Anda di halaman 1dari 6

J U M A T, 2 1 D E S E M B E R 2 0 0 7

Proses Pembuatan Bioetanol


Singkong diolah menjadi bioetanol, pengganti premium. Menurut Dr Ir Tatang H Soerawidjaja, dari
Tcknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), singkong salah satu sumber pati. Pati senyawa
karbohidrat kompleks. Sebelum difermentasi, pati diubah menjadi glukosa, karbohidrat yang lebih
sederhana. Untuk mengurai pati, perlu bantuan cendawan Aspergillus sp. Cendawan itu
menghasilkan enzim alfamilase dan gliikoamilase yang berperan mengurai pati menjadi glukosa alias
gula sederhana. Setelah menjadi gula, bam difermentasi menjadi etanol.
Lalu bagaimana cara mengolah singkong menjadi etanol? Berikut Langkah-langkah pembuatan
bioetanol berbahan singkong yang dilerapkan Tatang H Soerawidjaja. Pengolahan berikut ini
berkapasitas 10 liter per hari.
1.

Kupas 125 kg singkong segar, semua jenis dapal dimanfaatkan. Bersihkan dan cacah
berukuran kecil-kecil.

2. Keringkan singkong yang telah dicacah hingga kadar air maksimal 16%. Persis singkong yang
dikeringkan menjadi gaplek. Tujuannya agar lebih awet sehingga produsen dapat menyimpan
sebagai cadangan bahan baku
3. Masukkan 25 kg gaplek ke dalam tangki stainless si eel berkapasitas 120 liter, lalu tambahkan
air hingga mencapai volume 100 liter. Panaskan gaplek hingga 100"C selama 0,5 jam. Aduk
rebusan gaplek sampai menjadi bubur dan mengental.
4. Dinginkan bubur gaplek, lalu masukkan ke dalam langki sakarifikasi. Sakarifikasi adalah
proses penguraian pati menjadi glukosa. Setelah dingin, masukkan cendawan Aspergillus
yang akan memecah pati menjadi glukosa. Untuk menguraikan 100 liter bubur pati singkong.
perlu 10 liter larutan cendawan Aspergillus atau 10% dari total bubur. Konsentrasi cendawan
mencapai 100-juta sel/ml. Sebclum digunakan, Aspergilhis dikuhurkan pada bubur gaplek
yang telah dimasak tadi agar adaptif dengan sifat kimia bubur gaplek. Cendawan berkembang
biak dan bekerja mengurai pati
5.

Dua jam kemudian, bubur gaplek berubah menjadi 2 lapisan: air dan endapan gula. Aduk
kembali pati yang sudah menjadi gula itu, lalu masukkan ke dalam tangki fermentasi. Namun,
sebelum difermentasi pastikan kadar gula larutan pati maksimal 1718%. Itu adalah kadar
gula maksimum yang disukai bakteri Saccharomyces unluk hidup dan bekerja mengurai gula
menjadi alkohol. Jika kadar gula lebth tinggi, tambahkan air hingga mencapai kadar yang
diinginkan. Bila sebaliknya, tambahkan larutan gula pasir agar mencapai kadar gula
maksimum.

6. Tutup rapat tangki fermentasi untuk mencegah kontaminasi dan Saccharomyces bekerja
mengurai glukosa lebih optimal. Fermentasi berlangsung anaerob alias tidak membutuhkan
oksigen. Agar fermentasi optimal, jaga suhu pada 2832"C dan pH 4,55,5.
7.

Setelah 23 hari, larutan pati berubah menjadi 3 lapisan. Lapisan terbawah berupa endapan
protein. Di atasnya air, dan etanol. Hasil fermentasi itu disebut bir yang mengandung 612%
etanol

8. Sedot larutan etanol dengan selang plastik melalui kertas saring berukuran 1 mikron untuk
menyaring endapan protein.

9. Meski telah disaring, etanol masih bercampurair. Untuk memisahkannya, lakukan destilasi
atau penyulingan. Panaskan campuran air dan etanol pada suhu 78"C atau setara titik didih
etanol. Pada suhu itu etanol lebih dulu menguap ketimbang air yang bertitik didih 100C. Uap
etanol dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan kembali menjadi
etanol cair.
10. Hasil penyulingan berupa 95% etanol dan tidak dapat larut dalam bensin. Agar larul,
diperlukan etanol berkadar 99% atau disebut etanol kering. Oleh sebab itu, perlu destilasi
absorbent. Etanol 95% itu dipanaskan 100"C. Pada suhu ilu, etanol dan air menguap. Uap
keduanya kemudian dilewatkan ke dalam pipa yang dindingnya berlapis zeolit atau pati.
Zeolit akan menyerap kadar air tersisa hingga diperoleh etanol 99% yang siap dieampur
denganbensin. Sepuluh liter etanol 99%, membutuhkan 120 130 lifer bir yang dihasilkan
dari 25 kg gaplek

MACAM-MACAM BIOETANOL
PROSES PRODUKSI BIOETANOL
Kumpulan Artikel - 113 - Energi Lain-lain
E-mail Cetak PDF
Seiring dengan menipisnya cadangan energi BBM, jagung menjadi alternatif
yang penting sebagai bahan baku pembuatan ethanol (bahan pencampur BBM).
Karenanya, kebutuhan terhadap komoditas ini pada masa mendatang
diperkirakan mengalami peningkatan yang signifikan. Bioetanol (C2H5OH)
adalah cairan biokimia dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat
menggunakan bantuan mikroorganisme
Gasohol campuran bioetanol kering/absolut terdena-turasi dan bensin pada
kadar alkohol s/d sekitar 22 %-volume.
Istilah bioetanol identik dengan bahan bakar murni. BEX gasohol berkadar
bioetanol X %-volume.
Bahan Baku
Nira bergula (sukrosa): nira tebu, nira nipah, nira sorgum manis, nira kelapa, nira
aren, nira siwalan, sari-buah mete
Bahan berpati: a.l. tepung-tepung sorgum biji (jagung cantel), sagu,
singkong/gaplek, ubi jalar, ganyong, garut, umbi dahlia.
Bahan berselulosa ( lignoselulosa):kayu, jerami, batang pisang, bagas, dll.
Sekarang belum ekonomis, teknologi proses yang efektif diperkirakan akan
komersial pada dekade ini !
Pemanfaatan Bioetanol
Sebagai bahan bakar substitusi BBM pada motor berbahan bakar bensin;
digunakan dalam bentuk neat 100% (B100) atau diblending dengan premium
(EXX)

Gasohol s/d E10 bisa digunakan langsung pada mobil bensin biasa (tanpa
mengharuskan mesin dimodifikasi).
Sumber Karbohidrat
Liter/ton

Liter/ha/th

Singkong

25 (236)

Tetes 3,6

270

Sorgum Bici 6

180 (155)

Perolehan Alkohol

4500 (3658)

973
333,4 2000

Ubi Jalar

62,5* 125

Sagu 6,8$

608

4133

Tebu 75

67

5025

Nipah 27

93

2500

Sorgum Manis

Hasil Panen Ton/ha/th

80**

7812

75

6000

*) Panen 2 kali/th; $ sagu kering; ** panen 2 kali/th. Sumber: Villanueva


(1981); kecuali sagu, dari Colmes dan Newcombe (1980); sorgum manis, dari
Raveendram; dan Deptan (2006) untuk singkong; tetes dan sorgum biji (tulisan
baru)
Teknologi Pengolahan Bioetanol
Teknologi produksi bioethanol berikut ini diasumsikan menggunakan jagung
sebagai bahan baku, tetapi tidak menutup kemungkinan digunakannya biomassa
yang lain, terutama molase.
Secara umum, produksi bioethanol ini mencakup 3 (tiga) rangkaian proses, yaitu:
Persiapan Bahan baku, Fermentasi, dan Pemurnian.
1. Persiapan Bahan Baku
Bahan baku untuk produksi biethanol bisa didapatkan dari berbagai tanaman,
baik yang secara langsung menghasilkan gula sederhana semisal Tebu
(sugarcane), gandum manis (sweet sorghum) atau yang menghasilkan tepung
seperti jagung (corn), singkong (cassava) dan gandum (grain sorghum)
disamping bahan lainnya.
Persiapan bahan baku beragam bergantung pada bahan bakunya, tetapi secara
umum terbagi menjadi beberapa proses, yaitu:
Tebu dan Gandum manis harus digiling untuk mengektrak gula
Tepung dan material selulosa harus dihancurkan untuk memecahkan susunan
tepungnya agar bisa berinteraksi dengan air secara baik

Pemasakan, Tepung dikonversi menjadi gula melalui proses pemecahan menjadi


gula kompleks (liquefaction) dan sakarifikasi (Saccharification) dengan
penambahan air, enzyme serta panas (enzim hidrolisis). Pemilihan jenis enzim
sangat bergantung terhadap supplier untuk menentukan pengontrolan proses
pemasakan.
Tahap Liquefaction memerlukan penanganan sebagai berikut:
Pencampuran dengan air secara merata hingga menjadi bubur
Pengaturan pH agar sesuai dengan kondisi kerja enzim
Penambahan enzim (alpha-amilase) dengan perbandingan yang tepat
Pemanasan bubur hingga kisaran 80 sd 90 C, dimana tepung-tepung yang bebas
akan mengalami gelatinasi (mengental seperti Jelly) seiring dengan kenaikan
suhu, sampai suhu optimum enzim bekerja memecahkan struktur tepung secara
kimiawi menjadi gula komplek (dextrin). Proses Liquefaction selesai ditandai
dengan parameter dimana bubur yang diproses menjadi lebih cair seperti sup.
Tahap sakarifikasi (pemecahan gula kompleks menjadi gula sederhana)
melibatkan proses sebagai berikut:
Pendinginan bubur sampai suhu optimum enzim sakarifikasi bekerja
Pengaturan pH optimum enzim
Penambahan enzim (glukoamilase) secara tepat
Mempertahankan pH dan temperature pada rentang 50 sd 60 C sampai proses
sakarifikasi selesai (dilakukan dengan pengetesan gula sederhana yang
dihasilkan)
2. Fermentasi
Pada tahap ini, tepung telah sampai pada titik telah berubah menjadi gula
sederhana (glukosa dan sebagian fruktosa) dimana proses selanjutnya
melibatkan penambahan enzim yang diletakkan pada ragi (yeast) agar dapat
bekerja pada suhu optimum. Proses fermentasi ini akan menghasilkan etanol dan
CO2.
Bubur kemudian dialirkan kedalam tangki fermentasi dan didinginkan pada suhu
optimum kisaran 27 sd 32 C, dan membutuhkan ketelitian agar tidak
terkontaminasi oleh mikroba lainnya. Karena itu keseluruhan rangkaian proses
dari liquefaction, sakarifikasi dan fermentasi haruslah dilakukan pada kondisi
bebas kontaminan.
Selanjutnya ragi akan menghasilkan ethanol sampai kandungan etanol dalam
tangki mencapai 8 sd 12 % (biasa disebut dengan cairan beer), dan selanjutnya
ragi tersebut akan menjadi tidak aktif, karena kelebihan etanol akan berakibat
racun bagi ragi.

Dan tahap selanjutnya yang dilakukan adalah destilasi, namun sebelum destilasi
perlu dilakukan pemisahan padatan-cairan, untuk menghindari terjadinya
clogging selama proses distilasi.
3. Pemurnian / Distilasi
Distilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dari beer (sebagian besar adalah air
dan etanol). Titik didih etanol murni adalah 78 C sedangkan air adalah 100 C
(Kondisi standar). Dengan memanaskan larutan pada suhu rentang 78 - 100 C
akan mengakibatkan sebagian besar etanol menguap, dan melalui unit
kondensasi akan bisa dihasilkan etanol dengan konsentrasi 95 % volume.
Prosentase Penggunaan Energy
Prosentase perkiraan penggunaan energi panas/steam dan listrik diuraikan
dalam tabel berikut ini:
Prosentase Penggunaan Energi
Identifikasi

Proses Steam

Listrik

Penerimaan bahan baku, penyimpanan, dan penggilingan 0 %


Pemasakan (liquefaction) dan Sakarifikasi
Produksi Enzim Amilase

30.5 %

6.1 %

2.6 %

0.7 % 20.4 %

Fermentasi 0.2 % 4 %
Distilasi

58.5 %

1.6 %

Etanol Dehidrasi (jika ada)

6.4 % 27.1 %

Penyimpanan Produk

0.7 %

0%

Utilitas

2.7 % 27 %>

Bangunan

1 %> 0.5 %

TOTAL100 %100 %
Sumber: A Guide to Commercial-Scale Ethanol Production and Financing, Solar
Energy Research Institute (SERI), 1617 Cole Boulevard, Golden, CO 80401
Peralatan Proses
Adapun rangkaian peralatan proses adalah sebagai berikut:
Peralatan penggilingan
Pemasak, termasuk support, pengaduk dan motor, steam line dan insulasi
External Heat Exchanger

Pemisah padatan - cairan (Solid Liquid Separators)


Tangki Penampung Bubur
Unit Fermentasi (Fermentor) dengan pengaduk serta motor
Unit Distilasi, termasuk pompa, heat exchanger dan alat kontrol
Boiler, termasuk system feed water dan softener
Tangki Penyimpan sisa, termasuk fitting
Diposkan oleh yori ade di 11.27
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter