Anda di halaman 1dari 13

A.

Pengertian Luka Bakar


Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau hilangnya jaringan yang disebabkan
kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi. Luka
bakar merupakan salah satu jenis trauma yang mempunyai angka morbiditas dan mortalitas
tinggi yang memerlukan penatalaksanaan khusus sejak awal (fase syok ) sampai fase lanjut.
Luka bakar merupakan ruda paksa yang disebakan oleh tehnis. Kerusakan yang terjadi
pada penderita tidak hanya mengenai kulit saja, tetapi juga organ lain. Penyebab ruda paksa
tehnis

ini

berupa

api,

air,

panas,

listrik,

bahkan

kimia

radiasi,

dll.

Luka bakar adalah suatu keadaan dimana integritas kulit atau mukosa terputus akibat
trauma api, air panas, uap metal, panas, zat kimia dan listrik atau radiasi.
Luka bakar adalah luka yang disebabkan kontak dengan suhu tinggi seperti api, air panas,
bahkan kimia dan radiasi, juga sebab kontak dengan suhu rendah (frosh bite). (Mansjoer 2000
: 365)

B.Klasifikasi Beratnya Luka Bakar


a. Kedalaman luka bakar
Kedalaman luka bakar dapat dibagi ke dalam 4 kategori (lihat tabel 3) yang didasarkan pada
elemen kulit yang rusak.
i. Superficial (derajat I), dengan ciri-ciri sbb:
Hanya mengenai lapisan epidermis.
Luka tampak pink cerah sampai merah (eritema ringan sampai berat).
Kulit memucat bila ditekan.
Edema minimal.
Kulit hangat/kering.
Nyeri / hyperethetic
Nyeri berkurang dengan pendinginan.
Discomfort berakhir kira-kira dalam waktu 48 jam.
Dapat sembuh spontan dalam 3-7 hari.
ii. Partial thickness (derajat II), dengan ciri sbb.:
Partial tihckness dikelompokan menjadi 2, yaitu superpicial partial thickness dan deep partial
thickness.
Mengenai epidermis dan dermis.

Luka tampak merah sampai pink


Terbentuk blister
Edema
Nyeri
Sensitif terhadap udara dingin
Penyembuhan luka :
Superficial partial thickness : 14 - 21 hari
Deep partial thickness : 21 - 28 hari
(Namun demikian penyembuhannya bervariasi tergantung dari kedalaman dan ada tidaknya
infeksi).
iii. Full thickness (derajat III)
Mengenai semua lapisan kulit, lemak subcutan dan dapat juga mengenai permukaan otot, dan
persarafan dan pembuluh darah.
Luka tampak bervariasi dari berwarna putih, merah sampai dengan coklat atau hitam.
Tanpa ada blister.
Permukaan luka kering dengan tektur kasar/keras.
tidak ada rasa nyeri.
Tidak mungkin terjadi penyembuhan luka secara spontan.
Memerlukan skin graft.
iv. Fourth degree (derajat IV)
Mengenai semua lapisan kulit, otot dan tulang.

b.luas luka bakar

Wallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama rule of
nine atua rule of wallace yaitu:

Kepala dan leher : 9%


Lengan masing-masing 9% : 18%
Badan depan 18%, badan belakang 18% : 36%
Tungkai maisng-masing 18% : 36%
Genetalia/perineum : 1%
Total : 100%

Terdapat beberapa metode untuk menentukan luas luka bakar meliputi (1) rule of nine, (2)
Lund and Browder, dan (3) hand palm. Ukuran luka bakar dapat ditentukan dengan
menggunakan salah satu dari metode tersebut. Ukuran luka bakar ditentukan dengan
prosentase dari permukaan tubuh yang terkena luka bakar. Akurasi dari perhitungan
bervariasi menurut metode yang digunakan dan pengalaman seseorang dalam menentukan
luas luka bakar.
Metode rule of nine mulai diperkenalkan sejak tahun 1940-an sebagai suatu alat pengkajian
yang cepat untuk menentukan perkiraan ukuran / luas luka bakar. Dasar dari metode ini
adalah bahwa tubuh di bagi kedalam bagian-bagian anatomic, dimana setiap bagian mewakili
9 % kecuali daerah genitalia 1 % (lihat gambar 1).
Pada metode Lund and Browder merupakan modifikasi dari persentasi bagian-bagian tubuh
menurut usia, yang dapat memberikan perhitungan yang lebih akurat tentang luas luka bakar.
Selain dari kedua metode tersebut di atas, dapat juga digunakan cara lainnya yaitu
mengunakan metode hand palm. Metode ini adalah cara menentukan luas atau persentasi luka
bakar dengan menggunakan telapak tangan. Satu telapak tangan mewakili 1 % dari
permukaan tubuh yang mengalami luka bakar.

b. Lokasi luka bakar (bagian tubuh yang terkena)

Berat ringannya luka bakar dipengaruhi pula oleh lokasi luka bakar. Luka bakar yang
mengenai kepala, leher dan dada seringkali berkaitan dengan komplikasi pulmoner. Luka
bakar yang menganai wajah seringkali menyebabkan abrasi kornea. Luka bakar yang
mengenai lengan dan persendian seringkali membutuhkan terapi fisik dan occupasi dan dapat
menimbulkan implikasi terhadap kehilangan waktu bekerja dan atau ketidakmampuan untuk
bekerja secara permanen. Luka bakar yang mengenai daerah perineal dapat terkontaminasi
oleh urine atau feces. Sedangkan luka bakar yang mengenai daerah torak dapat menyebabkan
tidak adekwatnya ekspansi dinding dada dan terjadinya insufisiensi pulmoner.
c. Kesehatan umum
Adanya kelemahan jantung, penyakit pulmoner, endocrin dan penyakit-penyakit ginjal,
khususnya diabetes, insufisiensi kardiopulmoner, alkoholisme dan gagal ginjal, harus
diobservasi karena semua itu akan mempengaruhi respon klien terhadap injuri dan
penanganannya.
Angka kematian pada klien yang memiliki penyakit jantung adalah 3,5 - 4 kali lebih tinggi
dibandingkan klien luka bakar yang tidak menderita penyakit jantung. Demikian pula klien
luka bakar yang juga alkolism 3 kali lebih tinggi angka kematiannya dibandingkan klien luka
bakar yang nonalkoholism. Disamping itu juga klien alkoholism yang terkena luka bakar
masa hidupnya akan lebih lama berada di rumah sakit, artinya penderita luka bakar yang juga
alkoholism akan lebih lama hari rawatnya di rumah sakit.
d. Mekanisme injuri
Mekanisme injury merupakan faktor lain yang digunakan untuk menentukan berat ringannya
luka bakar. Secra umum luka bakar yang juga mengalami injuri inhalasi memerlukan
perhatian khusus.
Pada luka bakar elektrik, panas yang dihantarkan melalui tubuh, mengakibatkan kerusakan
jaringan internal. Injury pada kulit mungkin tidak begitu berarti akan tetapi kerusakan otot
dan jaringan lunak lainnya dapat terjad lebih luas, khususnya bila injury elektrik dengan

voltage tinggi. Oleh karena itu voltage, tipe arus (direct atau alternating), tempat kontak, dan
lamanya kontak adalah sangat penting untuk diketahui dan diperhatikan karena dapat
mempengaruhi morbiditi.
Alternating current (AC) lebih berbahaya dari pada direct current (DC). Ini seringkali
berhubungan dengan terjadinya kardiac arrest (henti jantung), fibrilasi ventrikel, kontraksi
otot tetani, dan fraktur kompresi tulang-tulang panjang atau vertebra.
Pada luka bakar karena zat kimia keracunan sistemik akibat absorbsi oleh kulit dapat terjadi.
e. Usia
Usia klien mempengaruhi berat ringannya luka bakar. Angka kematiannya (Mortality rate)
cukup tinggi pada anak yang berusia kurang dari 4 tahun, terutama pada kelompok usia 0-1
tahun dan klien yang berusia di atas 65 th.
Tingginya statistik mortalitas dan morbiditas pada orang tua yang terkena luka bakar
merupakan akibat kombinasi dari berbagai gangguan fungsional (seperti lambatnya bereaksi,
gangguan dalam menilai, dan menurunnya kemampuan mobilitas), hidup sendiri, dan bahayabahaya lingkungan lainnya. Disamping itu juga mereka lebih rentan terhadap injury luka
bakar karena kulitnya menjadi lebih tipis, dan terjadi athropi pada bagian-bagian kulit lain.
Sehingga situasi seperti ketika mandi dan memasak dapat menyebabkan terjadinya luka
bakar.
i. Kategori berat luka bakar menurut ABA
Perkumpulan Luka Bakar America (American Burn Asociation/ABA) mempublikasikan
petunjuk tentang klasifikasi beratnya luka bakar. Perkumpulan itu mengklasifikasikan
beratnya luka bakar ke dalam 3 kategori, dengan petunjuknya seperti tampak dalam tabel
berikut :
Luka Bakar Berat
o 25 % pada orang dewasa
o 25 % pada anak dengan usia kurang dari 10 tahun
o 20 % pada orang dewasa dengan usia lebih dari 40 tahun
o Luka mengenai wajah, mata, telinga, lengan, kaki, dan perineum yang
o mengakibatkan gangguan fungsional atau kosmetik atau menimbulkan disabiliti.
o LB karena listrik voltage tinggi
o Semua LB dengan yang disertai injuri inhalasi atau truma yang berat.

Luka Bakar Sedang


o 15-25 % mengenai orang dewasa
o 10-20 % pada anak usia kurang dari 10 tahun
o 10-20 % pada orang dewasa usia lebih dari 40 tahun
Luka Bakar Ringan
o <>< 10 th
o <>> 40 th
o Tidak ada resiko gangguan kosmetik atau fungsional atau disabiliti.
I.

Macam cairan infus

1. Cairan hipotonik
Adalah cairan infuse yang osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum
(konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan
menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan ditarik dari dalam pembuluh darah keluar ke
jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi),
sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel mengalami
dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada pasien
hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik.
Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh
darah ke sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial
(dalam otak) pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.
2. Cairan Isotonik.
Adalah cairan infuse yang osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum
(bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah.
Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga
tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan),
khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan
Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).
3. Cairan hipertonik
Adalah cairan infus yang osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga
menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu
menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak).
Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45%

hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah),


dan albumin.
Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya :
1.

Kristaloid: bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan (volume
expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat, dan berguna pada pasien
yang memerlukan cairan segera. Misalnya Ringer-Laktat dan garam fisiologis.

2. Koloid: ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar dari
membran kapiler, dan tetap berada dalam pembuluh darah, maka sifatnya hipertonik, dan
dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah. Contohnya adalah albumin dan steroid.
Cairan yang digunakan dalam terapi Cairan yang sering digunakan ialah cairan elektrolit
(kristaloid) cairan non-elektrolit, dan cairan koloid. Cairan elektrolit (kristaloid) :
Sesuai dengan penggunaannya dapat dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu untuk
pemeliharaan, pengganti dan tujuan khusus. Cairan pemeliharaan (rumatan) :
Tujuannya adalah untuk mengganti kehilangan air tubuh lewat urin, feses, paru dan keringat.
Jumlah kehilangan air tubuh ini berbeda sesuai dengan umur, yaitu:
Dewasa : 1,5 2 ml/kg/jam
Anak-anak : 2 4 ml/kg/jam
Bayi : 4 6 ml/kg/jam
Orok (neonatus) : 3 ml/kg/jam
Mengingat cairan yang hilang dengan cara ini sedikit sekali mengandung elektrolit, maka
sebagai cairan pengganti adalah hipotonik, dengan perhatian khusus untuk natrium. Cairan
kristaloid untuk pemeliharaan misalnya dekstrosa 5% dalam NaCl 0,45% (D5NaCl 0,45).
Sediaan Cairan Pemeliharaan (rumatan) Cairan pengganti : Tujuannya adalah untuk
mengganti kehilangan air tubuh yang disebabkan oleh sekuestrasi atau proses patologi yang
lain (misalnya fistula, efusi pleura, asites drainase lambung dsb). Sebagai cairan pengganti
untuk tujuan ini digunakan cairan isotonis, dengan perhatian khusus untuk konsentrasi
natrium, misalnya dekstrose 5 % dalam ringer laktat (D5RL), NaCl 0,9 %, D5 NaCl. Sediaan
Cairan Pengganti Cairan untuk tujuan khusus (koreksi): Yang dimaksud adalah cairan
kristaloid yang digunakan khusus, misalnya natrium bikarbonat 7,5 %, NaCl 3 %, dll.
Sediaan Cairan Koreksi Cairan non elektrolit : Contoh dekstrose 5 %, 10 %, digunakan untuk
memenuhi kebutuhan air dan kalori, dapat juga digunakan sebagai cairan pemeliharaan.
Cairan koloid : Disebut juga sebagai plasma ekspander, karena memiliki kemampuan besar
dalam mempertahankan volume intra-vaskuler. Contoh cairan ini antara lain : Dekstran,

Haemacel, Albumin, Plasma, Darah. Cairan koloid ini digunakan untuk menggantikan
kehilangan cairan intra-vaskuler.
II.

Infuse darah
Pasang satu atau lebih jalur infus intravena no. 18/16. Infus dengan cepat larutan kristaloid
atau kombinasi larutan kristaloid dan koloid sampai vena (v. jugularis) yang kolaps terisi.
Sementara, bila diduga syok karena perdarahan, ambil contoh darah dan mintakan darah. Bila
telah jelas ada peningkatan isi nadi dan tekanan darah, infus harus dilambatkan. Bahaya infus
yang cepat adalah udem paru, terutama pasien tua. Perhatian harus ditujukan agar jangan
sampai terjadi kelebihan cairan.

III.

RUMUS BAXTER DAN RUMUS LAINNYA


Formula Baxter/Parkland
Parkland berpendapat, bahwa syok yang terjadi pada kasus luka bakar adalah jenis
hipovolemia, yang hanya membutuhkan penggantian cairan (yaitu kristaloid). Penurunan
efektifitas hemoglobin yang terjadi disebabkan perlekatan eritrosit, trombosit, lekosit dan
komponen sel lainnya pada dinding pembuluh darah (endotel). Sementara dijumpai gangguan
permeabilitas kapilar dan terjadi kebocoran plasma, pemberian koloid ini sudah barang tentu
tidak akan efektif bahkan menyebabkan penarikan cairan ke jaringan interstisiel;
menyebabkan akumulasi cairan yang akan sangat sulit ditarik kembali ke rongga
intravaskular. Hal tersebut akan menambah beban jaringan dan menyuburkan reaksi
inflamasi di jaringan; serta menambah beban organ seperti jantung, paru dan ginjal.
Berdasarkan alasan tersebut, maka Parkland hanya memberikan larutan Ringers Lactate
(RL) yang diperkaya dengan elektrolit. Sedangkan koloid/plasma, bila diperlukan, diberikan
setelah sirkulasi mengalami pemulihan (>24-36jam).Menurut Baxter dan Parkland, pada
kondisi syok hipovolemia yang dibutuhkan adalah mengganti cairan; dalam hal ini cairan
vang diperlukan adalah larutan fisiologik (mengandung elektrolit). Oleh karenanya mereka
hanya mengandalkan larutan (RL) untuk resusitasi. Dan ternyata pemberian cairan RL ini
sudah

mencukupi,

bahkan

mengurangi

kebutuhan

akan

transfusi.

Hari pertama, separuh jumlah kebutuhan cairan diberikan dalam delapan jam pertama,
sisanya diberikan dalam enam belas jam kemudian. Jumlah cairan yang diperlukan pada hari
pertama adalah sesuai dengan perhitungan Baxter (4 ml/kgBB), sehingga kebutuhan cairan
resusitasi menurut Parkland adalah: 4ml / kgBB / %LB Ringers lactate dengan pemantauan
jumlah diuresis antara 0,5-l ml/kgBB/jam. Pada hari kedua, jumlah cairan diberikan secara
merata dalam dua puluh empat jam.

10.200 ml
5.100 ml
5.100 ml
0 8 16 24
Resusitasi metode Baxter / Parkland. Separuh jumlah cairan yang diperlukan diberikan dalam
8 jam pertama, sisanya dibagi dalam 16 jam berikutnya.
Beberapa bentuk formula resusitasi lain yang ditemukan sebagaimana telihat pada table
Formula Cairan 24 jam pertama Kristaloid Pada 24 jam kedua Koloid Pada 24 jam kedua
Parkland RL 4 ml / kg / %LB 20-60% estimate plasma volume Pemantauan output urine 30
ml/jam
Evans (Yowler, 2000) Larutan saline 1 ml / kg / %LB, 2000 ml D5W*, dan koloid 1 ml/ kg /
%LB 50% volume cairan 24 jam pertama + 2000 ml D5W 50% volume cairan 24 jam
pertama
Slater (Yowler, 2000) RL 2 L/24 jam + fresh frozen plasma 75 ml/kg/24 jam
Brooke (Yowler, 2000) RL 1.5 ml / kg / %LB, koloid 0.5 ml / kg/ %LB, dan 2000 ml D5W
50% volume cairan 24 jam pertama + 2000 ml D5W 50% volume cairan 24 jam pertama
Modified Brooke RL 2 ml / kg / %LB
MetroHealth
(Cleveland) RL + 50 mEq sodium bicarbonate per liter, 4 ml / kg / %LB lar. Saline, pantau
output urine 1 U fresh frozen plasma untuk tiap liter dari lar. saline yg digunakan + D5W
dibutuhkan untuk hipoglikemia.
Monafo hypertonic
Demling 250 mEq/L saline pantau output urine 30 ml/jam, dextran 40 dalam lar. saline 2
ml/kg/jam untuk 8 jam, RL pantau output urine 30 ml/jam, dan fresh frozen plasma 0.5
ml/jam untuk 18 jam dimulai 8 jam setelah terbakar. 1/3 lar. Saline, pantau output urine
*D5W adalah dextrose 5% dalam air
RUMUSNYA :
1. Total cairan = 4cc x berat badan x luas luka bakar/24 Jam ( dewasa )
2. Total cairan = 2ccxberta badan x luas luka bakar/24jam ( anak anak )
3. Berikan 50% dari total cairan dalam 8 jam pertama, dan sisanya dalam 16 jam berikutnya
Resusitasi cairan Baxter.
Dewasa : Baxter.
RL 4 cc x BB x % LB/24 jam.
Anak: jumlah resusitasi + kebutuhan faal:
RL : Dextran = 17 : 3
2 cc x BB x % LB.
Kebutuhan faal:
(Albumin 25% = gram x 4 cc) 1 cc/mnt.

Anak : Diberi sesuai kebutuhan faal.


Resusitasi cairan pada syok
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, pada kondisi syok resusitasi cairan tidak
berpedoman pada regimen resusitasi cairan berdasarkan formula yang ada.
Syok merupakan suatu kondisi klinik dimana terjadi gangguan sirkulasi, yang
menyebabkan gangguan perfusi dan oksigenasi sel/jaringan. Jumlah cairan yang hilang pada
kondisi syok diperkirakan lebih dari 25% volume cairan tubuh; bila seorang dengan berat
badan 70 kg jumlah cairan tubuhnya adalah 4.900 ml (70% dari berat badan, dibulatkan
menjadi 5.000 ml) mengalami kehilangan 25% volume tersebut (kurang lebih 1.250ml), maka
timbul manifestasi syok.Gangguan perfusi ini menyebabkan sel atau jaringan mengalami
hipoksia dan mungkin berakhir dengan nekrosis; bila hipoksia ini dibiarkan melebihi batas
waktu maksimal ketahanan sel/jaringan (warm-ischaemic time). Waktu ini memang berbeda
untuk setiap sel/jaringan. Diketahui bahwa sel-sel glia hanya dapat bertahan dalam kondisi
hipoksik selama 4 (empat) menit; selanjutnya akan terjadi degenerasi selular yang berakhir
dengan nekrosis sel. Ginjal dapat bertahan selama 8 (delapan) jam dalam kondisi hipoksik
melebihi waktu tersebut akan terjadi degenerasi selular yang berakibat ATN dan berlanjut
menjadi ARF. Masing-masing jaringan tubuh memiliki spesifikasi tertentu dalam hal
ischaemic time ini
Dengan demikian penatalaksanaan syok yang berorientasi pada paradigma ini memerlukan
tindakan resusitasi dalam waktu singkat, memperkecil kemungkinan kerusakan jaringan
sehubungan dengan iscahemic time yang dijelaskan di atas.
Sampai saat ini diyakini jenis cairan yang dapat digunakan untuk melakukan resusitasi
dengan baik adalah kristaloid (RL). Pemberiannya dilakukan dalam waktu cepat,
menggunakan beberapa jalur intravena, bila perlu melalui vascular access (vena seksi dan
sebagainya).
10.200 ml
3.750 ml
2.350 ml
5.100 ml
0 2 8 16 24
Resusitasi pada syok menggunakan cairan kristaloid. Tiga kali defisit cairan yang
menyebabkan syok diberikan dalam 2 jam pertama. Sisa jumlah cairan yang diperhitungkan
menurut metode Baxter/ Parkland diberikan berdasarkan kebutuhan sampai dengan 24 jam.
Jumlah cairan yang diberikan Baxter memberikan pedomannya untuk menggunakan
RL, tanpa risiko kelebihan cairan (overload) atau terjadinya imbalans elektrolit ; 4 ml/kg

berat badan. Namun ternyata dengan dosis ini, pada anak-anak dan orang tua kelebihan cairan
tetap terjadi, sehingga Artz menganjurkan pemberian sejumlah 2 ml/kg berat badan untuk
anak-anak dan 3 ml/kg berat badan untuk orang tua. Kebutuhan cairan meningkat dengan
adanya cedera inhalasi, karena proses inflamasi eksudatif pada mukosa saluran nafas dan
parenkim paru yang menyebabkan kehilangan cairan semakin bertambah . Untuk mengatasi
syok, jumlah cairan yang diberikan adalah tiga kali jumlah cairan yang diperkirakan hilang.
Maka, pada seorang dengan berat badan 70 kg (volume cairan tubuh 4.900m1, dibulatkan
menjadi 5.000 m1) dengan syok (defisit 1.250 ml), jumlah cairan yang dibutuhkan untuk
resusitasi adalah 3.750 m1 ; diberikan dalam waktu kurang dari 8 (delapan) jam (terbaik
dalam 1-2 jam). Selanjutnya, setelah syok teratasi, maka pemberian cairan mengacu kepada
regimen resusitasi cairan berdasarkan formula yang ada. 1
Secara umum, patokan klinik yang dipakai untuk melakukan pemantauan antara lain:
Perbaikan kesadaran (perfusi ke serebral), frekuensi pernafasan dan diuresis (produksi urin
per jam), kadar hemoglobin dan hematokrit, Central Venous Pressure (CVP), dan Pulmonary
Artery Wedge Pressure (PWAP) yang merupakan parameter yang paling akurat dalam
menggambarkan informasi volume cairan intravaskular; berhubungan langsung dengan
tekanan pada arteri pulmonal. Nilai normal <18 mmHg. 1,7
Pemantauan diuresis pada resusitasi
Jumlah urin Keterangan
Syok 0.5 - 1 ml/kgBB/jam Perfusi inadekuat
Hari pertama-kedua 1 - 2 ml/kgBB/jam Sirkulasi stabil
Hari ketiga-keempat 3 - 4 ml/kgBB/jam Fase dieresis
Plasma 1
Sebagian klinikus berpendapat bahwa mendekati 24jam pasca trauma tubuh telah
dapat menanggulangi kebocoran, oleh karenanya cairan apapun yang diberikan akan tetap
berada di rongga intravaskular. Dalam waktu 24-36 jam pasca trauma, plasma expander dapat
diberikan. Namun, sebelum 24 jam, pemberian koloid dianggap tidak efektif karena masih
dijumpai kebocoran kapilar.
Pemberian plasma ini bertujuan mengatasi defisit cairan intravaskular dengan menarik
cairan dari ruang intersisiel (edema). Pemberiannya didasari kebutuhan seperti dapat dilihat
pada
% LukaBakar Kebutuhan Plasma (ml)
Pada BB 70 Kg
20 40 0 500

tabel

40 60 500 1700
60 80 1000 3000
> 80 1500 3500
Pemberian mannitol menjadi alternatif dari larutan hipertonik, bila dijumpai kadar
natrium dalam darah berada pada batas nilai normal. Lebih lanjut disebutkan, bahwa
pemberian mannitol 20% memperbaiki perfusi ke tubulus ginjal. Berdasarkan fakta ini,
pemberiannya dimungkinkan untuk dapat diberikan dalam 24 jam pertama.
Glukosa 5% 2.000 ml Lini Pertama
Plasma 500 ml Glukosa 5% 1.500 ml
Larutan Salin hipertonik 3% atau 6% 500-2.000 ml Lini Kedua
Glukosa 5% 1.500 ml
Tabel Pemberian cairan pada hari kedua memperhitungkan kebutuhan energi,
meskipun hanya mengandalkan glukosa 5%. Pada beberapa keadaan diperlukan jenis cairan
khusus, seperti plasma, larutan hipertonik atau mannitol 20%. Pemberiannya dikombinasi
dengan glukosa; dengan memperhitungkan kebutuhannya.
IV.

Pemantauan yang perlu dilakukan


P e m a n t a u a n b e r t u j u a n m e n i l a i s i r k u l a s i s e n t r a l , C e n t r a l Ven o u s
P r e s s u r e diupayakan minimal berkisar 6-12cmH2O dan pemantauan sirkulasi
perifer yaitu sirkulasi renal, jumlah produksi urin dipantau melalui kateter : Saat
resusitasi

0.5-1 m l / k g B B / j a m ,

ml/kgBB/jam.

Bila

produksi

kemudian

hari

1-2

1-2

u r i n <0.5ml/kg/jam, maka jumlah

c a i r a n d i b e r i k a n d i t i n g k a t k a n s e b a n y a k 5 0 % d a r i jumlah yang diberikan pada


jam sebelumnya. Bila produksi urin >1ml/kg/jam, maka jumlah cairan yang diberikan
dikurangi 25% dari jumlah yang diberikan pada jam s e b e l u m n ya . L a k u k a n
j u g a p e m e r i k s a a n l a b o r a t o r i u m , F u n g s i r e n a l : U r e u m d a n Kreatinin, Berat
jenis dan sedimen uri
Nadi: nadi yang cepat menunjukkan adanya hipovolemia. Tekanan darah: bila tekanan
darah < 90 mmHg pada pasien normotensi atau tekanan darah turun > 40 mmHg pada pasien
hipertensi, menunjukkan masih perlunya transfusi cairan. Produksi urin. Pemasangan kateter
urin diperlukan untuk mengukur produksi urin. Produksi urin harus dipertahankan minimal
1/2 ml/kg/jam. Bila kurang, menunjukkan adanya hipovolemia. Cairan diberikan sampai vena
jelas terisi dan nadi jelas teraba. Bila volume intra vaskuler cukup, tekanan darah baik,

produksi urin < 1/2 ml/kg/jam, bisa diberikan Lasix 20-40 mg untuk mempertahankan
produksi urine. Dopamin 2--5 g/kg/menit bisa juga digunakan pengukuran tekanan vena
sentral (normal 8--12 cmH2O), dan bila masih terdapat gejala umum pasien seperti gelisah,
rasa haus, sesak, pucat, dan ekstremitas dingin, menunjukkan masih perlu transfusi cair.