Anda di halaman 1dari 9

DIFERENSIAL LEUKOSIT

Oleh:
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Hana Agustiana
: B1A015130
: VII
:2
: Estri Jayanti

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PERGURUAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016
I.1

I.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Darah adalah matrik cairan dan merupakan jaringan pengikat terspesialisasi

yang dibentuk dari sel-sel bebas (Bryon & Doroth, 1973). Darah terdiri dari
komponen cair yang disebut plasma dan berbagai unsur yang dibawa dalam plasma
yaitu sel-sel darah. Sel-sel darah terdiri dari eritrosit atau sel darah merah, yaitu sel

yang mengangkut oksigen, leukosit atau sel darah putih yaitu sel yang berperan
dalam kekebalan dan pertahanan tubuh dan trombosit yaitu sel yang berperan dalam
homeostasis (Frandson, 1992). Darah mempunyai fungsi diantaranya adalah
membawa zat makanan dari saluran pencernaan menuju jaringan, membawa produk
akhir metabolisme dari sel ke organ ekskresi, serta membawa oksigen dari paruparu ke jaringan yang mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang
bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit, sebagai alat pertahanan
mikro organisme yang masuk ke dalam tubuh (Handayani et.al, 2013).
Leukosit jumlahnya lebih sedikit dari eritrosit, berwarna putih dan
mempunyai kemampuan gerak yang independent. Sel ini berperan dalam proses
kekebalan tubuh. Bentuk leukosit ini sangat bervariasi sesuai dengan fungsinya
masing-masing (Soetrisno, 1999). Sel darah putih dapat dibedakan menjadi dua yaitu
yang memiliki sitoplasma granular (granulosit) dan yang memiliki sitoplasma non
granuler (agranulosit). Granulosit terdiri dari monosit dan limposit. Leukosit ini
berperan dalam pertahanan seluler dan hormonal organisme serta melindungi tubuh
dengan

menimbulkan peradangan

di

tempat-tempat

yang

terkena

infeksi,

memfagositasi mikroba, merusak toksin dan merusak antibody (Ville et al.,1988).


1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah mengetahui jenis-jenis leukosit beserta
bentuk dan peranannya.

II.
II.1

MATERI DAN CARA KERJA


Materi

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah methanol absolut,
alkohol 70%, pewarna giemza 7%, minyak imersi, darah manusia.
Alat yang digunakan adalah mikroskop, objek glass, cover glass.
II.2

Cara Kerja

1. Dibersihkan gelas objek dengan menggunakan alkohol 70 % ( untuk


membuang lemak yang menempel ), selanjutnya dikeringkan dalam
suhukamar.

2. Darah diteteskan pada ujung gelas objek I, kemudian diambil gelas objek
ke II, disentuhkan di ujung tetesan darah membentuk sudut 45C, lalu
dihapuskan ke arah depan.
3. Preparat darah didiamkan sampai kering pada suhu kamar, difiksasidengan
methanol absolute 5 menit dengan cara memasukkan gelas objek ke dalam
bekker gelas yang telah diisi dengan methanol absolute sampaisemua apusan
darah terendam dalam methanol.
4. Preparat

dikeringkan

dalam

suhu

kamar.

Setelah

kering

preparat

diwarnaidengan larutan Gimza 7 % selama 20 menit.


5. Dicuci preparat dengan air mengalir dan dikeringkan dalam suhu kamar.
6. Apusan darah ditetesi dengan 1 tetes minyak imersi dan ditutup dengangelas
penutup, kemudian diferensial leukosit (presentase neutrofil, limfosit,
monosit, eusinofil dan basofil) dihitung dibawah mikroskop.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.2

Pembahasan
Berdasarkan hasil praktikum kelompok 2 yang dapat diamati menggunakan

mikroskop, jenis darah yang ditemukan adalah neutrosinofil, eusinofil, monosit, dan
limfosit. Pada kelompok kami tidak menemukan basofil. Menurut Effendi (2003)
terdapat 5 jenis sel darah, diantaranya 3 bertipe granula diantaranya neutrofil,
eusinofil, dan basofil. Kemudian, 2 bertipe agranula diantaranya, monosit dan
limfosit.
Leukosit adalah sel darah yang mengandung inti, disebut juga sel darah putih.
Rata-rata jumlah leukosit dalam darah manusia normal adalah 5000- 9000/mm3, bila
jumlahnya lebih dari 10.000/mm3, keadaan ini disebut leukositosis, bila kurang dari
5000/mm3. Leukosit terdiri dari dua golongan utama, yaitu agranular dan granular.
Leukosit agranular mempunyai sitoplasma yang tampak homogen, dan intinya
berbentuk bulat atau berbentuk ginjal. Leukosit granular mengandung granula
spesifik (yang dalam keadaan hidup berupa tetesan setengah cair) dalam
sitoplasmanya dan mempunyai inti yang memperlihatkan banyak variasi dalam
bentuknya. Terdapat 2 jenis leukosit agranular yaitu; limfosit yang terdiri dari sel-sel
kecil dengan sitoplasma sedikit, dan monosit yang terdiri dari sel-sel yang agak besar
dan mengandung sitoplasma lebih banyak. Terdapat 3 jenis leukosit granular yaitu
neutrofil, basofil, dan asidofil (eosinofil). (Effendi, Z., 2003).
Leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan humoral terhadap
zat-zat asingan. Leukosit dapat melakukan gerakan amuboid dan melalui proses
diapedesis leukosit dapat meninggalkan kapiler dengan menerobos antara sel-sel
endotel dan menembus kedalam jaringan penyambung. Jumlah leukosit per
mikroliter darah, pada orang dewasa normal adalah 5000-9000/mm 3, waktu lahir
15000-25000/mm3, dan menjelang hari ke empat turun sampai 12000, pada usia 4
tahun sesuai jumlah normal. (Effendi, Z., 2003)
3.2.1 Jenis Sel Darah Putih
3.2.1.1 Granula
a. Neutrofil

Neutrofil (Polimorf), sel ini berdiameter 1215 m memilliki inti yang khas
padat terdiri atas sitoplasma pucat di antara 2 hingga 5 lobus dengan rangka tidak
teratur dan mengandung banyak granula merah jambu (azuropilik) atau merah
lembayung. Granula terbagi menjadi granula primer yang muncul pada stadium
promielosit, dan sekunder yang muncul pada stadium mielosit dan terbanyak pada
neutrofil matang. Kedua granula berasal dari lisosom, yang primer mengandung
mieloperoksidase, fosfatase asam dan hidrolase asam lain, yang sekunder
mengandung fosfatase lindi dan lisosom. (Hoffbrand, A.V & Pettit, J.E, 1996)
b. Eosinofil
Sel ini serupa dengan neutrofil kecuali granula sitoplasmanya lebih kasar dan
berwarna lebih merah gelap (karena mengandung protein basa) dan jarang terdapat
lebih dari tiga lobus inti. Mielosit eosinofil dapat dikenali tetapi stadium sebelumnya
tidak dapat dibedakan dari prekursor neutrofil. Waktu perjalanan dalam darah untuk
eosinofil lebih lama daripada untuk neutropil. Eosinofil memasuki eksudat
peradangan dan nyata memainkan peranan istimewa pada respon alergi, pada
pertahanan melawan parasit dan dalam pengeluaran fibrin yang terbentuk selama
peradangan. (Hoffbrand, A.V & Pettit, J.E, 1996)
c. Basofil
Basofil hanya terlihat kadang-kadang dalam darah tepi normal. Diameter
basofil lebih kecil dari neutrofil yaitu sekitar 9-10 m. Jumlahnya 1% dari total sel
darah putih. Basofil memiliki banyak granula sitoplasma yang menutupi inti dan
mengandung heparin dan histamin. Dalam jaringan, basofil menjadi mast cells.
Basofil memiliki tempat-tempat perlekatan IgG dan degranulasinya dikaitan dengan
pelepasan histamin. Fungsinya berperan dalam respon alergi. (Hoffbrand, A.V &
Pettit, J.E, 1996).
3.2.1.2 Tidak Bergranula
a. Monosit
Rupa monosit bermacam-macam, dimana ia biasanya lebih besar daripada
leukosit darah tepi yaitu diameter 16-20 m dan memiliki inti besar di tengah oval
atau berlekuk dengan kromatin mengelompok. Sitoplasma yang melimpah berwarna
biru pucat dan mengandung banyak vakuola halus sehingga memberi rupa seperti
kaca. Granula sitoplasma juga sering ada. Prekursor monosit dalam sumsum tulang

(monoblas dan promonosit) sukar dibedakan dari mieloblas dan monosit. (Hoffbrand,
A.V & Pettit, J.E, 1996)
b. Limfosit
Sebagian besar limfosit yang terdapat dalam darah tepi merupakan sel kecil
yang berdiameter kecil dari 10m. Intinya yang gelap berbentuk bundar atau agak
berlekuk dengan kelompok kromatin kasar dan tidak berbatas tegas. Nukleoli normal
terlihat. Sitoplasmanya berwarna biru-langit dan dalam kebanyakan sel, terlihat
seperti bingkai halus sekitar inti. Kira-kira 10% limfosit yang beredar merupakan sel
yang lebih besar dengan diameter 12-16m dengan sitoplasma yang banyak yang
mengandung sedikit granula azuropilik. Bentuk yang lebih besar ini dipercaya telah
dirangsang oleh antigen, misalnya virus atau protein asing. (Hoffbrand, A.V & Pettit,
J.E, 1996). Limfosit berperan dalam menginduksi limfosit B, kemudian limfosit B
akan merangsang limfosit T untuk menghasilkan sel-sel fagosit (Rustikawati, 2012).
Melihat struktur sel-sel darah dengan mikroskop cahaya pada umumnya
dibuat sediaan apus darah. Sediaan apus darah ini tidak hanya digunakan untuk
mempelajari sel darah tapi juga digunakan untuk menghitung perbandingan jumlah
masing-masing sel darah. Pembuatan preparat apus darah ini menggunakan suatu
metode yang disebut metode oles (metode smear) yang merupakan suatu sediaan
dengan jalan mengoles atau membuat selaput (fiilm) atau subtansi yang berupa
cairan atau bukan cairan di atas gelas benda yang bersih dan bebas lemak untuk
kemudian difiksasi, diwarnai, dan ditutup dengan gelas penutup (Handari, 2003).
Tahapan-tahapan dalam pembuatan preparat antara lain pengambilan
sampeldarah,

pembuatan

film

darah,

pengeringan,

fiksasi,

pengeringan,

pewarnaan,pencucian, dan pelabelan. Setiap tahapan mempunyai fungsi dan maksud


yangberbeda-beda. Pengambilan sampel darah dimaksudkan untuk mengambil
darahprobandus dengan bantuan blood lancet pen, kemudian pembuatan film
darahuntuk membuat hasil apusan darah. Apusan darah harus setipis mungkin
agardapat diamati dan

sel

darah

tidak saling menumpuk

dan

rapat.

Pengeringandilakukan dengan bantuan kipas angin agar darah hasil apusan


cepat keringsehingga ketika dilakukan fiksasi tidak luntur. Fiksasi bertujuan agar
elemen-elemen

sel

mati

tetapi

tetap

mempertahankan

bentuk,

struktur,

maupunukurannya. Fungsi utama fiksasi yaitu untuk mempertahankan struktur sel

darahyang dijadikan obyek, mengubah indeks bias sel darah agar mudah diamati, dan
mengubah sel agar mudah menyerap zat warna. Pengeringan dilakukan agar
selterfiksasi dengan sempurna, fiksatif yang tersisa menguap dan hasil apusan
tetapkering dan tidak luntur ketika diwarnai. Pewarnaan menggunakan Giemsa yang
terdiri atas methylen blue dan eosin yang memberi warna biru pada inti sel.
Kemudian dilakukan pengeringan agar warna menempel sempurna dan pencucian
dilakukan agar zat warna yang tidak mewarnai sel larut terbawa aliran
air. Digunakan akuades steril agar tidak ada mikroorganisme lain yang
menempelpada apus darah karena ketika dilakukan pengamatan dapat terjadi
kesalahan analisis (Handari, 2003).

IV.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya maka dapat diambil


kesimpulan bahwa :
1. Leukosit atau sel darah putih dari beberapa tipe yaitu granular (basophil,
eosinofil, neutrofil) dan agranular (monosit dan limfosit).
2. Semua tipe leukosit memegang peranan dalm system kekebalan tubuh.
Leukosit bersirkulasi dalam darah sampai ada sinyal pada bagian tubuh yang
tetpapar penyakit dan infeksi.

DAFTAR REFERENSI
Bryon, A. S and Doroth. 1973. Text Book of Physiology. Japan: St Burst The Moshy
Co Toppon Co Ltd.
Effendi, Z. 2003. Peranan Leukosit Sebagai Anti Inflamasi Alergik dalam Tubuh.
Medan : Fakultas Kedokteran USU.
Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta: UGM Press.
Handari, S. Suntoro. 1983. Metode Pewarnaan. Jakarta : Bhatara Karya Aksar
Handayani, L., Irianti, N dan Yuwono, E. 2013. Pengaruh Pemberian Minyak Ikan
Lemuru terhadap Kadar Eritrosit dan Trombosit pada Ayam
Kampung. Jurnal Ilmiah Peternakan 1(1) : 39-46.
Hoffbrand, A.V & Pettit, J.E, 1996. Penuntun Praktikum. Gadjah MadaUniversity
Press. Yogyakarta.
Rustikawati, I. 2012. Efektifitas Ekstrak Sargassum sp terhadap Deferensiasi leukosit
ikan nila Osteochoris niloticus yang Diinfeksi streptococcus inlae. Jurnal
Akuatika, 3(2) , pp. 125-134.
Soetrisno. 1999. Diktat Fisiologi Ternak. Purwokerto: Fakultas Peternakan Unsoed.

Ville, C. A, Walker, W and Barnes, R. D. 1988. Zoologi Umum Edisi 6. Jakarta:


Erlangga.