Anda di halaman 1dari 28

Earnings Management

TEORI AKUNTANSI
Earnings Management

Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Teori Akuntansi


Oleh :
APRILIA PUSPITASARI
DITO ROZAKY ARAZY
HIDAYATI
SITI CHALIDIYA NURUL FATIMAH

PROGRAM PROFESI AKUNTAN DAN MAGISTER AKUNTANSI


PASCASARJANA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2016

Manajemen Laba
1. Overview

Earnings Management
Manajemen laba dapat dilihat dari dua sisi, yakni dari segi pelaporan keuangan
dan perspektif kontraktual.
Dari perspektif pelaporan keuangan, manajer dapat menggunakan manajemen
laba untuk memenuhi perkiraan terhadap analis laba, sehingga dapat menghindari
kerusakan terhadap reputasi dan harga saham yang negatif dan diharapkan dapat
memenuhi harapan investor. Juga, mereka dapat merekam dan menghapus pendapatan
yang berlebih atau menekan laba selain laba bersih. Beberapa taktik ini menunjukkan
bahwa manajer tidak sepenuhnya menerima efisiensi pasar saham.
Namun, terdapat pandangan lain terkait manajemen laba. Manajemen dapat
menggunakan manajemen laba untuk melaporkan aliran laba yang merata dan
berkembang dari waktu ke waktu. Dengan adanya efisiensi pasar sekuritas, maka hal
tersebut mengharuskan manajemen untuk mengambil informasi yang terkandung di
dalamnya. Dengan demikian, manajemen laba dapat menjadi sarana bagi
mamanjemen untuk menyampaikan informasi dari manajemen ke investor.
Diinterpretasikan dengan cara ini, perataan laba menjadi suatu hal yang menarik, dan
mungkin mengejutkan, dengan demikian dikatakan bahwa beberapa manajemen laba
dapat berguna dari sisi perspektif pelaporan keuangan.
Dari perspektif kontraktual, manajemen laba dapat digunakan sebagai cara
untuk melindungi perusahaan atas suatu konsekuensi dari kejadian tak terduga ketika
terjadi kontrak yang kaku dan tidak lengkap. Jika manajemen terlalu banyak
melakukan manajemen laba, akan dapat mengurangi kegunaan dari laporan keuangan
bagi investor. Hal ini terjadi khususnya jika manajemen laba bersifat oportunis dan
tidak sepenuhnya diungkapkan. Selain itu, manajemen laba dapat mempengaruhi
motivasi manajer untuk mengerahkan upaya, karena manajer dapat menggunakan
manajemen laba bagi kelancaran kompensasi mereka dari waktu ke waktu, sehingga
dapat mengurangi risiko kompensasi.
Mengingat bahwa manajer dapat memilih kebijakan akuntansi dari
serangkaian kebijakan (misalnya, GAAP), itu merupakan hal yang wajar untuk
memilih kebijakan yang akan dipergunakan demi pencapaian tujuan mereka. Mereka
mungkin juga mengambil tindakan nyata dalam mempengaruhi laba, seperti
memotong biaya R & D. Pemahaman terhadap manajemen laba merupakan hal yang
penting bagi akuntan, karena memungkinkan terjadinya peningkatan pemahaman
akan kegunaan laba bersih, baik untuk melaporkan laba kepada investor maupun
untuk kontraktor. Hal ini juga dapat membantu akuntan untuk menghindari beberapa
konsekuensi hukum dan konsekuensi atas reputasi yang muncul ketika perusahaan
2

Earnings Management
mengalami kesulitan keuangan, seperti penyalahgunaan manajemen laba. Adapun
definisi manajemen laba menurut Scott (2015) adalah:
Manajemen laba merupkan suatu pilihan yang dilakukan oleh manajer
dengan memanfaatkan kebijakan akuntansi, atau tindakan nyata yang dapat
memengaruhi laba sehingga mencapai laba yang diinginkan.
Dengan demikian, manajemen laba mencakup pilihan kebijakan akuntansi dan
tindakan nyata. Dalam hal ini, Scott (2015) menafsirkan kebijakan akuntansi dengan
cukup luas. Sementara garis pemisah tidaklah jelas, maka dari itu pemilihan kebijakan
akuntansi dikategorikan menjadi dua kategori, yaitu:
1) Kebijakan Akuntansi itu sendiri (Per Se), seperti: kebijakan untuk memilih
penyusutan dengan menggunakan metode garis lurus atau saldo menurun, begitu
pula terkait dengan pengakuan pendapatan.
2) Kategori lainnya adalah terkait dengan akrual diskresioner, seperti:
ketentuan untuk menentukan besarnya kerugian kredit, biaya garansi, nilai
persediaan, dan ketentuan terkait restrukturisasi.
Adapun hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa pilihan terhadap kebijakan
akuntansi harus memperhatikan adanya hukum besi (iron law) di sekeliling
manajemen laba, yang berbentuk pembalikan akrual (accruals reverse). Oleh karena
itu, manajer yang mengatur kenaikan laba saat ini akan menemukan bahwa
pembalikan dari akrual dalam periode selanjutnya akan memaksa penurunan laba
masa depan. Untuk itu, ketika perusahaan memiliki kinerja buruk, manajemen laba
tidak dapat menunda perhitungannya dalam jangka waktu yang tidak terbatas.
Iron law dari pembalikan komponen akrual mengarah kepada aspek penting
dari manajemen laba. Agar dapat memahami manajemen laba, maka disaranan untuk
melihatnya dalam beberapa periode. Dengan demikian, potensi laba masa depan,
seperti perataan laba dan taking a bath secara implisit mengasumsikan bahwa mereka
menggunakan periode yang banyak. Namun, multi period juga dapat digunakan untuk
menghambat manajemen laba. Misalnya, sampai sejauh mana kecenderungan seorang
manajer melaporkan laba dengan melebihkan atau mengecilkan laba bersih di pasar
sekuritas demi menjaga reputasinya dan bagaimana cara untuk mengontrol
manajemen laba yang oportunis?
Scott (2015) melihat beberapa bukti pada penelitian Wolfson (1985) pada
perusahaan minyak dan gas yang menggambarkan pengurangan terhadap efek tetapi
tidak menghilangkan masalah moral hazard. Sementara itu, muti period berfungsi
untuk meningkatkan potensi manajemen laba, pun juga berfungsi untuk membatasi
praktek manajemen laba.
3

Earnings Management
Cara lain yang dapat digunakan untuk mengelola laba adalah dengan
memerhatikan variabel rill, seperti: iklan, R & D, pemeliharaan, waktu pembelian dan
pelepasan modal aset, kelebihan produksi, dll. Perangkat yang digunakan mungkin
mahal, karena langsung memengaruhi laba perusahaan yang menggunakan variabel
akuntansi yang mungkin juga tinggi, karena adanya kegagalan seperti Enron dan
Worldcom maka dimunculkan perundang-undnagan berupa Sarbanes-Oxley. Selain
itu, Graham, Harvey, dan Rajgopal (2005) melaporkan bahwa sebagian besar
responden dari survei mereka menunjukkan kesediaan mereka untuk mengelola
variabel riil dalam rangka memenuhi target laba dan/ atau meratakan laba, meskipun
tindakan tersebut dapat membahayakan tujuan jangka panjang. Sementara untuk
penggunaan variabel kebijakan akuntansi dalam tujuan ini relatif sedikit dari para
responden. Perhatikan bahwa manajemen laba oleh variable rill dapat mengelola arus
kas serta laba.
Roychowdhury (2006) menemukan bahwa perusahaan dengan laba oportunis
mendekati nol,

mengelola variabel riil, seperti untuk meningkatkan laba yang

dilaporkan. Cohen dan Zarowin (2010) meneliti di daerah lain dengan pengelolaan
laba yang tinggi, yaitu ketika perusahaan menerbitkan saham tambahan. Mereka
melaporkan bahwa perusahaan tersebut menggunakan manajemen laba berbasis akrual
dan berbasis rill, dan memang manajemen laba rill lebih pada kinerja jangka panjang.
2. Pola Manajemen Laba
Manajer dapat terlibat dalam berbagai pola manajemen laba. Scott (2015)
menguraikannya dengan jelas dan ringkas, sebagai berikut:
a. Taking a Bath
Pola ini sering terjadi selama periode adanya tekanan organisasi atau pada saat
terjadinya reorganisasi, termasuk perekrutan CEO baru. Taking a bath dilakukan
dengan cara menjadikan laba perusahaan pada periode berjalan menjadi sangat
ekstrim rendah (bahkan rugi) atau sangat ekstrim tinggi dibandingkan dengan laba
periode sebelumnya atau sesudahnya.
Teknik taking a bath mengakui adanya biaya-biaya pada periode yang akan datang
dan kerugian pada periode berjalan ketika terjadi keadaan buruk yang tidak
menguntungkan dan tidak bisa dihindari pada periode berjalan. Konsekuensinya,
manajemen menghapus beberapa aset, membebankan perkiraan-perkiraan biaya
mendatang. Akibatnya, laba pada periode berikutnya akan lebih tinggi dari
seharusnya
b. Income Minimization (Minimisasi Laba)
4

Earnings Management
Pola ini serupa dengan taking a bath, tetapi tidak lebih ekstrim, dan biasanya
dilakukan pada saat perusahaan memiliki profitabilitas tinggi dengan maksud agar
tidak mendapat perhatian secara politis. Pola ini dilakukan dengan cara menjadikan
laba pada periode berjalan lebih rendah daripada laba sesungguhnya. Kebijakan
minimisasi laba termasuk penghapusan terhadap barang modal dan intangibles
asset, pembebanan pengeluaran iklan dan pengeluaran R&D.
c. Income Maximization
Sebagaimana acuan terhadap kajian teori akuntansi positif, manajer mungkin
menggunakan pola maksimisasi laba bersih yang dilaporkan untuk tujuan bonus.
Pola ini juga dilakukan oleh perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian
hutang. Maksimisasi laba (income maximization) dilakukan dengan cara
menjadikan laba pada laporan keuangan peridoe berjalan lebih tinggi daripada laba
sesungguhnya. Income maximization dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh
bonus yang lebih besar, meningkatkan keuntungan, dan untuk menghindari
pelanggaran atas kontrak utang jangka panjang. Income maximization dilakukan
dengan

cara

mempercepat

pencatatan

pendapatan,

menunda

biaya

dan

memindahkan biaya untuk periode lain.


d. Income Smoothing
Income smoothing atau perataan laba merupakan salah satu pola manajemen laba
yang paling menarik. Dari perspektif kontraktor, manajer menghindari risiko dan
lebih memilih aliran bonus, atau hal lain yang serupa. Konsekuensinya, manajer
harus membuat laba akuntansi yang dilaporkan menjadi relatif konsisten (rata atau
smooth) dari waktu ke waktu agar ia dapat memperoleh kompensasi yang relatif
konstan.
Terlihat jelas bahwa berbagai pola manajemen laba dapat bertentangan. Seiring
dengan waktu, pola yang dipilih oleh suatu perusahaan dapat bervariasi karena
perubahan kontrak, tingkat profitabilitas, dan visibilitas politik. Bahkan pada titik
waktu tertentu, perusahaan mungkin menghadapi kebutuhan yang bertentangan,
misalnya, untuk mengurangi laba bersih yang dilaporkan karena alasan politik,
meningkatkannya untuk memenuhi perkiraan analis, atau meratakannya untuk tujuan
pinjaman.
3. Teknik Manajemen Laba
Teknik manajemen laba menurut Setiawati dan Naim (2000) dapat dilakukan dengan
tiga teknik, yaitu:
a. Memanfaatkan Peluang untuk Membuat Estimasi Akuntansi
5

Earnings Management
Cara manajemen mempengaruhi laba melalui judgmen (perkiraan) terhadap
estimasi akuntansi antara lain: melalui estimasi piutang tak tertagih, estimasi biaya
garansi, amortisasi aktiva tidak berwujud, dll.
b. Mengubah Metode Akuntansi
Perubahan metode akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi.
Contoh: mengubah metode depresiasi dari angka tahun ke saldo lurus.
c. Menggeser Periode Biaya atau Pendapatan
Contoh: rekayasa periode biaya
4. Pembuktian Manajemen Laba untuk Tujuan Bonus
Sebuah paper dari Healy (1985) The Effect of Bonus Schemes on
Accounting Decisions, Paper Healy didasarkan pada teori akuntansi positif. Healy
mencoba untuk menjelaskan dan mempredikasi pilihan manajer akan kebijakan
akuntansi. Dalam Teori Akuntansi Positif sebagaimana yang dikemukakan oleh Watts
and Zimmerman (1990), salah satu hipotesis kunci adalah hipotesis rencana bonus.
Dalam kondisi ceteris paribus, hipotesis ini memprediksi bahwa jika seorang manajer
diberi reward atas ukuran kinerja seperti laba akuntansi, manajer tersebut akan
cenderung meningkatkan laba dengan maksud agar bonus yang diperolehnya pun akan
meningkat. Healy melakukan penyelidikan yang terus berkembang untuk manajemen
laba dengan motivasi kontraktual. Paper ini merupakan perluasan dari hipotesis
rencana bonus, yang menyatakan bahwa manajer dari perusahaan dengan rencana
bonus akan berusaha memaksimalkan laba saat ini. Dengan melihat lebih dekat pada
struktur rencana bonus, Healy muncul dengan prediksi khusus terhadap bagaimana
dan dalam kondisi apa manajer akan terlibat dalam tipe manajemen laba.
Bonus kas biasanya berdasarkan laba bersih. Dalam kontrak bonus dikenal dua
istilah yaitu bogey (tingkat laba terendah untuk mendapatkan bonus) dan cap
(tingkat laba tertinggi). Jika laba berada di bawah bogey, tidak ada bonus yang
diperoleh manajer sedangkan jika laba berada di atas cap, manajer tidak akan
mendapat bonus tambahan. Studi Healy terbatas pada perusahaan yang rencana
kompensasinya didasarkan hanya pada laba bersih yang dilaporkan saat ini. Dalam
sampel Healy, tidak semua skema memiliki cap, meskipun mereka semua
memiliki bogey.
Pada gambar 11.1, terlihat bahwa bonus meningkat secara linier (misalnya
10% dari laba bersih) antara bogey dan caps. Di bawah bogey, bonus nol. Jika tidak
ada cap, bonus akan meningkat sepanjang garis titik-titik. Namun, bonus menjadi
konstan untuk laba bersih yang melebihi cap.

Earnings Management

Gambar 11. 1.
Typical Bonus Scheme

Berdasarkan skema di atas, dapat dilihat bagaimana insentif untuk mengelola


laba bersih yang dilaporkan oleh manajemen. Jika laba bersih berada di bawah bogey,
manajer cenderung memperkecil laba dengan harapan memperoleh bonus lebih besar
pada periode berikutnya, demikian pula jika laba berada di atas cap. Jadi hanya jika
laba bersih berada di antara bogey dan cap, manajer akan berusaha menaikkan laba
bersih perusahaan. Berdasarkan skema di atas, Healy mempersempit hipotesis rencana
bonus, yaitu bahwa motivasi manajemen untuk menaikkan laba bersih benar-benar
terjadi ketika laba bersih diantara bogey dan cap.
Untuk mengetahui bagaimana manajer mengelola laba bersih, Healy
mempertimbangkan dua pendekatan. Pertama dengan mengendalikan beragam akrual,
dimana akrual didefinisikan secara luas untuk menyertakan porsi dari item pendapatan
dan beban pada laporan laba rugi yang tidak ditampilkan di laporan arus kas. Kedua
adalah dengan mengubah kebijakan akuntansi itu sendiri (per se).
Berkaitan dengan akrual, formula akrual dalam pembentukan laba bersih
adalah sebagai berikut :
Net income = Cash flow from operation +- net accruals
Atau,
Laba bersih = arus kas operasi +/- Non discretionary accrual bersih +/Discretionary akrual bersih

Earnings Management
Untuk menggambarkan interaksi antara akrual diskersioner dengan akrual
nondiskresioner, maka perhatikan contoh hipotesis pada Tabel 11.1.

Pada tabel 11.1, tanda positif untuk akrual berarti bahwa arus kas yang
diberikan menunjukkan peningkatan laba bersih, begitu pula sebaliknya. Informasi
pada tabel dapat diambil dari keterangan arus kas. Untuk mempermudah pemahaman,
asumsikan bahwa tidak terdapat beban pajak penghasilan. Asumsikan bahwa
penjelasan untuk empat item akrual adalah sebagai berikut:

Beban amortisasi. Beban amortisasi tahunan ditetapkan berdasarkan kebijakan


amortisasi perusahaan dan estimasi atas masa manfaat aset. Berdasarkan

kebijakan ini, beban amortisasi adalah akrual nondiskresioner.


Peningkatan dalam piutang bersih. Mengasumsikan bahwa peningkatan ini
berasal dari penurunan akun cadangan piutang ragu-ragu, yang dihasilkan dari
estimasi konservatif yang lebih kecil dari tahun sebelumnya. Akrual ini
merupakan diskresioner, karena manajemen memiliki fleksibilitas untuk
mengendalikan jumlahnya. Alasan lain untuk peningkatan piutang adalah
kebijakan kredit yang lebih lunak, pembukuan yang tetap terbuka melewati akhir
tahun,atau peningkatan dalam volume bisnis. Dua alasan pertama merupakan
akrual diskresioner dan yang ketiga non-diskresioner.

Peningkatan dalam persediaan. Mengasumsikan bahwa peningkatan ini berasal


dari persediaan perusahaan selama periode yang melebihi kapasitas manufaktur.
Hasilnya adalah untuk memasukkan biaya overhead tetap dalam persediaan
daripada membebankannya dalam beban sebagai varian volume yang tidak
menguntungkan.

Penurunan dalam hutang dan kewajiban akrual. Mengasumsikan bahwa


penurunan ini berasal dari perusahaan yang optimistik terhadap klaim jaminan
8

Earnings Management
(warranty) atas produknya dibanding tahun sebelumnya. Alternatif lainnya,
penurunan ini karena mempertimbangkan item seperti kontijensi dibandingkan
dengan akrual. Dalam hutang juga terdapat ruang yang luas untuk akrual
diskresioner.
Titik utama yang perlu diperhatikan adalah bahwa manajer
memiliki wewenang yang besar untuk mengelola laba bersih yang
dilaporkan. Meskipun mudah untuk menentukan perubahan dalam
saldo rekening, alasan perubahan biasanya tidak diketahui oleh
investor dan peneliti. Healy tidak memiliki akses ke buku dan
catatan dari perusahaan yang cukup sederhana, dan tidak dapat
menentukan akrual diskresioner khusus yang dibuat oleh para
manajer perusahaan. Akibatnya, ia menggunakan pendekatan lain,
yaitu untuk mengambil total akrual sebagai proxy untuk akrual
diskresioner. Dengan demikian, dalam contoh kita, dia akan
memperkirakan akrual diskresioner sebagai + $ 120, bukan + $ 170
yang akan digunakan jika memiliki informasi yang lengkap. + $ 170
dari akrual diskresioner akan menaikkan total akrual oleh + $ 170,
tanpa memperhatikan non akrual diskresioner yang mungkin hadir;
yaitu, total akrual tinggi mengandung akrual diskresioner lebih
tinggi dan sebaliknya.
Healy

memperoleh

sampel

sebanyak

94

dariperusahaan

industri terbesar AS. Dia mengikuti setiap perusahaan selama


periode 1930-1980 dan memperoleh total 1527 pengamatan yang
berguna, yaitu, 1.527 tahun perusahaan dimana bogey (jika ada)
cap untuk skema bonus perusahaan dapat dihitung. Dari jumlah
tersebut, 447 pengamatan termasuk baik bogey dan cap. eSetiap
pengamatan kemudian diklasifikasikan ke dalam salah satu dari tiga
kategori, portofolio sebagai healy memanggil mereka. Portofolio UPP
terdiri dari pengamatan laba berada di atas cap, portofolio LOW
pengamatan di mana laba berada di bawah bogey, dan portofolio
MID di mana mereka antara bogey dan cap. Jika hipotesis rencana
bonus berlaku, total akrual harus lebih besar untuk portofolio MID
daripada untuk UPP dan LOW.
9

Earnings Management
Untuk 447 pengamatan yang memiliki bogey dan cap, hasilnya
dirangkum pada tabel 11.2. kita melihat bahwa 46% dari 281
observasi di portofolio MID memiliki total akrual yang positif, yaitu,
pendapatan meningkat. Akrual rata-rata 281 pengamatan ini adalah
+0,0021 dari total aset (akrual yang dikurangi dengan total aset
sehingga mereka dapat dibandingkan antar perusahaan dengan
ukuran yang berbeda). Untuk pengamatan di LOW dan UPP
portofolio, proporsi dengan total akrual positif jauh lebih rendah hanya 90% dan 10%, masing-masing. Bahkan, akrual rata-rata
untuk pengamatan ini adalah negatif (pendapatan menurun). Hasil
ini konsisten dengan menyembuhkan ini argumen bahwa manajer
perusahaan yang pendapatannya bersih adalah di bawah bogey dan
di atas cap akan cenderung mengadopsi penurunan pendapatan
akrual dan hanya manajer dengan laba bersih antara keduanya
akan cenderung mengadopsi penurunan pendapatan akrual. Dengan
demikian, prediksi healy untuk manajemen laba oleh manajer
tergantung skema bonus didukung oleh hasil empiris.
Table 11.2 observations with both a bogey and a cap

Proportion of

Number of

Average

accruals with

observations

accruals

given sign
positive
0.09
0.46
0.10

LOW
MID
UPP

Negative
0.91
0.54
0.90

22
281
144

-0.0671
+0.0021
-0.0536

Source: P.M Healy, the effect of bonus scheme on accounting decisions, jurnal of
accounting and economics (april 1985), p. 96, Table 2. Reprinted by permission.

Perlu

ditekankan bahwa

studi manajemen laba empiris

menghadapi masalah metodologis yang parah. Seperti disebutkan


sebelumnya, kesulitan utama adalah bahwa akrual diskresioner
tidak dapat langsung diamati. Akibatnya, beberapa proxy yang
harus dipergunakan. Menggunakan total akrual, seperti yang Healy
lakukan, memperkenalkan kesalahan pengukuran ke dalam variabel
akrual

diskresioner,

sehingga

lebih

sulit

untuk

mendeteksi

manajemen laba haruskah ada. Misalnya, jumlah akrual non10

Earnings Management
discretionary kemungkinan berkorelasi dengan laba bersih. Sebagai
kaplan

(1985)

menunjukkan,

sebuah

perusahaan

dengan

melaporkan laba bersih di atas cap rencana bonus yang mungkin


memiliki akrual non-discretionary rendah jika berpenghasilan tinggi
adalah karena adanya peningkatan tak terduga permintaan yang
ada di sepanjang persediaan. Kemudian, total akrual yang rendah
yang digunakan untuk menyimpulkan manajemen laba karena
tingkat

aktivitas

ekonomi

riil

perusahaan

dan

tidak

akrual

diskresioner rendah. Healy menyadari masalah ini dan melakukan


tes tambahan untuk mengendalikan mereka, yang ditafsirkan
sebagai konfirmasi temuannya.
McNicholas dan Wilson (1988) juga mempelajari perilaku
akrual dalam konteks bonus. Mereka membatasi investigasi mereka
dengan ketentuan untuk kredit macet, dengan alasan bahwa harus
ada estimasi yang tepat dari penyisihan kredit macet. Kemudian,
akrual

diskresioner

dapat

diambil

sebagai

perbedaan

antara

perkiraan ini dan aktual pemberian kredit macet. Perkiraan yang


tepat dari non diskresioner akrual variabel. Pendekatan ini juga
mengurangi masalah korelasi antara laba bersih dan akrual non
diskresioner, karena dampak dari pemberian kredit macet dari
tingkat perusahaan dari kegiatan ekonomi ditangkap oleh perkiraan
mereka mengenai kredit acet akrual secara signifikan signifikan
pendapatan menurun. Selama beberapa tahun perusahaan yang
ekstrem profitabilitas, akrual diskresioner yang jauh lebih rendah
dan biasanya pendapatan menurun. Hasil konsisten dengan Healy.
Metodologi yang digunakan oleh jones (1991) menyediakan
cara yang lebih halus untuk memperkirakan akrual non diskresioner
(studi healy ini didahului pengembangan pendekatan ini). Dalam hal
ini, Holthausen, Larcker, dan Sloan (1995) (HLS) juga mempelajari
perilaku akrual manajer untuk tujuan bonus. Mereka mampu
memperoleh data tentang apakah bonus manajer pendapatan
tahunannya berdasarkan pada kenyataannya nol, lebih besar dari
11

Earnings Management
nol tetapi kurang dari bonus maksimum, atau maksimum. Data ini
jauh lebih baik dibandingkan healy, yang harus memperkirakan
apakah laba sebelum akrual diskresioner berada di bawah bogey,
antara bogey dan cap, atau di atas cap atas dasar deskripsi kontrak
bonus yang tersedia dan menganggap bahwa jika pendapatan
berada di bawah bogey manajer tidak akan menerima bonus, dll.
Menggunakan versi model jones (1991) untuk memperkirakan
akrual non diskresioner untuk sampel 443 perusahaan hasil
pengamatan tahun

1982-1990. HLS menemukan bahwa manajer

yang menerima nol bonus tidak menggunakan akrual untuk


mengelola penghasilan ke bawah, yang berbeda dari temuan Healy
(rw

1,

meja

11,2).

mereka

menyimpulkan

bahwa

masalah

metodologis yang timbul dari prosedur healy untuk memperkirakan


akrual

diskresioner

menjelaskan

mengapa

ia

muncul

untuk

menemukan akrual negatif untuk portofolio rendah nya. Namun, HLS


menemukan bahwa manajer yang berada di maxima bonus mereka
mengelola secara akrual sehingga dapat mengurangi laba yang
dilaporkan. Hal ini sesuai dengan hasil healy ini -lihat baris 3 dari
tabel 11.2.
Berdasar hal ini, dapat

disimpulkan bahwa, meskipun

tantangan metodologis studi seminal Healy, ada bukti yang


signifikan bahwa rata-rata, perilaku penggunaan akrual untuk
mengelola laba

mampu mempengaruhi bonus mereka, terutama

ketika penghasilan tinggi. Bukti ini konsisten dengan hipotesis


rencana bonus teori akuntansi positif.
5. Motivasi Lain dalam Manajemen Laba
Penelitian Healy berlaku untuk kontrak

bonus.

Namun,

manajer mungkin terlibat dalam manajemen laba untuk berbagai


motivasi lainnya.
a. Motivasi Pihak Lain
Kontrak utang

biasanya

tergantung

pada

variabel

akuntansi, yang timbul dari masalah moral hazard antara


manajer dan pemberi pinjaman. Untuk mengontrol masalah ini,
12

Earnings Management
kontrak pinjaman jangka panjang biasanya berisi perjanjian
untuk melindungi dari tindakan oleh manajer yang bertentangan
dengan kepentingan terbaik pemberi pinjaman, seperti dividen
yang berlebihan, tambahan pinjaman atau membiarkan modal
kerja dari ekuitas jatuh di bawah tingkat tertentu.
Manajemen laba untuk tujuan perjanjian diprediksi oleh
hipotesis perjanjian utang dari teori akuntansi positif. Mengingat
bahwa pelanggaran perjanjian dapat memberlakukan biaya
berat, manajer perusahaan akan diharapkan untuk menghindari
mereka. Memang, kehendak bahkan mencoba menghindari
dekat

dengan

pelanggaran,

karena

ini

akan

membatasi

kebebasan mereka dari tindakan dalam operasi perusahaan.


Dengan demikian, manajemen laba

dapat timbul perangkat

untuk mengurangi kemungkinan pelanggaran perjanjian dalam


kontrak utang.
Earning manajemen dalam konteks perjanjian utang
diselidiki oleh Sweeney (1994). Untuk contoh yang telah gagal
pada kontrak utang. Sweeney menemukan penggunaan secara
signifikan lebih besar dari peningkatan pendapatan akuntansi
berubah

relatif

menemukan

terhadap

bahwa

sampel

default

kontrol

perusahaan

dan

dia

cenderung

juga
untuk

melakukan adopsi awal standar akuntansi baru ketika ini


meningkatkan laba bersih, dan sebaliknya.
DeFond dan Jiambalvo (1994) juga meneliti manajemen
laba

oleh

perusahaan

yang

mengungkapkan

pelanggaran

perjanjian utang selama 1985-1988. Mereka menemukan bukti


penggunaan

akrual

diskresioner

untuk

meningkatkan

pendapatan dilaporkan dalam tahun sebelum dan pada tingkat


lebih rendah, pada tahun pelanggaran perjanjian.
Hasil yang agak berbeda dilaporkan oleh DeAngelo.
DeAngelo dan Skinner (1994). Mereka mempelajari sampel dari
76 besar. Ini adalah perusahaan yang memiliki tiga atau lebih
13

Earnings Management
kerugian berturut-turut tahun selama 1980-1985 dan yang telah
mengurangi dividen selama periode kerugian. Untuk 29 dari
perusahaan-perusahaan ini, pemotongan dividen dipaksa oleh
hambatan-hambatan perjanjian utang.
Insentif manajemen laba juga

berasal dari kontrak

implisit, juga disebut kontrak relasional. Ini bukan kontrak


formal, seperti kompensasi dan kontrak utang , melainkan
muncul dari hubungan berkelanjutan antara perusahaan dan
pemangku kepentingan (misalnya, karyawan, pemasok, kreditur,
pelanggan) dan merepresentasikan perilaku yang diharapkan
berdasarkan transaksi bisnis masa lalu. Sebagai contoh, jika
perusahaan dan manajer yang mengembangkan reputasi untuk
selalu

memenuhi

komitmen

kontrak

formal,

mereka

akan

menerima hal yang lebih baik dari pemasok, tingkat suku bunga
yang lebih rendah dari pemberi pinjaman, dll. Akibatnya, para
pihak bertindak sebagai jika kontrak yang menguntungkan
tersebut ada.
Manajemen laba untuk tujuan kontrak implisit diselidiki
oleh Bowen, Ducharme, dan Shores (1995) (BDS). Mereka
berpendapat bahwa reputasi kontraktor implisit manajer dapat
didukung oleh laba yang dilaporkan tinggi, yang meningkatkan
kepercayaan stakeholder bahwa manajer akan terus memenuhi
kewajiban kontrak. Misalnya, mereka memperkirakan bahwa
perusahaan dengan biaya yang relatif tingginya harga barang
yang dijual dan wesel bayar akan lebih cenderung memilih
kebijakan

akuntansi

persediaan

FIFO

dan

LIFO

dan

juga

mempercepat kebijakan amortisasi. FIFO dan amortisasi garis


lurus dianggap bisa meningkatkan pendapatan.
Berdasarkan sampel dari perusahaan-perusahaan besar
AS selama 1981-1993, BDS menemukan perusahaan dengan
tingkat tinggi berkelanjutan keterlibatan dengan para pemangku
kepentingan lebih cenderung untuk memilih FIFO dan amortisasi
14

Earnings Management
garis lurus dari perusahaan dengan tingkat yang lebih rendah
dari keterlibatan berkelanjutan, konsisten dengan yang mereka
ramalkan. Selanjutnya, kecenderungan ini masih terbukti setelah
mereka mengontrol motivasi manajemen laba lainnya, seperti
yang timbul dari kompensasi dan utang kontrak yang telah
dibahas diatas. Hasil survei dari Graham, Harvey, dan Rajgopal
(2005) mendukung temuan BDS. Mereka melaporkan bahwa
kepopuleran hubungan manajer dengan pemangku kepentingan
lainnya adalah alasan penting untuk memenuhi target laba.
b. Untuk Memenuhi Harapan Laba Investor dan Menjaga
Reputasi
Perusahaan yang melaporkan laba yang lebih besar dari
yang diharapkan biasanya menikmati peningkatan pangsa yang
signifikan dan jika sebaliknya maka perushaaan mengalami
penurunan harga saham yang signifikan. Skinner dan Sloan
(2002) dalam studi pada tahun 1984-1996, mendokumentasikan
hasil saham negatif bagi perusahaan-perusahaan yang gagal
memenuhi ekspektasi laba dan hasil positif bagi perusahaanperusahaan

yang

melebihi

harapan

laba

investor.

Ini

menunjukkan bahwa pasar menghukum perusahaan-perusahaan


yang jauh dari harapan mereka. Akibatnya, manajer memiliki
insentif yang kuat untuk memastikan bahwa ekspektasi laba
terpenuhi. Salah satu cara untuk melakukan ini adalah untuk
mengelola peningkatan pendapatan. Jika ini tidak terpenuhi,
pasar akan beralasan bahwa manajer tidak bisa menemukan
manajemen laba yang baik untuk menghindari kekurangan atau
perusahaan tidak dikelola dengan baik karena tidak bisa
memprediksi masa depan sendiri , ini bisa menjelaskan hukuman
pasar yang lebih berat karena gagal memenuhi harapan.
Baru-baru ini, hasil penelitian yang mengejutkan untuk
tahun 1992-2006 dari Keung, Lin, dan Shih (2010) dengan
sampel besar laba kuartalan, menemukan bahwa reaksi pasar
nol dan bahkan positif kecil atas kejutan berubah laba dan
15

Earnings Management
negatif selama 2002-2006, dibandingkan dengan respon positif
selama

tahun-tahun

sebelum

sampel

mereka.

Mereka

menunjukkan bahwa meningkatnya skeptisisme investor bahwa


penghasilan yang melebihi harapan mereka adalah karena
manajemen laba bukan karna faktor-faktor yang nyata. Para
penulis melaporkan bukti yang konsisten dengan penafsiran ini.
Kegagalan untuk memenuhi ekspektasi laba investor
memiliki konsekuensi serius. Memiliki efek langsung pada harga
saham perusahaan dan biaya modal karena investor melakukan
downwards revisi atas probabilitas kinerja perusahaan dan juga
memberikan eefek tidak langsung bagi reputasi manajer.
c. Initial Public Offering (IPO)
Initial Public Offering (IPO), manajer perusahaan akan melakukan
earning management agar harga sahamnya saat penawaran
perdana

(IPO)

lebih

tinggi,

sedangkan

kapitalisasi

modal

perusahaan menjadi lebih besar. Saat perusahaan go public,


informasi keuangan yang ada dalam prospektus merupakan
sumber informasi yang penting. Informasi ini dapat dipakai
sebagai sinyal kepada calon investor tentang nilai perusahaan.
Untuk mempengaruhi keputusan calon investor maka manajer
berusaha menaikkan laba yang dilaporkan.
6. Sisi Baik Manajemen Laba
Garis besar bukti teoritis dan empiris yang mendukung:
a Blocked Communication
Sebuah argumen yang mendukung manajemen laba yang baik
didasarkan pada konsep Blocked Communication dari Demski
dan Sappington (1987a) (Dsa). Seringkali, agen memperoleh
informasi khusus sebagai bagian dari keahlian mereka, dan
informasi ini bisa sangat sulit untuk berkomunikasi dengan
principal, yaitu, Blocked Communication. Dsa menunjukkan
bahwa kehadiran Blocked Communicationdapat mengurangi
efisiensi kontrak badan, karena agen dapat mengelak dari
perolehan informasi dan kompensasinya sehinga para pelaku
16

Earnings Management
memiliki insentif untuk mencoba untuk menghilangkan atau
mengurangi Blocked Communication.
Hirst, Koonce, dan Venkataraman (2007) melaporkan,
berdasarkan sebuah studi eksperimental, sehingga Apabila
dilihat dari perkiraan kabar baik (peramalan penjualan dan biaya
serta

laba

bersih)

meningkatkan

kredibilitasnya.

Mereka

berpendapat bahwa pengungkapan item tersebut mengurangi


kemampuan manajer untuk menggunakan manajemen laba
untuk mencapai perkiraan, sehingga mengimbangi kecurigaan
investor bahwa ramalan mungkin bias ke atas.
Chz kemudian memperkenalkan akuntansi konservatif
(dianggap disini sebagai bentuk manajemen laba). Konservatif
akuntansi menurun terhadap efisiensi kontrak karena sekarang
lebih mungkin bahwa upaya manajer tinggi akan menghasilkan
laba bersih yang rendah untuk dilaporkan dan kompensasinya.
Pada

saat

yang

sama,

akuntansi

kebutuhan

untuk

manajemen

konservatif

laba

atas

mengurangi

(kepada

investor

rasional, rendah dalam melaporkan laba bersih yang dihasilkan


oleh konservatisme tidak benar-benar seburuk seperti yang
terlihat).

Penurunan

manajemen

laba

akan

meningkatkan

efisiensi kontrak dengan mengurangi dorongan manajer . Chz


kemudian menunjukkan kondisi (penting, bahwa manajer cukup
menghindari risiko) di mana dari kedua efek terhadap nilai
perusahaan adalah positif.
Dapat disimpulkan

bahwa

atas

dasar

model

yang

dijelaskan di atas bahwa kemungkinan manajemen laba yang


baik untuk kedua tujuan kontrak dan pelaporan keuangan yang
diprediksi oleh teori.
b Bukti Empiris Manajemen Laba yang Baik
Subramanyam
(1996)
memisahkan

akrual

dalam

diskresioner dan non - komponen diskresioner, menggunakan


model jones, untuk sampel besar perusahaan selama bertahuntahun

1973-1993.

Subramanyam

menemukan,

setelah

mengendalikan efek dari arus kas operasi dan akrual nondiskresioner

terhadap

return

saham,

bahwa

pasar

saham
17

Earnings Management
merespon

positif

discretionary

accrual

periode

berjalan,

konsisten dengan manajer, rata-rata, menggunakan manajemen


laba bertanggung jawab untuk mengungkapkan informasi orang
dalam

tentang

masa

produktif

kekuasaan.

Subramanyam

melakukan tes ekstensif, meskipun, yang cenderung mendukung


bahwa

pasar

diskresioner.
Namun,
penafsiran

ini.

merespon
sebuah
Untuk

secara

studi

oleh

sampel

efisien
Xie

besar

kepada

(2001)

akrual

pertanyaan

perusahaan

selama

bertahun-tahun 1971-1992, Xie menggunakan model jones


untuk memperkirakan diskresioner dan akrual non-diskresioner
untuk

setiap

observasi

perusahaan-tahun.

Dia

kemudian

memperkirakan kegigihan dari dua komponen akrual tersebut.


Seperti

yang

kita

harapkan,

ia

menemukan

kegigihan

discretionary accrual menjadi lebih rendah dari akrual nondiscretionary. Akibatnya, pasar yang efisien harus menetapkan
ERC yang lebih rendah untuk dolar akrual diskresioner daripada
dolar non-discretionary. Namun, Xie menemukan, konsisten
dengan Sloan (1996), bahwa ERC untuk akrual diskresioner
dalam sampel nya secara signifikan lebih tinggi dari ketekunan
mereka rendah akan menyarankan. Dengan kata lain, bukan
bereaksi terhadap akrual diskresioner seolah-olah mereka yang
baik, pasar tampaknya menilai terlalu tinggi mereka.
Dengan demikian, bukti apakah pasar bereaksi terhadap
akrual diskresioner seolah-olah mereka yang baik akan muncul
bercampur. Namun, tes yang lebih langsung dari argumen ini
dilakukan oleh Tucker dan Zarowin (2006). Mereka berpendapat
bahwa dengan perataan laba sejauh meningkatkan kemampuan
investor untuk memprediksi laba masa depan (yaitu, manajemen
laba yang baik), respon dari saham kembali ke laba yang
dilaporkan (yang kita didokumentasikan dalam bab 5) akan
meningkat, dengan asumsi efisiensi pasar sekuritas. Sebaliknya,
jika

merapikan

membuat

lebih

sulit

bagi

investor

untuk

memprediksi laba masa depan, respon ini akan menurun.


18

Earnings Management
Semua temuan ini tergantung pada kemampuan model
Jones untuk memisahkan akrual dalam diskresioner dan non komponen diskresioner dengan cara yang konsisten dengan
bagaimana pasar menafsirkan mereka. Seperti model apapun,
validitas

model

Jones

telah

banyak

diperdebatkan.

Ini

menunjukkan bahwa pendekatan alternatif untuk mempelajari


reaksi

pasar

terhadap

manajemen

laba

yang

diinginkan.

Misalnya, Liu, Ryan, dan Wahlen (1997) meneliti akrual kerugian


pinjaman kuartalan (kendaraan untuk manajemen laba) dari
sampel 104 bank AS lebih 1.984-1.991. Setelah memisahkan
akrual ini menjadi komponen yang diharapkan dan tak terduga,
mereka menemukan reaksi harga saham yang positif signifikan
terhadap kenaikan tak terduga dalam ketentuan kerugian
pinjaman untuk "berisiko" bank (bank dengan modal peraturan
dekat dengan minimum hukum), tetapi hanya pada kuartal
keempat. Untuk bank tidak di risiko, berbagi reaksi harga
ketentuan loan loss tak terduga adalah negatif. Hasil ini
menunjukkan bahwa pada risiko bank, dengan mengelola
pendapatan mereka ke bawah, secara kredibel menyampaikan
ke pasar bahwa mereka mengambil langkah-langkah untuk
menyelesaikan masalah mereka, yang merupakan keharusan
untuk meningkatkan kinerja masa depan mereka. Untuk bank
yang tidak berisiko, kurang memerlukan untuk mengambil
langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah, dengan hasil
bahwa komponen Kabar buruknya mendominasi reaksi pasar.
Alasan mengapa harga saham pada risiko bank hanya naik pada
kuartal keempat tampaknya karena auditor keterlibatan dalam
kuartal tersebut. Agaknya, manajemen, dan investor, mengambil
ketentuan loan loss lebih serius ketika auditor yang terlibat.
Selain memberikan bukti lebih lanjut tentang bagaimana
manajemen laba dapat menyampaikan informasi, Liu, Ryan, hasil
Whalen ini menunjukkan kecanggihan yang cukup besar dalam

19

Earnings Management
respon pasar sekuritas, mendukung interpretasi pasar efisien
temuan Subramanyam, dan Tucker dan Zarowin.
Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana

pasar

bereaksi terhadap komponen kualitas akrual ini? FLOS yang


dilaporkan reaksi pasar yang positif terhadap komponen bawaan.
Hal ini untuk diharapkan jika akrual melakukan pekerjaan
mereka. Artinya, tampaknya bahwa akrual bawaan lebih besar
menyampaikan informasi yang berguna untuk pasar, meskipun
potensi kesalahan estimasi yang lebih besar di lingkungan yang
lebih stabil.
FLOS juga melaporkan reaksi pasar yang positif terhadap
komponen akrual diskresioner, meskipun kurang positif daripada
komponen

bawaan.

Dari

ini,

mereka

berpendapat

bahwa

manajer menggunakan discretionary accrual bertanggung jawab


untuk menyampaikan informasi yang berguna bagi investor, juga
mendukung hasil efficients kontrak dari Subramanyam diuraikan
di atas. Temuan ini, pada keseimbangan, mendukung sisi baik
dari manajemen laba. Namun, sejauh reaksi pasar kurang dari
pada komponen akrual bawaan, tampaknya bahwa beberapa
manajemen laba yang buruk dicampur dengan baik.
Kesimpulannya bahwa ada teori yang baik dan bukti
bahwa manajemen laba dapat dengan baik menginformasikan
investor dan memungkinkan untuk kontraktor menjadi lebih
efisien.

Namun,

kemungkinan

bahwa

manajemen

laba

oportunistik dicampur dengan baik tidak dapat dikesampingkan.


1. Sisi Buruk Manajemen Laba
a Manajemen Laba Oportunistik
Meskipun teori dan bukti penggunaan manajemen laba yang
baik, ada juga bukti manajemen laba yang buruk. Dari perspektif
kontrak, ini bisa diakibatkan dari perilaku manajer oportunistik.
Kecenderungan manajer untuk menggunakan manajemen laba
untuk

memaksimalkan

bonus

mereka,

seperti

yang

didokumentasikan oleh Healy dapat diartikan dengan cara ini,


misalnya.
20

Earnings Management
Bukti lebih lanjut diberikan oleh Dechow, Sloan, dan
Sweeney (1996), yang meneliti praktek manajemen laba dari
sampel uji dari 92 perusahaan dikenakan di Amerika Serikat oleh
SEC dengan dugaan pelanggaran GAAP (yaitu, manajemen laba
yang buruk), dibandingkan kepada sampel kontrol perusahaan
dengan ukuran yang sama dan industri. penyelidikan mereka
mengungkapkan sejumlah motivasi untuk manajemen laba
tersebut.

Yang

umum

adalah

kedekatan

dengan

kendala

perjanjian utang. Perusahaan-perusahaan dalam sampel uji


mereka memiliki, rata-rata, leverage secara signifikan lebih
besar dan secara signifikan lebih pelanggaran perjanjian utang
dari sampel kontrol. Tampaknya bahwa setidaknya beberapa
perusahaan mengikuti versi oportunistik hipotesis perjanjian
utang.
Hanna (1999) membahas jenis lain dari manajemen laba.
Hanna mencatat bahwa bonus manajer biasanya didasarkan
pada laba sebelum item yang tidak biasa tersebut. Selanjutnya,
analis perkiraan biasanya pendapatan ukuran ini. Dengan
demikian ketentuan sementara tidak mempengaruhi bonus
manajer dan tidak mengambil dari kemampuan untuk memenuhi
perkiraan laba. Tapi, ketentuan berlebihan meningkatkan laba
masa depan, dengan menempatkan mereka di bank melalui
pengurangan biaya amortisasi masa depan dan penyerapan
biaya masa depan yang seharusnya dapat dibebankan sebagai
biaya

operasi

menguntungkan
mempengaruhi
perkiraan

pada

saat

baik
bonus

pendapatan,

terjadinya.

cara.
atau
dan

Kemudian,

Ketentuan
kemampuan

manajer

sementara
untuk

pengurangan

tidak

memenuhi

beban

masa

meningkatkan laba masa depan yang manajer dievaluasi.


Pembuat standar juga tampak mencerminkan pandangan
buruk manajemen laba. Di Amerika Serikat, untuk studi Wich di
atas berhubungan dengan PSAK 146 (2002) (sekarang ASC
420,10-25) dilarang merecord kewajiban untuk restrukturisasi
21

Earnings Management
sampai kewajiban timbul. Sebelumnya, ketentuan dapat dicatat
pada

saat

restrukturisasi

diumumkan.

Juga,

kewajiban

restrukturisasi harus diukur pada nilai wajar, yang berarti bahwa


ketentuan kelebihan bertentangan dengan GAAP. Internasional,
IAS 37 (1999) mendefinisikan ketentuan sebagai kewajiban
waktu atau jumlah pembayaran masa depan yang tidak pasti.
Untuk

direkam,

pembayaran

tersebut

harus

probable

(didefinisikan sebagai lebih mungkin daripada tidak) dan mampu


mengestimasi dengan handal. Seperti PSAK 146, ketentuan
tersebut

harus

menyatakan

adil

bahwa

dan

valued.

IAS

ketidakpastian

37
tidak

secara

khusus

membenarkan

ketentuan berlebihan. Juga, ketentuan harus digunakan hanya


untuk menyerap biaya yang ketentuan awalnya dibentuk.
Menurut IAS 1, biaya restrukturisasi dan pembalikan daripadanya
harus ditampilkan secara terpisah dalam laporan laba rugi.
Standar-standar ini tidak diragukan lagi dalam membatasi
tingkat manajemen laba yang buruk. Namun, mereka tidak
mungkin untuk menghilangkan praktek sepenuhnya. Perhatikan
manajemen

yang

masih

restrukturisasi. Juga,

mengontrol

mengukur nilai

waktu

wajar

keputusan

dari kewajiban

restrukturisasi mungkin memerlukan estimasi yang cukup.


2. Do managers Accept Securities Market Efficiency
Schrand dan Walther (2000) melaporkan bentuk lain dari
manajemen laba. Mereka menganalisis sampel perusahaan yang
melaporkan

materi,

keuntungan

non-recuring

atau

kerugian

pelepasan aset, dan peralatan pada kuartal tahun sebelumnya


tetapi tidak ada keuntungan tersebut atau kerugian pada kuartal
yang sama tahun berjalan. Dalam siaran pers yang biasanya
menyertai pengumuman laba, manajer membandingkan kinerja
kuartal saat ini dengan kuartal tahun sebelumnya yang melaporkan
bahwa laba yang sama-kuartal dari tahun sebelumnya adalah laba
patokan yang sangat penting bagi manajer. Pertanyaan kemudian
adalah, dalam rilis berita ini, jangan manajer mengingatkan investor
22

Earnings Management
dari

keuntungan

sebelumnya?

non-berulang

Schrand

dan

atau

kerugian

Walther

pada

kuartal

menemukan

bahwa

kemungkinan pengingat secara signifikan lebih besar jika item nonrecurring kuartal sebelumnya adalah keuntungan daripada kerugian.
Dengan cara ini, patokan terendah periode sebelumnya ditekankan
(yaitu, dikelola), dengan demikian menunjukkan perubahan dalam
pendapatan dari kuartal sebelumnya di cahaya

yang paling

menguntungkan.
Pro - Forma laba merupakan bentuk lain dari manajemen laba
yang diterima manajer efisiensi pasar. Manajer yang menekankan
pro

forma

laba

mengklaim

bahwa

ukuran

ini

lebih

baik

menggambarkan (dan mereka sendiri) kinerja perusahaan dari


GAAP bersih datang. Namun, karena ada beberapa aturan untuk
menentukan laba pro-forma, manajer mungkin tergoda untuk
menyamarkan atau menghilangkan item pendapatan dan beban
yang berisi informasi yang berguna, untuk memenuhi target laba,
memaksimalkan kompensasi, dan / atau meningkatkan reputasi.
Namun, ketika laporan laba rugi berdasarkan GAAP menjadi
tersedia, pasar yang efisien akan cepat menyesuaikan untuk item
dihilangkan

dari

penekanan

pada

laba

pro-forma.

laba

pro-forma

Akibatnya,

manajer

menunjukkan

dengan

mereka

tidak

menerima efisiensi.
Investor reaksi terhadap laba pro-forma dipelajari oleh Doyle,
Lundholm, dan Soliman (2003) (DLS). Mereka memperoleh sampel
besar perusahaan yang melaporkan laba kuartalan pro-forma lebih
pada tahun 1988-1999 dan, untuk setiap perusahaan dan kuartal,
dihitung

selisih

dari

laba

bersih

GAAP

(misalnya,

ketentuan

restrukturisasi) memiliki dampak masa depan yang signifikan pada


aliran operasi kas, bertahan sampai tiga tahun dari tanggal
pengumuman triwulanan. Akibatnya, investor yang melihat hanya
pada laba pro-forma mengabaikan informasi yang berguna.
Pada tahun 2002, Sarbanes-Oxley Act (Bagian 1.2) diarahkan
SEC untuk mengatur pelaporan pro-forma. Pada tahun 2003, aturan
SEC baru termasuk persyaratan untuk mendamaikan pro - forma
23

Earnings Management
dan pendapatan GAAP, dan untuk menjelaskan mengapa keputusan
pro forma laba yang berguna.
Sayangnya, Heflin dan Hsu (2008) dokumen yang mengikuti
regulasi SEC tahun 2003, perusahaan berkurang baik tinggi dan
rendah

item

ketekunan

termasuk

dalam

pro-forma

earnings.

Manfaat yang mungkin dari laba pro-forma, yaitu untuk membantu


investor mendiagnosa kesesuaian item. Tampaknya pelaporan proforma terus menjadi kendaraan untuk manajemen laba.
Namun, titik penting dari Schrand dan Walters, DLS, dan studi
Heflin dan Hsu adalah bahwa kebijakan manajemen laba ini
membuat sedikit akal jika pasar sekuritas efisien. Akibatnya,
manajer

yang

terlibat

di

dalamnya

tidak

harus

sepenuhnya

menerima efisiensi. Selanjutnya, memperluas argumen kita dalam


bab 9 bahwa variabel kontraktor menciptakan konsekuensi ekonomi,
kebijakan akuntansi tanpa efek arus kas dapat menjadi masalah
bagi manajer hanya karena mereka percaya bahwa pasar tidak akan
melihat melalui mereka.
3. Implications for Accountants
Implikasi bagi akuntan yang ingin mengurangi manajemen
laba yang buruk, bagaimanapun, tidak menolak efisiensi pasar,
tetapi untuk meningkatkan keterbukaan. Pengungkapan berkualitas
tinggi membantu investor untuk mengevaluasi laporan keuangan,
dengan demikian mengurangi kerentanan mereka terhadap bias
perilaku dan mengurangi insentif manajer untuk mengeksploitasi
tata kelola perusahaan dan pasar inefisiensi miskin. Misalnya,
pelaporan yang jelas dari kebijakan pengakuan pendapatan, dan
deskripsi rinci dari item persistensi rendah dan akrual diskresioner
utama seperti write down dan ketentuan untuk reorganisasi, akan
membawa manajemen laba yang buruk

ke tempat terbuka,

mengurangi kemampuan manajer untuk memanipulasi dan bias


laporan keuangan untuk keuntungan mereka sendiri. Cara lain untuk
meningkatkan

keterbukaan

termasuk

pelaporan

efek

pada

pendapatan saat sebelumnya penghapusan dan, secara umum,


membantu investor dan kompensasi komite untuk mendiagnosa
24

Earnings Management
kesesuaian item. Manajer akan menanggung konsekuensi penuh
dari tindakan mereka dan manajemen laba yang buruk akan
menurun.
4. Conclusion on Earnings Management
Manajemen laba dimungkinkan oleh fakta bahwa tidak ada
laba bersih yang benar. Selanjutnya, GAAP tidak sepenuhnya
membatasi pilihan kebijakan manajer dan prosedur akuntansi.
Pilihan seperti jauh lebih kompleks dan menantang daripada hanya
memilih

kebijakan-kebijakan

dan

prosedur

yang

terbaik

menginformasikan investor. Sebaliknya, pilihan kebijakan akuntansi


manajer sering termotivasi oleh pertimbangan strategis, seperti
memenuhi harapan laba, kontrak yang tergantung pada variabel
akuntansi keuangan, penerbitan saham baru, mengecilkan potensi
kompetisi, dan blokir informasi dari dalam. Akibatnya, pilihan
kebijakan akuntansi memiliki karakteristik konsekuensi. Manajer
akan

bereaksi

terhadap

perubahan

aturan

yang

mengurangi

fleksibilitas pilihan akuntansi mereka. Sebagai hasil, akuntan perlu


menyadari kebutuhan yang sah dari manajemen, serta investor,
sementara pada saat yang sama menjadi waspada terhadap
strategi manajemen oportunistik. Sebenarnya pelaporan keuangan
merupakan kompromi antara kebutuhan dan strategi dari dua
konstituen utama tersebut.
Meskipun pengurangan keandalan dan sensitivitas

yang

sering menyertai manajemen laba, argumen yang kuat dapat dibuat


bahwa itu berguna jika disimpan dalam batas-batas. Pertama,
memberikan fleksibilitas manager untuk bereaksi terhadap realisasi
negara yang tak terduga ketika kontrak yang kaku dan tidak
lengkap.
Kedua, manajemen laba dapat berfungsi sebagai wahana
komunikasi informasi yang kredibel dalam untuk investor.Kedua
argumen ini konsisten dengan pasar sekuritas efisien dan versi
efisiensi teori akuntansi positif.Namun demikian, beberapa manajer
mungkin menyalahgunakan potensi komunikasi dari GAAP dengan
mendorong manajemen laba terlalu jauh, dengan hasil bahwa
25

Earnings Management
kekuatan produktif persisten dibesar-besarkan. Perilaku ini didapat
hasil dari kegagalan untuk menerima efisiensi pasar sekuritas atau
dari kemampuan untuk menyembunyikan manajemen laba yang
buruk di belakang pengungkapan, atau keduanya. Jadi, apakah
manajemen laba yang baik atau buruk tergantung pada bagaimana
ia digunakan. Akuntan dapat mengurangi tingkat manajemen laba
yang buruk dengan membawa keluar ke tempat terbuka. Hal ini
dapat dicapai dengan peningkatan pengungkapan kesesuaian item
dan penghapusan pelaporan efek sebelumnya pada pendapatan
saat

ini.

Selain

membantu

harga

saham

menjadi

lebih

mencerminkan dasar nilai perusahaan, peningkatan pengungkapan


membantu tata kelola perusahaan, karena komite kompensasi dan
pasar tenaga kerja manajerial dapat imbalan yang lebih baik dari
kinerja manajer dan disiplin manajer yang syirik. Perbaikan langka
yang dihasilkan dalam alokasi modal investasi dan peningkatan
produktivitas kesejahteraan sosial perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

26

Earnings Management
Fields, Thomas D., Lys, Thomas Z,. And Vincent, Linda. 2001. Empirical Reseach on
Accounting Choice. Journal of Accounting and Economic. 31. Pp 255-307.
Healy, P.M. 1985. the effect of bonus scheme on accounting decisions, jurnal of
accounting and economics. p. 96.
Healy, P.M and Wahlen, James M. 1999. A review of the Earnings Management Literature
and Its Implications for Standar Setting. Accounting Horizons. Vol.13. No.4. pp 365383.
Scott, W.R. (2015). Financial Accounting Theory, Prentice-Hall, Toronto, Canada.
Setiawati, L. Naim. 2000. Manajemen Laba. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. Vol. 15.
No.4. Hal. 424-441.
Watt, R.L. dan J.L. Zimmerman (1986). Positive Accounting Theory, Prentice-Hall
International, Inc, Englewood Cliffs, NJ, USA.

27

Earnings Management

28