Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Swamedikasi atau pengobatan sendiri merupakan kegiatan pemilihan dan penggunaan
obat baik itu obat modern, herbal, maupun obat tradisional oleh seorang individu untuk
mengatasi penyakit atau gejala penyakit (WHO, 1998).
Hasil survey social ekonomi nasional (susenas) tahun 2014 menunjukan bahwa
persentase penduduk yang mengobati sendiri keluhan kesehatan yang dialami sebesar 61,05%.
Persentase tersebut memang lebih kecil jika dibandingkan hasil survey pada tahun 2012 sebesar
67,71% dan tahun 2013 sebesar 63,10%, namun masih dapat dikatakan perilaku swamedikasi di
Indonesia masih cukup besar (BPS, 2016). Kegiatan swamedikasi sesuai dengan hadist berikut:




Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka dia
akan sembuh dengan seizin Allah Subhanahu wa Taala. (HR. Muslim)
Pada dasarnya, bila dilakukan secara rasional, swamedikasi memberikan keuntungan
besar bagi pemerintah dalam pemeliharaan kesehatan nasional (Depkes, 2008). Biaya sakit dapat
ditekan dan dokter sebagai tenaga profesional kesehatan lebih terfokus pada kondisi kesehatan
yang lebih serius dan kritis. Namun bila tidak dilakukan secara benar justru menimbulkan
masalah baru yaitu tidak sembuhnya penyakit karena adanya resistensi bakteri dan
ketergantungan sehingga munculnya penyakit baru karena efek samping obat antara lain seperti
pendarahan sistem pencernaan, reaksi hipersensitif, drug withdrawal symptom, serta
meningkatnya angka kejadian keracunan (Galato, 2009).
Kesalahan pengobatan (medication eror) pada pelaksanaan Swamedikasi dapat terjadi
karena keterbatasan pengetahuan masyarakat akan obat dan penggunaannya (Depkes RI, 2006)
swamedikasi yang tidak tepat diantaranya ditimbulkan oleh kesalahan mengenai gejala yang
muncul, memilih obat, menggunakan alat, dosis dan keterlambatan dalam mencari nasihat/saran
tenaga kesehatan jika keluhan yang berlanjut. Selain itu, resiko potensial yang dapat muncul dari
swamedikasi misalnya efek samping yang jarang muncul namun parah, interaksi obat yang

berbahaya, dosis tidak tepat, dan pilihan terapi yang salah (BPOM, 2014). Hal tersebut dapat
berbahaya jika tidak diketahui oleh masyarakat.
Supaya bahaya tidak terjadi maka harus dilakukan swamedikasi yang bertanggung jawab.
Tanggung jawab dalam swamedikasi menurut World Health Organization (WHO) terdiri dari dua
yaitu (WHO,1998) : 1. Pengobatan yang digunakan harus terjamin keamanan, kualitas dan
keefektifannyaa, dan 2. pengobatan yang digunakan diindikasikan untuk kondisi yang dapat
dikenali sendiri dan untuk beberapa macam kondisi kronis dan tahap penyembuhan (Setelah
diagnosis medis awal). Pada seluruh kasus, obat harus didesain spesifik untuk tujuan pengobatan
tertentu dan memerlukan bentuk sediaan dan dosis yang benar. Masalah masalah yang umum
dihadapi pada swamedikasi antara lain sakit kepala, batuk, sakit mata, konstipasi, diare, sakit
perut, sakit gigi, penyakit pada kulit seperti panu, sakit pada kaki dan lain sebagainya (Edwards
& stillman,2000).
Swamedikasi yang baik dan bertanggungjawab dapat memberikan banyak manfaat bagi
pasien. Selain dari efek produk obat yang digunakan pasien, pasien akan mendapatkan
ketersediaan obat dan perawatan kesehatan yang lebih luas. Peran aktif pasien dalam perawatan
kesehatannya sendiri juga akan meningkat serta perilaku dalam masalah kesehatan akan baik.
Perilaku itu dibentuk melalui suatu proses dan berlangsung dari interaksi manusia dengan
lingkungannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku dibedakan menjadi dua,
yakni faktor-faktor intern dan ekstern. Faktor intern mencakup : pengetahuan, kecerdasan,
persepsi, emosi, motivasi dan sebagainya yang berfungsi untuk mengolah rangsangan dari luar.
Sedangkan faktor ekstern meliputi : lingkungan sekitar baik fisik maupun non fisik seperti :
iklim, manusia, sosial-ekonomi, kebudayaan, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan merupakan hal yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.
Apabila penerimaan perilaku didasari oleh pengetahuan maka perilaku akan bersifat langgeng
(long lasting) (Notoatmodjo, 2003). Dari hasil penelitian Kristiana, dkk menunjukkan bahwa
pengetahuan dan sikap tentang pengobatan sendiri berhubungan dengan perilaku pengobatan
sendiri yang rasional (Kristiana dkk, 2008)
Penggunaan obat yang rasional diperlukan pengetahuan tentang obat dan cara
penggunaan yang dapat diperoleh melalui berbagai sumber. Menurut Dharmasari (2003) dalam
penelitiannya mengungkapkan bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi perilaku pengobatan
sendiri yang aman, tapat, dan rasional. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin

rasional dan berhati-hati dalam memilih obat untuk pengobatan sendiri. Artinya, semakin baik
pengetahuan, sikap tentang pengobatan sendiri mka semakin rasional pula prilaku pengobatan
sendirirnya, demikian juga sebaliknya.
Ada beberapa pengetahuan minimal yang sebaiknya dipahami masyarakat karena
merupakan hal penting dalam swamedikasi, pengetahuan tersebut antara lain tentang mengenali
gejala penyakit, memilih produk sesuai dengan indikasi dari penyakit, mengikuti petunjuk yang
tertera pada etiket brosur, memantau hasil terapi dan kemungkinan efek samping yang ada
(Depkes, 2008).
Pada penelitian ini responden yang saya pilih adalah mahasiswa. Mahasiswa sebagai
agent of change diharapkan dapat membagi ilmu yang dimiliki kepada orang-orang di
sekelilingnya. Jika tingkat pengetahuan mahasiswa mengenai swamedikasi tinggi diperkirakan
kemampuan masyarakat dalam swamedikasi pun akan meningkat. Dalam penelitian ini
mahasiswa yang diteliti dibedakan menjadi mahasiswa kesehatan dan mahasiswa non kesehatan.
Mahasiswa kesehatan diasumsikan

lebih paham mengenai swamedikasi, sehingga tingkat

pengetahuan tentang swamedikasi lebih tinggi dari pada mahasiswa non kesehatan. Dengan
demikian, diyakinkan praktik swamedikasi yang dilakukan oleh mahasiswa kesehatan lebih
sering/lebih banyak jika dibandingkan dengan mahasiswa non kesehatan.
Penelitian mengenai swamedikasi dikalangan mahasiswa pernah dilakukan baik di
Indonesia maupun di luar negeri. Salah satu penelitian yang dilakukan di Indonesia adalah
penelitian yang dilakukan Azali (2014), dimana pravelensi atau kejadian perilaku swamedikasi
yang dilakukan mahasiswa ilmu keperawatan sebesar 73,18%, kedokteran gigi sebesar 72,08%
dan farmasi sebesar 75,50%. Penelitian yang dilakukan di Uni Emirat Arab menunjukkan bahwa
sebesar 86% mahasiswa farmasi melakukan swamedikasi (sharif et al, 2012). Penelitian lain di
Uni Emirat Arab yang dilakukan di Universitas yang sama, namun dilakukan pada mahasiswa
non kesehatan menunjukkan pravelensi swamedikasi sebesar 59% (sharif dan sharif, 2014).
Penelitian yang terbaru di Saudi Arabia menunjukkan bahwa prevalensi swamedikasi di kalangan
mahasiswa cukup tinggi yaitu 64,8%. Hasil tersebut menunjukkan prevalensi swamedikasi
mahasiswa medis (66%) lebih tinggi dari pada mahasiswa non medis (60%) (Aljaouni et al.,
2015). Pelaksanaan swamedikasi berhubungan secara signifikan dengan usia, jenis kelamin dan
tahun angkatan di universitas (Oesmene dan Lamikanra, 2012). Secara umum, swamedikasi

sudah banyak dilakukan oleh mahasiswa di berbagai negara, antara lain Pakistan 76%, Kroasia
88%, Hong Kong 94%, Malaysia 85% dan Palestina 98% (Sharif dan Sharif, 2014).
Hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan bahwa secara nasional
proporsi rumah tangga yang menyimpan obat keras sebesar 35,7% dan khusus untuk antibiotic
sebesar 27,8%. Dari jumlah tersebut, 81,9% obat keras dan 86,1% antibiotika diperoleh tanpa
menggunakan resep. Data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat yang melakukan
swamedikasi masih menggunakan obat keras dan antibiotika (Riskesdas, 2013).
Di Indonesia penelitian mengenai swamedikasi banyak dilakukan kepada masyarakat luas
(Supardi dkk, 2004; Kristina dkk, 2008; Hermawati, 2012). Namun belum banyak penelitian
yang dilakukan untuk melihat tingkat pengetahuan mahasiswa kesehatan dan non kesehatan
mengenai swamedikasi. Oleh karena itu, diperlukan penelitian untuk mengetahui tingkat
pengetahuan mahasiswa kesehatan dan non kesehatan mengenai swamedikasi di Universitas
Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
1.2 Rumusan Masalah
Dari permasalahan yang telah dijabarkan diatas maka dapat dirumuskan beberapa masalah pokok
sebagai berikut :
1. Bagaimana tingkat penegtahuan mahasiswa kesehatan mengenai Swamedikasi?
2. Bagaimana tingkat penegtahuan mahasiswa non kesehatan mengenai Swamedikasi?
3. Apakah tingkat pengetahuan mahasiswa kesehatan mengenai swamedikasi berbeda
signifikan dengan mahasiswa non kesehatan di UIN Maliki Malang?
4. Apakah tahun angkatan mahasiswa berpengaruh terhadap pengetahuan mahasiswa
mengenai swamedikasi?
1.3 Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa manfaat antara lain:
1. Bagi profesi apoteker, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pemicu semangat
dalam meningkatkan peran aktif apoteker untuk melakukan fungsinya secara profesional
dan menyeluruh dimasyarakat terutama dalam hal pemberian informasi dan
pendampingan dalam pengobatan sendiri yang rasional.
2. Bagi mahasiswa UIN Maliki Malang pada umumnya, sebagai refleksi mengenai tingkat
pengetahuan mengenai swamedikasi. Diharapkan dapat membuat para mahasiswa terus

bersikap kritis, meningkatkan kesadaran untuk peduli terhadap kesehatan diri dan
lingkungan, dan selalu mencari informasi terkini seputar pengobatan sendiri untuk terus
bermanfaat bagi masyarakat luas.
3. Bagi masyarakat luas yang dalam konteks ini adalah mahasiswa di seluruh Indonesia,
penelitian ini dapat menjadi sarana penggugah semangat agar dapat berkontribusi
terhadap pengobatan sendiri yang rasional di masyarakat.
4. Bagi peneliti lain dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk melanjutkan penelitian
dengan tema pengobatan sendiri.
1.4 Tujuan Penelitian
1. Menegtahui tingkat pengetahuan mahasiswa kesehatan menegenai swamedikasi
2. Menegtahui tingkat pengetahuan mahasiswa non kesehatan menegenai swamedikasi
3. Membandingkan tingkat pengetahuan mahasiswa kesehatan dengan mahasiswa non
kesehatan mengenai obat swamedikasi di UIN Maliki Malang
4. mengetahui pengaruh tahun angkatan mahasiswa terhadap pengetahuan mengenai
swamedikasi
1.5 Batasan Masalah

Obat yang digunakan dalam swamedikasi adalah obat tanpa resep (OTR). Di Indonesia yang
termasuk obat tanpa resep meliputi obat wajib apotek (OWA) atau obat keras yang dapat
diserahkan oleh apoteker kepada pasien di apotek tanpa resep dokter, obat bebas terbatas (obat
yang aman dan manjur apabila digunakan sesuai petunjuk penggunaan dan peringatan yang
terdapat pada label), dan obat bebas (obat yang relatif aman digunakan tanpa pengawasan).
Pada swamedikasi dengan obat bebas dan bebas terbatas, penderita bebas mendiagnosa
penyakitnya sendiri dan memilih produk obat yang akan digunakan, maka penderita sendirilah
yang bertanggungjawab atas kerasionalan dalam pemakaian obat tersebut.
Kapan seseorang boleh melakukan swamedikasi ?
Penggunaan OTR untuk swamedikasi biasanya pada kondisi dan kasus sebagai berikut.
1.

Perawatan simptomatik minor, seperti rasa tidak enak badan dan cedera ringan

2.

Penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan bertambahnya daya tahan tubuh, seperti flu.

3.

Profilaksis/pencegahan dan penyembuhan penyakit ringan, seperti mabuk perjalanan dan

kutu air
4.

Penyakit kronis yang sebelumnya sudah pernah didiagnosis dokter atau tenaga medis

profesional lainnya, seperti asma dan atritis.


5.

Keadaan yang mengancam jiwa dan perlu penanganan segera.

Apa yang perlu diketahui tentang obat tanpa resep ?


Kriteria OTR berdasarkan Permenkes No. 919/MENKES/PER/X/1993 pasal 2 adalah sebagai
berikut.
1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada :

Wanita Hamil.

Anak dibawah umur dua tahun.

orang berusia diatas 65 tahun.


2. Swamedikasi dengan obat tidak memberikan risiko pada kelanjutan penyakit.
3. Penggunaannya tidak memerlukan cara dan/atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga
kesehatan.
4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia.
5. Obat yang dimaksudkan memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan
untuk swamedikasi.

Faktor apa saja yang memengaruhi dilakukannya swamedikasi ?

Beberapa faktor yang memengaruhi praktik perawatan sendiri dan swamedikasi adalah sebagai
berikut.
1.

Kondisi Ekonomi. Mahal dan tidak terjangkaunya pelayanan kesehatan oleh rumah sakit,

klinik, dokter, dan dokter gigi merupakan salah satu penyebab masyarakat berusaha mencari
pengobatan yang lebih murah untuk penyakit-penyakit yang relatif ringan dengan beralih ke
swamedikasi.
2.

Berkembangnya kesadaran akan arti penting kesehatan bagi masyarakat karena

meningkatnya sistem informasi, pendidikan, dan kehidupan sosial ekonomi sehingga


meningkatkan pengetahuan untuk melakukan swamedikasi.
3.

Promosi obat bebas dan obat bebas terbatas yang gencar dari pihak produsen baik melalui

media cetak maupun elektronik, bahkan sampai beredar ke pelosok-pelosok desa.


4.

Semakin tersebarnya distribusi obat melalui puskesmas dan warung obat desa yang

berperan dalam peningkatan pengenalan dan penggunaan obat, terutama OTR dalam sistem
swamedikasi.
5.

Kampanye swamedikasi yang rasional di masyarakat mendukung perkembangan farmasi

komunitas.
Semakin banyak obat yang dahulu termasuk obat keras dan harus diresepkan dokter, dalam
perkembangan ilmu kefarmasian yang ditinjau dari khasiat dan keamanan obat diubah menjadi
OTR (OWA, obat bebas terbatas, dan obat bebas) sehngga memperkaya pilihan masyarakat
terhadap obat.
Peran Apoteker

Peran apoteker di dalam sosial masyarakat sangat penting dan seakan tidak bisa dipisahkan. Hal
ini dikarenakan mereka sebagai ujung tombak yang berhadapan langsung dengan konsumen atau
pasien melalui apotek. Untuk itu, menjadi seorang apoteker harus memiliki kapasitas yang
menunjang. Berikut adalah peranan apoteker dalam swamedikasi yang harus diketahui.

Apoteker harus menginisiasi dialog dengan pasien atau dokter pasien tersebut bila
diperlukan, untuk memperoleh riwayat pengobatan pasien sebelumnya. Untuk dapat memberikan
saran mengenai obat bebas yang sesuai, maka apoteker harus memberikan pertanyaan yang
sesuai kepada pasien dan mampu memberikan informasi penting yang dibutuhkan pasien, seperti
cara konsumsi obat atau indeks keamanan obat.

Apoteker harus mempersiapkan diri dan dilengkapi dengan peralatan yang memadai
untuk melakukan skrening terhadap kondisi atau pernyakit tertentu, tanpa melampaui
kewenangan seorang dokter.

Apoteker harus menyediakan informasi yang objektif tentang obat.

Apoteker harus dapat menggunakan dan mengartikan sumber informasi lain untuk
memenuhi kebutuhan pasien atau konsumen.

Apoteker harus dapat membantu pasien melakukan swamedikasi yang tepat dan
bertanggung jawab, memberikan saran kepada pasien untuk konsultasi lebih lanjut ke dokter bila
diperlukan.

Apoteker harus dapat menjamin kerahasiaan informasi tentang keadaan kesehatan pasien.