Anda di halaman 1dari 17

1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masa remaja dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu

tahapan awal (10-14

tahun) tahapan menengah (15-16 tahun) dan tahapan dewasa(17-20 tahun).


Masa remaja merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan dari masa
kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan
aspek fisik, psikis, dan psikososial (Junita 2013).
Pematangan seksual pada remaja putri ditandai dengan perubahan pada
ciri-ciri seks primer dan ciri seks sekunder. Ciri-ciri seks sekunder pada
remaja ditandai Pinggul menjadi bertambah lebar dan bulat akibat
membesarnya tulang pinggul dan berkembangnya lemak bawah kulit. Segera
setelah pinggul mulai membesar, payudara juga berkembang. Rambut
kemaluan timbul setelah pinggul dan payudara mulai berkembang. Bulu ketiak
dan bulu pada kulit wajah mulai tampak setelah haid. Otot semakin besar dan
semakin kuat, terutama pada pertengahan dan menjelang akhir masa puber,
sehingga memberikan bentuk pada bahu, lengan dan tungkai kaki. Dengan
tumbuhnya rambut di beberapa bagian tubuh seperti kemaluan, ketiak, bulubulu tipis di wajah, tangan serta kaki (hurlock, 2003). Ciri-ciri seks primer
ditandai dengan membesarnya ukuran daerah perut yang berada tepat diatas
kemaluan, pembesaran ukuran organ reproduksi di dalam periode ini disebut
menarche (Amanda, 2014).
Fungsi menarche normal merupakan hasil interaksi antara hipotalamus,
hipofisis, dan ovarium dengan perubahan - perubahan terkait pada jaringan
sasaran pada saluran reproduksi normal, ovarium memainkan peranan penting
dalam proses ini, karena tampaknya bertanggung jawab dalam pengaturan
perubahan-perubahan siklik maupun lama siklus menstruasi (Bobak, 2004).
Ovarium menghasilkan hormon steroid, terutama estrogen dan progesteron.
Beberapa estrogen yang berbeda dihasilkan oleh folikel ovarium, yang

mengandung ovum yang sedang berkembang dan oleh sel-sel yang


mengelilinginya. Estrogen ovarium yang paling berpengaruh adalah estradio.
Estrogen bertanggung jawab terhadap perkembangan dan pemeliharaan organ
- organ reproduktif wanita dan karakteristik seksual sekunder yang berkaitan
dengan remaja.
Menurut Proverawati & Maisaroh (2009), biasanya menarche terjadi
dalam rentang usia 10-16 tahun. Masa ini berada pada awal remaja atau pada
fase ditengah masa pubertas sebelum memasuki masa reproduksi. Di Amerika
Serikat, sekitar 95 persen remaja berusia tanda-tanda pubertas dengan
menarche pada umur 12 tahun dan rata-rata usia 12,5 tahun telah menujukkan
tanda-tanda yang diiringi pertumbuhan fisik saat menarche. Di Maharashtra,
India sebanyak 24,92 persen rata-rata remaja putri berusia 12,5 tahun telah
mengalami menarche, selanjut sebanyak 64,77 persen terlihat remaja putri
mengalami menarche dini pada usia 10-11 tahun. Bahwa (Rokade et al. 2009).
serta sebanyak 10,30 persen remaja putri mengalami menarche idealnya
remaja putri usia 12-14 tahun dan ketika remaja putri usia 14-15 di katogari
kan menarche terlambat Di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara,
remaja putri mengalami menarche rata-rata usia 12 tahun, dan usia paling
lama 16 tahun.
Selanjutnya Lestari,(2011) Usia mengalami menarche tidak pasti atau
bervariasi, akan tetapi terdapat kecenderungan bahwa dari tahun ke tahun
remaja putri mendapat haid pertama pada usia 12-14 tahun.
Santrock (1998), menyatakan bahwa beragam reaksi yang muncul saat
menarche, menggambarkan reaksi positif dan negatif. Reaksi positif terhadap
menarche menandakan

kedewasaan seorang remaja putri. Reaksi negatif

disebabkan oleh ketidaktahuan dan ketidaksiapan saat menghadapimenarche.


Sebagian remaja putri mengalami ketidaknyamanan fisik, tingkah laku
menjadi tidak bebas atau terbatas, karena adanya perubahan emosional
berkaitan dengan menarche (Ninawati,2006).
Remaja putri mungkin memiliki pengetahuan yang sedikit atau tidak
adanya informasi sama sekali mengenai menarche, yang mencakup datangnya

atau kenapa, apabila terjadi akan menyebabkan remaja putri tersebut berpikir
tentang takut kehilangan banyak darah (Ninawati, 2006).
Sarwono (2008) mengatakan bahwa peran orang tua sangat penting dalam
proses pertumbuhan dan perkembangan pada saat masa remaja. Remaja mulai
mengenal berbagai proses seksual yang sedang terjadi pada tubuh dan jiwanya
pertama kali melalui orngtua khususnya, ibu. Umumnya remaja putri akan
memberi tahu kepada ibunya saat mengalami menarche dan sayangnya tidak
semua ibu memberikan informasi yang memadai kepada putrinya. Sebagian
ibu enggan membicarakan secara terbuka sampai remaja mengalami
menarche.
Hasil penelitian Andrias (2010), terhadap siswa kelas VII SMP N 1 Raha
menunjukan bahwa dari 159 siswi kelas VII, sebanyak 83 orang telah
mengalami menarcehe dan 76 siswi belum mengalami menarche, sebagian
besar mengalami rasa takut, khawatir, bahkan timbul rasa malu. Sedangkan
siswi yang belum menarche belum mendapatkan pendidikan kesehatan tentang
menarche, sehingga timbul berbagai perasaan cemas, gelisah, khawatir, dan
rasa tidak nyaman pada remaja putri. Selanjutnya penelitian Nilawati (2013),
yang menyatakan bahwa dari 10 orangputri yang telah mengalami menarche
sebanyak6 orang putri (60%) merasa cemas, dan 4 orang putri (40%) merasa
takut dalam menghadapi menarche.Setelah dilakukan survey lebih lanjut,
remaja putri belum pernah mendapat penjelasan mengenaimenarche.
Penelitian yang dilakukan siswi kelas VI SD N Wilayah desa kiyoten di
peroleh bahwa dari 14 orang siswi, 4 orang siswi yang mengalami menarche
timbul perasaan cemas dan 10 siswi yang belum mengalami menarche mereka
merasa cemas dan takut menghadapai menarche mereka mengatakan belum
pernah mendapatkan materi pendidikan, sebelum mendapat pendidikan
kategori cemas memiliki prevalensi yang tinggi dari pada sesudah diberi
pengetahuan tentang menstruasi pertama yaitu dari 100% menjadi 60,7%
(Lathifah, 2013).
Rifrianti (2013) menyatakan bahwa masalah yang sering muncul pada
menarche hampir sama dengan menstruasi. Hanya saja, faktor ketidaksiapan

remaja putri saat menghadapimenarche menyebabkan masalah yang lebih


berat. Gejala psikologis yang mencolok dikuatkan dengan kondisi menarche
merupakan gambaran tingkat kecemasan yang menakutkan mengenai
menarche yang mulai ditandai dengan emosi yang tidak stabil, sangat mudah
tersingung dan marah, sering dalam keadaan excited atau gempar gelisah.Pada
remaja putri yang belum mengalami menarche, dengan pengetahuan yang
sedikit, juga akan mengalami kecemasan yang berlebihan, hal ini
kemungkinan berkaitan dengan tidak adanya kesiapan remaja saat menghadapi
menarche.
Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka peneliti tertarik untuk
meneliti tentang Gambaran Tingkat Kecemasan Remaja Putri Dalam
Kesiapan Menghadapi Menarche di SMPN 1 Lubuk Pakam.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran tingkat kecemasan remaja putri dalam menghadapin
menarche di SMP Negeri 1 Lubuk Pakam.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan remaja putri dalam
menghadapi menarche di SMP Negeri 1 Lubuk Pakam Tahun 2016.
1.3.2

Tujuan Khusus
1. Mengetahui derajat tingkat kecemasan remaja putri dalam kesiapan
menghadapi menarche di SMP Negeri 1 Lubuk Pakam
2. Mengetahui distribusi frekuensi sampel penelitian berdasarkan indikator
kecemasan.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Teoritis

Diharapkan dapat menjadi refrensi bagi penelitian selanjutnya yang


berkaitan dengan tingkat kecemasan remaja putri dalam menghadapi
menarche.
1.4.2

Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi pada
remajadalam rangka meningkatkan wawasan remaja putri dalam menghadapi
menarche sehingga dapat menurunkan tingkat kecemasan remaja.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kecemasan

2.1.1 Definisi Kecemasan


Kecemasan adalah perasaan yang tidak jelas tentang keprihatinan dan
khawatir karena ancaman pada sistem nilai atau pola keamanan seseorang
dalam tingkat yang berbeda (Rifrianti,2013).
Davis dan palladino mengemukan bahwa kecemasan memiliki pengertian
sebagai perasaan umum yang memiliki karakteristik perilaku dan kognitif atau
symptom psikologikal (Saputri, 2012).
Bedasarkan definisi diatas mengenai kecemasan, dapat disimpulkan bahwa
kecemasan merupakan gangguan rasa nyaman yang dirasakan oleh individu
sebagai bentuk reaksi dari suatu ancaman.
2.1.2 Tingkat Kecemasan (ansietas)
Menurut Stuart (2007), tingkat kecemasan sebagai berikut :
a. Ansietas ringan
Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan seharihari, ansietas ini menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan
lapangan persepsinya.
b. Ansietas sedang
Ansietas memungkin individu untuk berfokus pada hal yangpenting dan
mengesampingkan yang lain. Ansietas ini mempersempit lapangan persepsi
inidivu. Individu tidak mengalami perhatian yang selektif namun dapat
berfokus pada lebih banyak area jika diarahkan untuk melakukannya.
c. Ansietas berat
Ansietas berat sangat mengurangi lapang persepsi individu. Individu
cenderung berfokus pada sesuatu yang rinci dan spesifik serta tidak berfikir
tentang hal lain. Semua prilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan.
Individu tersebut memerlukan banyak arahan untuk berfokus pada area lain.
d. Tingkat panik
Tingkat panik dari ansietas berhubungan dengan terperangah, ketakutan,
dan teror. Hal ini yang rinci terpecah dari proporsinya. Individu yang
mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan arahan.
Panik mencakup disorganisasi kepribadian dan menimbulkan peningkatan

aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang


lain, persepsi yang menyimpang, dan kehilangan pemikiran yang rasional
(Rifrianti 2013).
2.1.3 Pengukuran kecemasan
Penilaian Tingkat Kecemasan Zung Self-Rating Anxiety Scale (SAS/SRAS)Zung
Self-Rating Anxiety Scale (SAS/SRAS) adalah penilaian kecemasan pada pasien
yang dirancang oleh William W.K.Zung, dikembangkan berdasarkan gejala
kecemasan dalam diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSMII).Terdapat 20 pertanyaan, dimana setiap pertanyaan dinilai 1-4 (1: jarang sekali,
2: jarang, 3: kadang-kadang, 4: sering). Terdapat 15 pertanyaan ke arah
peningkatan kecemasan dan 5 pertanyaan ke arah penurunan kecemasan (Zung
Self-Rating Anxiety Scale dalam Ian mcdowell, 2006).Rentang penilaian 20-80,
dengan pengelompokan antara lain : (a) Skor 20-44 : tidak cemas, (b) Skor 45-59 :
kecemasan ringan, (c) Skor 60-74 : kecemasan sedang, (d) Skor 75-80 :
kecemasan berat.
2.2 Remaja
2.2.1 Pengertian Remaja
Secara etiomologi, remaja berarti tumbuh menjadi dewasa. Menurut
organisasi kesehatan dunia (WHO) adalah periode usia antara 10-19 tahun
sedangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut kaum muda (youth)
untuk usia antara 15-24 tahun. Sementara itu, menurut the helth resources and
services administrations guidelinesAmerika Serikat, rentang usia remaja adalah
11-21 tahun dan terbagi menjadi tiga tahap, yaitu remaja awal (11-14 tahun);
remaja menengah (15-17 tahun); dan remaja akhir (18-21 tahun). Definisi ini
kemudian disatukan dalam terminologi kaum muda (young people) yang
mengcakup usia 10-24 tahun (Amanda, 2013).
Definisi remaja sendiri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang,yaitu:
1.

Secara kronologis, remaja adalah individu yang berusia antara 11-12


tahun sampai 20-21 tahun;

2. Secara fisik, remaja ditandai ciri perubahan pada penampilan fisik dan
fungsi fisiologis, terutama yang terkait dengan kelenjar seksual;
3. Secara psikologi, remaja merupakan di mana individu mengalami
perubahan-perubahan dalam aspek kognitif, emosi, sosial, dan moral,di
antara masa anak-anak menuju masa dewasa.
Gunarsa (1978) dalam Saputri (2012). Mengungkapkan bahwa masa
remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, yang
meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa
dewasa.
Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa remaja adalah
masa yang penting dalam perjalanan kehidupan manusia. Golongan umur ini
penting menjadi jembatan antara masa kanak-kanak yang bebas menuju masa
dewasa yang menuntut tanggung jawab.
2.2.2

Ciri-ciri Umum Masa Remaja


Menurut Hurlock (1980: 207-209) dalam Atika (2013) menyebutkan

ciri-ciri remaja yaitu sebagai berikut.


1. Sebagai periode peralihan
Peralihan adalah proses perkembangan dari satu tahap berikutnya. Apa
yang tertinggal pada satu tahap akan memberikan dampak masa yang akan
datang. Osterrieth mengatakan bahwa, struktur pisikis dari remaja ialah
kelanjutan dari perkembangan masa pubertas.
2. Periode Mencari Identitas Diri
Remaja selalu mencari identitas diri guna menjelaskan siapa dirinya, apa
perannya, apakah dia masih kanak-kanak atau telah menjadi dewasa, apakah
siap menjadi suami atau istri, apakah percaya diri dengan latar belakang
berbeda (atika, 2013).
2.2.3

Perkembangan Remaja
Menurut Depkes (2007), perkembangan remaja perempuan dan laki-laki,

yaitu :

Anak perempuan mulai tumbuh pesat fisiknya pada usia 10 tahun dan
paling cepat terjadi pada usia 12 tahun. Sedangkan pada laki- laki, 2 tahun
lebih lambat mulainya, namun setelah itu bertambah tinggi 12-15cm dalam
tempo 1 tahun pada usia 13 tahun sampai menjelang 14 tahun. Pertumbuhan
fisik perempuan meliputi : (a) Pinggul membesar; (b) Pertumbuhan rahim dan
vagina; (c) Menstruasi awal; (d) Pertumbuhan buah dada (payudara)
Saat pubertas, buah dada berkembang. Pertumbuhan buah dada dapat
dipakai sebagai salah satu indikator maturitas perempuan (Rifrianti, 2013).
2.3 Menarche
2.3.1 Definisi
Menstruasi pertama (menarche) adalah saat haid/menstruasi yang datang
pertama kali pada seorang wanita yang sedang menginjak dewasa. Usia remaja
putri pada waktu mengalami menarche berbeda-beda, sebab hal itu tergantung
kepada faktor genetik (keturunan), bentuk tubuh, serta gizi seseorang.
Umumnya menarche terjadi pada usia 10-15 tahun, tetapi rata-rata terjadi pada
usia 12 tahun. (Sarwono,2007).
Menarcheadalah haid pertama terjadi akibat proses sistem hormonal yang
kompleks. Menarche merupakan suatu tanda bahwa remaja putri telah
mengalami perubahan didalam dirinya (Rifrianti,2013).
2.3.2 Siklus Menarche
Pada saat seorang bayi perempuan dilahirkan ovarium mengandung
ratusan ribu sel telur tetapi belum berfungsi, ketika seorang perempuan
memasuki usia pubertas dan terjadi proses yang disebut siklus menstruasi
(jarak antara lain hari pertama menstruasi bulan ini dengan hari pertama
menstruasi bulan berikutnya). Siklus terjadi perubahan pada dinding rahim
sebagai akibat dari reproduksi hormon-hormon oleh ovarium, yaitu dinding
rahim makin menebal sebagai persiapan jika terjadi kehamilan.ketika ada sel
telur yang matang akan mempunyai potensi untuk dibuahi oleh sperma hanya
dalam 24 jam. Bila ternyata tidak terjadi pembuahan maka sel telur akan mati
dan terjadilah perubahan pada komposis kadar hormon yang akhirnya membuat

10

dinding rahim tadi akan luruh disertai perdarahan, inilah yang disebut
menstruasi. (Sarwono,2007).
2.3.3

Gejala Menarche
Perasaan bingung, gelisa, tidak nyaman selalu menyelimuti perasaan

seorang wanita yang megalami menstruasi untuk pertama kali (menarche).


Menstruasi pertama atau menarche adalah hal yang wajar pasti dialami oleh
setip wanita normal dan tidak perlu digelisahkan. Namun hal ini akan semakin
parah apabila pengetahuan remaja mengenai menstruasi sangat kurang dan
pendidikan dari orang tua yang kurang. Gejala lain yang dirasakan yaitu sakit
kepala, pegal-pegal dikaki dan dipinggang untuk beberapa jam, kram perut dan
sekitar perut. Sebelum periode ini terjadi, biasanya ada beberapa perubahan
emosional seperti perasaan suntuk, marah dan sedih yang disebabkan oleh
adanya pelepasan beberapa hormon (Hawari, 2002).
2.3.4

Mekanisme Menarche
Hormon steroid estrogen dan progesteron mempengaruhi pertumbuhn

endometrium. Dibawah pengaruh estrogen endometrium memasuki fase


proliferasi, sesudah ovulasi, endometrium memasuki fase sekresi. Dengan
menurunnya kadar estrogen dan progesteron pada akhir siklus haid, terjadi
regresi endometrium yang kemudian ikuti oleh perdarahan yang terkenal
dengan nama Haid (Sarwono, 1983).
2.3.5 Faktor yang Mempengaruhi Menarche
1. Faktor hormonal
Proses terjadinya menstruasi pada seorang wanita dipengaruhi oleh empat
hormon, antara lain: follicle stimulating hormone (FSH) dan luteneizing
hormone (LH) yang menghasilkan oleh hipofisi, hormon estrogen dan
progesteron yang dihasilkan oleh ovarium.
2. Faktor enzim
Hidrolitik yang terdapat dalam endometrium merusak sel yang berperan
dalam sintesis protein, yang mengamggu metabolisme sehingga mengakibatkan
regresi endometrium dan perdarahan.
3. Faktor Vaskular

11

Saat fase proliferasi, terjadi pembentukan sistem vaskularisasi dalam


lapisan fungsional endometrium. Pada pertumbuhan endometrium ikut tumbuh
pula arteri-arteri, vena-vena dan hubungan diantara keduanya. Dengan regresi
endometrium, timbul statis dalam vena-vena serta saluran-saluran yang
menghubungkannya dengan arteri dan akhirnya terjadi nekrosis dan perdarahan
dengan pembentukan hematoma, baik arteri maupun vena.
4. Faktor Prostaglandin
Endometrium mengandung prostaglandin E2 dan F2. Dengan adanya
desintegrasi endometrium, prostaglandin terlepas dan menyebabkan kontraksi
miometrium sebagai suatu faktor untuk membatasi perdarahan mentruasi
(Junita,2013).
2.3.6 Kecemasan Menghadapi Menarche Pada Remaja Putri
Menurut Santrock (1998), beragam reaksi yang didapat saat anak
mengalami menarche, kebanyakan dari mereka mengalami reaksi tersebut
sifatnya biasa saja, dan menggambarkan reaksi terhadap menstruasi pertama
kali sedikit mengecewakan, mengejutkan, menyenangkan dan positif. Reaksi
positif terhadap menarche disebabkan menarche merupakan tanda kedewasaan
seorang anak perempuan. Reaksi posotif lainnya mengatakan bahwa anak
perempuan yang sudah mengalami menarche, dapat memiliki anak dan hal
tersebut merupakan tanda seorang wanita dewasa. Sedangkan reaksi negatif
disebabkan oleh kerepotan dan ketidakbersihan dari menarche. Sebagian anak
perempuan juga mengatakan bahwa menarche menyebabkan ketidaknyamanan
fisik, tingkah laku menjadi tidak bebas atau terbatas, dan menyebabkan
perubahan emosional (Ninawati, 2006).
Kartono (1995), Beberapa anak perempuan merasa malu ketika mereka
pertama kali mentsruasi. Mereka mungkin memiliki pengetahuan yang sedikit
atau barangkali tidak ada informasi sama sekali mengenai menarche, tanpa
informasi yang tepat dan tiada kesiapan akan menimbulkan kecemasan dan
ketakutan pada anak perempuan yang kemudian diperkuat dengan keinginan
untuk menolak proses fisiologi menstruasinya. Oleh karena itu tidak jarang
terjadi, bahwa karena menstruasi pertama, anak perempuan lalu tidak

12

mendapatkan menstruasinya lagi selama beberapa bulan. Hal ini disebabkan


oleh timbulnya penolakan anak perempuan tersebut secara tidak sadar akibat
rasa cemas, yang kemudian diperkuat oleh rasa ketakutan (Ninawati, 2006).

4.4 Kerangka Konsep

Remaja
Putri

Seks
Primer

Seks
Sekunder

Menarche
Rata rata usia
menarche 1214
Tingkat
kecemasa

Tidak ada
kecemasa
n
Kecemasa
n Ringan
Kecemasa
n Sedang

13

Kecemasa
n Berat

Mengukur tingkat
kecemasan
menggunakan Zung
Anxiety Scale

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan
pendekatan deskriptif. Menurut Sastroasmoro (2013), pada penelitian deskriptif
penelitian hanya melakukan deskripsi mengenai fenomena yang ditemukan.
Penelitian deskriptif juga dapat didefinisikan sebagai suatu penelitian yang
dilakukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu fenomena yang
terjadi didalam masyarakat serta menguarai suatu keadaan didalam suatu
komunitas (Notoadmojo, 2012).
Penelitian menganggap pendekatan deskriptif ini tepat digunakan untuk
penelitian karena didasarkan pada tujuan penelitian, yaitu ingin mengetahui
tentang bagaimana gambaran tingkat kecemasan remaja putri kesiapan
menghadapi menarche.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Menurut data yang diperoleh dari Survei Nasional menunjukkan rata-rata
usia menarche kebanyakan wanita Indonesia adalah 12-14 tahun yang telah
mengalami menarche, yang mencapai 31,33 % (Sipayung, 2014). Sehingga

14

peneliti menganggap SMP N 1 Lubuk pakam tempat penelitian, yang di


lalukan pada bulan Juni 2015 Agustus 2016.
Dalam penelitian ini diuraikan langkah-langkah kegiatan mulai dari
penyusunan proposal penelitian, sampai dengan penulisan laporan penelitian
serta waktu berjalan atau berlangsung tiap kegiatan tersebut.
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
3.3.1 Populasi Penelitian
Menurut Notoadmojo (2013), populasi adalah keseluruhan objek penelitian
atau objek yang diteliti. Selanjutnya Sastroasmojo (2013), mendefinisikan
populasi sebagai sejumlah besar subjek yang mempunyai karakteristik tertentu.
Populasi dalam penelitian ini adalah remaja putri yang berusia (12-14
tahun) di SMP NEGERI 1 Lubuk Pakam.
3.4 Teknik Pengambilan Sampel
Dalam penelitian ini teknik penentuan pengambilan sampel yang
digunakan peneliti adalah total sampling yaitu tehnik penentuan responden
bila semua anggota populasi digunakan sebagai responden. Dalam penelitian
ini yang menjadi responden yaitu sebanyak 75 orang remaja putri di SMP N 1
Lubuk Pakam yang belum menarche.
3.7 Variabel Penelitian
Variabel adalah gejala yang bervariasi (Hadi dalam Arikunto, 2010).
Gejala yang di maksud adalah objek penelitian. Jadi, variabel adalah objek
penelitian yang bervariasi.Variabel dalam penelitian ini adalah tingkat
kecemasan.
3.8 Definisi Operasional
Agar variabel dapat diukur dengan menggunakan instrumen atau alat
ukur,maka variabel harus diberi batasan atau definisi yang operasional
(definisi operasional variabel). Definisi operasional adalah uraian tentang

15

batasan variabel yang dimaksud, atau tentang apa yang diukur oleh variabel
yang bersangkutan (Notoadmojo, 2010).
Selain variabel harus didefinisikan operasionalkan juga perlu dijelaskan
cara atau metode pengukuran, hasil ukur atau kategorinya, serta kuesioner
pengukuran yang digunakan (Notoadmojo, 2010).
Definisi operasional dari tingkat kecemasan adalah perasaan yang tidak
enak, khawatir, gelisah, dan takut, tidak nyaman dan berbagi keluhan fisik dan
psikologis yang dialami secara objektif dan dapat dikomunikasi secara
interpersonal, yang diukur melalui skala.

3.9 Instrumen Penelitian


Instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan untuk
pengumpulan data (Notoatmodjo, 2010). Penelitian menggunakan instrumen,
yakni skala yang diadopsi dari penelitian Junita (2013) dalam skripsinya yang
berjudul Faktor-Faktor Penyebab Kecemasan dan Tingkat Kecemasan
Remaja Putri Saat Mengalami Menarche Di SMP NEGERI 10 MEDAN.
Skala ini telah di Uji Validitas dan Uji Reliabilitas untuk menunjukkan alat
ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur dan dapat dipercaya atau
dapat diandalkan (Notoatmodjo, 2010).Pengujian validitas dilakukan dengan
menggunakan nilai CVI (Content Validity Index) dari instrument penelitian
yang didapat dari content validity pada pertanyaan gambaran tingkat
kecemasan remaja putri saat mengalami menarche adalah 0,9. Sedangkan Uji
Reliabilitas dilakukan dengan menggunakan rumus Cronbachs alpha. Uji
reliabilitas dilakukan kepada 15 responden yang diteliti. Nilai koefisien yang
didapatkan untuk pertanyaan gambaran tingkat kecemasan remaja putri saat
mengalami menarche adalah 0,743.
Kuesioner tingkat kecemasan remaja putri saat mengalami menarche di
modifikasi dari Zung Anxiety Scale (SAS) untuk mengukur tingkat kecemasan
akibat gangguan klinis yang dikembangkan oleh William W.K Zung. Skala ini
berfokus pada fokus pada gangguan yang paling umum terjadi pada

16

kecemasan umum yang terdiri dari 20 pertanyaan dengan 15 pertanyaan


peningkatkecemasan pada pertanyaan nomor (1,2,3,4,7,9,10,11,12,13,14,15,
16,17,19)memiliki skala 1-4 dan skor 1 (jarang sekali) 2 (jarang), 3 (kadangkadang), 4 (sering) dan 5 pertanyaan kecemasan menurun pada pertanyaan
nomor (5,6,8,18,20) memiliki skala 4 (sering), 3 (kadang-kadang), 2 ( jarang),
1 (jarang). Derajat kecemasan : (a) 20-44 = Tidak cemas; (b) 45-59=
Kecemasan ringan; (c) 60-74= Kecemasan sedang; (d) 75-80= Kecemasan
berat.

3.10 Etika Penelitian


Penelitian ini diawali dengan mengurus surat pengantar penelitian dan
surat lolos uji etik dari Komite Etik Penelitian di FK-UISU Al-Manar.Setelah
mendapat persetujuan, kemudian peneliti memilih calon responden sesui
dengan teknik sampel yang digunakan.
Selanjutnya, peneliti meminta kesediaan dan persetujuan calon responden
untuk menjadi responden penelitian.
Dalam penelitian ini sangat diperhatikan etika penelitian karena
penelitian ini berhubangan dengan manusia secara langsung. Etika yang perlu
diperhatikan menurut Alimul (Navianti, 2011) yaitu :
1. Informed Consent
Salah satu aspek penting dalam kode etik adalah keharusan adanya
informed consent (persetujuan setelah penjelasan) dari manusia yang
digunakan dalam percobaan (Sastroasmoro, 2013).
Lembar diberikan sebelum penelitian dilaksanakan agar responden
mengerti maksu dan tujuan penelitian. Responden mendatangi lembar
persetujuan dihadapan peneliti untuk selanjutnya mengisi kuesioner yang telah
disediakan.
2. Anonimity (tanpa nama)
Peneliti tidak boleh menampilkan informasi mengenai identitas baik nama
maupun alamat asal responden dalam alat ukur apapun untuk menjaga

17

anonimitas dan kerahasiaan identitas responden. Peneliti hanya menuliskan


kode pada lembar pengumpulan data agar tidak terjadi pengulangan data yang
sama.
3. Confidentiality (kerahasiaan)
Penelitian menjamin kerahasiaan hasil penelitian dari semua informasi
yang telah dikumpulkan. Penelitian mengolah data yang sesuai dengan
kepentingan penelitian. Data yang didapatkan tidak dipublikasihkan kepada
orang lain diluar kepentingan penelitian.

3.11 Analisis Data


Setelah semua data terkumpul, selanjutnya data tersebut akan diolah
dengan menggunakan bantuan computer program.
Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistic deskriptif
yaitu statistic yang berfungsi untuk mendeskripsikan objek yang diteliti melalui
data sampel serta membuat kesimpulan yang bersifat umum (Syaban. 2005).
Dalam analisis statistic deskriptif, peneliti akan mengemukakan cara
penyajian data melalui table maupun distribusi frekuensi ke dalam bentuk
laporan, yang kemudian akan ditampilkan dalam bentuk diagram garis,
diagram batang atau diagram lingkaran.( Syaban, 2005).