Anda di halaman 1dari 29

BAB I

DASAR TEORI
Pengukuran tanda-tanda vital sangat diperlukan untuk pemeriksaan
sebagian besar fungsi dasar tubuh. Pemeriksaan ini harus dilakukan secara rutin
oleh tenaga medis professional dan penyedia perawatan sebelum merawat seorang
penderita. Tanda-tanda vital utama meliputi empat tanda utama, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Tekanan darah
Denyut nadi (kecepatan, irama, kualitas)
Pernafasan (kecepatan, kedalaman dan irama)
Suhu tubuh
Berat Badan (BB) serta Tinggi Badan (TB)

Tekanan Darah
Tekanan darah adalah gaya yang diterima per satuan luas dinding pembuluh
yang diberikan oleh cairan darah. Faktor faktor yang mempengaruhi tekanan
darah
1. Curah jantung Tekanan darah berbanding lurus dengan curah jantung
(ditentukan berdasarkan isi sekuncup dan frekuensi jantung
2. Tekanan Perifer terhadap tekanan darah Tekanan darah berbanding terbalik
dengan tahanan dalam pembuluh. Tahanan perifer memiliki beberapa faktor
penentu yaitu :
(1) Viskositas darah
Semakin banyak kandungan protein dan sel darah dalam plasma,
semakin besar tahanan terhadap aliran darah. Peningkatan hematokrit
menyebabkan peningkatan viskositas : pada anemia, kandungan
hematokrit dan viskositas berkurang.
(2) Panjang pembuluh
Semakin panjang pembuluh, semakin besar tahanan terhadap
aliran darah.
(3)

Radius pembuluh
Tahanan perifer berbanding terbalik dengan radius pembuluh
sampai pangkat keempatnya.

1. Jika radius pembuluh digandakan seperti yang terjadi pada fase


dilatasi, maka aliran darah akan meningkat enambelas kali lipat.
Tekanan darah akan turun.
2. Jika radius pembuluh dibagi dua, seperti yang terjadi pada
vasokontriksi,

maka

tahahan

terhadap

aliran

akan

meningkatenambelas kalip lipat dan tekanan darah akan naik.


(4)

Karena panjang pembuluh dan viskositas darah secara normal konstan,


maka perubahan dalam tekanan darah didapat dari perubahan radius
pembuluh darah

Pada dasarnya cara pengukuran tekanan darah ada dua macam, yaitu:
a. Cara langsung
Merupakan cara pengukuran yang paling tepat untuk menentukan tekanan
darah, yaitu dengan menggunakan jarum atau kanula yang dimasukkan ke dalam
pembuluh darah untuk dihubungkan dengan monometer.
b. Cara tak langsung
Menggunakan alat manometer. Macam manometer bermacam-macam
seperti: tensimeter terbuka (tensimeter air raksa); tensi meter tertutup
(sphygmomanometer/tensimeter pegas); tensimeter pegas/elektrik. Tensimeter
terdiri dari manset hawa, pompa karet, skrup, klep dan manometer air raksa
(manometer terbuka) atau manometer anaeroid (manometer tertutup). Selain cara
tersebut, cara pengukuran tidak langsung dapat pula digunakan tensimeter
elektronik/digital, yang dapat dipasang di paha, lengan atas, pergelangan tangan,
kepala, atau di jari tangan.
Lazimnya pengukuran dilakukan pada A. Brachialis pada lengan atas atau
A. Femoralis pada tungkai atas. Panjang manset di syaratkan selebar kira-kira 2-3
lingkar bagian tersebut. Teknik pengukuran dengan manometer ada dua cara,
yaitu:
a. Palpasi, hanya dapat menentukan systole.
b. Auskultasi dengan bantuan stetoskop. Dengan cara ini dapat diukur
tekanan systole maupun diastole. Sedang pada tensimeter elektronik,
selain dapat mengukur systole dan diastole juga dapat mengukur
kontraksi jantung atau denyut nadi.
Tekanan systole dihasilkan oleh dinding pembuluh darah setiap kali
jantung kontraksi, dan memompanya kedalam pembuluh darah setiap kali jantung
kontraksi, dan memompanya kedalam pembuluh darah. Tekanan diastole adalah
2

tekanan paling rendah ketika jantung istirahat dan sedang terjadi pengisian darah.
Satuan darah adalah mmHg (millimeter air raksa). Seorang tidak dapat
mengukur tekanan darahnya sendiri kecuali menggunakan tensi meter elektronik.
Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan darah Pada Orang Dewasa
kategori
Hipotensi
Optimal
Normal
Normal tinggi
Stadium 1

sistole
< 90 mmHg
< 120 mmHg
< 130 mmHg
130 139 mmHg
140 159 mmHg

Diastole
< 60 mmHg
< 80 mmHg
< 85 mmHg
85 89 mmHg
90 99 mmHg

(hipertensi ringan)
Stadium 2

160 179 mmHg

100 109 mmHg

(hipertensi sedang)
Stadium 3

180 209 mmHg

110 - 119 mmHg

(hipertensi berat)
Stadium 4

> 210 mmHg

> 120 mmHg

Tekanan darah dapat berbeda dari nilai normal, tergantung keadaan faal
tertentu atau kelainan patologonis, seperti shock, gangguan faal ginjal, trauma
kapitis tumor adrenal dan lain-lain. Keadaan tekanan darah yang lebih rendah dari
normal disebut hipotensi sedangkan tekanan darah lebih tinggi disebut hipertensi.
Tekanan darah normal dewasa muda adalah 120/80 mmHg (berdasarkan suatu
konvensi nilai atas adalah nilai tekanan systole dan nilai yang dibawah adalah
tekanan diastole). Nilai tekanan darah normal ini dapat dirubah sesuai dengan
perjalanan usia. Diagnosis hipertensi pada umumnya ditegakan setelah dilakukan
pengukuran secara berulang selama beberapa hari.
Mekanisme perkembangan hipertensi esensial yang diketahui sampai
sekarang melalui :
a) Vasokontriksi yang terlalu sering dan atau terlalu lama disebabkan jawaban
system saraf simpatis yang terlalu berlebihan terhadap pacuan dari luar.
b) Vasokontriksi karena tertimbunnya ion Ca di dalam sitoplasma otot polos pada
tunika media akibat kelainan membran.

c) Hipervolemi yang disebabkan oleh kelainan ginjal genetic yang meretensi ion
Ca dan air. Hipervolemi menyebabkan naiknya curah jantung sehingga
menaikkan tekanan darah (TD). Kenaikan TD akibat hipervolemi akan
menekan dinding pembuluh darah ( menaikkan tekanan transmural ) sehingga
secara miogenik otot pembuluh darah akan berkontraksi. Dengan demikian
akan

terjadi

vasokontriksi.

Kedua

hal

tersebut

makin

lama

akan

mengakibatkan hipertrofi otot polos di tunika media sehingga dinding vasa


menjadi lebih tebal. Jika vasa dinding ini berkontraksi maka tingkat
pengecilan lumen menjadi lebih tebal sehingga lumen pembuluh darah
menjadi lebih kecil daripada kalau dinding vasa tidak tebal pada tingkat
kontraksi yang sama. Akibat vasokontriksi yang tebal adalah kenaikan TD
yang lebih tinggi dibanding yang tidak tebal.
Vasokontraksi pada umumnya dapat ditimbulkan secara reflex dengan
memasukkan satu tangan ke dalam air dingin. Kalau hal ini menyebabkan
kenaikan tekanan darah yang tinggi berarti :
a) Saraf simpatis mengadakan jawaban yang berlebihan
b) Dinding pembuluh darah sudah mulai menebal yang menandakan adanya
permulaan hipertensi.
Percobaan ini dinamakan cold pressure test. Menurut Hines (1940) cit.
Best & Taylor (1961), jika pada percobaan ini tekanan diastole naracoba naik 20
mmHg atau lebih maka ia termasuk hiperreaktor. Kalau kenaikan kurang dari 10
mmHg termasuk hiporeaktor.
Kenaikan tekanan diastole pada cold pressure test dihubungkan dengan
terjadinya hipertensi dikemudian hari (dikerjakan pada orang dengan tekanan
darah normal yang tekanan diastolenya < 100 mmHg).
Denyut Nadi (Heart Rate)
Jantung adalah organ vital dan merupakan pertahanan terakhir untuk hidup
selain otak. Denyut yang ada di jantung ini tidak bisa dikendalikan oleh

manusia.Denyut jantung biasanya mengacu pada jumlah waktu yang dibutuhkan


oleh detak jantung per satuan waktu, secara umum direpresentasikan sebagai bpm
(beats per minute).
Denyut jantung yang optimal untuk setiap individu berbeda-beda tergantung
pada kapan waktu mengukur detak jantung tersebut (saat istirahat atau setelah
berolahraga). Variasi dalam detak jantung sesuai dengan jumlah oksigen yang
diperlukan oleh tubuh saat itu. Denyut jantung seseorang juga dipengaruhi oleh
usia dan aktivitasnya. Olahraga atau aktivitas fisik dapat meningkatkan jumlah
denyut jantung, namun jika jumlahnya terlalu berlebihan atau di luar batas sehat
dapat menimbulkan bahaya. Selain itu suhu udara disekitar, posisi tubuh
(berbaring atau berdiri), tingkat emosi, ukuran tubuh serta obat yang sedang
dikonsumsi juga mempengaruhi denyut nadi seseorang.
Detak jantung atau juga dikenal dengan denyut nadi adalah tanda penting
dalam bidang medis yang bermanfaat untuk mengevaluasi dengan cepat kesehatan
atau mengetahui kebugaran seseorang secara umum."Pada orang dewasa yang
sehat, saat sedang istirahat maka denyut jantung yang normal adalah sekitar 60100 denyut per menit (bpm). Jika didapatkan denyut jantung yang lebih rendah
saat sedang istirahat, pada umumnya menunjukkan fungsi jantung yang lebih
efisien dan lebih baik kebugaran kardiovaskularnya.
Setiap orang bisa mengukur denyut jantungnya sendiri tanpa perlu
menggunakan stetoskop. Untuk mengukur denyut jantung di rumah bisa dengan
cara memeriksa denyut nadi. Tempatkan jari telunjuk dan jari tengah pada
pergelangan tangan atau tiga jari pada sisi leher. Saat merasakan denyut nadi,
lihatlah jam untuk menghitung jumlah denyut selama 15 detik. Hasil yang
didapatkan dikalikan empat, maka didapatkan jumlah denyut jantung per menit.
Untuk mendapatkan nilai denyut jantung maksimal dilakukan dengan cara
mengurangi angka 220 dengan usia. Misal usianya 40 tahun, maka jumlah
maksimalnya adalah 180 bpm. Dengan melakukan tes sederhana tersebut,
seseorang bisa mengetahui apakah denyut jantunya normal atau tidak. Hal ini juga
berguna sebagai diagnosis awal ada atau tidaknya gangguan kardiovaskuler.
(detik)
Dalam mengukur denyut nadi, ada 4 pembagian :

1. Denyut Nadi Maksimal (Maximal Heart Rate)


Denyut nadi maksimal adalah maksimal denyut nadi yang dapat
dilakukan pada saat melakukan aktivitas maksimal.untuk menentukan
denyut nadi maksimal digunakan rumus 220-umur.
2. Denyut Nadi Iatihan
Denyut nadi latihan dilakukan pengukuran setelah menyelesaikan
satu set latihan dan ini bisa memantau intensitas latihan yang telah
ditetapkan sebelumnya.
3. Denyut Nadi Istirahat (Resting Heart Rate)
Denyut nadi istirahat adalah denyut nadi yang diukur saat istirahat
dan tidak setelah melakukan aktivitas. Pengukuran denyut nadi ini dapat
menggambarkan tingkat kesegaran jasmani seseorang.pengukuran ini
dilakukan selama 10 sampai 15 detik.
4. Denyut Nadi Pemulihan (Recovery Heart Rate)
Denyut nadi pemulihan adalah jumlah denyut nadi permenit yang
diukur setelah istirahat 2 sampai 5 menit.pengukuran ini diperlukan untuk
melihat seberapa cepat kemampuan tubuh seseorang melakukan pemulihan
setelah melakukan aktivitas yang berat.
Frekuensi Nafas
Definisi pernafasan atau respirasi adalah suatu proses pengambilan
oksigen, pengeluaran karbohidrat dan penggunaan energi di dalam tubuh. Menusia
dalam bernapas menghirup oksigen dalam udara bebas dan membuang
karbondioksida ke lingkungan.
Respirasi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu :
1. Respirasi Luar yang merupakan pertukaran antara O2 dan CO2 antara darah
dan udara.
2. Respirasi Dalam yang merupakan pertukaran O2 dan CO2 dari aliran darah
ke sel-sel tubuh
Dalam mengambil nafas ke dalam tubuh dan membuang napas ke udara
dilakukan dengan dua cara pernapasan, yaitu :
1. Respirasi / Pernapasan Dada
6

a. Otot antar tulang rusuk luar berkontraksi atau mengerut


b. Tulang rusuk terangkat ke atas
c. Rongga dada membesar yang mengakibatkan tekanan udara dalam
dada kecil sehingga udara masuk ke dalam badan.
2. Respirasi / Pernapasan Perut
a. Otot difragma pada perut mengalami kontraksi
b. Diafragma datar
c. Volume rongga dada menjadi besar yang mengakibatkan tekanan
udara pada dada mengecil sehingga udara pasuk ke paru-paru.
Normalnya manusia butuh kurang lebih 300 liter oksigen perhari. Dalam
keadaan tubuh bekerja berat maka oksigen atau O2 yang diperlukan pun menjadi
berlipat-lipat kali dan bisa sampai 10 hingga 15 kalilipat. Ketika oksigen tembus
selaput alveolus, hemoglobin akan mengikat oksigen yang banyaknya akan
disesuaikan dengan besar kecil tekanan udara.
Pada pembuluh darah arteri, tekanan oksigen dapat mencapat 100 mmHg
dengan 19 cc oksigen. Sedangkan pada pembuluh darah vena tekanannya hanya
40 milimeter air raksa dengan 12 cc oksigen. Oksigen yang kita hasilkan dalam
tubuh kurang lebih sebanyak 200 cc di mana setiap liter darah mampu melarutkan
4,3 cc karbondioksida / CO2. CO2 yang dihasilkan akan keluar dari jaringan
menuju paruparu dengan bantuan darah.
Proses Kimiawi Respirasi Pada Tubuh Manusia :
1)
2)
3)
4)

Pembuangan CO2 dari paru-paru : H + HCO3 ---> H2CO3 ---> H2 + CO2


Pengikatan oksigen oleh hemoglobin : Hb + O2 ---> HbO2
Pemisahan oksigen dari hemoglobin ke cairan sel : HbO2 ---> Hb + O2
Pengangkutan karbondioksida di dalam tubuh : CO2 + H2O ---> H2 + CO2
Otot, terutama anggota gerak tubuh, bisa kita kendalikan. Makin banyak

otot yang bekerja, makin banyak kebutuhan oksigen, makin besar kekerapan
denyut jantung kita perlukan. Jadi, secara tak langsung kita dapat mengendalikan
denyut jantung. Sisi baiknya, selain dipergunakan untuk petanda kebugaran,
denyut nadi bisa menjadi panduan dosis olahraga.
Cara mengukur denyut jantung adalah dengan kita menghitung denyut nadi
pada pergelangan tangan atau arteri di leher menggunakan jari tangan, dibantu
detikan pada arloji kita. Menghitung nadi pergelangan tangan dilakukan dengan

meletakkan jari telunjuk dan jari tengah pada sisi luar tangan, arah terletak ibu
jari. Cari urat pergelangan tangan, kemudian geser sedikit ke arah luar (seperti
foto ilustrasi). Tekan ringan, karena bila terlalu kuat akan menghentikan aliran
darah, sehingga denyut tak teraba.
Arteri atau pembuluh darah karotis merupakan pembuluh darah besar
,mudah ditemukan, tepat pada sisi kanan-kiri batang tenggorok/ jakun. Jangan
menekan terlalu kuat dan hanya pada satu arteri, karotis, karena bila ditekan
terlalu kuat, denyut jantung dapat menurun dengan cepat dan membahayakan.
Suhu Tubuh
Suhu tubuh setiap bagian tubuh berbeda. Suhu pada tubuh bagian dalam
adalah yang paling tinggi, dan semakin keluar semakin rendah. Selain itu, suhu
tubuh dapat terjadi variasi dalam sehari, yaitu mencapai 0,6 oC (1oF), tertinggi
pada jam 8.00 - 11.00 dan terendah pada jam 4.00 - 6.00 pagi. Selain itu, suhu
seseorang dapat bervariasi tergantung pada jenis kelamin, aktivitas yang baru
dilakukan, konsumsi makanan dan minuman, saat siklus menstruasi, dll. Secara
normal suhu tubuh manusia adalah 36,5oC (97,8oF) - 37,2oC (99oF) sesuai dengan
The American Medical Association.
Pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut:
1. Melalui oral/mulut
Pengukuran suhu dapat dilakukan melalui rongga mulut dengan
thermometer klasik/air raksa atau dengan thermometer modern (thermometer
digital). Suhu oral = 36,8oC + 0,35oC (98,3 + 0,5oF)
2. Melalui rectal/anus
Pengukuran suhu dapat dilakukan melalui rectal/anus, menggunakan
thermometer air raksa digital. Pengukuran suhu melalui anus normal adalah
37,2oC + 0,3oC (99,0 + 0,5oF). pengukuran suhu rectal cenderung 0,5oC + 0,7oF
lebih tinggi dari pemeriksaan melalui mulut.
3. Melalui aksial/ketiak
Pengukuran suhu dapat dilakukan melalui aksial/ketiak, menggunakan
thermometer air raksa digital. Pengukuran suhu dengan cara ini cenderung 0,6 oC
(1oF) dibawah suhu tubuh melalui mulut.
4. Melalui telinga

Pengukuran suhu dapat dilakukan melalui telinga, menggunakan


thermometer khusus yang biasa mencatat suhu tubuh dengan cepat melalui
silinder telinga. Pengukuran dengan cara ini dapat menunjukkan temperatur inti
tubuh (suhu organ-organ internal).
Suhu tubuh ini dapat berubah semakin atau semakin rendah. Perubahan
suhu yang semakin tinggi dapat disebabkan karena demam (fever). Demam adalah
suhu tubuh yang diatas normal (di atas 98,6oF per rektal). Hal ini disebabkan
karena adanya abnormal proses dalam tubuh. Perbedaan suhu tubuh ini sangat
tergantung pada macam penyakit yang mempengaruhinya. Sedang, perubahan ke
suhu lebih rendah disebut hipotermia (dibawah 95oF).
Berat dan Tinggi Badan
Pengukuran fisik tinggi badan dan berat badan sangat diperlukan dalam
memperoleh informasi tambahan yang menegakkan diagnosis, terutama dalam
memperoleh informasi tambahan yang menegakkan diagnosis, terutama yang
berkaitan dengan hormonal metabolic. Pemeriksaan TB harus dilakukan dengan
posisi berdiri. Berat badan sering kali diperbandingkan dengan berat badan ideal.
a. Berat badan ideal wanita
BBideal max wanita = Tinggi Badan (TB) 110
BBideal min wanita = BBideal max (BBideal max x 10%)
b. Berat badan ideal pria
BBideal max pria = Tinggi badan (TB) 110
BBideal min pria = BBideal max (BBideal max x 10%)
Selain itu, pengukuran TB dan BB dapat juga digunakan untuk mengetahui
indeks Massa Tubuh = IMT (Body Mass Index = BM) yang dapat digunakan
untuk memprediksi kesehatan penderita.
IMT/BMI = BB(kg) / TB2 (m2); perhitungan dirujuk pada klasifikasi IMT
Klasifikasi IMT/BMI (Classification od Overweight and Obesity by BMI,
Waist Circumference, and Associated Risk, WHO, 1997):
BB sangat kurus (kurus beresiko)
BB kurang (kurus)
BB normal
BB berlebih (agak gemuk)
Obesitas klas 1 (gemuk)
Obesitas klas 2 (sangat gemuk)

= IMT < 18,5 kg/m2


= IMT < 18,5 kg/m2
= 18,5 - 24,9 kg/m2
= 25,0 - 29,9 kg/m2
= 30,0 - 34,9 kg/m2
= 35,0 - 39,9 kg/m2

Ekstrem Obes / Obesitas klas 3 (amat sangat gemuk)

= > 40,0 kg/m2

10

BAB II
HASIL PENGAMATAN
A. Tabel
2.1 PENGUKURAN TEKANAN DARAH
2.1.1 PENGUKURAN TEKANAN DARAH
SPHYGMOMANOMETER
ORANG

Ke-1
(putra)

Ke-2
(putri)

PARAMETER

Tangan kanan

Tangan kiri
Tangan kanan

Tangan kiri

II

120

120

/60

/60

110

110/

/50

78

110

100

/80

/70

120

90/

/80

70

ANEROID

RATA

III

II

115/

115/

60

60

115/

115/

60

60

115/

100

90

/80

100/

100

70

/70

RATA

120/60

110/50

105/75

110/75

III

DIGITAL
RATA

II

101/

101

54

/58

86/

89/

49

48

97/

97/

60

55

96/

98/

74

73

RATA

115/60

115/60

108/85

100/70

III

2.1.2 PENGUKURAN SIKAP TUBUH


BERBARING
ORANG

PARAMETER

II

III

DUDUK

RATA

II

III

RATA
Tangan kanan
Ke-1
(putra)

Ke-2
(putri)

Tangan kiri

Tangan kanan
Tangan kiri

95/

90/

90

50

90/

90/

50

50

90/

90/

50

60

90/

90/

70

70

93/70

90/50

90/55

90/70

BERDIRI
RATA

II

III

RATA
115/

115/

60

60

115/

115/

60

60

115/

100

90

/80

100/

100

70

/70

115/60

115/60

108/85

110/70

11

RA

RA
110/

110/

80

80

100/

100

75

/70

100/

115/

70

80

115/

115/

80

80

11

10

10

11

2.1.3

PENGARUH LATIHAN

ORANG

Ke-1

Ke-2

2.1.4

PARAMETER

NADI

SISTOLE

DIASTOLE

(KALI/MENIT
)

(mmHg)

(mmHg)

Awal

92

113

62

Sesudah Naik Turun

143

156

71

3
menit
pertama

110

113

59

6 menit

105

89

54

9 menit

101

100

61

11 menit

92

98

54

Awal

80

107

76

Sesudah Naik Turun

63

127

61

3
menit
pertama

76

109

54

6 menit

85

110

62

9 menit

93

106

65

11 menit

90

103

54

PENGARUH STRESS: Cold Pressure Test

PARAMETER

SISTOLE

DIASTOLE

(mmHg)

(mmHg)

12

Pra-stress

126

75

30 detik

128

80

60 detik

130

90

pasca

127

75

pasca

126

67

menit

percobaan
4

menit

percobaan

2.2 PENGUKURAN DENYUT NADI


Duduk

No
.

Pengamatan

Berdiri

Berbaring

Radial

Brakhialis

Karotis

Radial

Brakhialis

Karotis

Radial

Brakhialis

Karotis

Pertama

63

63

68

68

72

78

63

61

59

Kedua

65

69

72

70

74

78

61

63

59

ketiga

65

73

79

70

80

80

63

59

61

2.3 PENGUKURAN FREKUENSI NAFAS


POLA NAFAS

Dada

WAKTU

60 detik

FREKUENSI

10 kali

13

2.4 PENGUKURAN SUHU TUBUH


SUHU TUBUH

Thermometer Air Raksa

Thermometer Digital

ORAL

36,80 C

370 C

AKSIAL

36,90 C

36,80 C

2.5 PENGUKURAN BERAT BADAN DAN TINGGI BADAN

No

Nama

BB/kg

TB/cm

BB ideal
max (kg)

BB ideal
min (kg)

TMI/BMI

Bachri

56

172

62

55,8

18,75

Nasa

48

153

43

38,7

20,50

Agya

108

182

72

64,8

32,604

Galis

43

159

57

51,3

17,928

Retno

50

167

49

44,1

17,008

Meidi

50

155

45

40,5

20,811

A. Pertanyaan dan Jawaban

(1) Pertanyaan Percobaan Tekanan Darah


1. Apakah ada perbedaan hasil pengukuran darah dilakukan dengan
tensimeter konvesional dan digital?
- Ya, terdapat selisih beberapa puluh mmHg pada hasil pengukuran
tekanan darah, dimana hasil pengukuran tekanan darah dengan
tensimeter

digital

menunjukkan

hasil

yang

lebih

rendah

dibandingkan dengan hasil pengukuran tensimeter konvensional.


2. Apakah ada perbedaan hasil pengukuran darah dilakukan pada lengan
kanan dan kiri?
- Ya, terdapat selisih 2-7 mmHg pada hasil pengukuran tekanan
darah antara lengan kanan dan kiri, dimana secara umum tekanan
darah pada lengan kiri lebih rendah dibanding lengan kanan.
3. Apakah ada perbedaan hasil pengukuran darah dilakukan dengan
tensimeter konvesional dan digital?

14

Ya, terdapat selisih beberapa puluh mmHg pada hasil pengukuran


tekanan darah, dimana hasil pengukuran tekanan darah dengan
tensimeter

digital

menunjukkan

hasil

yang

lebih

rendah

dibandingkan dengan hasil pengukuran tensimeter konvensional.


4. Apakah ada perbedaan hasil pengukuran A. Radialis, A. Karotis dan A.
Brachialis ?
- Terdapat perbedaan hasil pengukuran tensi darah pada area A.
Radialis, A. Karotis dan A. Brachialis, dimana untuk pengukuran
tekanan darah lebih cenderung pada area A. Brachialis sebab pada
A. Radialis lebih peka terhadap pengukuran denyut nadi.
5. Apakah ada perbedaan tekanan darah yang diukur dengan perbedaan
posisi? Jelaskan mengapa!
- Terdapat perbedaan tekanan darah yang diukur dengan perbedaan
posisi, hal ini dikarenakan pengaruh peningkatan curah jantung dan
tekanan gravitasi.
6. Sebutkan faktor apa saja yang mempengaruhi tekanan darah!
Faktor faktor yang Mempengaruhi Tekanan Darah :
1. Curah jantung Tekanan darah berbanding lurus dengan curah
jantung (ditentukan berdasarkan isi sekuncup dan frekuensi
jantung
2. Tekanan Perifer terhadap tekanan darah Tekanan darah
berbanding terbalik dengan tahanan dalam pembuluh. Tahanan
perifer memiliki beberapa faktor penentu :
Viskositas darah
Semakin banyak kandungan protein dan sel darah dalam
plasma, semakin besar tahanan terhadap aliran darah.
Peningkatan

hematokrit

menyebabkan

peningkatan

viskositas : pada anemia, kandungan hematokrit dan


viskositas berkurang.
Panjang pembuluh
Semakin panjang pembuluh, semakin besar tahanan
terhadap aliran darah.
Radius pembuluh
Tahanan perifer berbanding terbalik dengan radius
pembuluh sampai pangkat keempatnya
15

1. Jika radius pembuluh digandakan seperti yang terjadi


pada fase dilatasi, maka aliran darah akan meningkat
enam belas kali lipat. Tekanan darah akan turun.
2. Jika radius pembuluh dibagi dua, seperti yang terjadi
pada vasokontriksi, maka tahahan terhadap aliran akan
meningkatenambelas kalip lipat dan tekanan darah
akan naik.
3. Karena panjang pembuluh dan viskositas darah secara
normal konstan, maka perubahan dalam tekanan darah
didapat dari perubahan radius pembuluh darah
7. Jelaskan kemungkinan yang dapat terjadi di bidang kedokteran gigi
jika pada penderita tidak dilakukan pengukuran tanda-tanda vital
terlebih dahulu!
- Jika pada penderita tidak dilakukan pemeriksaan tanda vital
terlebih dahulu dikhawatirkan akan terjadi kesalahan anastesi,
misalnya saat ekstraksi penderita hipertensi sebaiknya diberikan
obat anastesi non-epinefrin. Hal ini karena obat anastesi epinefrin
memberikan efek peningkatan tekanan darah walaupun sebenarnya
epinefrin mampu memperpanjang durasi anastesi.

(2) Pertanyaan Percobaan Suhu Tubuh


1. Mengapa pengukuran suhu tubuh di ketiak berbeda? Berapa
perbedaannya? jelaskan !
-

Pengukuran suhu tubuh di ketiak berbeda sekitar 0,5oC dibawah


suhu oral karena pengukuran suhu melalui oral (dibawah lidah)
relatif sama dengan suhu inti tubuh sedangkan jika melalui ketiak
yang berada diluar tubuh menyebabkan suhu menurun karena
adanya kontak dengan udara sekitar sehingga kurang peka.

2. Kapan harus melakukan pengukuran suhu tubuh di rongga mulut atau


pengukuran di bagian tubuh yang lain?

16

Sebaiknya pengukuran suhu melalui di rongga mulut dilakukan


ketika seseorang dalam keadaan demam sehingga dapat diketahui
suhu inti tubuh dengan hasil pengukuran yang lebih akurat.

(3) Pertanyaan Percobaan Denyut Nadi


1. Mengapa mahasiswa kedokteran gigi harus mengukur denyut nadi
sebelum melakukan tindakan operatif?
- Denyut nadi adalah getaran/ denyut darah didalam pembuluh darah
arteri akibat kontraksi ventrikel kiri jantung. Dengan melakukan
pengukuran denyut nadi dapat diketahui cepat lambatnya liran
darah jantung sehingga dapat dilakukan tindakan operatif yang
sesuai dengan keadaan seseorang.
2. Faktor apa saja yang mempengaruhi denyut nadi?
- Faktor faktor yang mempengaruhi kecepatan denyut nadi
seseorang :
A. Usia
Frekuensi nadi secara bertahap akan menetap memenuhi
kebutuhan oksigenselama pertumbuhan. Pada orang dewasa
efek

fisiologi

usia

dapat

berpengaruh

pada

sistem

kardiovaskuler. Pada usia yang lebih tua lagi dari usia dewasa
penentuan nadi kurang dapat dipercaya
Frekuensi denyut nadi pada berbagai usia, dengan usia
antara bayi sampaidengan usia dewasa. Denyut nadi paling
tinggi ada pada bayi kemudian frekuensi denyut nadi menurun
seiring dengan pertambahan usia.
No.
1.

Usia
< 1 bulan

Frekuensi Nadi (denyut / menit)


90 170

2.

< 1 tahun

80 160

3.

2 tahun

80 120

4.

6 tahun

75 115

5.

10 tahun

70 110

6.

14 tahun

65 100

7.

> 14 tahun

60 100
17

B. Jenis Kelamin
Denyut nadi yang tepat dicapai pada kerja maksimum pada
wanita lebih tinggi dari pada pria. Pada laki-laki muda dengan
kerja 50% maksimal rata-rata nadi kerja mencapai 128 denyut
per menit, pada wanita 138 denyut per menit. Pada kerja
maksimal pria rata-rata nadi kerja mencapai 154 denyut per
menit dan pada wanita 164 denyut per menit.
C. Ukuran Tubuh
Ukuran tubuh yang penting adalah berat badan untuk
ukuran tubuh seseorangyaitu dengan menghitung IMT (Indeks
Masa Tubuh) dengan Rumus :
BB(Kg)IMT=TB(m) X TB(m)
Keteranan :
IMT = Indek Masa Tubuh
BB = Berat Badan
TB = Tinggi Badan.
D. Kehamilan
Frekuensi jantung meningkat secara progresif selama masa
kehamilan dan mencapai maksimal sampai masa aterm yang
frekuensinya berkisar 20% diatas keadaan sebesar hamil.
E. Keadaan Kesehatan
Pada orang yang tidak sehat dapat terjadi perubahan irama
atau frekuensi jantung secara tidak teratur. Kondisi seseorang
yang baru sembuh dari sakit makafrekuensi jantungnya
cenderung meningkat.
F. Riwayat Kesehatan
Riwayat seseorang berpenyakit jantung, hipertensi, atau
hipotensi akan mempengaruhi kerja jantung. Demikian juga
pada penderita anemia (kurang darah)akan mengalami
peningkatan kebutuhan oksigen sehingga Cardiac output
meningkat yang mengakibatkan peningkatan denyut nadi.

18

G. Rokok dan Kafein


Rokok dan kafein juga dapat meningkatkan denyut nadi.
Pada suatu studi yang merokok sebelum bekerja denyut
nadinya meningkat 10 sampai 20 denyut permenit dibanding
dengan orang yang dalam bekerja tidak didahului merokok.
Pada kafein secara statistik tidak ada perubahan yang
signifikan

pada

variable

metabolickardiovaskuler

kerja

maksimal dan sub maksimal.


H. Intensitas dan Lama Kerja
Berat atau ringannya intensitas kerja berpengaruh terhadap
denyut nadi. Lama kerja, waktu istirahat, dan irama kerja yang
sesuai

dengan

kapasitas

optimal

manusia

akan

ikut

mempengaruhi frekuensi nadi sehingga tidak melampaui batas


maksimal. Batas kesanggupan kerja sudah tercapai bila
bilangan nadi kerja (rata-rata24nadi selama kerja) mencapai
angka 30 denyut per menit dan di atas bilangan nadi istirahat.
Sedang nadi kerja tersebut tidak terus menerus menanjak dan
sehabis kerja pulih kembali pada nadi istirahat sesudah 15
menit.
I. Sikap Kerja
Posisi atau sikap kerja juga mempengaruhi tekanan darah.
Posisi berdiri mengakibatkan ketegangan sirkulasi lebih besar
dibandingkan dengan posisi kerja duduk.
J. Faktor Fisik
Kebisingan merupakan suatu tekanan yang merusak
pendengaran. Selama itu dapat meningkatkan denyut nadi, dan
mempengaruhi parameter fisiologis yang lain yang dapat
menurunkan kemampuan dalam kerja fisik. Penerangan yang
buruk menimbulkan ketegangan mata, hal ini mengakibatkan
kelelahan mata yang berakibat pada kelelahan mental dan
dapat memperberat beban kerja.
K. Kondisi Psikis

19

Kondisi psikis dapat mempengaruhi frekuensi jantung.


Kemarahan dan kegembiraan dapat mempercepat frekuensi
nadi seseorang. Ketakutan, kecemasan, dankesedihan juga
dapat memperlambat frekuensi nadi seseorang.
3. Apakah ada perbedaan pengukuran denyut nadi pada berbagai posisi
tubuh? Jelaskan mengapa!
- Ada. Karena pada masing-masing kegiatan, jantung memiliki porsi
masing-masing dalam memompa darahnya. Semakin santai / rileks
suatu kegiatan, maka semakin sedikit pula denyut jantung yang
terjadi. Namun, semakin berat aktifitas yang kita lakukan, akan
sangat banyak pula denyut nadi yang terjadi. Oleh karena itu,
kegiatan mempengaruhi kinerja jantung dalam memompa darah
terutama dalam denyut nadi tersebut.
4. Mengapa saat bekerja denyut nadi meningkat?
- Peningkatan denyut nadi pada saat bekerja merupakan respon
kardiovaskular terhadap adanya kontraksi otot. Pengaturan
kardiovaskular terlihat dengan segera saat otot melakukan kerja.
Peningkatan denyut nadi ini juga berfungsi untuk mengangkut O2
yang dibutuhkan oleh otot untuk melakukan kontraksi selama
latihan. Saat jantung dalam keadaan istirahat, denyut nadinya akan
lebih sedikit. Pada saat kerja, akan terjadi perubahan pada sistem
cardiovaskular yaitu peningkatan curah jantung dan redistribusi
darah dari organ yang kurang aktif ke organ yang aktif.
Peningkatan curah jantung ini dilakukan dengan meningkatkan isi
sekuncup dan denyut jantung. Disaat melakukan latihan fisik maka
otot jantung akan mengkonsumsi O2 yang ditentukan oleh faktor
tekanan dalam jantung selama kontraksi sistole. Ketika tekanan
meningkat maka konsumsi O2 ikut naik pula. Jadi konsumsi O2
oleh otot jantung dapat dihitung dengan mengalikan denyut nadi
dan

tekanan

darah

sistolik.

Otot

jantung

yang

terlatih

membutuhkan lebih sedikit O2 untuk sesuatu beban tertentu dan


membutuhkan jumlah O2 yang kurang pula untuk pekerjaan fisik
atau aktivitas.
20

5. Bagaimana cara menentukan denyut nadi maksimal dan optimal?


- DNM adalah denyut nadi maksimal yang dihitung berdasarkan
rumusan DNM = 220 - Umur, kemudian dikalikan dengan
intensitas membakar lemak 60-70 persen DNM.
DN maksimal = 220 usia
DN optimal = 80% x DN maksimal
DN minimal = 60% x DN maksimal
Denyut nadi istirahat adalah denyut nadi yang diukur saat istirahat
dan tidak setelah melakukan aktivitas. Pengukuran denyut nadi ini
dapat

menggambarkan

tingkat

kesegaran

jasmani

seseorang.pengukuran ini dilakukan selama 10 sampai 15 detik.


Pada orang dewasa yang sehat, saat sedang istirahat maka denyut
jantung yang normal adalah sekitar 60-100 denyut per menit (bpm)
(4) Pertanyaan Pengukuran Tinggi Badan Dan Berat Badan
1. Apakah pengukuran tinggi badan dan berat badan diperlukan di
bidang kedokteran gigi? Jelaskan untuk apa?
- Perlu. Pengukuran tinggi badan dan berat badan dilakukan untuk
mengetahui indeks massa tubuh seseorang. Sehingga dapat
diketahui keadaan gizi dan kondisi tubuh seseorang sebelum
melakukan penanganan selanjutnya dalam kedokteran gigi. Misal
tekanan darah, kadar hormon, dan kemungkinan penyakit yang
diderita oleh seseorang sebagai akibat dari seimbang atau tidaknya
IMT.
2. Apakah akibat jika seseorang termasuk kurus beresiko dan apa pula
akibat bagi yang terlalu gemuk? Jelaskan!
-

Ada beberapa masalah kesehatan yang dapat dialami oleh orang


yang memiliki IMT kurang dari normal, yaitu:
1. Osteoporosis
Osteoporosis adalah penipisan jaringan tulang atau hilangnya
kepadatan tulang seiring dengan waktu. Berat badan yang
rendah menyebabkan tekanan yang diterima oleh tulang juga

21

kecil, padahal, tekanan pada tulang berfungsi meningkatkan


kepadatan tulang.
2. Anemia
Kebanyakan orang yang terlalu kurus sering mengalami
kelelahan sepanjang waktu. Kekurangan energi dan fatigue
atau kelemahan adalah merupakan gejala khas anemia. Anemia
adalah penyakit yang terjadi saat tubuh mengalami kekurangan
sel darah merah. Sel darah merah bertanggung jawab untuk
transportasi oksigen menuju organ. Apabila sel darah merah
kurang, maka oksigen yang diangkut menuju organ tubuh juga
tidak memadai. Sehingga organ tubuh mengalami kekurangan
oksigen, dan munculah gejala anemia.

3. Rendahnya sistem imun


Sistem imun tubuh membutuhkan cukup sumber energi untuk
dapat berfungsi dengan baik. Dan energi tersebut didapatkan
dari makanan yang masuk ke tubuh kita. Bagi penderita
anoreksia, karena energi yang masuk sedikit, maka sel-sel
tubuh kurang maksimal dalam menghasilkan sistem imun.
Sehingga orang yang terlalu kurus gampang terserang penyakit
flu, bahkan dapat menjadi lebih parah, seperti kanker, yang
dimulai dengan aktivitas sel yang abnormal.
-

Kegemukan juga beresiko mengakibatkan beberapa gangguan


kesehatan, seperti:
1. Problem persendian
Semakin gemuk seseorang, maka beban tulang akan
semakin berat. Karena menyangga beban di luar porsi, maka
akan muncul gangguan sendi. Yang sering didengar adalah
22

penyakit rematik walaupun tidak semua gangguan sendi adalah


rematik.
2. Masalah dengan kesehatan jantung
Pada orang gemuk, tentu metabolisme bergerak lebih dinamis
dengan beban lebih, karena semakin berat bebannya, otomatis
jantung berdenyut lebih cepat, bekerja lebih banyak dan pada
gilirannya tentu saja akan terkompensasi oleh tubuh secara
alamiah. Dalam hal kompensasinya tak dapat lagi ditolerir oleh
tubuh maka tak pelak lagi akan menimbulkan gangguan
jantung serius. Gangguan jantung ini dikenal dengan
dekompensasi kordis. Kasus ini ditemukan banyak pada orang
gemuk yang tidak banyak pergerakannya.
3. Hipertensi
Pada kegemukan, apalagi yang kurang bergerak, pembuluh
darah sering mengalami atherosclerosis atau pengapuran
sehingga menyempit yang menyebabkan naiknya tekanan
darah.
4. Diabetes Melitus
Orang gemuk cenderung mengalami penurunan hormon
insulin. Ini membuat gula darah naik dan akan meracuni
seluruh tubuh. Gangguan lain adalah terjadinya perubahan
pada pembuluh darah kecil, termasuk yang menuju ke penis.
Salah satu akibat dari perubahan inilah yang menjadi penyebab
utama gangguan seksual retrogade ejaculation (ejakulasi ke
belakang), yaitu semprotan sperma menuju kandung kemih,
bukannya keluar secara normal. Tentu saja penderita kelainan
ini tidak akan bisa membuahi pasangannya. Untungnya kasus
ini sehari-hari ditemukan tidak terlalu banyak.

23

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Hasil denyut nadi dan tekanan darah
Pada hasil pemeriksaan denyut nadi secara palpasi, didapatkan hasil
denyut/menit dengan irama yang teratur. Pada percobaan ini kami menggunakan
arteri radialis dextra dan arteri brachialis dextra karena denyut pada tempat
tersebut sangat besar sekali. Denyut nadi tiap orang berbeda-beda tergantung dari
emosi, pekerjaan, makanan, aktivitas, cara hidup dan lain-lain. Selain mengukur
denyut nadi kami juga melakukan pengukuran tekanan darah secara palpasi dan
auskultasi. Secara teoritis tekanan sistolik baik diukur secara palpasi maupun
auskultasi menghasilkan hasil yang sama tapi dari hasil percobaan didapatkan
hasil yang berbeda.
Alat yang digunakan untuk mengukur tekanan darah juga mempengaruhi
hasil pengukuran. Dari percobaan yang kami lakukan, kami menggunakan
spygnomanometer, tensimetetr aneroid dan tensimeter digital, yang masing
masing menunjukkan angka yang berbeda. Pada orang pertama, rata rata
24

pengukuran menggunakan tensimeter digital menunjukkan angka yang lebih


rendah dari rata rata pengukuran menggunakan alat lain. Sedangkan pada orang
kedua, pengukuran terendah adalah yang menggunakan tensimeter aneroid.
Dimungkinkan terjadinya sebuah kesalahan pada pengukuran orang kedua.
Pada kedua orang coba dapat diketahui bahwa tekanan darah sistol dan
diastol rata rata orang pertama dan orang kedua berada pada batas bawah
tekanan darah normal. Hal ini dapat berpengaruh pada frekuensi denyut nadi.
3.2 Pengaruh posisi tubuh terhadap denyut nadi dan tekanan darah
Secara teori sebenarnya posisi tubuh sangat berpengaruh terhadap denyut
nadi dan tekanan darah. Hal ini karena ada efek gravitasi bumi. Pada saat
berbaring gaya gravitasi pada peredaran darah lebih rendah karena arah peredaran
tersebut horisontal sehingga tidak terlalu melawan gravitasi dan tidak terlalu
memompa. pada saat duduk maupun berdiri kerja jantung dalam memompa darah
akan lebih keras karena melawan gaya gravitasi sehingga kecepatan denyut
jantung meningkat.
3.3 Pengaruh latihan fisik terhadap denyut nadi dan tekanan darah
Hasil percobaan menunjukkan ada peningkatan denyut nadi, tekanan
sistolik, dan tekanan diastolik setelah melakukan latihan fisik seperti naik turun
bangku. Hal ini disebabkan karena perubahan yang besar dalam sistem sirkulasi
dan pernapasan. Pada menit pertama terjadi kenaikan denyut nadi dan tekanan
darah yang drastis karena masih belum biasa melakukan hal tersebut tapi lama
kelamaan tekanan darah dan denyut nadi menurun karena kerja jantung kembali
normal.
3.4 Frekuensi pernafasan
Orang coba (19 tahun) bernafas sebanyak 10 kali permenit. Pada keadaan
normal, seorang dewasa akan melakukan pernafasan (inspirasi) sebanyak 10-20
kali per menit. Pada manusia coba dapat dikatakan normal karena frekuensi
pernafasannya berada dalam batas normal frekuensi nafas dewasa. Pengukuran ini

25

kami lakukan dalam keadaan orang normal sedang rileks, tanpa tekanan. Hal ini
agar manusia coba dapat bernafas dengan lega dan alami.
3.5 Pengukuran Suhu Tubuh
Kami melakukan pengukuran dengan 2 cara, melalui oral dan aksial.
Ditemukan perbedaan pada 2 kali pengukuran yang dilakukan. Pada pengukuran
oral, terdapat sedikit selisih pengukuran. Sama halnya pada pengukuran aksial.
Terdapat pula selisih antara kedua pengukuran.
Setelah melakukan perbandingan terhadap hasil pengukuran kedua cara
tersebut, terlihat perbedaan. Pengurkuran oral memiliki niai (derajat celcius) yang
lebih tinggi disbanding pengukuran aksial.

26

3.6 Pengukuran Tinggi Badan dan Berat Badan


Setelah melakukan percobaan, didapatkan data Berat Badan (BB) dan
Tinggi Badan (TB). Yang kemudian dihitung BB ideal maksimum dan BB ideal
minimum dengan menggunakan rumus. Setelah itu dihitung IMT (Index Massa
Tubuh) untuk memprediksi kesehatan. Dari hasil percobaan yang telah dilakukan
oleh kelompok kami, dari 6 anak diperoleh data :

2 anak diklasifikasikan BB kurang (kurus) karena IMT < 18,5 kg/m2


3 anak diklasifikasikan BB Normal karena IMT 18,5 24,9 kg/m2
1 anak diklasifikasikan Obesitas kelas 1 (gemuk) karena IMT 30,0 34,9
kg/m2.
IMT yang kurang atau melebihi normal dapat mengakibatkan hal hal

yang tidak diinginkan. Untuk itu diusahakan untuk memenuhi kriteria minimal
IMT agar mengurangi resiko terkena penyakit penyakit yang dapat terjadi akibat
dari kurang atau lebihnya berat badan

27

BAB IV
KESIMPULAN

Pengukuran tanda-tanda vital sangat diperlukan untuk pemeriksaan


sebagian besar fungsi dasar tubuh. Pengukuran ini meliputi pengukuran tekanan
darah, denyut nasi, pernafasan, suhu tubu, berat badan dan tinggi badan.
Pengukuran tekanan darah dipengaruhi oleh posisi tubuh, aktivitas fisik,
temperatur, usia, jenis kelamin, dan usia. Sedangkan pengukuran denyut nadi
dipengaruhi oleh aktivitas fisik, posisi tubuh, suhu di sekitar tubuh, ukuran tubuh,
obat yang sedang dikonsumsi, sakit, trauma, emosi, umur, jenis kelamin. Tekanan
darah dan denyut nadi juga dapat dijadikan tinjauan awal untuk diagnose dan
melakukan tindaan operatif dalam perawatan pasien. Suhu tubuh pada setiap
bagian tubuh bebeda, suhu tubuh pada bagian aksial cenderung lebih rendah
daripada suhu tubuh pada bagian oral/mulut. Pengukuran tinggi badan dan berat
badan diperlukan untuk mengetahui Indeks Massa Tubuh (IMT) yang digunakan
untuk memprediksi kesehatan pasien.

28

DAFTAR PUSTAKA

Guyton, Arthur C. & John E. Hall. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.
Jakarta : EGC

Hall JE. Fisiologi Kedokteran. 11th ed. Jakarta: Penerbit EGC; 2010.

Pengelolaan Pasien Hipertensi untuk Perawatan di Bidang Kedokteran


Gigi. Maj Ked-Gi; Juni 2008; 15-1 ; (75-80), ISSN 1978-0206.

Ramadhan AJ. Mencermati Gangguan pada Darah dan Pembuluh Darah:


Tekanan Darah. Yogyakarta: Diva Press; 2009. P.34-43.

Sherwood L. Human Physiologi: The Blood Vessel and Blood Pressure.


7th ed. Canada: Brooks/Cole Engage Learning; 2010. P.370-80.

Scanlon VC, Sanders T. Essentials of Anatomy and Physiology. 5th ed.


Philadelphia: F.A , Davis Company; 2007. P.307-12.

29