Anda di halaman 1dari 24

Translate Jurnal Botryococcus braunii

Tugas Budidaya Alga

ABDIEL PRAHA DIRGANTARA


140410120080

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI BIOLOGI
SUMEDANG
2016

Efek Media Terhadap Produksi Biomassa dan Minyak dari Botryococcus braunii pada Strain
Kossou-4 dan Overjuyo-3

Abstrak
Alga hijau Botryococcus braunii sudah dikenal lebih jauh sebagai salah satu sumber
penghasil minyak, termasuk hidrokarbon. Namun, pertumbuhan yang lambat dari B. braunii
menghambat pengembangan dalam skala komersil. Penelitian ini membahas efek tiga media
pertumbuhan pada produksi biomassa dan minyak pada dua strain B. braunii strain Race B,
Kossou 4 dan Overjuyo 3. Pertumbuhan strain B. braunii pada medium BG 11 menghasilkan
pertumbuhan signifikan dengan pertumbuhan yang tinggi (2,3 4,2 dan 2,9 6,0 kali lipat pada
Kossou 4 dan Overjuyo 3) dibandingkan dengan media JM dan BBM 3N setelah 15 hari.
Hal serupa didapatkan pula ketika biomassa diukur secara tidak langsung dengan menggunakan
Densitas Optik (OD) dan flouresens klorofil. Produksi minyak didapatkan secara signifikan lebih
tinggi pada BG 11 dengan mengukur berat minyak atau absorbansi (ODs 680 dan 750 nm).
Namun, kehadiran minyak ekstraseluler menunjukkan peningkatan nilai nilai absorbansi
dengan melakukan pengukuran OD tetapi bukan merupakan metode terbaik jika dibandingan
dengan pengukuran berat kering. Pemurnian minyak dicatat saat heksan digunakan sebagai
pelarut dengan membandingkan isopropanol heksana dan heptana. Hasilnya menunjukkan bahwa
BG 11 merupakan media terbaik untuk pertumbuhan dua strain ini pada percobaan.
Kata kunci
B. braunii, Race B, Media, Biomassa, Produksi minyak
1. Pendahuluan
Potensi penggunaan mikroalga dalam produksi biofuel baru baru ini mendapat
perhatian besar sebagai alternative terbarukan dari bahan bakar fosil. Keuntungan menggunakan
mikroalga sebagai sumber alternative biofuel dibandingkan dengan alga dan tanaman lainnya
menunjukkan tingkat pertumbuhan yang tinggi (10 50 kali lebih cepat dari tanaman terrestrial).
Mikroalga dapat mengakumulasi tingginya konsentrasi hidrokarbon dan mampu menghasilkan

biofuel dengan baik dan produk berharga. Biofuel yang berasal dari organismen fotosintetik
seperti mikroalga bebas dari karbon dan terbarukan.
Mikroalga Botryococcus braunii merupakan salah satu organisme yang paling banyak
dipelajari. B. braunii ditandai dengan kandungan hidrokarbon yang tinggi, diperkirakan
mencapai 86 % dari berat kering sel. Jenis ini lambat tumbuh, berkoloni, dan merupakan
mikroalga air tawar. Untuk menghasilkan biomassa dan minyak dari B. braunii pada skala
komersial, kondisi pertumbuhan (media yang meningkatkan pertumbuhan dan produksi
biomassa) perlu ditentukan. Untuk memaksimalkan produksi biomassa, mikrolaga membutuhkan
cahaya untuk memproduksi biomassa dan fiksasi CO 2, sedangkan media kultur harus
menyediakan mikronutrien dan makronutrien dengan baik untuk memungkinkan pertumbuhan
mikroalga. Meskipun beberapa penelitian telah dilakukan pada produksi minyak (hidrokarbon)
oleh B. braunii, studi tentang efek nutrisi dan media pertumbuhan pada produksi biomassa
relative sedikit.
Biomassa dan produksi minya B. braunii telah diteliti dalam beberapa studi
menggunakan media yang berbeda seperti Z8, BG11, BBM dan CHU 13. Namun sebagian
besar penelitian yang telah dilakukan menggunakan media tunggal. Misalnya, pertumbuhan B.
braunii dan dua jenis spesies lain dari mikroalga pada ganggang hijau biru dengan media BG-11,
menghasilkan biomassa yang sangat tinggi dan kadar lemak yang tinggi. Dalam foto
bioreactor, B. braunii strain 765 yang diamati memiliki pertumbuhan yang baik dengan BG 11
pada suhu 25C dibawah cahaya secara kontinyu. Selain dari BG 11, media lain telah
digunakan untuk kultivasi B. braunii. B. braunii (SKU: strain AC-1006) yang telah
dibudidayakan dengan BBM dan media modifikasi (BBM 3N) dengan produksi biomassa dan
lipid yang lebih tinggi pada BBM 3N jika dibandingkan dengan BBM. B. braunii (strain SKU
& AC 1006) juga tumbuh dengan baik di 25 C pada media basal tebal (BBM) dan BBM
dengan menambahkan nitrogen dan vitamin seperti media BBM 3N. Pada percobaan kedua
yang dilakukan untuk setiap media didapatkan pertumbuhan maksimum pada media BBM 3N.
Didapatkan 16 strain B. braunii tumbuh pada media Jaworski (JM) pada 23C dalam 34 hari (12
jam terang; 12 jam gelap), 16 strain Race A, B dan L, didapatkan hidrokarbon tertinggi pada tiga
strain Race B, Kossou 4, Overjuyo 3 dan Paquemar.

Dalam studi sebelumnya terhadap B. braunii telah menggunakan berat kering (DW)
sebagai pengukuran utama biomassa. Selain itu, perubahan densitas optic (OD) digunakan
sebagai ukuran pertumbuhan. Metode ini memiliki keuntungan tidak memakan waktu jika
dibandingkan dengan pengukuran berat kering. Panjang gelombang OD telah digunakan dalam
studi sebelumnya: 550 nm untuk B. braunii SKU AC 1006, 750 nm untuk B. braunii BOT
22, 680 nm unutk B. braunii FACHB 357 231 dan 750/680 nm untuk Chlorella vulgaris.
Metode lain yang telah digunakan untuk mengukur biomassa mencakup konten klorofil. Untuk
B. braunii Kossou 4 dan Overjuyo 3, satu satunya penelitian yang telah dipublikasikan
difokuskan pada hasil hidrokarbon. Oleh karena itu penting ditentukan metode terbaik untuk
mengukur biomassa dari dua strain tersebut.
Metode lain telah dilakukan untuk ekstraksi pelarut minyak dari biomassa mikroalga.
Salah satunya dengan methanol kloroform sebagai pelarut tetapi memiliki efek karsinogenik.
Alternatif lain menggunakan heksana karena biaya murah dan efisien dalam ekstrasi, begitu pula
dengan heptana serta isopropanol heksana 2:2 (v/v). Untuk mengetahui pelarut terbaik dalam
ekstraksi minyak dari dua strain B. braunii, pelarut rendah toksik seperti isopropanol, heksana
dan heptana digunakan dalam penelitian ini.
Tujuan khusus dari penelitian ini untuk i) menyelidiki kemampuan dua strain
Botryococcus braunii Race B yang tumbuh di tiga media berbeda, ii) membandingkan lima
metode untuk mengukur biomassa dalam sua strain B. braunii dan iii) membandingkan tiga
metode untuk mengekstraksi minyak dari biomassa yang dihasilkan oleh dua strain tersebut.
Berdasarkan hasil yang diperoleh, didapatkan media yang terbaik, tes pertumbuhan dan pelarut
untuk ekstraksi minyak untuk produksi komersial dari strain B. braunii yang telah ditentukan.
2. Materi dan Metode
2.1 Sumber Mikroalga
Dalam penelitian ini menggunakan dua strain Race B dari B. braunii. Kedua strain
tersebut diklasifikasikan kedalam strain Race B dengan mengetahui tingginya tingkat produksi
hidrokarbon. Masing masing strain didapatkan dari Universitas Flinders dan koleksi asli Pierre
Metzgers. Strain Kossou 4 asli didapatkan dari Pantai Gading dan menunjukkan warna yang
lebih kecoklatan dibandingkan dengan Overjuyo 3 dari Bolivia dengan warna hijau.

2.2 Rangkaian Alat


Untuk mengukur densitas optic dan flourensi klorofil digunakan plat pembaca
POLARstar OMEGA (BMG TABTECH). Inkubator Shaker Ratek digunakan untuk
menghomogenkan kultur secara terus menerus. Untuk mengamati biomassa dan produksi
minyak, mikroskop florensi yang digunakan yaitu mikroskop Leica DM 2500 yang dilengkapi
dengan kamera Leica DCF 310 FX. Dengan pembesaran 100x; eksitasi pada 543 nm dan emisi
555 650 nm,
2.3 Media dan Persiapan Kultur
Penelitian ini menggunakan tiga media meliputi; i) media Blue Green (BG-11), ii) media
Bold base (BBM 3N) dan iii) media Jaworskis (JM).
2.4 Desain Penelitian
Enam ratus milliliter masing masing medium ditambahkan kedalam labu Erlenmeyer
(2000ml). Untuk strain Kossou 4 dan Overjuyo 3, percobaan dilakukan dengan duplikasi
pada masing masing media sebagai cadangan. Erlenmeyer diinokulasikan secara alikuot (6ml)
dengan Kossou 4 atau Overjuyo 3, yang terhitung 0,04 g/l (berat kering) dari kultur
mikroalga.
Kondisi Kultur
Media yang telah diinokulasikan dengan kultur diinkubasi pada shaker inkubasi Ratek,
yang telah diatur dengan kecepatan 100 rpm pada suhu 25 C Selma 15 hari. Dilanjutkan dengan
disinari oleh flouresens dengan intensitas 54 mol foton m-2 s-1.
2.5 Pengukuran Produksi Biomassa
Pengambilan sampel dilakukan pada interval 3 hari, dengan sampel telah mereplikasikan
menjadi empat subjek tes yang berbeda. Tes meliputi densitas optic pada panjang gelombang 680
dan 750 nm, flourensi klorofil pada 430 nm dan berat kering.
2.5.1

Densitas Optik
Densitas optic dilakukan untuk memberikan pertumbuhan alga. Densitas optic ditentukan

dengan menggunakan POLAR star Omega Microtitre plate reader. Alga disuspensikan (200 L)

ke masing masing 96 plat microtiter. Sebelum pembacaan individual dilakukan, plate tersebut
dihomogenkan terus menerus selama 30 detik. Absorbansi cahaya diukur pada panjang
gelombang 680 dan 750 nm. Nilai absorbansi yang lebih tinggi menunjukkan pertumbuhan yang
lebih besar.
2.5.2

Flourensi Klorofil
Digunakan POLARstar Omega (BMG TABTECH) microtiter plat reader untuk mengukur

flouresens klorofil. Suspensi kultur (200 L) diambil dan diinokulasikan kedalam 96 plat
microtiter hitam. Plat dihomogenkan selama 30 detik sebelum pembacaan flouresens pada 430
nm, nilai flourensi yang tinggi menunjukkan perumbuhan yang lebih besar.
2.5.3

Berat Kering
Aliquot (100 ml) dari masing masing suspensi alga disaring menggunakan filter

MILLIPORE (45 m, 47 mm) dari beratnya dengan menggunakan pompa vakum stadar. Filter
tersebut ditimbang sebelum dan sesudah pengeringan pada 65C sampai didapatkan berat yang
konstan. Berat kertas saring kemudian dikurangi dari sampel sebelum dan sesudah pengeringan
untuk mendapatkan berat kering mikroalga, yang selanjutnya dinyatakan sebagai presentase nilai
berat kering.
2.6 Ekstraksi Minyak
2.6.1 Heksana
Untuk mengekstaksi minyak dari sampel secara singkat berat kering alga dihitung dengan
gravimetric dalam sampel kering. N heksan (10 ml, Sigma Aldrich; Australia) ditambahkan
kedalam sampel kering alga sebelum dimasukkan ke dalam bak sonikasi selama 5 menit untuk
diserap sel alfa. Akhirnya lapisan atas dipindahkan ke dalam tabung gelas Agilent sebelum
ditimbang. Untuk menentukan jumlah minyak yang digunakan, n heksan telah hilang akibat
penguapan dengan gan N2 murni dalam ruang asam. Sampel yang tereplikasi dievaluasi dan hasil
minyak diukur dengan gravimetric.
2.6.2

Isopropanol Heksana
Protocol yang digunakan untuk ekstraksi pelarut minyak dalam dua strain tersebut

melibatkan penggunaan campuran heksana / isopropanol (3:2) (Sigma Aldrich, Australia).

Biomassa kering alga dicampur dengan pelarut (10 ml) dan diinkubasi semalam. Sampel
kemudian ditempatkan dalam water bath untuk sonifikasi dan sisanya sama dengan bagian 2.6.1.
2.6.3

Heptana
Heptana (Sigma Aldrich, Australia) digunakan untuk mengekstrak minyak dari dua

strain tersebut. Pada hari ke 15 kultur dipanen dan dikeringkan. Selanjutnya 10 ml heptana
ditambahkan ke sel dan sampel ditempatkan dalam water bath untuk sonifikasi dan selanjutnya
mengikuti prosedur 2.6.1.
2.6.4

Penyerapan oleh Ekstrak Minyak


Dalam upaya untuk menilai efek minyak terhadap nilai nilai absorbansi ditentukan

dengan pengukuran OD, nilai nilai absorbansi 200 L ekstrak minyak ditentukan pada 680 dan
750 nm. Sampel minyak yang diekstraksi oleh heksana digunakan dari budidaya pada tiga media
tersebut.
2.6.5

Analisis Statistik
ANOVA digunakan unutk menentukan perbedaan antara tingkat pertumbuhan antara

media pada waktu yang berbeda untuk setiap strain. Nilai p 0,05 atau kurang dianggap sebagai
nilai signifikan secara statistic. Jika hasil uji positif dilakukan uji lanjutan dengan Turkey HSD.
Tes tersebut dilakukan untuk setiap pengukuran biomassa. Analisis data digunakan dengan
menggunakan IBM SPSS 21 untuk Windows.
3. Hasil
3.1 Pertumbuhan Mikroalga
Masing masing strain yang tumbuh pada media tumbuh pada lingkungan bersuhu 25C
dengan penyinaran cahaya terus menerus serta kecepatan shake 100 rpm (gambar 1). Gambar 1
(a), gambar 1 (c) dan gambar 1(e) menunjukkan pertumbuhan strain Kossou 4 terhadap media
BG11, JM dan BBM 3N. Sedangkan gambar 1 (b), gambar 1 (d) dan 1 (f) menunjukkan
pertumbuhan strain Overjuyo 3 terhadap media BG11, JM dan BBM 3N.
3.2 Estimasi Biomassa
3.2.1 Berat Kering

Pada hari ke 15, berat kering strain Kossou 4 yang tumbuh pada media BG11 tertinggi,
dengan 2,19 g/L dibandingkan dengan 0,97 g/L dalam medium JM dan 0,52 g/L dalam medium
BBM 3N (gambar 1 (a)). Nilai ANOVA untuk berat kering mg/L pada hari ke 15 untuk strain
Kossou 4 menunjukkan perbedaan signifikan antar media. Dengan menggunakan Turkey HSD
menunjukka perbedaan signifikan antara BG11 dan Jm (p<0,01), antara BG11 dan BBM N3
(p<0,01) dan antara JM dan BBM N3 (p<0,05).
Pada hari ke 15, berat kering Overjuyo 3 yang tumbuh di media BG11 mencapai 2,53
g/L dibandingkan dengan 0,87 g/L dalam media JM dan 0,42 g/L dalam media BBM 3N (gambar
1 (b)). ANOVA berat kering (mg/L) pada hari ke 15 untuk Overjuyo 3 menunjukan perbedaan
signifikan antar media.
3.2.2

Densitas Optik (OD pada 680 nm)


Pengukuran pertumbuhan pada densitas optic dari 680 nm, menunjukkan bahwa

pertumbuhan Kossou 4 paling baik pada media BG11, sedangkan kedua media lainnya hampir
sama tetapi lebih kecil dari BG11. Pada hari ke 15 terjadi perbedaan yang signifikan. Nilai OD
pada 680 nm pada BG11 (0,56 nm) dimana 1,7 kali lipat lebih tinggi daripada JM (0,33 nm) dan
2,1 kali lipat lebih tinggi daripada BBM 3N (0,26 nm).
Pada hari ke 15, strain Overjuyo 3 yang ditumbuhkan dalam medium BG11 mencapai
nilai OD 0,56 (1,6 dan 1,9 kali lipat lebih tinggi daripada JM dan BBM N3) dengan nilai OD
pada JM 0,37 dan BBM N3 0,31 (gambar 1 (d)). ANOVA untuk kerapatan optic pada 680 nm
ketika hari ke 15 untuk strain Overjuyo 3 menunjukkan perbedaan signifikan antar media.
Hasil uji lanjutan dengan Turkey HSD menunjukkan perbedaan signifkan antara BG 11 dan JM
(p<0,05), antara BG11 dan BBM 3N (p<0,05) dan antara JM dan BBM 3N (p<0,05).
3.2.3

Densitas Optik (OD pada 750 nm)


Ketika dilakukan pengukuran OD 750 nm, terdapat peningkatan bertahap dalam

pertumbuhan alga dari strain Kossou 4 selama 15 hari kultivasi. Pertumbuhan di media BG11
lebih tinggi daripada dua media lainnya. Pada hari ke 15, baik Kossou 4 (gambar 1(e)) dan
Overjuyo - 3 (gambar 1(f)) menunjukkan kecenderungan yang sama dengan pertumbuhan
tertinggi dengan media BG11 diikuti oleh Jm dan BBM 3N dengan perbedaan signifikan yang
diamati (p<0,05)

3.2.4

Flourensi Klorofil (CF pada 430 nm)


Hasil pembacaan flourensi klorofil strain Kossou 4 ditunjukkan pada gambar 1 (g).

Sampel menunjukkan peningkatan yang stabil dalam CF yang diukur pada 430 nm selama 15
hari pertumbuhan. Pada hari ke 15, flouresens klorofil (CF) dari Kossou 4 yang telah dikultur
pada media BG11 mencapai 650 nm dibandingkan dengan 330 nm pada media Jm dan 202 nm
dalam media BBM 3N (gambar 1 (g)). Uji lanjutan dengan Turkey HSD menunjukkan
perbedaan yang signifikan antara pertumbuhan BG11 dan JM (p<0,01), antara BG11 dan BBM
3N (p<0,01) dan antara JM dan BBM 3N (p<0,01). Hal serupa terjadi pula pada strain
Overjuyo 3 (gambar 1 (h)).
3.3 Efisiensi Ekstraksi Minyak dari Suspensi Kultur (Berat Kering)
3.3.1 Heksana
Pada hari ke 15, total ekstraksi minyak dengan n heksana dari strain Kossou 4 dengan
media BG11 adalah 762,3 mg/L (0,76 g/L) dibandingkan dengan 395,6 mg/L (0,40 g/L) ekstrak
minyak dalam media JM dan 287,3 mg/L (0,29 g/L) minyak yang diekstraksi dari media BBM
3N (Tabel 1). Pada hari ke 15, total minyak yang diekstraksi oleh n-heksana dari Overjuyo 3
dengan media tumbuh BG11 sedikit lebih rendah; 644,5 mg/L (0,65 g/L) jika dibandingkan
dengan strain Kossou 4, selanjutnya dengan media JM sebesar 382,4 mg/L (0,38 g/L) dan
268,6 mg/L (0,27 g/L) pada media BBM N3 (Tabel 1). Terdapat perbedaan yang signifkan
antara jumlah minyak yang dihasilkan dari mikroalga pada media yang berbeda. Hasil uji
lanjutan dengan Turkey HSD menunjukkan perbedaan yang signifikan antara BG11 dan Jm
(p<0,05), antara BG11 dan BBM N3 (p<-,05) dan antara JM dan Media BBM N3 (p<0,05).

Gambar 1. Pengaruh media tumbuh dari berat kering (a) dan (b), BPO di 680 (c) dan (d) dan 750
nm (e) dan (f) dan flourensi klorofil (g) dan (h) (pada 430 nm) dari B. braunii strain Kossou 4
(K-4) dan Overjuyo 3 (O-3) selama 15 hari.
3.3.2

Isopropanol Heksana
Pada hari ke 15, total berat minyak yang diekstraksi dengan heksana dan ispropanol dari

Kossou 4 yang dikultur dengan media BG11 dan media lainnya lebih rendah dibandingkan
dengan ekstraksi dengan heksana saja; BG11 (528,5 mg/L atau 0,53 g/L), JM (361,4 mg/L atau
0,36 g/L) dan BBM 3N (235,6 mg/L atau 0,24 g/L) (Tabel 1). Analisis statistic lanjutan
(Turkey HSD) menunjukkan perbedaan yang signifikan antara BG11 dan JM (p<0,05), antara
BG11 dan BBM 3N (p<0,05) dan antara JM dan media BBM 3N (p<0,05). Kecenderungan
yang sama diamati pula pada strai Overjuyo 3 dengan jumlah yang lebih rendah dibandingkan
dengan heksana sangat signifikan antar media (P<0,05) (Tabel 1).
3.3.3

Heptana

Pada hari ke 15, total ekstraksi minyak dengan n-heptana dari strain Kossou 4 yang
dibudidayakan dengan BG11 dan media lainnya merupakan yang terendah jika dibandingkan
dengan tiga pelarut yang diuji; BG11 (345,5 mg/L atau 0,35 g/L), JM (222,3 mg/L atau 0,22 g/L)
dan BBM 3N (176,1 mg/L atau 0,18 g/L) (Tabel 1). Hasil analisis uji lanjutan dengan Turkey
HSD menunjukkan perbedaaan yang signifikan antara tiga media yang berbeda dan
kecederungan yang sama pada kultur Overjuyo 3.
3.4 Pengukuran Absorbansi dengan Ekstraksi Minyak
Absorbansi minyak yang diekstrak dari strain Kossou 4 pada kultur yang tumbuh di
media BG11 mencapai 0,090 pada 680 dan 0,080 pada 750 nm dibandingkan dengan 0,072 pada
680 dan 0,059 pada 750 nm dalam media JM dan 0,060 di 680 dan 0,0450 pada 750 nm di BBM
3N (gambar 2 (a)). Nilai nilai absorbansi ekstrak minyak strain Overjuyo 3 yang tumbuh
pada ketiga media ditunjukkan pada gambar 2 (b). Hasil penelitan menunjukkan bahwa
kehadiran minyak (tanpa adanya biomassa) pada media menyebabkan peningkatan yang
terdeteksi dalam kepadatan pada pembacaan optic.

4. Diskusi
Dalam penelitian terdahulu, strain B. braunii telah berhasil dibudidayakan pada berbagai
media seperti pada media JM, BBM N3 dan BG11. Namun terdapat batasan mengenai media
yang optimal untuk hasil biomasa strain B. braunii ras Kossou 4 dan Overjuyo 3. Penelitian
ini akan menjawab batasan tersebut dengan menunjukkan bahwa kultur mikroalga pada BG11
mendapatkan hasil biomassa tertinggi (dinilai dari berat kering) diantara tiga media yang diuji,
kecenderungan yang sama diamati dalam perhitungan biomassa melalui OD dan florurensi
klorofil untuk kedua strain. Satu perbedaan utama antara media BG11 dengan media lainnya
yang diuji adalah kandungan natrium nitrit yang tinggi (1,5 g/L) yang mungkin telah
berkontribusi terhadap meningkatnya pertumbuhan mikroalga yang diamati. Selain itu BG11
lebih kaya nutrisi kunci yang tidak dimiliki oleh media lainnya.
Tabel 1. Ekstraksi minyak yang diproduksi oleh strain B. braunii Kossou 4 dan Overjuyo 3
pada kultur media berbeda menggunakan pelarut berbeda.

Berkaitan dengan pengukuran densitas optic (OD), pada penelitian sebelumnya telah
dilakukan pada panjang gelombang berbeda namun tidak menggunakan strain B. braunii Kossou
4 dan Overjuyo 3. Contohnya panjang gelombang 438, 540, 678 dan 750 nm telah digunakan
untuk mengukur pertumbuhan mikroalga dan pola yang sama ditemukan untuk setiap OD pada
setiap alga yang diuji. Secara umum hasil pembacaan OD lebih tinggi ditemukan pada panjang
gelombang yang lebih rendah. Dalam penelitian yang dilakukan pada jurnal ini hanya digunakan

panjang gelombang 680 nm untuk kedua strain. Dari hasil penelitian didapatkan hanya Kossou
4 yang memproduksi pigmen dan tidak ada temuan yang terkena dari pembacaan OD dengan
gelombang 680 nm, tetapi hanya pigmentasi kecil pada tahap pertumbuhan awal. Oleh karena itu
efek pigmentasi Kossou 4 akan muncul dengan durasi lebih lama. Sehingga dari contoh
tersebut dapat dipertimbangkan jika menggunakan OD sebagai estimasi biomasssa di Kossou.

Gambar 2. Nilai absorbansi minyak yang diekstraksi pada media berbeda dengan OD pada
panjang gelombang 680 dan 750 nm (a) & (b) dalam strain B. braunii Kossou - 4 (K 4) dan
Overjuyo 3 (O 3).
Selanjutnya dilakukan pembandingan berat kering dengan tes OD, pola pertumbuhan
yang berbeda diamati selama enam hari pertama. Pengujian berat kering menunjukkan sangat
sedikit pertumbuhan pada hari ke 0 hingga ke 6, pada pengujian OD di 680 dan 750 nm muncul
pigmentasi yang menunjukkan pertumbuhan paling signifikan pada mikroalga (>60% dari total
pertumbuhan) telah terjadi dalam jangka waktu tersebut. Kecenderungan yang sama didapatkan
dari pengamatan tes CF unutk kedua strain. Oleh karena itu pengukuran kepadatan optic (OD)
lebih efektif untuk estimasi biomassa mikroalga strain B. braunii dibandingkan dengan
pengukuran berat kering. Pengukuran berdasarkan OD relatif lebih mudah dilakukan daripada
berat kering dan telah digunakan pada banyak penelitian. Gambar 2 menunjukkan terdapat
pembacaan absorbansi ketika hanya ekstrak minyak mikroalga saja (tanpa biomassa) dalam
media kultur. Oleh karena itu alasan ini lebih memungkinkan terkait dengan keberadaan minyak
dalam kultur. Mengingat bahwa kedua strain Kossou 4 dan Overjuyo 3 memproduksi minyak

ekstrasel selama uji biomassa berdasarkan OD, didapatkan bahwa absorbansi yang terkait dengan
minyak berkontribusi terlalu tinggi pada biomassa dengan metode berdasarkan OD. Oleh karena
itu, metode pengujian menggunakan OD mungkin tidak sesuai untuk memperkirakan minyak
yang dihasilkan dari biomassa mikroalga. Jika pertanyaan penelitian hanya difokuskan pada
perubahan biomassa mikroalga tanpa menghasilkan hidrokarbon (minyak), maka pengukuran
dengan OD akan lebih cepat dan tepat. Namun jika dilakukan pengujian lain seperti total minyak,
sekualen dan produksi botryococcene selain uji biomassa penggunaan tes berat kering lebih
tepat.
Sehubungan dengan produksi minyak (hidrokarbon), konsentrasi tertinggi diamati dari
kedua strain menggunakan media BG11, terlepas dari penggunaan pelarut ataupun metode
pengukuran. Meskipun Overjuyo 3 menunjukkan biomassa yang lebih tinggi, didapatkan
produksi minyak lebih tinggi pada Kossou 4 pada semua pengujian, meskipun perbedaannya
tidak jauh. Alasannya belum diketahui namun diperkirakan berhubungan dengan genetika yang
muncul pada strain Kossou 4.
Selanjutnya dikaitkan dengan penggunaan pelarut untuk mengekstraksi minyak dari
mikroalga. Penelitian sebelumnya telah banyak melibatkan penggunaan berbagai pelarut dan
kombinasinya guna mendapatkan minyak dari mikroalga. Pelarut tersebut termasuk kloroform
methanol, heksana, heksana isopropanol dan heptane. Namun perbandingan antar sistem pelarut
untuk ekstraksi minyak dari B. braunii tidak tersedia. Penggunaan kloroform tidak dilakukan
karena toksisitas yang tinggi oleh karena itu hanya digunakan tiga pelarut lainnya yang memiliki
toksisitas rendah. Didapatkan heksana menghasilkan kadar minyak tertinggi untuk kedua strain.
Hal ini menunjukkan heksana lebih efektif untuk ekstraksi minyak dari B. braunii dengan hasil
lebih dari 95%.
5. Kesimpulan
Dari percobaan ini menunjukkan bahwa produksi biomassa sangat dipengaruhi oleh jenis
media yang digunakan untuk kedua kultur strain B. braunii galur Kossou 4 dan Overjuyo 3.
Media BG11 menghasilkan pertumbuhan yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan
dengan media lainnya setelah 15 hari penanaman tetapi terdapat perbedaan ketikan kedua kultur
strain tersebut diukur secara tidak langsung dengan menggunakan densitas optic (OD) yang
dikaitkan dengan keberadaa minyak pada media tumbuhnya.oleh karena itu dapat disimpulkan

pengukuran berat kering lebih efektif daripada OD dalam estimasi biomassa. Produksi minyak
juga secara signifikan lebih tinggi dalam medium BG11. Hasil yang sama didapatkan pula ketika
tiga pelarut yang berbeda digunakan unutk mengekstraksi minyak. Dari jumlah tersebut, heksana
mendapatkan ekstrak minyak tertinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa BG11 adalah media
pertumbuhan terbaik sementara heksana adalah pelarut terbaik untuk ekstraksi minyak pada
kedua strain ini.

Menuju Komersialsiasi Botryococcus braunii untuk Produksi Triterpenoid

Abstrak
Botryococcus braunii dapat mengakumulasikan hidrokarbon triterpenoid dalam tingkatan yang
tinggi sehingga berpotensi sebagai sumber bahan kimia yang bernilai tinggi. Namun, aplikasi
secara komersial terhambat oleh pertumbuhan yang lambat dan kurangnya studi dalam skala
besar untuk produksi triterpenoid. Penelitian ini akan meneliti produksi hidrokarbon pada dua
strain B. braunii galur Overjuyo 3 dan Kossou 4 pada suhu 25 C di tangki terbuka dibawah
pencahayaan buatan dengan median BG11 yang telah dimodifikasi selama lebih dari 60 hari.
Pertumbuhan maksimum dicapai pada hari ke 40 dengan strain Overjuyo 3 yang menghasilkan
lebih banyak biomassa (3,05 g/L) dari Kossou 4 (2,55 g/L). Namun, Kossou 4 memproduksi
lebih banyak minyak (0,75 g/L) dan hidrokarbon triterpenoid (C30 C34; 50% dari berat
minyak) dibandingkan dengan 0,63 g/L minyak pada Overjuyo 3 dengan hidrokarbon
triterpenoid meningkat 29% dari berat minyaknya. Penelitian ini menunjukkan untuk pertama
kalinya bahwa produksi skala besar dari hidrokarbon triterpenoid memiliki nilai yang cukup
tinggi dan layak untuk diaplikasikan secara komersial dengan strain Kossou 4.
Kata kunci: hidrokarbon triterpenoid, Race B, Skala Besar, Botryococcus braunii, Biomassa.
Pendahuluan
Koloni alga hijau Botryococcus braunii dapat mengakumulasikan hidrokarbon pada level
yang tinggi, dengan kisaran 15 35% dari berat kering sampai 76% dari. B. braunii
diklasifikasikan menjadi tiga Race (A, B dan L) berdasarkan jenis hidrokarbon yang dihasilkan.
Strain Race B memproduksi dua jenis hidrokarbon triterpenoid, botryococcens dan methylbranched squalene. Sampai dengan 30% dari berat keringnya dapat terdiri dari dietilasi sampai
tetrametilasi dari hidrokarbon C30 sampai C34 yang utama yaitu botryococcene dan squalene.
Hidrokarbon triterpenoid (C30 C34) atau triterpene sangat penting bagi industri. Contohnya,
sekualen C30 merupakan prekursor biositesis steroid pada tumbuhan dan hewan dengan sifat
terapeutik sebagai agen kemo-preventif dengan penghambat tumor. Beberapa sumber seperti hati
hiu dan minyak zaitun tidak dapat memenuhi kebutuhan saat ini dan masa depan karena perturan
internasional dan local yang melarang penggunaan hati hiu sebagai sumber triterpene dan

minyak zaitun sebagai sumber nabati lainnya seperti tebu, minyak biji bayam bersaing sebagai
bahan pangan.
Mikroalga seperti B. braunii merupakan sumber potensial dari tripenten dan alternatif
untuk pengganti bahan bakar fossil. Namun, pengembangan secara komersial terbatas karena
pertumbuhan yang lambat dan variabilitas strain terhadap hasil triterpenoid. Terdapat perbedaan
pengaruh terhadap kondisi pertumbuhan, media dan nutrien terhadap biomassa dan produksi
hidrokarbon terhadap strain B. braunii yang berbeda beda dalam percobaan dan laboratorium.
Namun, studi yang dilakukan terhadap efek dari parameter produksi hidrokaron tripertenoid
sangat sedikit. Hanya satu studi yang baru baru ini diketahui menyelidiki produksi hidrokarbon
triterpenoid dalam beberapa strain B. braunii termasuk ras Kossou 4 dan Overjuyo 3 di skala
laboratorium. Dari penelitian ini didapatkan bahwa strain tersebut menghasilkan lebih dari 21 %
dari berat keringnya sebagai hidrokarbon C31 C36, yang utamanya terdiri dari triterpenoid.
Beberapa strain B. braunii lainnya telah diselidiki dalam kondisi skala besar dan didapatkan
kelayakan tumbuh B. braunii dalam kondisi skala besar, dengan informasi biomassa, produksi
minyak dan kandungan hidrokarbon. Namun, tidak ada penelitian dari produksi skala besar pada
strain Kossou 4 dan Overjuyo 3 dalam literature ilmiah. Dalam percobaan kami sebelumnya
berdasarkan percobaan laboratorium, strain Race B Kossou 4 dan Overjuyo 3 memproduksi
biomassa substansial ketika tumbuh pada BG11 modifikasi dan dengan kondisi lingkungan
tersebut berhasil memproduksi triterpene (C30 C34). Untuk mengetahui apakah kondisi
pertumbuhan ini cocok untuk biomassa dan produksi hidrokarbon komersial (termasuk tes
khusus triterpene) untuk kedua strain diselidiki dalam kondisi yang lebih besar dengan percobaan
partama pada 500L. Tujuan penelitian ini untuk menilai kelayakan budidaya skala besar B.
braunii Kossou 4 dan Overjuyo 3 pada tangki sirkuler terbuka (bioreactor) dibawah cahaya
buatan, menentukan hasil dari produksi triterpenoid serta biomassa dan minyak selama
prosesnya.
Bahan dan Metode
Asal Mikroalga dan Media Tumbuh
B. braunii yang digunakan berasal dari dua strain Race B, Kossou 4 dan Overjuyo 3.
Tiap strain didapatkan dari Universitas Flinders dan koleksi original dari Pierre Metzgers.

Media yang digunakan yaitu modifikasi BG11 yang telah dikurangi konsentrasi sodium nitrat
(NaNO3) dari 1,5 menjadi 0,75 g/L.
Inokulasi Pada Tangki dan Kondisi Kultur
Dalam kultur percobaan menggunakan dua tangki sirkular terbuka dari fiberglass (tinggi
83 cm, diameter 143 cm dengan kapasitas 500L), dengan tangki yang berbeda untuk tiap strain.
Ditambahkan lima liter konsentrat media modifikasi BG11 kedalam 495 L air tawar.
Ditambahkan alikuot (2,5 L) dari Kossou 4 yang berhubungan dengan 0,4 g/L (berat kering)
kultur mikroalga sebagai inoculum. Selanjutnya pada tangki lainnya ditambahkan alikuot
Overjuyo 3 yang tersusun oleh 5L media BG11 modifikasi yang mengandung 0,04 mg kultur.
Kultur tersebut diinkubasi selama 60 hari dengan pasokan udara dari aerasi secara terus menerus
pada tingkatan 18,1747 M3/Min untuk memastikan pencampuran dalam tangki tetap terjadi.
Intensitas cahaya sebesar 54 mol foton m-2s-1. Suhu dipertahankan oleh thermostat pada kisaran
24,8 25,5 C.
Perhitungan Produksi Biomassa
Aliquot (10mL) dari masing masing larutan sampel diambil (tiga pengulangan) dan
disaring menggunakan Filter Milipore (45 m, 47 mm) dari berat yang telah ditentukan melaui
pompa vakum standar setiap 10 hari. Hasilnya nilai tersebut dinyatakan dalam presentase berat
kering.
Ekstraksi Minyak dan Analisis
Untuk mengekstrak minyak dari B. braunii strain Kossou 4 dan Overjuyo 3
menggunakan metode yang dijelaskan oleh Sawayama et al. Sampel yang direplikasi di evaluasi
dan diukur kandungan minyaknya dengan gravimetric. Komposisi minyak dianalisis dengan
menggunakan Mass spektometri gas kromatografi (GC/MC) menggunakan Agilent
Technologies 5975C mass spectrometer inert XLE/CI MSD dengan pendeteksi tiga lengan
menggunakan Agile Technologies 7890 A GC System Gas Chromatography dan 7683B
Autosampler 7890A (Agile Technologies Inc., Forest Hill, Australia). Standar hidrokarbon yang
sesuai dipersiapkan untuk kalibrasi dan identifikasi puncaknya. Hidrokarbon tripertenoid
diidentifikasi sebagai fraksi C30 34. Kandungan total minyak dan hidrokarbon terpenoid
dinyatakan sebagai g/L dan presentase berat kering.

Analisis Statistik
ANOVA digunakan untuk mengetahui perbedaan pertumbuhan pada masing masing
tingkatan dan perbedaan waktu (dari tiga ulangan sampel) unutk setiap strain B. braunii. Nilai p
0,05 atau kurang dianggap sebagai nilai yang signifikaan secara statistic. Tes ini digunnakan pula
untuk setiap pengukuran biomassa.
Hasil
Pertumbuhan Mikroalga dan Estimasi Biomassa
Pertumbuhan maksimum dengan pengukuran berat kering didapat setelah hari ke 40
dengan strain Overjuyo 3 menghasilkan lebih banyak biomassa (3,05 g/L) daripada Kossou 4
(2,55 g/L) (gambar 1). Kedua strain tumbuh dengan sukses pada tangka terbuka selama 60 hari
sampai panen dilakukan.
Kontaminasi dipantau menggunakan mikroskop dengan interval setiap 10 hari dengan
tidak adanya kontaminasi bakteri substansial yang diamati. Setelah hari ke 40, terdapat
pengukuran berat kering kedua strain meskipun tidak signifikan secara statistik (p>0,05).
Analisis statistik dengan ANOVA pada kedua strain menunjukkan peningkatan signifikan dalam
biomassa antara hari 10, 20 dan 40 (p<0,05).

Gambar 1. Pertumbuhan berat kering (g/L) dari strain B. braunii Kossou 4 (garis biru) dan
Overjuyo 3 (garis merah) pada skala besar dengan 500L menggunakan media BG11 modifikasi
selama 60 hari.

Berat Minyak (g/L)


Pada hari ke 40, dilakukan ekstraksi total minyak dengan n heksana pada kultur Kossou
4 pada media modifikasi BG11 pada tangki sirkular dengan berat 0,751 g/L (0.023) yang
mewakili 29% berat total sel kering (gambar 2a). Untuk Overjuyo 3 total minyak yang
diekstraksi sedikit lebih rendah 0,631 g/L (0.162) yang berhubungan dengan 20% dari biomassa
(gambar 2 a, d) ANOVA untuk nilai berat minyak pada hari ke 40 diandingkan dengan hari ke 10
dan 20 menunjukkan peningkatan signifikan untuk kedua Kossou 4 dan Overjuyo 3 (p<0,01).
Produksi Hidrokarbon Triterpenoid
Total produksi triterpenoid hidrokarbon (C30 C34) dalam minyak yang diekstraksi pada
hari ke 40 dalam skala besar dengan kultur Kossou 4 mencapai 50% dari berat kering minyak
(gambar 2c). Sedangkan strain Overjuyo 3 menunjukkan produksi triterpenoid total 29% dari
berat kering (gambar 2c). hasil ANOVA unutk nilai hidrokarbon triterpenoid menunjukkan
perbedaan signifikan antara Kossou 4 dan Overjuyo 3 pada hari ke 40 (p<0,05).
Diskusi
B. braunii merupakan spesies alga yang menunjukkan potensi besar sebagai sumber
bahan kimia bernilai tinggi seperti hidrokarbon triterpenoid (terutama terdiri dari squalene dan
botryococcene). Untuk mewujudkan potensi tersebut penting dilakukan penyelidikan apakah
strain B. braunii dapat menghasilkan hasil yang tinggi dari biomassa dan hidrokarbon
triterpenoid dalam skala besar. Selama ini belum ada penelitian mengenai hal tersebut. Penelitian
ini meneliti beberapa aspek (metode pengukuran biomassa dan budidaya skala besar) dalam dua
strain yang menunjukkan potensi komersial pada Kossou 4 dan Overjuyo 3.

Gambar 2. Berat minyak (g/L) (a) dan dinyatakan sebagai persentase (b) dalam strain B. braunii
Kossou 4 (K-4) dan Overjuyo 3 (O-3) yang tumbuh pada 500L media BG11 modifikasi
setelah 40 hari.
Pertumbuhan pada skala besar (500L) dalam media BG11 modifikasi hingga hari ke 60
mengungkapkan bahwa berat kering maksimum diperoleh pada hari 40 untuk keduanya yaitu
Kossou (2,55 g/L) dan Overjuyo - (3,01 g/L). biomassa pada hari ke 15 yaitu 1,5 g/L untuk
Overjuyo 3 dan 0,9 g/L untuk Kossou 4 dan 3,05 dan 2,55 g/L untuk Overjuyo 3 dan
Kossou 4, masing masing pada hari ke 40. pada hari ke 25, didapatkan 2,26 g/L untuk

Overjuyo 3 dan 1,49 g/L untuk Kossou 4 dimana Overjuyo -3 lebih tinggi 2 g/L
dibandingkan dari hasil Rangga Rao et al. Tidak ada kontaminasi yang menghawatirkan selama
60 hari dalam tangka terbuka. Studi skala besar telah dilaporkan untuk strain B. braunii lainnya
(bukan strain yang digunakan dalam studi ini) oleh penulis lain. Namun, studi ini dulakukan
dalam periode waktu pendek dan tidak mengevaluasi tingginya nilai produksi dari triterpenoid
sebagai fokus dalam studi. Hasil hidrokarbon triterpenoid pada Overjuyo 3 adalah 29,5 %
merupakan lebih tinggi dari 24,97% dari hasil Li et al. dalam studi laboratorium. Alasan kenikan
ini disebabkan perbedaan dalam kondisi pertumbuhan, media kultur dan waktu budidaya.
Berkaitan dengan produksi total minyak, Kossou 4 memproduksi 29% (w/w) minyak
dibandingkan dengan 20% (w/w) untuk Overjuyo 3. Nilai ini secara luas konsisten dengan
percobaan skala kecil yang telah dilakukan sebelumnya, serta pertumbuhan strain ini dalam
kondisi skala besar dapat mempertahankan hasil yang tinggi serta hasil minyak triterpenoid juga
tinggi. Jika dibandingkan dengan studi skala besar lainnya, hasil penelitian ini jauh lebih tinggi.
Dalam hal hidrokarbon, Dayananda et al melaprkan kandungan hidrokarbon 0,0063 g/L dalam
18 hari. Sedangkan penelitian Ashokkumar dan Rengasamy, biomassa kering mengandung 11 %
hidrokarbon namun data hanya tersedia unutk C15 C17 dari Race A. sedangkan Rangga Rao et
al (2012) melaporkan totalhidrokarbon 28 % (w/w) dengan konten C30 menjadi 20,32 28, 41
% dari total kandungan hidrokarbon. Hal tersebut sedikit lebih rendah dari 29% kandungan
minyak dan 50% dari C30 C34 (kandungan minyak) yang diproduksi oleh Kossou 4 dalam
penelitian ini.
Kesimpulan
Strain B. braunii Overjuyo 3 dan Kossou 4 dikultur pada 25 C pada tangki sirkular
terbuka bervolume 500L dibawah pencahayaan buatan dengan media BG11 modifikasi selama
60 hari. Produksi minyak lebih besar terjadi pada strain Kossou 4 (0,75 g/L), dengan 50%
triterpenoid hidrokarbon dibandingkan degan 0,63 g/L dengan 29% hidrokarbon triterpenoid
unutk Overjuyo 3. Penelitian ini menunjukkan bahwa produksi skala besar hidrokarbon
triterpenoid bernilai tinggi dan layak untuk aplikasi komersial dengan strain Kossou 4.