Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu hal yang penting untuk mencapai derajat
kesehatan

yang

optimal

adalah

dengan

memperhatikan

kesehatan wanita, khususnya kesehatan reproduksi karena hal


tersebut dampaknya luas dan menyangkut berbagai aspek
kehidupan. Berbagai kesehatan reproduksi wanita banyak yang
menjadi masalah, salah satunya adalah terjadinya penyakit
mioma uteri yang prevalensinya terus mengalami peningkatan
yaitu lebih 70% dengan pemeriksaan patologi anatomi uterus
(Prawirohardjo, 2011). Mioma merupakan kelainan tumor jinak
ginekologis yang paling sering dijumpai, jumlah kejadiannya
hampir sepertiga dari kasus ginekologi. Menurut WHO (World
Health Organization) adanya 10 juta kasus kanker pertahun,
dimana didalamnya termasuk degenerasi dari suatu penyakit
mioma uteri (http://www.litbang,depkes.go.id).
Mioma uteri ini menimbulkan masalah besar dalam
kesehatan

dan

terapi

efektif

belum

didapatkan,

karena

sedikitnya informasi mengenai etiologi mioma uteri itu sendiri.


Berdasarkan penelitian WHO tahun 2010 penyebab angka
kematian ibu karena mioma uteri sebanyak 22 (1,95%) kasus

dan tahun 2011 sebanyak 21 (2,04%) kasus. Mioma uteri


walaupun jarang menyebabkan mortalitas, namun morbiditas
yang ditimbulkan oleh mioma uteri ini cukup tinggi karena
dapat menyebabkan nyeri perut dan perdarahan abnormal,
serta diperkirakan dapat menyebabkan kesuburan rendah atau
infertilitas (Bailliere, 2006).
Penelitian di Amerika Serikat yang dilakukan scwartz,
angka kejadian mioma uteri 2-12,8 orang per 1000 wanita tiap
tahunnya. Scwartz juga menunjukkan angka kejadian mioma
uteri 2-3 kali lebih tinggi pada wanita kulit hitam dibanding
kulit putih. Penelitian juga dilakukan oleh Ran ok et al di pusat
Saint Benedict Hospital Korea menemukan 17% kasus mioma
uteri dari 4784 kasus-kasus bedah gynekologi yang diteliti
(Ran ok et al,2007).
Di Indonesia mioma uteri ditemukan 2,39% - 11,7%
pada semua penderita ginekologi yang dirawat, dan jumlah
kejadian penyakit ini menempati urutan kedua setelah kanker
serviks (Winkjosastro, 2009). Menurut data yang tersedia dari
Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta, tercatat kasus
mioma uteri mengalami peningkatan. Dari data beberapa
kabupaten yang tersedia, kasus mioma uteri pada tahun 2013
sebanyak 582 kasus dengan 320 kasus rawat jalan dan 262
rawat inap.3 Kasus mioma uteri meningkat pada tahun 2014

yaitu sebanyak 701 kasus dengan 529 kasus rawat jalan dan
172 kasus rawat inap.Tingginya angka kesakitan pada wanita
tidak

terlepas

dari

berbagai

faktor

diantaranya

dalam

mengenali tanda dan gejala yang masih kurang dipahami oleh


masyarakat

terutama

disosialisasikan

dan

kaum

wanita,

pencegahan

penanganannya

yang

Masyarakat sebagai penderita biasanya tidak


keluhan

apapun

oleh

karena

itu

mereka

jarang

terlambat.
merasakan

tidak

segera

memeriksakan dan membiarkan penyakit ini berkembang


sampai suatu gejala yang lebih lanjut.
Mioma

uteri

belum

pernah

ditemukan

sebelum

terjadinya menarkhe, namun sering terjadi pada wanita usia


reproduktif sedangkan setelah menopause hanya kira-kira 10%
mioma yang masih tumbuh (Prawirohardjo,2011).Tumor ini
paling sering ditemukan pada wanita umur 35 - 45 tahun
(kurang lebih 25%). Wanita yang sering melahirkan, sedikit
kemungkinannya untuk perkembangan mioma dibandingkan
dengan wanita yang tak pernah hamil atau hanya satu kali
hamil. Statistik menunjukkan 60% mioma uteri berkembang
pada wanita yang tidak pernah hamil atau hanya hamil satu
kali (Schorge et al, 2008). Pengobatan mioma uteri dengan
gejala

klinik

umumnya

adalah

tindakan

operasi

yaitu

histerektomi ( pengangkatan rahim ) atau pada wanita yang

ingin

mempertahankan

kesuburannya

miomektomi

( pengangkatan mioma ) dapat menjadi pilihan (Djuwantono,


2004).
Upaya

pemerintah

dalam

mewujudkan

kesehatan optimal selain untuk menurunkan

derajat

mortalitas ibu,

juga untuk menurunkan morbiditas pada wanita. Salah satunya


adalah

dengan

kesehatan

adanya

reproduksi

kebijakan

melalui

pemerintah

program

paket

tentang
kesehatan

reproduksi esensial (PKRE) dan paket kesehatan reproduksi


komprehensif
indonesia,

(PKRK)

agar

bagi

mencapai

seluruh

kesehatan

berkualitas (Maryanti, 2009).


dalam

ikut

serta

mewujudkan

kesehatan

upaya

masyarakat

reproduksi

Peran bidan

membantu

derajat

lapisan

sangat berarti

pemerintah

tersebut,

yang

melalui

untuk
upaya

tindakan promotif dengan cara memberikan edukasi serta


penyuluhan

tentang

kesehatan

reproduksi

pada

wanita

(Kepmenkes RI, 2007).


RSU PKU Muhammadiyah Bantul merupakan rumah sakit rujukan
tingkat daerah khususnya kabupaten Bantul dan sekitarnya, juga ikut
membantu

pemerintah

dalam

memberikan

pelayanan

masalah kesehatan reproduksi termasuk mioma uteri.

Mioma uteri

terhadap

Angka kejadian

yang diperoleh dari data rekam medik RSU PKU

Muhammadiyah Bantul selama tahun 2010-2012 mengalami peningkatan.

Pada tahun 2010 terdapat 38 (37,25%) ibu yang mengalami Mioma Uteri,
tahun 2011 terdapat 36 (34,28%) ibu yang mengalami Mioma Uteri, pada
tahun 2012 terdapat 40 (42,55%) ibu yang mengalami Mioma Uteri (Trisna,
2014)
Menurut data dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)
Panembahan Senopati Bantul selama dua tahun terakhir kasus
mioma uteri mengalami peningkatan yaitu sebanyak 359
kasus pada tahun 2013 yang terdiri dari 25 kasus rawat inap
dan 334 kasus rawat jalan.5 Kasus mioma uteri bertambah
menjadi 389 kasus pada tahun 2014 yang terdiri dari 24 kasus
rawat inap dan 365 kasus rawat jalan.

Atas dasar pernyataan diatas maka hal ini mendorong


peneliti untuk mengetahui lebih jauh mengenai Hubungan
Paritas dengan Kejadian Mioma Uteri di RS X Tahun 2017

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat diambil
suatu rumusan masalah Adakah Hubungan Paritas dengan
Kejadian Mioma Uteri di RS X Tahun 2017 ?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini untuk mengetahui


Hubungan Paritas dengan Kejadian Mioma Uteri di RS X
Tahun 2017
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya paritas pada kejadian mioma uteri di RS X
Tahun 2017

b. Diketahuinya kejadian mioma uteri di RS X Tahun 2017.


c. Diketahuinya keeratan Hubungan paritas dengan kejadian
mioma uteri di RS X Tahun 2017.
D. Manfaat
1. Bagi Ilmu Pengetahuan
Penelitian ini diharapkan dapat menambah sumber informasi
dan pengetahuan, menguatkan teori yang ada serta dapat
dijadikan referensi mengenai Asuhan Kebidanan Reproduksi
pada wanita.
2. Bagi Konsumer
a. Responden
Penelitian

ini

diharapkan

informasi

pada

wanita

sebagai
agar

pengetahuan

lebih

dan

memperhatikan

kesehatan reproduksinya.
b. Bagi Rumah Sakit
Penelitian

ini

diharapkan

gambaran

kejadian

pelayanan

pada

reproduksi di RS X.
c. Bagi Masyarakat

menjadi

mioma

pasien

uteri

dengan

informasi
dan
masalah

tentang

peningkatan
kesehatan

Penelitian

ini

diharapkan

menjadi

informasi

bagi

mayarakat tentang masalah kesehatan reproduksi.


E. Ruang Lingkup
1. Ruang Lingkup Materi
Lingkup materi penelitian meliputi paritas sebagai variabel
bebas dan mioma uteri sebagai variabel terikat karena
paritas merupakan salah satu faktor resiko terjadinya mioma
uteri

2. Ruang Lingkup Responden


Adalah wanita yang mengalami gangguan reproduksi mioma
uteri di RS X

3. Ruang Lingkup Waktu


Penelitian ini dilaksanakan mulai dari penyusunan proposal
bulan Januari

tahun 2017 sampai laporan hasil penelitian

bulan juni tahun 2017


4. Ruang Lingkup Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di RS X dengan alasan kasus
mioma uteri menempati urutan pertama dari jumlah kasus
gynekologi yang dirawat.
F. Keaslian Penelitian

Penelitian ini belum pernah dilakukan sebelumnya, namun


ada beberapa penelitian yang mendukung penelitian ini,
yaitu :
1. Sulistiyani

Cicilia

Ninik

(2009)

yang

meneliti

tentang

Hubungan antara Paritas dan Umur Ibu dengan Perdarahan


Post Partum di RS Panti Wilasa Dr. Cipto Yakkum Cabang
Semarang Tahun 2008 desain penelitian ini kuantitatif studi
korelasi menggunakan metode survey dengan pendekatan
retrospektif serta menggunakan uji statistik chi square.
Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara paritas
dengan perdarahan post partum dan tidak ada hubungan
antara umur ibu dengan perdarahan post partum.
2. Hilyani Devy Isella dkk (2011) melakukan penelitian tentang
Hubungan Faktor Resiko dengan Kejadian Mioma Uteri di
RSUD

Tugurejo

Semarang

Tahun

2011.

Metode

yang

digunakan adalah survey analitik dengan pendekatan waktu


retrospektif dengan pengambilan sampel menggunakan
simpel random sampling, menggunakan Uji statistik chi
square/fishers exact test.
Hasil penelitian ini adalah

adanya hubungan bermakna

antara umur dengan mioma uteri, tidak terdapat hubungan


bermakna

antara

paritas

dengan

mioma

uteri,

ada

hubungan bermakna antara umur menarche dengan mioma

uteri dan terdapat hubungan bermakna antara status haid


dengan mioma uteri.
3. Kurniasih Tri (2010)

melakukan

penelitian

tentang

Karakteristik Mioma uteri di RSUD dr. Moewardi Surakarta


periode januari 2009 - januari 2010 Metode yang digunakan
adalah

desain

observasional

diskriptif

dengan

studi

dokumentasi data sekunder, dengan pendekatan waktu


retrospektif,

tehnik

pengambilan

sampel

menggunakan

fixed disease sampling.


Hasil penelitian ini adalah bahwa karakteristik mioma uteri
perkembangannya bisa dipengaruhi oleh usia,
indeks massa tubuh, obesitas.

paritas,