Anda di halaman 1dari 2

Opini

Namanya saja opini, tentu tulisan ini lebih bebas cara menulis dan gaya bahasanya sesuai
karakter penulis. Bisa menggunakan gaya bahasa humor, reflektif, kontempaltif, analisis yang
ilmiah. Sebab, ruang opini itu dimunculkan oleh media sebagai wahana untuk berdialog bagi
orang di luar media. Yang menulis juga beraragam mulai tokoh politik, seniman dosen,
hingga mahasiswa dan orang biasa.
Rubrik ini memiliki tempat yang terhormat di media massa. Sebab, keberadannya bisa
sebagai alat ukur sebuah kekutan media dan berita-berita yang dimuat dalam media itu.
Semakin banyak yang mengirim opini semakin bagus kualitas dan media tersebut. Maka
jangan heran kalau kemudian sulit sekali menembus rubrik ini di media-media massa
nasional.
Bagaimana cara menulis opini?. Pada dasarnya, tak jauh dengan tulisan yang lain. Tapi yang
perlu diperhatikan, opini harus menyangkut tema-tema yang baru, menarik dan penting
untuk dibahas. Untuk mengukur ini, bisa dilihat dari berita-berita di media. Masalah apa yang
lagi in saat ini. Jangan menulis opini dengan tema yang sudah usang.
Soal teknis menulis ?.Jangan terlalu bingung, anggap saja kalian sedang diskusi. Ketika
dalam diskusi yang sengit itu anda diminta untuk melakukan bantahan atau mencari solusi.
Kalau dalam diskusi menggunakan bahasa oral, tetapi dalam opini menggunakan bahasa
tulisan. Soal bagaimana tulisan, usahakan bahasa mengalir dan disertai dengan ending yang
bagus. Jangan mbulet dan diulang-ulang.
Uniknya, belum tentu orang yang nerocos bicaranya otomatis juga bagus tulisannya.
Kadangan yang terjadi justru sebaliknya, orang yang memiliki kekuatan bahasa oral,
seringkali lemah dalam bahasa tulis. Sebaliknya, ada orang yang cenderung pendiam tapi
ramai dalam menulis dan tajam analisanya. Tapi ada juga yang memiliki kedua kemampuan
tersebut. Silahkan teliti anda termasuk yang mana.
Tetapi jangan khawatir, dua masalah ini bisa diselesaikan dengan gampang.. Untuk opini
yang bersifat ilmiah anggap saja seperti menulis pokok bahasan dalam sebuah makalah. Tapi
jangan lupa, karena ini dimuat di media massa maka usahakan bisa difahami semua pembaca.
Sebab anda faham belum tentu orang lain faham.
Dan jangan lupa, untuk bisamenulis denganbaik, cara yang paling tepat adalah dengan terus
mencoba mengirim tulisan ke media. Selagi tulisan itu belum dimuat, jangan berhenti. Dan
kalau sudah dimuat, telitikembali tulisan itu, ada yang di edit, dikurangi, diubah atau tidak.

Dari situ maka akan bisa melihat kualitas tulisan anda menurut media tersebut.
Contoh Opini:
Kecaman terhadap agresi militer Israel, tidak hanya dilakukan umat Islam. Warga Yahudi di
Israel juga mengecam keras, termasuk umat Nasrani di AS, mengecam komando Ehud
Olmert, perdana menteri Israel itu ( A Riyadi Amar, mahasiswa UMJ di Jawa Pos 19
Agustus 2006)

Esai

Esai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebautkan sebagai karangan prosa yang
membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Secara
bebas, esai bsia dikatakan sebagai tulisan yang berisi pendapat dan gagasan seseorang tentang
sastra, seni dan kebudayaan.
Maka jangan heran, kalau para penulis esai itu biasanya seorang seniman, budayawan,
sastrawan, kritikus seni, atau bisa juga politik. Meskipun tidak menutup kemungkinan orang
di luar itu juga bisa menulis esai. Tulisan ini syarat dengan kandungan atau bahasan masalah
di atas. Tulisan ini biasanya ditulis lebih ringan dan mengalir.
Contoh Esai :
Munculnya puisi modern ala Barat yang gencar dipelopori Chairil Anwar, tidak seluruhnya
menghabiskan puisi gaya lama yang telah mengakar di Iandonesia. Paling tidak, kata
Sutardji Calzoum Bachri, pesona bunyi pantun masih sering muncul dalam puisi yang ditulis
penyair-penyair modern (D Zawawi Imron, Jawa Pos 27 Agustus 2006)