Anda di halaman 1dari 14

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Konsep Dasar Demokrasi
Sulit mencari kesepakatan dari semua pihak tentang pengertian atau
definisi demokrasi. Ketika ada yang mendefinisikan demokrasi secara ideal atau
juga disebut sebagai definisi populistik tentang demokrasi, yakni sebuah sistem
pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat maka pengertian demokrasi demikian
tidak pernah ada dalam sejarah umat manusia. Tidak pernah ada pemerintahan
dijalankan secara langsung oleh semua rakyat dan tidak pernah ada pemerintahan
sepenuhnya untuk semua rakyat (Dahl 1971; Coppedge dan Reinicke 1993).
Dalam praktiknya yang menjalankan pemerintahan bukan rakyat, tapi elite
yang jumlahnya jauh lebih sedikit, juga tidak pernah ada hasil dari pemerintahan
itu untuk rakyat semuanya secara merata, tapi selalu ada perbedaan antara yang
mendapat jauh lebih banyak dan yang mendapat jauh lebih sedikit. Karena itu,
ketika pengertian demokrasi populistik hendak tetap dipertahankan, Dahl
mengusulkan konsep poliarki sebagai pengganti dari konsep demokrasi
populistik tersebut. Poliarki dinilai lebih realistik untuk menggambarkan tentang
sebuah fenomena politik tertentu dalam sejarah peradaban manusia sebab poliarki
mengacu pada sebuah sistem pemerintahan oleh banyak rakyat bukan oleh
semua rakyat, oleh banyak orang bukan oleh semua orang.
2.2 Pengertian Demokrasi
Demokrasi merupakan sebuah kata yang sudah tidak asing lagi karena
demokrasi merupakan suatu sistem yang telah dijadikan alternatif dalam tatanan
aktivitas bermasyarakat dan bernegara. Demokrasi merupakan asas yang
fundamental dalam pemerintahan.
Secara etimologis, demokrasi merupakan gabungan antara dua kata dari
bahasa Yunani, yaitu demos yang berarti rakyat dan cratein atau cratos yang
berarti kekuasaan. Jadi, secara terminologis demokrasi berarti kedaulatan yang
berada di tangan rakyat, dengan kata lain, kedulatan rakyat mengandung
pengertian bahwa sistem kekuasaan tertinggi dalam sebuah Negara itu di bawah
kendali rakyat.
4

Adpun macam-macam pengertian demokrasi secara istilah


menurut para ahli, adalah sebagai berikut:
1) Joseph A. Shumpter
Demokrasi merupakan suatu perencanaan institusional untuk mencapai
keputusan politik dimana individu-individu memperoleh kekuasaan untuk
memutuskan cara perjuangan kompetitif atas suara rakyat.
2) Sidney Hook
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana keputusan-keputusan
pemerintahan yang penting secara langsung atau tidak langsung didasarkan pada
kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa.
3) Henry B. Mayo
Demokrasi sebagai sistem politik merupakan suatu sistem yang menunjukan
bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil secara
efektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas
prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnya
kebebasan politik.
Makna demokrasi dalam sebuah ideologi adalah bahwa sebuah Negara
sebagai sebuah organisasi tertinggi dalam wilayah tertentu menganut demokrasi,
Negara tersebut harus mau menyerahkan kekuasaan kepada rakyat, sehingga:
1) Rakyat yang membuat aturan dasar,
2) Rakyat yang membentuk pemerintahan,
3) Rakyat yang membuat kebijakan untuk dilaksanakan oleh pemerintah
tersebut, dan
4) Rakyat yang mengawasi dan menilai pelaksanaan kebijakan tersebut atau
kinerja pemerintah.
Jadi, dalam pelaksanaannya merupakan sistem pemerintahan dimana
kekuasaan tertinggi berada ditangan rakyat, dalam pengorganisasian suatu Negara.
Dari beberapa pendapat diatas

dapat disimpulan bahwa, hakikat

demokrasi dalam sisitem pemerintahan memberikan penekanan pada keberadaan


kekuasaan

ditangan

rakyat,

baik

dalam

pemeritahan

maupun

dalam

penyelenggaraan Negara, yang mencangkup tiga hal, pertama, pemerintah dari


rakyat (government of the people), kedua, pemerintah oleh rakyat (government by
people), ketiga, pemerintahan untuk rakyat (government by people).
Tak lepas dari hakikatnya, demokrasi mempunyai norma-norma sebagai
pandangan hidup, menurut Nurcholis Madjid, yaitu :

1)
2)
3)
4)
5)
6)

Pentingnya kesadaran akan pluralism,


Terdapatnya musyawarah mufakat,
Mempunyai tujuan,
Pemufakatan yang jujur dan sehat,
Terpenuhinya keperluan pokok,
Kerjasama antar warga masyarakat dan sikap saling mempercayai itikad

baik,
7) Pentingnya pendidikan demokrasi.
2.3 Ciri-ciri Pemerintahan Demokratis
Sebuah Negara bisa disebut sebagai Negara demokrasi manakala memiliki
sejumlah ciri-ciri yang sering disebut sebagai pilar demokrasi. Adapun ciri-ciri
pemerintahan demokrasi sebagai berikut:
1) Kedaulatan rakyat
Kedaulatan berarti kekuasaan tertinggi. Dalam Negara demokrasi, pemilik
kedaulatan adalah rakyat bukan penguasa. Kekuasaan tertinggi ada pada rakyat.
Kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa berasal dari rakyat.
2) Pemerintahan didasarkan pada persetujuan rakyat
Prinsip ini menghendaki adanya pengawasan

rakyat

terhadap

pemerintahan. Dalam hal ini, penguasa Negara tidak bisa dan tidak boleh
menjalankan kehidupan Negara berdasarkan kemauannya sendiri.
3) Pemerintahan mayoritas dan perlindungan hak-hak minoritas
Prinsip ini menghendaki adanya keadilan dalam keputusan. Keputusan
yang sesuai dengan kehendak rakyat. Dalam kenyataan, kehendak rakyat bias
berbeda-beda, tidak sama. Dalam hal demikian, keputusan diambil sesuai
kehendak mayoritas rakyat. Namun, keputusan tersebut harus menghormati hakhak minoritas.
4) Jaminan hak-hak asasi manusia
Prinsip ini menghendaki adanya jaminan hak-hak asasi. Jaminan tersebut
dinyatakan dalam konstitusi. Jaminan hak asasi itu sekurang-kurangnya meliputi
hak-hak dasar. Hak-hak tersebut meliputi hak mengemukakan pendapat,
berekspresi, dan pers bebas, hak beragama, hak hidup, hak berserikat dan

berkumpul, Hak persamaan perlindungan hokum dan Hak atas proses peradilan
yang bebas.
5) Pemilu yang bebas dan adil
Prinsip ini menghendaki adanya pergantian pimpinan pemerintahan secara
damai dan teratur. Hal ini penting untuk menjaga agar kedaulatan rakyat tidak di
selewengkan. Untuk itu diselenggarakan pemilu.
6) Persamaan di depan hukum
Prinsip ini menghendaki adanya persamaan politik. Maksudnya, secara
hukum setiap warga Negara mempunyai kesempatan yang sama untuk
berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan politik. Jadi, siapa saja memiliki
kesempatan yang sama untuk berpartisipasi. Itu berarti tidak boleh ada
diskriminasi, baik itu berdasarkan suku, ras, agama, budaya, antar golongan
maupun jenis kelamin.
7) Perlindungan hukum
Prinsip ini menghendaki adanya perlindungan hukum warga Negara dari
tindakan sewenang-wenang oleh Negara.
8) Pemerintahan dibatasi oleh konstitusi
Prinsip ini menghendaki adanya pembatasan kekuasaan pemerintah
melalui hukum. Pembatasan itu di tuangkan dalam konstitusi. Selanjutnya
konstitusi itu menjadi dasar penyelenggaraan Negara yang harus di patuhi oleh
pemerintah. Itulah sebabnya pemerintahan demokrasi sering di sebut demokrasi
konstitusional dengan demikian, pemerintahan demokrasi dijalankan sesuai
prinsip supremasi hukum (rule of law). Itu berarti kebijakan Negara harus
didasarkan pada hukum.
9) Penghargaan pada keberagaman
Prinsip ini menghendaki agar tiap-tiap kelompok sosial budaya, ekonomi,
ataupun politik diakui dan dijamin keberadaannya. Masing-masing kelompok
memiliki

hak

dan

kewajiban

yang

sama

untuk

berpartisipasi

dalam

penyelenggaraan kehidupan Negara.


10) Penghargaan terhadap nilai-nilai demokrasi
Prinsip ini menghendaki agar kehidupan Negara senantiasa diwarnai oleh
toleransi, kemanfaatan, kerja sama dan konsensus. Toleransi berarti kesediaan
untuk menahan diri, bersikap sabar, membiarkan dan berhati lapang terhadap

orang-orang yang berpandangan berbeda. Kemanfaatan berarti demokrasi


haruslah mendatangkan manfaat konkret, yaitu perbaikan kehidupan rakyat. Kerja
sama berarti semua pihak bersedia untuk menyumbangkan kemampuan terbaiknya
dalam mewujudkan cita-cita bersama. Kompromi berarti ada komitmen untuk
mencari titik temu di antara berbagai macam pandangan dan perbedaan pendapat
guna mencari pemecahan untuk kebaikan bersama.
2.4 Jenis-jenis Demokrasi
Terdapat

beberapa

jenis

demokrasi

yang

disebabkan

perkembangan dalam pelaksanaannya diberbagai kondisi dan


tempat. Oleh karena itu, pembagian jenis demokrasi dapat dilihat
dari beberapa hal, antar lain sebagai berikut:
2.4.1

Demokrasi Langsung
Rakyat secara langsung diikutsertakan dalam proses pengambilan

keputusan untuk menjalankan kebijakan pemerintahan.


Dipraktikkan di negara-negara kota (polis, city state) pada zaman Yunani
Kuno. Pada masa itu, seluruh rakyat dapat menyampaikan aspirasi dan
pandangannya secara langsung. Dengan demikian, pemerintah dapat mengetahui
aspirasi dan persoalan-persoalan yang sebenarnya dihadapi masyarakat. Namun
dalam zaman modern, demokrasi langsung sulit dilaksanakan karena:
a) Sulitnya mencari tempat yang dapat menampung seluruh rakyat sekaligus
dalam membicarakan suatu urusan.
b) Tidak setiap orang memahami persoalan-persoalan negara yang semakin
rumit dan kompleks.
c) Musyawarah tidak akan efektif sehingga sulit menghasilkan keputusan.
2.4.2

Demokrasi Tidak Langsung


Demokrasi ini dijalankan oleh rakyat melalui wakil rakyat yang dipilihnya

melalui pemilu. Aspirasi rakyat disalurkan melalui wakil-wakil rakyat yang duduk
di lembaga perwakilan rakyat.
Sistem demokrasi (menggantikan demokrasi langsung)
yang dalam menyalurkan kehendaknya, rakyat memilih wakilwakil mereka untuk duduk dalam parlemen. Aspirasi rakyat
disampaikan melalui wakil-wakil mereka dalam parlemen. Tipe

demokrasi

perwakilan

berlainan

menurut

konstitusi

negara

masing-masing.
Sistem pemilihan ada dua macam yaitu, pemilihan secara
langsung dan pemilihan bertingkat. Pada pemilihan secara
langsung, setiap warga negara yang berhak secara langsung
memilih orang-orang yang akan duduk di parlemen. Sementara
itu, pada pemilihan bertingkat, yang dipilih rakyat adalah orangorang di lingkungan mereka sendiri, kemudian orang-orang yang
terpilih itu memilih anggota-anggota parlemen.
2.4.3 Demokrasi Formal
Demokrasi formal menjunjung tinggi persamaan dalam bidang politik
tanpa disertai upaya untuk mengurangi atau menghilangkan kesenjangan rakyat
dalam bidang ekonomi. Dalam sistem demokrasi yang demikian, semua orang
dianggap memiliki derajat dan hak yang sama. Namun, karena kesamaan itu,
penerapan azas free fight competition (persaingan bebas) dalam bidang ekonomi
menyebabkan kesenjangan antara golongan kaya dan golongan miskin kian lebar,
kepentingan umum pun diabaikan.
2.4.4 Demokrasi Liberal
Demokrasi liberal yaitu, memberikan kebebasan yang luas pada individu.
Campur tangan pemerintah diminimalkan bahkan ditolak. Pemerintah bertindak
atas dasar konstitusi (hukum dasar).
Demokrasi liberal sering pula disebut demokrasi Barat
karena pada umumnya dipraktikkan oleh negara-negara Barat.
Kaum komunis bahkan menyebutnya demokrasi kapitalis karena
dalam pelaksanaannya kaum kapitalis selalu dimenangkan oleh
pengaruh

uang

(money

politics)

yang

menguasai

opini

masyarakat (public opinion).


2.4.5 Demokrasi Gabungan
Demokrasi ini mengambil kebaikan dan membuang keburukan demokrasi
formal dan material. Persamaan derajat dan hak setiap orang tetap diakui, tetapi

10

diperlukan pembatasan untuk mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat.


Pelaksanaan demokrasi ini bergantung pada ideologi negara masing-masing
sejauh tidak secara jelas kecenderungannya kepada demokrasi liberal atau
demokrasi rakyat.
2.4.6

Demokrasi Rakyat
Demokrasi rakyat atau demokrasi proletar. Dinamakan

demokrasi proletar, yang di dasari dan di jiwai paham marxismekomunisme. Demokrasi ini bertujuan mensejahterakan rakyat.
Negara dibentuk tidak mengenal perbedaan kelas. Demokrasi
rakyat mencita-citakan kehidupan yang tidak mengenal klas
sosial dan masyarakat ideal. Semua warga Negara mempunyai
persamaan dalam hukum dan politik.
2.5 Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia
Sejak diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia, secara
formal Indonesia menganut demokrasi konstitusional, namun
sejak proklamasi kemerdekaan sampai sekarang telah terjadi
perubahan dalam konstitusi Negara itu sendiri, antara lain:
1)
2)
3)
4)

Periode
Periode
Periode
Periode

1945194519501959-

1949 menggunakan UUD 1945,


1950 menggunakan UUD RIS,
1959 menggunakan UUDS,
sekarang menggunakan UUD 1945.

Perubahan penggunaan UUD ini berimplikasi pada sisitem


pemerintahan begitu pula praktik pemerintahannya tidak jarang
menyimpang

dari

landasan

dasarnya

sebagai

contoh

berlandaskan UUD 1945 sistem pemerintahannya presidentil,


namun pada praktiknya sisitem parlementer, sampai digunakan
UUD RIS dan UUDS bentuk pemerintahan menggunakan sistem
parlementer. Jadi sistem pemerintahan presidentil murni baru
dapat dilaksanakan setelah Dekrit presiden 1959 ( kembali ke
UUD 1945 ).

11

Perkembangan demokrasi di Indonesia mengalami fluktuasi dan masa


kejaannya dari masa kemerdekaan sampai saat ini. Dalam perjalanan demokrasi
Negara Indonesia, terdapat berbagai masalah yang muncul yang harus dihadapi,
yaitu bagaimana suatu demokrasi sebagai tonggak berkembangnya suatu Negara
dapat menjadi peran dalam mewujudkan berdirinya sisi kehidupan berbangsa dan
bernegara. Perkembangan demokrasi Indonesia, dalam kurunnya waktu terbagi
menjadi menjadi empat periode, yaitu:
1)
2)
3)
4)

Demokrsi Parlementer (1945-1959),


Demokrasi Terpimpin (1959-1965),
Demokrasi Pancasila (1965-1998),
Demokrasi dalam Orde Reformasi (1998-sampai sekarang).

2.5.1

Demokrasi Parlementer (1945-1959)


Demokrasi pada masa ini dikenal dengan demokrasi parlementer.Dimana

parlementer mulai diberlakukan sesudah sebulan kemerdekaan di proklamirkan


dan

kemudian

diperkuat

dalam

UUD

1945

dan

1950.Namun

dalam

pelaksanaannya kurang sesuai untuk Indonesia. Karena persatuan yang dapat


digalang selama menghadapi musuh bersama dan tidak dapat dibina menjadi
kekuatan-kekuatan konstuktif sesudah kemerdekaan dicapai. Karena lemahnya
benih-benih demokrasi demokrasi sistem peluang untuk mendominasi partaipartai politik dan DPR.
Dimana menurut UUD 1950 menetapkan berlakunya sistem parlementer,
dengan Badan Eksekutif yang terdiri dari presiden sebagai kepala Negara beserta
menteri-menterinya yang mempunyai tanggung jawab politik.
Karena fragmentasi partai politik, usia kabinet pada masa ini jarang dapat
bertahan cukup lama, juga ternyata ada beberapa kekuatan sosial dan politik yang
tidak memperoleh saluran dan tempat yang realistis, padahal merupakan kekuatan
yang paling penting, akhirnya koalisi yang dibangun dengan sangat gampang
pecah, hal ini mengkibatkan, destabilisasi politik nasional.
Faktor-faktor semacam ini ditambah dengan tidak mampunya anggotaanggota partai yang tergabung dalam konstituante untuk mencapai konsesus
mengenai dasar Negara untuk UUD baru, akhirnya mendorong Ir. Soekarno untuk
mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, dengan memperlakukannya

12

kembaliUUD 1945 sebagai Undang-Undang Dasar. Dengan peristiwa ini


berakhirlah masa demokrasi parlementer
2.5.2

Demokrasi Terpimpin (1959-1965)


Pada masa periode ini, ialah adanya dalam pendominasian presiden dalam

kegiatan pemerintahan, berkembangnya komunis, dan meluasnya peran ABRI


dalam unsur sosial politik. UUD 1945 membuka kesempatan bagi seorang
presiden untuk bertahan sekurang-kurangnya 5 tahun.Akan tetapi ketetapan
MPRS No.III/1963 yang mengangkat Ir.Soekarno sebagai presiden seumur hidup,
telah membatalkan pembatasan dalam kurun waktu 5 tahun itu. Selain itu, banyak
terjadi tindakan penyimpangan lainnya yang terjadi terhadap ketentuan UUD
1945 yang eksplisit ditentukan dan presiden tidak berhak atau mempunyai
wewenang untuk berbuat demikian.
Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong juga mengganti Dewan
Perwakilan

Rakyat

sebagai

hasil

pemilu,

ditonjolkan

peranannya

sebagaipembantu pemerintah sedangkan fungsi kontrol ditiadakan dan di dalam


bidang perundang-undangan dimana segala aktifitas pemerintahan dilaksanakan
melalui Penetapan Presiden yang memakai sumber Dekrit 5 Juli.
Dan bagaimanakah rumusan demokrasi terpimpin dan apakah butir-butir
pokok demokrasi terpimpin seperti, yang dikemukakan Soekarno, dalam kutipan
A.SyafiI Maarif adalah demokrasi yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/perwakilan. Dan prinsip-prinsip demokrasi terpimpin
yang dikemukakan oleh Soekarno adalah sebagai berikut, pertama, tiap-tiap orang
diwajibkan untuk berbakti kepada kepentingan umum, masyarakat, bangasa, dan
Negara, kedua, tiap-tiap orang berhak mendapat penghidupan yang layak dalam
masyarakat, bangsa, dan Negara.

2.5.3

Demokrasi Pancasila (1965-1998)


Dengan landasan formil, yaitu pancasila, UUD 1945, dan Ketetapan

MPRS. Dalam usah untuk meluruskan kembali penyelewengan terhadap UUD


1945.Dan begitupula meniadakan pasal yan memberi wewenang kepada presiden

13

untuk memutuskan permasalahan yang tidak dicapai mufakat antara badan


legeslatif. Selain itu beberapa hak asasi diusahakan supaya diselenggarakan secara
lebih penuh dengan memberi kebebasan kepada pers untuk menyatakan pendapat,
dan kepala partai-partai politik untuk bergerak dan menyusun kekuatannya,
terutama menjelang pemilu 1971. Dengan demikian diharapkan terbinanya
partisipasi golongan-golongan dalam masyarakat.
Namun dalam pelaksanaanya, demokrasi pancasila pada masa Soeharto
belum mencapai pada tataran praksis. Karena dalam demokrasi ini, ditandai
dengan adanya dominan para ABRI, birokratisasi dan sentralisasi pengambilan
keputusan politik, pengebirian peran dan fungsi partai politik, adanya campur
tangan pemerintah dalam berbagai urusan partai politik, masa mengambang,
monolitisasi ideologi Negara dan inkorporasi lembaga non pemerintah. Sehingga
pelaksanaan demokrasi pada masa ini belum secara penuh ditegakan berdasar
nilai-nilai demokrasi pancasila.
2.5.4 Demokrasi Reformasi (1998-sampai sekarang)
Runtuhnya rezim orde baru telah membawa harapan baru
bagi tumbuhnya demokrasi di Indonesia. Bergulirnya reformasi
menjadi masa tansisi di Indonesia, dimana pada masa ini terjadi
pembalikan arah perjalan bangsa dan Negara yang akan
membawa

Indonesia

kembali

memasuki

masa

otoriter

sebagaimana yang terjadi pada orde lama dan orde baru.


Sukses atau gagalnya suatu demokrasi tergantung pada
empat faktor, yaitu:
1) Komposisi elite politik,
2) Desain institusi politik,
3) Kultur politik atau perubahan sikap terhadap politik pada
kalangan elite dan non elit,
4) Peran masyarakat madani.
Pentingnya komposisi elite politik, dikarenakan dalam
demokrasi modern dengan bentuknya demokrasi perwakilan
rakyat mendelegasikan kedaulatan dan kekuasaannya pada elite
politik.Dimana para elite politik mendesain institusi politik, yang

14

dimana

saling

bertanggungjawab

dalam

melakukan

tawar

menawar, memobilisasi dukungan, dan opini publik.


Indikasi kearah terwujudnya kehidupan demokratis dalam
era transisi menuju demokrasi di Indonesia antara adanya
reposisi dan redefinisi TNI dalam kaitan dengan keberadaannya
pada sebuah Negara demokrasi, diamandemennya pasal-pasal
dalam

konstitusi

Negara

RI,

adanya

kebebasan

pers,

dijalankannya kebijakan otonomi daerah, dan sebagainya. Akan


tetapi sampai saat inipun
kembalinya

keuasaan

yang

masih dijumpai indikasi-indikasi


masih

memutar

balikan

arah

demokrasi di Indonesia kembali ke periode sebelum reformasi.


Oleh sebab itu, kondisi transisi demokrasi Indonesia untuk saat
ini belum jelas kemana arahnya. Perubahan sistem politik melalui
paket amandemen konstitusi (amandemen-IV) dan pembuatan
paket perundang-undangan politik (UU Partai Politik, UU Pemilu,
UU Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, UU Susunan dan
Kedudukan DPR, DPRD, DPD), dimana dapat mengawasi transisi
menuju demokrasi seutuhnya.
Pada pelaksanaan pemerintahan pada masa sekarang,
masih terjadi tindakan di luar nilai UUD 1945. Maraknya kasus
korupsi

dikalangan para pejabat Negara yang masih

belum

terselesaikan.
2.6 Perkembangan Demokrasi di Indonesia
Setelah Orde Baru tumbang yang ditandai oleh turunnya Soeharto dari
kursi kepresidenan pada bulan Mei 1998 terbuka kesempatan bagi bangsa
Indonesia untuk kembali menggunakan demokrasi. Demokrasi merupakan pilihan
satu-satunya bagi bangsa Indonesia karena memang tidak ada bentuk
pemerintahan atau sistem politik lainnya yang lebih baik yang dapat dipakai untuk
menggantikan sistem politik Orde Baru yang otoriter. Oleh karena itu, ada
konsensus nasional tentang perlunya digunakan demokrasi setelah masa Orde
Baru tumbang.

15

Gerakan demokratisasi setelah Orde Baru dimulai dengan gerakan yang


dilakukan oleh massa rakyat secara spontan. Segera setelah Soeharto menyatakan
pengunduran dirinya, para tokoh masyarakat membentuk sejumlah partai politik
dan melaksanakan kebebasan berbicara dan berserikat/berkumpul sesuai dengan
nilai-nilai demokrasi tanpa mendapat halangan dari pemerintah. Pemerintah tidak
melarang demokratisasi tersebut meskipun peraturan perundangan yang berlaku
bisa digunakan untuk itu. Tentu saja pemerintah tidak mau mengambil resiko
bertentangan dengan rakyat sehingga pemerintah membiarkan demokratisasi
bergerak sesuai dengan keinginan rakyat.
Pemerintah kemudian membuka peluang yang lebih luas untuk
melakukan demokratisasi dengan mengeluarkan tiga UU politik baru yang lebih
demokratis pada awal 1999. Langkah selanjutnya adalah amandemen UUD 1945
yang bertujuan untuk menegakkan demokrasi secara nyata dalam sistem politik
Indonesia. Demokratisasi pada tingkat pemerintah pusat dilakukan bersamaan
dengan demokratisasi pada tingkat pemerintah daerah (provinsi, kabupaten, dan
kota madya).
Tidak lama setelah UU Politik dikeluarkan, diterbitkan pula UU
Pemerintahan Daerah yang memberikan otonomi yang luas kepada daerah-daerah.
Suasana kebebasan dan keterbukaan yang terbentuk pada tingkat pusat dengan
segera diikuti oleh daerah daerah.
Oleh karena itu beralasan untuk mengatakan, demokratisasi di Indonesia
semenjak 1998 juga telah menghasilkan demokratisasi pada tingkat pemerintah
daerah. Sesuai dengan perkembangan demokratisasi di tingkat pusat, di tingkat
provinsi (juga di tingkat kabupaten dan kota) dilakukan penguatan kedudukan dan
fungsi tersebut mempunyai kedudukan yang sama dengan gubernur. Gubernur
tidak lagi merupakan penguasa tunggal seperti yang disebutkan dalam UU
Pemda yang dihasilkan selama masa Orde Baru. DPRD telah mendapatkan
perannya sebagai lembaga legislatif daerah yang bersama-sama dengan gubernur
sebagai kepala eksekutif membuat peraturan daerah (perda). DPRD Provinsi
menjadi lebih mandiri karena dipilih melalui pemilihan umum (pemilu) yang
demokratis. Melalui pemilu tersebut, para pemilih mempunyai kesempatan

16

menggunakan hak politik mereka untuk menentukan partai politik yang akan
duduk di DPRD.
Suasana kebebasan yang tercipta di tingkat pusat sebagai akibat dari
demokratisasi

juga

tercipta

di

daerah.

Partisipasi

masyarakat

dalam

memperjuangkan tuntutan mereka dan mengawasi jalannya pemerintahan telah


menjadi gejala umum di seluruh provinsi di Indonesia. Rakyat semakin menyadari
hak-hak mereka sehingga mereka semakin peka terhadap praktek-praktek
penyelenggaraan pemerintahan yang tidak benar dan merugikan rakyat. Hal ini
mengharuskan pemerintah bersikap lebih peka terhadap aspirasi yang berkembang
di dalam masyarakat. Demokratisasi telah membawa perubahan-perubahan politik
baik di tingkat pusat maupun daerah. Apa yang terjadi di tingkat pusat dengan
cepat ditiru oleh daerahdaerah. Demokratisasi merupakan sarana untuk
membentuk system politik demokratis yang memberikan hak-hak yang luas
kepada rakyat sehingga pemerintah dapat diawasi untuk mencegah terjadinya
penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power).
2.7 Implementasi Demokrasi dalam Berbangsa dan Bernegara
2.7.1

Pemilihan Umum
Pemilihan umum dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. Mulai tahun 2004,

pemilu dilaksanakan untuk memilih anggota dewan perwakilan rakyat pusat dan
daerah serta pasangan presiden dan wakil presiden. Bagi negara, pemilu menjadi
tonggak pelaksanaan demokrasi. Melalui pemilu, rakyat melaksanakan haknya
untuk memilih wakil di parlemen serta pemimpin negara. Pelaksanaan pemilu
menunjukkan perilaku demokratis dalam suatu negara. Melalui pemilu,
pelaksanaan pemerintahan dilakukan dari, oleh, dan untuk rakyat. Setiap warga
negara memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan tanpa paksaan, tekanan, dan
pengaruh pihak lain.
2.7.2

Pemilihan Kepala Daerah


Pemilihan kepala daerah (pilkada) menunjukkan pelaksanaan demokrasi

masyarakat di daerah. Pilkada dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. Pilkada


dilaksanakan di daerah provinsi, kabupaten, dan kota. Pilkada menjadi indikator

17

pelaksanaan kehidupan yang demokratis di daerah. Dalam pilkada, masyarakat


berhak memiliki pasangan pemimpin daerah sesuai dengan ketetapan hati masingmasing. Di tingkat provinsi, rakyat memilih gubernur dan wakil gubernur, di
tingkat kabupaten, rakyat memilih bupati dan wakil bupati, di tingkat kota, rakyat
memilih wali kota dan wakil wali kota.
2.7.3

Pembagian Kekuasaan
Dalam pemerintahan yang demokratis, kekuasaan tidak terpusat pada satu

lembaga. Pemerintahan yang demokratis dapat terwujud melalui pembagian


kekuasaan. Seperti yang berlaku di Indonesia, kekuasaan negara dibagi menjadi 3,
yaitu kekuasaan eksekutif, kekuasaan legislatif, dan kekuasaan yudikatif.
2.7.4

Kebebasan Pers
Pers menjadi salah satu pilar demokrasi. Pers diharapkan mampu menjadi

penyeimbang dalam proses demokratisasi. Pers perlu memperoleh kebebasan agar


mampu melaksanakan perannya. Pers yang dilindungi kebebasannya adalah pers
yang bertanggung jawab dan konstruktif.
2.7.5

Pluralisme
Pluralisme menunjukkan keberagaman suatu bangsa. Perilaku demokratis

ditunjukkan dengan adanya penghargaan terhadap keberagaman. Pluralisme harus


dijamin oleh negara. Tidak ada pembeda antara kelompok mayoritas maupun
minoritas. Semua suku, agama, ras, dan golongan memiliki hak dan kewajiban
yang sama di berbagai bidang kehidupan.
2.7.6

Kesetaraan Hukum
Perilaku demokratis ditunjukkan dengan kesetaraan hukum. Semua warga

negara memiliki kedudukan yang sama di depan hukum. Penerapan hukum


didasarkan pada fakta hukum dengan dilandasi norma hukum yang berlaku.