Anda di halaman 1dari 10

Sumber : Jawa Pos (Jumat, 25 November 2016)

Essai
Kasus rumahtangga yang berujung pada tindak kekerasan ini terjadi di Batu
Ampar, Kutai Timur. Berita yang berjudul Potong Jari Istri, Divonis 10 Tahun ini
sangat meresahkan masyarakat karena kelakuan suami yang tega memotong 4 jari
istrinya, yang tersisa hanya jari kelingking. Hal tersebut membuat istrinya cacat
seumur hidup dan kehilangan haknya. Kekerasan dalam rumahtangga sering
terjadi di Indonesia, hal ini karena kurangnya menghargai pasangan dan
kurangnya rasa kepercayaan terhadap pasangan serta emosi yang meluap-luap dan
sulit dikendalikan mengakibatkan perlakuan kasar terhadap fisik pasangan
maupun batin pasangan. Keadilan yang diterima oleh istri tersangka tidak
berbanding lurus dengan hukuman yang diterima, meskipun suami dihukum 10
tahun penjara, namun hal tersebut tidak dapat mengembalikan hak istrinya untuk
mempunyai fisik yang utuh. Hak asasi terhadap perempuan perlu ditegakkan lagi
karena laki-laki pada umumnya menganggap bahwa jika telah berbuat kesalahan
hukuman adalah balasan yang pantas, bahkan hukuman yang diberikan berupa
hukuman fisik yang keluar dari luapan emosi. Pengontrolan emosi pada etiap
orang juga harus diawasi agar seorang/individu mempunyai emosi yang stabil
sehingga tidak mengancam jiwa atau berbuat yang negatif terhadap luapan
emosinya.

Sumber : Jawa Pos (Minggu, 30 Oktober 2016)

Essai
Kekerasan pada seseorang tidak hanya dilakukan/terjadi pada lingkungan
keluarga saja, namun juga orang lain. Pada berita yang berjudul Kuku Menghitam,
Kelamin Diikat terjadi pada kasus penipuan yang sedang gencar di Indonesia,
yakni kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Almarhum IS (65) meninggal dunia
dengan cara yang tidak wajar, sebelum penangkapan terjadi, korban meninggal
dunia tepat tujuh hari. Laporan istri IS sangat mengejutkan, IS ditemukan
meninggal di tenda padepokan Dimas Kanjeng dalam keadaan kuku mengitam
dan kelamin diikat karet pentil. IS dan istrinya merupakan pengikut dan tinggal di
padepokan Dmas Kanjeng, mereka juga menyetor uang sebagai syarat menjadi
pengikutnya. IS kehilangan hak hidupnya, karena ia ditemukan meninggal dalam
keadaan

mendadak

dan

mengganjal.

Suatu

pembunuhan

merupakan

menghilangankan hak hidup manusia, karena manusia diciptakan oleh Allah, dan
yang berhak untuk mencabut nyawa hanya Allah, manusia diharamkan untuk
membunuh makhluk hidup, tak terkecuali hukuman mati oleh negara.
Pembunuhan merupakan dosa besar yang hukumannya akan diterima di dunia dan
di akhirat nanti, menghilangkan hak hidup manusia akan digolongkan sebagai
hukuman berat, bisa jadi hukuman yang diterima adalah hukuman mati juga.

Sumber : Jawa Pos (Selasa, 25 Oktober 2016)

Essai
Kasus penculikan di Indonesia juga masih sangat tinggi, hal ini salah
satunya terjadi karena masalah ekonomi, melalui uang tebusan, para pelaku
biasanya memeras orangtua atau keluarga korban. Kasus penculikan terjadi di
Malang, tepatnya di daerah poncokusumo. Korban bernama Sabitha, balita berusia
3 tahun. Namun korban di kembalikan kepada orangtuanya dengan selamat
setelah sehari diculik. Kasus berawal dai masalah utang piutang, ayah korban dan
mitra bisnisnya bertemu dua hari sebelum hari penculikan. Pada saat itu mitra
bisnis ayah korban mengembalikan uang utang Rp. 3 juta, ketika mengembalikan
uang tersebut mitra bisnis ayah korban marah-marah.
Kasus tersebut bisa jadi ungkapan kemarahan dari mitra bisnis ayah korban
karena utang yang ia tagih. Korban sebagai anak mempunyai hak untuk dilindungi
keamanannya, karena anak menjadi prioritas yang harus dilindungi sebagai
manusia yang belum tahu apa-apa tentang keadaan lingkungan atau keadaan
sosial. Hak dari seorang anak sangat besar, banyak dari mereka sebagai korban
penculikan yang mengalami trauma psikis atau mental, hal tersebut sangat
merugikan kesehatan psikis anak, karena menjadi trauma tentang kejadiankejadian yang seharusnya wajar namun mereka merasa takut.

Sumber : Jawa Pos (Jumat, 25 November 2016)

Essai
Kasus pemerkosaan rawan terjadi di Indonesia, hal tersebut terjadi karena
kurangnya pendidikan agama dan moral dalam pembelajaran formal dan informal.
Pemerkosaan disertai pembunuhan tidak lain untuk menghilangkan jejak dan
suara dari korban. Pemerkosaan pada 22 November 2016 ini terjadi di kabpaten
Biak Numfor, Papua. Korban adalah ibu muda berusia 20 tahun. Sebelum
diperkosa, korban dipukul hingga tak sadarkan diri, lalu kelamin korban ditusuk
menggunakan sepotong kayu. Hak sebagai perempuan harus dilindungi, korban
mengalami trauma batin yang tak terkira, karena harga dirinya sudah tercoreng
oleh orang ang tak dikenalnya. Pemerkosaan termasuk tindak kekerasan seksual
terhadap perempuan, perempuan yang seharusnya dijunjung malah dirobohkan
harga dirinya. Perkosaan adalah suatu kekerasan seksual yang melanggar hak
asasi manusia. Dalam pelaksanaan hukum di Indonesia, fokus hanya diberikan
kepada pelaku dan belum mempertimbangkan pengalaman yang dialami
perempuan korban perkosaan. Oleh sebab itu pemerintah berkewajiban untuk
melindungi hak perempuan dan memberikan keadilan kepada korban perkosaan
sebab negara berkewajiban menjamin kesejahteraan masyarakatnya. Jika terjadi
pembiaran, maka suatu negara dianggap gagal untuk melindungi hak asasi
perempuan atas kesehatan reproduksi.
Pemerintah perlu segera membuat peraturan pelaksana teknis agar yang
diamanatkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dapat
berjalan efektif. Peraturan teknis itu dapat berupa prosedur standar operasional
baku yang harus dijalankan ketika menghadapi korban perkosaan Hal ini
diperlukan agar tidak terjadi penyalahgunaan peraturan legalisasi aborsi.
Pemerintah perlu melakukan sosialisasi dan memberikan pendidikan kesehatan
reproduksi pada semua perempuan agar sadar akan haknya atas kesehatan
reproduksi serta mengetahui tersedianya akses untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan reproduksi, khususnya kepada perempuan korban perkosaan.

Sumber : Jawa Pos (Selaa, 22 November 2016)

Essai
Kasus perebutan tanah antara sekolah dan pihak lain terjadi di Jayapura,
sekolah SD Negeri 3 Abepura didatangioleh beberapa orang yang mengaku
pemilik tanah yang dijadikan sebagai tempat belajar tersebut. Pihak sekolah sudah
mengatakan bahwa pihaknya mempunyai sertifikat tanah dai tahun 1984, namun
orang-orang tersebut tidak memperdulikan, justru mereka mengusir para guru,
para guru dan murid meninggalkan sekolah karena khawatir jika terjadi masalah.
Para guru di SD Negeri tersebut sudah mengadukan masalah ini kepada
dinas Pdan P, BPN serta badan aset negara namun tidak ada tanggapan. Pihak
guru merasa sangat idak dihiraukan, mereka hanya menjalankan tugasnya sebagai
guru, mereka tidak tahu apa-apa, hanya tugas mengajar saja. Lebih
mengkhawatrikan lagi jika para siswa tidak mendapatkan hak belajarnya, siswa
harus mengikuti ujian semester, karena ada masalah ini, pihak sekolah tidak tahu
apakah akan diadakan atau tidak, namun jika keadaan memungkinkan pihak
sekolah akan merealisasikan ujian semester.
Akibat jika siswa kehilangan hak belajarnya adalah mereka akan semakin
menurun daya pikirnya, wawasan lebih sedikit atau tidak luas, dan akan menjadi
bodoh dalam ilmu pendidikan formal. Apabila siswa mengalami hal tersebut,
kemungkinan negara akan menjadi rugi, karena sudah memberikan pelayanan
penddikan, namun ada pihak lain yang ingin mengacaukan pendidikan Indonesia.

10