Anda di halaman 1dari 11

Tango-lele: Pendekatan Semiotika C.

S Morris
Aprilia
1. Latar Belakang
Tanda menyebar dimana-mana bagai hantu yang berkeliaran berjejak tanpa
jarak. Tidak terikat waktu dan tidak pula terikat ruang. Kini, di era pascamodern,
tanda-tanda menjelma instabil. Tanda direkonstruksi sebagai sebuah penundaaan,
karena akan selalu timbul tanda baru untuk menandai yang lain. Takkan ada yang
mapan dan takkan ada finalitas. Yang ada hanyalah penundaan-penundaan yang entah
sampai kapan. Begitu pula manusia yang takkan bisa lepas dari tanda. Manusia
seakan tenggelam dalam tanda. Baik tanda konvensional yang telah ada, maupun
tanda yang direproduksi ulang guna menandai tanda yang lain. Semua tindak-tanduk
manusia melulu merefleksikan tanda, berpikir, berbicara, menyampaikan pesan
(berkomunikasi), bahkan ditiap detik penafsiran akan makna dalam hidup
menggunakan tanda. Sejalan dengan pernyataan Thwaites, dkk (2002) yang
menyatakan bahwa Tanda adalah apapun yang memproduksi makna. Hal itu
melukiskan suatu ekstase, candu yang mendalam akan tanda. Tanda menguasai hidup
manusia.
Menetapnya tanda sebagai penanda bagi petanda masih menjadi perbincangan
hangat para penggiat semiotik (ilmu tentang tanda) hingga saat ini. Oleh karena itu,
diperlukan suatu landasan berpikir mengenai tanda, yakni dalam ilmu pertandaan

dikenal dengan sebutan semiotik. Semiotik diperkenalkan oleh ilmuan Eropa yakni
Ferdinand de Saussure yang ilmunya disebut semiologi dan ilmuan Amerika Charles
Sanders Pierce yang ilmunya disebut semiotik. Pada dasarnya kedua ilmu ini sama,
sama-sama mempelajari tanda. Akan tetapi, konsep-konsep yang diangkat
didalamnya dan perumusan metode analisis di dalamnya cenderung berbeda.
Saussure karena berlatar belakang ilmu bahasa, lebih menekankan kajiannya pada
linguistik atau ilmu bahasa. Dimana dalam kajiannya mengenai tanda, dilandasi
segitiga tanda, yakni tanda (sign), penanda (signifier), dan petanda (signified).
Segitiga itu mengacu pada bentuk dan konten yang dilanjutkan pada konsepnya,
yakni parole (ujaran) dan langue (bahasa). dalam kerangka yang lebih besar Saussure
mencipta langage (sistem kebahasaan), yakni seperangkat aturan yang mewadahi
langue dan parole. Aturan tersebut memuat nilai-nilai dan konteks sosial yang
membentuk tanda tersebut atau dikenal dengan istilah kode. Untuk membedakan
tanda-tanda yang begitu banyak diciptakanlah suatu kombinasi tanda yang berisikan
kode-kode di dalamnya yang oleh Saussure disebut dengan Paradigmatik, sekaligus
mencipta suatu tanda yang terikat oleh penggunaan pada waktu dan ruang tertentu
yang oleh Saussure disebut Sintagmatik. Kesemua konsep-konsep Saussure yang
disebutkan sebelumnya melandasi kajiannya terhadap tanda dan pengunnanya dalam
penyampaian pesan.
Seiring berkembangnya semiotika, bidang desain dan seni rupa pun dimasuki
pengaruh ilmu semiotika. Hal ini disebabkan ada kecendrungan akhir-akhir ini dalam

wacana desain untuk melihat objek-objek desain sebagai sebuah fenomena bahasa,
yang didalamnya terdapat tanda (sign), pesan yang ingin disampaikan (message),
aturan atau kode yang mengatur (code), serta orang-orang yang terlibat di dalamnya
sebagai subjek bahasa (audience, reader, user) (Piliang, 2003). Dari fenomena itu,
penulis mencoba memfokuskan tulisan ini pada pendekatan semiotic untuk
menemukan gagasan tanda-tanda di dalam Tango-lele karya Andy Mahardika.
Tango-lele merupakan ukulele yang dibuat oleh crafter atau luthier dari kota
kembang (Bandung), yakni Andy Mahardika. Andy Mahardika berlatar belakang
pendidikan desain produk. Ia berhasrat untuk menciptakan karya-karya yang
bermedia utama kayu. Ketertarikannya pula pada instrumen musik bersenar,
mendorongnya untuk mencipta suatu karya berupa ukulele. Ukulele merupakan
instrument musik utama jenis musik keroncong. Musik keroncong merupakan musik
hasil akulturasi budaya nenek moyang dengan pendatang. Dari suaranya yang
menghasilkan bunyi crong..crong..crong, menjadikan ukulele sebagai instrumen
musik unik, ditambah dengan ukurannya yang relatif lebih kecil, bila dibandingkan
dengan gitar. Penamaan musik keroncong diprakarsai oleh pergeseran bunyi yang
mengacu pada bunyi crong yang seiring dengan perkembanga bahasa menjadi
cong atau keroncong. Hal ini menjadi satu alasan dari berbagai alasan lainnya yang
mendorong Andy Mahardika untuk menciptakan Tango-lele. Akan tetapi, timbul
permasalahan mengenai karya seni yang dikategorikan seni kriya, pun karya Tangolele. Dalam penciptaan Tango-lele, Mahardika memberikan gagasan melalui tanda

yang ada di dalamnya, maka dari itu penulis mencoba menemukan gagasan tanda
Mahardika dalam Tango-lele melalui pendekatan dimensi semiotik C.S Morris.
C.S Morris mengembangkan metode penelitian semiotikanya melalui tiga
dimensi semiotik, yaitu dimensi sintaktik, dimensi semantik, dan dimensi pragmatik.
Menurut Piliang (2003) klasifikasi Morris ini sangat penting dalam penelitian desain
oleh karena ia dapat menjelaskan tingkat sebuah penelitian, apakah pada tingkat
sintaktik (struktur dan kombinasi tanda), tingkat semantik (makna sebuah tanda atau
teks), atau tingkat paradigmatik (penerimaan dan efek tanda pada masyarakat).
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan penikmat seni kriya akan makna
tanda-tanda di dalam karya tersebut melalui pendekatan dimensi semiotik C.S Morris,
khususnya Tango-lele.

2. Rumusan Masalah
Dari pemaparan latar belakang masalah sebelumnya, dapat dirumuskan
masalah terkait penelitian ini, yaitu:
2.1 Bagaimana Tango-lele dapat dikategorikan sebagai salah satu bagian dari
seni kriya?
2.2 Apa saja tanda-tanda yang hendak disampaikan Andy Mahardika dalam
Tango-lele?
3. Tujuan Penelitian

3.1 Memberikan pemahaman tentang ragam bentuk seni kriya kayu, khususnya
Tangolele.
3.2 Menemukan gagasan Andy Mahardika pada Tangolele melalui tanda-tanda
yang ada di dalamnya.
3.3 Memberikan sumbangan pikiran mengenai karya seni kriya dan
pemaknaannya melalui pendekatan dimensi semiotik C.S Morris.
4. Landasan Teori
Saussure (via Piliang, 2003) dalam Course in General Linguistic menyatakan
bahwa semiotika sebagai ilmu yang mengkaji tentang tanda sebagai bagian dari
kehidupan saosial. Dari pernyataan itu, dapat diketahui bahwa tanda memang
berkaitan erat dengan kehidupan sosial atau unsur-unsur lain pembentuk tanda yang
melingkupinya. Setidaknya dari semiologi Saussure dapat kita khususkan pada lima
pandangan utamanya, yakni (1) signified (petanda) dan signifier (penanda), (2) form
(bentuk) dan conten (isi), (3) langue (bahasa) dan parole (ujaran, tuturan), (4)
synchronic (sinkronis) dan diachronic (diakronis), (5) syntagmatic (sintagmatik) dan
associative (paradigmatik) (Ahimsa-Putra, 2001). Penulis mencoba menekankannya
hanya pada poin (1) dan (3) saja yang akan dikembangkan lanjut dengan
menggunakan pendekatan dimensi semiotika yang dipaparkan oleh Morris. Dimensi
semiotika sintaktik-semantik-paradigmatik ini sangat penting dalam penelitian desain
oleh karena ia dapat menjelaskan tingkat sebuah penelitian, apakah pada tingkat
sintaktik (struktur dan kombinasi tanda), tingkat semantik (makna sebuah tanda atau

teks), atau tingkat paradigmatik (penerimaan dan efek tanda pada masyarakat)
(Pilliang, 2003).
4.1 Signified (Petanda) dan Signifier (Penanda)
Menurut Saussure, bahasa sebagai suatu sistem tanda. Bisa berupa,
suara-suara, baik suara manusia ataupun bunyi-bunyian bilamana ia
menyamapaikan ide ide dan pengertian-pengertian tertentu, maka itu
termasuk ke dalam bahasa. Pun dengan simbol yang ada dalam suatu benda.
Semua yang berkaitan dengan bahasa, berkaitan pula dengan tanda.
Tanda adalah juga kesatuan dari suatu bentuk penanda yang disebut
signifier, dengan sebuah ide atau tinanda yang disebut signified (Ahimsa,
2001). Oleh karena itu, penanda dan petanda saling terkait dan tidak dapat
dipisahkan satu dan lainnya. Penanada dan petanda dipersatuka melalui
konsep atau referen atau acuan sebagai citraan dari petanda untuk menandai
penanada atau tanda tersebut.
4.2 Langue (Bahasa) dan Parole (Ujaran)
Selain mengulas unit-unit yang memebentuk bahasa, Saussure juga
membahasa baasa sebagai gejala sosial. Mengenai hal ini Saussure
berpendapat bahwa bahasa pada dasarnya memiliki dua aspek, yakni aspek
langue dan aspek parole. Langue inilah yang memungkinkan terjadinya
komunikasi simbolik antarmanusia karena lague ini dimiliki bersama. Langue

dalam konsepsi Saussure mirip dengan competence dalam pandangan


Chomsky (Ahimsa, 2001). Dapat diketahui bahwa langue menjadi wadah
komunikasi atau wadah manusia untuk berbahasa dengan sesamanya sesuai
dengan aturan-aturan, struktur, dan kesepakatan bahasa yang telah disepakati
pra penggunannya.
Bebeda halnya dengan parole atau performance dalam pandangan
Chomsky yang merupakan wujud atau aktualisasi dali langue dalam rupa lisan
maupun tulisan (Culler dalam Ahimsa, 2001). Parole merupakan apa yang
melekat pada personal pengguna bahasa yang memiliki ciri khas dan
karakteristik masing-masing, karena keunaikan yang berbeda-beda dari
masing-masing personal pengguna bahasa.
4.3 Dimensi Sintaktik
Dimensi sintaktik menjadi tahap awal memasuki analisis yang
berkenaan dengan struktur dari bahasa variabel yang dikaji. Sintaktik
berkaitan dengan studi mengenai tanda itu sendiri secara individual, maupun
kombinasinya, khususnya analisis yang bersifat deskriptif mengenai tanda dan
kombinasinya. Secara sifat, dimensi semantik meneliti struktur tanda dari
penanda atau petanda. Dalam dimensi ini Morris melihat struktur dan
kombinasi tanda-tanda (Piliang, 2003). Struktur digunakan untuk memahami
konstruksi variabel yang dikaji agar memudahkan untuk dimaknai dalam
dimensi selanjutnya.

4.4 Dimensi Semantik


Selanjutnya, analisis memasuki babak baru, dimana tanda mulai
dipahami maknanya. menurtut Piliang (2003) dalam dimensi semantik, tanda
ditindaklanjuti dalam pemaknaan akan makna yang terkandung dalam tanda
tersebut. Elemen yang dikaji, yakni berupa struktur konteks denotasi konotasi,
seperti ideologi atau mitos. Ideologi dilihat sebagai tujuan akan medium yang
digunakan, warna yang dilekati dalam karya, dan bentuk yang ditonjolkan
dalam keseluruhan karya. Semantik disini dimaknai sebagai relasi antar tanda
dan signifikasi atau maknyanya (Piliang, 2003).
4.5 Dimensi paradigmatik
Dimensi terakhir ialah dimensi pragmatik. Pragmatik merupakan studi
mengenai relasi antar tanda dan penggunanya, khususnya yang berkaitan
dengan penggunaan tanda secara konkrit dalam berbagai peristiwa, serta efek
atau dampaknya terhadap pengguna (Piliang, 2003). Dimensi ini mencoba
melihat efek dari tanda yang melekat dalam karya terhadap penerima atau
penikmat karya sebagai respon akan resepsi diantara keduanya. Sejalan
dengan penekanan Piliang (2003), bahwa dimensi pragmatik berusaha melihat
efek tanda dan elemen yang ditelitinya seputar reception, exchange, discourse,
efek (psikologi ekonomi sosial gaya hidup).

5. Metode Penelitian
Metode

merupakan

strategi

atau

langkah-langkah

sistematis

untuk

menyederhanakan masalah sehingga lebih mudah untuk dipecahkan (Ratna, 2009).


Metode merupakan petunjuk untuk mengoperasionalkan alat dalam suatu penelitian.
Alat disini, dapat dimaksudkan sebagai teori pendukung penelitian. Metode
berhubungan dengan proses pengambilan data dan analisis data penelitian
(Endraswara, 2003). Selaras dengan hal tersebut, metode berkenaan dengan
pengoperasionalan teori dalam meneliti objek kajian yang sesuai dengan disiplin ilmu
yang bersangkutan dengan penelitian.
Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif
berdasarkan pendekatan dimensi semiotik C.S Morris. Diawali dengan menentukan
topik atau objek kajian, mengenali karakteristik dan medium objek kajian,
mengumpulkan

pustaka-pustaka

yang

membantu

jalannnya

penelitian,

dan

menerapkan teori analisis terhadap objek penelitian. Metode penelitian diuraikan ke


dalam dua bagian utama, yaitu metode pengumpulan data dan metode analisis data.
Metode pengumpulan data merupakan tahap untuk menemukan, serta
mengumpulkan data-data terkait penelitian. Pengumpulan data dalam penelitian ini
dilakukan melalui studi pustaka untuk memperoleh data-data kualitatif. Dalam
metode ini, penulis mencoba menelusuri informasi mengenai data-data mengenai
objek kajian dan lalu mencari pustaka mengenai teori yang akan digunakan dalam
penelitian selanjutnya.

Metode analisis data merupakan tahap untuk menerapkan teori yang


digunakan penulis untuk merumuskan masalah yang telah ditetapkan oleh penulis.
Penulis menggunakan terminologi dari Saussure mengenai tanda dan penanda, serta
langue dan parole yang akan dikolaborasikan lebih lanjut dengan pendekatan dimensi
semiotik dari C.S Morris. Langkah awal analisis, yakni menemukan tanda dan
penanda, serta langue dan parole. Selanjutnya, penulis meneliti variabel itu melalui
tiga dimensi semiotik C.S Morris, yakni dimensi sintatik, dimensi semantic, dan
dimensi pragmataik. Dalam dimensi sintaktik, variabel tersebut akan diteliti
strukturnya, lalu dalam dimensi semantik, variabel tersebut akan diteliti maknanya,
dan pada dimensi akhir, dimensi paradigmatik, variabel tersebut akan diteliti efeknya
atau dampak yang dicipta dari tanda yang nampak dalam Tango-lele.

6. Sistematika Penyajian
Penelitian ini terdiri dari empat bab. Bab 1 berisikan latar belakang penelitian,
rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode
penelitian, dan sistematika penyajian. Bab 2 memaparkan karakteristik Tangolele
yang dikategorikan sebagai salah satu bagian dari karya seni kriya. Bab 3
memaparkan analisis tanda-tanda yang terdapat dalam karya Tangolele berdasarkan
pendekatan semiotika Saussurian. Dan terakhir bab 4 berisikan tentang kesimpulan
keseluruhan penelitian dan saran.

7. Daftar Pustaka
Ahimsa-Putra, Heddy Sri. 2001. Strukturalisme Levi-Strauss: Mitos dan
Karya Sastra. Yogyakarta: Galang Press.
Endraswara, Suardi. 2003. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pusta
-ka Widyatama.
Piliang, Yasraf Amir. 2003. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas
Matinya Makna. Yogyakarta: Jalasutra.
Ratna, I Nyoman Kutha. 2009. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra:
dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme Prespektif Wacana Nar
-atif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Thawaites, Tony, dkk. 2002. Introducing Cultural and Media Studies:
Sebuah Pendekatan Semiotik. Yogyakarta: Jalasutra.