Anda di halaman 1dari 13

PEMERINTAH KABUPATEN KAIMANA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KAIMANA


NOMOR 6 TAHUN 2009
TENTANG
PEMBERIAN IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI KAIMANA,
Menimbang

a.

b.

c.

Mengingat

1.
2.

3.

4.

5.

bahwa
sejalan
dengan
pelaksanaan Otonomi Daerah,
maka kewenangan dalam bidang pelayanan penyelenggaraan
pemberian
Izin
mendirikan
Bangunan
merupakan
Kewenangan Daerah Kabupaten;
bahwa untuk penertiban bangunan bangunan di Kabupaten
Kaimana sesuai dengan tata ruang di perlukan pengaturan
pemberian izin mendirikan Bangunan di dalam Kabupaten
Kaimana;
bahwa untuk memenuhi maksud tersebut huruf a dan b perlu
diatur penerbitan surat Izin mendirikan Bangunan yang
ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Kaimana;
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara
Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981
Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209);
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan
Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992
Nomor 115; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3501);
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan-Lembaran Negara Nomor
3685) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 34 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2000 Nomor 246, tambahan lembaran Negara Nomor
4048 );
Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi
Khusus Bagi Provinsi Papua (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2001 Nomor 135, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4151) sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas
Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi
Khusus Bagi Provinsi Papua (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 57 dan Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4842);
Undang-Undang Nomor 26
Tahun
2002
Tentang
Pembentukan Kabupaten Keerom, Kabupaten Sorong Selatan,
Kabupaten Radja Ampat, Kabupaten Pegunungan Bintang,
Kabupaten
Yahokimo,
Kabupaten
Tolikara,
Kabupaten
1

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

Waropen, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Boven Digoel,


Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, Kabupaten Teluk Bintuni,
Kabupaten Teluk Wondama di Provinsi Papua (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 124, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4245);
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002
Nomor 134 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4274);
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8
Tahun 2005 Tentang penetapan peraturan pemerintah
pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang
perubahan atas Undang-Undang nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-undang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor
108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4548);
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat Dan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 No
119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4139);
Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang
Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4593);
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian
Urusan
Pemerintahan
Antara
Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi Dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4737);
Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang
Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4741);

Dengan Persetujuan Bersama


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN KAIMANA
dan
BUPATI KAIMANA
Menetapkan

MEMUTUSKAN :
PERATURAN DAERAH TENTANG PEMBERIAN IZIN MENDIRIKAN
BANGUNAN.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1

Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan :


1.
Daerah adalah Kabupaten Kaimana.
2.
Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta Perangkat Daerah.
3.
Bupati adalah Bupati Kabupaten Kaimana.
4.
Surat permohonan Izin (SPI) adalah surat Permohonan untuk mendapatkan Izin
mendirikan Bangunan.
2

5.
6.
7.
8.

9.
10.

11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.

23.
24.
25.
26.

Bangunan adalah pekerjaan mendirikan bangunan di suatu tempat dan semua


pekerjaan yang berhubungan dengan dengan pekerjaan mendirikan bangunan
tersebut, hingga selesai.
Izin mendirikan bangunan adalah Izin yang dikeluarkan oleh pemerintah Kepada
Orang atau badan yang mendirikan maupun merombak bangunan.
Izin lainnya adalah Izin Untuk merubah, merobohkan atau memindahkan
bangunan.
Merubah Bangunan adalah setiap Pekerjaan yang memiliki Kriteria sebagai
berikut:
a. Merenovasi bentuk dan atau tata ruang bangunan yang ada, sebagian
atau seluruhnya tanpa menggeser dinding samping muka / belakang
bangunan dan samping Kiri / kanan bangunan yang ada;
b. Memotong sebagian atau mengurangi luas dari bangunan yang ada.
Merobohkan bangunan adalah pekerjaan memindahkan
seluruh bagian
bangunan yang di robohkan.
Bangunan adalah yang memiliki kriteria sebagai berikut:
a. Hasil pekerjaan pasangan dari berbagai jenis bahan bangunan;
b. Pemanfaatkan ruang di atas permukaan tanah secara tetap;
c. Menampakan bentuk dan luas yang relatif dan memiliki asas manfaat
bagi makhluk hidup;
d. Tidak termasuk segala bentuk monumen dalam kompleks pemakaman.
Luas bangunan yang di izinkan adalah maksimal berdasarkan kepadatan
bangunan (Building Coverage) yang di tetapkan dalam rencana tata ruang
Wilayah.
Bangunan permanent adalah bangunan yang di buat dari bahan-bahan yang
kokoh (Konstruksi Beton) dan dapat di pergunakan sekurang - kurangnya 25
(dua Puluh lima) Tahun.
Bangunan semi permanent adalah bangunan yang di buat dari bahan-bahan yang
berkualitas baik (Konstruksi kayu dan dapat di pergunakan sekurang-kurangnya
15 (lima belas ) tahun.
Bangunan tidak permanent adalah bengunan yang di buat dari bahan lokal yang
dipergunakan sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun.
Bangunan darurat adalah bangunan yang di buat dari bahan lokal yang di
perkirakan dapat di pergunakan paling lama 1 (satu) tahun.
Bangunan milik pemerintah adalah bangunan yang di bangun dengan biaya atau
bersumber dari Pemerintah/ Negara.
Standar konstruksi bangunan Indonesia yang selanjutnya di singkat SKBI
adalah suatu standar Konstruksi bangunan yang telah teruji dan dapat di
pertanggung jawabkan baik secara Teknis maupun secara Praktis.
Garis Sempadan adalah garis Khayalan yang pada jarak tertentu sejajar dengan
As jalan yang merupakan batas antara bagian persil yang boleh dan tidak boleh
mendirikan bangunan yang menentukan dan mengatur suatu bangunan.
Garis Sempadan Bangunan adalah Garis Sempadan Bangunan yang di atasnya
atau sejajar di belakangnya dapat didirikan bangunan.
Garis Sempadan Pagar adalah Garis Sempadan Pagar yang diatasnya atau sejajar
di belakang dapat di buat Pagar.
Uang Sempadan adalah biaya yang di kenakan kepada setiap Orang atau Badan
Hukum yang mendapat Izin Untuk mendirikan suatu bangunan.
Persil adalah suatu perpetakan Tanah yang terdapat dalam lingkup rencana Kota
atau rencana perluasan Kota atau jika sebagian masih belum ditetapkan Rencana
perpetakan yang menurut pertimbangan pemerintah Daerah dapat di pergunakan
untuk mendirikan Bangunan.
Rencana teknis adalah Gambar dan dokumen lain yang menjadi petunjuk
pelaksanaan anggaran.
Harga bangunan ialah Nilai bangunan yang berlaku menurut standar pada saat
itu yang perhitungannya berdasarkan analisa yang telah di periksa kebenarannya
oleh petugas ahli atau lembaga yang berkompoten.
Instansi adalah Konstruksi jaringan bahan penyambung dan perlengkapan alatalat yang berkaitan dengan Konstruksi Jaringan.
Legislasi adalah pemberian tanda Sah sesuai dengan aslinya atas IMB
Perusahaan.
BAB II
NAMA, OBYEK DAN SUBYEK RETRIBUSI
3

Pasal 2
Dengan nama retribusi izin mendirikan bangunan
pemberian izin mendirikan bangunan.

dipungut

pembayaran

atas

Pasal 3
Obyek retribusi adalah setiap pemberian izin mendirikan bangunan
Pasal 4
Subyek retribusi adalah orang pribadi atau badan usaha yang memperoleh izin
mendirikan bangunan.

(1)
(2)
(3)

(4)

(5)

(1)
(2)
(3)

BAB III
FUNGSI DAN LINGKUP BANGUNAN
Pasal 5
Fungsi bangunan dapat dikelompokan dalam bentuk hunian, fungsi keagamaan,
fungsi usaha, fungsi sosial/Budaya dan fungsi khusus.
Lingkup bangunan untuk fungsi Keagamaan untuk bangunan Masjid termasuk
Mushola dan untuk Gereja termasuk Kopel.
Lingkup bangunan gedung fungsi Usaha adalah :
a. Perkantoran termasuk Kantor yang di Sewakan;
b. Perdagangan seperti Warung/kios, toko, pasar dan mall;
c. Perindustrian;
d. Perhotelan;
e. Wisata;
f. Terminal; dan/atau
g. Penyimpanan.
Lingkup bangunan sosial budaya adalah :
a. Bangunan Pendidikan Sekolah;
b. Bangunan Kebudayaan;
c. Bangunan Laboratorium;
d. Bangunan Pelayanan Umum;
Lingkup bangunan gedung fungsi Khusus meliputi bangunan gedung dengan
fungsi utama memiliki kerahasiaan tinggi atau tingkat resiko tinggi.
BAB III
PERIZINAN MENDIRIKAN BANGUNAN
Pasal 6
Pemilik bangunan harus mengajukan permohonan Izin mendirikan Bangunan
sebelum bangunan di bangun.
IMB diterbitkan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perhubungan atas nama
Bupati setelah mendapat rekomendasi.
Penyelenggara pemberian IMB dilaksanakan dari Tim Dinas Pekerjaan Umum dan
Perhubungan.

Pasal 7
IMB diterbitkan untuk di Kabupaten Kaimana, mempunyai masa berlaku selama
bangunan tidak mengalami perubahan
(1)
(2)

Pasal 8
Setiap orang, badan hukum atau Instansi yang akan mendirikan/membangun,
merubah/merenovasi, menambah dan merombak bangunan di Daerah, terlebih
dahulu harus mendapatkan Izin dari Bupati.
Setiap bangunan yang ada di Daerah, baik Bangunan Pemerintah, swasta dan
Bangunan perorangan /tempat tinggal, harus memiliki Izin Mendirikan Bangunan.
Pasal 9

(1)

Mendirikan, merubah dan merobohkan bangunan yang strukturnya harus


dihitung secara keahlian terlebih dahulu di buat perencanaan oleh perencana
yang telah memperoleh Izin dari Bupati.

(2)

Pelaksanakan mendirikan
mendapat Izin dari Bupati.

bangunan

dilakukan

oleh

Pelaksana

yang

telah

BAB IV
TATA CARA PEMBERIAN IMB
4

Persyaratan administrasi
Pasal 10
(1)

(2)

(3)

Untuk memperoleh Izin Mendirikan Bangunan, maka Badan/Lembaga atau


perorangan yang bersangkutan harus mengajukan permohonan tertulis dengan
cara mengisi blangko Surat Permohonan Izin (SPI) yang telah di sediakan dan di
tujukan kepada Bupati melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Perhubungan di sertai
Keterangan dari Kepala Distrik setempat.
Permohonan sebagaimana di maksud pada ayat (1) harus menyebutkan :
a. Nama lengkap;
b. Alamat lengkap;
c. Pekerjaan Pemohon;
d. Tempat dan sifat bangunan (Permanen, semi permanen dan Darurat);
Setiap permohonan IMB sebagaimana dimaksud-ayat (1) harus dilampiri :
a. Copy gambar rencana Bangunan yang telah di legalisir oleh Dinas
Pekerjaan Umum dan Perhubungan berdasarkan keterangan rencana (advis
Planing) dan Keterangan peruntukan Lahan (advis Zoning);
b. Copy sertifikat Tanah atau bukti hak lainnya seperti surat Ukur yang telah
dicetak keberadaannya oleh Kantor Pertanahan;
c. Copy Bukti Pembayaran PBB Tahun terakhir;
d. Copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan materai secukupnya;
e. Bangunan yang lebih dari dua lantai harus melampirkan hasil Soldir;
f. Untuk Bangunan Bertingkat Konstruksi Beton/baja harus melampirkan
perhitungan Konstruksi;
g. Surat pernyataan Batas Bangunan yang di ketahui oleh tetangga;
h. Khusus bangunan Pemerintah maka Persyaratan cukup dengan surat Perintah
kerja;
i. Khusus bangunan Industri dan Bangunan lain yang di samakan dan
berdampak langsung terhadap lingkungan, harus melampirkan Dokumen
analisa mengenai dampak lingkungan dan Instansi Pengelolah limbah
BAB V
PERSYARATAN TEKNIK
Pasal 11

Untuk mendirikan bangunan berdasarkan persyaratan mengenai teknik ketahanan


bangunan dan perhitungan Konstruksi yang berlaku :
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

Peralatan-peralatan bangunan, baik bahannya maupun sistem penempatannya


harus diperhitungkan terhadap kemungkinan bahaya kebakaran;
Peralatan-peralatan jaringan dalam bangunan, harus diperhitungkan terhadap
bahaya kebakaran yang ditentukan berdasarkan keselamatan kerja;
Perlu diperhitungkan penggunaan bahan terhadap keselamatan Struktur
bangunan dan keselamatan Umum yang ditentukan Dinas Pekerjaan Umum dan
Perhubungan;
Analisa/perhitungan Sistem struktur dan Konstruksi yang di dasarkan pada
ketentuan perhitungan yang berlaku dan perlu dipertimbangkan terhadap
keselamatan Umum;
Bahan-bahan Konstruksi bangunan perlu didasarkan atas bahaya kebakaran
seketika dan keselamatan Umum;
Pasal 12

Untuk merencanakan dan mendirikan bangunan, harus berdasarkan pedoman, syaratsyarat teknis dan peraturan yang berlaku serta harus di dasarkan pada perhitungan
yang dilakukan secara Keilmuan /Keilmuan dan dikerjakan secara teliti atau percobaan
yang dapat di pertanggungjawabkan berdasarkan ketentuan yang berlaku.

BAB VI
PEMBERIAN IMB
Pemeriksaan Umum
5

(1)

(2)

(1)

(2)

Pasal 13
Petugas Dinas Pekerjaan Umum dan Perhubungan memeriksa apakah
permohonan Izin Mendirikan Bangunan yang diajukan telah memenuhi syaratsyarat administrasi, teknik dan Lingkungan menurut peraturan yang berlaku;
Kepala Dinas Pekeriaan Umum dan Perhubungan dapat memanggil secara tertulis
Permohonan Izin Mendirikan Bangunan bila dianggap perlu.
BAB VII
KEPUTUSAN IZIN MENDIRIKAN
Pasal 14
Bupati dapat memutuskan pemberian Izin Mendirikan Bangunan, melalui Dinas
Pekerjaan Umum dan Perhubungan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari
kerja dari Tanggal di terimanya Permohonan Izin Mendirikan Bangunan oleh
Dinas.
Permohonan Izin Mendirikan Bangunan dapat dikabulkan Untuk seluruh
bangunan yang direncanakan termasuk Bagian Bangunan yang berada dalam
Daerah Sempadan yang secara Struktural merupakan bagian yang tak
terpisahkan.
Pasal 15

Permohonan ditolak apabila pekerjaan mendirikan Bangunan yang direncanakan dalam


permohonan Izin Mendirikan Bangunan bertentangan dengan :
a. Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku;
b. Kepentingan perluasan Kota;
c. Rencana perluasan Kota;
d. Kelestarian, Keseimbangan dan Keserasian Lingkungan ;
e. Hak dari Pihak lain;
Pasal 16
Keputusan Permohonan lzin mendirikan Bangunan di tunda berdasarkan alasan :
a. Bupati masih memerlukan waktu tambahan untuk penilaian Khusus Persyaratan
Konstruksi, Arstitetur, Instalasi dan Kelengkapan bangunan dan Pertimbangan Nilai
lingkungan yang direncanakan dalam Izin Mendirikan Bangunan;
b. Bupati sedang merencanakan Master Plan Kota;
c. Pemberian Kesempatan tambahan bagi pemohon untuk melengkapi Permohonan
Izin Mendirikan Bangunan yang diajukan .
Pasal 17
Penundaan Keputusan Pemberian Izin Mendirikan Bangunan berdasarkan alasan
sebagaimana di maksud dalam Pasal 16, yang hanya di lakukan sekali dan untuk
jangka waktu tidak lebih dari 2 (dua) bulan terhitung dari hari pertama sejak
diterimanya Permohonan Izin Mendirikan Bangunan oleh Dinas Pekeriaan Umum dan
Perhubungan.
Pasal 18
(1)

(2)

Mendirikan bangunan berisikan Keterangan tentang :


a. Nama Penerima Izin Mendirikan Bangunan ;
b. Alamat Penerima Izin Mendirikan Bangunan;
c. Jenis bangunan-bangunan yang diizinkan ;
d. Peruntukan/fungsi Bangunan yang diizinkan;
e. Letak/lokasi Pekarangan Tempat bangunan yang diizinkan ;
f. Jangka waktu Pekerjaan Mendirikan Bangunan yang diizinkan ;
g. Luas Bangunan;
Izin Mendirikan Bangunan disertai Lampiran :
a. Peta situasi;
b. Gambar Rancangan Bangunan dengan Skala 1:10, 1:100, 1:200 atau
skala Proposional;
c. Gambar Detail Konstruksi dengan Skala 1:10, 1:100, 1:200 atau Skala
Proposional;
d. Perhitungan Konstruksi dan Instalasi yang ditetapkan untuk bangunan
tertentu;
6

(3)

(1)

(2)

Izin Mendirikan Bangunan hanya berlaku bagi perseorangan atau Badan Hukum
Penerima Izin, Mendirikan Bangunan yang Namanya tercantum dalam Izin
Mendirikan Bangunan.
Pasal 19
Bilamana Permohonan Izin mendirikan Bangunan meninggal dunia, Orang
perseorang atau badan Hukum dapat dibubarkan sebelum permohonan Izin
Mendirikan Bangunan yang dimohon di putuskan maka terhadap Badan Hukum
Permohonan Izin Mendirikan Bangunan itu tidak diambil Keputusan.
Izin mendirikan bangunan yang ditetapkan setelah meninggal Dunia, maka
perseorangan atau Badan Hukum Permohonan Izin mendirikan Bangunan yang
bersangkutan tidak mempunyai Kekuatan Hukum.
Pasal 20

Izin mendirikan Bangunan untuk bangunan sementara, dapat di berikan dengan


mencantumkan syrat-syarat dalam Izin Mendirikan Bangunan tersebut Bahwa
bangunan yang bersangkutan akan di bongkar kembali setelah jangka waktu yang
ditetapkan dalam Izin Mendirikan Bangunan.
Pasal 21
(1)

(2)

(1)
(2)

Dengan memperhatikan ketentuan dan persyaratan Undang-Undang, Peraturan


Daerah, arsitektur, Konstruksi, Instalasi dan studi lingkungan, Bupati dapat
memerintahkan kepada Pemilik untuk merobahkan Bangunannya yang
ditanyakan rapuh atau tidak sesuai dengan Rancangan Tata Ruang Kota dan
Ketentuan Teknis lainnya.
Bupati menyatakan suatu bangunan telah rapuh atau tidak sesuai dengan
rencana Tata Ruang Kota, Karena alasan Umur, fungsi, estetika dan Tradisi
berdasarkan Pemeriksaan dan Penilaian Petugas ahli yang ditunjuk.
Pasal 22
Pemilik Bangunan yang diperintahkan merobohkan Bangunannya tidak dibebani
Retribusi dan biaya merobohkan bangunan.
Bila Pekerjaan merobohkan Bangunan itu dilaksanakan oleh petugas maka
retribusi dan biaya merobohkan Bangunan dikenakan kepada Pemilik Bangunan.
Pasal 23

Permohonan Izin Merobohkan bangunan harus di sertai Rencana merobohkan


Bangunan meliputi Tujuan merobohkan Bangunan, persyaratan Merobohkan bangunan,
Cara merobohkan Bangunan, Izin mendirikan Bangunan dari Bangunan terdahulu yang
akan dirobohkan dan Uraian biaya merobohkan dan Ketentuan yang di anggap perlu.
Pasal 24
Pekerjaan merobohkan bangunan setelah mendapat Izin merobohkan Bangunan
dimulai sekurang-kurangnya 7 (tujuh) Hari setelah salinan Izin mendirikan Bangunan
diterima oleh Pemohon dan tembusannya disampaikan kepada tetangga yang
berbatasan dengan Bangunan yang akan dirobohkan .

(1)
(2)
(3)

BAB VIII
PENGGUNAAN BANGUNAN
Pasal 25
Setiap bangunan yang selesai di bangun penggunaannya harus sesuai dengan
Izin mendirikan bangunan yang telah di keluarkan.
Bupati memberikan Izin Panggunaan Bangunan Berjangka dan peruntukan
bangunan baik yang sudah ada Izin Mendirikan Bangunan .
Bangunan yang berada dalam Daerah Sempadan diberikan Izin Penggunaan
Tahunan, baik yang sudah ada Izin Mendirikan Bangunan maupun yang belum,
tidak termasuk Bangunan Fasilitas Pemerintah dengan menarik Retribusi
Penggunaan Sempadan jalan setiap Tahun.

BAB IX
TATA CARA PEMBERIAN IMB
Pasal 26
Dokumen SPI diberi Nomor untuk Pendaftaran oleh Petugas Penerima Dokumen SPI
dan Permohonan akan mendapatkan tanda Terima Dokumen SPI.
Pasal 27
Untuk meneliti kebenaran SPI dilakukan Pemeriksaan setempat oleh Tim IMB.
BAB X
PELAKSANAAN IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN DAN IZIN LAININYA
Bagian Pertama
Izin Mulai Pekerjaan
Pasal 28
Pekerjaan mendirikan Bangunan dan merombak bangunan baru, dapat dimulai untuk
dikerjakan setelah Dinas Pekerjaan Umum dan Perhubungan menetapkan Garis
Sempadan Pagar, Garis Sempadan Muka Bangunan, Sempadan Kanan, Sempadan Kiri
dan Belakang Bangunan serta Ketinggian Permukaan tanah Pekarangan, tempat
bangunan bersangkutan akan didirikan sesuai dengan rencana yang telah di tetapkan
dalam Izin Mendirikan Bangunan.
Pasal 29
(1)
(2)

Pada saat mendirikan Bangunan atau merombak bangunan di mulai maka


pemegang Izin di Wajibkan Memasang Papan Petunjuk yang memuat Keterangan
tentang Izin.
Ketentuan lebih Lanjut tentang Ukuran dan pemasangan Papan petunjuk
dimaksud ayat (1) di tetapkan Oleh Bupati.

Pasal 30
Penerimaan Izin Mendirikan Bangunan wajib memberitahukan secara tertulis kepada
Dinas Pekerjaan Umum dan Perhubungan Tentang :
a. Saat akan dimulainya Pekerjaan Mendirikan Bangunan atau merombak Bangunan
tersebut dalam Izin mendirikan Bangunan sekurang-kurangnya 24 (dua puluh
empat) jam sebelum pekerjaan dimulai;
b. Saat akan dimulainya bagian-bagian Pekerjaan mendirikan Bangunan atau
merombak Bangunan sepanjang hal itu di Persyaratan dalam Izin Mendirikan
Bangunan sekurang-kurangnya 24 Jam sebelum bagian pekerjaan itu di mulai;
c. Setiap bagian Pekerjaan Mendirikan Bangunan atau Merombak bangunan
sepanjang hal itu di persyaratkan dalam Izin mendirikan bangunan, secepatnya
24 Jam sebelum bagian itu selesai;
Pasal 31
Selambat-lambatnya 48 (empat puluh delapan) Jam setelah di terimanya
pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 30 Huruf b dan c maka Dinas
Pekerjaan Umum dan Perhubungan memeriksa apakah menurut kenyataannya bagian
pekerjaan yang ada telah dilaksanakan sesuai dengan Izin Mendirikan Bangunan.
Pasal 32
Dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum dan Perhubungan setelah mengadakan
Pemeriksaan setempat menyatakan bahwa bagian pekerjaan sebagaimana dimaksud
pada pasal 28, tidak dilaksanakan sesuai dengan Izin Mendirikan Bangunan, maka
Dinas Pekerjaan Umum dan Perhubungan dapat memerintahkan pembongkaran bagian
pekerjaan tersebut atau memerintahkan dihentikannya pekerjaan mendirikan
Bangunan yang bersangkutan.
Pasal 33
Dalam jangka waktu pemeriksaan 48 (empat puluh delapan) Jam sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 32, telah lewat tanpa adanya pemeriksaan dari Dinas Pekerjaan
Umum dan Perhubungan, Penerima Izin Mendirikan Bangunan dapat melakukan bagian
pekerjaan Mendirikan Bangunan selanjutnya.
Bagian Kedua
Mendirikan Bangunan
8

Pasal 34
Pekerjaan Mendirikan Bangunan berdasarkan Izin Mendirikan Bangunan dilaksanakan
sesuai dengan rencana yang ditetapkan dalam Izin Mendirikan Bangunan.
(1)

(2)
(3)

Pasal 35
Untuk mendirikan bangunan dibuat rencana bangunan dan sekitarnya dengan
memperhatikan Perencanaan Umum, Perencanaan Arsitektur, Perencanaan
Konstruksi, Perencanaan Instalasi, dan Studi Lingkungan bagi Konstruksi,
Perencanaan Bangunan khusus dan Bangunan yang berdampak Lingkungan.
Ukuran dipergunakan dalam Gambar Rencana, Perhitungan Konstruksi dan halhal lain yang berhubungan dengan itu harus menggunakan satuan metrik.
Peraturan/standar teknis yang berlaku di Indonesia antara lain meliputi Peraturan
Beton, Peraturan Baja, Peraturan Konstruksi Kayu, Peraturan muatan dan Standar
Teknis lainnya yang telah ditetapkan dalam Standar Konstruksi Bangunan
Indonesia.
Pasal 36

Selama Pekerjaan Mendirikan Bangunan dilaksanakan penerima Izin Mendirikan


Bangunan dilokasi tertentu, diwajibkan menutup areal tanah tempat mendirikan
Bangunan dengan pagar pengaman yang mengelilingi dan dilengkapi dengan pintu
yang tertutup rapat.
Pasal 37
(1) Pekerjaan Mendirikan Bangunan dapat dilaksanakan sendiri oleh penerima Izin
Mendirikan Bangunan atau Pihak lain yang diberi Kuasa untuk itu.
(2) Pelaksanaan Pekerjaan Mendirikan bangunan oleh Pihak lain harus dilaksanakan
oleh satu badan Hukum yang telah mendapat Izin Usaha di Bidang Pekerjaan
Mendirikan Bangunan dan memenuhi persyaratan Prakulifikasi yang berlaku.
Bagian Ketiga
Merubah Bangunan
Pasal 38
Sebelum mengajukan Izin Mendirikan Bangunan terlebih dahulu meminta petunjuk
tentang Rencana Merubah Bangunan dan Permohonan Izin Merubah Bangunan kepada
Bupati.
Pasal 39
(1) Perencanaan merubah Bangunan meliputi Perencanaan Arsitektur, Instalasi dan
Konstruksi dengan memperhatikan Aspek Lingkungan;
(2) Ukuran dan Peraturan Standar Teknis yang berlaku bagi perencanaan Bangunan,
berlaku juga bagi rencana merubah Bangunan;
Pasal 40
Permohonan Izin merubah Bangunan harus dilampirkan Izin Mendirikan Bangunan dari
Bangunan yang di rubah, Gambar Rencana Perubahan Bangunan.
Pasal 41
Bupati dapat menetapkan pelaksanaan bangunan untuk melaksanakan pekerjaan
merubah dan dirubah, Gambar rencana Perubahan Bangunan.
Bagian Keempat
Merobohkan Bangunan
Pasal 42
Merobohkan Bangunan dilakukan berdasarkan :
a. Kemauan dan rencana pemilik bangunan sendiri, untuk menghapus
membangun ulang yang baru ;
b. Perintah merobohkan Bangunan atas Bangunan yang di bangun tanpa Izin;
c. Izin merobohkan Bangunan.

(1)

atau

BAB X
PENGAWASAN PELAKSANAAN MENDIRIKAN BANGUNAN
Pasal 43
Selama pekerjaan Mendirikan atau Merobohkan bangunan yang dilakukan maka
9

(2)

(1)
(2)

(3)

(4)

Penerima Izin Mendirikan Bangunan harus menyediakan salinan/ foto copy Izin
mendirikan Bangunan beserta lampirannya yang diberikan kepadanya ditempat
Pekerjaan.
Penerima Izin diwajibkan memberitahukan secara tertulis kepada Dinas
Pekerjaan Umum dan Perhubungan selesainya mendirikan Bangunan dalam
waktu 3 x 24 Jam sesudah penyelesaian Pekerjaan.
Pasal 44
Pengawasan Pelaksanaan Izin Mendirikan Bangunan serta Penggunaan lainnya
dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Perhubungan atau Dinas yang di
Tunjuk oleh Bupati.
Dalam melaksanakan pengawasan Bangunan, maka petugas dilengkapi dengan
tanda Bukti diri berupa :
a. Surat Tugas;
b. Kartu Tanda Pengenal;
Petugas Pengawasan Bangunan Berwenang :
a. Memasuki dan memeriksa tempat pelaksanaan Pekerjaan mendirikan
Bangunan setiap saat Pada Jam kerja atau waktu-waktu diperlukan;
b. Meminta agar Pemilik Bangunan memperbaiki Izin mendirikan Bangunan
beserta Lampirannya;
c. Memeriksa pelaksanaan dilapangan dan izin Bangunan yang digunakan
dengan berpedoman kepada rencana yang di ajukan dalam Izin Mendirikan
Bangunan;
d. Melarang penggunaan peralatan yang dianggap dapat mengganggu
keselamatan dan ketentraman lingkungan atau mengharuskan penggunaan
alat-alat Bantu demi keselamatan Umum ;
e. Menghentikan sementara pelaksanaan mendirikan Bangunan dalam hal
pemilik tidak dapat menunjukan Izin Mendirikan Bangunan yang Sah;
f. Menghentikan sementara pelaksanaan mendirikan Bangunan dalam Hal
teryata dalam Hal pelaksanaan Pekerjaan bertentangan dengan Izin yang
telah dikeluarkan;
Petugas Pengawas bangunan setiap saat melakukan wajib Membuat Catatan
Tentang :
a. Hasil Pemeriksaan yang dilakukan;
b. Peringatan-peringatan yang perlu diberikan;

Pasal 45
(1). Setiap bangunan yang didirikan, dirubah dan atau di Robohkan tidak berdasarkan
surat Izin maka diperintahkan Kepada pemilik Bangunan untuk menghentikan
Kegiatannya.
(2). Bila selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) Hari sesudah penghentian Kegiatan
sebagaimana dimaksud pada ayat 1 di sampaikan kepada pemilik bangunan dan
pemilik Bangunan tidak mengindahkan perintah tersebut maka Bupati dapat
melakukan Pembongkaran.
(3). Pembongkaran Bangunan oleh Pemda dilakukan dalam hal :
a. Bangunan gedung tidak layak fungsi dan membahayakan Lingkungan serta
tidak dapat diperbaiki lagi;
b. Pemberhentian aktifitas Kegiatan Pembangunan Bersifat sedang sehingga
menghentikan sementara;
c. Pembongkaran Bangunan, berupa pengenaan sanksi terhadap pelanggaran
yang bersifat berat;
(4). Legalisasi diberikan untuk persyaratan pelelangan seleksi Umum pemilihan
langsung, seleksi Langsung, penunjukan langsung.
(5). Legalisasi dilakukan oleh Instansi Pelaksana.

(1)

BAB XI
RETRIBUSI
Pasal 46
Besarnya tarif untuk mendirikan Bangunan ditetapkan sebesar Rp. 3.000,00 (tiga
ribu rupiah) per meter persegi.
10

(2)

(3)
(4)

Perubahan bentuk bangunan di kenakan Retribusi yang diatur sebagai berikut :


a. Perubahan bentuk s/d 10% dikenakan Retribusi 10 %;
b. Perubahan Bentuk > 10 % s/d 50 % dikenakan Retribusi 25 % ;
c. Perubahan Bentuk > 50 % s/d 75 % dikenakan Retribusi 45 % ;
d. Perubahan Bentuk > 75 % s/d 100 % dikenakan Retribusi 50 % ;
e. Tambahan luas Bangunan dikenakan Retribusi 100 % ;
Pemutihan / Balik Nama di Kenakan Retribusi 10 %.
Penggunaan Bangunan oleh Pemilik Izin Mendirikan Bangunan dikenakan
Retribusi 5 % per tahun .

BAB XII
CARA PERHITUNGAN RETRIBUSI
Bagian Satu
Pasal 47
Besarnya Retribusi mendirikan Bangunan dihitung sebagai berikut :
(1) Tarif Dasar dikali Luas Bangunan dikali Koefisien Luas Bangunan dikali Koefisien
tingkat Bangunan dikali Koefisien Guna Bangunan dikali Koefisien Letak
Bangunan dikali Koefisien Kondisi Bangunan.
(2) Bangunan yang dilaksanakan sebelum memiliki Izin mendirikan Bangunan, maka
Retribusi Izin Mendirikan Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikali
dengan Koefisien yang di atur sebagi berikut :
a. Telah membuat Galian Pondasi dikalikan Koefosien 1,1;
b. Telah membuat pasangan Pondasi dikalikan Koefisien 1,2;
c. Telah membuat dinding dan kolom Bangunan dikalikan Koefisien 1,3;
d. Telah membuat Kap Bangunan dikalikan dengan Koefisien 1,4;
e. Telah memasang Atap dikalikan dengan Koefisien 1,5;
f. Telah digunakan dikalikan Koefisien 1,6;
g. Luas diatas daerah Sempadan dikalikan Koefisien 1,5.

(1)
(2)

Bagian Dua
Pasal 48
Koefisien Penggunaan jasa Izin Mendirikan Bangunan didasarkan atas Faktor Luas
bangunan, Tingkat bangunan, Guna Bangunan, Letak Bangunan, dan Kondisi
Bangunan.
Faktor-faktor sebagaimana diatur dalam Ayat (1) ditetapkan sebagai berikut :
a. Koefisien Luas Bangunan
No
LUAS BANGUNAN
KOEFESIEN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Bangunan tertutup dengan Atap / Dinding


Bangunan tertutup Atap tanpa Dinding
Bangunan Teras / Rabat
Bangunan Plat Beton Terbuka
Bangunan Kolom berlantai Konstruksi Beton
Bangunan Biasa tanpa Lantai Konstruksi
Bangunan Gedung
Bangunan Kolom Khusus ( Kolom Buaya, dll )
Bangunan Menara / Tower, Siklop
Bangunan Utama yang melampaui luas berdasarkan
Kepadatan Bangunan (70%)

b. Koefisien Tingkat / Tinggi Bangunan


No
TINGKAT DAN TINGGI BANGUNAN
1.
2.
3.
4.

Banggunan 1 ( satu ) Lantai


Bangunan Lantai selanjutnya Koefesien bertambah 0,5
setiap tambahan n Lantai dimana n = Pertambahan
Jumlah Lantai
Bangunan Tower / Menara sejenisnya setiap bertambah
tinggi 1m Koefesien bertambah x dimana x = 0,3
Bangunan Gudang-gudang Pabrik dan sejenisnya yang
tinggi Dindingnya
lebih dari 4 meter, Koefesien
bertambah Y setiap bertambah n meter, dimana Y =
1,2,3 dst.

1,00
0,70
0,50
0,75
0,75
0,10
1,20
1,25
1,75

KOEFESIEN
1
1,00 + 0,5n
1m = 0,3
1+ nY

11

c. Koefisien Guna Bangunan


No
GUNA BANGUNAN
1.
Bangunan Sosial
2.
Bangunan Perumahan / Pendidikan / Fasilitas Umum
3.
Bangunan Kelembagaan / Kantor
4.
Bangunan Perdagangan dan Jasa Lantai 1 s/d 2
5.
Bangunan Perdagangan dan Jasa Lantai 3 s/d 4
6.
Bangunan Perdagangan dan Jasa > 4 Lantai
7.
Bangunan Industri / Bangunan Campuran
8.
Bangunan Khusus / lain - lain

KOEFESIEN
0,50
1.00
1,50
2,50
2,00
2,50
2,75
3,00

d. Koefisien Letak Bangunan


No
GUNA BANGUNAN
1.
Di pinggir Jalan Arteri
2.
Lansung berada di Belakang Jalan Arteri
3.
Di pinggir Jalan Kolektor
4.
Langsung berada di belakang jalan Kolektor
5.
Bangunan di pinggir Jalan Kolektor
6.
Bangunan Lansung berada dibelakang Jalan Koektor
7.
Jalan Setapak

KOEFESIEN
1.50
1,40
1,30
1,25
1,20
1,10
0,50

e. Koefisien Kondisi Bangunan


GUNA BANGUNAN
No
1.
Bangunan Permanen
2.
Bangunan Semi Permanen ( maximum 15 Tahun )
3.
Bangunan tidak Permanen ( Umur maximum 6 Tahun )
4.
Bangunan Darurat ( Umur maximum 1 Tahun )

KOEFESIEN
1,00
0.90
0,40
0,10

Pasal 49
Retribusi yang telah dibayarkan ke Kas Daerah tidak dapat di tarik kembali bila, Izin
Mendirikan Bangunan yang bersangkutan dicabut atas permohonan Penerima Izin
Mendirikan Bangunan ataupun Karena alasan lain dan Penerimaan Retribusi
sebagaimana dimaksud Pasal 45, merupakan Pendapatan Asli Daerah.

(1)

(2)

(1)
(2)
(3)

(1)

BAB XIII
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 50
Izin Mendirikan Bangunan dapat dicabut apabila :
a. persyaratan yang menjadi Dasar diberikannya Izin Mendirikan Bangunan
terbukti tidak benar atau tidak sesuai dengan Penggunaannya;
b. Dalam Jangka waktu 6 (enam) bulan sejak dikeluarkannya Izin, Pemilik Izin
Mendirikan Bangunan belum melaksanakan Kegiatannya;
c. Setelah pekerjaan mendirikan Bangunan dimulai kemudian dihentikan selama
1 (satu) Tahun tidak ada Penyelesaian.;
d. Pelaksanaan pekerjaan mendirikan/merubah bangunan menyimpang dari
rencana yang di sahkan dalam Izin Mendirikan Bangunan;
Pencabutan Izin Mendirikan Bangunan ditetapkan oleh Bupati secara tertulis dan
disampaikan kepada pemilik Izin Mendirikan Bangunan dengan di sertai alasan
Pencabutannya.
Pasal 51
Izin untuk Bangunan Darurat dapat diberikan dengan mencantumkan ketentuan
dalam Izin Mendirikan Bangunan tersebut bahwa bangunan itu akan dibongkar.
Bangunan tidak permanen tidak diperkenankan dibangun di Jalan kelas satu dan
Umur Bangunan dinyatakan roboh tidak lebih dari 5 (lima) Tahun.
Bangunan permanen dapat di bangun yang dibangun secara bertahap dan
bersambung hanya dilakukan bila tahap berikutnya tidak lebih dari 1 (satu)
Tahun.
BAB XIV
KETENTUAN PIDANA
Pasal 52
Pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah ini di ancam Pidana Kurungan
12

(2)

Paling lama 3 (tiga) Bulan dan atau denda paling banyak Rp. 5.000.000,00 (lima
juta rupiah).
Tindak Pidana sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini adalah Pelanggaran.

Pasal 53
Tanpa mengurangi ketentuan pada pasal 49 setiap pekerjaan Mendirikan Bangunan
yang tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan, maka Pemerintah Kabupaten Kaimana
dapat melakukan pembongkaran Bangunan tersebut.
BAB XV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 54
Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai
teknis pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
Pasal 55
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan Pengundangan Peraturan daerah ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Kaimana.
Ditetapkan di Kaimana
pada tanggal 19 Juli 2009
BUPATI KAIMANA
CAP/TTD
Drs. HASAN ACHMAD, M.Si
Diundangkan di Kaimana
pada tanggal 19 Juli 2009
SEKERTARIS DAERAH KABUPATEN KAIMANA
CAP/TTD
Drs. YUSUF SYAWAL, M.Si
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KAIMANA TAHUN 2009 NOMOR 28
Untuk Salinan yang sah sesuai dengan aslinya
An. SEKERTARIS DAERAH KABUPATEN KAIMANA
KEPALA BAGIAN HUKUM DAN ORGANISASI

NAFTALI FURIMA, SH, M.Si


PENATA TK I
NIP. 640 023 137

13