Anda di halaman 1dari 11

Peran Ginjal sebagai Kontrol

Dalam Proses Regulasi Tekanan Darah


Angela Christine Virginia 102014080
Mohamad Pujiyantoro 102014115
Maria Angelia Mena 102015043
Eric Vinson Wijaya 102015113
Wulan Lee Leode 102015135
Achilia Meilani 102015158
Che Wan Muhammad Azmi Bin Che Wan Ibrahim 102015197
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta 11510
Email :Dina.Warkawani1@yahoo.com

Abstrak
Ginjal merupakan organ ekskresi yang utama, berjumlah sepasang dan terletak dalam
rongga perut tepat di kedua sisi columna vertebrae thoracalis XII sampai lumbal III.Ginjal
berbentuk seperti kacang dengan warna coklat kemerahan.Fungsi ginjal adalah mengatur air,
konsentrasi garam dalam darah, keseimbangan asam basa darah, serta ekskresi zat zat sisa yang
tidak digunakan lagi oleh tubuh.Selain itu, ginjal juga berfungsi untuk mengatur tekanan darah di
dalam tubuh. Jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air,
yang akan menyebabkan berkurangnya volume darah dan mengembalikan tekanan darah ke

dalam keadaan normal. Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam
dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali ke normal.

Kata kunci :Ginjal, organ ekskresi, tekanan darah

Abstract
Renal excretion is the main organ, totaling a pair and located right in the abdominal cavity on
either side lumbar vertebrae thoracalis 12 to 3. The kidney bean shaped with a reddish brown. Kidney
function is to regulate the water, the salt concentration in the blood, acid base balance of the blood, as
well as excretion of substances which is no longer used by the body. In addition, the kidneys also
function to regulate blood pressure in the body. If blood pressure rises, the kidneys will increase
spending on salt and water, which will cause a reduction in blood volume and blood and blood
pressure returns to normal. If the blood pressure falls, the kidneys will reduce the discharge of salt
and water, so that the increased blood volume and blood pressure returned to normal.

Keywords :Kidneys, excretory organs, blood pressure

Pendahuluan
Sistem cairan tubuh di ginjal untuk pengaturan tekanan arteri merupakan sistem yang sederhana.
Bila tubuh mengandung terlalu banyak cairan ekstrasel, volume darah dan tekanan arteri akan meningkat.
Peningkatan tekanan ini kemudian akan memberi pengaruh langsung yang menyebabkan ginjal

mengekskresi kelebihan cairan ekstrasel, sehingga mengembalikan tekanan ke nilai normal pada manusia,
sistem cairan tubuh di ginjal untuk pengaturan tekanan arteri, merupakan dasar untuk pengaturan tekanan
arteri jangka panjang. Faktor penentu utama nilai tekanan arteri jangka panjang yaitu derajat nilai tekanan
pengeluaran ginjal untuk air dan garam serta nilai asupan air dan garam. 1

Struktur makroskopis ginjal


Ren terletak retro peritoneal dibelakang peritoneum parietale, pada dinding posterior abdomen
disamping kanan dan kiri kolumna vertebralis.Ren memiliki panjang 11 cm, lebar 6 cm dan tebal 4 cm
dengan berat 130 150 g. Ren sinistra terletak terletak setinggi thoracal XI sampai lumbal II/III,
sedangkan pada ren dekstra terletak setinggi thoracal XII sampai lumbal III/IV. Ren dekstra terletak
sedikit lebih rendah dibandingkan ren sinistra, karena adanya lobus hepatis dekstra yang besar. Pada
margo medialis masing masing ren yang cekung, terdapat celah vertical yang dibatasi oleh pinggir
pinggir substansi ren yang tebal dan disebut hilus renalis. Hilus renalis meluas ke rongga yang besar
disebut sinus renalis. Hilus renalis sebagai tempat masuk keluar pembuluh darah, pelvis renis dan ureter. 1
Ren memiliki selubung yang terdiri dari capsula fibrosa yang melekat dengan erat pada
permukaan luar ren, capsula adipose yang mengandung banyak lemak (perirenal) dan membungkus ginjal
dan glandula suprarenalis, fascia renalis yang berasal dari fascia transversalis, terdiri atas dua lembar.
Bagian depan yaitu fascia prerenalis dan bagian belakang fascia retrorenalis yang melekat pada mm.
quadratus lumborum , m.psoas mayor dan columna vertebralis. Kedua lembar fascia renalis ke kaudal
tetap terpisah, ke cranial bersatu, sehingga kantong ginjal terbuka ke bawah.Oleh karena ini dapat terjadi
ascending infection.Fiksasi ginjal oleh capsula adipose yang pada keadaan tertentu sangat tipis, sehingga
jaringan ikat yang menghubungkan capsula fibrosa dengan capsula renalis kendor, dan ginjal turun
(nephroptosis).Nephrophtosis dapat terjadi pada ibu yang sering melahirkan (grande multipara). Bagian
bagian ginjal terdiri dari cortex renis dan medulla renis. 2
Cortex renis terdiri dari glomerulus dan capsula bowman yang membentuk corpusculum renis
Malpighi. Sebagian masuk ke medulla membentuk columna renalis (Bertini).Di glomerulus darah
disaring, kemudian disalurkan ke dalam medulla. Saluran saluran ini bermuara pada papilla renalis.
Medulla renis terdiri atas 8 15 pyramida renalis Malpighi (ductus colligentes dan ansa henle). Saluran
saluran yang menembus papilla disebut ductuli papillares (Bellini). Tempat tembus ini berupa ayakan
disebut area cribriformis.Papilla renalis adalah bagian yang menonjol ke dalam calyx minor.Di antara
pyramis pyramis terdapat columna renalis (Bertini).Beberapa calyx minor membentuk calyx major.
Beberapa calyx major akan mebentuk pelvis renis, kemudian akan masuk ke ureter. Ruangan tempat
3

calyx disebut sinus renalis. Hilus renalis merupakan tempat masuk keluar pembuluh pembuluh dan
pelvis renis ke ureter. Perdarahan ginjal yaitu arteri renalis berasal dari aorta abdominalis (LI II). 3
Arteri renalis akan masuk melalui hilus renalis dan akan bercabang menjadi arteri segmentalis,
bercabang dan berjalan lagi diantara lobus ginjal menjadi arteri interlobaris diantara pyramida ginjal,
kemudian pada perbatasan korteks dan medulla bercabang lagi menjadi arteri arcuata yang mengelilingi
korteks dan medulla, yang kemudian akan bercabang ke korteks ginjal menjadi arteri intelobularis.
Sedangkan pembuluh vena mulai berjalan dari vena interlobularis akan bercabang menjadi vena arcuata
dan bercabang menjadi vena interlobaris dan bercabang menjadi vena renalis yang kemudian akan
menuju vena cava inferior.1,2
Aliran getah bening yaitu nimfonoduli para-aorticae.Persarafan berasal dari pleksus renalis.Dari
plexus coeliacus yang berasal dari saraf saraf simpatik vasomotorik dan visceral aferen pada segmen
thoracal XII sampai lumbal I II.Hubungan ginjal dengan organ sekitarnya pada bagian anterior dan
posterior. Pada bagian anterior berhubungan dengan bagian kedua duodenum (kanan), cauda pancreas
(kiri), flexura coli dextra/sinistra, glandula suprarenales, bare area hepar (kanan), jejunum, lien, gaster.
Bagian posterior berhubungan dengan atap dan dinding dorsal ramus abdomen, diafragma (arcus
lumbocostalis), m.psoas major dan m.quadratus lumborum, ujung processus transversus vertebrae L 1-3,
aponeurosis m.transversus abdominis dan saraf saraf yaitu n. subcostalis thoracal XII, n.
iliohypogastricuslumbal I, n. ilioinguinalis lumbal I.1-3

Gambar 1 : letak & struktur ginjalGambar 2 : pembuluh darah

Gambar 3 : pembuluh darah ginjal

yang melalui hilus


renalis

Struktur mikroskopis ginjal


Unit kerja fungsional ginjal disebut sebagai nefron. Didalam setiap ginjal terdapat sekitar 1 juta
nefron yang pada dasarnya mempunyai struktur dan fungsi yang sama. Setiap nefron terdiri dari
4

korpuskel malpighi, tubulus kontortus proksimal, ansa henle yang terdiri dari segmen tebal
desenden(Tubulus rektus proksimal), segmen tipis ansa henle dan segmen tebal asenden(Tubulus rektus
distal)dan tubulus kontortus distalis. Tubuluskontortus distalis berlanjut ke duktus koligentes.Glomerulus
bersama Kapsul Bowmandisebut juga corpus Malpighi.Di atas badan Malpighi terdapat
apparatus/kompleks juxtaglomerulus, terdiri dari sel sel juxtaglomerulus yang menghasilkan renin, sel
sel mesangial ekstraglomerular/sel polkisen/sel lacis yang mungkin menghasilkan eritropoietin dan
macula densa sebagai sensor osmolaritas cairan di dalam tubulus distal.Struktur dan fungsi nefron terdiri
dari 2 bagian besar yaitu korpuskel renalis sebagai tempat filtrasi plasma dan tubulus renalis dimana
proses filtrasi menjadi menjadi urin, reabsorbsi garam garam spesifik dan air, sekresi limbah metabolik
ke dalam filtrasi dan urin dialirkan ke tubulus pengumpul. Pada korpuskel renalis terdapat kutub vascular
dan kutub urinarius.Kutub vascular merupakan tempat masuknya arteriol afferent dan keluarnya arteriol
efferent. Pada kutub urinarius mulainya pada tubulus kontortus proksimal. 4

Gambar 4 : mikroskopis ren

Gambar 5 : apparatus juxtaglomerular

Jalinan glomerulus merupakan kapiler-kapiler khusus yang berfungsi sebagai penyaring.Kapiler


glomerulus dibatasi oleh sel-sel endotel mempunyai sitoplasma yang sangat tipis, yang mengandung
banyak lubang disebut fenestra.Setiap korpus renal terdiri atas seberkas kapiler yaitu glomerulus,
dikelilingi oleh kapsul epitel berdinding ganda yang disebut kapsula Bowman.Lapisan luar membentuk
batas luar korpuskulus renal (lamina parietalis) yang terdiri atas epitel selapis gepeng yang ditunjang
lamina basalis dan selapis tipis serat retikulin. Lapisan dalam (lamina visceralis) meliputi kapiler
glomerulus yang terdiri dari sel-sel podosit.5
Sawar ginjal berfungsi memisahkan darah kapiler glomerulus dari filtrate dalam rongga kapsula
bowman. Sawar ini meliputi endotel kapiler bertingkap/fenestrate, lamina basal dan pedikel podosit yang
dihubungkan dengan membrane celah. Pada tubulus kontortus proksimal di bagian korteks, memiliki
5

epitel kuboid rendah, inti bulat, bersifat asidofil, inti sel dengan jarak berjauhan, lumen tidak jelas karena
terdapat brush border dan fungsi sebagai absorbsi makromolekul dari filtrate glomerulus dan beberapa
transport ion. Pada tubulus kontortus distalis di bagian korteks, epitelnya selapis kuboid rendah, bersifat
basofil, inti sel dengan jarak berdekatan, lumen jelas, tidak terdapat brush border, lumen lebih lebar
daripada tubulus kontortus proksimal, macula densa menempel di tubulus kontortus distal dekat
glomerulus, fungsi dalam reabsorbsi, sekresi/ekskresi. Ansa henle yang terletak di berkas medulla dan
medulla.Pada tubulus rektus proksimal serupa dengan tubulus kontortus proksimal, namun selnya lebih
rendah.Pada segmen tipis epitel selapis gepeng, mirip kapiler, tetapi tidak terdapat darah di
lumennya.Tubulus rektus distal serupa dengan tubulus kontortus distal, sel lebih pendek dengan inti yang
menonjol ke lumen, fungsi reabsorbsi air dan ion ion.Duktus koligens yang terletak di berkas medulla
dan medulla.Diameter 40m, epitel kuboid/torak, sitoplasma pucat, batas selnya jelas.duktus koligens
berjalan dalam berkas medulla menuju ke medulla. Di bagian medulla yang ke tengah beberapa duktus
koligens bersatu untuk membentuk duktus yang besar, bermuara ke apeks papila disebut duktus papilaris
(bellini) yang akan bermuara ke dalam calyx minor sebagai area cribrosa. 4,5

Gambar 6 : renal corpuscle

Gambar 7 : 2 kutub corpusculum renal

Mekanisme pengaturan tekanan filtrasi glomerulus ginjal serta hormone yang


berpengaruh terhadap tekanan darah
Fungsi ginjal salah satu mempertahankan volume plasma seperti tekanan darah, natrium dan air.
Proses utama di ginjal yaitu filtrasi yang terjadi di glomerulus, reabsorbsi dan sekresi yang terjadi di
tubulus. Pada filtrasi yang terjadi di glomerulus memiliki permeabilitas yang lebih besar dan membran
filtrasi yang terdiri dari dinding kapiler glomerulus, membrana basalis dan kapsula bowman juga terjadi
filtrasi plasma dan protein. Mekanisme yang terjadi pada filtrasi yaitu filtrasi bekerja sesuai dengan
adanya tekanan filtrasi, sesuai dengan gaya gaya starling (Starling force). Gaya gaya starling meliputi
6

tekanan hidrostatik glomerulus yang merupakan tekanan utama dalam mendorong filtrasi, tekanan
hidrostatik kapsula bowman yang bekerja melawan filtrasi dan tekanan onkotik pada protein plasma.
Tekanan hidrostatik kapiler glomerulus bergantung pada tekanan darah sistemik dan diameter arteriola
aferen dan eferen dalam proses konstriksi dan dilatasi. 6
Perubahan GFR terutama disebabkan oleh perubahan tekanan kapiler glomerulus. Perubahan
tekanan filtrasi dapat disebabkan oleh faktor utama yaitu tekanan kapiler glomerulus yaitu tekanan darah
sistemik rata rata, aliran darah ginjal dan resistensi arteriol aferen (konstriksi dan dilatasi). Faktor lain
yang mempengaruhi perubahan tekanan filtrasi adalah tekanan onkotik plasma dan tekanan hidrostatik
kapsula bowman. Pada tekanan onkotik plasma misalnya terjadi pada luka bakar yang luas sehingga
menyebabkan penurunan protein dan terjadi peningkatan filtrasi. Selain itu, dehidrasi juga dapat
menyebabkan peningkatan protein sehingga menurunkan filtrasi. Kedua faktor ini yang menyebabkan
pengaruhnya terhadap tekanan onkotik plasma. Pada tekanan hidrostatik kapsula bowman, dapat
dipengaruhi bila adanya sumbatan di bagian distal. Di ginjal terjadi proses autoregulasi yang dipengaruhi
oleh faktor internal yaitu mekanisme miogenik dan tubuloglomerular feedback. 7
Faktor miogenik yang memicu proses autoregulasi yaitu bila arteriol aferen konstriksi makan
akan meningkatkan tekanan darah, bila arteriol aferen dilatasi maka akan menurunkan tekanan darah.
Faktor tubuloglomerular feedback berfungsi untuk mempertahankan GFR, tekanan dan volume darah.
Bila tekanan darah sistemik menurun, maka akan menurunkan tekanan GFR sehingga arus filtrat
menurun. Hal ini menyebabkan durasi reabsorbsi menjadi lebih lama dan reabsorbsi natrium menjadi
lebih besar. Natrium yang rendah terdeteksi macula densa sehingga memicu aktivitas RAS yang akan
memicu kembali peningkatan tekanan darah, arus darah dan GFR.Di ginjal terjadi sistem Renin
Angiotensin (RAA). Renin di produksi oleh sel aparatus juksta glomerularis (arteriola aferen). Di hepar
akan mensintesis suatu protein yaitu angiotensinogen, kemudian akan diaktifkan menjadi angiotensin I
oleh renin.8
Kemudian angiotensin I akan diubah menjadi angiotensin II oleh converting enzyme yang
dihasilkan di paru.Mekanisme RAA terjadi dimana bila kadar natrium filtrat rendah terdeteksi oleh
macula densa, maka akan mengirim sinyal ke apparatus juxtaglomerular, kemudian apparatus
juxtaglomerular akan melepas renin ke plasma. Renin akan mengubah angiotensinogen menjadi
angiotensin I. Oleh ACE(Angiotensin Converting Enzyme) mengubah angiotensin I menjadi angiotensin
II. Efek angiotensin II yaitu sebagai vasokonstriksi, merangsang sistem saraf simpatis, merangsang
sekresi ADH, menimbulkan rasa haus dan merangsang sekresi aldosteron. 6-8
Selama angiotensin II ada dalam darah, maka angiotensin II mempunyai dua pengaruh utama
yang dapat meningkatkan tekanan arteri. Pengaruh yang pertama, yaitu vasokonstriksi di berbagai daerah
di tubuh, timbul dengan cepat. Vasokonstriksi terjadi terutama di arteriol dan jauh lebih lemah di vena.
7

Konstriksi di arteriol akan meningkatkan tahanan perifer total, akibatnya akan meningkatkan tekanan
arteri. Konstriksi ringan di vena vena juga akan meningkatkan aliran balik darah vena ke jantung,
sehingga membantu pompa jantung untuk melawan kenaikan tekanan. Pengaruh kedua yang membuat
angiotensin meningkatkan tekanan arteri adalah dengan menurunkan ekskresi garam dan air oleh ginjal.
Hal ini perlahan lahan akan meningkatkan volume cairan ekstrasel, yang kemudian meningkatkan
tekanan arteri selama berjam jam dan berhari hari berikutnya. Efek jangka panjang ini, yang bekerja
melalui mekanisme volume cairan ekstrasel, bahkan lebih kuat daripada mekanisme vasokonstriktor akut
dalam menyebabkan peningkatan tekanan arteri. 6
Angiotensin menyebabkan ginjal meretensi garam dan air melalui dua cara utama yaitu
angiotensin bekerja secara langsung pada ginjal untuk menimbulkan retensi garam dan air, juga
angiotensi bekerja secara tak langsung menyebabkan kelenjar kelenjar adrenal menyekresikan
aldosteron, dan kemudian aldosteron meningkatkan reabsorbsi garam dan air oleh tubulus ginjal.
Pengaruh angiotensin yang menyebabkan retensi garam dan air oleh ginjal dapat mempunyai pengaruh
yang kuat dalam meningkatkankenaikan tekanan arteri. Bila terjadi pengaruh awal kenaikan natrium
(asupan garam) akan mempengaruhi terjadinya kenaikan volume cairan ekstrasel, dan selanjutnya dapat
meningkatkan tekanan arteri. Kemudian, tekanan arteri akan menyebabkan meningkatnya aliran darah
yang melalui ginjal, yang mengurangi kecepatan sekresi renin sampai ke kadar yang sangat rendah dan
secara berurutan akan menurunkan retensi garam dan air oleh ginjal, mengembalikan volume cairan
ekstrasel hampir ke normal. Sehingga, sistem renin angiotensin merupakan mekanisme umpan balik
otomatis yang membantu mempertahankan tekanan arteri pada nilai normal atau yang mendekati nilai
normal apabila asupan garam meningkat, atau apabila asupan garam menurun hingga di bawah normal,
akan terjadi efek yang berlawanan.6
Faktor yang berpengaruh terhadap laju filtrasi glomerulus yang mempengaruhi produksi urin
yaitu osmoler clearance dan zat osmotik, dimana bila osmolaritas clearance naik, produksi urin naik
(osmotik diuresis misalnya pada DM), zat osmotik misalnya glukosa, sukrosa, manitol, ureum. Tekanan
osmotik plasma dimana bila tekanan naik osmolaritas plasma meningkat, tekanan filtrasi turun sehingga
laju filtrasi glomerulus turun dan produksi urin turun. Rangsangan simpatis yaitu bila konstriksi vas
afferen maka tekanan glomerulus turun dan laju filtrasi glomerulus menurun dan produksi urin menurun.
Tekanan darah arteri dimana tekanan arteri naik yang menyebabkan tekanan glomerulus naik, sehingga
laju filtrasi glomerulus naik dan urin naik, juga bila tekanan arteri naik, tekanan kapiler peritubuler naik
sehingga reabsorbsi turun dan urin naik. ADH yang disekresi oleh hipofise posterio, yang bila naik, maka
reabsorbsi air di duktus koligentes naik dan urin turun. 6

Gambar 8 : proses utama di ginjal

Gambar 9 : Sistem RAA

Kerja zat yang dapat menurunkan angiotensin II


Pada tekanan filtrasi di glomerulus ginjal,terjadi suatu proses yang disebut autoregulasi. Proses
ini terjadi bila pada tekanan filtrasi terjadi perubahan tekanan darah, maka akan terjadi perubahan tonus
arteriol afferent tetapi tekanan hidrostatik kapiler tetap normal, sehingga pengaturan ini disebut
autoregulasi. Autoregulasi diatur oleh sistem saraf intrinsic dan faktor faktor humoral seperti
angiotensin II, prostaglandin intarenal (Pg) dan vasopressin dari hipofise posterior.Angiotensin II
merupakan vasokonstriktor kuat, prostaglandin intrarenal merupakan vasodilator poten, vasopressin
(ADH) aktif dalam arteriol juxta medullaris. Bila tekanan darah rendah sekali, misalnya 50 60 mmHg

(shock), maka tekanan filtrasi akan berhenti sama sekali dan menyebabkan anuria. Bila tekanan darah
naik lagi maka terjadi filtrasi lagi dan pembentukan urin. 9
Faktor faktor yang mempengaruhi filtrasi adalah tekanan darah, peningkatan atau penurunan
tekanan GFR dipertahankan tetap oleh autoregulasi, obstruksi jalan arteri yang menuju ke glomerulus,
peningkatan tekanan interstitial oleh proses peradangan, peningkatan tekanan intratubuler oleh
penyumbatan dalam ductus colligentes, ureter dan urethra. Hormone ginjal dimana hormone dan zat zat
yang mempengaruhi organ/jaringa lain yaitu rennin, renomedullary prostaglandin, lipid netral
antihipertensi medulla ginjal, kininogen, eritropoietin, eritrogenin dan 1,25 di OH cholecalciferol.Renin
dihasilkan oleh sel juxta-glomerulosa (dekat arteriol afferent). Bila korteks ginjal iskemia maka sekresi
rennin akan meningkat. Sekresinya dirangsang oleh volume arteri yang menurun, natrium menurun pada
nefron bagian distal dan hipokalemia. Renin akan mengkatalisis reaksi angiotensinogen menjadi
angiotensin I.9
Angiotensinogen merupakan suatu protein yang dibuat oleh hati dan merupakan substrat dari
enzim rennin.Angiotensin termasuk golongan alfa 2 globulin.Angiotensin I adalah suatu dekapeptida hasil
pemecahan angiotensinogen oleh renin.ACE(Angiotensin Converting Enzyme) merupakan enzyme yang
mengkatalisis reaksi angiotensin I menjadi angiotensin II (suatu oktapeptida). Enzim yang berfungsi
menginaktifkan angiotensin I dan angiotensin II adalah angiotensinase yang reaksinya lebih besar pada
ginjal dan plasma dan lebih kecil dalam jaringan lain.Angiotensin I sedikit aktif dalam meningkatkan
tekanan darah sedangkan angiotensin II sangat aktif dalam meningkatkan tekanan darah (200 kali
kekuatan noradrenalin). Kerja angiotensin yaitu meningkatkan denyut jantung, vasokonstriksi pembuluh
darah bila RPF(Renal Pressor Filtrate) menurun maka enzim ini menyebabkan peningkatan tekana darah,
dan kerja angiotensin yang berpengaruh terhadap kontraksi otot polos (efek inotropik). 9
Angiotensin juga menstimulasi peningkatan sekresi aldosteron dimana angiotensin sebagai
hormone tropic yang merangsang sekresi aldosteron.Sistem Renin Angiotensin disebut sebagai Renal
Pressor System (RPS) atau disebut juga RAS (Renal Angiotensin System).RPS menjadi aktif bila ada
iskemia ginjal.Prostaglandin merupakan asam lemak dengan 20 atom C yang berasal dari asam pentanoat
yang mempunyai efek langsung terhadap pembuluh darah.Derivate PG dihasilkan oleh jaringan diseluruh
tubuh (vesica seminalis, otak, kelenjar timus dan ginjal).Dalam ginjal terutama bagian medulla ginjal
dibentuk PGA2, PGE2 dan PGE2 alfa.Ketiga prostaglandin ini menyebabkan relaksasi otot polos
sehingga menyebabkan vasodilatasi arteri yang berfungsi untuk menurunkan tekanan darah.Selain itu
prostaglandin menyebabkan peningkatan aliran darah ginjal, natriuresis dan mengganggu fungsi ADH.
Kemudian zat lain yang berpengaruh terhadap tekanan darah yaitu lipid antihipertensi. Lipid ini berasal
dari medulla ginjal.Merupakan lipid netral (bukan prostaglandin). Zat lainnya yaitu kininogen yang
mempunyai sifat antihipertensi.9
10

Kesimpulan
Perubahan tekanan darah sistemik dapat mempengaruhi perubahan aliran darah ginjal
khususnya pada tekanan GFR sehingga akan terjadi proses autoregulasi serta sistem hormonal
ginjal (sistem RAA) untuktetap mempertahankan agar tekanan darah sistemik dan di ginjal tetap
normal.
Daftar pustaka
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Snell RS. Anatomi Klinis Berdasarkan Sistem. Jakarta : EGC ; 2007


Wibowo DS. Anatomi tubuh manusia. Jakarta: Grasindo;2008
Sloaner E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC; 2003.
Leeson CR, Leeson TC, Paparo AA. Buku Ajar Histologi Ed.5. Jakarta : EGC ; 2006
Suryono, isnani. Buku ajar histologi. Edisi ke-3. Jakarta : Saunder elvesier ; 2007

Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi ke 11. Jakarta : EGC; 2007
Sherwood L. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. Ed.6.Jakarta: EGC; 2011
Ganong, william francis. Fisiologi kedokteran .edisi ke 24. Jakarta : EGC : 2015
Robert K, Murray, Darly K, Granner, Rodwell VW. Biokimiaharper. Edisi ke-27.
Jakarta: EGC; 2009.

11