Anda di halaman 1dari 6

TUGAS MATA KULIAH

PENDIDIKAN KURATIF TERBATAS


FAKTOR FAKTOR RESIKO KARIES

OLEH :
NAMA : MAYRIL YUSRIN SYARFINA
NIM : P1337425215029
SEMESTER : III (TIGA)
PRODI : D-IV KEPERAWATAN GIGI
DOSEN PEMBIMBING : SADIMIN, S,SiT, M.Kes

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES


SEMARANG
TAHUN AKADEMIK 2016/2017

FAKTOR RESIKO KARIES


Faktor resiko karies gigi dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu
faktor primer dan faktor sekunder. Faktor primer adalah faktor
yang berpengaruh
langsung
terhadap biofilm
seperti
saliva,
diet, dan fluoride. Sedangkan
faktor
sekunder
adalah
factor
yang
mempengaruhi biofilm secara tidak langsung seperti sosio ekonomi,
gaya hidup, riwayat kesehatan gigi, dan sikap kooperatif pasien terhadap
perawatan gigi. Riwayat medis dan sosial pasien juga harus didata seperti
riwayat kesehatan dental. Kondisi rongga mulut pasien seperti aliran saliva
dan kontrol plak juga memiliki pengaruh dalam resiko karies. Pemeriksaan
faktor resiko dan pemeriksaan secara langsung pada permukaan gigi
dan jaringan lunak merupakan dua hal yang sangat penting untuk
mendiagnosis kondisi mulut.
Saliva sebagai salah satu faktor primer resiko karies memiliki peranan
penting dalam kesehatan rongga mulut, dan modifikasi fungsi saliva akan
menyebabkan
efek
pada
jaringan
keras
dan jaringan
lunak mulut. Tingkat keasaman rongga mulut diperiksa berdasarkan pH saliv
a tak terstimulasi. PH kritis untuk hydroxyl apatite adalah 5,#5 sehingga jika
pH saliva tak terstimulasi semakin mendekati angka 5,5 semakin besar
kemungkinan terjadi demineralisasi. Selain PH saliva, pH plak juga dapat
mengindikasikan aktivitas karies pada rongga mulut. Pada individu dengan
karies aktif, tingkat pH plaknya lebih rendah dibandingkan individu bebas
karies.
Faktor risiko karies gigi adalah faktor-faktor yang memiliki hubungan
sebab akibat terjadinya karies gigi atau faktor yang mempermudah
terjadinya karies gigi. Beberapa faktor yang dianggap sebagai factor risiko
adalah pengalaman karies gigi, kurangnya penggunaan fluor, oral higiene
yang buruk, jumlah bakteri, saliva serta pola makan dan jenis makanan
(Sondang, 2008).
1. Pengalaman Karies Gigi
Penelitian epidemiologis telah memberikan bukti adanya
hubungan antara pengalaman karies dengan perkembangan karies di
masa mendatang . Prevalensi karies pada gigi desidui dapat
memprediksi karies pada gigi permanen (Sondang, 2008).
2. Kurangnya Penggunaan Fluor

Flouride dan elemen lain berperan dalam mengontrol


perkembangan karies.
Ada berbagai macam konsep mengenai mekanisme kerja fluor
berkaitan dengan pengaruhnya pada gigi,
salah satunya adalah
pemberian fluor secara teratur dapat mengurangi terjadinya karies
karena dapat meningkatkan remineralisasi. Tetapi, jumlah kandungan
fluor dalam air minum dan makanan harus diperhitungkan pada waktu
memperkirakan kebutuhan tambahan fluor karena pemasukan fluor
yang berlebihan dapat menyebabkan fluorosis (Farsi, 2007).
3. Oral Hygiene yang Buruk
Kebersihan mulut yang buruk akan mengakibatkan persentase
karies Lebih tinggi. Untuk mengukur indeks status kebersihan mulut,
digunakan Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S) dari green danver
millon. Indeks ini merupakan gabungan yang menetukan skor debris
dan deposit kalkulus baik untuk semua atau hanya untuk permukaan
gigi yang terpilih saja. Debris rongga mulut dan kalkulus dapat diberi
skor secara terpisah. Salah satu komponen dalam terjadinya karies
adalah plak bakteri pada gigi.
Peningkatan oral hygiene dapat dilakukan dengan teknik flossing
untuk membersihkan plak yang dikombinasikan dengan pemeriksaan
gigi yang teratur, merupakan suatu hal yang penting dalam
meningkatkan kesehatan gigi.Selain itu penggunaan pasta gigi yang
mengandung fluor dapat mencegah terjadinya karies.Pemeriksaan gigi
yang teratur tersebut dapat membantu mendeteksi dan memonitor
masalah gigi yang berpotensi menjadi karies. Kontrol plak yang teratur
dan pembersihan gigi dapat membantu mengurangi insidens karies
gigi. Bila plaknya sedikit, maka pembentukan asam akan berkurang
dan karies tidak dapat terjadi (Ireland, 2006).
4. Bakteri di dalam plak
Akumulasi plak dan retensi yang menyebabkan meningkatnya
kesempatan untuk fermentasi karbohidrat oleh bakteri acidogenic yang
mengandung oral biofilm, yang akhirnya menyebabkan produksi dan
penyimpanan asam-asam organik pada plak atau permukaan gigi. Plak
adalah lapisan polisakarida semitransparan yang melekat dengan kuat
ke permukaan gigi dan mengandung organisme patogen. Diawali oleh
terbentuknya pelikel-lapisan glikoprotein dari saliva, lalu bakteri
melekat pada pelikel itu untuk kemudian melekat ke permukaan gigi,
atau ke permukaan akar yang terekspos. Streptococci merupakan
spesies bakteri pertama yang melekat ke permukaan gigi dan memulai
pembentukan plak. Spesies-spesies lain secara progresif kemudian

menginfiltrasi plak, dan setelah beberapa hari, bakteri batang gram


negatif ulai predominasi. Bakteri yang paling kariogenik adalah
streptococcus, seperti S.mutans, S.Sobrinus, dan juga Lactobaccilus.
Metabolisme karbohidrat oleh bakteri-bakteri di dalam plak ini dapat
menyebabkan menurunnya level pH pada permukaan gigi. Derajat
penurunan pH tergantung dari ketebalan plak, komposisi bakteri di
dalam plak, dan efisiensi kemampuan buffer saliva. Demineralisasi
permukaan gigi sebanding dengan tingkatan pH dan durasi kontak pH
plak yang rendah dengan permukaan gigi.
5. Jumlah Bakteri
Segera setelah lahir, terbentuk ekosistem oral yang terdiri atas
berbagai jenis bakteri. Bayi yang telah memiliki S.mutans dalam
jumlah yang banyak saat berumur 2 dan 3 tahun akan mempunyai
risiko karies yang lebih tinggi untuk mengalami karies pada gigi desidui
(Sondang, 2008).
6. Saliva
Selain memiliki efek buffer, saliva juga berguna untuk
membersihkan sisa-sisa makanan di dalam mulut. Aliran rata rata
saliva meningkat pada anak-anak sampai berumur 10 tahun. Namun
setelah dewasa hanya terjadi sedikit peningkatan. Pada individu yang
berkurang fungsi salivanya, maka aktivitas karies akan meningkat
secara signifikan (Sondang, 2008).
Faktor pelindung alami seperti pellicle, saliva dan plak baik
(bebas dari bakteri acidogenic) mempunyai peran penting dalam
mencegah karies atau membatasi kemajuan prosesnya
7. Pola Makan dan Jenis Makanan
Pengaruh pola makan dalam proses karies biasanya lebih bersifat
local dari pada sistemik, terutama dalam hal frekuensi mengonsumsi
makanan. Anak dan makanan jajanan merupakan dua hal yang sulit
untuk dipisahkan. Anak memiliki kegemaran mengkonsumsi jenis
jajanan secara berlebihan, setiap kali seseorang mengonsumsi
makanan dan minuman yang mengandung karbohidrat (tinggi sukrosa)
maka beberapa bakteri penyebab karies di rongga mulut akan memulai
memproduksi asam sehingga terjadi demineralisasi yang berlangsung
selama 20-30 menit setelah makan (Sondang, 2008).
Frekuensi dari karbohidrat yang di konsumsi, Hal ini dapat
berlanjut menjadi faktor yang berperan besar pada terjadinya karies.

Hal ini disebabkan bakteri plak memetabolisme karbohidrat dan


memproduksi konsentrasi asam-asam organik yang dapat melarutkan
apatit. Berdasarkan penelitian, asam yang dihasilkan dari fermentasi
karbohidrat adalah asam organik lemah yang pada kebanyakan kasus
hanya menyebabkan demineralisasi tingkat rendah. Namun bila sering
mengonsumsi gula dalam waktu yang lama, karies akan berkembang
sangat cepat.
Frekuensi dari asam-asam makanan (dietary acids) yang biasa
terdapat pada soft drink, minuman berenergi, jus buah, dll juga
dianggap sebagai faktor yang dapat mempertinggi resiko karies dan
erosi.

Penyebab karies yang terjadi pada anak-anak tidak terlalu variatif.


Secara umum karies pada anak terjadi disebabkan oleh:
1. Kebiasaan minum susu, air gula, jus, atau minuman mengandung
karbohidrat lainnya menggunakan botol/dot saat berbaring sampai
tertidur sehingga sisa minuman tersebut berada di dalam mulut dan
menempel pada gigi. Umumnya, gigi desidui yang mudah terinfeksi
adalah gigi anterior rahang atas, dan pada gigi rahang bawah lebih sedikit
terkena karena terlindungi oleh lidah. Ada beberapa istilah untuk kasus
ini, yaitu Baby Bottle Tooth Decay (BBTD), Baby Bottle Caries (Nursing
Bottle Caries), Nursing bottle syndrome, Night Bottle syndrome, dll.
2. Anak yang ibunya memiliki jumlah S. mutans yang tinggi ( ibu memiliki
resiko karies tinggi ) kolonisasi bakterinya lebih cepat daripada anak yang
memiliki ibu dengan jumlah S. mutans yang rendah pada salivanya.

Sumber :
https://www.scribd.com/doc/307944355/Faktor-Resiko-Karies. Diakses pada
tanggal 13 November 2016, pukul 20.00
https://www.scribd.com/document/320509412/Faktor-Risiko-TerjadinyaKaries-Gigi Diakses pada tanggal 13 November 2016, pukul 20.00