko
sosial dan resiko fisik.
b. Faktor karakteristik konsumen, meliputi pengetahuan dan pengalaman
konsumen, kepribadian konsumen, dan karakteristik demografi konsumen.
c. Faktor situasi, yaitu keadaan lingkungan yang dihadapi oleh seseorang
konsumen, waktu yang tersedia untuk belanja, jumlah produk yang tesedia,

35

lokasi toko, ketersediaan informasi, kondisi psikologis konsumen, resiko


sosial dari situasi dan tujuan berbelanja.
3.1.2.3. Evaluasi Alternatif
Konsumen mengevaluasi pilihan berkenaan dengan manfaat yang
diharapkan dan menyempitkan pilihan hingga alternatif yang dipilih (Engel et all,
1994). Evaluasi altenatif sebagai proses dimana suatu alternatif pilihan dievaluasi
dan dipilih untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Pada tahap evaluasi konsumen
harus dapat: (1) menentukan kriteria informasi yang akan digunakan untuk
menilai alternatif, (2) memutuskan alternatif mana yang akan dipertimbangkan,
(3) menilai kinerja altenatif yang dipertimbangkan, serta (4) memilih dan
menerapkan kaidah keputusan untuk membuat keutusan akhir.
Pada tahap evaluasi alternatif, konsumen membentuk kepercayaan, sikap
dan intensinya mengenai alternatif produk yang dipertimbangkan tersebut. Proses
evaluasi alternatif dan proses pembentukan kepercayaan dan sikap adalah proses
yang sangat terkait erat. Evaluasi alternatif muncul karena banyaknya alternatif
pilihan. Pilihan mengenai merek mesin cuci, jenis mesin cuci dan harga mesin
cuci. Konsumen akan memiliki seperangkat atribut mesin cuci yang akan
digunakan sebagai dasar dalam mengevaluasi alternatif. Atribut tersebut bisa
berupa ukuran, harga, penggunaan listrik, dan sebagainya. Konsumen akan
memilih merek yang akan memberikan manfaat yang diharapkannya (Mowen dan
Minor dalam Sumawan, 2002).

36

3.1.2.4. Pembelian
Menurut Sumawan (2002) pembelian meliputi keputusan konsumen
mengenai apa yang dibeli, apakah membeli atau tidak, kapan membeli, di mana
membeli, dan bagaimana cara membayarnya. Termasuk di dalamnya adalah toko
di mana dia akan membelinya serta cara pembayaran apa yang akan dilakukannya.
Apakah dia akan membayar tunai atau cicilan. Sehingga yang harus diperhatikan
disini adalah keinginan yang sudah bulat untuk membeli suatu produk seringkali
harus dibatalkan karena beberapa alasan, yaitu sebagai berikut :
a. Motivasi

yang

berubah,

konsumen

mungkin

merasakan

bahwa

kebutuhannya bisa terpenuhi tanpa harus membeli produk tersebut, atau


ada kebutuhan lain yang lebih diprioritaskan.
b. Situasi yang berubah, tiba-tiba nilai dolar menjadi mahal, sehingga uang
yang tersedia menjadi tidak cukup untuk membeli produk tersebut.
c. Produk yang akan dibeli tidak tersedia, bisa menjadi penyebab konsumen
tidak tertarik lagi membeli produk tersebut.
3.1.2.5. Evaluasi Hasil Pembelian
Setelah keputusan pemilihan lokasi pembelian, konsumen tidak akan
berhenti hanya tahap pembelian. Konsumen akan mengevaluasi keputusan
pemilihan lokasi pembelian. Pada tahap ini konsumen mengevaluasi apakah
alternatif yang dipilih memenuhi kebutuhan dan harapan segera sesudah
digunakan (Engel et all, 1994).

37

3.1.3. Evaluasi Pasca Keputusan Pembelian


Menurut Sumawan (2002) teori yang menjelaskan bagaimana kepuasan
atau ketidakpuasan konsumen terbentuk adalah the expectancy disconfirmation
model, yang mengemukakan bahwa kepuasan dan ketidakpuasan konsumen
merupakan dampak dari perbandingan antara harapan konsumen sebelum
pembelian dengan yang sesungguhnya diperoleh konsumen dari produk yang
dibeli tersebut.
Menurut Sumawan (2002) ketika konsumen membeli suatu produk, maka
ia memiliki harapan tentang bagaimana produk tersebut berfungsi (product
performance). Produk akan berfungsi sebagai berikut :
a. Produk berfungsi lebih baik dari yang diharapkan, inilah yang disebut
sebagai diskonfirmasi positif (positive disconfirmation). Jika ini terjadi,
maka konsumen akan merasa puas.
b. Produk berfungsi seperti yang diharapkan, inilah yang disebut sebagai
konfirmasi sederhana (simple confirmation). Produk tersebut tidak
memberikan rasa puas, dan produk tersebut pun tidak mengecewakan
konsumen. Konsumen akan memeliki perasaan netral.
c. Produk berfungsi lebih buruk dari yang diharapkan, inilah yang disebut
diskonfirmasi negatif (negative disconfirmation). Produk yang berfungsi
lebih buruk, tidak sesuai dengan harapan konsumen akan menyebabkan
kekecewaan, sehingga konsumen merasa tidak puas.

38

3.1.4. Analisis Regresi Logistik


Model logit atau regresi logistik tidak jauh berbeda dengan regresi linear
biasa, yaitu menggambarkan hubungan antara variabel tak bebas dengan sejumlah
variabel bebas yang mempengaruhinya. Perbedaannya variabel tak bebas dalam
regresi logistik bersifat biner atau dikotomi yakni memiliki nilai yang diskontinu
1 dan 0.
Model logit adalah salah satu model Binary dalam Qualitative Choice.
Model qualitative choice merupakan suato model dimana respon variabel terikat
(Y) bersifat memihak kepada 1 dari 2 atau lebih pilihan yang ada. Model ini juga
menggambarkan bagaimana peluang atau kemungkinan terpilihnya salah satu dari
sejumlah pilihan yang tersedia. Variabel terikat (Y) dibuat dalam bentuk dummy
(0,1,2,3,...). Untuk model yang terdiri dari dua alternatif pilihan (0,1) sering
disebut dengan Binary Choice Model (Gusti Nugraha dalam Yulinar, 2005).
Analisis regresi logistik merupakan bagian dari analisis regresi. Analisis
logistik mengkaji hubungan pengaruh peubah penjelas (X) terhadap peubah
respon (Y) melalui model persamaan matematis tertentu. Apabila peubah Y
berupa peubah dengan sekala numerik, maka analisis yang diterapkan dapat
menggunakan metode kuadrat terkecil biasa. Pada beberapa bidang terapan
peubah Y berupa peubah kategorik, misalnya dalam kajian mengenai pengaruh
umur, jenis kelamin dan tingkat pendapatan terhadap membeli tidaknya seseorang
pada suatu produk yang dijual dengan harga tertentu.
Berdasarkan tipe peubah kategorik peubah Y, analisis regresi logistik
dapat dibagi menjadi tiga, yaitu regresi logistik biner, regresi logistik nominal,
regresi logistik ordinal. Secara umum analisis regresi logistik menggunakan

39

peubah penjelas berupa peubah kategorik ataupun peubah numerik untuk


menduga besarnya peluang kejadian tertentu dari kategori peubah respon. Dengan
kata lain regresi logistik merupakan suatu teknik untuk menerangkan peluang
kejadian tertentu dari kategorik peubah respon.
Dalam kajian hubungan antar peubah kategorik dikenal adanya ukuran
asosiasi, atau ukuran keeratan antar peubah kategori. Salah satu keuntungan
penggunaan analisis regresi logistik adalah bahwa ukuran asosiasi sering
merupakan fungsi dari penduga parameter yang didapat. Salah satu ukuran
asosiasi yang dapat diperoleh melalui analisis regresi logistik adalah rasio odd.
Sedangkan odd dapat diartikan sebagai rasio peluang kejadian sukses dengan
kejadian tidak sukses dari peubah respon, adapun rasio odd mengindikasikan
seberapa lebih mungkin, dalam kaitannya dengan nilai odd, munculnya kejadian
sukses pada suatu kelompok dibandingkan dengan kelompok lainnya.

3.1.5. Analisis Diskriminan


Analisis diskriminan adalah teknik multivariat yang termasuk dependen
method, yakni adanya variabel dependen dan independen. Analisis diskriminan
pada prinsipnya untuk mengelompokan setiap objek ke dalam dua atau lebih
kelompok berdasarkan pada kriteria sejumlah variabel bebas. Pengelompokkan ini
bersifat mutually exclusive, dalam artian jika obyek A sudah termasuk kelompok
satu, maka tidak mungkin menjadi anggota kelompok dua. Analisis kemudian
dapat dikembangkan pada variabel mana saja yang membuat kelompok satu
berbeda dengan kelompok dua, berapa persen yang masuk kelompok satu, berapa
persen yang masuk kelompok dua dan seterusnya. Ciri analisis diskriminan adalah

40

jenis data dari variabel dependen bertipe nominal (kategori), seperti kode 0 dan 1,
atau kode 1, 2 dan 3.
Teknik analisis diskriminan dibedakan menjadi dua yaitu diskriminan dua
kelompok/kategori, jika variabel bebas Y dikelompokkan menjadi dua diperlkan
satu fungsi diskriminan. Jika variabel bebas dikelompokkan menjadi lebih dari
dua kelompok disebut analisis diskriminan berganda (multiple discriminant
analysis), maka diperlukan fungsi diskriminan sebanyak (k-1) untuk k kategori.
Tujuan analisis diskriminan :
1. membuat suatu fungsi diskriminan atau kombinasi linear dari
prediktor atau variabel bebas yang bisa mendiskriminasi atau
membedakan kategori variabel tak bebas atau criterion atau
kelompok, artinya mampu membedakan suatu objek masuk kelompok
kategori yang mana.
2. menguji apakah ada perbedaan signifikan antara kategori/kelompok di
kaitkan dengan variabel bebas atau prediktor.
3. menentukan prediktor/variabel bebas yang memberikan pengaruh
terbesar terhadap terjadinya perbedaan antar kelompok.
4. mengklarifikasi/mengelompokan objek/kasus atau responden kedalam
suatu kelompok/kategori didasarkan pada nilai variabel bebas.
5. mengevaluasi tingkat akurasi klasifikasi (the accuracy of clasification)

41

3.2. Kerangka Pemikiran Konseptual


Meningkatnya pendapatan serta perubahan pengetahuan masyarakat
tentang kesehatan, mendorong bergesernya pola konsumsi dari pangan yang
banyak mengandung karbohidrat ke konsumsi pangan yang kaya akan protein,
vitamin, dan mineral. Pangan yang kaya vitamin dan mineral umumnya berasal
dari sayuran dan buah-buahan.
Konsumen buah rumah tangga di Kota Bekasi yang merupakan
masyarakat perkotaan memiliki sikap yang lebih kritis dalam menentukan pilihan
konsumsi pangan termasuk untuk mengkonsumsi buah-buahan. Sikap yang lebih
kritis dalam menentukan pilihan buah yang dikonsumsi mengakibatkan
terbukanya peluang untuk pemasaran buah nasional dan buah impor, dimana
buah yang dianggap sesuai dengan kriteria konsumen merupakan buah yang di
pilih. Perbedaan kriteria dalam menentukan pilihan buah yang dikonsumsi
menyebabkan perbedaan pola konsumsi konsumen. Untuk mengetahui alasan
perbedaan

pola

konsumsi

buah

perlu

di

pahami

faktor-faktor

yang

mempengaruhinya.
Penelitian ini menggunakan tabulasi deskriptif , analisis regresi logistik
dan analisis diskriminan. Faktor-faktor yang diteliti dengan alat analisis regresi
logistik dan analisis diskriminan adalah jarak, frekuensi pembelian, jumlah
konsumsi, tempat pembelian, kapasitas daya listrik, pendidikan, jumlah keluarga
dan umur. Faktor-faktor ini digunakan karena diasumsikan bahwa konsumen buah
akan berbeda pola konsumsinya karena pengaruh faktor-faktor tersebut. Misalnya
konsumen yang bertempat tinggal dekat dari supermarket diasumsikan akan

42

mengkonsumsi buah impor dan konsumen yang bertempat tinggal jauh dari
supermarket diasumsikan akan mengkonsumsi buah nasional.
Berdasarkan hasil tabulasi deskriptif diketahui pola konsumsi buah
konsumen rumah tangga. Dari hasil analisis regresi logistik diketahui faktor-faktor
yang mempengaruhi konsumsi buah rumah tangga sehingga dapat diketahui
faktor-faktor yang mempengaruhi pola konsumsi buah di Kota Bekasi. Sedangkan
analisis diskriminan menghasilkan kelompok faktor-faktor yang mempengaruhi
pola konsumsi buah berdasarkan pilihan buah impor dan buah nasional.

43

Konsumen Buah Rumah Tangga


Di Kota Bekasi

Pola Konsumsi Buah Rumah Tangga

Faktor-Faktor yang di Analisis


9
9
9
9
9
9
9
9

Jarak
Frekuensi pembelian
Jumlah konsumsi
Tempat pembelian
Kapasitas daya listrik
Pendidikan
Jumlah keluarga
Umur

Analisis Logistik

Tabulasi Deskriptif

Deskripsi Pola Konsumsi Buah

Analisis Diskriminan

Faktor-faktor yang Mempengaruhi


Pola Konsumsi

Klasifikasikan faktor-faktor yang


Mempengaruhi Pola Konsumsi

Buah Nasional atau Buah Impor

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Konseptual

44

3.3. Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran hipotesis yang digunakan adalah
konsumsi buah untuk masing-masing rumah tangga berbeda, karena dipengaruhi
oleh beberapa faktor yaitu jarak, frekuensi, jumlah konsumsi buah, harga buah,
tempat pembelian, Kapasitas daya listrik, tingkat pendidikan, jumlah anggota
keluarga dan umur.
1.

Konsumen dengan jarak tempat tinggal dekat dari supermarket akan


mengkonsumsi buah impor. Sedangkan konsumen yang bertempat tinggal
jauh dari supermarket akan mengkonsumsi buah nasional.

2.

Semakin tinggi frekuensi pembelian buah maka konsumen akan mencari


buah dengan kualitas yang baik, sehingga konsumen akan mengkonsumsi
buah impor.

3.

Semakin besar jumlah buah yang dikonsumsi akan mengakibatkan


konsumen mencari buah dengan harga murah dan akan mengkonsumsi buah
nasional.

4.

Tempat pembelian akan mempengaruhi pola konsumsi buah karena


supermaket akan menawarkan buah yang beragam dan buah impor
merupakan buah yang banyak ditawarkan, sehingga konsumen akan
mengkonsumsi buah impor.

5.

Kapasitas daya listrik terpasang mempengaruhi pola konsumsi karena


semakin besar daya listrik yang digunakan maka konsumen akan
mengkonsumsi buah impor.

6.

Konsumen dengan tingkat pendidikan tinggi akan mengkonsumsi buah


dengan kualitas baik sehingga memilih buah impor.

45

7.

Keluarga dengan jumlah anggota yang besar akan membeli buah dengan
jumlah yang banyak dengan harga yang murah sehingga akan mengkonsumsi
buah nasional.

8.

Konsumen dengan umur tua akan mencari buah dengan harga murah
sehingga akan berpeluang mengkonsumsi buah nasional.

46

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi Dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan dengan metode survei terhadap rumah tangga
sebagai konsumen buah. Survei terhadap konsumen buah dilakukan di Kota
Bekasi. Pemilihan Kota Bekasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan
pertimbangan bahwa Kota Bekasi merupakan salah satu daerah dengan kepadatan
penduduk tertinggi di Jawa Barat dan memiliki pengeluaran rata-rata per kapita
per bulan untuk buah-buahan yang cenderung meningkat setiap tahunnya sehingga
merupakan salah satu daerah tujuan pemasaran buah-buahan yang potensial.
Alasan lain Kota Bekasi merupakan daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang
pesat karena merupakan kawasan perindustian dan perdagangan Jabotabek. Survei
terhadap konsumen buah dilakukan pada bulan September sampai dengan bulan
Oktober 2005.

4.2. Metode Pengumpulan Data


Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan
data sekunder, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Data primer
dikumpulkan dengan metode survei berupa wawancara berdasarkan kuisioner
kepada responden yang terdiri atas rumah tangga sebagai konsumen buah.
Untuk melengkapi data primer, dibutuhkan data-data sekunder antara lain
data produksi, konsumsi

buah di Indonesia. Data sekunder diperoleh dari

berbagai instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Direktorat Tanaman
Buah-Direktorat Jendral Bina Produksi Hortikultura Departemen Pertanian. Pusat

47

Kajian Buah-buahan Tropika (PKBT) IPB dan sumber-sumber lain yang terkait
dengan topik penelitian.

4.3. Metode Pengambilan Responden


Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
secara kebetulan (convinience sampling) sering juga disebut sebagai accidental
sampling technique, karena dalam teknik sampel ini anggota sampel adalah
konsumen rumah tangga yang mudah ditemui atau yang berada pada waktu dan
tempat yang tepat. Sampel yang diambil menjadi responden adalah rumah tangga
di Kota Bekasi yang dipilih secara sengaja (purposive) berdasarkan jarak tempat
tinggal responden dari supermarket.
Jumlah responden yang digunakan sebanyak 90 orang, dibagi atas 45
orang responden rumah tangga yang bertempat tinggal dekat dari supermarket dan
45 orang responden rumah tangga bertempat tinggal jauh dari supermarket.
Penentuan tempat tinggal responden dekat atau jauh dari supermarket didasarkan
pada data supermarket dari Badan Pusat Statistik Kota Bekasi tahun 2004 dan peta
demografi Kota Bekasi tahun 2005 serta peta digital macro media tahun 2003.
Kategori tempat tinggal responden dekat dari supermarket adalah responden yang
berada dalam radius lima Kilometer dari supermarket terdekat, sedangkan tempat
tinggal responden yang lebih dari lima Kilometer dari supermarket terdekat masuk
dalam kategori jauh. Pengambilan sampel dilakukan di seluruh kecamatan di Kota
Bekasi, dalam setiap kecamatan diambil satu sampai dengan tiga kelurahan dan
tiap kelurahan diambil masing-masing lima responden (Lampiran 1.). Sedangkan
responden yang diambil menjadi sampel adalah konsumen yang sudah berumah

48

tangga, dimana sampel adalah orang yang mengambil keputusan atau yang lebih
tahu tentang konsumsi buah dalam rumah tangga tersebut.

4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data


4.4.1. Tabulasi Deskriptif
Tabulasi deskriptif merupakan alat untuk menggambarkan data latar
belakang konsumen sebagai responden dari kuisioner yang bersifat umum.
Berdasarkan hasil tabulasi ini diperoleh informasi mengenai karakteristik
konsumen dan prioritas konsumen yang mewakili konsumen buah. Proses
pengambilan keputusan pembelian buah nasional dan buah impor secara umum
dilihat dari proporsi pengeluaran responden untuk pangan khususnya buah.
Proporsi pembelian buah baik itu buah lokal maupun buah impor dilihat dari
jumlah pembelian per bulan dan jumlah buah yang telah dikonsumsi dalam waktu
satu minggu dan satu bulan terakhir.
4.4.2. Analisis Model Logistik
Model logit sering disebut dengan model logistik, nilai variabel
dependennya mengambil nilai antara 0 dan 1. Bentuk fungsi dari model logistik
adalah :
Ln[P / 1-P] = + x +
P adalah nilai peluang dari variabel tak bebas yang nilainya biner yaitu 0 dan 1.
Nilai P diperoleh dari:
Y = Prob(Y =1) = 1/1 + e ( + x + )
Nilai harapan (Y | X) dinyatakan dalam peluang didapat dari :
E (Y | X) = h(X) = e g (x)/1 + e g (x)

49

Ukuran yang sering digunakan untuk melihat hubungan antara peubah


bebas dan peubah tidak bebas dalam model logistik adalah nilai odds ratio. Nilai
odds ratio menunjukkan perbandingan peluang Y=1 dan Y=0. Nilai ini diperoleh
dari perhitungan eksponensial dari koefisien estimasi () atau exp ().
odds ratio (i) = [P (xi)/1 P (xi)] atau exp ().
Untuk melihat kesesuaian model para regresi logistik maka digunakan uji
rasio likelihood. Nilai ini didapat dengan cara membandingkan nilai G hitung
dengan nilai Chi-square.
G hitung = 2 { nilai log likelihood [ n1 ln (n1) + n0 ln (n0) n ln (n)] }
dimana, G = nilai rasio likelihood logaritma tanpa variabel tak bebas;
n1 = jumlah sampel yang termasuk dalam kategori P (Y=1);
n0 = jumlah sampel yang termasuk dalam kategori P (Y=0);
n = jumlah total sampel.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian
buah. Responden dihadapkan pada dua pilihan membeli buah impor atau buah
nasional. Keputusan pembelian antara buah impor atau buah nasional sebagai
variabel tak bebas yang diduga dipengaruhi oleh sejumlah variabel bebas yaitu
jarak responden dengan supermarket, frekuensi pembelian buah, jumlah buah,
tempat pembelian, pendapatan rumah tangga, pengeluaran khusus pangan, tingkat
pendidikan, jumlah anggota keluarga, umur responden, maka model regresi
logistik dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut
Yi = b0 + b 1 X1 + b 2 X2 + b 3 X3 + b 4 X4 + b 5 X5 + b 6 X6 + b 7 X7 + b 8 X8 +
Keterangan :
Yi = variabel tak bebas
dimana,
Yi = (0) bila konsumen lebih banyak mengkonsumsi buah impor
Yi = (1) bila konsumen lebih banyak mengkonsumsi buah nasional
b0 = intersep model garis regresi
b1 = slope model garis regresi

50

= komponen galat yang mewakili deviasi respon


X1 = jarak rumah responden dari supermarket (dummy)
Nilai, X1 = (0) dekat dari supermarket
X1 = (1) jauh dari supermarket
X2 = frekuensi pembelian (kali/bulan)
X3 = jumlah buah (Kg/bulan)
X4 = tempat pembelian buah
0) pedagang kaki lima
1) kios buah
2) supermarket/swalayan
X5 = kapasitas daya listrik terpasang (Watt)
X6 = tingkat pendidikan
0) sekolah dasar dan sekolah menengah pertama
1) sekolah menengah atas
2) perguruan tinggi
X7 = jumlah keluarga (orang)
X8 = umur responden (tahun)
Data yang dikumpulkan selanjutnya dianalisis dengan model fungsi
logistik menggunakan program komputer Minitab 13.
4.4.3. Analisis Diskriminan
Diskriminan analisis termasuk dalam multivariate dependence method,
dengan model :
Di
Keterangan :
Di
Xij
b0
b1

= b0 + b1 Xi1 + b2 Xi2 + b3 Xi3 ... + bj Xij


= nilai variabel tak bebas diskriminan dari responden (objek) ke-i
= variabel bebas ke-j dari responden ke-i,
= intersep model garis regresi
= slope model garis regresi

untuk mengukur seberapa kuat asosiasi antara skore diskriminan dan


kelompoknya dilakukan uji korelasi kanonikal (canonical correlation). Korelasi
kanonikal merupakan ukuran antara fungsi diskriminan tunggal dan set variabel
dummy yang membentuk anggota kelompok.

51

Skor diskriminan merupakan hasil kali dari koefisien yang tidak di


bakukan dengan nilai variabel dan di jumlahkan dengan konstanta. Skor
diskriminan di rumuskan sebagai berikut :
k

Di = b0 + b j X ij
j =1

Keterangan :
Di
b0
b1
Xij

= skor diskriminan
= intersep model garis regresi (konstanta)
= slope model garis regresi ke-j
= variabel bebas ke-j dari responden ke-i,

Eigenvalue digunakan untuk melihat besarnya rasio sum of squares (SS)


antara kelompok dengan (SS) dalam kelompok (SSb/SSw), yaitu semakin besar
nilai eigenvalue maka semakin bagus fungsi diskriminan. Sedangkan wilks lamda
digunakan untuk melihat apakah fungsi diskriminan ke-i secara nyata dapat
digunakan sebagai pembeda antar grup. Jika nilai wilks lamda < 5%, maka fungsi
diskriminan scara nyata dapat digunakan. SSw atau Wi dapat dirumuskan sebagai
berikut :
ni

Wi = ( X ij X i )( X ij X i )' dan W = W1 + W2 + .... + WG


i =1

Keterangan :
Wi

= matrik jumlah kuadrat dan jumlah cross products di koreksi dengan


rata-rata untuk grup/kelompok i (within group)

Sedangkan SSb di rumuskan sebagai berikut :


B=TW
dimana T dirumuskan sebagai berikut :
G

ni

T = ( X ij X )( X ij X )'
i =1 i =1

52

Keterangan :
B = matrik jumlah kuadrat dan jumlah cross products antar kelompok
(between group)
T = matrik jumlah kuadrat dan jumlah cross products secara menyeluruh
(total) untuk seluruh n
X i = vektor rata-rata observasi dalam kelompok ke-i
X = vektor grand mean untuk seluruh n

Definisikan komposit linear

D = bTX,

dimana bT transpose b adalah [b0, b1, b2,,bk] sebagai vektor kolom dan bT
vektor baris.

1

X1
X
D = (b0 , b1 , b2 ,..., bk ) 2 = b0 + b1 X 1 + b2 X 2 + ... + bk X k
X3
...

X
k
Keterangan :
b = vektor koefisien diskriminan atau timbangan (weight)
kemudian dengan menggunakan referensi D, sum of squares antara kelompok dan
dalam kelompok mesing-masing bisa di tulis sebagai berikut : bT, Bb, dan bT, Wb.
agar bisa mendeskripsikan kelompok secara maksimal, fungsi diskriminan D
harus diestimasi untuk memaksimumkan variabilitas antar kelompok.
Koefisien b dihitung dengan membuat maksimum, yaitu :
Max =

b T Bb
b T Wb

Keterangan :
= rasio antara jumlah kuadrat antara kelompok dengan jumlah kuadrat
dalam kelompok, yang harus dibuat maksimum.

53

Dengan mengambil partial derivative menurut kemudian menyamakannya


dengan nol. Diperoleh persamaan :
(B W)b = 0
Untuk mencari b, perlu kita mengalikannya dengan W-1 (inverse metrik W),
diperoleh persamaan karakteristik (characteristics equation).
(W-1 B I) b = 0
Nilai yang maksimum merupakan eigenvalue terbesar dari matrik W-1 B
dan b adalah associated eigenvector. Elemen b, seperti b1 sampai dengan bk
merupakan koefisien diskriminan atau timbangan (weight), berasosiasi dengan
fungsi diskriminan pertama. Data yang dikumpulkan selanjutnya dianalisis
dengan model diskriminan menggunakan program komputer SPSS versi 12..

54

4.5. Definisi Operasional

(1.)

Perilaku konsumen, didefinisikan sebagai tindakan individu atau

kelompok yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi,


dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang
mendahului dan menyusul tindakan tersebut.
(2.)

Pola konsumsi, merupakan kebiasaan dan susunan konsumsi buah yang

dipilah menurut besarnya kontribusi dari masing-masing jenis buah


terhadap total konsumsi buah yang dikonsumsi.
(3.)

Asal buah, adalah istilah untuk menunjukan tempat buah di

produksi/dibudidayakan (impor atau nasional).


(4.)

Buah Nasional, yaitu buah-buahan jenis tropika yang terdapat di dalam

negeri Indonesia contohnya durian, pisang, mangga, rambutan, manggis


dan lain sebagainya.
(5.)

Buah Impor, yaitu buah-buahan jenis sub tropika yang didatangkan

dari luar negeri contohnya apel, anggur, pear, kiwi dan lain sebagainya.
(6.)

Responden Penelitian, dalam penelitian ini merupakan konsumen akhir

dari rantai tataniaga buah-buahan yaitu konsumen rumah tangga yang


berada pada lokasi yang ditentukan.
(7.)

Konsumen Rumah Tangga, yaitu rantai terakhir dari tataniaga yang

terdiri dari konsumen-konsumen individu sebagai anggota keluarga.


(8.)

Rumah Tangga, adalah keluarga inti (suami, isteri dan anak) ditambah

kerabat lainnya yang tinggal dalam satu rumah dan makan dari satu
dapur.

55

(9.)

Jumlah Anggota Keluarga, adalah jumlah individu-individu dalam

rumah tangga yang dinyatakan dalam jumlah orang.


(10.) Pendapatan Rumah Tangga, adalah jumlah pendapatan total rumah
tangga konsumen dari berbagai sumber yang merupakan pendapatan per
bulan dinyatakan dalam Rupiah.
(11.) Harga, adalah nilai jual yang ditawarkan pasar kepada konsumen.
(12.) Pekerjaan, adalah kegiatan yang dilakukan oleh responden dengan
tujuan untuk mendapatkan dan menambah penghasilan keluarga.
(13.) Tingkat Pendidikan, adalah tingkat pendidikan formal terkahir yang
ditempuh responden.
(14.) Frekuensi Konsumsi, adalah jumlah kali mengkonsumsi dalam satuan
waktu yang ditentukan.
(15.) Frekuensi pembelian, adalah jumlah kali membeli barang dalam
satuan waktu tertentu.
(16.) Tempat Pembelian, adalah tempat asal responden mendapatkan barang
yang akan dikonsumsi.
(17.) Alasan

Mengkonsumsi,

mempengaruhi

responden

adalah
dalam

hal-hal

yang

mengambil

mendasari
keputusan

dan
untuk

mengkonsumsi.
(18.) Umur, adalah menunjukan waktu antara lahir sampai dengan waktu
sekarang.
(19.) Jarak dari supermarket, adalah menunjukan jarak tempat tinggal
konsumen dari supermarket berdasarkan satuan ukur Km.

56

(20.) Supermarket/swalayan, adalah perusahaan dagang yang tidak


melakukan produksi tetapi hanya membeli produk untuk dijual, dalam
hal ini disebut pengecer (retailer).
(21.) Analisis regresi logistik, adalah bagian dari analisis regresi yang dapat
mengkaji hubungan pengaruh peubah penjelas terhadap respon, dimana
peubah respon dapat berupa kategorik dan numerik.
(22.) Regresi logistik biner, adalah bagian dari regresi logistik yang
dibedakan berdasarkan tipe peubah kategori peubah Y.
(23.) Odds ratio, adalah rasio peluang kejadian sukses dengan kejadian tidak
sukses dari peubah respon.
(24.) Nilai koefisien, adalah nilai hasil analisis regresi logistik yang
menyatakan hubungan antara peubah respon dengan respon.
(25.) Analisis diskriminan, adalah teknik multivariate yang termasuk
dependence method yang bertujuan untuk membedakan antar grup pada
variabel dependen.
(26.) Grup/kelompok, adalah kumpulan dari variabel dependen berdasarkan
variabel independen.

57

BAB V
KEADAAN UMUM DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN

5.1. Keadaan Umum Daerah Penelitian

Secara geografis Kota Bekasi berada pada posisi 106055 bujur timur dan
607 6015 lintang selatan dengan ketinggian 19 m diatas permukaan laut. Letak
Kota Bekasi sangat strategis, dimana wilayahnya merupakan perbatasan antara
dua Propinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Batas-batas wilayah administrasi Kota Bekasi adalah :
1. Sebelah utara

: Kabupaten Bekasi

2. Sebelah selatan

: Kabupaten Bogor

3. Sebelah barat

: Kota Jakarta Timur

4. Sebelah timur

: Kabupaten Bekasi

Iklim di Kota Bekasi cenderung panas, sepanjang tahun 2004 jumlah hujan
yang cukup tinggi hanya terjadi pada bulan Maret yaitu masing-masing tercatat
1.632 mm dan 1.282 mm. jumlah curah hujan tertinggi terjadi di Kecamatan Rawa
Lumbu pada bulan Februari yaitu sebanyak 472 mm dengan jumlah hari hujan 17
hari. Sedangkan jumlah curah hujan pada bulan lainnya di musim hujan rata-rata
kurang dari 376 mm.
Berdasarkan wilayah administrasi Kota Bekasi terdiri dari sepuluh
kecamatan yang terdiri dari 52 kelurahan. Kota Bekasi memiliki luas wilayah
sekitar 210,49 Km2, dengan Kecamatan Bantar Gerbang sebagai wilayah terluas
(41,78 Km2) dan wilayah terkecil adalah Kecamatan Bekasi Timur (13,49 Km2).
Pada tahun 2004 kepadatan penduduk Kota Bekasi sekitar 9.095 jiwa/Km2,
kecamatan Bekasi Timur merupakan wilayah yang terpadat penduduknya

58

mencapai 15.869 jiwa/Km2 sedangkan daerah yang penduduknya tidak padat


adalah Kecamatan Bantar Gebang dengan jumlah penduduk 3.975 jiwa/Km2.
Jumlah penduduk, luas wilayah dan kepadatan penduduk dari masing-masing
kecamatan di Kota Bekasi dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Jumlah Penduduk, Luas Wilayah, dan Kepadatan Penduduk Masingmasing Kecamatan di Kota Bekasi Tahun 2004
Kecamatan

Pondok Gede
Jaka Sampurna
Jati Asih
Bantar Gebang
Bekasi Timur
Rawa Lumbu
Bekasi Selatan
Bekasi Barat
Medan Satria
Bekasi Utara
Jumlah

Luas Wilayah
(Km2)

Jumlah Penduduk

Kepadatan
Penduduk
(Jiwa/Km2)

24.37
22.48
24.49
41.78
13.49
15.67
14.96
18.89
14.71
19.65
210.49

242.054
108.507
182.461
166.078
214.074
178.765
196.990
229.772
149.811
245.804
1.914.316

9.932
4.827
7.450
3.975
15.869
11.408
13.168
12.164
10.184
12.509
9.095

Sumber : BPS Kota Bekasi tahun 2004.

Sebagai wilayah perkotaan, peranan sektor pertanian di Kota Bekasi relatif


kecil karena tergeser oleh sektor perdagangan dan jasa berkurangnya sektor
pertanian tercermin dari penggunaan lahan sawah yang relatif semakin berkurang.
Pada tahun 2004 luas lahan sawah di Kota Bekasi hanya 667 hektar atau 3.17
persen dari seluruh luas wilayah Kota Bekasi (21.049 Ha). Jika luas lahan sawah
hanya sebesar 3.17 persen berarti 96.83 persen dari luas wilayah Kota Bekasi
adalah lahan kering, yaitu 20.382 hektar. Penggunaan lahan kering sebagian besar
untuk pembangunan perumahan, kantor dan industri. Luasnya lahan yang
digunakan untuk pembangunan ini nampaknya ada kaitannya dengan peranan
Kota Bekasi sebagai daerah penyeimbang DKI Jakarta.
Pemanfaatan lahan kering di Kota Bekasi selain untuk perumahan, kantor
dan industri juga digunakan untuk memproduksi buah dan sayur-sayuran. Sawi,

59

kacang panjang, bayam, ketimun, cabe, terong, dan kangkung adalah sayursayuran yang berproduksi di Kota Bekasi. Produksi terbesar sayuran adalah sawi
3.275,50 ton, kangkung 3.265 ton, dan bayam 3.317,70 ton. Sedangkan jenis
buah-buahan yang ada di Kota Bekasi adalah jeruk siam, durian, duku, jambu biji,
mangga, sawo, papaya, pisang dan rambutan. Produksi rambutan mendominasi
produksi buah di Kota Bekasi sebanyak 2.653,60 ton, mangga 1.417,55 ton,
durian 1.015,81 ton, jambu biji 711,22 ton dan papaya 642,62 ton. Sedangkan
produksi jeruk siam, duku, sawo dan pisang produksinya dibawah 600 ton. Luas
panen, hasil per hektar dan produksi buah-buahan di Kota Bekasi tahun 2004
dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Luas Panen, Hasil Per Hektar dan Produksi Buah-Buahan di Kota Bekasi
Tahun 2004
Jenis buah

Jeruk siam
Durian
Duku
Jambu biji
Mangga
Sawo
Papaya
Pisang
Rambutan

Luas panen (Ha)

Hasil per hektar


(Kwt)

Produksi (Ton)

6,02
84,92
71,92
142,85
269,40
73,02
45,18
55,47
211,20

189,94
119,62
79,54
49,79
52,62
42,98
142,22
90,21
125,64

114,25
1.015,81
572,02
711,22
1.417,55
313,83
642,62
500,34
2.653,60

Sumber : BPS Kota Bekasi tahun 2004

Pembangunan

ekonomi

sektor

pertanian

adalah

bertujuan

untuk

meningkatkan pendapatan petani dan pemerataan pembangunan. Sektor pertanian


meliputi sub sektor tanaman bahan makanan, sub sektor peternakan dan sub sektor
perikanan. Di Kota Bekasi jumlah produksi tanaman bahan makanan khususnya
untuk jahe dan kelapa hibrida produktivitas cukup tinggi yaitu 345,83 kwintal per
hektar jahe, dan hasil produksi kelapa hibrida selama tahun 2004 adalah 851,70
ton dengan tingkat produktivitas 33,27 kwintal per hektar.

60

Sub sektor perikanan di Kota Bekasi masih tergantung pada hasil budi
daya kolam dan tambak. Pada tahun 2004 hasil produksi perikanan di Kota Bekasi
mencapai 292,7 ton. Jenis yang banyak di budidayakan adalah ikan mas dan
gurame dengan jumlah produksi 95,6 ton dan 63,1 ton. Sedangkan untuk sub
sektor peternakan, di Kota Bekasi terdapat 5.235 ekor kambing dan 206 ekor sapi,
untuk jumlah unggas khusus ayam pedaging di Kota Bekasi adalah 539.922 ekor.

5.2. Karakteristik Responden.


5.2.1. Umur

Secara umum rata-rata umur responden adalah 40,57 tahun, dengan ratarata umur untuk responden dekat dengan supermarket adalah 41,09 tahun dan
responden yang jauh dari supermarket adalah 40,24 tahun. sebagian besar umur
responden yang bertempat tinggal dekat dari supermarket adalah lebih dari 40
tahun yaitu sebesar 62,22 persen, begitu juga umur responden yang bertempat
tinggal jauh dari supermarket lebih dari 40 tahun yaitu sebesar 51,11 persen.
Secara keseluruhan responden memiliki umur lebih dari 40 tahun (56.67
persen) dan sisanya (43.33 persen) berumur kurang dari 40 tahun. Hal ini
menunjukan bahwa sebagian dari responden berada pada usia yang tidak produktif
lagi. Sebaran responden menurut umur dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Sebaran Responden Menurut Umur
Umur
21-40
>40
Jumlah

Dekat Supermarket
n
%
17
37.78
28
62.22
45
100.00

Jauh Supermarket
n
%
22
48.89
23
51.11
45
100.00

61

5.2.2. Jenis Kelamin

Penentuan responden tidak berdasarkan jenis kelamin dalam rumah


tangga, tapi didasarkan pada siapa yang lebih mengetahui tentang jumlah
konsumsi buah dalam rumah tangga. Responden terdiri dari kepala rumah tangga
(suami) dan atau ibu rumah tangga (istri). Pada responden yang bertempat tinggal
dekat dari supermarket jumlah responden paling banyak adalah laki-laki/kepala
rumah tangga yaitu 55.56 persen. sedangkan responden yang bertempat tinggal
jauh dari supermarket jumlah responden perempuan lebih dominan yaitu 64.44
persen. Sebaran responden menurut jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Sebaran Responden Menurut Jenis Kelamin
Dekat Supermarket
Jenis kelamin
n
%
Laki-laki
25
55.56
Perempuan
20
44.44
Jumlah
45
100.00

Jauh Supermarket
n
%
16
35.56
29
64.44
45
100.00

5.2.3. Pekerjaan

Jenis pekerjaan responden akan membedakan tingkat pendapatan, karena


konsumsi pangan akan dibatasi oleh pendapatan dan harga pangan. Dengan
beragamnya pekerjaan dan tingkat pendapatan akan diketahui bagai mana pola
konsumsi buah oleh responden. Pekerjaan responden yang bertempat tinggal dekat
dari supermarket persentase terbesar adalah pegawai negeri (40 persen), ibu rumah
tangga (20 persen), pegawai swasta dan wiraswasta (15.56 persen), pensiunan (8.89
persen). Sedangkan untuk responden yang bertempat tinggal jauh dari
supermarket persentase terbesar untuk jenis pekerjaan adalah pegawai swasta
(35.56 persen), wiraswasta (26.67 persen), ibu rumah tangga (24.44 persen),
pegawai negeri (13.33 persen), dan tidak terdapat pensiunan. Banyaknya
responden yang memiliki pekerjaan baik sebagai pegawai negeri, pegawai swasta,

62

wiraswasta, merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pendapatan


keluarga. Sebaran responden menurut jenis pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Sebaran Responden Menurut Jenis Pekerjaan
Dekat Supermarket
Jenis Pekerjaan
n
%
18
40.00
Pegawai Negeri
7
15.56
Pegawai Swasta
7
15.56
Wiraswasta
9
20.00
Ibu Rumah Tangga
4
8.89
Pensiunan
Jumlah
45
100.00

Jauh Supermarket
n
%
6
13.33
16
35.56
12
26.67
11
24.44
0
0.00
45
100.00

5.2.4. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan responden sangat bervariasi dari tamat sekolah dasar


sampai dengan pasca sarjana. Persentase tingkat pendidikan terbesar responden
rumah tangga yang bertempat tinggal dekat dari supermarket adalah sarjana, yaitu
sebanyak 31,11 persen. Sedangkan persentase tingkat pendidikan terbesar
responden rumah tangga yang bertempat tinggal jauh dari supermarket adalah
SMA, yaitu 31,11 persen. Sebaran responden menurut tingkat pendidikan dapat
dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Sebaran Responden Menurut Tingkat Pendidikan
Tingkat
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Pendidikan
n
%
n
%
1
2.22
1
2.22
SD
0
0.00
9
20.00
SMP
14
31.11
14
31.11
SMA
11
24.44
8
17.78
Diploma
16
35.56
12
26.67
Sarjana
3
6.67
1
2.22
Pasca Sarjana
Jumlah
45
100.00
45
100.00

5.2.5. Jumlah Anggota Keluarga

Responden dalam penelitian ini sebagian besar memiliki jumlah keluarga


lima hingga enam orang dengan proporsi 53,33 persen untuk responden yang
bertempat tinggal dekat darisupermarket, sedangkan untuk responden yang

63

bertempat tinggal jauh dari supermarket persentase rumah tangga dengan jumlah
anggota kurang dari empat orang adalah 51,11 persen. Jumlah anggota keluarga
akan menentukan jumlah pangan yang dikonsumsi. Keluarga yang memiliki
jumlah anggota keluarga yang lebih kecil tentunya akan lebih mudah untuk
kebutuhan pangannnya. Sebaran responden menurut jumlah anggota keluarga
dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Sebaran Responden Menurut Jumlah Anggota Keluarga
Jumlah Anggota
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Keluarga
n
%
n
%
Kecil ( 4 orang)
17
37.78
23
51.11
Sedang (5-6 orang)
24
53.33
20
44.44
Besar (>6 orang)
4
8.89
2
4.44
Jumlah
45
100.00
45
100.00

5.2.6. Kapasitas Daya Listrik Terpasang

Kapasitas daya listrik yang terpasang pada rumah merupakan cara untuk
mengetahui tingkat pendapatan responden, karena semakin besar daya listrik yang
digunakan makin semakin besar pula biaya yang harus di bayar setiap bulannya.
Kapasitas listrik terpasang biasa juga digunakan Badan Pusat Statistik untuk
melakukan survei tingkat kesejahteraan rumah tangga. Persentase kapasitas daya
listrik untuk responden yang bertempat tinggal dekat dengan supermarket adalah
60.00 persen menggunakan daya listrik 900 Watt, sedangkan responden yang
bertempat tinggal jauh dari supermarket sebanyak 57.78 persen menggunakan
daya listrik 1300 Watt. Sebaran responden menurut kapasitas daya listrik
terpasang dapat dilihat pada Tabel 12.

64

Tabel 12. Sebaran Responden Menurut Daya Listrik Terpasang


Daya Listrik Terpasang
(Watt)
900
1300
1700
2200
2600
Jumlah

Dekat Supermarket
n
%
27
60,00
14
31,11
3
6,67
1
2,22
0
0,00
45
100,00

Jauh Supermarket
n
%
17
37,78
26
57,78
1
2,22
0
0,00
1
2,22
45
100,00

5.2.7. Pendapatan Keluarga

Responden sebagian besar memiliki pendapatan keluarga di bawah


tiga juta rupiah per bulan untuk responden dekat dan jauh dari supermarket.
Persentase jumlah pendapatan untuk responden yang bertempat tinggal dekat dari
supermarket, yaitu 48.89 persen, sedangkan persentase jumlah pendapatan untuk
responden yang bertempat tinggal jauh dari supermarket, yaitu 62.22 persen.
Pendapatan antara tiga juta hingga lima juta rupiah untuk responden dekat dari
supermarket adalah 28.89 persen, dan responden jauh dari supermarket adalah
26.67 persen.
Tingkat pendapatan suatu keluarga tergantung pada kemampuan setiap
anggota keluarga untuk memanfaatkan kesempatan kerja dan menggunakan
sumber-sumber yang dapat mendatangkan hasil (uang). Pendapatan rumah tangga
akan berpengaruh terhadap jenis pangan yang dikonsumsi baik itu kualitas
maupun kuantitas. Pendapatan yang meningkat akan mempengaruhi individu
untuk mendapatkan pangan yang lebih beragam dan berkualitas sesuai dengan
pemenuhan gizi dan vitamin keluarga. Sebaran responden menurut jumlah
pendapatan keluarga dapat dilihat pada Tabel 13.

65

Tabel 13. Sebaran Responden Menurut Jumlah Pendapatan Keluarga


Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Jumlah Pendapatan
Keluarga (Rp/bulan)
n
%
n
%
<Rp 3000.000
22
48.89
28
62.22
Rp 3000.000-<5000.000
13
28.89
12
26.67
Rp 5000.000-<7000.000
6
13.33
4
8.89
>Rp 7000.000
4
8.89
1
2.22
Jumlah
45
100.00
45
100.00

5.2.8. Pengeluaran

Pengeluaran rumah tangga adalah jumlah total pengeluaran yang


dikeluarkan/dibelanjakan atas suatu barang atau jasa oleh suatu rumah tangga
dalam sebulan. Jumlah pengeluaran rumah tangga dihitung atas jumlah uang yang
dikeluarkan oleh rumah tangga untuk berbagai keperluan termasuk kebutuhan
papan, sandang, pangan, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Responden rumah tangga mempunyai jumlah pengeluaran keluarga yang
berbeda-beda sesuai dengan tingkat kebutuhan yang di pengaruhi oleh tingkat
pendapatan, jumlah keluarga, dan jenis barang atau jasa yang diperlukan per
bulan. Persentase jumlah pengeluaran keluarga terbesar untuk responden yang
bertempat tinggal dekat dari supermarket adalah satu hingga dua juta rupiah yaitu
51.11 persen. Sedangkan persentase responden yang bertempat tinggal jauh dari
supermarket jumlah pengeluaran keluarga terbesar yaitu kurang dari satu juta
rupiah adalah 42.22 persen. Sebaran responden menurut jumlah pengeluaran
keluarga per bulan dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Sebaran Responden Menurut Jumlah Pengeluaran Keluarga Per Bulan
Jumlah Pengeluaran
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Keluarga
n
%
n
%
< Rp 1000.000
4
8.89
19
42.22
Rp 1000.000-<2000.000
23
51.11
12
26.67
Rp 2000.000-<3000.000
7
15.56
6
13.33
>Rp 3000.000
11
24.44
8
17.78
Jumlah
45
100.00
45
100.00

66

5.2.9. Pengeluaran Khusus Pangan

Pengeluaran responden khusus pangan dilihat dari jumlah uang yang


digunakan oleh keluarga untuk membeli/memperoleh pangan. Jumlah pengeluaran
khusus pangan di pengaruhi oleh jumlah pangan yang dikonsumsi oleh keluarga
dan dari jumlah anggota keluarga itu sendiri, semakin banyak anggota keluarga
maka keperluan akan pangan menjadi tinggi.
Persentase pengeluaran khusus pangan responden dapat dilihat pada Tabel
15, dimana untuk responden yang bertempat tinggal dekat dari supermarket
persentase pengeluaran khusus pangan terbesar (42.22 persen) berkisar antara satu
juta hingga dua juta rupiah. Sedangkan persentase pengeluaran khusus pangan
terbesar responden yang bertempat tinggal jauh dari supermarket (51.11 persen)
adalah kurang dari lima ratus ribu rupiah.
Tabel 15. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Pengeluaran Khusus
Pangan Per Bulan
Pengeluaran
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Khusus Pangan
n
%
n
%
< Rp 500.000
4
8.89
23
51.11
Rp 500.000-1000.000
16
35.56
9
20.00
Rp 1000.000-2000.000
19
42.22
10
22.22
> Rp 2000.000
6
13.33
3
6.67
Jumlah
45
100.00
45
100.00

67

BAB VI
POLA KONSUMSI BUAH RUMAH TANGGA

Pola konsumsi tidak lepas dari beberapa faktor antara lain besarnya
pengeluaran yang dilakukan oleh suatu rumah tangga untuk mengkonsumsi buah
dipengaruhi oleh selera dan tingkat kebutuhan. Konsumsi buah berkaitan erat
dengan kemampuan atau daya beli konsumen, meskipun buah merupakan pangan
yang banyak mengandung vitamin yang dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan
tubuh manusia sebagai antioksidan. Buah termasuk komoditas pangan nabati yang
harganya relatif tinggi dibandingkan dengan komoditas pangan nabati lainnya,
atau dengan kata lain tingkat konsumsi buah mencerminkan daya beli dan tingkat
pendapatan masyarakat yang tinggi. Sedangkan tingkat pendapatan yang
dialokasikan untuk pengeluaran, dalam hal ini batas porsi angaran belanja pangan
rumah tangga sering digunakan sebagai alat untuk menilai tingkat kesejahteraan
ekonomi penduduk dan perubahan komposisinya sebagai indikasi perubahan
tingkat kesejahteraan rumah tangga masyarakat. untuk membahas proporsi
pengeluaran, ada dua faktor yang harus diperhatikan yaitu harga dan tingkat
kesejahteraan.
Faktor harga dan tingkat konsumsi saling mempengaruhi terhadap proporsi
pengeluaran rumah tangga. Sebagai contoh, apabila terjadi peningkatan proporsi
pengeluaran terhadap suatu kelompok pangan, tidak dapat langsung disimpulkan
bahwa tingkat konsumsi kelompok pangan tersebut meningkat, tetapi harus
diamati pula tingkat perubahan harganya.

68

6.1. Pola Kebiasaan Konsumsi Buah Untuk Rumah Tangga

Jenis buah yang paling banyak dikonsumsi oleh responden rumah tangga
yang bertempat tinggal dekat dari supermarket adalah buah pisang (97.78 persen),
buah mangga (93.33 persen), dan buah jeruk (91.11 persen) dari total responden
rumah tangga yang bertempat tinggal dekat dari supermarket. Jenis buah lain yang
tingkat konsumsi oleh responden lebih dari 50 persen antara lain, buah apel (68.89
persen) dan semangka (55.56 persen).
Sedangkan jenis buah yang banyak dikonsumsi oleh responden rumah
tangga yang bertempat tinggal jauh dari supermarket adalah buah jeruk (86,67
persen), apel (46,67 persen), pepaya (44,44 persen), mangga (40,00 persen).
Berdasarkan jenis buah yang biasa dikonsumsi, maka diketahui sebanyak 122.22
persen responden memilih mengkonsumsi buah nasional dan 77.78 persen
responden memilih mengkonsumsi buah impor. Sebaran responden rumah tangga
menurut jenis buah yang biasa dikonsumsi dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Jenis Buah yang Biasa
Dikonsumsi
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Jenis Buah
RT
%
RT
%
41
91.11
39
86.67
Jeruk
31
68.89
21
46.67
Apel
18
40.00
11
24.44
Pear
42
93.33
18
40.00
Mangga
44
97.78
17
37.78
Pisang
13
28.89
20
44.44
Pepaya
2
4.44
0
0.00
Duren
8
17.78
8
17.78
Anggur
5
11.11
2
4.44
Salak
1
2.22
4
8.89
Alpukat
25
55.56
7
15.56
Semangka
11
24.44
13
28.89
Melon
8
17.78
1
2.22
Lengkeng
19
42.22
0
0.00
Nenas
0
0.00
3
6.67
Jambu

69

Persentase jumlah konsumsi buah per bulan terbesar untuk responden


rumah tangga yang bertempat tinggal dekat dari supermarket adalah 28.89 persen
kurang dari lima kilo gram dan 22,22 persen responden jumlah konsumsi buah
berkisar antara lima sampai dengan sepuluh kilogram. Sedangkan persentase
jumlah konsumsi buah perbulan terbesar untuk responden rumah tangga yang
bertempat tinggal jauh dari supermarket adalah kurang dari lima kilogram dan
antara lima sampai sepuluh kilogram perbulan sebanyak 37,78 persen atau 17
rumah tangga.
Secara keseluruhan jumlah konsumsi buah per bulan rumah tangga yang
bertempat tinggal dekat supermarket lebih besar daripada jumlah konsumsi buah
rumah tangga yang bertempat tinggal jauh dari supermarket, hal ini bisa dilihat
dari jumlah responden yang mengkonsumsi buah per bulan diatas lima belas
kilogram yaitu 37,78 persen (17 rumah tangga) dengan rata-rata konsumsi 12,71
Kg per bulan. Sedangkan responden rumah tangga yang bertempat tinggal jauh
dari supermarket hanya 11,11 persen (tujuh rumah tangga) dengan rata-rata
konsumsi 9,38 Kg per bulan. Sebaran responden rumah tangga menurut jumlah
buah yang dikonsumsi per bulan dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Jumlah Buah yang
Dikonsumsi Per Bulan
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Konsumsi Buah Per
Bulan (Kg)
RT
%
RT
%
<5
13
28.89
17
37.78
5-<10
10
22.22
17
37.78
10-<15
5
11.11
4
8.89
15-<20
9
20.00
1
2.22
20-<25
2
4.44
3
6.67
25-<30
1
2.22
1
2.22
>30
5
11.11
2
4.44
Jumlah
45
100.00
45
100.00

70

Rata-rata frekuensi pembelian buah pada responden rumah tangga yang


bertempat tinggal dekat dari supermarket adalah 10,42 kali per bulan. Sedangkan
frekuensi terbanyak pada kisaran empat sampai dengan enam kali per bulan,
dengan jumlah responden dua belas rumah tangga (26,67 persen). Frekuensi
pembelian buah yang sedikit dikarenakan buah yang telah dibeli dapat disimpan
dalam lemari pendingin (refrigerator) dalam waktu yang lama, sehingga dapat
menghemat waktu dan biaya pembelian. Tetapi sebanyak sebelas rumah tangga
(24,44 persen) frekuensi pembelian buahnya antara empat belas sampai dengan
enam belas kali dalam sebulan dan sebanyak delapan rumah tangga

(17,78

persen) memilih membeli buah lebih 16 kali dalam sebulan. Hal ini disebabkan
oleh mudahnya dalam melakukan pembelian buah, alasan lainnya responden
menginginkan buah yang lebih segar dan bervariasinya konsumsi buah yang
diinginkan. Dengan kata lain seringnya membeli buah berarti jumlah dan jenis
buah yang dibeli bisa lebih beragam.
Sedangkan rata-rata frekuensi pembelian buah pada responden rumah
tangga yang bertempat tinggal jauh dari supermarket adalah 8,56 kali per bulan,
sedangkan frekuensi pembelian paling banyak pada kisaran enam sampai dengan
delapan kali per bulan dengan jumlah responden enam belas rumah tangga (35,56
persen), dan frekuensi empat sampai dengan enam kali per bulan sebanyak
delapan rumah tangga (17,78 persen). Sama halnya dengan responden rumah
tangga yang bertempat tinggal dekat supermarket, alasan rendahnya frekuensi
pembelian buah adalah buah bisa tahan lama bila disimpan dalam lemari
pendingin (refrigerator), apa lagi Kota Bekasi merupakan daerah panas akan
terasa lebih segar jika buah dikonsumsi dalam keadaan dingin.

71

Rendahnya frekuensi pembelian tidak berarti bahawa jumlah buah yang


dikonsumsi menjadi rendah, karena berdasarkan teknik penyimpanan yang
berkembang pada responden mengindikasikan bahwa pembelian cenderung dalam
jumlah yang besar sehingga cukup untuk disimpan dalam lemari pendingin.
Alasan lain yang mengakibatkan frekuensi pembelian rendah seperti halnya
disebutkan diatas adalah alasan waktu dan biaya. Sebaran responden rumah
tangga menurut frekuensi pembelian buah per bulan dapat dilihat pada Tabel 18.
Tabel 18. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Frekuensi Pembelian Buah
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Frekuensi
RT
%
RT
%
<2
0
0.00
0
0.00
2-<4
0
0.00
1
2.22
4-<6
12
26.67
8
17.78
6-<8
5
11.11
16
35.56
8-<10
0
0.00
3
6.67
10-<12
9
20.00
6
13.33
12-<14
0
0.00
2
4.44
14-<16
11
24.44
4
8.89
>16
8
17.78
5
11.11

Dari tempat pembelian, supermarket atau swalayan merupakan tempat


favorit bagi responden rumah tangga yang bertempat tinggal dekat dari
supermarket untuk melakukan pembelian buah. Salah satu alasan melakukan
pembelian di supermarket adalah tempatnya bersih, nyaman, gampang dalam
memilih buah dan yang paling utama responden ditawarkan buah dengan variasi
dan jenis yang lebih beragam serta mutunya terjamin. Alasan lain responden dekat
dari supermarket jarang membeli buah ditempat lain (kios buah, pedagang kaki
lima, pedagang keliling) adalah jenis buah yang kurang beragam dan harga buah
yang masih bisa berubah, sehingga karena lemahnya posisi tawar, responden
sering mendapat buah dengan harga lebih mahal.

72

Persentase terbesar responden rumah tangga yang bertempat tinggal dekat


dari supermarket yang biasa membeli buah di supermarket 60,00 persen, kios
buah 28,89 persen, pedagang kaki lima 11,11 persen dan pedagang keliling 0,00
persen. Sedangkan persentase responden rumah tangga yang bertempat tinggal
jauh dari supermarket secara berurutan adalah 28,89 persen biasa membeli buah
disupermarket, di kios buah 51,11 persen, dipedagang kaki lima 20,00 persen dan
dipedagang keliling 0,00 persen.
Berbeda dengan responden yang bertempat tinggal dekat dari supermarket
yang lebih memilih supermarket/swalayan sebagai tempat untuk membeli buah,
responden yang bertempat tinggal jauh dari supermarket lebih memilih kios buah.
Alasan responden jauh dari supermarket membeli buah di kios buah adalah harga
yang diperoleh bisa lebih murah, alasan lain adalah waktu dan biaya transportasi
yang mahal. Sebaran responden rumah tangga menurut tempat pembelian buah
dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Pilihan Tempat Pembelian
Buah
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Tempat Pembelian
RT
%
RT
%
27
60,00
13
28,89
Supermarket/Swalayan
13
28,89
23
51,11
Kios Buah
5
11,11
9
20,00
Pedagang Kaki Lima
Pedagang keliling
0
0,00
0
0,00

Proses pembelian atas suatu barang atau jasa selalu didasarkan pada
alasan, begitu juga dengan pembelian buah. Alasan yang mendasari responden
membeli buah adalah kebutuhan vitamin, karena responden sadar buah merupakan
pangan yang diperlukan tubuh sebagai zat pengatur tubuh dan antioksidan alami.
Alasan responden rumah tangga yang bertempat tinggal dekat supermarket untuk
membeli buah, yaitu kebutuhan vitamin (100,00 persen), mudah didapat 80,00

73

persen, harga terjangkau 73,33 persen, kualitas 40,00 persen, dan alasan selera
dan rasa enak 46,67 persen. Sedangkan alasan responden rumah tangga yang
bertempat tinggal jauh dari supermarket untuk mengkonsumsi buah adalah secara
berurutan kebutuhan vitamin 75,56 persen, mudah didapat 71,11 persen, harga
terjangkau 46,67 persen, sesuai selera 40,00 persen, kualitas dan rasa enak
masing-masing 22,22 persen. Sebaran responden rumah tangga menurut alasan
pembelian buah dapat dilihat pada Tabel 20.
Tabel 20. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Alasan Pembelian Buah.
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Alasan
RT
%
RT
%
33
73.33
21
46.67
Harga Terjangkau
36
80.00
32
71.11
Mudah Di Dapat
45
100.00
34
75.56
Kebutuhan Vitamin
18
40.00
10
22.22
Kualitas
3
6.67
18
40.00
Sesuai Selera
5
11.11
10
22.22
Rasa Enak

Pembelian buah seperti halnya proses pembelian lainnya dalam tata niaga
selalu menghadapi kendala untuk memperoleh harga yang sesuai dengan barang
atau jasa, dengan kata lain apa yang dikorbankan sebagai usaha berkesesuaian
dengan hasil yang diharapkan. Persentase kendala terbesar responden rumah
tangga yang bertempat tinggal dekat dari supermarket dalam memperoleh buah
yang sesuai dengan harapan adalah issu 19 rumah tangga (42,22 persen), dimana
responden mengganggap buah menggunakan pestisida yang berlebihan dalam
proses produksinya. Isu lain yang berkembang di responden adalah bahwa buah di
pasaran merupakan barang sisa ekspor untuk buah nasional dan khusus untuk
buah impor responden menganggap bahwa buah tersebut barang sisa dari luar
negeri. Berhubungan dengan issu barang sisa, persentase responden rumah
tanggga yang bertempat tinggal dekat dari supermarket yang memepertanyakan

74

kualitas buah yang ada dipasaran adalah 37,78 persen,dan persentase responden
yang menganggap harga sebagai kendala adalah 31,11 persen, tetapi pada
umumnya responden tidak mempermasalahkan rasa terbukti dengan rendahnya
persentase kendala rasa, yaitu 17,78 persen atau delapan rumah tangga. Berbeda
dengan kendala responden rumah tangga yang bertempat tinggal dekat dari
supermarket, responden rumah tangga yang bertempat tinggal jauh dari
supermarket menganggap bahwa kualitas merupakan kendala terbesar yaitu 31,11
persen dan kendala harga yaitu 26,67 persen. Sebaran responden rumah tangga
menurut kendala pembelian buah dapat dilihat pada Tabel 21.
Tabel 21. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Kendala Pembelian Buah
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Kendala
RT
%
RT
%
14
31.11
12
26.67
Harga
2
4.44
7
15.56
Tempat Pembelian
17
37.78
14
31.11
Kualitas
8
17.78
5
11.11
Rasa
5
11.11
2
4.44
Jumlah
19
42.22
5
11.11
Issu
3
6.67
8
17.78
Tidak Ada

6.2. Pola Konsumsi Rumah Tangga Menurut Waktu Konsumsi Buah


6.2.1. Pola Konsumsi Buah Rumah Tangga Satu Minggu Terakhir

Kombinasi konsumsi pangan merupakan hal yang penting untuk menjaga


selera makan begitu juga dengan konsumsi buah agar tidak muncul rasa bosan
maka, seiring dengan perubahan waktu maka jenis buah yang dikonsumsi menjadi
beragam. Persentase terbesar jenis buah yang banyak dikonsumsi oleh responden
rumah tangga yang bertempat tinggal dekat dari supermarket satu minggu terakhir
adalah buah jeruk 80,00 persen (36 rumah tangga), dan buah apel 42,22 persen
(19 rumah tangga). Sedangkan persentase terbesar jenis buah yang banyak
dikonsumsi oleh responden rumah tangga yang bertempat tinggal jauh dari

75

supermarket satu minggu terakhir adalah buah jeruk 71,11 persen (32 rumah
tangga), dan buah pepaya 42,22 persen (19 rumah tangga). Sebaran responden
rumah tangga menurut jenis buah yang dikonsumsi satu minggu terakhir dapat
dilihat pada Tabel 22.
Tabel 22. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Jenis Buah yang
Dikonsumsi Satu Minggu Terakhir
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Jenis Buah
RT
%
RT
%
19
42.22
15
33.33
Mangga
36
80.00
32
71.11
Jeruk
24
53.33
7
15.56
Apel
4
8.89
2
4.44
Anggur
7
15.56
2
4.44
Pear
11
24.44
19
42.22
Pepaya
8
17.78
5
11.11
Pisang
1
2.22
2
4.44
Semangka
1
2.22
7
15.56
Melon
4
8.89
1
2.22
Salak
0
0.00
1
2.22
Alpukat
0
0.00
7
15.56
Belimbing
0
0.00
8
17.78
Durian
0
0.00
1
2.22
Jambu

Jumlah buah yang dikonsumsi responden rumah tangga yang bertempat


tinggal dekat dari supermarket dalam waktu satu minggu terakhir diketahui bahwa
28,89 persen (13 rumah tangga) mengkonsumsi buah diatas delapan kilogram, dan
17,78 persen (delapan rumah tangga) responden yang mengkonsumsi buah kurang
dari dua kilogram. Sedangkan jumlah buah yang dikonsumsi responden rumah
tangga yang bertempat tinggal jauh dari supermarket dalam waktu satu minggu
terakhir adalah 28,89 persen (13 rumah tangga) mengkonsumsi buah dibawah dua
kilogram, dan 6,67 persen responden (tiga rumah tangga) yang mengkonsumsi
buah lebih dari delapan kilogram. Sebaran responden rumah tangga menurut
jumlah konsumsi buah satu minggu terakhir dapat dilihat pada Tabel 23.

76

Tabel 23. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Jumlah Konsumsi Buah
Satu Minggu Terakhir
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Konsumsi Buah 1
Minggu Terakhir (Kg)
RT
%
RT
%
<2
8
17.78
13
28.89
2-<4
4
8.89
9
20.00
4-<6
9
20.00
12
26.67
6-<8
11
24.44
8
17.78
>8
13
28.89
3
6.67
Jumlah
45
100.00
45
100.00

6.2.2. Pola Konsumsi Buah Rumah Tangga Satu Bulan Terakhir

Persentase terbesar jenis buah yang banyak dikonsumsi oleh responden


rumah tangga yang bertempat tinggal dekat dari supermarket Satu bulan terakhir
adalah buah jeruk 75,56 persen (34 rumah tangga), dan buah mangga 33,33 persen
(15 rumah tangga). Sama halnya dengan responden rumah tangga yang bertempat
tinggal dekat dari supermarket, persentase terbesar jenis buah yang banyak
dikonsumsi oleh responden rumah tangga yang bertempat tinggal jauh dari
supermarket Satu bulan terakhir adalah buah jeruk 77,78 persen (35 rumah
tangga), dan buah mangga 28,89 persen (13 rumah tangga). Tingginya tingkat
konsumsi untuk buah jeruk dan buah mangga pada kedua responden karena pada
saat itu merupakan musim panen untuk buah tersebut. Banyaknya jumlah buah
jeruk dan mangga yang ditawarkan mengakibatkan harga kedua jenis tersebut
menjadi lebih murah, selain itu buah jeruk dan mangga merupakan buah favorit
responden, hal ini bisa dilihat dari Tabel 22 tentang jenis buah yang dikonsumsi
satu minggu terakhir. Sebaran responden rumah tangga menurut jenis buah yang
dikonsumsi satu bulan terakhir dapat dilihat pada Tabel 24.

77

Tabel 24. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Jenis Buah yang
Dikonsumsi Satu Bulan Terakhir
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Jenis Buah
RT
%
RT
%
15
33.33
13
28.89
Mangga
34
75.56
35
77.78
Jeruk
6
13.33
6
13.33
Pisang
8
17.78
9
20.00
Melon
3
6.67
6
13.33
Semangka
4
8.89
9
20.00
Pepaya
1
2.22
0
0.00
Nenas
2
4.44
0
0.00
Durian
2
4.44
7
15.56
Apel
3
6.67
2
4.44
Salak
11
24.44
2
4.44
Pear
1
2.22
2
4.44
Anggur
2
4.44
1
2.22
Lengkeng
0
0.00
2
4.44
Jambu

Jumlah buah yang dikonsumsi responden rumah tangga yang bertempat


tinggal dekat dari supermarket satu bulan terakhir diketahui bahwa 31,11 persen
(14 rumah tangga) mengkonsumsi buah diatas delapan kilogram, dan 8,89 persen
(empat rumah tangga ) yang jumlah konsumsi buahnya kurang dari dua kilogram.
Sedangkan jumlah buah yang dikonsumsi responden rumah tangga dari jauh dari
supermarket satu bulan terakhir diketahui bahwa 20,00 persen (sembilan rumah
tangga) mengkonsumsi buah diatas delapan kilogram, dan 13,33 persen (enam
rumah tangga ) yang jumlah konsumsi buahnya kurang dari dua kilogram. Secara
umum jumlah buah yang dikonsumsi satu bulan terakhir baik responden rumah
tangga yang bertempat tinggal dekat maupun jauh dari supermarket adalah
berkisar antara dua sampai kurang delapan kilogram. Sebaran responden rumah
tangga menurut jumlah konsumsi buah satu bulan terakhir dapat dilihat pada
Tabel 25.

78

Tabel 25. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Jumlah Konsumsi Buah
Satu Bulan Terakhir
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Konsumsi Buah 1
Bulan Yang Lalu (Kg)
RT
%
RT
%
<2
4
8.89
6
13.33
2-<4
7
15.56
6
13.33
4-<6
8
17.78
11
24.44
6-<8
12
26.67
13
28.89
>8
14
31.11
9
20.00
Jumlah
45
100.00
45
100.00

6.3. Pola Konsumsi Buah Nasional Rumah Tangga

Buah nasional yang lebih dikenal dengan istilah buah lokal merupakan
julukan bagi buah yang berasal dari dalam negeri. Jenis buah nasional sangat
beragam dan sangat banyak jumlahnya, hampir disetiap daerah di Indonesia
memiliki jenis buah-buahan yang sama. Perbedaan letak dan bahasa suatu daerah
kadang-kadang untuk jenis buah tertentu memiliki nama daerah tersendiri, pada
setiap daerah itu juga pasti terdapat suatu jenis buah yang khas, misalnya di Kota
Bekasi ada buah yang bernama gowok.
Banyaknya pilihan buah nasional dipasaran sehingga setiap responden
mempunyai peluang untuk mengkonsumsi berbagai macam jenis buah. Persentase
terbesar konsumsi buah responden rumah tangga yang bertempat tinggal dekat
dari supermarket adalah buah mangga 86,89 persen (39 rumah tangga), buah
pisang 60,00 persen (27 rumah tangga), buah pepaya 33,33 persen (15 rumah
tangga) dan buah jeruk 28,89 persen (13 rumah tangga). Sedangkan Persentase
terbesar konsumsi buah responden rumah tangga yang bertempat tinggal jauh dari
supermarket adalah buah jeruk 77,79 persen (35 rumah tangga), buah apel 44,44
persen (20 rumah tangga), buah pepaya 37,78 persen (17 rumah tangga) dan buah
mangga 31,11 persen (14 rumah tangga). Alasan tingginya konsumsi terhadap
jenis buah tertentu adalah karena gampang dalam memperoleh dan jumlahnya

79

banyak, dan khusus jeruk, jenis buah ini sangat melekat dalam pikiran responden.
Sedangkan alasan tingginya konsumsi buah mangga, adalah harga mangga yang
murah karena sedang musim panen, apalagi Kota Bekasi dekat dengan Indramayu,
dan di Kota Bekasi sendiri tanaman mangga sangat baik (Tabel 6). Tentang luas
panen, hasil per hektar dan produksi buah-buahan di Kota Bekasi tahun 2004.
Sebaran responden rumah tangga menurut jenis konsumsi buah nasional dapat
dilihat pada Tabel 26.
Tabel 26. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Jenis Konsumsi Buah
Nasional
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Jenis
RT
%
RT
%
13
28.89
35
77.78
Jeruk
39
86.67
14
31.11
Mangga
6
13.33
2
4.44
Manggis
27
60.00
12
26.67
Pisang
3
6.67
20
44.44
Apel
15
33.33
17
37.78
Pepaya
1
2.22
0
0.00
Rambutan
1
2.22
6
13.33
Durian
1
2.22
0
0.00
Belimbing
1
2.22
0
0.00
Kesemek
5
11.11
2
4.44
Jambu
12
26.67
3
6.67
Salak
2
4.44
0
0.00
Nangka
3
6.67
6
13.33
Anggur
1
2.22
0
0.00
Duku
0
0.00
3
6.67
Nenas
0
0.00
8
17.78
Melon
0
0.00
2
4.44
Semangka

Jumlah konsumsi responden rumah tangga terhadap buah nasional per bulan
pada umumnya diatas lima kilogram sebanyak 80,00 persen (36 rumah tangga)
yaitu persentase responden yang jumlah konsumsi buah per bulannya antara lima
sampai dengan sepuluh kilogram 20,00 persen (sembilan rumah tangga ), antara
sepuluh sampai dengan 15 kilogram 31,11 persen (14 persen), dan responden yang
mengkonsumsi buah diatas lima belas kilogram adalah 28,89 persen (13 rumah

80

tangga).

Sedangkan

sebanyak

sembilan

rumah

tangga

(20,00

persen)

mengkonsumsi buah nasional kurang dari lima kilogram per bulan. Sedangkan
jumlah konsumsi responden rumah tangga yang bertempat tinggal jauh dari
supermarket terhadap buah nasional per bulan sebanyak 44,44 persen (20 rumah
tangga) adalah kurang dari lima kilogram, sedangkan persentase responden yang
jumlah konsumsi buah per bulannya antara lima sampai dengan sepuluh kilogram
20,00 persen (sembilan rumah tangga), antara sepuluh sampai dengan lima belas
kilogram 17,78 persen (delapan rumah tangga), begitu juga responden yang
mengkonsumsi buah diatas lima belas kilogram adalah 17,78 persen (delapan
rumah tangga). Sebaran responden rumah tangga menurut jumlah buah nasional
yang dikonsumsi per bulan dapat dilihat pada Tabel 27.
Tabel 27. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Jumlah Buah Nasional yang
Dikonsumsi Per Bulan
Konsumsi Buah
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Nasional Per Bulan
RT
%
RT
%
(Kg)
<5
9
20.00
20
44.44
5-<10
9
20.00
9
20.00
10-<15
14
31.11
8
17.78
>15
13
28.89
8
17.78
Jumlah
45
100.00
45
100.00

Persentase terbesar frekuensi pembelian buah nasional pada responden


rumah tangga yang bertempat tinggal dekat dari supermarket adalah berkisar
antara empat sampai dengan enam kali per bulan, yaitu 40,00 persen (18 rumah
tangga), sedangkan 17,78 persen responden membeli buah nasional adalah enam
sampai delapan kali dan sepuluh sampai dua belas kali. Tetapi terdapat 20,00
persen responden yang membeli buah nasional mencapai empat belas sampai
enam belas kali per bulan, dengan kata lain responden membeli buah nasional dua
kali sehari. Sedangkan frekuensi pembelian buah nasional pada responden rumah

81

tangga yang bertempat tinggal jauh dari supermarket adalah berkisar antara empat
sampai dengan enam kali per bulan, yaitu 33,33 persen (15 rumah tangga),
sedangkan 28,89 persen responden membeli buah nasional adalah enam sampai
delapan kali dan sepuluh sampai dua belas kali. Tetapi ada 31,11 persen
responden yang membeli buah nasional kurang dari dua kali kali per bulan.
Sebaran responden rumah tangga menurut frekuensi pembelian buah nasional per
bulan dapat dilihat pada Tabel 28.
Tabel 28. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Frekuensi Pembelian Buah
Nasional Per Bulan
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Frekuensi
RT
%
RT
%
<2
2
4.44
14
31.11
2-<4
0
0.00
0
0.00
4-<6
18
40.00
15
33.33
6-<8
8
17.78
6
13.33
8-<10
0
0.00
0
0.00
10-<12
8
17.78
7
15.56
12-<14
0
0.00
0
0.00
14-<16
9
20.00
2
4.44
>16
0
0.00
1
2.22
Jumlah
45
100.00
45
100.00

Dari lokasi pembelian dapat dilihat bahwa supermarket atau swalayan


menjadi tempat favorit bagi responden rumah tangga yang bertempat tinggal dekat
dari supermarket untuk melakukan pembelian buah. Salah satu alasan melakukan
pembelian di supermarket adalah tempatnya bersih, nyaman, gampang dalam
memilih buah dan yang paling utama responden percaya bahwa barang di
supermarket kualitasnya terjamin.
Pada Tabel 29 diketahui persentase terbesar responden (84,44 persen) atau
38 rumah tangga biasa membeli buah nasional di supermarket, dan 82,22 persen
responden memilih kios buah untuk membeli buah nasional. Sedangkan
responden yang biasa membeli buah di pedagang kaki lilma dan pedagang keliling

82

adalah 31,11 persen dan 40 persen. Dari persentase kebiasaan memilih tempat
pembelian buah hanya tujuh rumah tangga atau 15,56 persen responden yang
tidak pernah membeli buah di supermarket untuk buah nasional. Sedangkan
persentase terbesar responden rumah tangga jauh dari supermarket adalah
51,11persen (38 rumah tangga) biasa membeli buah nasional di supermarket dan
33,33 persen responden memilih kios buah untuk membeli buah nasional.
Sedangkan responden yang biasa membeli buah di pedagang kaki lilma dan
pedagang keliling adalah 17,78 persen dan 37,78 persen. Dari persentase
kebiasaan memilih tempat pembelian buah pada responden rumah tangga yang
bertempat tinggal dekat dari supermarket diketahui ada tujuh rumah tangga atau
15,56 persen yang tidak pernah membeli buah nasional di supermarket dan 22
rumah tangga atau 48,89 persen pada responden rumah tangga yang bertempat
tinggal jauh dari supermarket.
Tabel 29. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Tempat Pembelian Buah
Nasional
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Tempat Pembelian
RT
%
RT
%
Supermarket/Swalayan
38
84.44
23
51.11
Kios Buah
37
82.22
15
33.33
Pedagang Kaki Lima
14
31.11
8
17.78
Pedagang Keliling
18
40.00
17
37.78

6.4. Pola Konsumsi Buah Impor Rumah Tangga

Buah impor merupakan istilah untuk jenis-jenis buah yang berasal dari
luar negeri yang didatangkan kedalam negeri melalui prosedur perdagangan yang
disebut impor. Buah impor pada umumnya merupakan jenis buah yang tidak
terdapat atau jarang jumlahnya didalam negeri sehingga untuk memenuhi
kebutuhan akan jenis buah tersebut dilakukan impor misalnya untuk buah kiwi
diimpor dari Australia dan Selandia baru. Jenis-jenis buah lain yang banyak

83

diimpor adalah apel washington, pear, anggur hijau, jeruk mandarin dan banyak
lagi.
Banyaknya pilihan buah impor dipasaran sehingga setiap responden
mempunyai peluang untuk mengkonsumsi berbagai macam jenis buah impor
tersebut. Persentase terbesar konsumsi buah impor responden rumah tangga yang
bertempat tinggal dekat dari supermarket adalah buah apel 88,89 persen (40
rumah tangga), buah pear 64,44 persen (29 rumah tangga), buah anggur 57,78
persen (26 rumah tangga) dan buah jeruk 77,78 persen (35 rumah tangga).
Sedangkan persentase terbesar konsumsi buah impor responden rumah tangga
yang bertempat tinggal jauh dari supermarket adalah buah apel 84,44 persen (38
rumah tangga), buah jeruk 64,44 persen (29 rumah tangga), buah anggur 51,11
persen (23 rumah tangga), buah pear 53,33 persen (24 rumah tangga) dan buah
kiwi 28,89 persen (13 rumah tangga). Sebaran responden rumah tangga menurut
jenis konsumsi buah impor dapat dilihat pada Tabel 30.
Tabel 30. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut
Impor
Dekat Supermarket
Jenis
RT
%
40
88.89
Apel
29
64.44
Pear
26
57.78
Anggur
6
13.33
Durian
6
13.33
Kiwi
35
77.78
Jeruk
3
6.67
Pisang
0
0.00
Strawbery
0
0.00
Chery
0
0.00
Lecci

Jenis Konsumsi Buah


Jauh Supermarket
RT
%
38
84.44
24
53.33
23
51.11
5
11.11
13
28.89
29
64.44
3
6.67
2
4.44
1
2.22
1
2.22

Jumlah konsumsi responden rumah tangga yang bertempat tinggal dekat dari
supermarket terhadap buah impor per bulan sebanyak 37,78 persen (17 rumah
tangga) adalah kurang dari lima kilogram, dan persentase responden yang jumlah

84

konsumsi buah per bulannya antara lima sampai dengan sepuluh kilogram 42,22
persen (19 rumah tangga ), antara sepuluh sampai dengan 15 kilogram 17,78
persen (delapan rumah tangga), begitu juga responden yang mengkonsumsi buah
diatas lima belas kilogram adalah 2,22 persen (satu rumah tangga). Sedangkan
jumlah konsumsi responden rumah tangga yang bertempat tinggal jauh dari
supermarket terhadap buah impor per bulan sebanyak 46,67 persen (21 rumah
tangga) adalah kurang dari lima kilogram dan persentase responden yang jumlah
konsumsi buah per bulannya antara lima sampai dengan sepuluh kilogram 40,00
persen (18 rumah tangga ), antara sepuluh sampai dengan lima belas kilogram
11,11 persen (lima rumah tangga), begitu juga responden yang mengkonsumsi
buah diatas lima belas kilogram adalah 2,22 persen (satu rumah tangga). Sebaran
responden rumah tangga menurut jumlah buah nasional yang dikonsumsi per
bulan dapat dilihat pada Tabel 31.
Tabel 31. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Jumlah Konsumsi Buah
Impor Per Bulan
Konsumsi Buah Impor
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Per Bulan (Kg)
RT
%
RT
%
<5
17
37.78
21
46.67
5-<10
19
42.22
18
40.00
10-<15
8
17.78
5
11.11
>15
1
2.22
1
2.22
Jumlah
45
100.00
45
100.00

Frekuensi pembelian buah impor pada responden rumah tangga yang


bertempat tinggal dekat dari supermarket adalah berkisar antara enam sampai
dengan delapan kali per bulan, yaitu 33,33 persen (15 rumah tangga) dan 26,67
persen (12 rumah tangga) responden membeli buah impor adalah empat sampai
enam kali per bulan. Tetapi terdapat 22,22 persen (sepuluh rumah tangga)
responden rumah tangga yang bertempat tinggal dekat dari supermarket yang

85

memiliki frekuensi pembelian diatas empat belas kali per bulan, dengan kata lain
melakukan pembelian buah impor dua hari sekali. Sedangkan frekuensi pembelian
buah impor pada responden rumah tangga yang bertempat tinggal jauh dari
supermarket adalah berkisar antara enam sampai dengan delapan kali per bulan,
yaitu 42,22 persen (19 rumah tangga) dan 26,67 persen (26,67) responden
membeli buah impor adalah empat sampai enam kali per bulan. Sebaran
responden rumah tangga menurut frekuensi pembelian buah impor per bulan dapat
dilihat pada Tabel 32.
Tabel 32. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Frekuensi Pembelian Buah
Impor Per Bulan
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Frekuensi
RT
%
RT
%
<2
2
4.44
7
15.56
2-<4
0
0
3
6.67
4-<6
12
26.67
12
26.67
6-<8
15
33.33
19
42.22
8-<10
0
0
1
2.22
10-<12
6
13.33
2
4.44
12-<14
0
0
1
2.22
14-<16
8
17.78
0
0.00
<16
2
4.44
0
0.00
Jumlah
45
100.00
45
100.00

Kenyamanan dan kemudahan masih merupakan alasan konsumen memilih


supermarket sebagi tempat membeli buah, apalagi buah impor banyak ditemukan
di supermarket. Persentase responden rumah tangga yang bertempat tinggal dekat
dari supermarket yang memilih supermarket sebagai tempat membeli buah impor
adalah 93,33 persen (42 rumah tangga), berarti hanya tiga rumah tangga yang
tidak pernah membeli buah impor disupermarket dan persentase responden yang
memilih kios buah, pedagang kaki lima, dan pedagang keliling secara berurutan
adalah 77,78 persen, 26,67 persen, dan 6,67 persen. Sedangkan persentase
responden rumah tangga yang bertempat tinggal jauh dari supermarket yang

86

memilih supermarket sebagai tempat membeli buah impor adalah 80,00 persen
(36 rumah tangga), dan persentase responden yang memilih kios buah, pedagang
kaki lima, dan pedagang keliling secara berurutan adalah 31,11 persen, 24,44
persen dan 35,36 persen. Sebaran responden rumah tangga menurut tempat
pembelian buah impor dapat dilihat pada Tabel 33.
Tabel 33. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Tempat Pembelian Buah
Impor
Dekat Supermarket
Jauh Supermarket
Tempat Pembelian
RT
%
RT
%
Supermarket/Swalayan
42
93.33
36
80.00
Kios Buah
35
77.78
14
31.11
Pedagang Kaki Lima
12
26.67
11
24.44
Pedagang Keliling
3
6.67
16
35.56

6.5 Reaksi Terhadap Ketersediaan Buah Nasional dan Harapan Responden


Terhadap Buah Nasional

Reaksi responden terhadap ketersediaan buah nasional pada proses


pembelian, merupakan gambaran dari sikap terhadap tingkat kepentingan dan
kegunaan dari buah tersebut. Persentase terbesar responden rumah tangga yang
bertempat tinggal dekat dari supermarket terhadap ketersediaan buah nasional
pada proses pembelian adalah 46,67 persen (21 rumah tangga) tetap mencari buah
nasional jenis sama, 28,89 persen (13 rumah tangga) beralih pada buah nasional
jenis lain, 13,33 persen (enam rumah tangga) pindah ke buah impor. Sedangkan
responden rumah tangga yang bertempat tinggal jauh dari supermarket yang tetap
mencari buah nasional jenis sama adalah 40,00 persen (18 rumah tangga), beralih
pada buah nasional jenis lain 35,56 persen (16 rumah tangga) dan 8,89 persen
(empat rumah tangga) beralih ke buah impor.

87

Berdasarkan persentasenya responden yang bertempat tinggal baik dekat


maupun jauh dari supermarket untuk tetap memilih buah nasional pada saat
jumlahnya terbatas atau ketersediaannya dipasaran berkurang mengindikasikan
bahwa buah nasional masih merupakan pilihan utama bagi responden. Sebaran
responden rumah tangga menurut reaksi terhadap ketersediaan buah nasional pada
proses pembelian dapat dilihat pada Tabel 34.
Tabel 34. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Reaksi Terhadap
Ketersediaan Buah Nasional Pada Proses Pembelian
Dekat supermarket
Jauh supermarket
Reaksi Responden
RT
%
RT
%
21
46.67
18
40.00
Tetap Mencari
13
28.89
16
35.56
Membeli Buah Nasional Lain
6
13.33
4
8.89
Pindah Ke Buah Impor
1
2.22
5
11.11
Tidak Membeli
4
8.89
2
4.44
Tidak Tahu
45
100.00
45
100.00
Jumlah

Tingginya tingkat perhatian responden terhadap pangan yang dikonsumsi


mengakibatkan responden lebih selektif dalam menentukan pangan yang akan
dipilih, begitu juga dengan buah. Responden memiliki pandangan tersendiri
terhadap buah nasional yang ada dipasaran. Pandangan-pandangan responden
terhadap buah nasional melahirkan harapan-harapan yang menginginkan bahwa
buah nasional bisa bersaing dengan buah impor baik itu secara kualitas, kuantitas,
harga, rasa, kandungan insektisida, dan kemasan.

88

Persentase harapan terbesar responden rumah tangga yang bertempat tinggal


dekat maupun jauh dari supermarket adalah perbaikan kualitas, harga dan
kuantitas buah nasional. Sebaran responden rumah tangga menurut harapan
terhadap buah nasional dapat dilihat pada Tabel 35.
Tabel 35. Sebaran Responden Rumah Tangga Menurut Harapan Terhadap Buah
Nasional
Dekat Super Market
Jauh Supermarket
Harapan
RT
%
RT
%
41
91.11
44
97.78
Kualitas
43
95.56
40
88.89
Harga
17
37.78
38
84.44
Kuantitas
12
26.67
27
60.00
Rasa
6
13.33
3
6.67
Jumlah Insektisida
19
42.22
2
4.44
Kemasan

89

BAB VII
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI POLA KONSUMSI BUAH
DI KOTA BEKASI

7.1. Analisis Regresi Logistik

Berdasarkan penelitian terhadap delapan faktor (peubah respon) yang


diduga mempengaruhi pola konsumsi buah di Kota Bekasi , yaitu jarak tempat
tinggal dari supermarket, frekuensi pembelian buah, jumlah konsumsi, tempat
pembelian, kapasitas daya listrik, tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga
dan umur responden. Sedangkan respon (Y) dalam penelitian ini adalah
mengkonsumsi buah impor (0) dan mengkonsumsi buah nasional (1). Persamaan
regresi logistik adalah sebagai berikut ; Y = 3,425 + -0.2024 (frekuensi pembelian
buah) + 0.05596 (jumlah konsumsi buah) + -0.8407 (tempat pembelian buah) +
0.000498 (kapasitas daya listrik) + -0.0159 (tingkat pendidikan) + -0.1257
(anggota keluarga) + -0.01298 (umur) + 0,1876 D(jarak) + . Hasil analisis regresi
logistik pada faktor-faktor yang mempengaruhi pola konsumsi buah di Kota
Bekasi dapat dilihat pada Tabel 36.
Tabel 36. Hasil Analisis Logistik Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pola
Konsumsi
Predictor
Constant
Jarak
Frekuensi
Jumlah
Tempat
Listrik
Pendidikan
Aggota
Umur

Coef
3,425
0,1876
-0,2024
0,05596
-0,8407
0,000498
-0,0159
-0,1257
-0,01298

SE Coef
1,799
0,5383
0,1007
0,04845
0,4233
0,001114
0,4119
0,1950
0,02818

Z
1,90
0,35
-2,01
1,16
-1,99
0,45
-0,04
-0,64
-0,46

P
0,050
0,727
0,045
0,248
0,047
0,655
0,969
0,519
0,645

Odds
Ratio
1,21
0,82
1,06
0,43
1,00
0,98
0,88
0,99

95% CI
Lower
Upper
0,42
3,46
0,67
1,00
0,96
1,16
0,19
0,99
1,00
1,00
0,44
2,21
0,60
1,29
0,93
1,04

90

Alasan perhitungan terhadap model logistik dianggap layak karena nilai Pvalue yang diperoleh adalah lebih kecil dari nilai alpha ( = lima persen) yaitu
sebesar 0.031. Pengujian kebaikan model (Goodness-of-fit Tests) dilakukan
dengan melihat nilai Chi-square dan P-value dari metode Pearson, Deviance dan
Hosmer-Lemeshow. Nilai Chi-square Pearson adalah 93.017 dengan P-value
sebesar 0.170, nilai Chi-square Deviance adalah 95.372 dengan P-value 0.087 dan
nilai Chi-square Hosmer-Lemeshow adalah 11.170 dengan P-value 0.192
(Lampiran 2). Berdasarkan nilai P-value dari metode Pearson, Deviance dan
Hosmer-Lemeshow, model tersebut baik dalam mengepas data karena lebih besar
dari alpha () lima persen (Firdaus dan Farid, 2005).
Berdasarkan hasil analisis logistik dengan nilai alpha () lima persen
diketahui bahwa faktor yang secara nyata mempengaruhi pola konsumsi buah di
Kota Bekasi adalah faktor frekuensi pembelian dan tempat pembelian buah.
Alasan faktor frekuensi dan tempat mempengaruhi pembelian buah adalah
berdasarkan nilai P-value yang lebih kecil dari alpha () lima persen, dimana nilai
P-value frekuensi pembelian buah adalah 0.045 dan nilai P-value tempat
pembelian buah adalah 0.047. Koefisien dari kedua faktor yang mempengaruhi
pola konsumsi buah di Kota Bekasi adalah -0.2024 (frekuensi pembelian buah) + 0.8407 (tempat pembelian buah).
Implikasi hasil analisis logistik pada setiap faktor berbeda-berbeda sesuai
dengan nilai odds ratio yang didapat dari model. Oods ratio yang muncul dari
analisis logistik menggambarkan rasio peluang kejadian sukses dari setiap peubah
respon. Nilai koefisien digunakan untuk melihat hubungan antara peubah respon

91

(X) dengan respon (Y), dimana koefisien bernilai negatif menunjukan bahwa
apabila peubah respon (X) naik maka respon (Y) akan turun.
Frekuensi pembelian buah merupakan faktor yang berpengaruh nyata
terhadap pola konsumsi buah di Kota Bekasi, karena berdasarkan nilai P-value
0.045 lebih kecil dari nilai alpha () lima persen. Berdasarkan nilai odds ratio
0.82 menunjukan bahwa konsumen berpeluang 0.82 kali untuk membeli buah
impor dibandingkan buah nasional. Hasil analisis regresi logistik nilai koefisien 0.2024 menunjukan bahwa semakin tinggi frekuensi pembelian buah maka
peluang konsumen untuk mengkonsumsi buah impor lebih besar dibandingkan
dengan buah nasional.
Berdasarkan nilai odds ratio dan koefisien menunjukan kesesuaian dengan
hipotesis yang menyatakan semakin tinggi frekuensi pembelian buah maka
konsumen akan mencari buah dengan kualitas yang baik, sehingga peluang
konsumen untuk mengkonsumsi buah impor menjadi lebih besar dibandingkan
buah nasional. Berdasarkan kualitas buah dan tempat pembelian buah di Kota
Bekasi, konsumen lebih memilih supermarket karena jenis dan variasi buah yang
ditawarkan lebih beragam, sedangkan disupermarkert buah yang paling banyak
ditawarkan adalah buah impor. Jadi semakin tinggi frekuensi pembelian buah di
supermarket maka peluang mengkonsumsi buah impor menjadi lebih besar
dibandingkan buah nasional.
Tempat pembelian buah merupakan faktor yang pengaruh nyata terhadap
pola konsumsi buah di Kota Bekasi, karena berdasarkan nilai P-value 0.047 lebih
kecil dari alpha () lima persen. Berdasarkan nilai odds ratio 0.43 menunjukan
bahwa konsumen berpeluang 0.43 kali untuk membeli buah impor dibandingkan

92

buah nasional. Hasil analisis regresi logistik nilai koefisien -0.8407 menunjukan
bahwa konsumen yang membeli buah disupermarket maka peluang konsumen
untuk mengkonsumsi buah impor lebih besar dibandingkan dengan buah nasional.
Berdasarkan nilai odds ratio dan koefisien menunjukan kesesuaian dengan
hipotesis atau menerima hipotesis yang menyatakan bahwa tempat penjualan buah
menawarkan variasi dan jenis buah yang berbeda-beda, dimana supermaket akan
menawarkan buah yang beragam dan buah impor merupakan buah yang banyak
ditawarkan, sehingga peluang konsumen untuk mengkonsumsi buah impor
menjadi lebih besar dibandingkan buah nasional. Sedangkan variasi dan jenis
buah yang ditawarkan pada kios buah dan pedagang kaki lima paling banyak
adalah buah nasional, sehingga peluang untuk mengkonsumsi buah nasional
menjadi lebih besar.
Jarak tempat tinggal konsumen dari supermarket tidak termasuk faktor
yang berpangaruh nyata terhadap pola konsumsi buah di Kota Bekasi, karena nilai
P-value 0.727 lebih besar dari alpha () lima persen. Tetapi, berdasarkan nilai
odds ratio 1.21 pada faktor jarak antara responden dengan supermarket, berarti
konsumen memiliki peluang 1.21 kali untuk memilih buah nasional dibandingkan
buah impor. Hasil analisis regresi logistik nilai koefisien 0.1876 menunjukan
bahwa semakin jauh jarak tempat tinggal konsumen dari supermarket peluang
konsumen untuk mengkonsumsi buah nasional lebih besar dibandingkan dengan
buah impor.
Berdasarkan nilai odds ratio dan koefisien menunjukan kesesuaian dengan
hipotesis atau menerima hipotesis yang menyatakan peluang konsumen yang
tinggal dekat dari supermarket untuk mengkonsumsi buah impor menjadi lebih

93

besar dibandingkan buah nasional. Sedangkan konsumen yang tinggal jauh dari
supermarket

peluang

untuk

mengkonsumsi

buah

nasional

lebih

besar

dibandingkan buah impor. Jarak tempat tinggal konsumen dari supermarket


mempengaruhi pola konsumsi buah karena berdasarkan variasi buah yang
ditawarkan supermarket sangat beragam dan buah impor merupakan buah yang
banyak ditawarkan.
Jumlah pembelian buah tidak termasuk faktor yang berpengaruh nyata
terhadap pola konsumsi buah di kota bekasi karena nilai P-value 0.248 lebih besar
dari alpha () lima persen. Tetapi berdasarkan nilai odds ratio 1.06 pada faktor
jumlah pembelian buah, berarti konsumen memiliki peluang 1.06 kali untuk
memilih buah nasional dibandingkan buah impor. Hasil analisis regresi logistik
nilai koefisien 0.05596 menunjukan bahwa semakin besar jumlah buah yang
dikonsumsi maka peluang konsumen untuk mengkonsumsi buah nasional lebih
besar dibandingkan dengan buah impor.
Berdasarkan nilai odds ratio dan koefisien menunjukan kesesuaian dengan
hipotesis atau menerima hipotesis yang menyatakan bahwa jumlah konsumsi
mempengaruhi pola konsumsi buah, karena semakin besar jumlah buah yang
dikonsumsi akan mengakibatkan konsumen mencari buah dengan harga murah
dan peluang untuk mengkonsumsi buah nasional menjadi lebih lebih besar
dibandingkan buah impor.
Kapasitas daya listrik terpasang pada rumah konsumen buah rumah tangga
tidak termasuk faktor yang berpengaruh nyata terhadap pola konsumsi buah di
Kota Bekasi karena nilai P -value 0.655 lebih besar dari alpha () lima persen.
Tetapi berdasarkan nilai odds ratio 1.00 pada Kapasitas daya listrik terpasang,

94

berarti konsumen memiliki peluang 1.00 kali untuk memilih buah nasional
dibandingkan buah impor. Hasil analisis regresi logistik nilai koefisien 0.000498
menunjukan bahwa semakin besar kapasitas daya listrik terpasang maka peluang
konsumen untuk mengkonsumsi buah nasional lebih besar dibandingkan dengan
buah impor.
Berdasarkan nilai odds ratio dan koefisien tidak menunjukan kesesuaian
dengan hipotesis atau tolak hipotesis yang menyatakan bahwa semakin besar
proporsi pengeluaran untuk listrik akan meningkatkan jumlah konsumsi buah
impor karena pendapatan konsumen dengan kapasitas daya listrik besar memiliki
tingkat pendapatan yang besar pula. Padahal tidak semua konsumen dengan daya
listrik besar memiliki pendapatan yang besar pula. Sehingga peluang konsumen
dengan proporsi pengeluaran listrik yang besar untuk mengkonsumsi buah
nasional akan lebih besar pula dibandingkan buah impor.
Tingkat pendidikan tidak termasuk faktor yang berpengaruh nyata
terhadap pola konsumsi buah di Kota Bekasi karena nilai P -value 0.968 lebih
besar dari alpha () lima persen. Tetapi berdasarkan nilai odds ratio 0.98 pada
tingkat pendidikan keluarga, berarti konsumen memiliki peluang 0.98 kali untuk
memilih buah impor dibandingkan buah nasional. Hasil analisis regresi logistik
nilai koefisien -0.0159 menunjukan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan
konsumen maka peluang konsumen untuk mengkonsumsi buah impor lebih besar
dibandingkan dengan buah nasional.
Berdasarkan nilai odds ratio dan koefisien menunjukan kesesuaian dengan
hipotesis atau menerima hipotesis yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat
pendidikan konsumen maka kesadaran untuk mengkonsumsi buah menjadi besar.

95

Peluang konsumen dengan tingkat pendidikan tinggi untuk mengkonsumsi buah


dengan kualitas baik akan lebih besar sehingga memilih buah impor. Sedangkan
konsumen dengan tingkat pendidikan rendah buah yang dikonsumsi didasarkan
pada harga dan berpeluang untuk mengkonsumsi buah nasional.
Jumlah anggota keluarga tidak termasuk faktor yang berpengaruhi nyata
terhadap pola konsumsi buah rumah tangga di Kota Bekasi karena berdasarkan Pvalue 0.519 lebih besar dari alpha () lima persen. Tetapi berdasarkan nilai odds
ratio 0.88 pada jumlah anggota keluarga, berarti konsumen memiliki peluang 0.88
untuk memilih buah impor. Hasil analisis regresi logistik nilai koefisien -0.1257
menunjukan bahwa semakin banyak jumlah anggota keluarga maka peluang
konsumen untuk mengkonsumsi buah impor lebih besar dibandingkan dengan
buah nasional.
Berdasarkan nilai odds ratio dan koefisien tidak menunjukan kesesuaian
dengan hipotesis atau menolak hipotesis yang menyatakan bahwa semakin besar
jumlah anggota keluarga maka jumlah konsumsi buah akan meningkat pula.
Keluarga dengan jumlah anggota besar akan membeli buah dengan jumlah banyak
dengan harga yang murah sehingga berpeluang untuk mengkonsumsi buah
nasional. Sedangkan keluarga dengan anggota yang kecil berpeluang untuk
mengkonsumsi buah impor. Salah satu penyebab perbedaan hipotesis dengan hasil
penelitian adalah jumlah keluarga yang besar tidak langsung merubah konsumen
untuk mengklonsumsi buah dengan harga yang lebih murah, tetapi semakin
banyak anggota keluarga keputusan pembelian buah menjadi lebih sulit karena
dari setiap orang dalam keluarga mempunyai selera yang berbeda-beda. Selain

96

selera anggota keluarga, proporsi pengeluaran khusus pangan juga merupakan


salah satu pertimbangan dalam keputusan pembelian.
Umur responden tidak termasuk faktor yang berpengaruhi nyata terhadap
pola konsumsi buah rumah tangga di Kota Bekasi karena berdasarkan P-value
0.0.645 lebih besar dari alpha () lima persen. Tetapi berdasarkan nilai odds ratio
0.99 pada umur responden, berarti konsumen memiliki peluang 0.99 untuk
memilih buah impor. Hasil analisis regresi logistik nilai koefisien -0.01298
menunjukan bahwa semakin tua umur konsumen maka peluang untuk
mengkonsumsi buah impor lebih besar dibandingkan dengan buah nasional.
Berdasarkan nilai odds ratio dan koefisien tidak menunjukan kesesuaian
dengan hipotesis atau menolak hipotesis yang menyatakan bahwa semakin tua
umur konsumen maka kesadaran untuk mengkonsumsi buah menjadi besar.
Konsumen dengan umur yang lebih matang akan mencari buah dengan harga
murah sehingga berpeluang mengkonsumsi buah nasional. Sedangkan konsumen
dengan usia muda berpeluang mengkonsumsi buah impor karena gengsi. Salah
satu penyebab perbedaan hipotesis dengan hasil penelitian adalah umur yang lebih
tua tidak langsung merubah konsumen untuk mengkonsumsi buah nasional, tetapi
dengan banyaknya buah impor yang ditawarkan pada setiap tempat penjualan
buah maka kemungkinan untuk mengkonsumsi buah impor menjadi lebih besar
dibandingkan buah nasional.
7.2. Analisis Diskriminan

Berdasarkan hasil analisis diskriminan (Lampiran 3.) diketahui bahwa


responden yang dianalisis adalah sah (valid) untuk diproses karena tidak
ditemukan data yang hilang (missing). Responden dibagi menjadi dua grup yaitu

97

konsumen yang mengkonsumsi buah impor dan grup konsumen yang


mengkonsumsi buah nasional. Jika dibandingkan, nilai rata-rata (means) grup
yang mengkonsumsi buah impor dan grup yang mengkonsumsi buah nasional di
ketahui bahwa konsumen memiliki pandangan yang positif/lebih baik terhadap
buah impor bila diukur dari faktor/variabel frekuensi pembelian buah, jumlah
pembelian buah, tempat pembelian buah, kapasitas daya listrik, tingkat
pendidikan, dan jumlah anggota keluarga. Hal ini didasarkan pada nilai koefisien
yang lebih besar dari setiap faktor hasil group statistics.
Hasil test of quality of group means dengan menggunakan F test diketahui
bahwa faktor frekuensi pembelian buah dan tempat pembelian buah secara nyata
memiliki perbedaan antar grup dengan kata lain pola konsumsi buah konsumen
sangat berhubungan dengan asal buah apakah itu buah impor atau buah nasional.
Dimana nilai F test frekuensi pembelian buah lebih kecil dari alpha lima persen
yaitu 0.04 dan nilai F test tempat pembelian buah adalah 0.01. Tetapi berdasarkan
angka Wilks lamda diketahui bahwa hanya tempat pembelian buah yang memiliki
perbedaan antar grup karena nilainya mendekati nol yaitu 0.890. sedangkan angka
Wilks lamda frekuensi pembelian buah cenderung mendekati satu yaitu 0.911
yang berarti tidak ada perbedaan antar grup dengan kata lain berdasarkan nilai
angka Wilk,s lamda pola konsumsi buah buah konsumen tidak berhubungan
dengan asal buah.
Hasil F test dan Wilks lamda pada test of quality of group means
menunjukan perbedaan. Maka untuk menentukan faktor yang memiliki perbedaan
antar grup adalah dengan melakukan stepwise statistics. Berdasarkan hasil
stepwise statistics diketahui variables entered dan variables in the analysis

98

menunjukan bahwa hanya faktor/variabel tempat pembelian buah yang memiliki


perbedaan antar grup. Dimana nilai Min D. Square tempat pembelian buah adalah
0.508 dan Exact F statistics 10.866 dan F test 0.01.
Tempat pembelian merupakan variabel/faktor yang memiliki hubungan
dengan asal buah yang dikonsumsi oleh konsumen di Kota Bekasi. Dimana
konsumen yang membeli buah di supermarket akan mengkonsumsi buah impor,
hal ini disebabkan buah yang ditawarkan oleh supermarket sebagian besar
merupakan buah impor dengan berbagai jenis dan bentuk fisik buah yang
menarik. Sedangkan konsumen yang membeli buah di kios buah dan pedagang
kaki lima akan mengkonsumsi buah nasional karena banyaknya buah nasional
yang ditawarkan.

99

BAB VIII
KESIMPULAN DAN SARAN

8.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dalam penelitian maka dapat


disimpulkan bahwa :
1. Secara umum rata-rata umur responden adalah 40,57 tahun, terdiri dari
laki-laki dan perempuan yang sudah berkeluarga dengan latar belakang
pendidikan responden beragam mulai dari lulusan Sekolah Dasar sampai
dengan Pasca Sarjana. Secara keseluruhan responden biasa mengkonsumsi
buah, baik buah nasional maupun buah impor. Jenis buah yang dikonsumsi
sangat beragam. Responden biasanya membeli buah tidak terfokus pada
satu tempat, karena buah yang dikonsumsi bisa berasal dari supermarket,
kios buah, pedagang kaki lima.
2. Pola konsumsi buah konsumen rumah tangga di Kota Bekasi yang
bertempat tinggal dekat dan jauh dari supermarket memiliki banyak
persamaan diantaranya dapat dilihat dari jenis buah yang dikonsumsi,
namun perbedaan yang paling terlihat adalah jumlah buah konsumsi buah
dan frekuensi pembelian buah.
3. Jenis buah nasional yang paling banyak digemari oleh konsumen yang
bertempat tinggal dekat dari supermarket adalah mangga dan konsumen
yang bertempat tingga jauh dari supermarket adalah jeruk. Sedangkan
buah impor yang paling digemari untuk responden yang bertempat tinggal
dekat dan jauh supermarket adalah apel.

100

4. Hasil analisis regresi logistik terhadap faktor yang mempengaruhi pola


konsumsi buah rumah tangga di Kota Bekasi, yaitu faktor frekuensi
pembelian buah dan tempat pembelian buah.
5. Berdasarkan analisis diskriminan diketahui bahwa tempat pembelian
merupakan variabel/faktor yang memiliki perbedaan antar grup atau
memiliki hubungan dengan asal buah yang dikonsumsi oleh konsumen di
Kota Bekasi. Dimana konsumen yang membeli buah di supermarket akan
mengkonsumsi buah impor, hal ini disebabkan buah yang ditawarkan oleh
supermarket sebagian besar merupakan buah impor dengan berbagai jenis
dan bentuk fisik buah yang menarik. Sedangkan konsumen yang membeli
buah di kios buah dan pedagang kaki lima akan mengkonsumsi buah
nasional karena banyaknya buah nasional yang ditawarkan.

8.2. Saran

Saran yang direkomendasikan penulis kepada supplier buah nasional


termasuk tempat-tempat penjualan buah di Kota Bekasi adalah :
1. Hendaknya penawaran buah di pusat-pusat penjualan baik itu supermarket,
kios buah, dan pedagang kaki lima di Kota Bekasi lebih ditingkatkan lagi
baik dari segi jumlah maupun jenis terutama untuk jenis buah-buahan
nasional, karena di Kota bekasi sendiri tidak terdapat sentra produksi
untuk buah nasional.
2. Guna memenuhi permintaan konsumen akan produk buah-buahan nasional
diharapkan kepada pihak supplier buah nasional agar dapat mendatangkan
buah-buahan segar, mengingat produk tersebut didatangkan dari luar

101

daerah. Maka pihak supplier harus memperhatikan tata cara pengiriman


buah, misalnya dengan melakukan pengemasan yang lebih baik, dan
pengiriman yang tepat waktu.
3. Untuk penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menggunakan model
permintaan lainnya yang lebih lengkap membahas tentang pola konsumsi
dan permintaan dengan menggunakan metode CART (Classification and
Regression

Tree).

Sehingga

dapat

diketahui

kelompok-kelompok

konsumen buah berdasarkan variabel-variabel yang digunakan sebagai


indikator dalam penelitian tersebut.
4. Untuk melengkapi hasil penelitian ini perlu dilakukan penelitian mengenai
analisis kepuasan konsumen berdasarkan tempat pembelian buah di Kota
Bekasi dengan menggunakan alat analisis

importance-performance

analysis dan analysis gap. Sehingga hasil yang diperoleh dapat


diperbandingkan.

102

DAFTAR PUSTAKA

Adelina, N. C, 1996. Analisis Preferensi Konsumen Dan Pilihan Usaha Pedagang


Pengecer Buah Lokal Dan Buah Impor (Studi Kasus Di
Kotamadya Bogor). Skripsi. Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi
Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Amanati, A, N, 2001. Perbandingan Analisis Regresi Logistik Dan Analisis
Pohon Regresi (Studi Kasus Pada Pengelompokan Nasabah Bank
Syariah Dan Nasabah Bank Konvesional). Skripsi. Jurusan IlmuIlmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Badan Pusat Statistik (BPS), 2000. Indonesia Dalam Statistik. Jakarta
,2004. Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia.
Jakarta.
Badan Pusat Statistik
Bekasi.

Kota Bekasi. 2005. Kota Bekasi Dalam Angka 2004.

Direktorat Jendral Bina Produksi Hortikultura. 2002. Statistik Pertanian (Produk


Hortikultura Indonesia). Departemen Pertanian Republik
Indonesia. Jakarta
Engel, James F, Roger D.B. dan Paul W.M.1994. Perilaku Konsumen. Edisi
Keenam. Jilid I. Binarupa Aksara.Jakarta
Eveline, R. 1998. Analisa Perilaku Konsumsi Buah Segar Konsumen Rumah
Tangga dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya.
Skrpsi.
Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonpmi Pertanian. Fakultas Pertanian.
Institut Pertanian Bogor. Bogor
Febriani, R, 2003. Analisis Segmentasi Gaya Hidup Dan Perilaku Konsumsi Buah
Segar Di Kecamatan Serang Propinsi Banten. Skripsi. Jurusan
Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Firdaus, M. dan Farid. 2005. Analisis Kuantitatif Untuk Bidang Manajemen
(Modul Pelatihan). Departemen Sosial Ekonomi Pertanian.
Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Komarudin, A. 2005. Analisis Permintaan Impor Buah Apel Indonesia. Skripsi.
Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.

103

Lipsey, Richard G. 1992. Pengantar Makroekonomi. Edisi VIII. Cetakan III.


Penerbit Erlangga, Jakarta
Martias, D. Y , 1997. Analisis Preferensi Konsumen Dan Perilaku Konsumsi
Buah-Buahan Pada Masyarakat Kelas Atas (Studi Kasus Di
Kompleks Pemukiman Villa Duta, Kelurahan Baranang Siang,
Kecamatan Bogor Timur, Kota Madya Bogor). Skripsi. Jurusan
Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Pappas dan hirschey. 1995. Ekonomi Manajerial. Edisi VI. Jilid II. Penerbit Bina
Aksara, Jakarta
Prayudi, S , 2002. Analisis Efisiensi Pemasaran Buah Lokal Dan Buah Impor.
Thesis. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.
Rahmatia, E, 1999. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku
Konsumen Dalam Proses Pembelian Buah (Kasus di DKI Jakarta).
Skripsi. Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas
Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Rahmawati, A , 2000. Analisis Preferensi Konsumen Terhadap Atribut BuahBuahan Di Kotamadya Bogor (Penerapan Analisis Konjoin).
Skripsi. Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas
Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sumarwan,U .2002. Perilaku Konsumen Teori Dan Penerapannya Dalam
Pemasaran. Penerbit Ghalia Indonesia.Jakarta.
Supranto, J. Prof. M.A. APU, 2004. Analisis Multivariate (Arti dan Interpretasi).
Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Widianti, N , 2004. Analisis Perilaku Konsumen Rumah Tangga Terhadap BuahBuah Tropika (Studi Kasus Di Kelurahan Tegallega Kecamatan
Bogor Tengah Kota Bogor). Skripsi. Program Sarjana Ekstensi
Manajemen Agribisnis. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi
Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Yulinar,

Y,D. 2005. Analisis Pendapatan Dan Faktor-Faktor Yang


Mempengaruhi Kelangsungan Usaha Kolam Jaring Apung (Kasus
di Desa Bongas Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung, Jawa
Barat). Skripsi. Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis.
Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

104

LAMPIRAN

105
Lampiran 1. Lokasi Pengambilan Responden
Dekat Dari Supermarket

Kecamatan
Bekasi Timur

Kelurahan
Margahayu
Duren Jaya
Bekasi Jaya

Supermarket Terdekat
Alpha Superindo
Bekasi Grand Center
Borobudur
Robinson
Plaza Bekasi Jaya
Pratama Plaza
Rama Plaza
Bekasi Trade Centre
(Kab.Bekasi)

Bekasi Selatan

Marga Jaya
Kayu Ringin Jaya

Mega Bekasi Shoping Center


Mall Metropolitan
Hero Plaza
Ramayana Pekayon
Goro Pekayon

Bekasi Barat

Jaka Sampurna

Superindo
Plaza Duta
Grand Centre
Grand Mall

Pondok Gede

Jati Waringin
Jati Rahayu

Pondok Gede 1
Pondok Gede 2
Matahari

Rawa Lumbu

Sepanjang Jaya

Plaza Mitra
Hero
Ramayana Pekayon

106
Lampiran 1. Lanjutan
Jauh Dari Supermarket
Kecamatan
Jati Asih

Kelurahan
Jati Keramat

Supermarket Terdekat
Grand Centre
Superindo
Plaza Duta
Ramayana Jati Asih

Jati Sampurna

Jati Rangga

Matahari Jati Asih


Ramayana Jati Asih

Bantar Gebang

Pedurenan
Cimuning

Bekasi Timur

Duren Jaya
(Perum Nusa
Indah)
Aren Jaya (Bumi
Setia Mekar)

Bekasi Utara

Harapan Jaya
(Kmp. Bulak
Macan)
Perwira (Kmp.
Bulak Perwira)

Hero Kemang Pratama Rawa


Lumbu
Ramayana Jati Asih
Goro Pekayon
Alpha Superindo
Bekasi Grand Center
Borobudur
Robinson
Plaza Bekasi Jaya
Pratama Plaza
Rama Plaza
Bekasi Trade Centre
(Kab.Bekasi)
Mall Harapan Jaya

107

Lampiran 2. Output Regresi Logistik


Binary Logistic Regression: Asal buah versus jarak; frekuensi; ...
Link Function:

Logit

Response Information
Variable
Asal bua

Value
1
0
Total

Count
55
35
90

(Event)

Logistic Regression Table


Predictor
Constant
jarak
frekuens
jumlah
tempat
listrik
pendidik
anggota
umur

Coef
3,425
0,1876
-0,2024
0,05596
-0,8407
0,000498
-0,0159
-0,1257
-0,01298

SE Coef
1,799
0,5383
0,1007
0,04845
0,4233
0,001114
0,4119
0,1950
0,02818

Z
1,90
0,35
-2,01
1,16
-1,99
0,45
-0,04
-0,64
-0,46

Odds
Ratio

P
0,050
0,727
0,045
0,248
0,047
0,655
0,969
0,519
0,645

95% CI
Lower
Upper

1,21
0,82
1,06
0,43
1,00
0,98
0,88
0,99

0,42
0,67
0,96
0,19
1,00
0,44
0,60
0,93

3,46
1,00
1,16
0,99
1,00
2,21
1,29
1,04

Log-Likelihood = -51,686
Test that all slopes are zero: G = 16,912; DF = 8; P-Value = 0,031
Goodness-of-Fit Tests
Method
Pearson
Deviance
Hosmer-Lemeshow

Chi-Square
93,017
95,372
11,170

DF
81
81
8

P
0,170
0,087
0,192

Table of Observed and Expected Frequencies:


(See Hosmer-Lemeshow Test for the Pearson Chi-Square Statistic)

Value
Total
1
Obs
55
Exp
0
Obs
35
Exp

Group
5
6

10

2,3

3,4

4,1

4,8

5,1

5,8

6,4

7,1

7,7

8,3

6,7

5,6

4,9

4,2

3,9

3,2

2,6

1,9

1,3

0,7

Total
90

Measures of Association:
(Between the Response Variable and Predicted Probabilities)
Pairs
Concordant
Discordant
Ties
Total

Number
1415
501
9
1925

Percent
73,5%
26,0%
0,5%
100,0%

Summary Measures
Somers' D
Goodman-Kruskal Gamma
Kendall's Tau-a

0,47
0,48
0,23

Saving file as: F:\aa tile\Faktor-Faktor Pola Konsumsi Buah.MPJ

108
Lampiran 3. Hasil Analisis Diskriminan

Discriminant
Analysis Case Processing Summary
Unweighted Cases
Valid
Excluded

N
Missing or out-ofrange group codes
At least one
missing
discriminating
variable
Both missing or
out-of-range group
codes and at least
one missing
discriminating
variable
Total

Total

90

Percent
100,0

,0

,0

,0

,0

90

100,0

Group Statistics
Valid N (listwise)
Asal buah
Buah impor

Mean

Weighted
35,000

11,06

4,207

35

35,000

13,14

10,198

35

35,000

1,60

,651

35

35,000

1177,14

358,170

35

35,000

1,57

,558

35

35,000

4,86

1,630

35

35,000

Frekuensi pembelian
Jumlah pembelian
Tempat pembelian

Jumlah anggota
Keluarga
Umur responden

41,09

8,939

35

35,000

Jarak tempat tinggal

,56

,501

55

55,000

Frekuensi pembelian

8,42

4,126

55

55,000

Jumlah pembelian

9,71

8,615

55

55,000

Tempat pembelian

1,11

,712

55

55,000

1134,55

270,266

55

55,000

1,36

,778

55

55,000

4,36

1,352

55

55,000

40,24

8,983

55

55,000

,50

,503

90

90,000

Kapasitas daya listrik


Tingkat pendidikan
Jumlah anggota
Keluarga
Umur responden
Total

Unweighted
35

,40

Tingkat pendidikan

Buah nasional

,497

Jarak tempat tinggal

Kapasitas daya listrik

Std. Deviation

Jarak tempat tinggal


Frekuensi pembelian

9,44

4,332

90

90,000

Jumlah pembelian

11,04

9,359

90

90,000

Tempat pembelian

1,30

,726

90

90,000

1151,11

306,207

90

90,000

1,44

,705

90

90,000

4,56

1,477

90

90,000

40,57

8,925

90

90,000

Kapasitas daya listrik


Tingkat pendidikan
Jumlah anggota
Keluarga
Umur responden

109
Lampiran 3. Lanjutan
Tests of Equality of Group Means

Jarak tempat tinggal

Wilks'
Lambda
,975

F
2,299

88

Sig.
,133

Frekuensi pembelian

,911

8,617

88

,004

Jumlah pembelian

,968

2,942

88

,090

Tempat pembelian

,890

10,866

88

,001

Kapasitas daya listrik

,995

,411

88

,523

Tingkat pendidikan

,979

1,877

88

,174

Jumlah anggota Keluarga

,973

2,425

88

,123

Umur responden

,998

,192

88

,662

df1

df2

Analysis 1
Stepwise Statistics
Variables Entered/Removed(a,b,c,d)
Step

Entered

Min. D Squared
Statistic

Between
Groups

Exact F

Statistic
df1
df2
Sig.
Buah
impor
Tempat
,508
and
10,866
1
88,000
,001
pembelian
Buah
nasional
At each step, the variable that maximizes the Mahalanobis distance between the two closest
groups is entered.
a Maximum number of steps is 16.
b Maximum significance of F to enter is .05.
c Minimum significance of F to remove is .10.
d F level, tolerance, or VIN insufficient for further computation.
1

Variables in the Analysis

Step
1

Tolerance
Tempat
pembelian

1,000

Sig. of F to
Remove
,001

110
Lampiran 3. Lanjutan

Variables Not in the Analysis

Step
0

Tolerance
Jarak tempat tinggal

Min.
Tolerance

Sig. of F to
Enter

Min. D
Squared

1,000

1,000

,133

,107

1,000

1,000

,004

,403

Buah impor and Buah


nasional

1,000

1,000

,090

,138

Buah impor and Buah


nasional

1,000

1,000

,001

,508

Buah impor and Buah


nasional

1,000

1,000

,523

,019

Buah impor and Buah


nasional

1,000

1,000

,174

,088

Buah impor and Buah


nasional

1,000

1,000

,123

,113

Buah impor and Buah


nasional

1,000

1,000

,662

,009

Buah impor and Buah


nasional

,950

,950

,456

,538

Buah impor and Buah


nasional

,805

,805

,125

,635

Buah impor and Buah


nasional

,825

,825

,729

,514

Buah impor and Buah


nasional

,917

,917

,762

,513

Buah impor and Buah


nasional

,935

,935

,608

,522

Buah impor and Buah


nasional

,968

,968

,358

,553

,978

,978

,965

,508

Frekuensi pembelian

Jumlah pembelian

Tempat pembelian

Kapasitas daya listrik

Tingkat pendidikan

Jumlah anggota
Keluarga
Umur responden

Jarak tempat tinggal

Frekuensi pembelian
Jumlah pembelian

Kapasitas daya listrik

Tingkat pendidikan

Jumlah anggota
Keluarga
Umur responden

Between Groups
Buah impor and Buah
nasional

Buah impor and Buah


nasional
Buah impor and Buah
nasional

111
Lampiran 3. Lanjutan
Wilks' Lambda

Step

Number of
Variables

Lambda

df1

,890

df2

df3

Exact F
Statistic
10,866

88

df1
1

Summary of Canonical Discriminant Functions


Eigenvalues

Function
1

Eigenvalue
,123(a)

% of Variance
100,0

Canonical
Correlation
,332

Cumulative %
100,0

a First 1 canonical discriminant functions were used in the analysis.


Wilks' Lambda

Test of Function(s)
1

Wilks'
Lambda
,890

Chi-square
10,187

df
1

Sig.
,001

Structure Matrix
Function
1
1,000

Tempat pembelian
Frekuensi pembelian(a)

,442

Jumlah pembelian(a)

,418

Kapasitas daya listrik(a)

,289

Tingkat pendidikan(a)

,254

Jarak tempat tinggal(a)

-,224

Jumlah anggota
Keluarga(a)
Umur responden(a)

,178
,147

Pooled within-groups correlations between discriminating variables and standardized canonical


discriminant functions Variables ordered by absolute size of correlation within function.
a This variable not used in the analysis.
Canonical Discriminant Function Coefficients
Function
Tempat pembelian

1
1,452

(Constant)

-1,887

Unstandardized coefficients

df2
88,000

Sig.
,001

112
Lampiran 3. Lanjutan
Functions at Group Centroids
Function
Asal buah
Buah impor

1
,436

Buah nasional

-,277
Unstandardized canonical discriminant functions evaluated at group means

Prior Probabilities for Groups

Asal buah

Cases Used in
Analysis

Prior

Unweighted
Buah impor
Buah nasional
Total

,500

35

Weighted
35,000

,500

55

55,000

1,000

90

90,000

Classification Function Coefficients

Asal buah

Tempat pembelian
(Constant)

Buah impor
3,373

Buah
nasional
2,338

-3,391

-1,990

Fisher's linear discriminant functions


Classification Results(b,c)
Predicted Group
Membership

Original

Crossvalidated(a)

Count

Asal buah
Buah impor

Buah
nasional
Buah impor

Count

Buah
nasional
Buah impor

Buah
nasional
Buah impor

Buah impor
24

Buah
nasional
11

17

38

55

68,6

31,4

100,0

30,9

69,1

100,0

24

11

35

17

38

55

Total
35

68,6
31,4
100,0
Buah
30,9
69,1
100,0
nasional
a Cross validation is done only for those cases in the analysis. In cross validation, each case is
classified by the functions derived from all cases other than that case.
b 68,9% of original grouped cases correctly classified.
c 68,9% of cross-validated grouped cases correctly classified.