Anda di halaman 1dari 3

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial menjadi
tantangan di seluruh dunia karena infeksi nosokomial dapat meningkatkan
morbiditas dan mortalitas serta meningkatkan biaya kesehatan disebabkan
terjadi penambahan waktu pengobatan dan perawatan di rumah sakit.
Prevalensi infeksi nosokomial di negara berkembang dengan sumber daya
terbatas lebih dari 40% (Raka, 2008 dalam Alp dkk, 2011).
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat pasien di rumah
sakit atau fasilitas kesehatan lainnya, pada saat pasien masuk perawatan
tidak menunjukkan gejala atau tidak dalam masa inkubasi dan termasuk
juga infeksi yang didapat di rumah sakit tetapi baru timbul setelah pasien
pulang perawatan dan termasuk infeksi yang terjadi akibat kesalahan
prosedur tindakan yang dilakukan oleh petugas (Palmer, 1984 dalam
Molina 2012). Seringkali munculnya angka kejadian infeksi berkaitan
dengan tindakan sterilisasi yang tidak sesuai prosedur.
Pasien-pasien bedah, pada masa: pra-bedah, intra-bedah dan pasca
bedah, harus dilindungi sepenuhnya dari bahaya infeksi. Perawatan yang
memperhatikan prinsip-prinsip asepsis, antisepsis serta lingkungan
perawatan yang baik, mempengaruhi kejadian dan beratnya infeksi
(Schaffer, 2000). Tindakan aseptik dalam pembedahan merupakan hal
yang mutlak perlu dilaksanakan melalui serangkaian prinsip dan praktek
yang bertujuan untuk menurunkan, atau menghambat proses infeksi
(Zoltie, 1991, dalam Habni, 2009).
Tujuan tindakan asepsis dalam pembedahan adalah untuk
mencegah masuknya bakteri pada luka pembedahan. Pencapaian tingkat
asepsis dimulai dengan mensterilkan alat-alat, jubah operasi, sarung
tangan, benang bedah, dan kasa pembalut yang kontak dengan luka
operasi. Kemudian, lakukan desinfeksi pada kulit tempat pembedahan
dengan menggunakan sediaan antiseptik (Schwartz, 2000).
Infeksi merupakan komplikasi pasca bedah yang sering terjadi.
Manifestasi pertama yang sering timbul adalah kenaikan suhu tubuh. Bila

suhu tubuh pasien naik, sebaiknya segera dilakukan pemeriksaan luka.


Adanya infeksi, tidak selalu terdapat ketegangan pada daerah luka, tetapi
yang pasti ada indurasi. Daerah yang paling sering terkena infeksi adalah
jaringan lemak superfisial dekat fascia, tetapi sepsis dapat terjadi pada
setiap jaringan (Nealon, 1996, dalam Habni, 2009).
Sumber infeksi dapat berasal dari udara, alat dan pembedah, kulit
penderita, visera, dan darah. Mikroba atau bakteri dapat berpindah dari
suatu tempat ke tempat lain melalui perantara. Pembawa kuman ini dapat
berupa

hewan,

misalnya

serangga,

manusia,

atau

benda

yang

terkontaminasi, seperti peralatan bedah. Jadi, dalam hal ini alat bedah,
personel, dan dokter pembedah merupakan pembawa potensial untuk
memindahkan bakteri (Sjamsuhidajat dan Jong, 2004).
Resiko infeksi nasokomial selain dapat terjadi pada pasien yang
dirawat di rumah sakit dapat terjadi pada para petugas rumah sakit.
Berbagai prosedur penanganan pasien memungkinkan petugas terpajan
dengan kuman yang berasal dari pasien. Infeksi yang berasal dari petugas
juga berpengaruh pada mutu pelayanan (Nurmatono, 2005, dalam ).
Dalam meningkatan upaya pencegahan dan pengendalian infeksi
nasokomial diperlukan perilaku yang mendukung perubahan salah satu
contohnya adalah dengan perbaikan pelaksanaan teknik asepsis oleh
perawat khususnya di kamar operasi. Maka, penulis penulis tertarik untuk
membahas tentang Teknik Asepsis dan Pencegahan Infeksi Nasokomial di
Kamar Operasi.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah sebagai
beikut:
Bagaimana Teknik Asepsis dan Pencegahan Infeksi Nosokomial di Kamar
Operasi?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui penggunaan
1.3.2

teknik

asepsis

dan

Pencegahan

Infeksi

Nosokomial di Kamar Operasi


Tujuan Khusus
1. Mengetahui macam teknik asepsis dan pencegahan nosokomial di
kamar operasi.

2. Mengetahui tahapan teknik asepsis dan pencegahan nosokomial di


kamar operasi.
3. Mengetahui cara pelaksanaan teknik asepsis dan pencegahan
nosokomial di kamar operasi
4. Mengetahui instrumen yang diperlukan untuk pelaksanaan teknik
asepsis dan pencegahan nosokomial di kamar operasi
1.3.3

Manfaat
Menjelaskan

pelaksanaan

teknik

asepsis

dan

pencegahan

Nosokomial di Kamar operasi sehingga bisa menjadi informasi yang


bermanfaat untuk mencegah terjadinya infeksi nosocomial di kamar
operasi.