Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Praktikum
a. Mahasiswa mampu untuk mengetahui karakteristik aliran laminar dan aliran turbulen.
b. Mahasiswa mengetahui pengaruh terjadinya gesekan aliran terhadap faktor pengaruh
pengaliran.
1.2 Latar Belakang
Penggerusan sungai, peningkatan akibat kekasaran bawah permukaan merupakan
beberapa masalah yang disebabkan oleh aliran air. Terdapat 3 macam aliran air, yaitu
turbulen, laminar, dan transisi. Pada penggerusan sungai dan peningkatan akibat
kekasaran bawah permukaan merupakan salah satu bentuk akibat adanya aliran
turbulen.
Laminer berasal dari bahasa latin thin plate yang berarti plate tipis atau aliran
sangat halus. Pada aliran laminer, gaya viscous (gesek) yang relatif besar
mempengaruhi kecepatan aliran sehingga semakin mendekati dinding pipa, semakin
rendah kecepatannya. Pada aliran turbulen, gaya momentum aliran lebih besar
dibandingkan gaya gesekan dan pengaruh dari dinding pipa menjadi kecil.
Untuk menanggulangi permasalahan di atas, diperlukan pembelajaran mengenai
karakteristik aliran turbulen. Pembelajaran tersebut dapat membantu praktikan dalam
menyelesaikan masalah-masalah yang diakibatkan karena aliran. Oleh karena itu,
dibutuhkan praktikum gesekan aliran untuk mempelajari karakteristik aliran tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Gesekan Aliran
Untuk fluida yang bergerak, semua rugi-rugi gesekan terjadi di dalam suatu lapisan
tipis yang berdekatan dengan batas sebuah benda padat (yang disebut lapisan batas).

Dan bahwa aliran di luar lapisan batas ini bisa dianggap tanpa gesekan. Kecepatan di
dekat batas tersebut dipengaruhi oleh geseran batas. penurunan tekanan dua fase yang
terdiri dari gesekan dinding, gravitasi dan percepatan (Muhajir,2009).
Dalam berbagai industri sebagian besar fluidanya mengalir pada pipapipa saluran
tertutup (closed conduit flow). Masalah utama yang muncul antara lain (Biksono, 2006):
1. Terjadinya gesekan pada dinding pipa.
2. Terjadinya turbulensi karena gerakan relatif dalam molekul fluida yang dipengaruhi
oleh viskositas fluida itu sendiri dan bentuk pipa.
3. Terjadinya kapasitas aliran yang semakin kecil pada daerah yang jauh dari sumber
karena hambatan gesek pada aliran yang semakin membesar.
2.2 Jenis-Jenis Aliran Fluida
Aliran laminar dimodelkan sebaai partikel fluida yang mengalir secara mulus di
lapisan-lapisannya. Meluncur di antara partikel yang sedikit lebih lambat atau lebih cepat
pada masing-masing sisi yang bersebelahan. Fluida sesungguhnya terdiri atas banyak
molekul yang bergerak hampir acak seperti yang ditunjukkan. Satu arah menghasilka
laju aliran yang kita kaitkan dengan gerakan partikel fluida (Munson,2010).
Pada aliran turbulen, gaya momentum aliran lebih besar dibandingkan gaya gesekan
dan pengaruh dari dinding pipa menjadi kecil. Karenanya aliran turbulen memberikan
profil kecepatan yang lebih seragam dibandingkan aliran laminer, walaupun pada
lapisan fluida dekat dinding pipa tetap laminer. Profil kecepatan pada daerah transisi
antara laminer dan turbulen dapat tidak stabil dan sulit untuk diperkirakan karena aliran
dapat menunjukkan sifat dari daerah aliran laminer maupun turbulen atau osilasi antara
keduanya. Pada beberapa tempat, aliran turbulen dibutuhkan untuk pencampuran zat
cair (Marpaung, 2015).
Terdapat teori yang menyatakan bahwa aliran tunak (steady) udara melewati lubang
pipa tidak saling menukar energi dengan setiap ragam osilasi pipa, namun untuk
kecepatan aliran tertentu keadaan tunak (steady) ini adalah tidak stabil. Peluang adanya
sedikit penyimpangan akan menghasilkan masukan energi bagi satu atau lebih ragam
osilasi linier dasar dari pipa, dan sampai tingkat tertentu gerakan ini akan menaikkan
kopling ragam osilasi pipa terhadap masukan energi (Setiawan, 2006).
2.3 Pengertian Bilangan Reynolds
Bilangan Reynolds adalah rasio antara gaya inersia (vs) terhadap gaya viskos (/L)
yang mengkuantifikasikan hubungan kedua gaya tersebut dengan suatu kondisi aliran
tertentu. Bilangan ini digunakan untuk mengidentikasikan jenis aliran yang berbeda,
misalnya laminar dan turbulen. Namanya diambil dari Osborne Reynolds (18421912)
yang mengusulkannya pada tahun 1883. Bilangan Reynold merupakan salah satu
bilangan tak berdimensi yang paling penting dalam mekanika fluida dan digunakan,
seperti halnya dengan bilangan tak berdimensi lain, untuk memberikan kriteria untuk
menentukan dynamic similitude. Jika dua pola aliran yang mirip secara geometris,
mungkin pada fluida yang berbeda dan laju alir yang berbeda pula, memiliki nilai
bilangan tak berdimensi yang relevan, keduanya disebut memiliki kemiripan dinamis
(Sihombing, 2013).
Reynold menetapkan bahwa untuk bilangan Reynold di bawah 2000 (Re < 2000),
gangguan aliran dapat diredam oleh kekentalan zat cair maka disebut aliran laminar.
Aliran akan menjadi turbulen apabila bilangan Reynold lebih besar dari 4000 (Re >
4000). Apabila bilangan Reynold berada di antara kedua nilai tersebut (2000 < Re <
4000) disebut aliran transisi. Bilangan Reynold pada kedua nilai di atas (Re = 2000 dan
Re = 4000) disebut dengan batas kritis bawah dan atas (Poerboyo, 2013).
2.4 Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Gesekan Aliran

Selain viskositas, sifat fluida yang penting lainnya adalah densitas (masa persatuan
volume). Seperti viskositas, karakteristik gas dan cairan dalam sifat densitas ini bebeda
satu dengan lainnya. Densitas gas sangat dipengaruhi oleh tekanan dan temperaturnya,
karena itu gas juga disebut fluida termampatkan (compressible fluid). Hubungan antara
densitas dengan tekanan dan temperatur gas banyak dibahas dalam bidang
termodinamika, misalnya Hukum Gas Ideal dan persamaan Van Der Waals. Densitas
cairan sedikit sekali dipengaruhi oleh tekanan dan temperatur, karena itu cairan disebut
juga fluida tak termampatkan (incompressible fluid). Bedasarkan sifat kemampatan ini,
aliran fluida dibagi menjadi dua, yaitu aliran fluida termampatkan dan tak termampatkan.
Seringkali bila perubahan temperatur dan tekanan relatif kecil, permasalahan aliran gas
diselesaikan dengan cara untuk fluida tak termampatkan (Marpaung, 2015).
Jenis aliran ini didapat dari hasil eksperimen yang dilakukan oleh Osborne Reynold
tahun 1883 yang mengklasifikasikan aliran menjadi 3 jenis. Jika fluida mengalir melalui
sebuah pipa berdiameter, d, dengan kecepatan rata-rata. V, maka didapatkan bilangan
Reynold di mana bilangan ini tergantung pada kecepatan fluida, kerapatan, viskositas,
dan diameter (Poerboyo, 2013).
2.5 Aplikasi Gesekan Aliran Pada Prodi Teknologi Bioproses
Aplikasi gesekan aliran pada bidang bioproses terdapat pada proses pemecahan
dinding sel dengan kavitasi hidrodinamik. Saat cairan dialirkan melalui katup, tekanan
statik akan turun hingga lebih rendah dari tekanan uapnya. Hal ini menyebabkan
terbentuknya gelembung-gelembung atau rongga yang sangat kecil. Apabila laju alir
cairan dari tangki ditingkatkan, tekanan yang melalui celah orifice akan meningkat
sehingga terjadi penurunan tekanan statik yang sangat besar pada celah sempit yang
mengakibatkan jumlah rongga dan ukuran rongga atau gelembung yang lebih banyak
dan besar (Kalista, 2015).

DAFTAR PUSTAKA
Biksono, Damawidjaya. Oktober 2006. Karakteristik dan Visualisasi Aliran Dua Fasa pada
Pipa
Spiral.
Volume
8,
No.
2.
http://jurnalmesin.petra.ac.id/index.php/mes/article/view/16527/16519. 3 Oktober
2016.
Kalista, Brenda. 2015. Metode Pemecahan Sel pada Proses Hilir Industri Bioproses. Jurnal
Teknik Kimia. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Marpaung, Tulus Joseph Herianto. 2015. Penerapan Persamaan Navier-Stokes Pada


Pergerakan Fluida Dalam Tabung Dengan Metode Elemen Hingga. Skripsi. Medan :
Universitas Sumatera Utara.
Muhajir, Khairul. 2009. Karakterisasi Aliran Fluida Gas-Cair melalui Pipa Sudden
Contraction. Jurnal Teknologi. 2(2): 176-184.
Poerboyo, Sigit. 2013. Perhitungan Kebutuhan Pompa untuk Perpipaan Penyalur Bahan
Bakar Solar dari Balongan Sampai Jakarta. Universitas Diponegoro: Semarang.
Setiawan, Sandi. 2006. Sibernetika. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.
Sihombing, Frans M. 2013. Pengaruh Bilangan Reynold Terhadap Putaran Turbin Gorlov
Hydrofoil Naca 64-015 Sudut Kemiringan 37. Tugas Akhir. Semarang: Universitas
Diponegoro.
Tarnando, Riky. 2012. Aplikasi Mekanika Fluida pada Instalasi Saluran Air Rumah. Jurnal
Studi Pendidikan Fisika. 1(1):1-6. Serpong: Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Surya.

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat, Bahan, dan fungsi
a. Rangkaian pipa : sebagai tempat mengalirnya fluida
b. Pompa : untuk memompa air dari tandon input ke rangkaian
c. Stop kontak : sebagai sumber arus listrik
d. tandon input : untuk menampung air yang masuk ke pipa

e. Tandon output : untuk menampung air yang keluar dari pipa


f. Kran input : untuk mengatur debit aliran yang masuk
g. Kran Output : untuk mengatur debit aliran yang keluar
h. Pipa input : sebagai jalan masuknya air ke rangkaian pipa
i. Pipa output : sebagai jalan keluarnya air dari rangkaian pipa ke tandon output
j. Papan : sebagai tempat manometer dan skala
k. Penyangga: untuk menyangga pompa
l. Manometer: untuk mengukur tekanan pada setiap sambungan
m. Air raksa: Indikator beda tinggi
n. Skala/mistar: untuk mengukur beda tinggi air raksa
o. Selang : untuk menyalurkan air dari kran ke tandon input
p. Kran kontrol: untuk mengatur tekanan aliran pada rangkaian
q. Piezometer: untuk mengukur tekanan aliran pada rangkaian
r. Sambungan mengecil lurus: sebagai perlakuan aliran air dari pipa diameter besar ke
kecil
s. Sambungan membesar lurus: sebagai perlakuan aliran air dari pipa diameter kecil ke
besar
t. Sambungan mengecil menyudut: sebagai perlakuan aliran air dari pipa diameter besar
ke kecil
u. Sambungan membesar menyudut: sebagai perlakuan aliran air dari pipa diameter
kecil ke besar
v. Sprinkle besar: untuk memberikan tekanan pada pipa besar
w. Sprinkle kecil: untuk memberikan tekanan pada pipa kecil
x. Belokan 900: sebagai perlakuan pipa
y. Gelas Ukur: untuk mengukur volume air yang keluar
z. Stopwatch: untuk mengukur waktu
z. Air: sebagai fluida perlakuan

3.1.2 Gambar Rangkaian Alat dan Keterangan

3.2 Cara Kerja


Alat dan Bahan
Disiapkan

Tandon
Diisi dengan fluida untuk dipancing
Kran Input, Output, Kontrol
Dibuka secara penuh
Stop Kontak
Disambungkan dengan arus listrik
Kran Kontrol
Diputar sebanyak 4 putaran
Pipa Output

Stopwatch

Diamati hingga fluida stabil terlebih


dahulu

Timer selama 5 detik


Air Raksa
Amati beda tinggi pada air raksa
Gelas Ukur
Ukur volume fluida yang keluar
melewati pipa output selama 5 detik.
Lakukan 10 kali pengulangan dengan
tiap pengulangan kran output diputar
sebanyak satu kali.
Hasil
Catat Hasil
4.2 Analisis Data Hasil Praktikum
Pada praktikum ini dilakukan 10 kali pengulangan. Pada pengulangan yang pertama
diperoleh data berupa waktu, tekanan total rangkaian pada piezometer, dan volume air
yang tumpah. Pada percobaan pertama dalam waktu 5 sekon diperoleh volume air yang
tumpah sebesar 0,0052 m3 dan selisih antara air raksa yang diukur di piezometer adalah
9 cmHg yang menggambarkan tekanan pada rangkaian alat.
Pada percobaan kedua, diperoleh hasil volume air yang tumpah selama 5 sekon
adalah 0,0053 m3. Tekanan yang terukur selama 5 detik sebesar 9 cmHg. Pada
percobaan yang ketiga diperoleh hasil tekanan rangkaian dan volume air yang tumpah
selama 5 detik secara berturut-turut adalah 9 cmHg dan 0,0049 m 3. Pada percobaan

yang keempat, hasil volume air yang tumpah adalah sebesar 0,0053 m3 selama 5 detik
dan tekanan yang terukur adalah 9 cmHg.
Pada percobaan yang keenam, diperoleh hasil percobaan volume air yang tumpah
dan tekanan rangkaian selama 5 sekon secara berturut-turut adalah 0,004 m 3 dan 8,3
cmHg. Pada percobaan ketujuh diperoleh hasil volume air yang tumpah dan tekanan
rangkaian pipa selama 5 sekon secara berturut-turut adlaah 0,0052 m 3 dan 10 cmHg.
Pada percobaan kedelapan diperoleh hasil percobaan volume air yang tumpah dan
tekanan rangkaian pipa selama 5 detik secara berturut-turut adalah 0,005 m 3 dan 9
cmHg. Pada percobaan kesembilan juga diperoleh hasil percobaan volume air yang
tumpah dan tekanan pada rangkaian selama 5 detik secara berturut-turut adalah 0,0052
cmHg dan 9 m3. Dan pada percobaan kesepuluh diperoleh volume air yang tumpah
selama 5 detik adalah sebesar 0,0036 m3 dan tekanan pada piezometer sebesar 9
cmHg.
4.3 Analisis Perhitungan
Perhitungan yang digunakan pertama sekali adalah perhitungan debit aliran. Debit

Volume
aliran dapat dihitung dengan menggunakan rumus Q= waktu . Berdasarkan hasil
perhitungan yang dilakukan pada 10 kali pengulangan atau percobaan diperoleh hasil
debit aliran dengan satuan m3/s secara berturut-turut dari pengulangan 1 hingga 10
adalah 0,00104 ; 0,00106 ; 0,00098 ; 0,00106 ; 0,00094. Setelah keseluruhan nilai debit
aliran diperoleh, perhitungan selanjutnya adalah perhitungan kecepatan aliran (U).
Perhitungan kecepatan aliran dapat menggunakan rumus U=Debit/Luas pipa. Diameter
pipa yang digunakan sebesar 1,25 x 10-2 m2. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh
kecepatan aliran dengan satuan m/s dari pengulangan 1 hingga 10 secara berturut-turut
adalah 8,478980892 ; 8,642038217 ; 7,989808917 ; 8,642038217 ; 7,66369427 ;
6,522292994 ; 8,478980892 ; 8,152866242 ; 8,478980892 ; dan 5,870063694.
Kemudian dicari perhitungan gesekan dalam pipa dengan menggunakan rumus Hf
air= { H raksa -

Hg
air

)-2{0,2 x

U2
2g

}. Dengan menggunakan rumus tersebut,

makan diperoleh gesekan dalam pipa secara berturut-turut adalah 120,06776138 ;


120,6212157 ; 120,6058199 ; 120,93138347 ; 111,76283049 ; 134,2327935 ;
120,7734851 ; 120,6627935 ; 121,4267827. Faktor gesekan merupakan perhitungan
selanjutnya. Faktor gesekan dapat diperoleh dengan menggunakan rumus f=

Hf air x 2 g x d
. Pada perhitungan ini diameter pipa sebesar 1,25 x 10-2- m dengan
U2. l
panjang pipa 8,05 m. Kemudian diperolehlah nilai faktor gesekan secara berturut-turut
sebagai berikut: 0,050828734 ; 0,049154302 ; 0,057605259; 0,049148028 ; 0,06266613
; 0,07995893 ; 0,056825271 ; 0,055299495 ; 0,051080632 ; 0,107250435.
Setelah mencari beberapa perhitungan di atas, untuk menentukan jenis aliran yang
mengalir pada pipa tersebut maka dicarikan nilai dari bilangan Reynold. Bilangan
Reynolg

dapat

dicari

dengan

menggunakan

rumus

Re=

U . dpipa . air
.

Berdasarkan perhitungan, nilai Re diperoleh secara berturut-turut adalah 105.775,7098 ;


107.809,858 ; 99.763,26493 ; 107.809,858 ; 9560,49684071 ; 81.365,93051 ;
105.775,7098 ; 101.707,4132 ; 105.775,7098 ; 73229,3375. Ada juga perhitungan yang

dilakukan terhadap Hf/L dimana perhitungan tersebut digunakan untuk mencari regresi
antara Log Hf/L dengan Log U. Maka diperoleh nilai dari Hf/L secara berturut-turut
sebagai berikut: 14,91524985 ; 14,98400195 ; 14,982089413 ; 14,982089413 ;
15,02253211 ; 13,88358143 ; 16,67488118 ; 15,0029174 ; 14,98916689 ; 15,08407239.
Perhitungan lainnya adalah perhitungan fungsi linear antara log f dan log Re juga log
Hf/L dan log U. Pada percobaan ini untuk memperoleh nilai a dan b pada persamaan

y=ax+b menggunakan rumus: a=

yxb x
n

4.4 Analisis Grafik dan Gambar Grafik


4.4.1 Grafik Regresi Linier Log f dan Log Re

y
y
x
,

X2
X
; b=
.
2

Dari grafik log f dan log Re menunjukkan bahwa grafik yang relatif naik. Gesekan
yang terjadi juga relatif konstan pada beberapa perlakuan. Dari hasil tersebut
didapatkan nilai titik potong x dan y yaitu dengan rumus:

n. ( xy ) x . y
b=

n . ( x 2 ) ( x )2

; sedangkan untuk mencari nilai a menggunakan

rumus sebagai berikut:


a=

yb . x
n

Kemudian di misalkan x dan y adalah sama dengan nol dan menggunakan


persamaan berikut y = ax + b, maka didapatkan nilai y = 6,197423341x
-1,859672661. Dapat disimpulkan bahwa semakin besar nilai log f maka semakin
besar pula nilai bilanga Reynold nya.

4.4.2 Grafik Regresi Linear Log U dan Log Hf/L

Untuk grafik linear dari log U dan log Hf/ , mula-mula menggunakan rumus: b =

n. ( xy ) x . y
n . ( x 2 ) ( x )2

; sedangkan untuk mencari a menggunakan rumus sebagai

berikut:
a=

yb . x
n

Lalu dimisalkan x dan y adalah sama dengan nol dan menggunakan persamaan
berikut y = ax + b sehingga y = 0,01030383133x + 1,305764536. Pada grafik ini
mengalami kenaikan grafik yang relatif. Sehingga dapat diketahui, bahwa semakin
besar log U maka semakin besar juga log Hf/ .
4.5 Pembahasan
4.5.1 Jelaskan Jenis Aliran Berdasarkan Praktikum
Berdasarkan perhitungan dari hasil praktikum, nilai Re diperoleh secara berturut-turut
adalah 105.775,7098 ; 107.809,858 ; 99.763,26493 ; 107.809,858 ; 9560,49684071 ;
81.365,93051 ; 105.775,7098 ; 101.707,4132 ; 105.775,7098 ; 73229,3375. Maka
diperoleh nilai rata-rata dari bilangan Reynold ini adalah sebesar 101779767,9. Hal ini
menandakan bahwa jenis aliran yang terjadi adalah aliran turbulen. Sesuai dengan
ketentuan untuk jenis aliran turbulen Re lebih besar dari 4000.
4.5.2 Jelaskan faktor yang memengaruhi gesekan aliran berdasarkan praktikum
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa faktor yang
mempengaruhi gesekan aliran adalah sebaga berikut. Yang pertama adalah human
error dari praktikan, pada saat penghitungan beda tinggi ataupun penghitungan volume
sering terjadi keterlambatan antara penghitung volume dan penghitung waktu sehingga
tidak tepat 5 detik. Kemudian peralatan yang digunakan seperti pompa air yang sudah
tua sehingga berpengaruh pada performa kerja pompa, bisa saja di dalam pompa
tersebut sudah terdapat banyak lumut karena sering dialiri oleh air sebagai bahan
perlakuan praktikum. Yang terakhit adalah dari bahan perlakuan yaitu air yang
digunakan tidak diketahui kandungan mineralnya secara pasti, bisa juga air tersebut
sudah mengandung zat pengotor seperti pasir.
4.5.3 Jelaskan pengaruh faktor gesekan terhadap bilangan Reynold
Pada praktikum gesekan aliran yang telah dilakukan, pada bagian diagram digambarkan
hubungan antara faktor gesekan dengan bilangan reynold. Hasil yang diperoleh adalah
garis lurus ke atas. Hal ini dapat diartikan bahwa hubungan antara gesekan aliran dan
bilangan Reynolds adalah berbanding lurus. Ketika gesekan aliran semakin besar maka
bilangan reynoldnya juga akan semakin besar. Hal tersebut berlaku sebaliknya, jika
gesekan aliran semakin kecil, maka bilangan reynoldnya juga akan semakin kecil.
4.5.4 Jelaskan pengaruh faktor kecepatan aliran (U) terhadap Hf/L
Pada praktikum ini, selain mengetahui pengaruh faktor gesekan terhadap bilangan
Reynolds, juga dicari pengaruh kecepatan aliran terhadap Hf/L. Hasil yang diperoleh
adalah garis lurus. Hal tersebut dapat diartikan bahwa kecepatan aliran (U) berbanding
lurus dengan Hf/L. Semakin besar nilai kecepatan aliran, maka akan semakin besar juga
nilai daripada Hf/L. Namun, ketika nilai kecepatan aliran semakin kecil, maka nilai Hf/L
juga akan semakin kecil.
4.6 Perbandingan Dengan Literatur

Berdasarkan praktikuk yang telah dilakukan, aliran yang diperoleh dalam perhitungan
menunjukan bahwa aliran turbulen dengan Re>4000 yang mempunyai kesamaan
dengan literatur. Dimana aliran turbulen merupakan aliran yang deras dengan fluida
kekentalan rendah. Gangguan yang timbul semakin besar hingga tercapai kondisi
peralihan pada kecepatan aliran yang bertambah besar atau efek viskositas yang
berkurang. Terlampauinya kondisi peralihan menyebabkan sebagian gangguan tersebut
menjadi semakin kuat, dimana partikel bergerak secara fluktuasi atau acak dan terjadi
percampuran gerak partikel antara lapisan-lapisan yang berbatasan (Faruk, 2012).
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, faktor-faktor yang memengaruhi adalah
seperti kesalahan praktikan, kemudian usia pipa yang tidak lagi baru, dan terdapat
bahan-bahan kontaminan di dalam pipa seperti lumut serta air yang bisa saja
mengandung pasir di dalamnya. Berdasarkan literatur, faktor yang memengaruhi
gesekan aliran adalah viskositas fluida, diameter pipa, dan massa jenis fluida. Pada
literatur dijelaskan bahwa hubungan antara faktor gesekan dengan bilangan reynolds
adalah berbanding terbalik sedangkan pada praktikum dihasilkan hubungan berbanding
lurus (Siregar, 2013).

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada praktikum gesekan aliran dapat disimpulkan bahwa aliran yang mengalir dalam
pipa adalah aliran turbulen dengan bilangan Re rata-rata sebesar 101779767,9. Pada
praktikum ini dapat diambil kesimpulan bahwa hasil pengamatan pengaruh antara faktor
gesekan dengan bilangan reynold seharusnya berbanding terbalik. Selain itu pengaruh
kecepatan aliran berbanding lurus dengan gesekan aliran dalam pipa. Terdapat
beberapa faktor yang memengaruhi hasil pengamatan antara lain, kesalahan dalam
pengukuran akibat kurang teliti dalam mengukur volume, dan bahan yang terkandung di
dalam pipa belum diketahui secara pasti
5.2 Saran
Untuk asisten praktikum, sebaiknya memberikan soal pre/post test yang
sesuai dengan materi praktikum, bukan yang tidak berhubungan dengan praktikum
agar praktikan lebih memahami materi tersebut. Dan juga sebaiknya alat praktikum
yang digunakan diganti ataupun di perbaiki agar hasil lebih maksimal.

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN

Faruk, Umar dan Kamiran. 2012. Analisis Pengaruh Aliran Turbulen Terhadap Karakteristik
Lapisan Batas pada Pelat Datar Panas. e-Jurnal Vol. 1, No. 1, September 2012.
Surabaya: Institut Sepuluh November.
Siregar, J.F dan Jorfri B.S. 2013. Perancangan Alat Uji Gesekan Aliran di Dalam Saluran.
Jurnal FEMA Vol. 1, No. 1, Januari 2013. Lampung: Universitas Lampung.