Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. AR

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Tanggal Lahir

: 2 Juni 1968 (48 tahun)

Status Perkawinan

: Menikah

Agama

: Islam

Warga Negara

: Indonesia

Pekerjaan / Sekolah

: Karyawan SPBU / SMP

Alamat / No. Tlp

: Lampa Timur, Pinrang / 085757576385

No. Status / No. Reg

: 067082

Masuk RS Tanggal

: 17 Oktober 2016

LAPORAN PSIKIATRIK
Diperoleh dari catatan medis, autoanamnesis, dan alloanamnesis dari:

I.

Nama

: Ny. S

Umur

: 40 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Pendidikan Terakhir

: D3

Pekerjaan

: Guru

Alamat

: Lampa Timur, Pinrang

Hubungan dengan pasien

: Istri

RIWAYAT PENYAKIT
A. Keluhan Utama
Berdebar-debar
B. Riwayat Gangguan sekarang
a. Keluhan dan Gejala
Pasien merasa sering berdebar-debar kurang lebih sejak 1 tahun
yang lalu dan memberat dalam 4 hari terakhir. Rasa berdebar-debar

disertai dengan sesak seperti tercekik, nyeri dada, nyeri ulu hati, mual,
keringat dingin, gemetar, tidak bisa jalan, dan rasa ketakutan hebat seperti
mau mati. Serangan muncul terutama ketika pasien merasa cemas, berada
di tempat keramaian, berada sendirian di rumah, atau mendengar kabar
duka. Serangan biasanya berlangsung tidak lebih dari 30 menit, namun
masih terdapat perasaan tidak enak dan takut sampai beberapa saat setelah
serangan berhenti. Frekuensi terjadinya serangan awalnya kurang lebih
sebulan sekali, namun akhir-akhir ini meningkat dapat sampai beberapa
kali sehari. Apabila serangan muncul, pasien terkadang sampai berteriak
dan merasa akan terkena serangan jantung.
Awalnya pasien sering merasa nyeri ulu hati. Sejak 1 tahun
terakhir, pasien mulai sering merasa tidak enak seperti akan jatuh saat
bekerja mengantarkan uang ke SPBU sehingga sering harus berhenti di
tengah perjalanan. Lama-kelamaan keluhan dirasakan makin parah dan
pasien merasa sulit berkonsentrasi dan sulit tidur, sehingga 2 bulan
terakhir pasien harus berhenti bekerja di lapangan dan berganti bekerja di
kantor. Karena seringnya serangan terjadi saat pasien berada di keramaian,
pasien menjadi takut berada di keramaian dan mulai menghindari keluar
rumah dan berkumpul bersama teman dan keluarga. Pasien juga sering
merasa takut apabila bepergian seorang diri atau ditinggal sendiri di rumah
karena khawatir serangan muncul lagi dan tidak ada yang menolong
sehingga sering menelepon istri untuk segera pulang. Pasien merasa
trauma dan sering merasa cemas dan takut kalau-kalau serangan muncul
kembali.
Pasien sudah pernah memeriksakan diri ke dokter penyakit dalam
dan dinyatakan menderita maag. Hasil laboratorium pasien menunjukkan
kolesterol yang tinggi yaitu 277 dan gula darah yang rendah yaitu 60.
Pasien juga sudah di-USG dan dinyatakan tidak ada kelainan. Hasil
pemeriksaan tekanan darah pasien saat itu 140 dan akhir-akhir ini sering
naik sampai 160. Karena keluhan dirasakan makin parah, pasien kemudian
memeriksakan diri ke poliklinik jiwa RSUH pada tanggal 30 September
2016 dan didiagnosis menderita Panic Disorder serta diberi obat

Alprazolam 0,5 mg - - 1, Ranitidin 2 x 1, dan Domperidon 1 mg 3 x 1


namun pasien merasa tidak ada perbaikan. Pada kunjungan tanggal 10
Oktober 2016 pasien didiagnosis menderita Episode Depresi Ringan
dengan Gejala Somatik + Ansietas YTT dan diberi obat Fluoxetin 20 mg 1
x 1 pagi hari dan Alprazolam 1 mg - - 1. Pasien kemudian merasa
membaik. Namun pengobatan terputus 4 hari yang lalu akibat obat habis
dan serangan kemudian muncul sampai beberapa kali sehari. Akibatnya
pasien tidak dapat bekerja seperti biasa.
Pasien sendiri mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab
serangan-serangan panik tersebut muncul. Pasien mengaku cukup tertekan
dengan pekerjaan lapangan dan jadwal kerja 12 jam sehari yang sering
membuatnya lembur dan jarang berkumpul bersama keluarga. Pasien juga
mengaku hubungan antaranggota keluarga di rumah dan hubungan dengan
teman-temannya baik. Pasien merasa stres setelah memeriksakan diri ke
dokter penyakit dalam dan sering terbayang-bayang memikirkan
penyakitnya yang banyak dan tak kunjung membaik. Pasien tidak
mempunyai riwayat penyakit keluarga dengan gejala yang sama. Pasien
tidak merokok, tidak mengonsumsi minuman beralkohol, dan tidak pernah
menggunakan obat-obatan terlarang.
b. Hendaya/disfungsi
Hendaya sosial (+)
Hendaya pekerjaan (+)
Hendaya waktu senggang (+)
c. Faktor Stressor Psikososial
Tidak Jelas
d. Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat fisik sebelumnya
Trauma (-)
Infeksi (-)
Kejang (-)
Merokok (-)
Alkohol (-)
C. Riwayat Gangguan Sebelumnya

1. Riwayat

penyakit

fisik:

Dispepsia,

Hipertensi

Grade

2,

Hiperkolesterolemia
2. Riwayat penggunaan NAPZA: tidak ada
3. Riwayat gangguan psikiatri sebelumnya: tidak ada
D. Riwayat Kehidupan Pribadi
a. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Pasien lahir pada tanggal 2 Juni 1968 di rumah dengan persalinan
normal dan dibantu oleh dukun. Lahir cukup bulan, tidak ditemukan
cacat lahir ataupun kelainan bawaan, berat badan lahir dan riwayat
mengonsumsi ASI tidak diketahui. Selama hamil ibu pasien dalam
keadaan sehat dan tidak mengonsumsi obat-obatan. Pada saat bayi
pasien tidak pernah demam tinggi ataupun kejang. Pertumbuhan dan
perkembangan baik.
b. Riwayat Masa Kanak Awal (Usia 1-3 tahun)
Perkembangan masa kanak-kanak awal pasien seperti berjalan dan
berbicara baik, perkembangan bahasa dan perkembangan motorik
berlangsung baik. Pasien sering bermain dengan teman seusianya.
Tidak ada masalah perilaku yang menonjol. Kebiasaan makan pasien
baik. Pola tidur baik. Hubungan antarsaudara baik.
c. Riwayat Masa Kanak Pertengahan (Usia 4-11 tahun)
Pasien tinggal bersama kedua orang tua dan cukup mendapatkan kasih
sayang. Pada usia 6 tahun pasien masuk SD. Perkembangan di sekolah
baik. Pasien melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP dan tamat SMP.
d. Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja (Usia 12-18 tahun)
Pasien tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA karena terhambat
masalah biaya. Pergaulan dengan teman-teman baik.
e. Riwayat Masa Dewasa
- Riwayat Pekerjaan: Sekarang pasien bekerja sebagai karyawan SPBU
- Riwayat Pernikahan: Pasien telah menikah dan memiliki 2 orang anak
- Riwayat Agama: Pasien memeluk agama Islam dan menjalankan
-

ibadah agama dengan cukup baik


Riwayat Pelanggaran Hukum: Selama ini pasien tidak pernah terlibat
masalah hukum

Aktivitas Sosial: Pasien dikenal sebagai orang yang cukup pendiam,


namun hubungan dengan keluarga dan teman-temannya baik

E. Riwayat Kehidupan Keluarga

Pasien merupakan anak ke 1 dari 5 bersaudara (, , , , )

Hubungan dengan anggota keluarga baik

Pasien telah menikah dan memiliki 2 orang anak (, )

Pasien tinggal bersama istri dan anak-anaknya

Tidak ada riwayat keluhan yang sama dalam keluarga pasien

F. Situasi Sekarang
Saat ini pasien tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Hubungan
dengan keluarga saat ini baik.
G. Persepsi Pasien Tentang Diri dan Kehidupannya
Pasien ingin cepat sembuh dan ingin melihat anak-anaknya tumbuh
besar dan sukses.
II.

STATUS MENTAL
A. Deskripsi Umum
a) Penampilan: Tampak seorang laki-laki berambut pendek warna hitam,
wajah sesuai umur, memakai kaos lengan pendek warna hitam
bergambar sepasang sepatu, celana panjang jeans berwarna abu-abu,
perawakan sesuai umur, dan perawatan diri baik, ada tanda-tanda
kecemasan yang berubah-ubah selama wawancara (dengan topik
khusus).
b) Kesadaran:
Kuantitas = GCS 15 (Compos mentis)
Kualitas

= Tidak berubah

c) Perilaku dan aktivitas psikomotor: Agak gelisah, kontak mata cukup


d) Pembicaraan: Spontan, lancar, intonasi biasa
e) Sikap terhadap pemeriksa: Kooperatif
B. Keadaan Afektif (Mood), Perasaan, Empati dan Perhatian
a) Mood: Cemas
b) Afek: Cemas
c) Keserasian: Serasi
5

d) Empati: Dapat dirabarasakan


C. Fungsi Intelektual (Kognitif)
1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan: Sesuai dengan
tingkat pendidikan
2. Daya konsentrasi: Baik
3. Orientasi
-

Waktu
Tempat
Orang

: Baik
: Baik
: Baik

4. Daya ingat:
- Jangka Panjang
: Baik
- Jangka Pendek
: Baik
- Jangka Segera
: Baik
5. Pikiran abstrak
: Baik
6. Bakat kreatif
: Tidak ada
7. Kemampuan menolong diri sendiri: Baik
D. Gangguan Persepsi
1. Halusinasi

: Tidak ada

2. Ilusi

: Tidak ada

3. Depersonalisasi

: Tidak ada

4. Derealisasi

: Tidak ada

E. Proses Berpikir
1. Arus pikiran
a. Produktivitas

: Cukup

b. Kontinuitas

: Relevan, koheren

c. Hendaya berbahasa

: Tidak ada

2. Isi pikiran
a. Preokupasi

: Seperti mau mati

b. Gangguan isi pikiran

: Tidak ada

F. Pengendalian Impuls
Baik
G. Daya Nilai
-

Norma sosial

: Baik

Uji daya nilai

: Baik

Penilaian realitas

: Baik
6

H. Tilikan (Insight)
Derajat VI (pasien merasa dirinya sakit dan butuh pengobatan)
I. Taraf Dapat Dipercaya
Dapat dipercaya
III.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


1. Status Internus

Kesadaran compos mentis, tekanan darah 150/90 mmHg, frekuensi nadi 96


kali/menit, frekuensi pernapasan 22 kali/menit, suhu 36,5oC. Konjungtiva
tidak anemis, skelera tidak ikterus, jantung, paru, abdomen dalam batas
normal, ekstremitas atas dan bawah tidak ada kelainan.
2. Status Neurologis
GCS: E4M6V5, gejala rangsang selaput otak: tidak dilakukan, pupil bulat
isokor 2,5 mm / 2,5 mm, refleks cahaya (+/+), fungsi motorik dan sensorik
keempat ekstremitas dalam batas normal. Tidak ditemukan refleks
patologis. Tanda ekstrapiramidal: tremor tangan tidak ada, cara berjalan
normal, keseimbangan baik. Kesan: normal.
3. Pemeriksaan Penunjang
-

Pemeriksaan skala ukur kecemasan dengan Hamiltons Rating Scale for


Anxiety (HARS) didapatkan total skor 26. Interpretasi: ansietas sedang.

Pemeriksaan dengan Hamiltons Depression Rating Scale (HDRS)


didapatkan total skor 22. Interpretasi: depresi berat.

Pemeriksaan level Salivary -Amylase (sAA Level) didapatkan nilai 127,


dengan nilai rujukan 8.

IV.

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Seorang laki-laki umur 48 tahun datang ke Poliklinik Jiwa RSUH
dengan keluhan utama berdebar-debar yang dirasakan sejak kurang lebih 1
tahun yang lalu dan memberat dalam 4 hari terakhir. Keluhan disertai dengan
sesak seperti tercekik, nyeri dada, nyeri ulu hati, mual, keringat dingin,
gemetar, tidak bisa jalan, dan rasa seperti mau mati. Serangan muncul
terutama ketika pasien merasa cemas, berada di tempat keramaian, berada
sendirian di rumah, atau mendengar kabar duka. Akhir-akhir ini pasien
mengeluh sulit berkonsentrasi dan sulit tidur. Pasien pernah memeriksakan

diri ke dokter penyakit dalam dan didiagnosis maag. Pasien sudah pernah
berkunjung ke poliklinik jiwa sebelumnya dan didiagnosis dengan Panic
Disorder, kemudian Episode Depresi Ringan dengan Gejala Somatik +
Ansietas YTT. Pasien membaik dengan obat Fluoxetin dan Alprazolam,
namun memburuk lagi dalam 4 hari terakhir karena kehabisan obat. Akibat
penyakitnya, pasien kini tidak dapat bekerja di lapangan lagi dan sering takut
apabila berada di keramaian, bepergian seorang diri, ditinggal sendiri di
rumah, dan menghindari keluar rumah. Tidak ada riwayat penyakit dengan
keluhan sama di keluarga pasien.
Dari pemeriksaan status mental tampak seorang laki-laki berambut
pendek warna hitam, wajah sesuai umur, memakai kaos lengan pendek warna
hitam bergambar sepasang sepatu, celana panjang jeans berwarna abu-abu,
perawakan sesuai umur, dan perawatan diri baik, ada tanda-tanda kecemasan
yang berubah-ubah selama wawancara (dengan topik khusus). Kesadaran
compos mentis dan tidak berubah, aktivitas motorik agak gelisah, kontak
mata cukup. Pembicaraan spontan, lancar, intonasi biasa dan sikap terhadap
pemeriksa kooperatif. Mood cemas, afek cemas, empati dapat dirabarasakan.
Taraf pendidikan, pengetahuan umum, dan kecerdasan sesuai dengan tingkat
pendidikan. Daya konsentrasi, orientasi, daya ingat, pikiran abstrak baik serta
kemampuan menolong diri baik. Tidak didapatkan gangguan persepsi. Arus
pikiran produktivitas cukup, kontinuitas relevan dan koheren, hendaya
berbahasa tidak ada. Isi pikiran ada preokupasi seperti mau mati, ganggun
isi pikir tidak ada, pengendalian impuls tidak terganggu. Norma sosial, uji
daya nilai, penilaian realitas tidak terganggu. Tilikan derajat VI, pasien
merasa dirinya sakit dan butuh pengobatan. Taraf dapat dipercaya.
Dari pemeriksaan skala ukur kecemasan dengan Hamiltons Rating
Scale for Anxiety (HARS) didapatkan total skor 33, interpretasi ansietas berat.
Hasil pemeriksaan dengan Hamiltons Depression Rating Scale (HDRS)
didapatkan total skor 22. Interpretasi: depresi berat. Hasil pemeriksaan level
Salivary -Amylase (sAA Level) didapatkan nilai 127, dengan nilai rujukan 8.

V.

EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I
Berdasarkan autoanamnesis, alloanamnesis, dan pemeriksaan status
mental, ditemukan adanya gejala klinis yang bermakna berupa gejala
peningkatan aktivitas otonomik dan rasa seperti mau mati. Keadaan ini
menimbulkan penderitaan (distress) pada dirinya dan keluarga serta terdapat
hendaya (disability) pada fungsi pekerjaan, sosial, dan penggunaan waktu
senggang sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien menderita gangguan
jiwa. Karena tidak didapatkan hendaya dalam menilai realita, sehingga
pasien digolongkan sebagai Gangguan Jiwa Non-Psikotik. Berdasarkan
hasil pemeriksaan status internus dan pemeriksaan neurologis tidak
ditemukan adanya kelainan yang mengindikasikan gangguan medis umum
yang dapat menimbulkan gangguan otak, sehingga penyebab organik dapat
disingkirkan sehingga dan dapat dikategorikan sebagai Gangguan Jiwa
Non-Psikotik Non-Organik.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis yang didapatkan, pasien
merasa berdebar-debar, sesak seperti tercekik, nyeri dada, nyeri ulu hati,
mual, keringat dingin, gemetar, tidak bisa jalan, dan rasa seperti mau mati
kurang lebih sejak 1 tahun yang lalu dan memberat dalam 4 hari terakhir.
Keluhan dialami terutama saat cemas, berada di tempat keramaian, berada
sendirian di rumah, atau mendengar kabar duka. Pasien juga takut apabila
bepergian seorang diri, sering menghindari keluar rumah atau berkumpul
bersama keluarga atau teman-temannya, sehingga berdasarkan PPGDJ-III
maka pasien diagnosis Gangguan Panik (F41.0) dan Agorafobia (F40.0).
Axis II
Berdasarkan

informasi

yang

didapatkan

dari

autoanamnesis

dan

alloanamnesis, pasien tidak tergolong ke dalam salah satu ciri kepribadian


khas pada PPDGJ-III.
Axis III
Dispepsia, Hipertensi Grade 2, Hiperkolesterolemia
Axis IV
Stressor psikososial tidak ditemukan

Axis V
GAF Scale 60-51 (gejala sedang, disabilitas sedang)
VI.

DAFTAR PROBLEM

Organobiologik
Tidak ditemukan adanya kelainan fisik yang berhubungan langsung
dengan keluhan utama, namun diduga terdapat ketidakseimbangan
neurotransmitter, maka pasien memerlukan farmakoterapi.

Psikologik
Ditemukan adanya perasaan takut mati dan cemas antisipatorik sehingga
pasien memerlukan psikoterapi.

Sosial
Ditemukan adanya hendaya ringan dalam bidang sosial, pekerjaan, dan
penggunaan waktu senggang maka pasien memerlukan sosioterapi.

VII.

RENCANA TERAPI
-

Psikofarmakoterapi:
R/ Alprazolam 1 mg 3 x 1
R/ Fluoxetin 20 mg 1 x 1 (pagi hari)
Psikoterapi Cognitive and Behavior Therapy yang mencakup dua arahan,

yaitu:
False

belief:

terpusat

pada

kecenderungan

pasien

untuk

menyalahartikan sensasi-sensasi ringan pada tubuh sebagai tanda

serangan panik yang akan segera datang, kiamat, atau kematian.


Information: informasi mengenai serangan panik meliputi penjelasan
kapan serangan panik terjadi, durasinya yang relatif singkat, dan tidak

adanya potensi mengancam nyawa.


Sosioterapi:
Memberikan penjelasan kepada pasien, keluarga pasien, dan orang-orang

di sekitarnya sehingga mereka dapat memberikan dukungan moral dan


menciptakan lingkungan yang kondusif agar dapat membantu proses
penyembuhan.
VIII.

PROGNOSIS

Faktor pendukung:
1. Pasien datang sendiri untuk berobat dan ingin sembuh

10

2. Dukungan dari keluarga yang baik untuk kesembuhan pasien


3. Tidak ada riwayat penyakit yang sama dalam keluarga

Faktor penghambat:
1. Stressor psikososial yang tidak jelas
2. Frekuensi serangan yang sering

Ad vitam
Ad functionam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

Ad sanantionam : dubia ad bonam


IX.

FOLLOW UP
Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakitnya, menilai
efektivitas terapi serta kemungkinan terjadinya efek samping yang tidak
diinginkan.

X.

DISKUSI
Gangguan Panik (F41.0)

Definisi
Istilah panik berasal dari kata Pan. Pan adalah dewa Yunani setengah
hantu yang tinggal di pegunungan dan hutan yang perilakunya sangat sulit diduga.
Pada tahun 1895 deskripsi gangguan panik pertama kali dikemukakan oleh
Sigmund Freud dalam kasus agorafobia. Serangan panik merupakan ketakutan
akan timbulnya serangan serta diyakini akan segera terjadi. Individu yang
mengalami serangan panik berusaha untuk melarikan diri dari keadaan yang tidak
pernah diprediksi.1
Gangguan panik adalah ditandai dengan terjadinya serangan panik yang
spontan dan tidak diperkirakan. Serangan panik adalah periode kecemasan atau
ketakutan yang kuat dan relative singkat (biasanya kurang dari satu tahun), yang
disertai oleh gejala somatik tertentu seperti palpitasi dan takipnea. Frekuensi
pasien dengan gangguan panik mengalami serangan panik adalah bervariasi dari
serangan multiple dalam satu hari sampai hanya beberapa serangan selama
setahun. Di Amerika Serikat, sebagian besar peneliti dibidang gangguan panik

11

percaya bahwa agoraphobia hampir selalu berkembang sebagai suatu komplikasi


pada pasien yang memiliki gangguan panik.1
Epidemiologi
Penelitian epidemiologi telah melaporkan prevalensi seumur hidup untuk
gangguan panik adalah 1,5-5 % dan untuk serangan panik adalah 3 5.6 %.
Sebagai contohnya, satu penelitian terakhir pada lebih dari 1.600 orang dewasa
yang dipilih secara acak di Texas menemukan bahwa angka prevalensi seumur
hidup adalah 3,8 % untuk gangguan panik, 5,6 % untuk serangan panik, dan 2,2
% untuk serangan panik dengan gejala yang terbatas yang tidak memenuhi kriteria
diagnostik lengkap.1
Jenis kelamin wanita 2-3 kali lebih sering terkena dari pada laki-laki,
walaupun kurangnya diagnosis gangguan panik pada laki-laki mungkin berperan
dalam distribusi yang tidak sama tersebut. Perbedaan antara kelompok Hispanik,
kulit putih non-Hispanik, dan kulit hitam adalah sangat kecil. Faktor sosial satusatunya yang dikenali berperan dalam perkembangan gangguan panik adalah
riwayat perceraian atau perpisahan yang belum lama. Gangguan paling sering
berkembang pada dewasa muda - usia rata-rata timbulnya adalah kira-kira 25
tahun. Tetapi baik gangguan panik maupun agorafobia dapat berkembang pada
setiap usia. Sebagai contohnya. gangguan panik telah dilaporkan terjadi pada
anak-anak dan remaja. dan kemungkinan kurang diagnosis pada mereka.1
Etiologi dan Psikodinamika
Faktor Biologik
Penelitian berdasarkan biologik pada Gangguan Panik ditemukan peningkatan
aktivitas saraf simpatis. Penelitian neuroendokrin menunjukkan beberapa
abnormalitas hormon terutama kortisol. Neurotransmitter yang berpengaruh pada
Gangguan Panik adalah Epinefrin, Serotonin, dan Gamma Amino Butyric Acid
(GABA).2
Zat-zat yang bisa menginduksi terjadinya Serangan Panik (Panicogens)
antara lain:

Karbon dioksida (5 s/d 35%)

Sodium laktat dan bikarbonat

12

Bahan neurokimiawi yang bekerja melalui sistem neurotransmitter spesifik


(yohimbin, 2-adrenergik receptor antagonist, mchlorophenylpiperazine/ mCP,
bahan yang berefek serotonergik)

Cholecystokinin dan caffeine

Isoproterenol.2
Zat-zat yang menginduksi serangan panik tersebut diperkirakan bereaksi

mulanya pada baroreseptor kardiovaskular di perifer dan signal ke sistem vagalafferent

terus

ke

nucleus

tractus

solitarii

diteruskan

ke

nucleus

paragigantocellularis di medulla. Terjadinya hiperventilasi pada pasien gangguan


panik mungkin disebabkan hipersensitif akan kekurangan oksigen karena
peningkatan tekanan CO2 dan konsentrasi laktat dalam otak yang selanjutnya akan
mengaktifkan monitor asfiksia secara fisiologis. Bahan neurokimiawi yang
menginduksi panik diduga mempengaruhi sistem noradrenergik, serotonergik dan
reseptor GABA dalam susunan saraf pusat secara langsung.2
Faktor Genetik
Keluarga generasi pertama pasien Gangguan Panik 4 8 kali berisiko untuk
menderita gangguan ini. Kembar monozigot risiko lebih besar daripada dizigot.2
Faktor Psikososial

Teori Kognitif Perilaku: kecemasan bisa sebagai satu respon yang dipelajari
dari perilaku orangtua atau melalui proses conditioning klasik yang terjadi
sesudah adanya stimulus luar yang menyebabkan individu menghindari
stimulus tersebut.

Teori Psikososial: serangan panik muncul karena gagalnya pertahanan mental


menghadapi impuls / dorongan yang menyebabkan ansietas. Sedangkan
Agorafobia akibat kehilangan salah satu orangtua pada masa anak-anak dan
adanya riwayat cemas perpisahan. Pengalaman perpisahan traumatik pada
masa anak-anak bisa mempengaruhi susunan saraf yang menyebabkannya
menjadi mudah jatuh kepada anxietas pada masa dewasa. Pasien dengan
riwayat pelecehan fisik dan seksual pada masa anak juga berisiko untuk
menderita Ganggaun Panik.2

Gambaran Klinik

13

Serangan panik menunjukkan beberapa gejala ansietas yang berat dengan


onset cepat. Gejala mencapai puncaknya dalam 10 menit, tapi juga bisa dalam
beberapa detik. Pasien mengeluh nafas pendek, sesak nafas, tremor, pusing,
merasa panas atau dingin, ada depersonalisasi dan derealisasi. Pasien dengan
Serangan Panik akan berulangkali mencari pertolongan, sering dibawa ke Instalasi
Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit. Bila tidak diobati seranga panik akan
berulang dan pasien akan berulangkali mengunjungi dokter atau seringkali dibawa
ke IGD. Lama-lama pasien akan menghindari tempat-tempat atau situasi serangan
paniknya pernah terjadi terutama tempat kegiatan sosial atau tempat dimana susah
untuk menyelamatkan diri. Lama-lama bisa jatuh pada Agorafobia. Serangan
panik akan berkurang di rumah, berada bersama pasangan atau orang yang dikenal
sehingga bisa membantu bila terjadi serangannya.2
Gangguan panik merupakan serangan panik yang berulang-ulang dengan
onset cepat dan durasi sangat singkat. Karena adanya gejala-gejala fisik pada
waktu serangan, pasien menjadi ketakutan mereka akan mendapat serangan
jantung, stroke dan lain-lain.2
Diagnosis
Berdasarkan PPDGJ-III:
Di dalam klasifikasi ini, suatu serangan panik yang terjadi pada suatu
situasi fobik yang sudah dianggap sebagai ekspresi dari keparahan fobia tersebut.
Gangguan panik baru menjadi diagnosis utama bila tidak ditemukan adanya salah
satu gangguan fobia seperti yang tercakup dalam F40.
Untuk diagnosis pasti, beberapa serangan berat dari anxietas otonomik harus
terjadi dalam periode kira-kira satu bulan.
a. Pada keadaan di mana sebenarnya secara objektif tidak ada bahaya.
b. Tidak terbatas hanya pada situasi yang telah diketahui atau yang dapat
diduga sebelumnya.
c. Dengan keadaan yang relatif bebas dari gejala anxietas dalam periode
antara serangan-serangan panik (meskipun sering terjadi juga anxietas
antipatorik), yaitu ansietas yang terjadi setelah membayangkan sesuatu
yang mengerikan akan terjadi.3
Berdasarkan DSM-5-TM:

14

Kriteria diagnosis gangguan panik harus dibuktikan dengan adanya


serangan panik yang berkaitan dengan kecemasan persisten lebih dari 1 bulan
terhadap:
(1) Serangan panik baru
(2) Konsekuensi serangan, atau
(3) Terjadi perubahan yang signifikan berhubung dengan serangan
Selain itu mendiagnosis serangan panik kita harus menemukan minimal 4 gejala
dari 13 gejala berikut ini:

Merasa pusing, tidak stabil berdiri, hingga pingsan

Merasa kehilangan kontrol, seperti mau gila

Takut mati

Leher terasa dicekik

Palpitasi, berdebar-debar, denyut jantung bertambah cepat

Nyeri dada, rasa tidak nyaman di dada

Merasa sesak, nafas pendek

Mual atau distres abdominal

Gemetaran

Berkeringat

Rasa panas di kulit, menggigil

Mati rasa, kesemutan

Derealisasi, depersonalisasi (merasa seperti terlepas dari diri sendiri)


selama serangan panik, pasien senantiasa berkeinginan untuk kabur dan
merasa ajalnya hampir menjelang akibat perasaan tercekik dan berdebardebar.

Gejala lain yang dapat timbul pada serangan panik adalah sakit kepala, tangan
terasa dingin, timbulnya pemikiran-pemikiran yang mengganggu, dan merenung.4
Diagnosis Banding
Diagnosis banding untuk seorang pasien dengan gangguan panik adalah
sejumlah gangguan medis dan juga gangguan mental. Untuk gangguan medis
misalnya infark miokard, hipertiroid, hipoglikemi, dan feokromositoma.
Sementara itu, diagnosis banding gangguan mental untuk gangguan panik adalah
15

pura-pura, gangguan buatan, fobia sosial dan spesifik, gangguan stress pasca
traumatik, dan gangguan depresi.1
Penatalaksanaan
Respon yang lebih baik terhadap pengobatan akan terjadi jika penderita
memahami bahwa penyakit panik melibatkan proses biologis dan psikis. Obatobatan dan terapi perilaku biasanya bisa mengendalikan gejala-gejalanya. Selain
itu, psikoterapi bisa membantu menyelesaikan berbagai pertentangan psikis yang
mungkin melatarbelakangi perasaan dan perilaku cemas.1
Farmakoterapi
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati gangguan panik adalah obat
antidepresan dan anticemas:
Golongan Trisiklik Di antara obat trisiklik, data yang paling kuat menyatakan
bahwa clorpromazin dan imipramin adalah efelktif dalam pengobatan panik.
Pengalam klinis menyatakan bahwa clorpromazin dan imipramin harus dimulai
dari dosis rendah, 10 mg per hari, dan dititrasi perlahan-lahan pada awalnya
dengan 10 mg sehari tiap dua sampai tiga hari, selanjutnya lebih cepat, dengan 25
mg sehari setiap dua sampai tiga hari, jika dosis rendah ditoleransi dengan baik.
Lama pemakaian obat untuk menunjukkan respon adalah 8 sampai 12 minggu.1
Monoamin Oxidase Inhibitors Obat yang biasa digunakan adalah fenelzin.
Beberapa penelitian menyatakan bahwa obat ini lebih efektif dibandingkan
dengan obat golongan trisiklik. Dosis MAOIs harus mencapai dosis untuk
pengobatan depresi, dan uji coba terapeutik harus berlangsung 8 sampai 12
minggu.1
Selective Seratonin Reuptake Inhibitors Digunakan terutama pada pasien
gangguan panik yang disertai dengan depresi. Obat yang biasa digunakan adalah
fluoxetin. Dosis awal dapat serendah 2 atau 4 mg perhari dan harus dinaikkan
dalam 2 sampai 4 mg interval sehari tiap dua sampai empat hari. Tujuannya
adalah untuk mencapai dosis terapeutik sebesar 20 mg sehari. SSRIs lebih disukai
karena efek sampingnya lebih sedikit dan tidak terlalu menyebabkan
ketergantungan fisik.1

16

Benzodiazepin Bekerja lebih cepat daripada antidepresi, tetapi bisa menyebabkan


ketergantungan fisik dan menimbulkan beberapa efek samping, misalnya rasa
mengantuk. gangguan koordinasi dan perlambatan waktu reaksi.1

Terapi Kognitif dan Perilaku


Terapi kognitif dan perilaku merupakan terapi yang efektif untuk gangguan
panik. Dua pusat utama terapi kogmitif untuk gangguan panik adalah instruksi
tentang kepercayaan salah dari pasien dan informasi tentang serangan panic.
Instruksi tentang kepercayaan yang salah berpusat pada kecenderungan pasien
untuk keliru menginterpretasikan sensasi tubuh yang ringan sebagai tanda untuk
ancaman serangan panic, kiamat atau kematian. Informasi tentang serangan panik
adalah termasuk penjelasan bahwa serangan panik jika terjadi tidak mengancam
kehidupan.1
Perjalanan Penyakit dan Prognosis
Gangguan panik biasanya memiliki onsetnya selama masa remaja akhir
atau masa dewasa awal, walaupun onset selama masa anak-anak, remaja awal, dan
usia pertengahan dapat terjadi. Biasanya kronik dan bervariasi tiap individu.
Frekuensi dan kepasrahan serangan panik mungkin berfluktuasi. Serangan panik
dapat terjadi beberapa kali sehari atau kurang dari satu kali dalam sebulan.
Penelitian follow up jangka panjang gangguan panik sulit diinterpretasikan.
Namun demikian kira-kira 30-40% pasien tampaknya bebas dari gejala follow up
jangka panjang, kira-kira 50% memiliki gejala yang cukup ringan yang tidak
mempengaruhi kehidupannya secara bermakna dan kira-kira 10-21 % terus
memiliki gejala yang bermakna.1
Depresi dapat mempersulit gambaran gejala pada kira-kira 40-80 % dari
semua pasien. Pasien dengan fungsi premorbid yang baik dan lama gejala singkat
cenderung memiliki prognosis yang baik.1
Agorafobia (F40.0)
Definisi
Fobia merupakan suatu ketakutan irasional yang jelas, menetap, dan
berlebihan terhadap suatu objek spesifik, keadaan, atau situasi. Agorafobia
17

merujuk pada ketakutan atau kecemasan terhadap tempat-tempat yang sulit untuk
melarikan diri.

Agorafobia merupakan jenis

fobia

yang

menyebabkan

ketidakmampuan berat bagi pasien karena membuat seseorang tidak mampu


berfungsi dengan baik di tempat kerja maupun di lingkungan sosial di luar rumah.
Di Amerika Serikat, sebagian besar peneliti percaya bahwa agorafobia hamper
selalu terjadi akibat komplikasi pada pasien dengan gangguan panik. Tetapi
sebagian peneliti lain kurang setuju karena agoraphobia bisa juga tanpa riwayat
gangguan panik. Serangan panik bisa juga ditemukan pada ganguan mental lain
(seperti gangguan depresi) dan kondisi medik tertentu (seperti gangguan putus zat
atau keracunan).1
Gambaran Klinis
Pasien dengan agorafobia memiliki kecenderungan untuk menghindari
situasi yang sulit untuk mendapatkan bantuan. Pasien dengan agorafobia lebih
memilih untuk ditemani oleh orang lain seperti teman dan anggota keluarganya di
jalan yang ramai, toko yang padat, ruang tertutup, dan kendaraan tertutup. Pada
keadaan yang berat, pasien agorafobia dapat menolak keluar rumah dan ketakutan
akan menjadi gila.1
Keinginan untuk menghindari situasi tersebut dapat sangat berbeda pada
setiap individu. Gejala depresif sering ditemukan pada serangan panik dan
agorafobia, dan pada beberapa pasien suatu gangguan depresif ditemukan
bersama-sama dengan gangguan panik.1
Diagnosis
Berdasarkan PPDGJ-III:
Menurut Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa Edisi ke III
(PPDGJ-III), diagnosis pasti agorafobia harus memenuhi semua kriteria dengan
adanya gejala ansietas yang terbatas pada kondisi yang spesifik yang harus
dihindari oleh penderita.
Semua kriteria dibawah ini harus dipenuhi untuk kriteria pasti:
1.

Gejala psikologis perilaku atau otonomik yang timbul harus merupakan


manifestasi primer dari ansietasnya dan bukan sekunder dari gejala-gejala lain
seperti misalnya waham atau pikiran obsesif

18

2.

Ansietas yang timbul harus terbatas pada (terutama harus terjadi dalam
hubungan

dengan)

setidaknya

dua

dari

situasi

berikut

banyak

orang/keramaian, tempat umum, berpergian keluar rumah, dan berpergian


sendiri, dan
Menghindari situasi fobik harus atau sudah merupakan gejala yang menonjol.3
Berdasarkan DSM-5-TM:
Menurut DSM-5-TM, agorafobia dapat digolongkan atas gangguan panik dengan
agorafobia dan agorafobia tanpa gangguan panik. Dengan kriteria diagnosis
sebagai berikut4
Kriteria untuk Agorafobia
A. Kecemasan berada di dalam suatu tempat atau situasi darinya
kemungkinan dirinya meloloskan diri, merasa malu, atau dimana
kemungkinan tidak terdapat pertolongan jika mendapat serangan panik
atau gejala mirip panik yang tidak diharapkan atau secara situasional.
Ketakutan agorafobia biasanya mengenai kelompok karakteristik,
situasi, seperti di luar ruah sendirian; berada ditempat ramai atau berdiri
di sebuah barisan, berada diatas jembatan atau bepergian dengan bis,
kereta, atau mobil.
Catatan: pertimbangkan diagnosis fobia spesifik jika penghindaran
adalah terbatas pada satu atau beberapa situasi spesifik atau
penghindaran terbatas pada situasi sosial.
B. Situasi dihindari (misalnya jarang berpergian) atau jika dilakukan
dengan penderitaan yang jelas atau dengan kecemasan mendapat
serangan panic atau gejala panik atau perlu didampingi teman.
C. Kecemasan atau penghindaran fobik tidak lebih baik diterangkan
oleh gangguan mental lain seperti fobia sosial (misalnya penghindaran
terbatas pada situasi sosial karena takut dipermalukan), fobia spesifik
misalnya penghindaran terbatas situasi seperti lift, gangguan obsesifkompulsif misalnya menghidari kotoran pada seseorang dengan obsesi
tentang

kontaminasi,

gangguan stress pasca

trauma

misalnya

menghindari stimuli yang berhubungan dengan stressor yang berat, dan

19

gangguan cemas perpisahan misalnya menghindari meninggalkan


rumah atau sanak keluarga.
Catatan: Agorafobia bukanlah suatu gangguan yang diberi kode.
Catatlah diagnosis yang spesifik saat agorafobia terjadi misalnya
gangguan panik dengan agorafobia atau agorafobia tanpa riwayat
gangguan panik.
Kriteria Diagnostik Agorafobia Tanpa Riwayat Gangguan Panik
A. Adanya agorafobia berhubungan dengan rasa takut mengalami gejala
mirip panic (misalnya, pusing atau diare)
B. Tidak pernah memenuhi kriteria untuk panic
C. Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat
(misalnya, obat yang disalahgunakan, medikasi) atau suatu kondisi
medis umum
D. Jika ditemukan suatu kondisi medis umum yang berhubungan, rasa
takut yang dijelaskan dalam kriteria A jelas melebihi dari apa yang
biasanya berhubungan dengan kondisi.
Kriteria Diagnostik Gangguan Panik dengan Agorafobia
Memenuhi dua kriteria:
A. Serangan panik berulang
B. Setidaknya satu dari serangan diikuti oleh satu atu lebih gejala di
bawah ini selama 1 bulan :

Pemikiran akan tejadinya serangan kembali

Merasa khawatir terhadap konsekuensi dari serangan itu sendiri


(serangan jantung, menjadi gila)

Perubahan sikap yang nyata yang berhubungan dengan serangan


panik

C. Memenuhi kriteria agorafobia


D.

Serangan panik bukan merupakan pengaruh dari penggunaan zat


maupun kondisi medik khusus

20

E. Serangan panik tidak lebih baik dicatat sebagai gangguan mental


lainnya, seperti fobia sosial, fobia spesifik, OCD, PTSD atau gangguan
cemas perpisahan.4
Diagnosis Banding

Gangguan medis
Tabel 1. Diagnosis banding ganguan medis pada gangguan panik
Penyakit kardiovaskular
Anemia
Gagal jantung kongestif
Hipertensi
Angina, Miokard infark
Penyakit paru
Asma
Hiperventilasi
Emboli paru
Penyakit neurologis
Epilepsi
Huntington disease
Penyakit meniere
Multiple sklerosis
Migrain, tumor, infeksi
Penyakit endokrin
Hipertiroid
Diabetes
Intoksikasi obat
Amfetamin
Kokain
Hallusinogen
Nikotin
Gejala putus zat
Alkohol
Opiat dan opioid
Obat hipnotik sedatif
Kondisi lainnya
Anafilaksis
Uremia

Gangguan mental: gangguan cemas lainnya

Agorafobia tanpa Gangguan Panik:

Gangguan Depresi Mayor

Skizofrenia

Gangguan Kepribadian Paranoid

Gangguan Kepribadian Cemas Menghindar

Gangguan Kepribadian Dependen1

Penatalaksanaan
21

Penatalaksanaan agorafobia sama dengan penatalaksanaan pada gangguan


panik yang terdiri dari penatalaksanaan secara farmakoterapi dan psikoterapi. 2
Penatalaksanaan psikoterapi yang efektif salah satu diantaranya yaitu terapi
kognitif dan perilaku. Dengan terapi, sebagian besar pasien mengalami perbaikan
dramatis terhadap gejala serangan panik. Kombinasi terapi farmakologi dan
psikoterapi dinyatakan menjadi terapi yang paling efektif dalam mengatasi
agorafobia maupun gangguan panik.1
Farmakoterapi
Tujuan utama penatalaksanaan agorafobia adalah mengurangi atau
mengeliminasi gejala serangan panik, mencegah dan mengantisipasi ansietas serta
mengatasi keadaan komorbid yang menyertainya. Penggunaan modalitas terapi
harus diperhatikan dari segi faktor resiko serta keuntungan dari masing-masing
terapi sesuai dengan kebutuhan masing-masing dari penderita. Alprazolam
(xananx) dari golongan benzodiazepin dan paroksetin (paxil) dari golongan SSRI
(Selective Serotonin Reuptake Inhibitor) adalah dua obat yang disetujui untuk
terapi gangguan panik.1
a. Selective Serotonine Reuptake Inhibitor (SSRI)
SSRI menjadi lini pertama dalam pengobatan farmakoterapi pada
gangguan mood dan ansietas, termasuk gangguan panik. SSRI efektif
untuk terapi gangguan panik akut maupun sebagai pengobatan jangka
panjang gangguan panik. Terapi awal pemberian SSRI dapat memberikan
efek seperti meningkatnya ansietas, rasa gelisah, gemetar dan agitasi. Oleh
karena itu pemberian initial dose harus diberikan dalam dosis kecil, yang
kemudian dititrasi meningkat secara perlahan. Terapi inisial dosis rendah
diberikan selama 3 sampai 7 hari , kemudian peningkatan dosis dilakukan
perlahan tergantung dari toleransi tiap individu hingga mencapai standar
dosis terapi rumatan. Obat diberikan selama 3 sampai 6 bulan atau lebih,
tergantung dari kondisi individu agar kadarnya stabil dalam darah
sehingga dapat mencegah terjadinya kekambuhan.1
Efek samping yang paling sering ditimbulkan SSRI antara lain
adalah sakit kepala, iritabel, mual serta gangguan gastrointestinal lainnya,
insomnia, disfungsi seksual, meningkatkan ansietas, rasa kantuk dan

22

tremor. Pada SSRI penggunaan dosis yang berlebihan lebih aman, efek
pada fungsi kardiovaskular lebih sedikit serta efek antikolinergik yang
ditimbulkan lebih rendah.
Dosis pemberian obat SSRI sebaiknya diturunkan secara perlahan
(tapering) apabila pengobatan akan dihentikan, minimal 7 sampai 10 hari
sebelum menghentikan pengobatan. Terapi SSRI yang dihentikan secara
tiba-tiba dapat menyebabkan discontinuation syndrome pada sistem
neurosensorik (parestesia, shock-like reaction, mialgia), neuromotorik
(tremor,

gangguan

gastrointestinal

keseimbangan

(mual,

diare),

motorik,

neurophsyciatric

gangguan

visual),

(cemas,

iritabel),

vasomotor (berkeringat) dan berbagai manifestasi lainnya seperti


insomnia, pusing, sakit kepala serta rasa lelah. Apabila terjadi gejala
diskontinuitas tersebut, maka terapi SSRI diberikan kembali sesuai dengan
dosis yang terakhir diberikan selama beberapa hari diikuti penurunan dosis
secara perlahan.
Berikut ini adalah beberapa obat yang tergolong dalam SSRI:

Paroksetin
Paroksetin memiliki efek sedatif dan membuat pasien lebih tenang.
Pemberian dimulai pada dosis kecil dan dititrasi meningkat secara
perlahan. Pemberian awal 5 sampai 10 mg per hari selama 1
sampai 2 minggu pertama kemudian dosisnya ditingkatkan 10 mg
setiap 1 sampai 2 minggu hingga dosis maksimum 60 mg. Apabila
sedasi tidak dapat ditoleransi, dosis diturunkan kembali hingga 10
mg per hari dan digantii fluoxetine pada 10 mg per hari dan
dititrasi meningkat.
Pendekatan konservatif adalah dengan memulai paroksetin,
sentralin (Zoloft) atau fluvoxamin (Luvox) pada gangguan panik
terisolasi.3 Dosis rumatan 20-40 mg/hari.8 Mekanisme aksi terhadap
neutransmiter lain terbatas, termasuk pada reseptor muskarinik.
Konsentrasi plasma dicapai setelah 5 jam. Metabolisme di hati dan
di ekskresi melalui urin dan feses dalam bentuk metabolit.

Fluoxetine
23

Merupakan serotonin selektif reuptake inhibitor yang potensial.


Fluoxetine tidak berikatan dengan adrenoreseptor atau histamine,
GABA-B atau reseptor muskarinik. Konsentrasi plasma dicapai
setelah 6-8 jam. Penggunaan jangka panjang fluoxetin (Prozac)
adalah obat yang efektif untuk panik yang bersamaan dengan
depresi, efek samping awalnya dapat menyerupai gejala panik
selama beberapa minggu. Dosis rumatan 20-40 mg/hari.

Fluvoxamin
Fluvoxamin merupakan derivat alkylketone, bekerja dalam
mencegah pengambilan (reuptake) serotonin di neuron otak.
Diabsorbsi secara oral pada traktus gastrointestinal. Metabolisme
di hati menjadi bentuk inaktif melalui proses oksidasi demetilasi
dan deaminasi, ikatan protein plasma 70%. Ekskresi melalui urin.
Dosis efektif 100-300 mg/hari.

b. Benzodiazepin
Awitan kerja paling cepat, sering pada minggu pertama dapat digunakan
untuk waktu yang lama tanpa timbul toleransi terhadap efek antipanik.
Alprazolam yang paling luas digunakan untuk gangguan panik. Lorazepam
(ativan) dan klonazepam (klonopin) juga menunjukkan efektifitas yang sama.
Benzodiazepin dapat digunakan awal bersama serotonergik dan dosis dititrasi
hingga dosis terapeutik hingga 4-12 minggu dosis dapat dirunkan minggu dan
obat serotonergik (SSRI) diteruskan. Pemberian singkat aprazolam bersamaan
dengan SSRI dapat digunakan pada keadaan yang berat, diikuti dengan
penurunan dosis secara perlahan.3 Benzodiazepin dapat menyebabkan
ketergantungan, gangguan kognitif terutama penggunaan jangka panjang.
Penghentian benzodiazepin dapat menimbulkan gejala putus zat dan
meningkatkan angka kekambuhan pada gangguan panik. Berikut ini adalah
beberapa golongan benzodiazepine yang digunakan pada terapi gangguan
panik:

Alprazolam

24

Alprazolam

memiliki

efek

anti-ansietas,

muscle

relaxan,

antikonvulsan, antidepresi. Alprazolam berikatan dengan reseptorreseptor spesifik yang terdapat pada susunan saraf pusat seperti
GABA. Seperti senyawa benzodiazepine lainnya, aprazolam
menyebabkan depresi susunan saraf pusat yang bervariasi.
Konsentrasi plasma dicapai setelah 1-2 jam.

Lorazepam
Merupakan benzodiazepin jenis short-acting yang memodulasi
GABAA reseptor. Konsentrasi plasma dicapai dalam 2 jam. Onset
pemberian secara intramuskular sekitar 20-30 menit untuk
memberikan efek hypnosis, efek sedasi melalui intravena dicapai
dalam 5-20 menit, sedangkan onset peroral adalah 30-60 menit.

Clonazepam
Clonazepam

adalah

antikonvulsan

yang

efektif

dengan

meningkatkan aktivitas GABA dan bekerja sebagai anti cemas.


Kadar plasma dicapai dalamm 4 jam. Clonazepam dapat melalui
sawar plasenta.

Tabel 2. Dosis pemberian obat antidepresan dan benzodiazepine pada gangguan


panik
(Stein, MB et al. Practice Guideline for The Treatment of Patients With Panic Disorder,
Second Edition, 2009)

25

Psikoterapi
Psikoterapi merupakan terapi atau pengobatan yang menggunakan caracara psikologis, yang dilakukan oleh seseorang yang terlatih khusus yang
menjalin hubungan kerjasama secara professional dengan seorang pasien dengan
tujuan untuk menghilangkan, mengubah, atau menghambat gejala-gejala dan
penderitaan akibat penyakit. Psikoterapi dilakukan dengan wawancara atau
interview. Hal penting dalam wawancara adalah tujuan terapeutik dan penegakan
diagnosis yang diperoleh dengan menjalin hubungan interpersonal yang baik dari
waktu ke waktu setiap kali wawancara dilakukan.
Terapi kognitif dan perilaku

26

Merupakan terapi yang efektif untuk gangguan panik yang memerlukan


usaha serta kerjasama dari terapis dan individu itu sendiri. Beberapa penelitian
mengatakan bahwa psikoterapi ini mengungguli terapi secara farmakologis,
beberapa yang lain mengatakan hal yang sebaliknya. Tetapi kombinasi
farmakologi dan psikoterapi lebih efektif dibandingkan terapi itu secara
tersendiri.3 Tujuan utama dari terapi kognitif pada gangguan panik adalah
mengenai keyakinan pasien yang salah dan informasi mengenai serangan panik. 3,4
Instruksi yang salah menyebabkan pasien salah mengartikan sensasi tubuh ringan
sebagai tanda akan terjadinya serangan panik, gangguan fisik yang akan
mengancam atau menyebabkan kematian.
Terapi ini secara tidak langsung mengajak individu untuk membentuk
kembali pola perilaku menjadi lebih rasional serta restrukturisasi kognitif.
Individu dilatih untuk membuat daftar pengalaman harian serta cara individu
dalam menyikapi berbagai peristiwa yang dialami dan dilakukan evaluasi setiap
kali pertemuan. Pada sebuah penelitian mengenai perbandingan terapi kognitif
dan perilaku dengan terapi perilaku itu sendiri, diperoleh fakta bahwa terapi
kognitif dan perilaku, keduanya menjadi kombinasi terapi yang lebih unggul
secara bersama-sama dibandingkan dengan terapi perilaku secara tunggal.
Terapi Relaksasi
Terapi ini bermanfaat secara relatif cepat untuk meredakan serangan panik
dan memenangkan individu. Tujuan terapi relaksasi adalah memberikan pasien
rasa kendali mengenai tingkat ansietas dan relaksasi. Teknik dasar menggunakan
terapi relaksasi otot dan membayangkan situasi yang membuat santai, sehingga
pasien menguasai teknik yang dapat membantu saat terjadi serangan panik.
Individu diperkenalkan kepada sensasi ketegangan dan sesudah itu sensai relaks.
Individu harus bisa membedakan antara sensasi saat panik dengan sensasi relaks.
Lazarus menggabungkan teknik terapi relaksasi dengan pernapasan. Hiperventilasi
dianggap berhubungan dengan serangan panik yang mungkin berkaitan dengan
sejumlah gejala seperti pusing dan pingsan, pendekatan langsung adalah melatih
pasien untuk melakukan hiperventilasi. Lazarus juga mengatakan bahwa terapi
hipnosis dapat digunakan untuk menginduksi relaksasi.

27

Relaksasi dapat berfungsi sebagai teknik tunggal atau sebagai kombinasi


bersama terapi lainnya, seperti terapi perilaku dan desentisasi sistematik. Sebelum
dilakukan terapi relaksasi, individu perlu dipersiapkan dan diberi penjelasan yang
cukup agar dapat bekerja sama dan memfokuskan dirinya untuk melakukan
relaksasi itu sendiri. Tenkik relaksasi ini sebaiknya tidak digunakan untuk keadaan
asma bronkial, pasien dengan psikosis akut, depresi agitatif atau yang mudah
terkena disosiasi. Pada permulaan terapi relaksasi pada gangguan panik dapat
timbul ansietas yang diinduksi oleh relaksasi itu sendiri.
Pajanan in Vivo
Teknik ini meliputi pemajanan terhadap stimulus yang ditakuti dan semakin lama
semakin berat. Dengan demikian pasien akan mengalami desensitisasi terhadap
stimulus yang ditakuti.4 Saat ini selain digunakan stimulus eksternal yang ditakuti,
juga digunakan stimulus atau pajanan internal yang ditakuti oleh individu seperti
pernafasan yang cepat dan rasa takut mengalami rasa panik.
Psikoterapi dinamik
Psikoterapi dinamik merupakan sebuah terapi psikiatri yang diterapkan
dari teori Sigmund Freud. Terapi berfokus membantu pasien mengerti arti ansietas
yang tidak disadari telah dihipotesiskan, simbolis situasi yang dihindari,
kebutuhan untuk menekan impuls dan keuntungan sekunder gejala tersebut.
Individu diajak untuk lebih memahami diri dan lingkungannya (berdasarkan
tilikan), bukan hanya sekedar menghilangkan gejalanya semata.
Pengalaman traumatik yang terutama terjadi pada awal kehidupan dapat
menimbulkan konflik psikologis. Sebagian besar aktivitas mental dipengaruhi
oleh alam bawah sadar dan pikiran sadar dilindungi dari pengalaman konflik
dengan mekanisme yang dirancang untuk mengurangi kecemasan. Mekanisme
tersebut berkembang dalam kehidupan dewasa dan menghasilkan gejala
psikologis atau kurangnya kemampuan untuk pertumbuhan dan pemenuhan
personal. Keluarga individu dan hubungan pribadi sebelumnya dapat bermakna
dalam mencapai tujuan psikoterapi itu sendiri, yaitu pemahaman dan perubahan
pada individu. Pada sebuah penelitian, penerapan psikotereapi dinamik dengan
pemberian Clomipramine menunjukkan bahwa angka kekambuhan berkurang
dibandingkan dengan terapi clomipramine itu sendiri.

28

Terapi Keluarga
Terapi keluarga dan kelompok dapat membantu penderita dan keluarganya
menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa pasien memiliki gangguan dan
menyesuaikan diri dengan kesulitan psikososial yang dapat dicetuskan gangguan
tersebut.
Prognosis
Agorafobia dapat menjadi kronis dan dapat terjadi kormobiditas dengan gangguan
lain seperti depresi, penyalahgunaan alcohol dan obat bila tidak mendapat terapi.
Menurut National Institute of Mental Health, 30% hingga 40% akan bebas dari
gejala untuk waktu yang lama dan 50% masih ada gejala ringan yang secara
bermakna tidak mengganggu kehidupan sehari-hari. Hanya 10% hingga 20% yang
tidak membaik.2 Agorafobia tnpa riwayat gangguan panik seringkai menyebabkan
ketidakberdayaan dan kronis. Gangguan depresif dan ketergantungan alkohol
sering kali menjadi komplikasi pada perjalanan penyakit agorafobia.
XI.

DAFTAR PUSTAKA
1 Sadock, Benjamin J dkk. 2015. Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatry
Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry 11th Edition. USA: Wolters
Kluwer.
2 Yaunin, Yaslinda. Gangguan Panik dengan Agorafobia. Majalah Kedokteran
Andalas No. 2 Vol.36 Juli-Desember 2012. 21 Oktober 2016. Diakses dari
http://jurnalmka.fk.unand.ac.id/index.php/art/article/viewFile/130/126

3 Maslim, Rusdi. 2003. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa: Rujukan


Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika
Atmajaya.
4 American Psychiatric Association. 2013. Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders 5th Edition DSM-5TM. Washington DC:
American Psychiatric Association.

29

XII.

LAMPIRAN
Hamiltons Rating Scale for Anxiety (HARS)
GEJALA KECEMASAN
1. Perasaan cemas (ansietas)
Cemas
Firasat buruk
Takut akan perasaan sendiri
Mudah tersinggung
2. Ketegangan
Merasa tegang
Lesu
Tidak bisa istirahat tenang
Mudah terkejut
Mudah menangis
Gemetar
Gelisah
3. Ketakutan
Pada gelap
Pada orang asing
Ditinggal sendiri
Pada binatang besar
Pada keramaian lalu lintas
Pada kerumunan orang banyak
4. Gangguan tidur
Sukar masuk tidur
Terbangun malam hari
Tidur tidak nyenyak
Bangun dengan lesu
Banyak mimpi-mimpi
Mimpi buruk
Mimpi menakutkan
5. Gangguan kecerdasan
Sulit konsentrasi
Daya ingat menurun
Daya ingat buruk
6. Perasaan depresi
Hilangnya minat
Berkurangnya kesenangan pada hobi
Sedih
Bangun dini hari
Perasaan berubah-ubah sepanjang

NILAI (SKOR)

hari
30

7. Gejala simatik/fisik (otot)


Sakit dan nyeri-nyeri otot
Kaku
Kedutan otot
Gigi gemeretuk
Suara tidak stabil
8. Gejala simatik/fisik (sensorik)
Tinnitus
Penglihatan kabur
Muka merah atau pucat
Merasa lemas
Perasaan ditusuk-tusuk
9. Gejala kardiovaskular
Denyut jantung cepat
Berdebar-debar
Nyeri di dada
Denyut nadi mengeras
Lemas seperti mau pingsan
Denyut jantung menghilang (berhenti
sekejap)
10. Gejala respiratori
Rasa tertekan/sempit dada
Rasa tercekik
Sering menarik napas
Napas pendek/sesak
11. Gejala gastrointestinal
Sulit menelan
Perut melilit
Gangguan pencernaan
Nyeri sebelum/sesudah makan
Perasaan terbakar di perut
Rasa penuh atau kembung
Mual
Muntah
BAB lembek
Sulit BAB
Kehilangan berat badan
12. Gejala urogenital
Sulit BAK
Tidak dapat menahan air seni
Tidak datang bulan
Darah haid berlebihan
Darah haid amat sedikit
31

Masa haid berkepanjangan


Masa haid amat pendek
Haid beberapa kali dalam sebulan
Menjadi dingin (frigid)
Ejakulasi dini
Ereksi lemah
Impotensi
13. Gejala otonom
Mulut kering
Muka merah
Mudah berkeringat
Kepala pusing
Kepala terasa berat
Kepala terasa sakit
Bulu-bulu berdiri
14. Tingkah laku saat wawancara
Gelisah
Tidak tenang
Jari gemetar
Kening berkerut
Muka tegang
Otot tegang/mengeras
Napas pendek dan cepat
Muka merah
Total nilai angka (skor)
Interpretasi
Skor

: 0 = tidak ada
1 = terdapat 1 gejala
2 = terdapat separuh dari gejala
3 = terdapat lebih dari separuh gejala
4 = terdapat semua gejala

Total skor

: <14 = tidak ada ansietas


14-20 = ansietas ringan
21-27 = ansietas sedang
28-41 = ansietas berat
42-56 = ansietas berat sekali

32

Hamiltons Depression Rating Scale (HDRS)


GEJALA DEPRESI
1. Keadaan Perasaan sedih ( sedih, putus asa, tak berdaya, tak
berguna)
0 = tidak ada
1 = perasaan ini ada hanya bila ditanya
3 = perasaan ini dinyatakan spontan secara verbal
4

= perasaan ini dinyatakan


spontan secara verbal

dan non verbal maupun nonverbal


15. Ketegangan
Merasa tegang
Lesu
Tidak bisa istirahat tenang
Mudah terkejut
Mudah menangis
Gemetar
Gelisah
16. Ketakutan
Pada gelap
Pada orang asing
Ditinggal sendiri
Pada binatang besar
Pada keramaian lalu lintas
Pada kerumunan orang banyak
17. Gangguan tidur
Sukar masuk tidur
Terbangun malam hari
Tidur tidak nyenyak
Bangun dengan lesu
Banyak mimpi-mimpi
Mimpi buruk
Mimpi menakutkan
18. Gangguan kecerdasan
Sulit konsentrasi
Daya ingat menurun
Daya ingat buruk
19. Perasaan depresi
Hilangnya minat
Berkurangnya kesenangan pada hobi

33

Sedih
Bangun dini hari
Perasaan berubah-ubah sepanjang hari
20. Gejala simatik/fisik (otot)
Sakit dan nyeri-nyeri otot
Kaku
Kedutan otot
Gigi gemeretuk
Suara tidak stabil
21. Gejala simatik/fisik (sensorik)
Tinnitus
Penglihatan kabur
Muka merah atau pucat
Merasa lemas
Perasaan ditusuk-tusuk
22. Gejala kardiovaskular
Denyut jantung cepat
Berdebar-debar
Nyeri di dada
Denyut nadi mengeras
Lemas seperti mau pingsan
Denyut jantung menghilang (berhenti sekejap)
23. Gejala respiratori
Rasa tertekan/sempit dada
Rasa tercekik
Sering menarik napas
Napas pendek/sesak
24. Gejala gastrointestinal
Sulit menelan
Perut melilit
Gangguan pencernaan
Nyeri sebelum/sesudah makan
Perasaan terbakar di perut
Rasa penuh atau kembung
Mual
Muntah
BAB lembek
Sulit BAB
Kehilangan berat badan
25. Gejala urogenital
Sulit BAK
Tidak dapat menahan air seni
Tidak datang bulan
34

Darah haid berlebihan


Darah haid amat sedikit
Masa haid berkepanjangan
Masa haid amat pendek
Haid beberapa kali dalam sebulan
Menjadi dingin (frigid)
Ejakulasi dini
Ereksi lemah
Impotensi
26. Gejala otonom
Mulut kering
Muka merah
Mudah berkeringat
Kepala pusing
Kepala terasa berat
Kepala terasa sakit
Bulu-bulu berdiri
27. Tingkah laku saat wawancara
Gelisah
Tidak tenang
Jari gemetar
Kening berkerut
Muka tegang
Otot tegang/mengeras
Napas pendek dan cepat
Muka merah
Total nilai angka (skor)
Interpretasi
Skor

: 0 = tidak ada
1 = terdapat 1 gejala
2 = terdapat separuh dari gejala
3 = terdapat lebih dari separuh gejala
4 = terdapat semua gejala

Total skor

: <14 = tidak ada ansietas


14-20 = ansietas ringan
21-27 = ansietas sedang
28-41 = ansietas berat
42-56 = ansietas berat sekali

35

36