Anda di halaman 1dari 19

REFLEKSI KASUS

SEROTINUS
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi
Salah Satu Syarat Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter
Bagian Ilmu Kandungan dan Kebidanan RSI Sultan Agung Semarang

Disusun oleh :
Camila Anis
30101206843

Pembimbing :
dr. Gunawan Kuswondo, Sp.OG

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KANDUNGAN DAN KEBIDANAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2016

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2016

A.

B.

IDENTITAS

Nama Pasien

: Ny. N

Umur

: 35 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

No. CM

: 129.69.81

Agama

: Islam

Pendidikan

: Tamat SMA

Pekerjaan

: Swasta

Alamat

: Jl. Bayu Prasetya Raya Blok A/D-14 RT 01 Bangetayu

Status penikahan

: Menikah

Nama suami

: Tn. S

Tanggal Masuk

: 28 September 2016

ANAMNESA
Anamnesa dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 28 September 2016 pukul 11.00
WIB
1. Keluhan utama :
Belum merasakan kenceng-kenceng, sudah lewat HPL
2. Riwayat penyakit sekarang :
Pasien G3P2A0 usia 35 tahun hamil 42 minggu 5 hari datang dengan keluhan belum
merasa kenceng-kenceng namun sudah lewat HPL. Kenceng-kenceng (+) jarang, keluar
lendir darah dari jalan lahir (-), keluar air dari jalan lahir (-), gerakan janin (+) masih
dirasakan. Keluhan lain seperti nyeri kepala, bengkak pada kedua kaki & nyeri ulu hati
disangkal. Mual (-), muntah (-), demam (-).

3. Riwayat Menstruasi
HPHT

: 5 - 12 -2015

HPL

: 12 9 2016

UK

: 42 Minggu

Menarche

: 13 tahun

Siklus Haid

: 28 hari

Lama Haid

: 7 hari

Disminore

: -

4. . Riwayat pernikahan :
Pasien menikah yang pertama kali dengan suami sekarang 12 tahun
5. Riwayat penyakit keluarga :
1.Hipertensi

: disangkal

2 Asma

: disangkal

3.DM

: disangkal

4.Penyakit jantung

: disangkal

6. Riwayat Penyakit dahulu:


1.Hipertensi

: disangkal

2. Asma

: disangkal

3.DM

: disangkal

4.Penyakit jantung

: disangkal

5.TBC

: disangkal

6.Kejang

: disangkal

7. Operasi

: disangkal

7. Riwayat Sosial Ekonomi :


Pasien berkerja sebagai pegawai swasta, suami berkerja sebagai pegawai swasta.
Biaya mondok menggunakan asuransi BPJS.
8. Riwayat Obstetri :
G3 P2 A0, Gravida 42 minggu 5 hari
1

: Perempuan, 10 tahun, 3000 gr, spontan di bidan, sehat

: Perempuan, 5 tahun, 2900 gr, spontan di bidan

: Hamil ini

9. Riwayat ANC :
ANC dilakukan di Bidan dari umur kehamilan 4 bulan
10. Riwayat KB : IUD 3 th, Suntik 3 bulan
C.

PEMERIKSAAN FISIK
a.

Status present

Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Composmentis

Vital sign

o Tensi : 120/70 mmHg


o Nadi : 84 x/menit
o Suhu : 36,5o C
o RR

b.

: 20 x/menit

Status Gizi
o BB

: 66 kg

o TB

: 158 cm

Status internus
o Kepala

: Mesocephale, simetris.

o Rambut

: Bersih, tidak mudah rontok

o Mata

: Conjungtiva anemi (-/-), sclera ikterik

o Hidung

: Discharge (-), septum deviasi (-), nafas cuping hidung(-)

o Telinga

: Discharge (-)

o Mulut

: Bibir sianosis (-) ,kering (-), gusi berdarah (-)

o Tenggorokan : Faring hiperemis (-), pembesaran tonsil (-)


o Leher

: Pembesaran tyroid (-), pembesaran limfe (-)

o Kulit

: turgor baik, ptekiae (-)

o Mamae

: simetris, hiperpigmentasi aerola mamae, papilla mamae

menonjol, kolostum (-)

1. Paru
Inspeksi : pergerakan kedua hemithorax simetris
Palpasi : stemfremitus dextra sinistra sama
Perkusi : sonor pada seluruh lapang paru
Auskultasi : suara tambahan paru (-)
2. Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis tidak teraba
Perkusi : batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : suara tambahan (-)
3. Abdomen
Inspeksi

: perut tampak membesar, striae gravidarum (+), linea nigra

(+), bekas operasi (-)


Auskultasi

: bising usus (+)

Perkusi

: tidak dilakukan

Palpasi

: nyeri tekan (-)

4. Ekstremitas
Oedem
Varises
Reflek fisiologis
Reflek patologis
c.

Superior
-/-/+/+
-/-

Inferior
-/-/+/+
-/-

Status Obstetri

Abdomen
Inspeksi : Perut cembung, Striae gravidarum (+)
Palpasi :
Leopold I : Teraba bagian besar, bulat dan lunak, TFU 32 cm
Leopold II : Teraba tahanan memanjang sebelah kanan dan tahanan kecilkecil pada sebelah kiri
Loepold III : Teraba bagian bulat, besar dan keras.
Leopold IV : Konvergen
Auskultasi
: DJJ irama reguler, teratur, 11-11-11 = 132

His
TBJ
Genitalia

: (+) jarang
: (32-12) x 155 = 3100 gram

Eksterna : air ketuban (-), lendir darah (-), darah segar (-), vulva oedem (-)
Interna (VT) : kuncup, portio tebal keras, kepala turun H1.
D.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium Darah
Hematologi
1. Hb

: 11,5 gr/dl

2. Hematokrit

: 35,5 %

3. Leukosit

: 11.000 /uL

4. Trombosit

: 365.000

5. Gol.Darah/RH

: B/positif

6. APTT

: 25,1 detik

7. PT

: 10,6 detik

Urine
1. Warna

: Kuning

2. Kejernihan

: Jernih

3. Protein

: Negatif

4. Reduksi

: Negatif

5. Bilirubin

: Negatif

6. Reaksi/pH

: 6,5

7. Urobilinogen

: 0,2 mg/dl

8. Benda keton

: Negatif

9. Nitrit

: Negatif

10. Berat Jenis

: 1,015

11. Blood

: Negatif

12. Leukosit

: Negatif

13. Mikroskopis
a)

Epitel Sel

: 25-27/LPK

b)

Eritrosit

: 0-1/LPB

c)

Leukosit

: 1-3/LPB

d)

Silinder

: Negatif

e)

Parasit

: Negatif

f)

Bakteri

: Positif 1

g)

Jamur

: Positif

h)

Kristal

: Negatif

i)

Benang mukus

: Positif

Kimia
GDS

: 72 mg/dl

Imunoserologi
HbsAg kualitatif

: Non reaktif

1. RESUME
Pasien G3P2A0 usia 35 tahun hamil 42 minggu 5 hari datang dengan keluhan belum merasa
kenceng-kenceng namun sudah lewat HPL. Kenceng-kenceng (+) jarang, keluar lendir darah
dari jalan lahir (-), keluar air dari jalan lahir (-), gerakan janin (+) masih dirasakan. Mual (-),
muntah (-), demam (-).
Status Obstetri :
HPHT : 5 12 - 2015
HPL

: 12 9 - 2016

UK

: 42 minggu 5 hari

Abdomen
Inspeksi : perut tampak membesar, striae gravidarum (+), linea nigra(+),
bekas operasi (-)
Auskultasi : bising usus (+)
Palpasi : nyeri tekan (-), teraba bagian janin:
o Leopold I

: bokong, TFU 32 cm

o Leopold II

: puka dan ekstremitas

o Leopold III

: kepala

o Leopold IV

: belum masuk PAP

HIS

: jarang

TBJ

: 3100 gram

DJJ

: DJJ irama reguler, teratur, 11-11-11 = 132

PF Genitalia
Eksterna : air ketuban (-), lendir darah (-), darah segar (-), vulva oedem (-)
Interna (VT) : kuncup, portio tebal keras, kepala turun H1.
Bishop Pelvic Score

Pendataran serviks

20%

Pembukaan serviks

Penurunan kepala

HI

Konsistensi serviks

Keras

Posisi serviks sumbu

Posterior

2. DIAGNOSA
G3P2A0 usia 35 tahun, hamil 42 minggu 5 hari, janin tunggal, hidup intra uterin,
presentasi kepala, puka, belum inpartu dengan serotinus
3. SIKAP
1. Pasien di rawat inap
2. Pengawasan : KU, Vital sign, PPV, His, DJJ
3. Pro Induksi dengan oksitosin drip 5 IU dalam 500cc RL dimulai 8 tpm dinaikan 4
tetes tiap 30 menit sampai maksimal 20 tpm
4. Apabila induksi gagal tindakan SC
4. PROGNOSIS
Kehamilan

: dubia ad bonam

Persalinan

: dubia ad bonam

5. EDUKASI
1. Memberitahu kepada pasien dan keluarga resiko kehamilan lewat bulan.
2. Memberitahu akan dilakukan Oksitosin Drip bila dalam waktu 18 jam tidak ada
kemajuan persalinan.
3. Memberitahu akan dilakukannya terminasi kehamilan secara sectio cesaria bila
induksi Oksitosin Drip gagal.

SEROTINUS

A. DEFINISI
Kehamilan serotinus (postterm, prolonged atau postdates) adalah kehamilan yang
berlangsung lebih dari 42 minggu (294 hari) yang terhitung sejak hari pertama siklus haid
terakhir (HPHT). Umur kehamilan dan perkiraan hari kelahiran ditentukan dengan rumus
Naegele.
B. INSIDEN
Angka kejadian kehamilan lewat waktu kira-kira 10%, bervariasi antara 3,5-14%.
Data statistik menunjukkan, angka kematian dalam kehamilan lewat waktu lebih tinggi
ketimbang dalam kehamilan cukup bulan, dimana angka kematian kehamilan lewat
waktu mencapai 5 - 7 %. Variasi insiden postterm berkisar antara 2-31,37%.
C. ETIOLOGI/ PATOGENESIS
Etiologi secara pasti belum diketahui. Faktor yang dikemukakan adalah hormonal,
yaitu kadar progesterone tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan,
sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang. Faktor lain adalah faktor
herediter, karena postmaturitas sering dijumpai pada suatu keluarga tertentu.
Teori-teori yang pernah diajukan untuk menerangkan penyebab terjadinya
kehamilan postterm antara lain:
1. Teori progesteron. Berdasarkan teori ini, diduga bahwa terjadinya kehamilan postterm
adalah karena masih berlangsungnya pengaruh progesteron melewati waktu yang
semestinya.
2. Teori oksitosin. Rendahnya pelepasan oksitosin dari neurohipofisis wanita hamil pada
usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu fakor penyebab terjadinya kehamilan
postterm.
3. Teori kortisol/ACTH janin. Kortisol janin akan mempengaruhi plasenta sehingga produksi
progesteron berkurang dan memperbesar sekresi estrogen. Proses ini selanjutnya
berpengaruh terhadap meningkatnya produksi prostaglandin. Pada kasus-kasus kehamilan
dengan cacat bawaan janin seperti anensefalus atau hipoplasia adrenal, tidak adanya
kelenjar hipofisis janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik

sehingga kehamilan berlangsung lewat bulan. Defisiensi sulfatase penyakit herediter


X-linked.
4. Teori syaraf uterus. Berdasarkan teori ini, diduga kehamilan postterm terjadi pada
keadaan tidak terdapatnya tekanan pada ganglion servikalis, seperti pada kelainan letak,
tali pusat pendek, dan masih tingginya bagian terbawah janin.
5. Teori heriditer. Pengaruh herediter terhadap insidensi kehamilan postterm. seorang ibu
yang pernah mengami kehamilan postterm akan memiliki risiko lebih tinggi untuk
mengalami kehamilan postterm pada kehamilan berikutnya. Hasil penelitian ini
memunculkan kemungkinan bahwa kehamilan postterm juga dipengaruhi oleh faktor
genetik.

D. RISIKO
Risiko kehamilan lewat waktu antara lain adalah gangguan pertumbuhan janin,
gawat janin, sampai kematian janin dalam rahim. Resiko gawat janin dapat terjadi 3 kali
dari pada kehamilan aterm. Kulit janin akan menjadi keriput, lemak di bawah kulit
menipis bahkan sampai hilang, lama-lama kulit janin dapat mengelupas dan mengering
seperti kertas perkamen. Rambut dan kuku memanjang dan cairan ketuban berkurang
sampai habis. Akibat kekurangan oksigen akan terjadi gawat janin yang menyebabkan
janin buang air besar dalam rahim yang akan mewarnai cairan ketuban menjadi hijau
pekat.
Pada saat janin lahir dapat terjadi aspirasi (cairan terisap ke dalam saluran napas)
air ketuban yang dapat menimbulkan kumpulan gejala MAS (meconeum aspiration
syndrome). Keadaan ini dapat menyebabkan kematian janin. Komplikasi yang dapat
mungkin terjadi pada bayi ialah suhu yang tidak stabil, hipoglikemia, polisitemia, dan
kelainan neurologik.
Kehamilan lewat bulan dapat juga menyebabkan resiko pada ibu, antara lain
distosia karena aksi uterus tidak terkoordinir, janin besar, dan moulding (moulage) kepala
kurang. Sehingga sering dijumpai partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia
bahu, dan perdarahan postpartum.
E. DIAGNOSIS
Diagnosis kehamilan lewat waktu biasanya dari pehitungan rumus naegele setelah
mempertimbangkan siklus haid dan keadaan klinis. Bila ada keraguan, maka pengukuran,
maka pengukuran tinggi fundus uterus serial dengan sentimeter akan memberikan

informasi mengenai usia gestasi lebih tepat. Keadaan klinis yang mungkin ditemukan
ialah air ketuban yang berkuarang dan gerakan janin yang jarang.
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam mendiagnosis kehamilan lewat
waktu, antara lain :
1. Riwayat HPHT
a. harus yakin betul HPHT
b. siklus 28 hari dan teratur
c. tidak minum pil anti hamil 3 bulan terakhir
2. Riwayat pemeriksaan antenatal
a. Tes kehamilan
b. Gerak janin
c. DJJ
d. Tinggi fundus uteri
kehamilan dapat dinyatakan sebagai kehamilan postterm bila didapat 3 atau
lebih dari 4 kriteria hasil pemeriksaan sebagai berikut:
a. Telah lewat 36 minggu sejak test kehamilan positif
b. Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerak janin pertama kali
c. Telah lewat 32 minggu sejak DJJ pertama terdengar dengan Doppler
d. Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama kali dengan
stetoskop Laennec
3. Pemeriksaan USG
Semakin awal pemeriksaan USG dilakukan, maka usia kehamilan yang
didapatkan akan semakin akurat sehingga kesalahan dalam mendiagnosa
kehamilan postterm akan semakin rendah. Tingkat kesalahan estimasi tanggal
perkiraan persalinan jika berdasarkan pemeriksaan USG trimester I (crown-rump
length) adalah 0,67 minggu. Pada usia kehamilan antara 16-26 minggu, ukuran
diameter biparietal (biparietal diameter/BPD) dan panjang femur (femur
length/FL) memberikan ketepatan 7 hari dari taksiran persalinan.
Pemeriksaan usia kehamilan berdasarkan USG pada trimester III memiliki tingkat
keakuratan yang lebih rendah dibanding metode HPHT maupun USG trimester I
dan II. Ukuran-ukuran biometri janin pada trimester III memiliki tingkat
variabilitas yang tinggi sehingga tingkat kesalahan estimasi usia kehamilan pada
trimester ini juga menjadi tinggi. Tingkat kesalahan estimasi tanggal perkiraan
persalinan jika berdasarkan pemeriksaan USG trimester III bahkan bisa mencapai
3,6 minggu. Keakuratan penghitungan usia kehamilan pada trimester III saat ini

sebenarnya dapat ditingkatkan dengan melakukan pemeriksaan MRI terhadap


profil air ketuban.
4. Radiologi
5. Laboratorium
Pemeriksaan cairan amnion
a. Sitologi cairan amnion. Pengecatan nile blue sulphate dapat melihat sel lemak dalam
cairan amnion, apabila jumlahnya mencapai 50% atau lebih, maka usia kehamilan 39
minggu atau lebih.
b. Amnioskopi. Melalui amnioskop yang dimasukkan ke kanalis yang sudah membuka
dapat dinilai keadaan air ketuban didalamnya.
c.

Aktivitas tromboplastin cairan amnion (ATCA). Hasil penelitian terdahulu berhasil


membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu pembekuan darah. Pada
usia kehamilan 41-42 minggu, ACTA berkisar antara 45-65 detik sedangkan pada
usia kehamilan >42 minggu, didapatkan ACTA <45 detik.

d. Perbandingan kadar lesitin-spingomielin (L/S). Pemeriksaan ini tidak dapat dipakai


untuk menentukan kehamilan postterm tetapi hanya digunakan untuk menentukan
apakan janin cukup usia/matang untuk dilahirkan.

Tanda kehamilan lewat waktu yang dijumpai pada bayi dibagi atas tiga stadium:
1.

Stadium I : Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit
kering, rapuh, dan mudah mengelupas.

2.

Stadium II : Gejala stadium I disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) pada kulit.

3.

Stadium III. Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit, dan tali pusat.

Yang paling penting dalam menangani kehamilan lewat waktu ialah menentukan keadaan
janin, karena setiap keterlambatan akan menimbulkan resiko kegawatan. Penentuan keadaan
janin dapat dilakukan:
1. Tes tanpa tekanan (non stress test). Bila memperoleh hasil non reaktif maka dilanjutkan
dengan tes tekanan oksitosin. Bila diperoleh hasil reaktif maka nilai spesifisitas 98,8%
menunjukkan kemungkinan besar janin baik. Bila ditemukan hasil tes tekanan yang
positif, meskipun sensitifitas relatif rendah tetapi telah dibuktikan berhubungan dengan
keadaan postmatur.

2. Gerakan janin. Gerakan janin dapat ditentukan secara subjektif (normal rata-rata 7 kali/
20 menit) atau secara objektif dengan tokografi (normal rata-rata 10 kali/ 20 menit), dapat
juga ditentukan dengan USG. Penilaian banyaknya air ketuban secara kualitatif dengan
USG (normal >1 cm/ bidang) memberikan gambaran banyaknya air ketuban, bila ternyata
oligohidramnion maka kemungkinan telah terjadi kehamilan lewat waktu.
3. Amnioskopi. Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkin keadaan janin
masih baik. Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan mengalami
resiko 33% asfiksia.
F. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan kehamilan postterm meliputi evaluasi mengenai:
1. Ada atau tidaknya faktor resiko
2. Konseling untuk induksi persalinan atau manajemen konservatif
3. Tes kesejahteraan janin, misalnya:
a. Metode biokimia
b. Kurva pergerakan janin
c. Persepsi ibu terhadap gerakan janin yang diprovokasi suara (mp- SPFM)
d. NST
e. Contraction Stress Test (CST) atau FAST
f. Pemeriksaan volume cairan amnion
g. Biophysical profile (BPP)
Jika pemeriksaan kesejahteraan janin didapatkan hasil buruk, maka kehamilan
harus segera diterminasi. Jika janin masih baik memungkinkan untuk mengambil
keputusan :
a. Tunggu
b. Melakukan induksi
Prinsip dari tata laksana kehamilan lewat waktu ialah merenanakan pengakhiran
kehamilan. Cara pengakhiran kehamilan tergantung dari hasil pemeriksaan
kesejahteraan janin dan penilaian bishops score.
Ada beberapa cara untuk pengakhiran kehamilan antara lain :
1. Induksi partus dengan medicinal : infuse oksitosin, prostaglandin
2. Induksi dengan operatif : amniotomi, melepas kulit ketuban dari dinding uterus,
lain-lain : bougie Krause, kateter foley dan batang laminaria
3. Bedah seksio sesaria
Dalam mengakhiri kehamilan dengan induksi oksitosin, pasien harus memenuhi
beberapa syarat, antara lain kehamilan aterm, ada kemunduran his, ukuran panggul
normal, tidak ada disporporsi sefalopelvik, janin presentasi kepala, serviks sudah

matang (porsio teraba lunak, mulai mendatar, dan mulai membuka). Selain itu,
pengukuran bischops score juga harus dilakukan sebelumnya.
Tabel pengukuran bischops score dapat dilihat di bawah ini :
Skor

Pendataran serviks

0 30 %

40 50 %

60 70 %

80 %

Pembukaan

12

34

56

-3

-2

-1,0

+1 +2

Keras

Sedang

Lunak

Posterior

Searah jalan

Anterior

serviks
Penurunan kepala
dari hodge III
Konsistensi
serviks
Posisi serviks
sumbu

lahir

Bila nilai > 8, maka induksi persalinan kemungkinan besar akan berhasil
Bila nilai > 5, dapat dilakukan drip oksitosin
Bila nilai < 5, dapat dilakukan pematangan serviks terlebih dahulu, kemudian lakukan
pengukuran PS lagi.
Penggunaaan agen pematangan serviks penting untuk mempersiapkan pematangan
serviks, terutama pada serviks dengan PS jelek (<5).1 Adapun metode yang dapat dipakai
dalam induksi persalinan adalah:
1. Metode mekanik
1. Balloon catheter
2. Infuse saline ekstra amnion sebagai modifikasi dari balon kateter
3. Laminaria (alami maupun sintesis).
4. Hygroscope cervical dilator (dilator osmotik).
5. Stripping membrane.
6. Akupuntur.
2.
Metode farmakologik, dengan menggunakan prostaglandin (PG):
dinoprostone (PGE2), misoprostol (analog PGE1 sintetik). Induksi persalinan adalah suatu
tindakan terhadap ibu hamil yang belum inpartu, baik secara tindakan atau medisinal,

untuk merangsang timbulnya kontraksi uterus sehingga diharapkan terjadi persalinan atau
penipisan dan dilatasi serviks yang progresif disertai penurunan bagian presentasi janin.
Tindakan induksi persalinan ini adalah untuk keselamatan ibu dan anak, tetapi walaupun
dilakukan dengan terencana dan hati-hati,
Oksitosin adalah zat yang paling sering digunakan untuk induksi
persalinan dalam bidang obstetri. Oksitosin mempunyai efek yang poten
terhadap otot polos uterus dan kelenjar mammae. Kepekaan terhadap oksitosin
meningkat pada saat persalinan. Induksi persalinan dengan oksitosin yang
diberikan melalui infus secara titrasi ternyata efektif dan banyak dipakai.
Titrasi ini biasanya dilakukan dengan cara memberikan 10 unit oksitosin
(10.000-20.000 mU) yang dilarutkan dalam 1000 cc larutan Ringer laktat.
G. PENCEGAHAN
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan yang
teratur, minimal 4 kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester pertama (sebelum 12
minggu), 1 kali pada trimester ke dua (antara 13 minggu sampai 28 minggu) dan 2 kali
trimester ketiga (di atas 28 minggu). Bila keadaan memungkinkan, pemeriksaan
kehamilan dilakukan 1 bulan sekali sampai usia 7 bulan, 2 minggu sekali pada kehamilan
7 8 bulan dan seminggu sekali pada bulan terakhir. Hal ini akan menjamin ibu dan
dokter mengetahui dengan benar usia kehamilan, dan mencegah terjadinya kehamilan
serotinus yang berbahaya.
H. KOMPLIKASI
Pada kehamilan postterm terjadi berbagai perubahan baik pada cairan amnion, plasenta,
maupun janin. Pengetahuan mengenai perubahan-perubahan tersebut dapat dijadikan dasar
untuk mengelola kasus persalinan postterm.
1. Disfungsi plasenta
Disfungsi plasenta merupakan faktor penyebab terjadinya komplikasi pada
kehamilan postterm dan meningkatnya risiko pada janin. Fungsi plasenta mencapai
puncaknya pada kehamilan 38 minggu dan kemudian mulai menurun terutama setelah 42
minggu. Rendahnya fungsi plasenta ini berkaitan dengan peningkatan kejadian gawat
janin dengan risiko 3 kali lebih tinggi. Pemasokan makanan dan oksigen akan menurun

akibat proses penuaan plasenta disamping adanya spasme arteri spiralis. Janin akan
mengalami hambatan pertumbuhan dan penurunan berat hingga disebut sebagai dismatur.
2. Oligohidramnion
Pada kehamilan postterm terjadi perubahan kualitas dan kuantitas cairan amnion.
Jumlah cairan amnion mencapai puncak pada usia kehamilan 38 minggu, yaitu sekitar
1000 ml dan menurun menjadi sekitar 800 ml pada usia kehamilan 40 minggu.
Penurunan jumlah cairan amnion pada kehamilan postterm berhubungan dengan
penurunan produksi urin janin. Dilaporkan bahwa berdasarkan pemeriksaan Doppler
velosimetri, pada kehamilan postterm terjadi peningkatan hambatan aliran darah
(resistance index/RI) arteri renalis janin sehingga dapat menyebabkan penurunan jumlah
urin janin dan pada akhirnya menimbulkan oligohidramnion. Selain perubahan volume,
terjadi pula perubahan komposisi cairan amnion sehingga menjadi lebih kental dan keruh.
Selain itu, adanya pengeluaran mekonium akan mengakibatkan cairan amnion menjadi
hijau atau kuning dan meningkatkan risiko terjadinya aspirasi mekonium.
Estimasi jumlah cairan amnion dapat diukur dengan pemeriksan USG. Salah satu
metode yang cukup populer adalah pengukuran diameter vertikal dari kantung amnion
terbesar pada setiap kuadran dari 4 kuadran uterus. Hasil penjumlahan keempat kuadran
tersebut dikenal dengan sebutan indeks cairan anmion (Amnionic Fluid Index/AFI). Bila
nilai AFI telah turun hingga 5 cm atau kurang, maka merupakan indikasi adanya
oligohidramnion.
3.

Perubahan pada janin


Selain risiko pertambahan berat badan yang berlebihan, janin pada kehamilan
postterm juga mengalami berbagai perubahan fisik khas disertai dengan gangguan
pertumbuhan dan dehidrasi yang disebut dengan sindrom postmaturitas. Perubahanperubahan tersebut antara lain; penurunan jumlah lemak subkutaneus, kulit menjadi
keriput, dan hilangnya vernik kaseosa. Keadaan ini menyebabkan kulit janin berhubungan
langsung dengan cairan amnion. Perubahan lainnya yaitu; rambut panjang, kuku panjang,
serta warna kulit kehijauan atau kekuningan karena terpapar mekonium. Namun
demikian, Tidak seluruh neonatus kehamilan postterm menunjukkan tanda postmaturitas

tergantung fungsi plasenta. Umumnya didapat sekitar 12-20 % neonatus dengan tanda
postmaturitas pada kehamilan postterm. Tanda postterm dibagi dalam 3 stadium:

(Mochtar, et

al., 2004)

a. Stadium 1:

Kulit kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa

kulit kering, rapuh, dan mudah mengelupas.


b. Stadium 2:

Gejala di atas disertai pewarnaan mekonium pada kulit.

c. Stadium 3:

Pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit, dan tali pusat.

DAFTAR PUSTAKA
Mochtar, A B dan Krisnanto, H. 2004. Kehamilan Lewat Bulan. [penyunt.] R. Hariadi.
Ilmu Kedokteran Fetomaternal. Edisi 1. Surabaya : Himpunan Kedokteran Fetomaternal
POGI, 2004, Bab VI, Bagian 58, hal. 384-391.
Prawirohardjo S., 2010, Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono P.