Anda di halaman 1dari 23

EKSPERIMEN DALAM FISIKA

Artikel ini berisi terjemahan dan sekaligus refleksi pada bagian-bagian tertentu
dari artikel aslinya berjudul Experiment in physics yang dipublikasikan oleh
Stanford Encyclopedia of Philosophy pada tanggal 5 oktober, 1998
I. HASIL EKSPERIMEN
A. Kasus-kasus Yang Bisa Dipelajari dari Eksperimen
1. Espitomologi experiment
Jurnal ini dimulai dengan membahas espitomologi experiment. Espitomologi
berasal dari kata yunani yaitu episteme yang berarti pengetahuan dan logos berarti
perkataan, pikiran atau ilmu. Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang
berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian,
dasar-dasarnya serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan
yang dimiliki oleh setiap manusia. Espitomologi bisa juga diartikan usaha umat
manusia untuk mendapatkan ilmu pengetahuan melalui eksperimen.
Pada bab ini dipaparkan pandangan Ian Hacking tentang Espitomologi
Eksperimen. Ian Hacking berpendapat dalam bukunya Representing and
Intervening (1983) bahwa eksperimen berperan penting dalam penemuan sains
persoalan tentang eksperimen telah diabaikan olh filsafat sains karena filsafat
sains terlalu eksekutif dalam teori dan terobsesi dengan teori dalam arti
positivistic dan analitik.

Sekarang yang menjadi pertanyaanya bagaimana kita bisa mempercayai hasil


observasi atau eksperimen yang diperoleh dari alat eksperimen yang begitu
kompleks? Ian Hacking berpendapat bahwa hasil observasi bisa dinyatakan valid
apabila obervasi tersebut menggunakan dua (atau lebih) alat eksperimen yang
berbeda system kerjanya secara fisika tetapi menghasilkan data yang sama.
Jawaban Hacking memang tepat tetapi kurang lengkap karena pada kenyataanya
kita tidak bisa selalu mempunyai dua atau lebih alat/ perangkat eksperimen.
Bagaimana jika kita hanya memiliki satu alat eksperimen?
Pada jurnal ini dipaparkan beberapa cara untuk memvalidasi hasil observasi
apabila kita hanya memiliki satu perangkat ekserimen. Diantaranya sebagai
berikut:
1. Pemeriksaan/pengujian secara eksperimen dan kalibrasi. Sebagai contoh
apabila kita membuat sebuah spectrometer dengan tipe atau jenis baru. Maka kita
bisa mengujinya pada spectrum atom hydrogen. Apabila spectrometer tesebut
menunjukkan spectrum sesuai dengan deret balmer yang dikenal dalam fisika
modern mak kita bisa katakan bahwa spectrometer tersebut bisa dipercaya untuk
menghasilkan data yang valid.
Menurut saya ini adalah saluh satu cara yang paling tepat untuk memvalidasi
perangkat observasi. Dengan semakin majunya perkembangan sains dan teknologi
maka semakin banyak alat observasi yang diciptakan. Terutama alat observasi
yang berbasis digital atau komputerisasi. Tapi tentunya semua alat baru tersebut

membutuhkan suatu validisasi sebelum digunakan secara umum. Teknik observasi


seperti ini sangat sesuai untuk memvalidisasi berbagai macam alat observasi yang
baru ditemukan manusia.
2. Dengan cara membuat suatu medium yang berguna dalam eksperimen. Suatu
contoh pada pengukuran spectrum infra merah molekul organic. Hampir tidak
mungkin ntuk menyiapkan suatu bahan organic murni untuk kemudian di teliti.
Maka para ilmuan menempatkan moleul organic tersebut didalam minyak atau zat
pelarut lalu kemudian di amati menggunakan spectrometer. Spektrometer ini
nanatinya akan menghasilkan data spectrum campuran molekul dengan
minyak/zat pelarutnya.
Minyak atau zat pelarut yang dipakai sebagai medium ini sebelumnya telah
diteliti spektrumnya sehingga saat menganalisis spectrum campuran tadi, ilmuwan
dapat mendapatkan spectrum untuk molekul organic.
Menurut saya ini adalah suatu pendekatan cukup baik untuk mengobservasi.
Tapi penggunan medium untuk observasi seperti dipaparkan pada contoh tersebut
butuh suatu kajian yang mendalam lagi. Misalnya apakah dengan mencampur zat
pelarut terhadap objek eksperimen dapat menyebabkan perubahan pada objek
tersebut sehingga data yang diperoleh tidak sesuai dengan kenyataan.
3. Mengeleminasi segala penjelasan yang tidak mungkin, hingga tersisa
penjelasan yang masuk akal Ketika para ilmuwan melihat lompatan/kilatan listrik
di cincin saturnus. Mereka mengeliminasi segala pennyebab atau penjelasan yang

tidak mungkin. Yaitu bahwa tidak mungkin disebabkan oleh cacat atau kerusakan
pada telemetri , interaksi lingkungan saturnus, debu atau petir. Satu-satunya
penjelasan ang masuk akal yang tersisa adalah hal ini teerjadi karena adanya
discharge muatan pada cincin Saturnus.
Menurut saya validasi seperti ini masi lemah, karena cuma berdasarkan
rasional manusia. Sedangkan segala sesuatu yang berdasarkan rasional manusia
masi ada kemungkinan untuk salah. Saya tetap berkeyakinan bahwa suatu teori
betul-betul valid apabila ada pembuktiannya secara empiris. Untuk kasus
lompatan muatan listrik pada cincin saturnus misalnya satu-satunya cara untuk
mengetahui penyebabnya secara valid adalah ilmuwan harus meakukan perjalanan
kesana ( atau bisa diganti dengan robot yang dewasa ini sering digunakan oleh
NASA untuk eksploitasi luar angkasa) mengobservasi keadaan disana serta
mengambil sampel untuk dilakukan penelitian secara mendalam. Hingga nantinya
tercapai suatu kesimpulan yang kuat. Jika sekedar analisis rasional maka sampai
kapanpun itu Cuma sebatas hipotesis dan belum bisa dimasukkan ke dalam
khasanah ilmu pengetahuan.
4. Menggunakan hasil eksperimen itu untuk memvalidasi eksperimen itu sendiri.
Misalnya pada waktu Galileo menemukan tiga satelit alami Jupiter, yaitu Io,
Europa dan Castillo pada 7 januari 1610. Sebagian orang mungkin
mempertanyakan hasil observasi tersebut tapi Galileo berpendapat bahwa
penampakan satelit itu tidak real dan tidak mungkin disebabkan oleh kerusakan
teleskop.

5. Menggunakan kolaborasi dari beberapa teori untuk memvalidasi hasil


eksperimen.Sebagai contohnya eksperimen tentang keberadaan interaksi arusnetral yang mampu dijelaskan dengan teori medan terpadu oleh teori Weinberg
salam.
Sejak dulu, para fisikawan telah mengetahui bahwa ada empat macam gaya
fundamental di jagad raya, yang jangkauan kerja (range) dan kekuatannya berbeda
satu sama lain. Pertama, gaya terlemah dengan jangkauan kerja yang sangat jauh,
yaitu gaya gravitasional. Gaya ini mengatur keselarasan gerak system tata surya,
bintang-bintang, galaksi, dan kosmos. Kedua, gaya yang jauh lebih kuat daripada
gaya gravitasional, yaitu elektromagnetik. Gaya yang mempunyai jangkauan kerja
yang cukup pendek ini mengatur keselarasan gerak dalam gugusan molekul dan
atom. Ketiga, gaya nuklir jenis kuat atau gaya inti yang mengikat proton dan
neutron dalam inti atom. Keempat, gaya nuklir jenis lemah. Gaya ini biasanya
digunakan dalam proses peluruhan radioaktif dengan cara memancarkan partikel
beta. Dari keempat gaya tersebut, gaya nuklir jenis kuat dan lemah yang
menjamin keselarasan gerak ion-ion penyusun inti atom dan kemantapan ion itu
sendiri.
Sehubungan dengan hal tersebut, Abdus Salam melakukan sebuah penelitian
yang hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan principil antara gaya
nuklir dan listrik. Sebenarnya, bentuk energy nuklir jenis lemah identik dengan
bentuk energy elektromagnetik. Pada tahun 1973, kebenaran teori Abdus Salam

tersebut didukung oleh para peneliti dari Laboratorium Riset Nuklir Eropa
(CERN), Jenewa, yang menemukan adanya interaksi arus netral, yang
merupakan bagian pokok dari prediksi teori Abdus Salam (Teori Medan Terpadu).
Sebenarnya, teori ini sudah dikenal sejak tahun 1960-an. Sementara itu, teori
interaksi elektromagnetik antarpartikel telah ada sejak tahun 1940-an. Pada tahun
1978, para peneliti dari Pusat Akselator Linier Stanford, Amerika Serikat,
melakukan sejumlah penelitian tentang gaya elektromagnetik dan nuklir.
Hasilnya, mereka sependapat dengan teori Abdus Salam.
2. Elaborasi Gallison
Dalam bukunya yang berjudul How experiments end (1987), Peter Gallison
menguraikan kondisi eksperiment yang lebih complex. Dalam sejarah pengukuran
rasio Gyromagnetic electron, penemuan muon, sampai pada penemuan interaksi
arus netral lemah merupakan suatu rangkaian eksperimen yang berbeda-beda yang
berpuncak pada suatu penemuan, dan merupakan eksperimen fisika two highenergy yang dilakukan oleh suatu grup/komunitas besar

dengan beragam

peralatan eksperimen yang complex.


Gallison berpendapat bahwa suatu eksperimen baru bisa berakhir saat para
ilmuwan yang terlibat di dalamnya memperoleh hasil yang mereka yakini bisa
dipertanggungjawabkan didalam pengadilan, suatu hasil yang sudah termasuk
didalamnya strategi untuk menghadapi perdepatan estimologi.
Garrison menekankan bahwa dalam suatu grup eksperimental yang besar,
anggota grup yang berbeda mungkin akan menemukan bagian yang berbeda dari
6

bukti-bukti yang sangat meyakinka. Dia menunjukkan bahwa kebanyakan


perubahan teori atau praktik eksperimen atau intsrumentasi tidak harus ditemukan
pada waktu yang bersamaan Garrison menyifatkan bahwa, para ilmuwan berusaha
untuk mengembangkan keterampilannya dalam menggunakan alat atau instrument
experiment tetentu.
Saya sangat sependapat dengan pemikiran garrison ini, karena kalau kita
menengok sejarah khususnya perkembangan fisika modern. Maka kita bisa
simpulkan bahwa fisika ini dikembangkan oleh suatu komunitas yang sangat
besar. Perkembangan fisika modern atau fisika kuantum dimulai dengan
percobaan radiasi benda hitam dan dijelaskan dengan teori kuantum oleh Max
Planc pada tahun 1900, kemudian teori kuantum ini diperkuat oleh Albert Einstein
mellaui penjelasannya terhadap efek fotolistrik (1905), kemudian Ernest
Rutherford pada tahun 1911 mengemukakan eksistensi inti atom melalui hasil
percobaan Hans Geiger dan Ernest Marsden, kemudian datanglah Neils Bohr
dengan teori atomnya,

kemudian Louis de Broglie mempostulatkan perilaku

gelombang dari partikel pada tahun 1924, sempai akhirnya Erwin Schrodingger,
Max Born, Werner Heisenbergh dan ilmuwan lainnya membangun mekanika
kuantum dan penelitian serta eksperimen ini terus berlanjut sampai sekarang.
Benang merah yang bisa kita tarik adalah fisaka atau sains dibangun oleh suatu
komunitas yang besar, yang terdiri dari para ilmuwan yang menyumbangkan
potongan-potongan ilmu yang penting. Ilmuwan yang mengembangkan fisika ini
tersebar mulai dari amerika dengan ilmuwanya seperti Richard Feynman sampai

ke jepang dengan fisikawanya terkenal seperti Hideki Yukawa, Sin Itiro


Tomonaga. Bahkan negra dunia ketiga seperti Pakistan tidak ketinggalan
menyumbangkan ilmuwannya yaitu Abdus Salam yang mendapatkan nobel fisika
tahun 1979.
Robert Ackerman menawarkan suatu pandangan tentang keuntungan dari
instrumentasi sains diantaranya bahwa hal ini tidak merubah teori, justru akan
mewujudkan teori tersebut dalam dunia nyata serta memastikan teori tersebut.
Instrumen akan menciptakan suatu hubungan yang invariant (tetap) antara teori
dengan dunia nyata.
Gallison juga mendiskusikan aspek lain hubungan antara eksperimen dan teori.
Teori memungkinkan untuk memberi pengaruh nyata terhadap eksperimen,
menuntut penjelasan dari hasil eksperimen dan juga bisa menjadi latar belakang
dari sebuah eksperimen.
Teori juga berperan sebagai enabling theory yaitu memungkinkan kita untuk
memperhitungkan atau menaksir efek yang diinginkan.
Gallison juga menyatakan bahwa terdapat bahaya dari sebuah eksperimen
yang dapat menghalangi observasi dari fenomena. Gallison menunjukkan bahwa
desain asli dari sebuah eksperimen interaksi arus netral, yang melibatkan pemicu
berupa muon, yang tidak mengisinkan observasi terhadap arus netral. Eksperimen
ini aslinya untuk mengobservasi

arus bermuatan , yang menghasilkan muon

berenergi tinggi, bukan untuk mengobservasi arus netral. Pemicu muon dapat

mengaburkan pengamatan terhadap arus netral. Maka disinilah ilmuwan secara


teori mengganti pemicunya. Walupu demikian, penggantian pemicu tidaklah
menjamin bahwa arus netral akan bisa diobsarvasi.
Gallison juga menunjukkan bahwa pengandaian teoritis dalam eksperimen dapat
menjadi pertimbangan untuk mengakhiri suatu percobaan. Sebagai contoh adlaah
Einstein dan de Haas mengakhiri pencariannya terhadap systematic error ketika
mereka mendapatkan nilai rasio Gyromagnetic terhadap electron, g=1 yang mana
sama dengan teori mereka tentang orbital electron.
Gallison kemudian memodifikasi pandangannya dalam bukunya berjudul Image
and Logic (1997). Dia berpendapat bahwa terdapat dua tradisi eksperimental yaitu
tradisi visual (image) dan tradisi electronic (or logic). Tradisi visual menggunakan
detector

seperti cloud chamber atau buble chanber yang mana menyediakan

informasi yanglebih detal dan lebih luas tentang kajadian individual. Sedangkan
tradisi elektronik menggunakan alat detector seperti Geiger counters, scintillation
counter dan spark chamber, menyediakan kurang detail informasi tentang kejadian
individual tetapi mendeteksi lebih banyak kejadian. Adapun argumentasi secara
statiskal itu berdasarkan banyaknya kejadian. Adapun Kent Staley (1999) tidak
sependapat dengana Gallison, menurutnya kedua tradisi ini tidak berbeda karena
keduanya menggunakan statistic yang sama.
B. The Case Against Learning From Experiment
1. Collins and the experiment regress lainnya

Collins, Pickering dan yang lainnya tidak sependapat bahwa hasil eksperimen
dapat diterima secara argument epistemological. Mereka menunjukkan bahwa
kritikus selalu saja memiliki alasan untuk menolak hasil eksperimen. Apa yang
menjadi dasarnya Ilmuwan untuk menganggap suatu hasil yang diperoleh baik
adalah instrument tersebut bekerja dengan baik. Collins mengklaim bahwa tidak
ada suatu kriteria yang resmi untuk memutuskan apakah sebuah alat eksperimen
bekerja dengan seharusnya atau tidak. Khusussnya dia berpendapat bahwa
mengkalibrasi suatu perangkat eksperimen menggunakan sebuah surrogate signal
tidak akan membuktikan bahwa perangkat eksperimen tersebut reliabel.
Sebagai contoh adlah usaha untuk mendeteksi

gelombang gravitasi oleh

Joseph Weber. Gelombang gravitasi adalah riak dalam lengkung ruang-waktu


yang bergerak dalam bentuk gelombang menjauhi sumbernya. Keberadaan
gelombang ini diprediksi pada tahun 1916 oleh Albert Einstein sebagai dasar teori
relativitas umum yang dipaparkannya. Gelombang gravitasi mengangkut energi
dalam bentuk radiasi gravitasi. Gelombang ini terbentuk akibat invariansi Lorentz
dalam relativitas umum yang menjelaskan bahwa segala pergerakan interaksi fisik
dibatasi oleh kecepatan cahaya. Sebaliknya, gelombang gravitasi tidak dapat
terbentuk dalam teori gravitasi Newton yang menyatakan bahwa interaksi fisik
bergerak dengan kecepatan tak hingga. Sebelum gelombang ini terdeteksi, sudah
ada bukti-bukti tak langsung mengenai keberadaannya. Gelombang gravitasi yang
dapat terdeteksi diduga berasal dari sistem bintang biner yang terdiri atas katai
putih, bintang neutron, dan lubang hitam.

10

Seperti diuraikan dalam buku Gempita tarian Kosmos oleh Sandi Setiawan
(1994) tentang usaha mendeteksi gelobang gravitasi. Joseph Weber di Universitas
Maryland adalah orang pertama yang membuat detector gelombang gravitasi.
Pada pertengahan 1960-an, peralatan utamanya terrdiri dari slinder almunium
seberat 1,5 ton yang diharapkan akan bergetar bila mendeteksi gelombang
gravitasi dengan frekuensi tertentu melewatinya peralatan ini ditempatkan dalam
sebuah tabung hampa udara dan dilengkapi dengan peredam getaran dan
dihubungkan dengan Kristal piesoelektrik yang akan menghasilkan potensial
elektrik jika mengalami sedikit stress. Dua antena pendeteksi gelombang
gravitasi ini dioprasikan bersama-sama, satu terletak di Maryland dan yang
lainnya terdapat di Laboratorium Naional Argonne, terpisah sekitar 1000
kilometer. Dan Weberpun mengklaim bahwa dia telah mendeteksi adanya
gelombang gravitasi. Tapi kemudian klaim ini ditolak karena peralatan serupa
kemudian yang dibangun tidak bisa mendeteksi gelombang gravitasi seperti yang
dinyatakan oleh Weber
Menurut saya bersifat kritis terhadap eksperimen merupakan sesuatu yang
wajar dan memang diperlukan. Hal ini diperlukan untuk terus memodifikasi
eksperimen hingga tercapainya eksperimen yang ideal atau mendekati ideal.
Semakin kompleks suatu eksperimen maka akan semakin banyak diperlukan trial
and error hingga terciptanya suatu eksperimen yang ideal. Tetapi beranggapan
secara mutlak bahwa eksperimen tidak bisa diterima adalah suatu kesalahan.

11

Karena kembali lagi bahwa fisika ini dikembangkan oleh komunitas yang sangat
besar. Apabila suatu individu atau gup eksperimental mengembangkan teori atau
eksperimen, dimana ternyata terdapat kekurangan maka akan muncul kelompok
lain yang dengan eksperimen lebih baik, sampai akhirnya nanti tercipta suatu
eksperimen yang bisa diterima.
Begitupun usaha untuk menemukan gelombang gravitasi ini.Walaupun
eksperimen Weberini ditolak tapi kemudian ini menjadi pemicu bagi ilmuwanilmuwan lain untuk melakukan eksperimen yang sama dengan perangkat
eksperimen yang berbeda. William Fairbank dan teman sejawatnya dari
universitas standford kemudia membangun slinder alumunium lima ton untuk
mendeteksi gelombang gravitasi ini. Sedangkan Igor bradinsky menggunakan
Kristal tunggal batu permata yang sempurna, mereka mengharapkan bahwa kristal
ini mampu mendeteksi getaran oleh gelombang gravitasi berupa panas internal
didalam Kristal.
Ada beberapa usaha untuk mendeteksi gelombang gravitasi. Temuan baru kali
ini datang dari observasi dengan fasilitas Laser Interferometer Gravitational-wave
Observatory

(LIGO).LIGO

mendeteksi

gelombang

gravitasi

berdasarkan

perubahan yang diakibatkannya pada ruang dan waktu sekitarnya. Gelombang


gravitasi akan meregangkan ruang dan waktu di satu sisi, tetapi memampatkan
lainnya.

LIGO sebenarnya merupakan satu set fasilitas yang terpisah 4 kilometer, di

12

Washington

dan

Lousiana.

Keduanya

dihubungkan

oleh

pipa

vakum.

Dalam fasilitas LIGO, ada instrumen penembak laser. Laser akan terus bergerak
dalam

saluran

vakum

dari

fasilitas

satu

ke

yang

lain.

Jika tak ada gelombang gravitasi, jarak yang ditempuh laser akan selalu sama
sepanjang waktu. Namun, bila ada gelombang gravitasi yang datang, jarak tempuh
akanberubah.

Perubahan itu yang ditangkap. IGO dilengkapi oleh detektor mahasensitif yang
bisa

menangkap

perubahan

yang

sebenarnya

amat

kecil

itu.

Bayangkan, perubahannya bukan lagi dalam ukuran milimeter, melainkan lebih


kurang hanya sepersepuluh ribu dari diameter sebuah atom!

13

Ilustrasi cara kerja fasilitas LIGO.

Detektor telah dirancang sesensitif mungkin dan seselektif mungkin sehingga


perubahan karena adanya truk lewat dekat fasilitas, petir, atau lainnya yang bukan
gelombang

gravitasi

diabaikan.

LIGO dikembangkan sejak tahun 2002. Tahun 2010, fasilitas LIGO dihentikan
sementara untuk perbaikan. Pada September 2015 lalu, LIGO beroperasi kembali.

Fasilitas LIGO setelah perbaikan dikenal dengan Advanced LIGO. Singkatnya,


fasilitas baru itu jauh lebih sensitif dan selektif dalam menyaring kebisingan.
Advanced LIGO sebenarnya baru beroperasi pada 18 September 2015 lalu.
Namun, detektor yang telah dinyalakan beberapa hari sebelumnya ternyata
berhasil mendapatkan data pada 14 September 2015.
Akhirnya beberapa waktu lalu dua lubang hitam bersatu. Mereka bersatu
menjadi lubang hitam yang luar biasa massif, berukuran 62 kali massa matahari.
Persatuan itu menghasilkan gelombang gravitasi yang luar biasa besar. Besarnya
bisa disetarakan dengan selisih antara jumlah massa lubang hitam yang
sebenarnya

dengan

massa

lubang

hitam

baru

yang

terbentuk.

Dua lubang hitam bermassa 36 dan 29 kali matahari seharusnya membentuk


lubang hitam bermassa 65 kali matahari. Namun, yang terbentuk ternyata 62. Sisa

14

3 kali massa matahari itu yang dikonversi menjadi energi gelombang gravitasi
yang

terdeteksi

pada

tanggal

11

bulan

januari

2016.

Selain LIGO, fasilitas lain yang berusaha melacak gelombang gravitasi adalah
Laser Interferometer Space Antenna (LISA). Fasilitas ini dikelola oleh Badan
Antariksa Eropa (ESA).Ada juga North American Nanohertz Observatory for
Gravitational Waves atau NANOGrav. Beda dengan LISA dan LIGO, NANOGrav
tidak menggunakan laser, tetapi melacak gelombang radio.

2. Pickering
Pickering menawarkan pandangan berbeda mengenai hasil eksperimen. Dalam
pandangannya segala hal yang terkait dengan prosedur eksperimen ( termasuk
perangkat eksperimen itu sendiri, bagaimana menjalankannya, dan memonitor
oprasionalnya), teori moel perangkat eksperimennya, teori model fenomena yang
diinvestigasi adalah all plastic resources yang investigator bawa kedalam suatu
hubungan yang saling mutual.
Dia mengambil contoh usaha pencarian quark bebas oleh Morpurgo, atau fraksi
muatan 1/3 e atau 2/3 e, dimana e adalah muatan electron. Morpurge
menggunakan perangkat percobaan tipe Millikan, pada awalnya dia mendapatkan
distribusi kontinyu. Kemudian dengan mengutak-atik perangkat eksperoimennya
Morporge menemukan bahwa apabila dia memisahkan pelat kapasitornya dia
hanya akan mendapatkan nilai integral dari muatan. Stelah melakukan analisis
15

teoritis , Morpurge menyimpulkan bagaimana perangkatnya bekerja dengan baik,


kemudian dia melaporkan kegagalannya hingga akhirnya dia mendapatkan
beberapa bukti tentang fraksi muatan.
Pickering membuat beberapa poin penting tentang dan Valid mengenai
percobaan. Yang paling penting adalah dia menekankan bahwa perangkat
eksperimen pada awalnya jarang memberikan hasil yang valid dan dengan
beberapa penyesuaian, atau bermain-main, diperlukan sebelum hal itu. Dia juga
mengaku bahwa baik teori perangkat eksperimen maupun teori fenomena yang
sedang diselidiki keuanya dapat menyetu untuk menghasilkan hasil eksperimen
yang valid.
3. Respon kritik terhadap pickering
Ackarmen telah menawarkan modifikasi terhadap pandangan pickering. Bahwa
perangkat experiment pada dasarnya adalah suatu plastic resource yang kurang
lalu kemudian teori model perangkat eksperimen ataupun teori tentang fenomena
yang ingin diselidiki
Perubahan dari A [perangkat] sering terlihat secara real time tanpa menunggu
akomodasi dari B [teori modal perangkat] sebagai perbaikannya. Sedngkan
pengembangan dari B tidak akan dimulai sampai A betul-betul diganti.
Haacking (1992) juga menawarkan versi yang lebih complex dari pandangan
Pickering. Dia menyarankan bahwa hasil yang matang dari laboratorium dapat
mencapai stabilitas dan pembenaran dirinya apabila tercapai apabila elemen sains

16

laboratorium telah dibawa kedalam hubungan mutual yang konsisten dan saling
mendukung. Elemen tersebut adalah: 1) Ide: pertanyaan, latar belakang
pengetahuan, teori sistematis, hipotesis topic, dan modeling dari perangkat
eksperimen.
II. THE ROLE OF EXPERIMENT (Peran eksperimen)
A. A life Of is Own
Meskipun eksperimen sering sekali mengambil perenan penting dalam
hubungannya dengan teori. Hacking menunjukan bahwa eksperimen memiliki
kehidupannya sendiri yang independent terhadap teori. Dia mencatat bahwa
pengamatan murni Carolyn Herschel dalam penemuan Kometnya, pekerjaan
William Herschel terhadap panas radiasi dan observasi Davy terhadap gas
buangan alga dan flaring (oksidasi temperature tinggi gas-gas yang mudah
terbakar) yang terdapat di dalamnya. Investigasi dari fenomena-fenomena tersebut
dilakukan tanpa ada dasar teori. Satu hal juga yang harus dicatat bahwa pada abad
ke 19 . Pengukuran terhadap spectrum atom maupun pengukuran terhadap masa
dan sifat -sifat partikel elementer, dilakukan tnpa adanya bimbingan dari teori.
Dalam menentukan eksperimen apa yang akan dikejar, para ilmuwan mungkin
akan sangat dipengaruhi oleh peralatan apa yang tersedia dan kemampuan
ilmuwan tersebut untuk menggunakan perangkat eksperimennya. Makanya, ketika
kolaborasi Mann-ONeil melakukan eksperimen fisika energy tinggi di accelator
Princeton Pensylvania pada akhir 1960-an rangkaiaan percobaannya adalah 1)

17

Pengukuran rasio decay K+ 2) Pengukuran rasio cabang K+ e3 dan spectrum decay


3) Pengukuran rasio cabang K+ e2, 4) Pengukuran bentuk factor dalam decay K + e3.
Percobaan-percobaan tersebut dilakukan dengan perangkat eksperimen yang
sama. Tetapi dengan memodifikasi relativity minor untuk setiap partikel
eksperimen. Pada akhir dari rangkaian eksperimen ini, para eksperimenter-nya
akhirnya menjadi sangat ahli dalam penggunaan perangkat eksperimennya serta
memiliki pengetahuan yang cukup mumpunitentang latar belakang dan
permasalahan eksperimen. Hal tersebut menjadikan kelompok peneliti ini sukses
untuk menjalankan eksperimen yang lebih rumit lagi. Ini adalah suatu trasisi yang
baik dalam pandangan Gallison dimana para ilmuwan, baik teoritis maupun
eksperimental cendrung untuk mengejar eksprimen dan permasalahan yang mana
latihan dan keahlianya bisa digunakan.
B. Konfirmasi dan Sanggahan
Meskipun demikian, peran penting eksperimen melibatkan perannya dengan
teori. Experiment melibatkan hubunanya dengan teori. Experiment bisa
menkomfirmasi teori , membantah teori, atau memberika struktur atau petunjuk
matematis terhadap teori.
Saya sangat sependapat dengan pernyataan ini Karen banyak kejadian dalam
fisika dimana eksperimen bisa mengkomfirmasi atau menyanggah teori. Seperti
contoh yang telah dipaparkan sebelumnya dimana eksperimen akhirnya bisa
mengkomfirmasi gelombang gravitasi sesuai dengan perkiraan teori relativitas
umum Einsten, eksperimen juga bisa menjadi sanggahan bagi suatu teori

18

contohnya teori tentang adanya zat eter yang mengalir di alam semesta in, bisa
disanggah dengan meyakinkan oleh eksperimen Albert A Michelson dan Edward
E Morley pada tahun 1887, eksperimen juga bisa memberikan koreksi matematis
terhadap suatu teori contohnya eksperimen radiasi benda hitam yang ternyata
tidak sesuai dengan rumus Rayleigh-jeins, kemudia Max Planck mongkoreksi
persamaan tersebut hingga akhirnya sesuai dengan hasil eksperimen.
C. Komplikasi
Pada

subbab sebelumnya telah dipaparkan tentang hubungan

antara

eksperiment dan teori. Eksperiment memberikan suatu hasil yang tegas dan tanpa
ambiguitas terhadap prediksi teori. Tidak ada kesimpulan dicapai yang
menimbulkan pertanyaan. Dalam sains yang lebih kompleks hasil eksperiment
bisa saja menimbulkan konflik bahkan mungkin tidak benar. Perhitungan teoritis
bisa saja salah atau teori yang dianggap benar yang salah. Bahkan terdapat kasus
dimana teori maupun eksperimen keduanya salah. Kali ini akan didiskusikan
kasus yang mengilustrasikan kompleksitasnya.
1. The Fall of The Fifth Force
Episiode gaya ke lima ini adalah kasus sanggahan terhadap hypotes, tetapi
hanya setelah perselisian antara hasil eksperimen diselesaikan. Hasil percobaan
awal mendukung hipotesis ini, sedangkan percobaan lainnya menolaknya. Setelah
banak pengulangan eksperimen akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa gaakelima
sebenarnya tidak ada.

19

2. Percobaan benar tetapi teori yang salah: The Stern-Gerlach Eksperiment.


Percobaan Stern-Gerlach dianggap sebagai percobaan yang krusial tetapi.
Dalam pandangannya komunitas fisika hal ini akan memutuskan kebenaran antara
dua teori, menolak yang satu dan menerima yang lainnya. Eksperimen SternGerlach memberikan bukti keberadaan spin electron.
3. Terkadang sanggahannya tidak bekerja: The double- Scattering electron.
Pada bagian sebelumnya telah dipaparkan bagaimana kompleksitas
membandingkan teori dengan hasil eksperimen. Kadang seseorang akan
dihadapkan dengan pertanyaan apakah perangkat/hasil eksperimen memenuhi
teori, atau sebaliknya dimana teori lebih tepat dibandingkan hasil eksperimen.
Sebuah kasus dalam sejarah eksperimen diamana dua hamburan electron oleh inti
berat (Hamburan Mott). Selama tahun 1930-an dan hubungannya dengan teori
electron Dirac. Awalntya eksperimen ini tidak sesuai dengan teori, tetapi setelah
satu decade didapatkan bahwa ada yang salah pada eksperimen tersebut sehungga
mengaburkan hasil akhirnya.
D. Peran yang lain
1. Bukti keberadaan entitas yang baru : J.J Thompson dan electron
Eksperimen bisa menjadi bukti keberadaan entitas baru yang terlibat dalam
teori Eksperimen J.J Thompson dengan sinar katoda membuktik keberadaan
electron

20

2. Artikulasi teori : Interaksi lemah


Eksperiment juga bisa menjadi artikulasi atau penguat dari sebuah teori.
Contohnya eksperiment hamburan beta selama tahun 1930-an sampai 1950-an
yang dengan tepat membuktikan peluruhan Fermi.
III. Kesimpulan
Artikel ini membahs tentang bagaimana eksperimen bisa menmberikan
sumbangsi terhadap khasanah ilmu pengetahuan. Artikel ini dibahas dengan
tinjauan filsafat tapi kebanyakan menggunakan contoh-contoh dari perkembangan
fisika modern.
Menurut saya ini adalah suatu makalah yang sangat berbobot, disusun secara
sistematis dan memberikan kajian yang mendalam. Contoh yang diambil juga
sangat tepat dengan pembahasannya. Artikel ini sangat cocok dibaca oleh mereka
yang bergelut dibidang fisika baik Akadenisi, mahasswa fisika maupun para
peneliti

agar

mempunyai

suatu

gambaran

tentang

eksperimen

dengan

hubungannya dengan teori.


Pada artikel ini dibahas bagaimana cara memvalidasi suatu hasil observasi,
sebagian besar langkah-langkah memvalidaasi yang disampaikan saya setuju,
kecuali memvalidasi dengan berdasarkan analisis rasional. Seperti saya telah
uraikan di bab satu, bahwa analisis dengan rasional selalu ada kemungkinan untuk
salah.

21

Menurut saya validasi yang paling tepat itu adalah memvalidasi antara suatu
eksperimen dengan eksperimen lainnya, saat itulah analisis rasional atau teoritis
bekerja misalnya Efek fotolistrik dijelaskan oleh einsten dengan teori kuantum,
tetapi teori kuantum tersebut bukan murni analisis rasional dari pemikiran
Einstein tetapi itu lahir dari eksperimen radiasi benda hitam yang kemudan
darinya ditarik suatu teori kuantum. Einstein disini sebagai perantara yang
menghubungkan kedua eksperimen tersebut melalui suatu benang merah.
Atikel ini juga memberikan gambaran bahwa sains itu dikembangkan dala suatu
komunitas yang besar. Dimana dalam komunitas tersebut terdapat anggotaanggota kelompok yang menyumbangkan bagian-bagian penting.
Artikel ini juga membahs bagaimana eksperimen dan teori saling mempengaruhi
satu sama lain,kadang eksperimen mengkomfirmasi, menyanggah atau bisa
mengkoreksi teori. Tapi terkadang juga eksperimen gagal dalam menyenggah
teori karena ternyata pada eksperimen tersebut terdapat kesalahan.

22

23