Anda di halaman 1dari 8

Peranan Pancasila dalam Kehidupan Bangsa Indonesia

Caesar Ryanto
1614150003

Penerapan Pancasila dalam Bidang Hukum


Implementasi Ideologi Pancasila dalam Parpol di Indonesia Partai politik di Indonesia
harus bertujuan sesuai dengan cita-cita dan tujuan nasional yang diamanatkan Pembukaan UUD
1945. Pedoman yang perlu dijadikan pegangan dalam kehidupan partai politik adalah :
Mengaktualisasikan kebersamaan dalam kemajemukan untuk mewujudkan cita-cita dan
tujuan nasional.
Penyampaian aspirasi rakyat dan segenap perilaku partai politik harus menjamin
tegaknya keselarasan dan kerukunan serta budi luhur. Penyampaian aspirasi rakyat melalui partai
politik harus sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Segenap perilaku partai politik selalu bersendi pada keputusan bersama yang mengikat dan
mengandung sanksi terhadap penyimpangan penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang.
Program partai politik harus mengarah pada kokohnya Pancasila sebagai dasar negara,
utuh dan kuatnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang berpemerintahan presidensial dan
bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Contoh Sikap Positif Politik Dalam bidang politik, kita harus mewujudkan perilaku, antara lain:
Menampilkan perilaku politik sesuai Pancasila;
Menghindari sikap dan perilaku yang memaksakan pendapat dan ingin menang sendiri;
Penyelenggara negara dan warga negara mewujudkan nilai ke tuhanan, kemanusiaan,
kebangsaan, serta kerakyatan dan ke adilan dalam kehidupan sehari-hari;
Menghindari sikap menghalang-halangi orang yang akan ber partisipai dalam kehidupan
demokrasi;
Meyakini bahwa nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 sebagai nilai yang terbaik dan sesuai untuk
bangsa Indonesia serta tidak melecehkannya.
Langkah untuk membudayakan nila-nilai pancasila
Perlu segera dikeluarkan peraturan perundang-undangan yang memberikan dasar operasional
pelaksanaan pendidikan Pancasila pada semua jenjang dan jenis pendidikan. Khusus untuk

pendidikan tinggi, sesudah dikeluarkan UU PT No. 12 Tahun 2012 , Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan perlu segera menerbitkan peraturan perundangan yang berisi rambu-rambu
perkuliahan Pancasila. Perlu disusun program aksi melaksanakan revolusi hukum Indonesia.
Pemimpin negara wajib sebagai advokator Pancasila. Untuk memasyarakatkan nilai Pancasila,
peserta kongres setuju membentuk Masyarakat Studi Pancasila.

Implementasi Pancasila dalam bidang politik


Derasnya arus globalisasi yang melanda berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia sehingga
tidak sedikit permasalahan yang telah memasuki cara pandang dan cara berfikir masyarakat
Indonesia, misalnya gelombang demokratisasi, hak asasi manusia, neo-liberalisme, serta neokonservatisme dan globalisme. Hal demikian bisa meminggirkan pancasila dan dapat
menghadirkan sistem nilai dan idealisme baru yang bertentangan dengan kepribadian bangsa.
Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain
berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara.
Hukum adalah seperangkat peraturan tingkah laku yang berisi perintah/ anjuran, larangan, dan
ada sanksi (upaya pemaksa) bagi para pelanggarnya.

Pokok-Pokok Hukum Revolusi


revolusi hukum harus dimulai dengan identifikasi terhadap hukum-hukum yang cacat ideologis
revolusi hukum memihak kepada rakyat dengan menekankan kepada keadilan sosial
revolusi hukum merupakan simponi dekonstruksi dan rekonstruksi yang berjalan dalam
keteraturan dan kedamaian sebagai gerakan nasional
revolusi hukum mempunyai pentahapan.
revolusi hukum harus mempunyai program yang jelas dan tepat
revolusi hukum harus mempunyai soko guru dan pimpinan yang tepat, yang punya pandangan
jauh ke depan, yang konsekuen, yang sanggup melaksanakan tugas-tugas revolusi sampai pada
akhirnya, dan revolusi juga harus punya kader-kadernya yang tepat pengertiannya dan tinggi
semangatnya.
Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum
segala bentuk hukum di Indonesia harus diukur menurut nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila, dan didalam aturan hukum itu harus tercermin kesadaran dan rasa keadilan yang
sesuai dengan kepribadian dan falsafah hidup bangsa

Pancasila Sebagai Etika Politik


Hukum sebagai lembaga penata masyarakat yang normatif, kekuasaan Negara sebagai lembaga
penata masyarakat yang efektif sesuai dengan struktur ganda kemampuan manusia (makhluk
individu dan sosial). Jadi etika politik membahas hukum dan kekuasaan
Etika politik Indonesia tertanam dalam jiwa Pancasila. Pancasila juga sebagai suatu sistem
filsafat pada hakikatnya merupakan suatu nilai sehingga merupakan sumber dari segala
penjabaran dari norma baik norma hukum, norma moral maupun norma kenegaraan lainya

Tujuan dari Etika Politik


menumbuhkan suasana politik yang demokratis yang bercirikan keterbukaan, rasa tanggung
jawab, tanggap akan aspirasi rakyat, menghargai perbedaan, jujur dalam persaingan, ketersediaan
untuk menerima pendapat yang lebih benar walau datang dari orang per orang ataupun kelompok
orang, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Fungsi Etika Politik


Fungsi etika politik dalam masyarakat terbatas pada penyediaan alat-alat teoritis untuk
mempertanyakan serta menjelaskan legitimasi politik secara bertanggung jawab

Penerapan Pancasila dalam Bidang Ekonomi

Dalam konsep kita, pembangunan nasional adalah pengamalan Pancasila. Pembangunan


ekonomi kita pun harus berlandaskan pancasila, sebagai dasar, tujuan dan pedoman dalam
penyelenggaraannya. Dengan dasar pemikiran tersebut, maka system ekonomi yang ingin kita
bangun adalah sistem ekonomi Pancasila.
Sistem ekonomi diartikan sebagai kumpulan dari institusiyang terintegrasi dan berfungsi serta
beroperasi sebagai suatu kesatuanuntuk mencapai suatu tujuan (ekonomi) tertentu. Institusi disini
siartikan sebagai kumpulan dari norma-norma,peraturan atau cara berfikir. Dalam pengertian

institusi ini juga diartikan juga termasuk institusi ekonomi seperti rumah tangga, pemerintah,
kekayaan, uang, serikat pekerja dan lain-lain.
Sedangkan yang dimaksud dengan sisitem ekonomi Pancasila adalah system ekonomi pasar yang
terkeloladan kendali pengelolaannya adalah nilai-nilai Pancasila. Atas dasar itu , maka ekonomi
Pancasila tidak semata-mata bersifat materialistis, karena berlandaskan pada keimanan dan
ketaqwaan yang timbul dari pengakuan kita pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan demikian
system ekonomi Pancasila dikendalikan oleh kaidah-kaidah moral dan etika, sehingga
pembangunan nasional bangsa Indosesia adalah pembangunan yang berakhlak.
Jika dilihat dari sila Pancasila, sila tiga dan empat maka dapat diketahui bahwa :
Sila persatuan Indonesia mengamanatkan kesatuan ekonomi sebagai penjabaran wawasan
nusantaradi bidang ekonomi. Ekonomi Pancasila dengan demikian berwawasan kebangsaan dan
tetap membutuhkan sikap patriotic meskipun kegiatannya sudah mengglobal.
Sila keempat pada Pancasila menunjukkan pandangan bangsa Indonesia mengenai kedaulatan
rakyat dan bagaimana demokrasi dijalankan di Indonesia.
Sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, menunjukkan betapa seluruh upaya
pembangunan dan hasil-hasilnya menuju kepada terciptanya kemakmuran yang berkeadilan bagi
seluruh rakyat Indonesia dalam sistem ekonomi yang disusun sebagai usaha bersama
berdasarkan pada asas kekeluargaan.
Menurut ISEI, di dalam sistem ekonomi yang berlandaskan Demokrasi Ekonomi, usaha negara,
koperasi, dan usaha swasta dapat bergerak di dalam semua bidang usaha sesuai dengan peranan
dan hakikatnya masing-masing. Dalam konsep itu usaha berperan sebagai :
1.

Perintis di dalam penyediaan barang dan jasa di bidang-bidang produksi yang belum cukup
atau kurang merangsang prakarsa dan minat penguasa swasta;

2.

Pengelola dan pengusaha di bidang-bidang produksi yang penting bagi negara;

3.

Pengelola dan pengusaha di bidang-bidang produksi yang mnguasai hajat hidup orang banyak;

4.

Imbangan bagi kekuatan pasar pengusaha swasta;

5.

Pelengkap penyediaan barang dan jasa yang belum cukup disediakan oleh swasta dan koperasi.

6.

Penunjang palaksanaan kebijakan negara.


Namun, yang menjadi tantangan kita sekarang adalah bagaimana membangun usaha swasta agar
dapat memotori ekonomi kita dalam memasuki era perdagangan bebas.
Pilar Sistem Ekonomi Pancasila meliputi:
(1) ekonomika etik dan ekonomika humanistik (dasar),
(2) nasionalisme ekonomi & demokrasi ekonomi (cara/metode operasionalisasi), dan (3)
ekonomi berkeadilan sosial (tujuan).
Kontekstualisasi dan implementasi Pancasila dalam bidang ekonomi cukup dikaitkan dengan
pilar-pilar di atas dan juga dikaitkan dengan pertanyaan-pertanyaan dasar yang harus dipecahkan
oleh sistem ekonomi apapun. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah:
(a) Barang dan jasa apa yang akan dihasilkan dan berapa jumlahnya;
(b) Bagaimana pola atau cara memproduksi barang dan jasa itu, dan;
(c) Untuk siapa barang tersebut dihasilkan, dan
(d) Bagaimana mendistribusikan barang tersebut ke masyarakat.
Rendahnya upaya dan kemamuan untuk menafsirkan Pancasila dalam bidang ekonomi yang
lebih banyak berkiblat ke kapitalisme; Tidak ada keteladanan; Kebijakan pemerintah sendiri
menyimpangi Pancasila; Social punishment & law enforcement yang rendah.
Langkah yang perlu dilakukan adalah perlu digalakkan kembali penanaman nilai-nilai Pancasila
melalui proses pendidikan dan keteladanan. Perlu dimunculkan gerakan penyadaran agar ilmu
ekonomi ini dikembangkan ke arah ekonomi yg humanistik, bukan sebaliknya mengajarkan
keserakahan & mendorong persaingan yang saling mematikan utk memuaskan kepentingan
sendiri . Ini dilakukan guna mengimbangi ajaran yg mengedepankan kepentingan pribadi, yang

melahirkan manusia sebagai manusia ekonomi (homo ekonomikus), telah melepaskan manusia
dari fitrahnya sebagai makhluk sosial (homo socius) dan mahluk beretika (homo ethicus).

Peranan Pancasila dalam Agama


Konsep negara yang menjamin setiap pemeluk agama untuk menjalankan agamanya secara utuh,
penuh dan sempurna. Negara Pancasila bukanlah negara agama, bukan pula negara sekuler
apalagi negara atheis. Sebuah negara yang tidak tunduk pada salah satu agama, tidak pula
memperkenankan pemisahan negara dari agama, apalagi sampai mengakui tidak tunduk pada
agama manapun. Negara Pancasila mendorong dan memfasilitasi semua penduduk untuk tunduk
pada agamanya. Penerapan hukum-hukum agama secara utuh dalam negara Pancasila adalah
dimungkinkan. Semangat pluralisme dan ketuhanan yang dikandung Pancasila telah siap
mengadopsi kemungkinan itu. Tak perlu ada ketakutan ataupun kecemburuan apapun, karena
hukum-hukum agama hanya berlaku pada pemeluknya. Penerapan konsep negara agama-agama
akan menghapus superioritas satu agama atas agama lainnya. Tak ada lagi asumsi mayoritas
minoritas. Bahkan pemeluk agama dapat hidup berdampingan secara damai dan sederajat.
Adopsi hukum-hukum agama dalam negara Pancasila akan menjamin kelestarian dasar negara
Pancasila, prinsip Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.

Penerapan Pancasila dari Segi HAM

Sebagai Dasar Negara Pancasila sangat menghargai Hak Asasi Manusia (HAM). Hak-hak asasi
manusia dalam Pancasila dirumuskan dalam pembukaan UUD 1945 dan terperinci di dalam
batang tubuh UUD 1945 yang merupakan hukum dasar konstitusional dan fundamental tentang
dasar filsafat negara Republik Indonesia. Perumusan ayat ke 1 pembukaan UUD tentang hak
kemerdekaan yang dimiliki oleh segala bangsa didunia. Oleh sebab itu penjajahan di atas dunia
harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
HAM juga terdapat di dalam Pembukaan konstitusi kita yang pernah berlaku. Namun,
pelaksanaan HAM tetap berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Misalkan bagaimana kedudukan
individu dalam sistem demokrasi? Demokrasi kita tetap berlandaskan kolektivisme, bukan
pertentangan individu dan social orde seperti demokrasi liberal dan hak-hak lain berlandaskan

kondisi masyarakat asli Indonesia. Hubungan antara Hak asasi manusia dengan Pancasila dapat
dijabarkan sebagai berikut:
1. Sila Ketuhanan yang maha Esa menjamin hak kemerdekaan untuk memeluk agama ,
melaksanakan ibadah dan menghormati perbedaan agama. Sila tersebut mengamanatkan bahwa
setiap warga negara bebas untuk memeluk agama dan kepercayaannya masing masing. Hal ini
selaras dengan Deklarasi Universal tentang HAM pasal 2 dimana terdapat perlindungan HAM
(Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum di dalam
Deklarasi ini dengan tidak ada pengecualian apa pun, seperti pembedaan ras, warna kulit, jenis
kelamin, bahasa, agama, politik atau pandangan lain, asal-usul kebangsaan atau kemasyarakatan,
hak milik, kelahiran ataupun kedudukan lain. Selanjutnya, tidak akan diadakan pembedaan atas
dasar kedudukan politik, hukum atau kedudukan internasional dari negara atau daerah dari mana
seseorang berasal, baik dari negara yang merdeka, yang berbentuk wilayah-wilayah perwalian,
jajahan atau yang berada di bawah batasan kedaulatan yang lain).
2. Sila kemanusiaan yang adil dan beradab menempatkan hak setiap warga negara pada
kedudukan yang sama dalam hukum serta serta memiliki kewajiban dan hak-hak yang sama
untuk mendapat jaminan dan perlindungan undang-undang. Sila Kedua, mengamanatkan adanya
persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia
sebagaimana tercantum dalam Deklarasi HAM PBB yang melarang adanya diskriminasi. Pasal 7
(Semua orang sama di depan hukum dan berhak atas perlindungan hukum yang sama tanpa
diskriminasi. Semua berhak atas perlindungan yang sama terhadap setiap bentuk diskriminasi
yang bertentangan dengan Deklarasi ini, dan terhadap segala hasutan yang mengarah pada
diskriminasi semacam ini).
3. Sila Persatuan Indonesia mengamanatkan adanya unsur pemersatu diantara warga Negara
dengan semangat rela berkorban dan menempatkan kepentingan bangsa dan Negara diatas
kepentingan pribadi atau golongan, hal ini sesuai dengan prinsip HAM dimana hendaknya
sesama manusia bergaul satu sama lainnya dalam semangat persaudaraan. Sila ini
mengamanatkan adanya unsur pemersatu diantara warga Negara dengan semangat rela berkorban
dan menempatkan kepentingan bangsa dan Negara diatas kepentingan pribadi atau golongan, hal
ini sesuai dengan Prinsip HAM dimana hendaknya sesama manusia bergaul satu sama lainnya
dalam semangat persaudaraan. Pasal 1 (Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai
martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul
satu sama lain dalam persaudaraan).

4. Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /


perwakilan dicerminkan dalam kehidupan pemerintahan, bernegara, dan bermasyarakat yang
demokratis. Menghargai hak setiap warga negara untuk bermusyawarah mufakat yang dilakukan
tanpa adanya tekanan, paksaan, ataupun intervensi yang membelenggu hak-hak partisipasi
masyarakat. Inti dari sila ini adalah musyawarah dan mufakat dalam setiap penyelesaian masalah
dan pengambilan keputusan sehingga setiap orang tidak dibenarkan untuk mengambil tindakan
sendiri, atas inisiatif sendiri yang dapat mengganggu kebebasan orang lain. Hal ini sesuai pula
dengan Deklarasi HAM.
5. Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia mengakui hak milik perorangan dan
dilindungi pemanfaatannya oleh negara serta memberi kesempatan sebesar-besarnya pada
masyarakat. Asas keadilan dalam HAM tercermin dalam sila ini, dimana keadilan disini
ditujukan bagi kepentingan umum tidak ada pembedaan atau diskriminasi antar individu.

Perbedaan Demonstarasi dan Aksi


Demo : Adalah sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum.
Aksi : Adalah sikap atau kekuatan sebagai perwujudan gejolak emosi. Belajar, bekerja,
berfikir, berkomentar, diskusi itu semua adalah Aksi. Intinya aksi itu bergerak dengan berfikir
mencari letak permasalahan dengan langkah konkret dan solusi.