Anda di halaman 1dari 7

23

BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Gambar 4.1 Peta Lokasi RSUD Dr. Pirngadi Medan


Berdasarkan gambar di atas dapat dikatakan bahwa RSUD Dr. Pirngadi
Medan beralamat di jalan Professor H.M Yamin SH No. 47 Sumatera Utara.
Rumah Sakit Pirngadi didirikan tanggal 11 Agustus 1928 oleh Pemerintah
Kolonial Belanda dengan nama GEMENTA ZIEKEN HUIS yang peletakan
batu pertamanya dilakukan oleh seorang bocah berumur 10 tahun bernama Maria
Constantia Macky anak dari Walikota Medan saat itu.

24

4.1.2 Karaktristik Pasien BPPV di RSUD Dr. Pirngadi Medan Berdasarkan


Tahun Masuk
Tabel 4.1 Karaktristik Pasien BPPV Berdasarkan Tahun Masuk
Tahun Masuk
2011
2012
2013
2014
2015
TOTAL

N
14
9
13
15
22
73

%
19.2
12.3
17.8
20.5
30.1
100.0

Dari tabel diatas dapat disimpulkan pasien dengan diagnosa BPPV tahun
2015 sebanyak 22 orang (30%), tahun 2014 sebanyak 15 orang (20%), tahun 2011
sebanyak 14 orang (19%), tahun 2013 sebanyak 13 orang (18%), tahun 2012
sebanyak 9 orang (12%) dan tahun (Tabel 4.1).
4.1.3 Karakteristik Pasien BPPV di RSUD Dr. Pirngadi Medan Berdasarkan
Jenis Kelamin
Tabel 4.2 Karakteristik Pasien BPPV Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Laki-Laki
Perempuan
Total

N
34
39
73

%
46.6
53.4
100.0

Dari tabel diatas dapat disimpulkan pasien dengan diagnosa BPPV pada
perempuan lebih banyak 39 orang (53%) daripada pasien laki-laki sebanyak 34
orang (47%) (tabel 4.2).

4.1.4 Karakteristik Pasien BPPV di RSUD Dr. Pirngadi Medan Berdasarkan


Pekerjaan

25

Tabel 4.3 Karakteristik Pasien BPPV Berdasarkan Pekerjaan


Pekerjaan
Wiraswasta
IRT
PNS
Mahasiswa
Petani
TOTAL

N
13
14
32
5
9
73

%
17.8
19.2
43.8
6.8
12.3
100.0

Dari tabel diatas dapat disimpulkan pasien dengan diagnosa BPPV yang
bekerja sebagai s PNS sebanyak 32 orang (44%), sebagai ibu rumah tangga
sebanyak 14 orang (19%), wiraswasta sebanyak 13 orang (18%), sebagai petani
sebanyak 9 orang (12%), dan sebagai mahasiswa sebanyak 5 orang (7%), (Tabel
4.3).
4.1.5 Karakteristik Pasien BPPV di RSUD Dr. Pirngadi Medan Berdasarkan
Usia
Tabel 4.4 Karakteristik Pasien BPPV Berdasarkan Usia
Usia
<20th
20-39th
>39th
Total

N
1
30
42
73

%
1.4
41.1
57.5
100.0

Dari tabel diatas dapat disimpulkan pasien dengan diagnosa BPPV yang
berusia >39th sebanyak 42 orang (57%), yang berusia 20-39th sebanyak 30 orang
(41%), <20th sebanyak 1 orang. (Tabel 4.4).

4.1.6 Karakteristik Pasien BPPV di RSUD Dr. Pirngadi Medan Berdasarkan


Penyebab
Tabel 4.5 Karakteristik Pasien BPPV Berdasarkan Penyebab
Penyebab
Idiopatik
Stress Emosional

N
21
12

%
28.8
16.4

26

Trauma
Infeksi telinga
Total
Dari tabel diatas dapat disimpulkan

16
24
73

21.9
32.9
100.0

penyebab BPPV karena infeksi

telinga sebanyak 24 orang (33%), faktor idiopatik sebanyak 21 orang (29%),


trauma sebanyak 16 orang (22%), dan karena stress emosional sebnayak 12 orang
(16%) (Tabel 4.5).
4.2 Pembahasan
Benign Paroxysmal Positional Vertigo adalah gangguan vestibuler yang
paling sering ditemui, dengan gejala rasa pusing berputar diikuti mual muntah dan
keringat dingin, yang dipicu oleh perubahan posisi kepala terhadap gaya gravitasi
tanpa adanya keterlibatan lesi di susunan saraf pusat (Edward dan Roza, 2014).
Dari hasl penelitian didapati 73 orang penderita BPPV di RSUD Dr.
Pirngadi Medan pada tahun 2011-2015. pasien yang masuk pada tahun 2011
sebanyak 14 orang (19%), tahun 2012 sebanyak 9 orang (12%), tahun 2013
sebanyak 13 orang (18%), tahun 2014 sebanyak 15 orang (20%) dan tahun 2015
sebanyak 22 orang (30%).
Hasil penelitian ini didukung oleh Melisa (2015) di RSUP Haji Adam
Malik Medan. Data yang diperoleh berdasarkan rekam medis yang menderita
BPPV mulai dari 01 Januari 2011 sampai 30 September 2015 berjumlah 55 orang.
Berdasarkan hasil data rekam medis RSUD Dr.Pirngadi Medan dapat
disimpulkan bahwa pasien perempuan lebih banyak 39 orang (53%) daripada
pasien laki-laki sebanyak 34 orang (47%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Purnamasari (2013) dimana proporsi antara wanita lebih besar
dibandingkan dengan laki laki yaitu 2,2 :1,5.
Penelitian lain yang dilakukan von Brevern et al. (2007) juga
menyatakanbahwa perempuan yang menderita BPPV prevalensinya lebih banyak
sekitar 74%daripada grup kontrol sekitar 51%. Dalam penelitian ini menyebutkan
bahwa perempuan sebagai jenis kelamin terbanyak dikaitkan dengan penyakit
migraine yang disertai dengan BPPV. Prevalensi migraine juga menunjukkan

27

bahwa pasien terbanyak adalah perempuan. Sehingga peneliti mengambil


kesimpulan bahwa ada kaitannya perempuan yang menderita BPPV dengan
migraine. Meskipun vertigo merupakan salah satu gejala migraine akan tetapi
vertigo yang ditimbulkan berbeda dengan vertigo yang dikeluhkan pasien BPPV
(Roberts et al., 2006).
Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Vaz et al. (2013) juga lebih
menegaskan bahwa perempuan yang menderita BPPV dikaitkan dengan faktor
hormonal. Tetapi hal ini masih menjadi teori dan belum dijelaskan secara analisis
lebih lanjut mengenai hormon apa yang mempengaruhi BPPV ini.
Berdasarkan data rekam medis dapat disimpulkan bahwa pasien yang
bekerja sebagai wiraswasta sebanyak 13 orang (18%), sebagai ibu rumah tangga
sebanyak 14 orang (19%), sebagai PNS sebanyak 32 orang (44%), sebagai
mahasiswa sebanyak 5 orang (7%), sebagai petaani sebanyak 9 orang (12%).
Penelitian yang dilakukan Magliulo et al. (2005) menyebutkan bahwa
sekitar 29% pasien menyatakan bahwa vertigo yang dialami menyulitkan pasien
untuk bekerja dan 25% memiliki keterbatasan dalam melakukan kehidupan
sosialnya.
Dari data di atas, peneliti berasumsi bahwa PNS yang merupakan
pekerjaan terbanyak pasien BPPV dikaitkan dengan hal tersebut yang menyatakan
bahwa kesulitan dalam melakukan pekerjaan sehingga kepedulian untuk langsung
datang ke dokter untuk konsultasi kesehatannya juga lebih tinggi daripada
pekerjaan lainnya, meskipun hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa pekerjaan
lain dapat menjadi pekerjaan terbanyak.
Hal ini sesuai dengan penelitian Melisa (2015) di RSUP Haji Adam Malik
Medan adalah merupakan ibu rumah tangga sebanyak 19 orang (34,5%), diikuti
dengan petani sebanyak 10 orang (18,2%), kemudiaan diikuti dengan tidak
bekerja yang rata-rata merupakan pensiunan sebanyak 8 orang (14,5%), sebanyak
8 orang penderita BPPV bekerja sebagai pegawai (12,7%), diikuti dengan masingmasing 5 penderita untuk yang bekerja sebagai wiraswasta dan supir (9,1%), dan
proporsi terkecilnya adalah mahasiswa sebanyak 1 orang (1,8%).

28

Dapat disimpulkan bahwa pasien yang berusia <20th sebanyak 1 orang


(1%), yang berusia 20-39th sebanyak 30 orang (41%), dan yang berusia >39th
sebanyak 42 orang (57%).
Dapat disimpulkan bahwa penyebab BPPV dikarenakan faktor idiopatik
sebanyak 21 orang (29%), Stress emosional sebnayak 12 orang (16%), trauma
sebnayak 16 orang (22%), dan sebanyak 24 orag (33%) dikarenakan infeksi
telinga.

29

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian ini, maka dapat diambil
kesimpulan mengenai karakteristik penderita BPPV di Rumah Sakit Pirngadi
Medan yang dimulai dari tahun 2011 tahun 2015 adalah sebagai berikut:
1. Dapat disimpulkan pada tahun 2015 pasien terdiagnosa BPPV lebih
banyak dari tahun lainnya.
2. Dapat disimpulkan perempuan lebih banyak terdiagnosa BPPV dari pada
laki-laki.
3. Dapat disimpulkan pasien yang bekerja sebagai PNS lebih banyak dari
pada pekerjaan lainnya.
4. Dapat disimpulkan pasien yang berusia >39th lebih banyak dari pada umur
lainnya.
5. Dapat disimpulkan penyebab tersering BPPV paling banyak dikarenakan
infeksi telinga.
5.2 Saran
1. Kepada pihak rumah sakit yang bertugas hendaknya lebih melengkapi
status
pasien pada rekam medis, karena hal ini sangat berguna bagi penderita,
klinisi, maupun bagi peneliti.
2. Bagi penelitian selanjutnya agar dapat lebih mengembangkan penelitian
ini
sehingga bisa menjadi sumber pembelajaran yang lebih akurat dan
menyeluruh.