Anda di halaman 1dari 5

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Karakteristik Simplisia
Salah satu cara untuk mengendalikan mutu simplisia adalah dengan melakukan
standarisasi simplisia. Standarisasi diperlukan agar dapat diperoleh bahan baku yang seragam
yang akhirnya dapat menjamin efek farmakologi tersebut. Standari simplisia memiliki dua
macam yaitu karakteristik spesifik dan karakteristik non spesifik.
Pada praktikum ini dilakukan karakteristik simplisia spesifik yaitu karakteristik fisik
dan karakteristik kimia. Karakteristik fisik meliputi, uji organoleptik, uji makroskopik, uji
mikroskopik, susut pengeringan dan karakteristik kimia yaitu skrining fitokimia.
4.1.1 Karakteristik Fisik
a. Uji Organoleptik
uji organoleptik dilakukan untuk mengetahui kebenaran simplisia menggunakan panca indra
dengan mendeskripsikan bentuk, warna, bau dan rasa. Dari hasil pengujian simplisia herba
pegagan memiliki bentuk serbuk, memiliki warna hijau tua, bau khas pegagan, dan memiliki
rasa pahit.
Uji Organoleptik
Bentuk
Warna
Bau
Rasa

Hasil
Serbuk
Hijau tua
Khas herba
Pahit

b. Uji Makroskopik dan mikroskopik


uji makroskopik dilakukan dengan menggunakan kaca pembesar atau tanpa menggunakan
alat. Cara ini dilakukan untuk mencari khusunya morfologi, ukuran dan warna simplisia yang
diuji. Pemeriksaan simplisia makroskopik dilakukan terhadap herba pegagan yang telah
berbentuk serbuk. Sedangkan uji mikroskopik dilakukan dengan menggunakan mikroskop
yang derajat pemebsaran disesuaikan dengan keperluan. Simplisia yang diuji berupa sayatan
melintang, kadial, parademal, maupun membujur atau berupa serbuk. Pada uji mikroskopik,
dicari unsur-unsur anatomi jaringan yang khas. Dari pengujian ini akan diketahui jenis
simplisia berdasarkan fragmen pengenal yang spesifk bagi masing-masing simplisia. Dimana
hasil dari simplisia herba pegagan dilihat dari perbesaran 100x terlihat ada hablur kalsium
oksalat epidermis, rambut penutup, dan serabut sklerenkim.
c. susut pengeringan
susut pengeringan adalah pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada temperatur 105
selama 30 menit atau sampai berat konstan yang dinyatakan sebagai nilai persen. Tujuan

mengetahui susut pengeringan adalah memberikan batasan maksimal (tentang besarnya


senyawa yang hilang pada proses pengeringan)
4.1.2 karakteristik kimia
a. skrining fitokimia
pada percobaan sktining fitokimia dengan sampel herba pegagan dilakukan untuk mengetahui
kandungan metabolit sekunder diantaranya skrining untuk alkaloid, flavonoid, tanin,
polifenol, saponin, monoterpenoid dan seskuiterpenoid, minyak atsiri, steroid, dan
triterpenoid quinn dan kumarin.
Pengujian pertama yaitu pengujian untuk alkaloid, simplisia yang akan digunakan digerus
atau dihaluskan bertujuan untuk menghancurkan dinding sel yang sifatnya kaku, sehingga
senyawa target yang berada pada vakuola mudah diambil. Kemudian ditambahkan amonia
encer dan kemudian di ekstraksi dengan klorofom, hal ini bertujuan untuk memutuskan
ikatan antara asam tanin, dan alkaloid yang terikat secara ionik dimana atom N dari alkaloid
berikatan saling stabil dengan gugus hidroksil dari asam tanin. Dengan terputusnya ikatan ini
alkaloid akan bebas, dan akan tertarik oleh kloroform. Sedangkan pegadukan bertujuan untuk
memperbanyak kontak antara kloroform dengan senyawa target.
Setelah di ekstraksi larutan disaring kemudian filtrat ditambahkan hcl 2N dan dikocok kuat.
Penambahan hcl berfungsi untuk mengikat kembali alkaloid menjadi garam alkaloid agar
dapat bereaksi dengan logam berat.
Setelah filtrat simplisia hasil ekstraksinya ditambahkan pereaksi mayer diperoleh hasil yang
negatif yang ditandai dengan tidak terbentuknya endapan warna putih. Hal tersebut terjadi
karena pereaksi mayer tidak berikatan dengan alkaloid melalui ikatan koordinasi antara atom
N alkaloid.

Sedangkan filtrat yang ditambahkan pereaksi dragendorf diperoleh hasil positif, yang ditandai
dengan terbentuknya endapan berwarna orange kecoklatan. Hal tersebut terjadi karena
pereaksi dragendorf berikatan dengan alkaloid melalui ikatan kooordinasi antara atom N
alkaloid.
Pada pengujian kedua yaitu uj flavonoid, dimana simplisia dibuat infusa dengan cara
melarutkannya pada air. Flavonoid umumnya lebih mudah larut dalam air, hal ini terjadi
karena flavonoid mempunyai gugus gula. Penentuan uji ini dilakukan dengan menambahkan
serbuk Mg atau Zn dalam larutan infusa serta penambahan Hcl encer. Pada proses
penambahan ini terjadi reaksi eksoterm yaitu reaksi yang melepaskan panas yang ditandai
dengan terbentuknya gelembung-gelembung gas dan pelepasan kalor pada permukaan tabung
reaksi gas yang terbentuk adalah

Pada pengujian ketiga yaitu tanin dan polifenol. Peenmbahan fecl3 berfungsi sebagai sumber
atom pusat untuk membentuk komplek yang stabil, sehingga terbentuklah komplek antar
pusat fe3 dengan ligan tanin. Pada hasil percobaan yang diperoleh hasi negatif yang ditandai
dengan warna orange

Pada penambhan gelatin menghasilkan reaks yang negatif pula. Dimana warna yang
dihasilkan berwarna kuning terdapat endapan. Gelatin merupakan protein alami yang
memberikan sifat penstabil dan pengental bagi media yang berbasis air, mengandung asam
amino sehingga terbentuk senyawa tanin karena adanya ikatan hidrogen antara tanin dan
protein dan gelatin sehingga terbentuk endapan

Pada pengujian ke empat yaitu saponin, saponin umunya berada dalam bentuk glikosida
sehingga cenderung berifat polar. Timbulnya busa menunjukan adanya glikosida yang
mempunyai kemampuan untuk membentuk buih dengan air yang terhidrolisis menjadi
glukosa dan senyawa lain.

Ketika terbentuk busa dilakukan penambahan hcl dilakukan untuk menguji kestabilan busa.
Penambhan hcl dilakukan untuk menguji kestabilan busa penambahan hcl juga dilakukan
dalam jumlah yang sedikit apalabila dalam jumlah yang banyak dapat manurunkan aktip
sabun. Percobaan ini menunjukan hasil yang positif.
Pada pegujian ke lima yaitu uji mono/seskuiterpenoid. Simplisia di sari dengan eter,
digunakan eter karena seskuiterpen bersifat non polar sehingga dapat larut kemudian eter
diuapkan. Penguapa ini berpungsi untuk menghilangkan pelarutnya agar senyawa tersebut
dapat bereaksi dengan pereaksi yang bersifat polar. Hasil positif akan menunjukan warna
yang berbeda untuk tiap senyawanya. Hasil dari percobaan ini menghasilkan warna kuning
hijau.
Pada percobaan ke enam yaitu uji steroid/triterpenoid. Simplisia di sari dengan eter,
digunakan eter yang sama sama bersifat senyawa organik sehingga dapat ditarik dengan eter
yang sama sama bersifat non polar. Kemudian residu ditambahkan pereaksi lieberman

burchard yang berisi asam asetat dimana asam asetat akan bereaksi dengan steroid melalui
proses asetilasi menghasilkan komplek asetil steroid.
Pengujian terakhir yaitu kuinon. Uji kuinon bertuuan untuk mengetahui adanya kuinon dalam
simplisia herba pegagan penentuan kuinon dengan mendidihkan herba pegagan dalam air.
Pendidihan untuk memperbesar kelarutan kuinon dalam air setelah itu penambahan NaOH
berfungsi untuk mendeptotonasi gugus fenol pada kuinon sehingga terbentuk ion enolat, ion
enolat tersebut akan mampu mengadakan resonansi antar elektron pada ikatan rangkap II
karena terjadinya resonansi ini ion ion enolat dapat menyerap cahaya tertentu dan
memantulkan warna.

Uji positif terhadap keberadaan kuinon yaitu jika larutan memberi warna kuning. Hasil dari
percobaan ini terbentuk warna kuning.