Anda di halaman 1dari 27

Gangguan Mekanisme Ginjal Pada Anak

Angela Christine Virginia 102014080


Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Ukrida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 06, Jakarta Barat 11510
Angela.2014fk080@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak
Sistem urinaria merupakan sistem yang berperan dalam mempertahankan homeostasis
tubuh, mensekresikan hormon, dan mengeskresikan zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh.Sistem
urinaria terdiri dari organ ginjal, ureter, vesica urinaria, dan uretra. Zat yang masih diperlukan
oleh tubuh akan direabsorbsi kembali oleh ginjal sedangkan zat yang tidak berguna bagi tubuh
akan dibuang melalui urin.
Kata Kunci : Ginjal, Reabsorbsi, Ekskresi
Abstract
Urinary system is a system that plays a role in maintaining the homeostasis of the body,
secrete hormones, and mengeskresikan substances that are not useful to the body. Urinary
system consists of the kidneys, ureters, urinary vesica and urethra. Substances that are needed by
the body will be reabsorbed back by the kidneys, while substances that are not useful to the body
will be excreted through urine.
Keywords: Kidney, Reabsorption, Excretion
Pendahuluan
Kebanyakan orang telah mengenal salah satu fungsi ginjal yang penting untuk
membersihkan tubuh dari bahan-bahan sisa hasil pencernaan atau yang diproduksi oleh
metabolisme.Fungsi kedua meupakan fungsi yang sangat penting, yaitu untuk mengontrol
volume dan komposisi cairan tubuh.Untuk air dan semua elektrolit didalam tubuh, keseimbangan
1

antara asupan dan keluaran sebagian besar dipertahankan oleh ginjal.Fungsi pengaturan oleh
ginjal ini memelihara kestabilan lingkungan sel yang diperlukan untuk melakukan berbagai
aktivitas. Ginjal merupakan fungsi yang paling penting dengan cara menyaring plasma dan
memisahkan zta dari filtrat dengan kecepatan yang bervariasi, bergantung pada kebutuhan tubuh.
Akhirnya, ginjal membuang zat-zat yang tidak diinginkan dari filtrate dengan cara
mengeksresikannya ke dalam urin, sementara zat-zat yang dibutuhkan dikembalikan kedalam
darah.Tinjauan pustaka ini akan membahas lebih dalam lagi tentang ginjal, struktur mikroskopis
dan makroskopisnya, fungsi ginjal, dan mekanisme kerja ginjal.
Pembahasan
Makroskopis
Ginjal
1

Tampilan. Ginjal adalah organ berbentuk seperti kacang berwarna merah tua, panjangnya
sekitar 12,5 cm dan tebalnya 2,5 cm (kurang lebih sebesar kepalan tangan). Setiap ginjal
memiliki berat antara 125 sampai 175 gram pada laki-laki dan 115 sampai 155 gram pada
perempuan.1

Lokasi
a

Ginjal terletak di area yang tinggi, yaitu pada dinding abdomen posterior yang
berdekatan dengan dua pasang iga terakhir. Organ ini merupakan organ
retroperitoneal dan terletak di antara otot-otot punggung dan peritoneum rongga
abdomen atas. Tiap-tiap ginjal memiliki sebuah kelenjar adrenal di atasnya. 1

Ginjal kanan terletak agak di bawah dibandingkan ginjal kiri karena ada hati pada sisi
kanan. 1

Jaringan ikat pembungkus. Setiap ginjal diselubungi tiga lapisan jaringan ikat.
a

Fasia renal adalah pembungkus terluar. Pembungkus ini melabuhkan ginjal pada
struktur di sekitarnya dan mempertahankan posisi organ. 1

Lemak perineal adalah jaringan adipose yang terbungkus fasia ginjal. Jaringan ini
membantali ginjal dan membantu organ tetap pada posisinya. 1

Kapsul fibrosa (ginjal) adalah membrane halus transparan yang langsung


membungkus ginjal dan dapat dengan mudah dilepas.1

4. Ginjal terdiri dari bagian dalam (medula), dan bagian luar (korteks).

a. Bagian dalam (internal) medula


Substansia medularis terdiri dari piramid renalisyang jumlahnya antara 18-16
buah yang mempunyai basis sepanjang ginjal,sedangkan apeksnya mengahadap ke sinus
renalis. Mengandung bagian tubulusyang lurus, ansa henle, vasa rekta dan diktus koligens
terminal.1
b. Bagian luar (eksternal) korteks
Substansia kortekalis berwarna coklat merah,konsistensi lunak dan bergranula.
Substansia ini tepat dibawah tunika fibrosa,melengkung sapanjang basis piramid yang
berdekatan dengan garis sinus renalis,dan bagian dalam diantara piramid dinamakan
kolumna renalis. Mengandungglomerulus, tubulus proksimal dan distal yang berkelokkelok dan duktus koligens.1

Gambar 1. Ginjal

Gambar 2: Sisi eksternal dan internal ginjal


Fungsi Ginjal
3

Pengeluaran zat sisa organic. Ginjal mensekresi urea, asam urat, kreatinin, dan produk
penguraian hemoglobin dan hormone.

Pengaturan konsentrasi ion-ion penting. Ginjal mengekskresi ion natrium, kalium,


kalsium, magnesium, sulfat, dan fosfat. Ekskresi ion-ion ini seimbang dengan asupan dan
ekskresinya melalui rute lain, seperti pada saluran gastrointestinal atau kulit.

Pengaturan keseimbangan asam-basa tubuh. Ginjal mengendalikan ekskresi ion


hydrogen (H+), bikarbonat (HCO3-), dan ammonium (NH4+) serta memproduksi urine
asam atau basa, bergantung pada kebutuhan tubuh.

Pengaturan produksi sel darah merah. Ginjal melepas eritropoetin, yang mengatur
produksi sel darah merah dalam sumsum tulang.

Pengaturan tekanan darah. Ginjal mengatur volume cairan yang esensial bagi
pengaturan tekanan darah, dan juga memproduksi enzim rennin. Rennin adalah
komponen penting dalam mekanisme rennin-angiotensin-aldosteron, yang meningkatkan
tekanan darah dan retensi air.

Pengendalian terbatas terhadap konsentrasi glukosa darah dan asam amino darah.
Ginjal, melalui ekskresi glukosa dan asam amino berlebih, bertanggung jawab atas
konsentrasi nutrient dalam darah.

Pengeluaran zat beracun. Ginjal mengeluarkan polutan, zat tambahan makanan, obatobatan, atau zat kimia asing lain dari tubuh.2

Pendarahan Ginjal
Ginjal diperdarahi oleh a.renalis.perjalanan vaskularisasi ginjal dapat diuraikan sebagai
berikut :3
-

Arteri renalis
Arteri renalis dipercabangkan dari aorta abdominalis setinggi vertebra lumbal 1-2.A.
renalis kanan lebih panjang dari a. renalis kiri, karena harus menyilang v. cava inferior di
belakangnya.A.

renalis

masuk

ke

dalam

ginjal

melalui

hillus

renalis

dan

mempercabangkan dua caban besar. Cabang pertama berjalan ke depan ginjal dan
mendarahi ginjal depan, sedangkan cabang kedua berjalan ke belakang ginjal dan
mendarahi ginjal bagian belakang. Cabang yang menuju bagian depan ginjal lebih
panajang dari cabang yang menuju bagian belakang ginjal. Kedua cabang a. renalis ini
4

akan bertemu dibagian lateral pada garis broedel. Arteri renalis berjalan di antara lobus
-

ginjal dan bercabang menjadi a. interlobaris.


Arteri interlobaris
Arteri interlobaris pada perbatasan cortex dan medulla akan bercabang menjadi a.

arcuata yang akan mengelilingi cortex dan medulla sehingga disebut a. arciformis.
Arteri arcuata
Arteri arcuata mempercabangkan a. interlobularis dan berjalan sampai tepi ginjal
(cortex), kemudian mempercabangkan a. interlobularis yang berjalan sampai tepi ginjal
(cotex), kemudian mempercabangkan arteriola afferens yang akan membentuk kapilerkapiler yaitu Clomerulus. Setelah membentuk kapiler-kapiler arteriola afferens keluar
menjadi arteriola efferens. Arteriola afferens akan membentuk ayaman-ayaman
mengelilingi tubuli contirti.

Pembuluh balik pada ren mengikuti nadinya mulai permukaan ginjal sebagai kapiler dan
kemudian berkumpul ke dalam v. interlobaris (vv. Stellatae / verheyeni).Perjalanannya dapat
dijelaskan sebagai berikut dari v. interlobularis v. arcuata v. interlobaris v. renalis v.
cava inferior. 3

Gambar 3: Pendarahan ginjal


Persarafan Ginjal
Ginjal memiliki persarafan simpatis dan parasimpatis.Untuk persarafan simpatis ginjal
melalui segmen T10-L1 atau L2, melalui n.splanchnicus major, n.splanchnicus imus dan
5

n.lumbalis.Saraf ini berperan untuk vasomotorik dan aferen viseral. Sedangkan persarafan
simpatis melalui n.vagus.3
Ureter

Gambar 4: Ureter
Ureter merupakan lanjutan pelvis renis, panjangnya 25 30 cm, berjalan ke arah
distal untuk bermuara ke dalam vesica urinaria. Berdasarkan letaknya, ureter
dibedakan menjadi pars abdominalis dan pars pelvina.3

Ureter kiri
Anterior

Ureter kanan

Kolon sigmoid
a/v. colica sinistra
a/v. testicularis/ovarica

Duodenum pars descendens


Ileum terminal
a/v. colica dextra
a/v.ileocolica
mesostenium

Posterio M.psoas major, percabangan a.iliaca communis


r
Laki-laki: melintas di bawah lig. umbilikal lateral dan ductus deferens
Perempuan: melintas di sepanjang sisi cervix uteri dan bagian atas vagina

Pars abdominalis ureteris


Perjalanan ureter dalam cavum abdomen baik pada laki-laki maupun wanita tidak
terdapat perbedaan.Pars abdominalis ureteris di sebelah ventral berbatasan dengan
peritoneum, a.v. colica dan menyilang a.v. spermatica interna (laki-laki) atau a.v.
ovarica (pada wanita).
Disebelah ventral, pars abdominalis ureteris dextra juga berbatasan dengan pars
descendens duodeni di bagian atas, ileum di bagian bawah dan tepi lateral v. cava
inferior. Sedangkan pars abdominalis ureteris sinistra berbatasan dengan colon
sigmoideum dan mesocolonnya.
Sebelah dorsal, pars abdominalis ureteris dextra dan sinistra disilang oleh m.

psoas dan n. genitofemoralis.3


Pars pelvina ureteris
Perjalanan ureter dalam cavum pelvis (pars pelvina ureteris) pada wanita berbeda
dengan laki-laki, hal ini disebabkan adanya perbedaan alat-alat panggul wanita
dan laki-laki.
Mula-mula pars pelvina ureteris pada laki-laki dan wanita menyilang apetura
pelvis superior di ventral a. iliaca communis, kemudian berjalan ke arah
dorsocaudal di ventral a. iliaca interna menuju ke daerah spina ischiadica.
Dari spina ischiadica, pars pelvina ureteris pada laki-laki membelok ke ventro
medial untuk bermuara ke dalam vesica urinaria pada sudut lateral
atasnya.Sebelum memasuki vesica urinaria, pars pelvina ureteris laki-laki
menyilang ductus deferens disebelah lateralnya.
Sedangkan pada wanita, setelah mencapai spina ischiadica maka pars pelvina
ureteris akan berjalan ventromedial di bawah lig. Latum uteri dan menyilang a.
uterina di sisi medial. Kemudian pars pelvina ureteris akan berjalan ke arah
ventral, di sebelah lateral fornix lateralis vagina dan masuk ke dalam vesica

urinaria.3
Sepanjang perjalanannya, ureter mengalami penyempitan di beberapa tempat, yaitu
pada : ureteropelvic junction, flexura marginalis (saat ureter menyilang vassa iliaca
communis) dan saat masuk ke dalam vesica urinaria. Dibagian-bagian ureter yang
menyempit tersebut dapat menyebabkan sangkutan batu ureter.
Ureter dipersarafi oleh plexus hypogastricus inferior T11 L2 melalui neuron-neuron
sympathis.3

Ureter diperdarahi oleh cabang A. renalis, cabang aorta abdominalis, cabang A.


testicularis/ A. ovarica, cabang arteri illiaca communis, cabang arteri vesicalis
inferior.3

Mikroskopis
Ginjal

Gambar 6: Mikroskopis ginjal


Ginjal berbentuk seperti kacang merah. Panjangnya yaitu 10-12 cm. Tebalnya 3,5-5 cm.
Ginjal dapat dibagi menjadi korteks di luar dan medula di dalam. Pada manusia, medula
ginjal terdiri atas 10-18 struktur berbentuk kerucut atau piramid yang disebut piramid
medula. Dari dasar setiap piramid medula, terjulur berkas-berkas tubulus yang paralel disebut
berkas medula yang menyusup ke dalam korteks.5
Setiap ginjal terdiri atas 1-4 juta nefron. Setiap nefron terdiri atas:
a. Korpuskel renalis
Korpuskel renalis berfungsi sebagai tempat penyaring darah. Korpuskel renalis
terbagi menjadi 3 macam yaitu:
Korpuskel I
Korpuskel I terbagi atas 2 kutub yaitu kutub vaskular dan kutub urinaris.
Fungsi kedua kutub ini berbeda. Kutub vaskular berfungsi sebagai tempat
masuknya arteriol aferen dan keluarnya arterol eferen sedangkan kutub urinarus
berfungsi sebagai tempat tubulus kontertus proksimal berasal. Lapisan parietal
kapsula bowman terdiri atas epitel gepeng yang ditunjang lamina basalis dan
selapis tipis serat retikulin. Pada kutub urinarius, arteriol aferen biasanya terbagi

menjadi dua sampai lima cabang utama. Setiap cabangnya terbagi lagi menjadi
kapiler yang membentuk kapiler glomelurus ginjal.
Lamina basal bekerja sebagai barir filtrasi. Sel-sel mesongial melekat ke kapiler
yang berfungsi sebagai makrofag untuk membersihkan lamina basal.5
Korpuskel II
Korpuskel II terdiri atas 2 epitel membran. Lapisan parietal luar membentuk
dinding korpuskel luar dan lapisan parietal dalam melapisi kapiler- kapiler.

Pada

perkembangan embrionalnya, epitel lapisan parietal tidak mengalami perubahan


sedangkan lapisan dalam atau viseral sangat termodifikasi. Lapisan viseral terdiri
atas sel podosit. Podisit memiliki badan sel yang menjulurkan beberapa cabang
atau processus primer. Setiap cabang tersebut menjulurkan banyak processus
sekunder yang disebut pedikel. Perluasan kaki pedikel membentuk celah filtrasi (
filtration slits ). Setiap berjalan 25nm, processus sekunder ini berkontak langsung
dengan lamina basalis secara periodik. Badan sel podosit dan processus primer
tidak menyentuh lamina basalis.5
Koorpuskel III
Glomerulus disebut sebagai jumbai kapiler. Darah masuk melalui arteriol aferen
sedangkan darah keluar dari arteriol eferen yang mempunyai diameter

lebih

kecil. Kapiler glomerulus mengandung pori-pori yairu fenestra. Fungsi


glomerulus adalah sebagai ultrafiltrasi.5
b. Tubulus kontortus proksimal
Pada kutub urinarius di korpuskel ginjal, epitel gepeng di lapisan parietalkapsula
bowman berhubungan langsung dengan epitel tubulus kontortus proksimal. Tubulus
kontortus proksimal terletak di korteks renalis. Epitel tubulus kontortus proksimal
berbentuk kuboid sampai silindris rendah. Tubulus kontortus proksimal lebih panjang
daripada tubulus kontortus distal. Hal ini menyebabkan letaknya lebih banyak di
dekat korpuskel ginjal dalam korteks ginjal. Sel-sel epitel kuboid pada tubulus
kontortus proksimal memiliki sitoplasma asidofilik yang disebabkan adanya
mitokondria panjang dalam jumlah besar. Apeks sel memiliki banyak mikrovili
dengan panjang kira-kira 1 m yang membentuk brush border yang menyebabkan
lumen tidak rata. Inti sel sedikit dengan jarak yang berjauhan. Fungsi dari tubulus ini
adalah absorbsi makromolekul dari filtrat glomelurus.5
c. Segmen tipis tebal ansa henle

Ansa henle adalah struktur yang berbentuk U yang terdiri atas segmen tebal desenden
( STD ), segmen tipis ansa henle ( ST ), dan segmen tebal asenden ( STA ). Segmen
tebal desenden memiliki ciri seperti tubulus kontortus proksimal, segmen tipis mirip
kapiler dan di dalamnya tidak terdapat darah di lumennya, dan segmen tebal asenden
memiliki ciri mirip dengan tubulus kontortus distal. Perbedaan adalah letak dari
kedua segmen tebal dan tubulus kontortus proksimal dan distal. Segmen tebal tipis
ansa henle terletak di medula dan berkas medula. Fungsi dari bagisn segmen ini
adalah sebagai reabsorpsi air dan ion-ion.5

d. Tubulus kontertus distal

Gambar 7: Tubulus kontertus distal


Segmen tebal ansa henle menerobos korteks setelah menempuh jarak tertentu
sehingga berberkelok-kelok disebut tubulus kontortus distal. Tubulus ini
mempunyai epitel selapis kuboid rendah. Tubulus kontortus distal bersifat
basofil. Tubulus kontortus distal berbeda dengan tubulus kontortus proksimal
karena tidak memiliki brush border sehingga memiliki lumen yang rata.
Karena sel-sel tubulus distal lebih gepeng dan lebih kecil dari tubulus
proksimal maka pada tubulus kontertus distal tampak lebih banyak sel dan
inti pada dinding tubulus kontortus distal daripada tubulus kontortus
proksimal. Dinding segmen tubulus kontortus distal yang sudah mengalami
10

modifikasi terdapat daerah yang tempak gelap disebut makula densa. Makula
densa sangat sensitif terhadap kandungan ion dan volume air dalam cairan
tubulus dan menghasilkan siknyal molekul yang berakibat pembebasan enzim
renin ke dalam sirkulasi. Fungsi dari tubulus ini adalah reabsorpsi, sekresi dan
ekresi.5
e. Duktus koligentes

Gambar 8: Duktus Koligentes


Urin mengalir dari tubulus kontortus distal ke tubulus koligentes yang
kemudian saling bergabung membentuk duktus koligentes. Ukuran duktus
koligentes melebar sewaktu mendekati puncak piramid. Tubulus koligentes
yang lebih kecil, ukuran garis tengahnya adalah 40 m yang dilapisi oleh
epitel kuboid. Sewaktu tubulus memasuki medula lebih dalam, sel-selnya
meninggi sampai berbentuk silindris. Garis tengah duktus koligentes
mencapai 300 m di dekat puncak piramid medula. Sitoplasmanya tampak
pucat.5
f. Duktus papilaris

Gambar 9: Duktus papilaris


Duktus papilaris berjalan dalam berkas medula menuju ke medula. Di bagian
medula yang tengah, beberapa duktus koligens bersatu untuk membentuk
duktus besar yang bermuara ke apeks papila disebut duktus papilaris.5

Ureter

11

Gambar 10: Mikroskopis ureter


Ureter mempunyai epitel transisional dengan sel-sel membulat pada kantung yang
menyusut dan sel-sel gepeng pada kantung yang melebar. Lamina propia terdiri atas
jaringan ikat penyambung jarang dan pembuluh-pembuluh. Tunika muskularisnya terdiri
atas 2 macam yaitu tunika muskularis longitudinal internal dan tunika muskularis
longitudinal eksternal. Tunika adventisia terdiri atas jaringan ikat penyambung jarang.5

Mekanisme Sistem kemih


Filtrasi
Proses pembentukan urin diawali dengan penyaringan darah yang terjadi di kapiler
glomerulus. Sel-sel kapiler glomerulus yang berpori (podosit), tekanan dan permeabilitas yang
tinggi pada glomerulus mempermudah proses penyaringan.
Di glomelurus terjadi pula pengikatan kembali sel-sel darah, keping darah, dan sebagian
besar protein plasma.Hasil penyaringan di glomerulus berupa filtrat glomerulus (urin primer)
yang komposisinya serupa dengan darah tetapi tidak mengandung protein. Bahan-bahan kecil
terlarut dalam plasma, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat, garam
lain, dan urea melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan.6
Cairan yang difiltrasi dari glomerulus ke kapsula Bowman harus melewati tiga lapisan
yang membentuk membran glomerulus: (1) dinding kapiler glomerulus; (2) membran basal; dan
(3) lapisan dalam kapsula Bowman. Secara kolektif, lapisan-lapisan ini berfungsi sebagai
saringan molekuler halus yang menahan sel darah dan protein plasma tetapi membolehkan H 2O
dan zat terlarut dengan ukuran molekul kecil lewat.Dinding kapiler glomerulus terdiri dari satu

12

lapis sel endotel pipih. Lapisan ini memiliki banyak pori besar yang menyebabkannya 100 kali
lebih permeabel terhadap H2O dan zat terlarut daripada kapiler di bagian lain tubuh.
Gaya-gaya yang berperan dalam filtrasi glomerulus:
1

Tekanan darah kapiler glomerulus: tekanan cairan yang ditimbulkan oleh darah di dalam
kapiler glomerulus, bergantung pada kontraksi jantung (sumber energi yang menghasilkan
filtrasi glomerulus) dan resistensi terhadap aliran darah yang ditimbulkan oleh arteriol aferen

dan eferen.
Tekanan osmotik koloid plasma: ditimbulkan oleh distribusi tidak seimbang protein-protein

plasma di kedua sisi membran glomerulus.


Tekanan hidrostatik kapsula Bowman: tekanan yang ditimbulkan oleh cairan di bagian awal
tubulus ini.
Untuk mempertahankan laju filtrasi gloerulus (LFG), ginjal memiliki cara tersendiri yang

disebut autoregulasi. Dua mekanisme intrarenal berperan dalam autoregulasi: (1) mekanisme
miogenik, yang berespon terhadap perubahan tekanan di dalam komponen vaskular nefron; dan
(2) mekanisme umpan balik tubuloglomerulus, yang mendeteksi perubahan kadar Na di cairan
yang mengalir melalui komponen tubular nefron.6
Reabsorbsi
Bahan-bahan yang masih diperlukan di dalam urin pimer akan diserap kembali di tubulus
kontortus proksimal, sedangkan di tubulus kontortus distal terjadi penambahan zat-zat sisa dan
urea.
Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam amino meresap melalui
peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osmosis. Penyerapan air terjadi pada tubulus
proksimal dan tubulus distal.7
Substansi yang masih diperlukan seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah.
Zat amonia, obat-obatan seperti penisilin, kelebihan garam dan bahan lain pada filtrat
dikeluarkan bersama urin.7
Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder, zat-zat yang
masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme
yang bersifat racun bertambah, misalnya urea.7
Reabsorbsi air
13

Air secara pasif direabsorbsi melalui osmosis diseluruh panjang tubulus. Dari H 2O yang
difiltrasi 80% direabsorbsi dengan cara obligatorikditubulus proksimal dan lengkung henle
karena secar osmmosmis mengikuti reabsorbsi zat terlarut. Reabsorbsi ini terjadi tanpa
dipengaruhi oleh beban H2O tubuh dan tidak diatur. Sisanya 20% direabsorbsi dalam jumlah
bervariasi dibagian distal tubulus; tingkat reabsorbsi ini berada dibawah komtrol langsung
hormon, bergantung pada status hidrasi tubuh.8
Gaya yang mendorong reabsorbsi H2O ditubulus proksimal adalah kompartemen
hipertonisitas di ruang lateral antara sel-sel tubulus yang diciptakan oleh pengeluaran aktif Na +
oleh pompa basolateral. Akibat aktivitas pompa ini, konsentrasi Na + di cairan tubulus dan sel
tubulusdengan cepat menurun disertai peningkatan konsentrasi diruang lateral.Gradien osmotik
ini menginduksi aliran netto pasif H2O dari lumen kedalam ruang lateral, baik melalui sel
ataupun secara antarsel melalui taut erat berat yang bocor. Akumulasi cairan diruang lateral
menyebabkan terbentuknya terkanan hidrostatik, yang mendorong air keluar dari ruang lateral
menuju cairan interstisium dan akhirnya ke dalam kapiler peritubulus.8
Pengembalian H2O yang difiltrasi ini ke plasma ditingkatkan oleh kenyataan bahwa
tekanan osmotik koloid plasma lebih besar di kapiler peritubulus daripada tempat lain.
Konsentrasi protein-protein plasma, yang merupakan penentu tekanan osmotik koloid plasma,
meningkat didarah yang memasuki kapiler peritubulus karena filtrasi karena filtrasi ekstentif
H2O melalui kapiler glomerulus di sebelah hulu. Protein plasma yang tertinggal di glomerulus
terkonsentrasi ke dalam volume H2O plasma yang tertinggal di glomerulus terkonsentrasi
kedalam volume H2O plasma yang berkurang, sehingga meningkatkan tekanan osmotik koloid
plasma darah yang tidak difiltrasi yang tidak difiltrasi yang tidak difiltrasi yang meninggalkan
glomerulus dan memasuki kapiler peritubulus. Gaya ini cenderung menarik H 2O kedalam kapiler
peritubulus, dibarengi oleh dorongan tekanan hidrostatikdiruang lateral yang menyebabkan H 2O
berpindah kekapiler. Melalui cara ini, 65% H2O yang difiltrasi secara pasif direabsorbsi dibagian
akhir tubulus proksimal. Baik tubulus proksimal maupun bagian lain dari tubulus tidak ada yang
secara langsung memakai energi untuk rebsorbsi H2O dalam jumlah besar ini.8
Sisa 15% H2O yang difiltrasi direabsorbsi secara obligatorik dari lengkung henle.
Reabsorbsi 20% sisa H2O yang difiltrasi dapat berubah-ubah dan dilakukan ditubulus distaldan
pengumpul dibawah kontrol vasopresin.8
14

Reabsorbsi glukosa
Glukosa dan asam amino diangkut melalui proses transport aktif sekunder yang merupakan
kontranspor yang memindahkan Na+ dari lumen ke dalam sel. Gradien konsentrasi Na + lumenke-sel yang diciptakan oleh pompa Na+-K+ ATPase basolateral mengaktifasi sistem kotranspor ini
dan menarik molekul-molekul organik melawan gradient konsentrasi mereka tanpa secara
langsung menggunakan energi. Setelah diangkut ke dalam sel tubulus, glukosa dan asam amino
secara pasif berdifusi mengikuti penurunan gradient konsentrasi mereka menembus membrane
basolateral ke dalam plasma, difasilitasi oleh pembawa yang tidak memerlukan energi.8
Konsentrasi glukosa normal dalam plasma darah adalah 100 mg glukosa/100 ml plasma
darah. Karena glukosa difiltrasi secara bebas di glomerulus, zat ini akan masuk ke capsula
Bowman dengan konsentrasi yang sama dengan konsentrasinya di plasma, sehingga di plasma
juga terdapat 100 mg/100 ml plasma yang difiltrasi. GFR adalah 125 ml/menit, maka:8
Beban filtrasi suatu bahan=konsentrasi bahan dalam plasma x GFR Beban filtrasi
glukosa=100 mg/100 ml x 125 ml/ menit=125 mg/menit
Sementara itu, Tm glukosa rata-rata adalah 375 mg/menit; jadi mekanisme pembawa
glukosa mampu secara aktif mereabsorbsi glukosa dengan jumlah sampai 375 mg/menit sebelum
kapasitas transportasi glukosa maksimum tercapai. Pada konsentrasi glukosa plasma 100 mg/100
ml, 125 mg glukosa yang difiltrasi per menit dapat dengan mudah direabsorbsi sehingga tidak
ada ekskresinya dalam urine. Jika beban glukosa melebihi 375 mg/menit barulah Tm tercapai
dan sisa glukosa yang tidak mampu direabsorbsi akan dieksresi ke urine. Konsentrasi plasma
pada saat Tm tercapai dan bahan tersebut mulai dieksresikan ke dalam urine disebut sebagai
ambang ginjal/renal threshold. Pada Tm dan GFR normal, ambang ginjal untuk glukosa adalah
300 mg/100 ml apabila sesuai dengan perhitungan, namun kenyataannya ambang ginjal glukosa
pada manusia adalah 200 mg/100 ml darah arteri atau sama dengan 180 mg/100 ml darah vena.
Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan Tm pada tiap tubulus (karena Tm=375 mg/menit
merupakan rata-rata Tm) yang memungkinkan terjadinya deviasi pada kurva reabsorbsi glukosa
yang disebut sebagai splay.8
Sekresi

15

Sekresi H+ ginjal sangat penting dalam mengatur keseimbangan asam-basa di tubuh.Ion


Cldoster yang disekresikan ke dalam cairan tubulus dieliminasi dari tubuh melalui urin.Ion
Cldoster dapat disekresikan oleh tubulus proksimal, distal, atau koligentes, dengan tingkat
sekresi H+ bergantung pada keasaman cairan tubuh.Ketika cairan tubuh terlalu asam maka
sekresi H+ meningkat. Sebaliknya, sekresi H+ berkurang jika konsentrasi H+ di cairan tubuh
terlalu rendah.7
Faktor Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Urine adalah :7

Hormon ADH
Hormon ini memiliki peran dalam meningkatkan reabsorpsi air sehingga dapat
mengendalikan keseimbangan air dalam tubuh.Hormon ini dibentuk oleh hipotalamus yang ada
di hipofisis posterior yang mensekresi ADH dengan meningkatkan osmolaritas dan menurunkan

cairan ekstrasel.
Aldosteron
Hormon ini berfungsi pada Cldoste natrium yang disekresi oleh kelenjar adrenal di
tubulus ginjal. Proses pengeluaran Cldosterone ini diatur oleh adanya perubahan konsentrasi

kalium, natrium, dan sistem angiotensin rennin.


Prostaglandin
Prostagladin merupakan asam lemak yang ada pada jaringan yang berlungsi merespons
radang,

pengendalian

tekanan

darah,

kontraksi

uterus,

dan

pengaturan

pergerakan

gastrointestinal.Pada ginjal, asam lemak ini berperan dalam mengatur sirkulasi ginjal.
Gukokortikoid
Hormon ini berfungsi mengatur peningkatan reabsorpsi natrium dan air yang
menyebabkan volume darah meningkat sehingga terjadi retensi natrium.
Ekskresi urin
Biasanya, dari 125 ml plasma yang difiltrasi per menit, 124 ml/menit direabsorpsi,
sehingga jumlah akhir urin yang terbentuk rata-rata adalah 1ml/menit. Dengan demikian, urin
yang tereksresi per hari adalah 1,5 liter dari 180 liter yang terfiltrasi.
Urin mengandung berbagai produk sisa dengan konsentrasi tinggi ditambah sejumlah
bahan dengan jumlah bervariasi yang diatur oleh ginjal, dan kelebihannya akan dikeluarkan
melalui urin. Bahan-bahan yang bermanfaat ditahan melalui proses reabsorpsi sehingga tidak
muncul di urin.6
16

Gambar 11: Mekanisme sistem kemih


Mekanisme Counter Current (mekanisme pemekatan dan pengentalan urin).
Countercurrent multiplier system terdapat di lengkung Henle. Sistem multiplikasi secara
dasarnya adalah suatu proses di mana H 2O dan Na+ (secara transport aktif, diikuti Cl- secara
pasif) diekstrak dari cairan filtrate keluar pars ascenden lengkung.9
Terdiri dari :9

2 pembuluh sejajar, berdekatan, cukup panjang (nefron juxtamedullare), aliran


berlawanan, bentuk pipa U.

Terdiri dari :9
a. Counter Current Multiplier :
Bermula di tubulus kontortus proksimal di mana air dan zat-zat tertentu di reabsorpsi
sehingga menyebabkan cairan filtrat memiliki osmolaritas yang sama dengan cairan
interstitial tubuh. Di ansa Henle pars descendens (concentrating segment), membran
yang permeabel terhadap air dan impermeable terhadap solute lain memjadikan
osmolalitas tubular meningkat terus menerus di bawah lengkung. Di ansa Henle pars
ascendens(diluting segment) yang impermeable terhadap air, dan permeabel terhadap
NaCl dan urea (segmen tipis) menjadikan cairan filtrat hipoosmotik sedangkan cairan
17

interstitial medulla hipertonik. Secara mendasar, mekanisme ini penting dalam


membentuk osmotic concentration gradientterhadap cairan interstitial di samping
memekatkan urin melalui reabsorpsi air.
b. Counter Current Exchanger (vasa recta)
Mekanisme ini berfungsi di vasa recta, di mana aliran darah yang rendah di vasa recta
dapat mempertahankan konsentrasi NaCl dan urea yang tinggi di cairan interstitial
medulla.
Langkah-langkah :9
1. Sewaktu natrium ditransportasikan keluar pars ascendens, cairan interstitial yang
melingkupi lengkung henle menjadi pekat
2. air tidak dapat mengikuti natrium keluar pars ascendens. Filtrat yang tersisa secara
progresif menjadi encer.
3. pars descendens lengkung bersifat permeable terhadap air. Air meninggalkan bagian ini
dan mengalir mengikuti gradien konsetrasi ke dalam ruang intersisium. Hal ini
menyebabkan pemekatan cairan pars descendens. Sewaktu mengalir ke pas ascendens,
cairan mengalami pengenceran progrsif karena natrium dipompa keluar.
4. Hasil akhir adalah pemekatan cairan interstisium di sekitar lengkung henle. Konsentrasi
tertinggi terdapat di daerah yang mengelilingi bagian bawah lengkung dan menjadi
semakin encer mengikuti pars asendens.
5. di bagian puncak pars asendens lengkung, cairan tubulus bersifat isotonik atau bahkan
bersifat hipotonik.
Tubulus Proksimal

Ansa

Pars

Henle

Descenden

i.
ii.

Glukosa dan asam amino:100%, kotransport dengan Na+


Na+ : Reabsorpsi aktif, 67%, obligat, tidak dapat dikendalikan,

iii.
iv.
v.
vi.
i.
ii.

ClPO4-& elektrolit lain :bervariasi, dapat dikendalikan


Air :reabsorpsi osmotic, 65%, obligat, tidak dapat dikendalikan
Urea :reabsorpsi pasif, 50%, obligat, tidak dapat dikendalikan.
K+ :semua direabsorpsi, obligat tidak dapat dikendalikan.
Air : 15%, direabsorpsi secara osmotic, tidak dapat dikendali.
(kemungkinan NaCl) : sekresi pasif, tidak dapat dikendali

s
18

Pars

i.

Ascendens
Tubulus Distalis
Ductus Koligens

NaCl : 25%, direabsorpsi aktif, tidak dapat dikendali, Bagian


ini impermeabel terhadap substansi lain.

i.
Na+: reabsorspsi bervariasi, Kendali : aldosterone
ii.
Air : reabsorspsi bervariasi, Kendali : ADH
Air : reabsorspsi bervariasi, Kendali : ADH

Gambar 12: Mekanisme counter current


Komposisi Urin Normal
Urea
Urea merupakan hasil metabolisme protein pada manusia yang berasal dari
perombakkan makanan dan jaringan.10 Ekskresi urea sebanding dengan pemasukkan
protein. Semakin banyak protein yang dimakan maka semakin banyak urea yang
akan dibuang. Semakin sedikit protein yang dimakan maka semakin sedikit urea
yang akan dibuat. Urea merupakan 80-90 % senyawa nitrogen urin normal. Ekskresi
urea meningkat ketika terjadi katabolisme protein seperti panas, diabetes melitus, dan
hiperaktivitas kelenjar adrenal.10
Kreatinin dan kreatin

19

Dalam urin dewasa kreatin terdapat dalam jumlah yang sangat kecil, tetapi pada
anak-anak dan wanita hamil jumlahnya lebih besar. Kreatin terdapat dalam semua
jaringan dan terbanyak dalam jaringan otot dalam bentuk fosfokreatinin, Untuk
pemeriksaan kadar kreatin urin, kreatin diubah menjadi kreatinin dengan pemanasan
dalam larutan asam kemudian diperiksa sebagai kreatinin.10 Perbedaan jumlah
kreatinin sebelum dan sesudah pemanasan urin dengan asam merupakan jumlah
kreatin dalam urin.
Jumlah kretinin yang diekskresi melalui urin kira-kira 1-1,8 g / 24 jam. Hampir
seluruhnya berasal dari kreatin dalam tubuh. Karena sebagian besar kreatin terdapat
di dalam jaringan otot, terdapat hubungan antara jumlah kreatinin yang dikeluarkan
dengan jumlah otot dalam jaringan tubuh.
Ekskresi kreatinin menurun pada penyakit-penyakit yang berhubungan dengan atrofi
dan kelemahan otot. Apabila katabolisme kretin di jaringan otot meningkat,
ekskresinya juga meningkat. Jumlah mg kreatinin yang diekskresi dalam 24 jam
dibagi berat badan kg disebut koefisien kreatin. Biasanya koefisien kreatinin selalu
konstan dan dipakai untuk menguji apakah utin yang dikumpulkan benar urin 24 jam
apa tidak. Koefisien kreatin pada laki-laki antara 20-26 mg / kg berat badan / 24 jam.
Koefisien kreatinin pada wanita adalah 14-22 mg / kg berat badan / 24 jam.10
Amoniak dan garam ammonium
Amonia merupakan hasil akhir metabolisme protein yang mengandung gugus N. Ini
merupakan yang komposisi urin kedua yang terpenting setelah urea. Dalam urin
amonia terdapat dalam bentuk garam ammonium dan jumlahnya kira-kira 0,7 mg g /
24 jam atau 2,5-4,5 % dari nitrogen total / 24 jam. Amonia urin berasal dari sebagian
sintesis di sel-sel tubulu ginjal. Pemeriksaan amonia harus dilakukan pada urin yang
segar atau yang diawetkan dengan baik karena amonia dapat dibentuk dari zat-zat
yang mengandung gugus nitrogen. Urin tanpa pengawet menyebabkan urea dalam
urin akan dipecah oleh enzim urikase sehingga terbentuk amoniak yang
menyebabkan urin menjadi alkalis dan menghasilkan bau pesing.10
Asam urat
Asam urat merupakan hasil metabolisme purin. Purin berasal dari makanan dan
pemecahan sel-sel yang tua. Asam urat bersifat sedikit larut dengan air dan mudah
mengendap. Dalam keadaan alkalis, garam asam urat dapat larut. Dalam keadaan
20

asidosis, garam asam urat mudah mengendap. Diet dengan tinggi protein
menyebabkan urin menjadi asam sehingga terjadi pengendapan asam urat ( batu
urat ) dan urin akan berwarna merah jambu. Ekresi meningkat pada leukimia, gout,
penyakit hati berat. Pemeriksaan asam urat di urin yaitu menggunakan reagens
arsenofosfotungsat dan jika hasil pemeriksaan berwarna biru maka orang tersebut
positif menderita asam urat. Asam urat merupakan senyawa N urin. Apabila pasien
tersebut minum salisisat maka akan memberikan warna biru pada pemeriksaan
dengan reagens arsenofosfotungsat. Pemeriksaan harus dilakukan sekali lagi dengan
memberikan enzim urikase sebelum meminum salisilat.10
Contoh: Sebelum diberi urikase = a mg ( asam urat salisilat )
Setelah diberi urikase = b mg ( salisilat )
Maka jumlah sekresi asam urat adalah ( a-b ) mg
Asam amino
Asam amino dalam urin orang dewasa adalah 100-200 asam amino N. Asam amino
pada urin bayi adalah 3 mg asam amino N / pon berat badan. Pada kelahiran normal,
asam amino pada urin adalah 6 mg asam amino N / kg berat badan dan akan terus
menurun sampai umur 6 bulan yaitu 2 mg / kg berat badan dan akan terus menetap
semasa anak-anak. Bayi prematur memiliki ekskresi asam amino 10 kali dari bayi
aterm. Asam amino sedikit sekali dalam urin karena batas ambang asam amino
sangat tinggi.
Ekskresi urin meningkat pada penderita penyakit hati stadium akhir dan keracunan
kloroform.
Penyakit kekurangan beberapa asam amino disebut sistinuria. Asam amino tersebut
adalah sistin, ornitin, lisin, dan arginin. Asam amino sistin dapat menimbulkan batu

sistin dalam saluran kencing.10


Allantonin
Klorida
Sulfat
Fosfat
Foafat terdiri atas natrium atau kalium fosfat yang merupakan fosfat alkali dan
kalsium atau magnesium fosfat yang merupakan fosfat alkali tanah. Kalsium atau
magnesium fosfat menurun dalam urin alkalis yang menyebabkan warna urin keruh.
Fosfat dipengaruhi oleh 2 mekanisme yaitu:
Sistim yang sensitif terhadap hormon paratiroid
Sistim ini bekerja terhadap 2/3 fosfat yang difiltrasi
Sistim yang tergantung pada kalsium
21

Sistim ini bekerja terhadap 1/3 fosfat yang difiltrasi.


Ekskresi fosfat dipengaruhi oleh protein dalam makanan dan sebagian besar berasal
dari fosfat sel. Eksresi fosfat meningkat pada osteomalacia, renal rickets,dan
hiperparatiroidisme. Ekskresi ginjal menurun pada penyakit ginjal, penyakit infeksi,
hipoparatirodi.10
Oksalat
Oksalat biasanya pada urin sangat rendahdan meningkat pada primary hyperoxaluria.
Oksalat sukar larut dalam dan musah mengendap. Pada suasana asam, metabolisme
oksalat meningkat seperti pemberian vitamin C dosis tinggi.10
Mineral ( Na, K, Ca, Mg )
Ekskresi Na tergantung pada penasukkan NaCl makanan dan keperluan tubuh akan
Na. Ekskresi K meningkat pada pemasukkan K yang meningkat, katabolisme
jaringan yang meningkat, dan gangguan keseimbangan asam basa. Contoh dari
gangguan keseimbangan asam basa adalah jika H + dalam intrasel meningkat maka
sekresi H+ akan meningkat sehingga dalam urin akan menjadi asam dan ekstrasel
alkalosis yang menyebabkan kejang-kejang.10
Vitamin, hormon, dan enzim

Komposisi urin Abnormal


Protein
Normal protein dalam urin adalah 30-200 mg / 24 jam. Proteinuria adalah adanya
protein dalam urin. Protenuria terbagi menjadi 2 macam yaitu:10
Protenuria fisiologis
Protenuria dikatakan fisiologis jika kadar protein dalam urin kurang dari 0,5 %.
Protenuria fisiologis didapatkan pada keadaan:
Latihan fisik yang berat
Sesudah banyak makan protein
Setelah berdiri lama
Pada saat kehamilan ( 30-35 % wanita hamil )
Protenuria patologis
Protenuria dikatakan patologis jika kadar protein dalam urin lebih dari 0,5 %.
Protenuria patologis ditemukan pada penyakit atau keadaan:
Glomerulonefritis
Nefrosis ( sindroma nefrolik )
22

Nefrosklerosis
Keracunan logam berat
Pemeriksaan kimia urin
Uji heller
Protein dalam urine mengalami denaturasi oleh asam nitrat pekat yang
tampak sebagai cincin putih pada perbatasan kedua cincin. Jika terdapat
cincin putih pada perbatasan kedua cincin maka urin tersebut positif terdapat
protein.10
Uji sulfosalisilat
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk memeriksa adanya protein dalam
urine dengan menggunakan larutan sulfosalisilat. Percobaan ini positif jika
terdapat endapan pada urine.10
Glukosa
Glikosa normal dalam urin adalah kurang dari 1 gram / 24 jam. Bila lebih dari 1
gram / 24 jam disebut glukosuria ( adanya glukosa di dalam urine ).Glukosuria
terjadi pada penderita diabetes melitus atau renal diabetes.
Terdapatnya glukosa di dalam urine disebabkan karena tubulus proksimal tidak
mampu mereabsorpsi selurus glukosa karena sudah melewati batas tubulus
maksimum glukosa yaitu 375 mg / menit. Normalnya, jika glukosa kurang dari
tubulus maksimum, semua glukosa yang difiltrasi dapat direabsorpsi semuanya
dengan memindahkan glukosa secara transport aktif oleh sel-sel tubulus per menit.
Jika glukosa lebih dari tubulus maksimum maka jumlah maksimum reabsorbsi
glukosa tercapai sedangkan sisanya tetap berada di filtrat untuk disekresikan.
Munculnya glukosa dalam urin pertama kali disebut ambang ginjal. Beberapa

pemeriksaan glukosa dalam urin yaitu:10


Test benedict
Tujuan dari test ini adalah untuk menetapkan kadar gula dalam urin normal dan
urin patologis secara semikuantitatif. Gula dalam urin mempunyai gugus aldehid
atau keton bebas yang mereduksi kupri menjadi kuprooksida yang tidak larut
dan berwarna merah. Banyaknya endapan merah yang terbentuk sesuai dengan

kadar gula yang terdapat di dalam urin.


Test fehling
Test dengan paperstrip
Test paperstrip mengandung enzim peroksidase.
23

Gula lain
Keton bodies
Normal keton yang berada di dalam urin adalah 3-15 mg / 24 jam. Ketonuria
menunjukan adanya keton dalam urin. Cara untuk memeriksa adanya keton di dalam
urine dengan menggunakan test urea. Test tersebut positif jika terdapat kompleks
warna ungu.10
Darah dan G hemoglobin
Hematuria adalah adanya darah dalam urin. Perbedaan antara hematuria dan
hemoglobin uria adalah jika hematuria, sel-sel darah merah tidak tembus cahaya dan
ada di urin sedangkan hemoglobin, ada sel darah di urine tetapi hanya bisa dilihat di
bawah mikroskopik.10
Porfirin
Porifiria adalah penyakit yang disebabkan gangguan dalam metabolisme protein
( sintesisnya ). Korporfirin normal dalam urine adalah 60-250 g / 24 jam.
Koproporfirin yang meningkat dalam urin adalah porfirinuria.10
Pemeriksaan makroskopik urin
Pemeriksaan yang diperiksa adalah volume.warna, kejernihan, berat jenis, bau dan pH urin:10
Volume urin
Pengukuran volume urin berguna untuk menafsirkan hasil pemeriksaan kuantitatif atau semi
kuantitatif suatu zat dalam urin, dan untuk menentukan kelainan dalam keseimbangan cairan
badan
Warna urin
Pemeriksaan terhadap warna urin mempunyai makna karena kadang-kadang dapat
menunjukkan kelainan klinik..Pada umumnya warna ditentukan oleh kepekatan urin, makin
banyak diuresa makin muda warna urin itu.Warna normal urin berkisar antara kuning muda dan
kuning tua yang disebabkan oleh beberapa macam zat warna seperti urochrom, urobilin dan
porphyrin.
Kejernihan urin.
Kejernihan dinyatakan dengan salah satu pendapat seperti jernih, agak keruh, keruh atau sangat
keruh. Biasanya urin segar pada orang normal jernih. Kekeruhan ringan disebut
Nubeculayangterdiri dari lendir, sel epitel dan leukosit yang lambat laun
24

mengendap.Dapat

pula

disebabkan oleh urat amorf, fosfat amorf yang mengendap dan bakteri dari botol

penampung.

Urin yang telah keruh pada waktu dikeluarkan dapat disebabkan oleh chilus,

bakter sedimen seperti epitel, leukosit dan eritrosit dalam jumlah banyak.

Berat jenis urin


Pemeriksaan berat jenis urin bertalian dengan faal pemekatan ginjal, dapat dilakukan dengan
berbagai cara yaitu dengan memakai falling, drop, gravimetri, menggunakan pikno meter,
refraktometer dan reagens pita'. Berat jenis urin 24 jam 1016-1022. Berat jenis urin sewaktu pada
orang normal antara 1,003 - 1,030.
Bau urin.
Untuk menilai bau urin dipakai urin segar, yang perlu diperhatikan adalah bau yang abnormal.
Bau urin normal disebabkan oleh asam organik yang mudah menguap.Bau yang berlainan dapat
disebabkan oleh makanan seperti jengkol, pate, obat-obatan seperti mentol, bau buah-buahan
seperti pada ketonuria.Bau amoniak disebabkan perombakan ureum oleh bakteri dan biasanya
terjadi pada urin yang dibiarkan tanpa pengawet.
Ph urin
Penetapan pH diperlukan pada gangguan keseimbangan asam basa, kerena dapat memberi
kesan tentang keadaan dalam badan.pH urin normal berkisar antar 4,7-8,0. Selain Itu penetapan
pH pada infeksi saluran kemih dapat memberi petunjuk ke arah etiologi.
Pemeriksaan mikroskopik urin
Pemeriksaan mikroskopik yang dimaksud dengan pemeriksaan mikroskopik urin yaitu
pemeriksaan sedimen urin.Ini penting untuk mengetahui adanya
saluran kemih serta berat ringannya penyakit. Urin yang

kelainan

pada ginjal

dan

dipakai ialah urin sewaktu yang

segar atau urin yang dikumpulkan dengan pengawet formalin. Pemeriksaan sedimen dilakukan
dengan memakai lensa objektif kecil (10X) yang
25

dinamakan lapangan penglihatan kecil atau

LPK.Selain itu dipakai lensa objektif besar (40X) yang dinamakan lapangan penglihatan besar
atau LPB.Jumlah unsur sedimen bermakna dilaporkan secara semi kuantitatif, yaitu jumlah ratarata per LPK untuk silinder dan per LPB untuk eritrosit dan leukosit. Unsur sedimen yang kurang
bermakna seperti epitel atau kristal

cukup dilaporkan dengan +(ada), ++ (banyak) dan +++

(banyak sekali). Lasimnya unsur sedimen

dibagi atas dua golongan yaitu unsur organik dan

tak organik. Unsur organik berasal dari sesuatu organ atau jaringan antara lain epitel, eritrosit,
leukosit, silinder, potongan jaringan, sperma, bakteri, parasit dan yang tak organik tidak berasal
dari sesuatu organ atau jaringan .seperti urat amorf dan Kristal.10

Keseimbangan Cairan Tubuh


Didalam setiap tubuh manusia terdapat cairan tubuh.Cairan ini bertugas untuk membuat
lingkungan cair didalam tubuh manusia karena sel-sel hidup tubuh manusia harus hidup dalam
lingkungan cair.cairan intersitisial adalah cairan yang berada dianatara sel-sel hidup, cairan ini
mengandung konsentrasi nutrien, gas, dan elektrolit yang dibututuhkan untuk mempertahankan
fungsi normal sel. Kelangsungan hidup sel memerlukan lingkungan internal yang konstan
(homeostasis). Mekanisme regulator penting untuk mengendalikan keseimbangan volume,
komposisi, dan keseimbangan asam-basa cairan tubuh.11
Total cairan tubuh bergantung pada usia, berat badan, jenis kelamin, dan derajat obesitas.
Kandungan ini berkurang seiring pertambahan usia. Pada bayi sekitar 80% berat badannya
adalah air.Karena bayi memiliki area permukaan yang lebih besar dibandingkan berat badannya.
Pada orang dewasa total cairan tubuh pada perempuan mencapai 60% berat tubuh, laki-laki
muda 50% berat badan.11
Total cairan tubuh pada perempuan lebih sedikit karena lemak subkutannya sangat
banyak. Jaringan adiposa mengandung air selular yang sangat sedikit (sekitar 10%) Obesitas
dapat terjadi pada kandungan total cairan tubuh yang hanya berkisar 25% sampai 30% berat
tubuh. Pada orang berusia di atas 65 tahun, total cairan tubuh mungkin hanya mencapi 40% berat
badan. Total cairan tubuh tersebar 50% dalam otot, 20% dalam kulit, 20% organ lain, 10% dalam
darah.11

26

Kesimpulan
Ginjal adalah organ vital yang berperan sangat penting dalam mempertahankan
kestabilan lingkungan dalam tubuh. Ginjal mengatur keseimbangan cairan tubuh, elektrolit, dan
asam-basa dengan cara filtrasi, reabsorpsi, serta sekresi. Ginjal juga mengeluarkan produk sisa
metabolisme dan zat kimia asing. Akhirnya, selain fungsi regulasi dan ekskresi, ginjal juga
mensekresi rennin, yang nanti akan berguna untuk merangsang sekresi ADH yang nantinya
berguna untuk menjaga agar tubuh tidak semakin kekurangan cairan.

Daftar Pustaka
1

Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC,
2004 (h)318-21.

Ganong W F. Fisiologi kedokteran. Jakarta: EGC; 2002. (h) 205

Sherwood, Lauralee. Fisiologi manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Penerjemah: Brahm U.P.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2001.

Belum

Geneser F. Atlas berwarna histology. Batam: Bina Rupa Aksara; 2007.p. 143-54.

Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi ke-6. Jakarta: EGC; 2011.h.553-80.

Silverthorn DU, Johnso BR, Ober WC, Garrison CW, Silverthorn AC. Human physiology.
Fifth Edition. San Fransisco: Pearson; 2010.p.631-4.

Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi ke-2. Jakarta: EGC;2001.h.482-3

Ganong FW. Buku ajar : fisiologi kedokteran. Edisi 20. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC. 2003.

10 Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC, 2007 .h307-20
11 Nasution. Pencernaan dan penyerapan protein dalam tubuh manusia. Diunduh dari
belajarbareng.unimedcenter.org, 1 oktober 2016.

27