Anda di halaman 1dari 14

GeostrategiIndonesiameliputikonsepASTAGATRAdan

PerdamaianDunia
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di atara benua asia dan benua
Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat
majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit,
agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam
masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang
lain.
Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan
masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi
masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang
datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Strategi
tersebut dala masyarakat Indonesia dikenal dengan istilah geostrategi.
Geostrategi diartikan sebagai geopolitik untuk kepentingan militer atau perang. Di Indonesia
geostrategi diartikan sebagai metode untuk mewujudkan cita-cita proklamasi, sebagaimana tercantum
dalam Mukadimah UUD 1945, melalui proses pembangunan nasional. Karena tujuan itulah maka ia
menjadi doktrin pembangunan dan diberi nama Ketahanan Nasional.
Mengingat geostrategi Indonesia memberikan arahan tentang bagaimana membuat strategi
pembangunan guna mewujudkan masa depan yang lebih baik, lebih aman, dan sebagainya.
Geostrategi Indonesia ditegaskan wujudnya dalam bentuk rumusan ketahanan nasional sebagai
kondisi, metode, dan doktrin dalam pemmbangunan nasional
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah yang dimunculkan oleh pemater ialah
sebagai berikut :
1.
Apa yang dimaksud dengan geostrategi ?
2.

Seperti apa bentuk strategi yang ada di Indonesia ?

3.

Bagaimana strategi Indonesia dalam usaha mencapai perdamaian dunia ?

1.3 Tujuan

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas maka tujuan yang ingin
dicapai oleh penulis ialah sebagai berikut :
1.
2.
3.

Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan geostrategi


Untuk mengetahui bentuk strategi yang ada di Indonesia
Untuk mengetahui strategi Indonesia dalam usaha mencapai perdamaian dunia
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Geostrategi

Istilah "strategi" ditempa dari kata-kata Yunani, yaitu stratgos dan stratos(tentara)
serta agein (menjalankan). Walaupun strategi sendiri lahir dari kancah peperangan, tatapi pada masa
sekarang strategi bukan hanya kiat atau cara berperang malainkan setiap kegiatan yang berkisar
pada suatu tujuan dan cara/jalan pencapaiannya atau, lebih sederhana lagi, setiap usaha yang
membidik sebuah sasaran.
Strategi biasanya menjangkau masa depan, sehingga pada umumnya strategi disusun
secara bertahap dengan memperhitungkan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian
geostrategi adalah perumusan strategi nasional dengan memperhitungkan kondisi dan konstelasi
geografi sebagai faktor utamanya. Disamping itu dalam merumuskan strategi perlu pula
memperhatikan kondisi sosial, budaya, penduduk, sumber daya alam, lingkungan regional maupun
Internasional.
Strategi juga dapat diartikan suatu upaya memanfaatkan kondisi geografi Negara dalam
menentukan kebijakan, tujuan, sarana untuk mencapai tujuan nasional (pemanfaatan kondisi
lingkungan dalam mewujudkan tujuan politik). Geostrategi Indonesia diartikan pula sebagai metode
untuk mewujudkan cita-cita proklamasi sebagaimana yang diamanatkan dalam pembukaan dan UUD
1945.
Strategi merupakan keseluruhan operasi intelektual dan fisik yang disusun untuk
menanggapi, menyiapkan, dan mengendalikan setiap kegiatan kolektif di tengah-tengah konflik.
Mengingat konflik yang diprakirakan terjadi itu melibatkan aneka macam kekuatan, strategi cepat
terkait dengan politik, yang secara esensial berurusan dengan kekuatan dalam kiatnya
mengendalikan pemerintahan masyarakat manusia, merespons aspirasi fundamental dari suatu
kolektivitas, yaitu sekuriti dan kemakmuran. Berhubung konflik yang diprakirakan terjadi di muka
bumi, lalu strategi dibuat "membumi", menjadi "geostrategi".
Geostrategi merupakan strategi dalam memanfaatkan kondisi geografi negara untuk
menentukan tujuan, kebijakan. Geostrategi merupakan pemanfaatan lingkungan untuk mencapai
tujuan politik. Geostrategi juga merupakan metode mewujudkan cita-cita proklamasi.
Geostrategi merupakan upaya untuk mencapai tujuan atau sasaran ditetapkan sesuai dengan
keinginan politik. Karena strategi sendiri merupakan upaya pelaksanaan, maka strategi pada
hakekatnya merupakan suatu seni yang implementasinya didasari oleh intuisi, perasaan dan hasil
pengalaman. Strategi juga merupakan ilmu yang langkah-langkahnya selalu berkaitan dengan data
dan fakta yang ada. Seni dan ilmu digunakan sekaligus untuk membina atau mengelola sumber daya
yang dimiliki dalam suatu rencana dan tindakan (Drs. H. Endang Saelani Sukarya dkk, 2002:41-42).
Geostrategi untuk negara dan bangsa Indonesia adalah kenyataan posisi silang Indonesia
dari berbagai aspek antara lain : aspek geografi, aspek demografi, ideologi, politik, ekonomi, sosial
budaya dan hankam.
Geostrategi Indonesia berawal dari kesadaran bahwa bangsa dan negara ini mengandung
sekian banyak anasir-anasir pemecah belah yang setiap saat dapat meledak dan mencabik-cabik
persatuan dan kesatuan bangsa. Hal itu tampak jelas pada tahun 1998 dimana timur-timur lepas dari
Negara kesatuan Rebublik Indonesia. Tidak hanya itu saja, tatkala bangsa kita lemah karena sedang
berada dalam suasana tercabik-cabik maka serentak pulalah harga diri dan kehormatan dengan
mudah menjadi bahan tertawaan di forum internasional. Disitulah ketidakberdayaan kita menjadi
tontonan masyarakat internasional, yang sekaligus, apabila kita sekalian sadar, seharusnya menjadi
pelajaran berharga.
Apabila dikehendaki agar hal itu tidak akan terulang lagi, maka jangan sekali-kali memberi
peluang pada anasir-anasir pemecah belah untuk berkesempatan mencabik-cabik persatuan dan
kesatuan nasional. Sentimen SARA yang membabi buta harus ditiadakan, yang mayoritas harus
berlapang dada sedangkan minoritas haruslah bersikap proporsional tanpa harus mengurut dada.

Sekali lagi terbukti bahwa pemimpin yang kuat dan diseganiserta mengenal betul watak dari
bangsa Indonesia amatlah diperlukan. Dilain pihak masyarakat perlu menjadi arif serta pandai
menahan diri dalam menghadapi provokasi maupun rongrongan/iming-iming melalu money politics.
Atas dasar adanya ancaman yang laten, terutama dalam bentuk SARA, maka
geostrategi Indonesia sebagai
doktrin
pembangunan
mengandung
metode pembentukan
keuletan dan pembentukan ketangguhan bangsa dan negara. Kedua kualita yang harus dibangun
dan dimanfaatkan secara konsisten itu tidaklah hanya ditujukan kepada individu warga bangsa akan
tetapi juga kepada sistem, lembaga dan lingkungan.
Masyarakat bangsa berikut segala prasarananya harus terus dibina keuletannya agar mampu
memperlihatkan stamina dalam penangkalan terhadap anasir-anasir pemecah belah bangsa dan
negara. Dapat diantisipasikan bahwa hanya anasir-anasir tersebut bersifat laten atau hadir
sepanjang masa, maka aspek atau kualita keuletan haruslah dikedepankan. Pembinaannyapun perlu
berlanjut agar setiap generasi yang muncul faham akan pentingnya kedua kualita tersebut. Kita
dapat saksikan bersama bahwa tiap generasi baru merupakan lahan yang subur bagi upaya-upaya
yang tidak sejalan dengan visi kebangsaan, dan ini tidak hanya terjadi di Indoensia saja. Kemajuan
yang bersifat kebendaan, apalagi yang datang dari luar, saat ini lebih memiliki daya tarik terhadap
generasi muda dibandingkan dengan hal-hal yang sifatnya falsafah dan konsepsional.
Dilain pihak masyarakat harus dibina ketangguhan/kekuatannya agar secara aktif serta efektif
mampu menghadapi bahaya/ancaman yang sifatnya laten tadi. Setidak-tidaknya secara bergotongroyong dalam lingkungannya masing-masing mampu mengcontain ancaman/bahaya laten itu.
Ketangguhan/kekuatan bisa, antara lain, berupa keberanian dari massa masyarakat menghadapi apa
saja yang mereka anggap dapat berpotensi sebagai anasir pemecah belah bangsa. Ini sudah barang
tentu memerlukan kebersamaan dan kekompakan agar lebih efektif sebagai kekuatan penangkalan.
Integrasi bangsa adalah pemaduan berbagai unsur kekuatan bangsa ke dalam satu jiwa
kebangsaan dengan aspirasi berbangsa dan bernegara yang sejalan dengan ketentuan konstitusi.
Proses integrasi bangsa adalah unik bagi tiap masyarakat bangsa yang sangat tergantung pada
sejarah serta ciri budayanya. Bagi masyarakat bangsa yang majemuk tetapi homogen, seperti
Amerika, proses integrasi dilaksanakan dengan metode melting pot. Karena pada masyarakat
Amerika tidak ada satupun kelompok masyarakat yang berhak mengklaim satu wilayahpun sebagai
tempat tinggal nenek moyang mereka, terkecuali suku Indian, karena hampir semuanya berasal dari
keturunan imigran. Tidaklah mengherankan apabila sebagai akibat tidak adanya ikatan historis
maupun psikologis kepada wilayah maka sentimen kedaerahan atau kewilayahan tidak terjadi. Hal
yang menguntungkan ini membuat setiap warga negara Amerika, apapun juga asal keturunannya
dapat ditempa menjadi satu dalam satu kancah apapun dan dimanapun. Memang seorang Gubernur
satu negara bagian harus dipilih diantara warga negara bagian itu akan tetap tidak harus dipilih
diantara mereka yang dilahirkan dinegara bagian yang bersangkutan. Disini sama sekali telah ada
sentimen kedaerahan tersangkut.
Lain halnya dengan Indonesia yang masyarakatnya majemuk tetapi heterogen, metode
melting pot tidak dapat dilakukan. Tiap suku memiliki kaitan historis dan psikologis dengan daerah
tempat tinggal nenek moyangnya. Daerah pulau Bali seakan-akan menjadi milik orang Bali dan
bukan milik warga pulau Bali karena itu hanya orang Bali saja yang dapat dicalonkan menjadi
Gubernur Bali. Logika lanjutannya dalah bahwa hanya orang Balisaja yang bisa dan mampu
memahami budaya, adat istiadat maupun agama di daerah itu. Metode melting pot kadang-kadang
juga tidak dapat diterapkan hanya pada tataran anatar propinsi saja, akan tetapi kadang-kadang
antara Kabupaten di dalam satu propinsi juga sukar. Oleh karena itu perlu adanya strategi untuk
menjaga kesatuan wilayan NegaraIndonesia.

Pada perkembangannya geostrategi indonesia bagi menjadi empat periode yaitu yang
pertama tahun 1962-an geopolitik indonesia disebut SESKOAD. Hal ini ditujukan terhadap adanya
kekhawatiran mengenai komunis, yang kedua Tahun 1965 (Tanas) menyatakan bahwa geostrategi
Indonesia harus berupa sebuah konsep strategi untuk mengembangkan keuletan dan daya tahan,
pengembangan kekuatan nsional untuk menghadapi dan menangkal ancaman, tantangan, hambatan
dan gangguan baik bersifat internal maupun eksternal. Yang ketiga Tahun 1972 juga dikenal dengan
istilah Tanas tetapi dengan pendekatan keamanan dan kesejahteraan guna menjaga identitas
kelangsungan serta integritas nasional sehingga dan tujuan nasional dapat tercapai. Yang ke empat
Tahun 1978 disebutkan bahwa geostrategi Indonesia ditegaskan wujudnya dalam bentuk rumusan
ketahanan nasional sebagai kondisi, metode, dan doktrin dalam pemmbangunan nasional.
2.2 Katahanan Nasional sebagai Wujud dari Geostrategi Indonesia
Ketahanan nasional adalah kondisi bangsa Indonesia yang meliputi segenap kehidupan
rasional yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan
mengembangkan kekuatan nasional, dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman,
hambatan, dan hambatan baik yang datang dari dalam maupun dari luar untuk menjamin identitas,
integritas, dan kelangsungan hidup bangsa dan Negara serta perjuangan mencapai tujuan nasional.
Kondisi atau keadaan selalu berkembang serta bahaya dan tantangan-tantangan selalu
berubah, maka ketahanan nasional juga harus dikembangkan dan dibina agar memandai dengan
perkembangan tersebut. Melihat hal itu ketahanan nasional Indonesiaharuslah dinamis bukan statis.
Sunarso dan Kus Edi Sartono (dalam Drs. H. Endang Saelani Sukarya dkk, 2002:68-69)
mengatakan bahwa unsur-unsur ketahanan nasional meliputi hal-hal sebagai berikut :
a.
Ketangguhan
Ketangguhan merupakan sebuah kekuatan yang membuat seseorang dapat bertahan, kuat
menderita, atau dapat menanggulangi beban yang dipikulnya.
b.
Keuletan
Merupakan usaha secara giat dengan kemampuan yang keras dalam menggunakan kemampuan
tersebut di atas uneuk mencapai tujuan.
c.
Identitas
Yaitu ciri khas suatu bangsa atau Negara dilihat secara keseluruhan (holistik). Negara dilihat dalam
pengertian sebagai suatu organisasi masyarakat yang dibatasi oleh wilayah, dengan penduduk,
sejarah, pemerintahan dan tujuan nasional serta dengan peran internasional.
d.
Integritas
Merupakan kesatuan menyeluruh dalam kehidupan nasional suatu bangsa baik unsure sosial
maupun alamiah, baik yang bersifat potensial maupun fungsional.
e.
Ancaman
Usaha yang bersifat merubah atau merombak kebijaksanaan dan usaha ini dilakukan secara
konseptual, criminal dan politis.
f.
Tantangan
Yaitu hal atau usaha yang bersifat menggugah kemampuan. Biasanya ini terjadi karena sesuatu
kondisi yang memaksa sehingga menyebabkan seseorang atau kelompok orang merasa harus
berbuat sesuatu untuk menghadapi keadaan yang disebabkannya.
g.
Hambatan
Adalah hal atau usaha dari diri sendiri yang bersifat dan bertujuan melemahkan atau menghalangi
secara tidak konsepsional.
h.
Gangguan

Adalah hal atau usaha yang berasal dari luar, bersifat dan bertujuan melemahkan dan atau
menghalangi secara tidak konsepsional.
Seperti yang telah disebutkan bahwa ketahanan nasional merupakan kondisi dinamis yang
harus diwujudkan oleh suatu Negara dan harus dibina secara dini terus menerus dan sinergi dengan
aspek-aspek kehidupan bangsa lain. Pemikiran konseptual tentang ketahanan nasional inididasarkan
atas konsep geostrategi yang merupakan konsep yang dirancang dan dirumuskan dengan
memperhatikan kondisi bangsa dan kondisi stelasi geografi Indonesia yang disebut dengan konsep
ketahanan nasional.
Konsepsi ketahanan nasional merupakan suatu konsepsi di dalam pengaturan dan
penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan yang mencangkup segenap kehidupan bangsa yang
dinamakan ASTAGATRA yang meliputi aspek Alamiah (TRIGATRA), dan aspek Sosial
(PANCAGATRA).
Yang dimaksud dengan aspek alamiah (trigatra) yaitu :
a. posisi dan lokasi geografi negara
posisi dan lokasi Negara kesatuan republik Indonesia memberikan gambaran tentang bentuk
kedalam (menampakkan corak wujud dan tata susunan tertentu), dan bentuk keluar (situasi dan
kondisi lingkungan serta hubungan timbale balik antara Negara dan lingkungan) dari Negara kita.
Posisi dan lokasi ini merupakan wadah bagi bangsa yang mendiaminya serta saling mempengaruhi
satu sama lain, dan dengan batas nasional tertentu membedakan Negara Indonesia dengan bangsa
lain.
Negara Indonesia merupakan Negara kepulauan yang dikelilingi oleh lautan. Posisi dan
lokasi Negara Indonesia berada dalam posisi silang di jalan silang dunia yaitu antara benua asia dan
benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Kondisi yang demikian tidak hanya
bersifat fisik tetapi juga terbuka terhadap segala pengaruh dan aliran sosial.
b. keadaan dan kekayaan alam
sebagai makhluk tuhan, untuk hidup berkembang biak dan mempertahankan diri, mereka
memanfaatkan alam dan kekayaan yang terkandung di dalamnya. Tentu dalam pemanfaatan itu
harus seimbang dan seirama dengan perkembangan penduduk.
Kekayaan alam terbagai menjadi tiga golongan yaitu hewani (fauna), nabati (flora) dan
mineral (ada yang dapat diperbaharui dan ada yang tidak dapat diperbaharui). Kekayaan alam di atas
terbagi menjadi tiga lingkungan yaitu di atmosfir, di permukaan bumi dan di dalam bumi. Setiap
bangsa wajib mengelola sumber daya alam untuk kepentingan kesejahteraan maupun keamanan. Hal
tersebut menjadi penting untuk menjaga agar tidak terjadi ketimpangan antara perkembangan potensi
alam dengan jumlah penduduk, baik secara nasional maupun di dalam konteks dunia (global). Karena
hal tersebut dapat membahayakan ketahanan nasional.
c. keadaan dan kemampuan penduduk
penduduka merupakan manusia yang tinggal di suatu tempat atau wilayah. Yang termasuk di
dalam masalah penduduk antara lain : jumlah penduduk, komposisi penduduk, dan distribusi
penduduk. Masalah penduduk ini pada umumnya dikaitkan dengan pencapaian tingkat kemakmuran
(kesejahteraan dan keamanannya). Ada factor positif dan negative dari keadaan dan kemampuan
penduduk yang langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi ketahanan nasional.
sedang aspek sosial (pancagatra) meliputi :
a. Ideologi
Suatu bangsa memerlukan landasan falsafah bagi kelangsungan hidupnya yang sekaligus
berfungsi sebgai dasar dan cita-cita nasional yang hendak dicapai. BangsaIndonesia memiliki
falsafah Negara yang kita kenal dengan pancasila yang lahir dari nilai-nilai yang tumbuh dan
berkembang dalam masyarakat Indonesia. Makin tinggi kesadaran dan ketaatan suatu bangsa

mengamalkan ideology negaranya, maka semakin tinggi pula tingkat ketahanan nasional dibidang
ideologinya.
b. Politik
Masalah politik yang kita maksudkan di sini dalam konteksnya dengan Negara. Pusat
kekuasaan suatu Negara berada pada pemerintahannya, maka perjuangan memperoleh kekuatan
berubah menjadi perjuangan mengurusi pemerintah.
Jika dianaligikan dengan ketahanan nasional, maka ketahanan nasional dibidang politik
berarti suatu kondisi dinamik suatu bangsa, yang berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung
kemampuan mengembangkan kekuatan nasional di dalam menghadapi dan mengatasi segala
tantangan, ancaman, hambatan, serta gangguan baik yang datang dari luar maupun dari dalam yang
langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan hidup politik bangsa dan Negara.
Bagi Negara berkembang seperti Indonesia, maka bidang politikmasih banyak masalah yang
harus dihadapi. Kesadaran nasional yang masih perlu ditingkatkan, kwalitas pertisipasi rakyat yang
masih belum bersifat nasional, serta dibutuhkan inisiatif pemerintah yang memadai, agar terjadi
keseimbangan dan keserasian. Maka tingkat ketahanan politik dapat diukur dengan kemampuan
suatu sistem politik dalam menghadapi dan menanggulangi problemnya.
c. Ekonomi
Pengertian ekonomi adalah segala kegiatan pemerintah dan masyarakat yang berhubungan
dengan pengelolaan factor praduksi. Ketahanan nasional dibidang ekonomi merupaka suatu kondisi
dinamik suatu bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan
mengembangkan kekuatan nasional didalam menghadapi segala tantangan, ancaman, hambatan
dan gangguan yang membahayakan kehidupan ekonomi bangsa dan Negara.
Oleh karena itu untuk ketahanan nasional dibidang ekonomi ini diperlukan pembinaan
ekonomi yang pada dasarnya adalah menentukan kebijaksanaan ekonomi dan pembinaan factor
produksi serta pengolahannya di dalam produksi dan distribusi serta pengelolaanya di dalam
distribusi barang dan jasa, baik di dalam negeri maupun didalam hubungannya dengan luar negeri.
d. Sosial budaya
Factor yang mempengaruhi ketahanan nasioanl dibidang sosial budaya adalah tradisi. Tradisi
bangsa adalah seluruh kepercayaan, anggapan dan tingkah laku yang terlembagakan yang
diwariskan dan diteruskan dari generasi kegenerasi serta memberikan suatu bengsa sistem nilai dan
sistem norma untuk menjawab tantangan setiap tahap perkembangan sosial. Tradisi berisfat dinamis
dapat membantu ketahanan nasional, tetapi tradisionalisme yang sikap atau pandangan memuji
secara berlebihan masa kehendaknya dapat kita tinggalkan.
e. Militer HANKAM
Pertahanan kemanan adalah daya upaya rakyat dengan angkatan bersenjata sebagai inti dan
merupakan salah satu fungsi utama pemerintah Negara dalam menegakkan ketahanan nasional
dengan tujuan mencapai keamanan bangsa dan Negara, serta kemampuan perjuangannya
dilaksanakan dengan menyusun, mengerahkan dan menggerakkan seluruh potensi dan kekuatan
masyarakat dalam seluruh bidang kehidupan nasional secara terintegrasi dan terkoordinasi.
Ketahanan nasioanal dibidang HANKAM merupakan suatu kondisi dinamis suatu bangsa
yang berisi kemampuan mengembangkan kekuatan nasional di dalam menghadapi dan mengatasi
segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang membahayakan pertahanan dan
keamanan bangsa dan Negara.
2.3 Upaya Indonesia dalam Mencapai Perdamaian Dunia.
Sejak dulu Indonesia selalu aktif dalam upaya mencapai suatu perdamaian dunia,
geostrategi Indonesia dalam mewujudkan perdamaian dunia terbentuk dalam system poltik luar

a.
1)
2)

3)
b.
1)
2)
3)

negeri yang diterapkan di Indonesia. Dasar hukum pelaksanaan politik luar negeri
Republik Indonesia tergambarkan secara jelas di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945
alinea I dan alinea IV. Alinea I menyatakan bahwa kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan oleh
sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri
kemanusiaan dan peri keadilan. Pada alinea IV dinyatakan bahwa dan ikut melaksanakan ketertiban
dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social.
Dari dua kutipan di atas, jelaslah bahwa politik luar negeri RI mempunyai landasan atau
dasar hukum yang sangat kuat, karena diatur di dalam Pembukaan UUD 1945. Selain dalam
pembukaan terdapat juga dalam beberapa pasal contohnya pasal 11 ayat 1, 2,3 dan pasal 13 ayat
1,2,3.
Pasal 11 UUD 1945
Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan perang, membuat perdamaian
dan perjanjian dengan negara lain.
Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan
mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara, dan/atau
mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang harus dengan persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat.
Ketentuan lebih lanjut tentang perjanjian internasional diatur dengan undang-undang.
Pasal 13 UUD 1945
Presiden mengangkat duta dan konsul.
Dalam mengangkat duta, Presiden memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat.
Presiden menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan pertimbangan Dewan
Perwakilan Rakyat.
Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa rumusan yang ada pada alinea I dan alinea IV
Pembukaan UUD 1945 merupakan dasar hukum yang sangat kuat bagi politik luar negeri
Republik Indonesia. Dari rumusan tersebut, kita belum mendapatkan gambaran mengenai makna
politik luar negeri yang bebas aktif. Karena itu dalam uraian ini akan dikutip beberapa pendapat
mengenai pengertian bebas dan aktif. Menurut A.W Wijaya Bebas artinya tidak terikat oleh suatu
ideologi atau oleh suatu politik negara asing atau oleh blok negara-negara tertentu, atau negaranegara adikuasa (super power). Aktif artinya dengan sumbangan realistis giat mengembangkan
kebebasan persahabatan dan kerjasama internasional dengan menghormati kedaulatan negara lain.
Dalam konteks pada masa sekarang pengertian bebas aktif seperti yang dijelaskan di atas
sudah tidak relevan lagi mengingat pada masa sekarang sudah tidak ada lagi blok barat maupun blok
timur. Namun system politik luar negeri tetap menganut system politik luar negeri bebas aktif artinya
apa bahwa Indonesia selalu mau bekerja sama dengan Negara manapun serta Indonesia tetap aktif
dalam usaha mewujudkan perdamaian dunia.
Berbagai usaha dilakukan oleh Indonesia dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia
antara lain : Indonesia sebagai anggota OIC (Organization Islamic Conference) menjadi pendorong
bagi perdamaian di Timur Tengah khususnya mendukung Palestina sebagai negara merdeka dari
pendudukan zionisme Israel. Indonesia juga menjadi tuan rumah dan pemrakarsa Konferensi
Internasional Ulama sedunia pada bulan April 2007 di Bogor.
Disini para ulama sedunia menyuarakan penghentian kekerasan di Irak, Lebanondan
Palestina. Pertemuan itu mengeluarkan pernyataan agar Amerika Serikat tidak menjadi pemecahbelah umat Islam di Timur Tengah yang ditenggarai para ulama sebagai alasan tidak terselesaikannya
perdamaian di dunia Arab. Indonesia juga mempromosikan Islam yang moderat, toleran, solidaritas,
serta meningkatan dialog lintas budaya dan peradaban, karena pada saat ini masyarakat
internasional salah persepsi bahwa penyerangan yang dilakukan oleh segelintir orang muslim

terhadap kepentingan barat dalam bentuk teror dipahami sebagai benturan antar peradaban, tapi
melainkan terjadi karena ketidakadilan dan ketimpangan sosial di dunia.
Peran Indonesia dalam hal HAM yaitu, telah meratifikasi Konvenan Internasional tentang
Hak ekonomi sosial dan budaya dan Konvenan internasional tentang hak Sipil dan politik. Kemudian,
kepercayaan Internasional kepada Indonesia menjadikan Indonesia sebagai ketua Komisi HAM tahun
2006 dan terpilih kembali menjadi Dewan HAM dalam periode satu tahun 2006-2007. tetapi sangat
disayangkan karena Indonesia sendiri belum menegakkan HAM secara tegas. Hal itu terkait dengan
belum terungkapnya kasus-kasus seperti, Tragedi Tanjung Priok, Talangsari, kerusuhan Mei 1998,
tragedi Semanggi dan kematian aktivis HAM (Munir).
Di badan PBB Indonesia terpilih bersama Qatar dari kawasan Asia menjadi DK tidak tetap di
PBB, namun Indonesia tidak menunjukkan Independensinya dengan ikut menyetujui sanksi terhadap
Iran yang dituduh Amerika Serikat (AS) mengoperasikan reaktor nuklir untuk membuat senjata nuklir
yang dirasa AS akan mengancam keamanan negerinya. Saya berpendapat Indonesia melakukan itu
karena mendapat tekanan dari AS dimana kepentingan nasional Indonesia banyak bergantung
kepada AS. Sebagai anggota PBB Indonesia juga telah banyak ikut serta dalam Peace Keeping
Operation salah satunya di Lebanon setelah penyerangan Israel baru-baru ini. Dibidang pertahanan
Indonesia telah menjajaki kerjasama dalam bidang produksi senjata dengan India dalam pertemuan
Komite Bersama Kerja Sama Pertahanan RI-India di Jakarta, 12-14 Juni 2007, yang diharapkan
Indonesia mampu menciptakan alat utama sistem persenjataan secara mandiri yang diperlukan
dalam menjaga kedaulatan negara dari ancaman pihak luar. Pembelian pesawat tempur dan kapal
selam Rusia juga ditempuh agar tidak tergantung dengan negara Barat khususnya Amerika Serikat
Semua peran internasional Indonesia diatas merupakan poin penting untuk meningkatkan
kepercayaan kepada masyarakat internasional dalam ikut menyelesaikan masalah internasional. Bila
masyarakat internasional telah hormat dan segan kepadaIndonesia, diyakini pihak-pihak luar enggan
mengusik Indonesia. Dengan modal kepercayaan itulah Indonesia akan mempunyai nilai tawar yang
tinggi untuk mencapai kepentingan nasional dalam hubungannya dengan negara lain dan
bangsa Indonesia dapat
menentukan
nasibnya
sendiri
tanpa
didikte
pihak
lain.
Peran Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia merupakan amanah dari pembukaan UUD 1945,
yaitu ikut mewujudkan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial.

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia
Unsur-unsur kekuatan nasional di Indonesia diistilahakan dengan gatra dalam ketahanan
nasional Indonesia. Sedangkan unsur-unsur kekuatan nasional Indonesia dikenal dengan
nama Astagatra yang terdiri atas Trigatra dan Pancagatra.
1) Trigatra adalah aspek alamiah yang terdiri atas penduduk, sumber daya alam, dan
wilayah.
2) Pancagatra adalah aspek sosial yang terdiri atas ideologi, politik, ekonomi, sosial
budaya, dan pertahanan keamanan.
Unsur-unsur tersebut dianggap mempengaruhi negara dalam hal mengembangkan
kekuatan nasionalnya untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang
bersangkutan.
Dalam praktiknya kondisi ketahanan nasional dapat kita ketahui melalui pengamatan
atas delapan gatra yang sudah disebutkan diatas. Sedangkan lemah/menurunnya tingkat
ketahanan nasional akan menurunkan kemampuan bangsa dalam menghadapi ancaman
kekuatan yang terjadi.
2.2 Penjelasan Atas Tiap Gatra dalam ketahanan Nasional
2.2.1

Gatra Penduduk
Penduduk suatu negara menentukan kekuatan atau ketahanan nasional negara
yangbersangkutan. Faktor yang bersangkutan dengan penduduk negara meliputi dua hal
berikut:
a. Aspek kualitas mencakup tingkat pendidikan, ketrampilan, etos kerja, dan kepribadian.
b. Aspek kuantitas yang mencakup jumlah penduduk, pertumbuhan, persebaran, perataan,
dan perimbangan penduduk di tiap wilayah.

2.2.2

Gatra Wilayah
Wilayah turut pula menentukan kekuatan nasional Negara. Adapun hal yang terkait
dengan wilayah Negara meliputi:
a. Bentuk wilayah Negara dapat berupa Negara pantai, Negara kepulauan, dan Negara
kontinental.
b. Luas wilayah Negara; ada Negara dengan wilayah luas dan Negara dengan wilayah sempit
(kecil).
c. Posisi geografis, astronomis, dan geologis Negara.
d. Daya dukung wilayah Negara; ada wilayah yang habitable dan ada wilayah yangunhabitable.

2.2.3

Gatra Sumber Daya Nasional


Hal-hal yang berkaitan dengan unsur sumber daya alam sebagai elemen ketahanan
nasional, meliputi:

a.

Potensi sumber daya alam wilayah yang bersangkutan mencakup sumber daya alam hewani,
nabati, dan tambang.

b. Kemauan mengeksplorasi sumber daya alam.

c.

Pemanfaatan sumber daya alam dengan memperhitungkan masa depan dan lingkungan
hidup.

d. Kontrol atas sumber daya alam.

2.2.4

Gatra di Bidang Ideologi


Ideologi mendukung ketahanan suatu bangsa oleh karena ideologi bagi suatu bangsa
memiliki dua fungsi pokok, yaitu:

a.

Sebagai tujuan atau cita-cita dari kelompok masyarakat yang bersangkutan, artinya nilai-nilai
yang terkandung dalam ideologi itu menjadi cita-cita yang hendak dituju.

b. Sebagai sarana pemersatu dari masyarakat yang bersangkutan, atinya masyarakat yang
banyak dan beragam itu bersedia menjadikan ideologi sebagai milik bersama dan
menjadikannya bersatu.

2.2.5

a.

Gatra di Bidang Politik


Politik penyelengaraan bernegara sangat memengaruhi kekuatan nasional suatu
Negara.Penyelenggaraan bernegara dapat ditinjau dari beberapa aspek, seperti :
Sistem politik yang dipakai yaitu apakah sistem demokrasi atau non demokrasi.

b. Sistem pemerintahan yang dijalankan apakah sistem presidensil atau parlementer.


c.

Bentuk pemerintahan yang dipilih apakah republik atau kerajaan.

d. Susunan Negara yang dibentuk apakah sebagai Negara kesatuan atau Negara serikat.

2.2.6

Gatra di Bidang Ekonomi


Ekonomi yang dijalankan oleh suatu Negara merupakan kekuatan nasional Negara yang
bersangkutan terlebih di era global sekarang ini. Bidang ekonomi berperan langsung dalam
upaya pemberian dan distribusi kebutuhan warga Negara.

2.2.7

Gatra di Bidang Sosial Budaya


Unsur budaya di masyarakat juga menentukan kekuatan nasional suatu Negara. Hal-hal
yang dialami sebuah bangsa yang homogen tentu saja akan berbeda dengan yang dihadapi
bangsa yang heterogen (plural) dari segi sosial budaya masyarakatnya.

2.2.8

Gatra di Bidang Pertahanan Keamanan


Pertahanan keamanan suatu Negara merupakan unsur pokok terutama dalam
mengahadapi ancaman militer Negara lain. Oleh karena itu, unsur utama pertahanan
keamanan berada di tangan tentara (militer). Pertahanan keamanan Negara juga merupakan
salah satu fungsi pemerintahan Negara.

2.3 perdamaian dunia dan Bagaimana strategi Indonesia dalam usaha mencapai
perdamaian dunia
Ads by Media PlayerAd Options

Perdamaian dalam pengertian negatifnya adalah suatu kondisi tidak adanya peperangan,
konflik kekerasan, ketegangan dan huru-hara kerusuhan berskala besar, sistematis serta
kolektif. Namun demikian, berlanjutnya tindak kekerasan seperti terorisme, diskriminasi dan
penindasan terhadap minoritas dan kaum wanita serta anak-anak, kekerasan struktural oleh
sebab-sebab kemiskinan dan pengangguran, intoleransi agama, dan rasisme serta sentimen
kesukuan, bisa dikatakan merupakan keadaan tidak adanya situasi damai bagi mereka yang
menjadi korban. Oleh karena itu, perdamaian harus dirumuskan pula secara lebih positif,
tidak hanya dengan meniadakan peperangan dan konflik bersenjata berskala besar, melainkan
juga memberantas berbagai tindak kekerasan, ketidakadilan, kriminalitas, penindasan dan
eksploitasi manusia oleh manusia lainnya yang lebih kuat serta berkuasa.
Cita-cita perdamaian mungkin sudah berumur sama dengan usia manusia itu sendiri.
Namun demikian, kegagalan-kegagalan menciptakan perdamaian juga sama usianya dengan
cita-cita damai sepanjang zaman. Hal itu menyebabkan berbagai konsekuensi, antara lain
pesimisme bahwa perdamaian abadi dianggap merupakan sebuah utopia belaka, mengingat
kenyataan bahwa kodrat manusia yang ditakdirkan heterogen dalam cita-cita kelompok,
keyakinan, serta kepentingan sosial politik, sudah mengandung implikasi bahwa potensi
konflik adalah sebuah keniscayaan di muka bumi ini. Kalau demikian halnya, mengapa
manusia modern di awal millennium ke-3 ini, masih terus mencoba tidak kehabisan akal
untuk mencari cara dalam mengupayakan terciptanya perdamaian bagi diri, keluarga,
kelompok, bangsa, serta perdamaian global? Salah satu jawabannya adalah bahwa selain
kodrat manusia yang berbeda-beda dan bertentangan berdasarkan suku, bangsa, ras, agama,
dan perbedaan kelompok-kelompok secara primordial maupun pertentangan kepentingan
politik dan ideologi, maka merupakan kodrat/naluri (instinct) manusia pula untuk
mempertahankan jenisnya agar tidak mengalami kemusnahan total oleh saling
menghancurkan dan memusnahkan. Itulah sebabnya, dalam sejarah, setelah peperangan demi
peperangan, kekerasan demi kekerasan dilakukan oleh sesama manusia, maka manusia secara
akumulatif selalu berusaha menciptakan mekanisme-mekanisme untuk mewujudkan
pemulihan keadaan damai.
Adapun hal-hal yang harus dilakukan oleh Negara Indonesia dalam menciptakan sebuah
perdamaian Negara adalah:
1) Menghargai Keberagaman
Indonesia yang terdiri dari berbagai unsur dan bermacam-macam kelompok, hanya
akan terpelihara eksistensinya, apabila ada kerelaan untuk saling menerima keberagaman dari
setiap komponen bangsa terhadap komponen atau kelompok lainnya. Setiap warga negara
mesti menyadari, tidak mungkin kedamaian dibangun secara hakiki, apabila suatu kelompok
agama tertentu menganggap dirinya adalah kelompok agama yang lebih istimewa
dibandingkan dengan yang lainnya. Salah satu potensi besar dalam menyumbang terhadap
perdamaian adalah dengan kembali kepada ajaran-ajaran pokok setiap agama, karena
mayoritas sangat besar dari bangsa Indonesia adalah umat beragama. Agama melalui para
pemeluknya harus belajar meninggalkan sikap memutlakkan ajaran agama (absolutisme
agama) sendiri sebagai satu-satunya kebenaran yang ada di dunia, dan sebaliknya dapat
berbagi ruang hidup secara lapang dada dengan menerima keanekaragaman agama-agama
(pluralisme agama) di Indonesia.
2) Dialog Perdamaian
Ads by Media PlayerAd Options

Dalam dialog perdamaian ini, sekali lagi harapan dibebankan kepada para pemelukpemeluk agama. Hal ini didasarkan oleh kenyataan, bahwa sudah begitu banyak kekejaman
dan kekerasan yang dilakukan oleh manusia terhadap manusia lainnya di seluruh dunia,
termasuk di Indonesia, justru dengan justifikasi yang berasal atas ajaran agama-agama
tertentu. Apalagi agamalah tampaknya yang paling sering menjadi alat politik untuk
membenarkan kelompok sendiri, serta menyalahkan kelompok lainnya. Padahal, setiap orang
beragama umumnya sepakat, bahwa pesan inti agama adalah memelihara kehidupan damai
serta saling mengasihi antar sesama manusia. Apabila yang terjadi adalah sebaliknya dari
pesan-pesan pokok setiap agama, tentulah telah terjadi kesalah pahaman antar pemeluk
agama. Untuk itulah dialog perdamaian antar agama perlu dilakukan secara terus-menerus.
Momentum dialog antar agama mulai dirasakan keperluannya dan kemungkinankemungkinan keberhasilannya di zaman modern ini, setelah para uskup agama Katolik
seluruh dunia menyelenggarakan Konsili Vatikan II, tahun 1964. Pada waktu itu antara lain
dibahas agar soal umat Katolik menjalin dialog dengan pemeluk agama dan berbagai
kebudayaan lain yang ada di dunia ini. Inisiatif dialog ini kemudian disambut dengan baik
oleh kalangan Islam. Dewasa ini sudah cukup banyak organisasi dan forum-forum dialog
agama-agama internasional, tidak hanya antara Islam dan Kristen, melainkan juga antara
Kristen dengan Yahudi, Kristen dengan Hindu, juga yang bersifat multilateral antara berbagai
agama. Hal ini kalau dilakukan secara terus-menerus dengan semangat saling menghargai
serta sikap yang dilandasi ketulusan dan kejujuran, diharapkan besar kemungkinan akan
memberikan sumbangan berarti bagi Perdamaian.
3) Menegakkan Kebenaran dan Keadilan
Satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam proses awal menciptakan perdamaian yang
hakiki adalah dengan upaya melakukan upaya pengungkapan penyalahgunaan kekuasaan dan
pelanggaran HAM yang terjadi di masa lalu. Tidak akan mungkin tercipta perdamaian yang
hakiki dengan tindakan menutup-nutupi atau menyembunyikan berbagai tindakan kekerasan
terhadap HAM di masa lalu, dan melepaskan para pelaku penyalahgunaan kekuasaan politik
atas nama Negara terhadap masyarakat yang lemah yang seharusnya dilindungi oleh negara.
4) Melalui Pendekatan Cultural (Budaya)
Untuk mewujudkan perdamaian kita harus mengetahui budaya tiap-tiap masyarakat
ataupun sebuah Negara. Jika tidak, maka akan percuma saja segala upaya kita. Dengan
mengetahui budaya tiap-tiap masyarakat atau sebuah Negara maka kita bisa memahami
karakteristik dari masyarakat atau Negara tersebut. Atas dasar budaya dan karakteristik
masyarakat atau suatu Negara, kita bisa mengambil langkah-langkah yang tepat dan efektif
dalam mewujudkan perdamaian disana. Dan pendekatan budaya ini merupakan cara yang
paling efektif dalam mewujudkan perdamaian di masyarakat Indonesia serta dunia.
5) Melalui Pendekatan Sosial dan Ekonomi
Ads by Media PlayerAd Options

Dalam hal ini pendekatan sosial dan ekonomi yang terkait masalah kesejahteraan dan
faktor-faktor sosial di masyarakat yang turut berpengaruh terhadap upaya perwujudan
perdamaian dunia. Ketika masyarakatnya kurang sejahtera tentu saja lebih rawan konflik dan
kekerasan di dalamnya. Masyarakat atau Negara yang kurang sejahtera biasanya akan cuek
atas isu dan seruan perdamaian. Boro-boro mikirin perdamaian dunia, buat makan untuk
hidup sehari-hari saja susahnya minta ampun, begitu fikir mereka yang kurang sejahtera.
Maka untuk mendukung upaya perwujudan perdamaian dunia yang harus dilakukan terlebih
dahulu adalah meningkatkan pemerataan kesejahteraan seluruh masyarakat dan Negara di
dunia ini.

6) Melalui Pendekatan Politik


Melalui pendekatan budaya dan sosial ekonomi saja belum cukup efektif untuk
mewujudkan perdamaian dunia. Perlu adanya campur tangan politik, dalam artian ada agenda
politik yang menekankan dan menyerukan terwujudnya perdamaian dunia. Terlebih lagi bagi
Negara-negara maju dan adidaya yang memiliki power atau pengaruh dimata dunia. Negaranegara maju pada saat-saat tertentu harus berani menggunakan power-nya untuk melakukan
sedikit penekanan pada Negara-negara yang saling berkonflik agar bersedia berdamai
kembali. Bukan justru membuat situasi semakin panas, dengan niatan agar persenjataan
mereka terus dibeli.
7) Melalui Pendekatan Religius (Agama)
Pada hakikatnya seluruh umat beragama di dunia ini pasti menginginkan adanya
perdamaian. Sebab tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan, kekerasan ataupun
peperangan. Semua Negara mengajarkan kebaikan, yang diantaranaya kepedulian dan
perdamaian. Maka dari itu setiap kita yang mengaku beragama dan ber-Tuhan tentu harus
memiliki kepedulian dalam turut serta mewujudkan perdamaian di masyarakat maupun di
kancah dunia. Para tokoh agama yang dianggap memiliki kharisma dan pengaruh besar di
masyarakat harus ikut serta aktif menyerukan perdamaian.
BAB III
KESIMPULAN

1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

Untuk mencapai ketahanan nasional menurut Indonesia diperlukan beberapa gatra


delapan, yaitu:
Gatra Penduduk
Gatra Sumber Daya Alam
Gatra Wilayah
Gatra Ideologi
Gatra Politik
Gatra Ekonomi
Gatra Sosial Budaya
Gatra Pertahanan Keamanan
Dari delapan Gatra tersebut kita juga bisa mengetahui seberapa kuat ketahanan yang
dimiliki Negara kita, dan kita bisa menilai serta membandingkan ketahanan Negara kita
dengan Negara lain.
Dengan adanya ketahanan nasional di Negara kita, maka perdamaianpun akan mudah
diciptakan dalam lingkup hidup bermasyarakat dalam satu Negara. Selama masyarakat kita
bersifat terbuka dan bisa menerima perbedaan agama maupun budaya.
Pada dasarnya pencipta perdamaian adalah tokoh yang mengatasi kekerasan dan
konflik yang dihadapi melalui kepemimpinan dan visi untuk mencapai perdamaian.