Anda di halaman 1dari 3

Awas!

Trauma Thorax (Dada) Mengancam Jiwa


Oleh Destur Amd. Kep
Wednesday, 4 June 2014
Bagikan :
Tweet
SenyumPerawat.com - Trauma dada terkadang tidak mendapat
perhatian lebih. Masih banyak orang yang menyepelekan trauma
dada ini. Ketika seseorang mengalami kecelakaan maka tidak jarang
terjadi benturan pula pada daerah dada. Bukan suatu hal ringan jika
benturan hingga meninggalkan jejas (luka lecet). Perlu dicurigai
adanya tension pneumothorax, hematothorax, flail chest atau
temponade jantung. Apalagi jika timbul nyeri berlebih. Terlebih lagi
jika dada sebelah tidak seperti dada sebelahnya dalam ekspansinya
(kembang kempisnya).
Beberapa trauma dada yang dapat menyebabkan kematian dapat
diklasifikasikan dalam 5 jenis. Keseluruhannya perlu mendapatkan
penanganan segera dan termasuk kasus gawat darurat. Lebih jelas
mari kita pelajari bersama apa saja jenis trauma yang mematikan
itu. Boleh jadi korban meninggal bukan karena penyakit itu tapi
penanganan penolong yang salah.
a. Open Pneumothorax
Open pneumothotax terjadi karena benda tajam yang mengoyak
bagian dada sehingga rongga pelindung paru-paru robek. Paru-paru
dilindungi oleh sebuah selaput yang disebut pleura. Jadi ketika
pleura ini mengalami kontak langsung dengan udara luar maka
paru-paru mengambil udara langsung dari luka itu secara langsung,
bukan melalui saluran udara yang seharusnya. Hal ini terjadi jika
luasnya lubang lebih dari 2/3 diameter trachea. Pada kondisi saat
ini, korban akan mengalami sesak yang sangat hebat. Hal pertama
yang harus dilakukan untuk menyelamatkan korban adalah dengan
menutup lubang pada dinding dada. Penutupan lubang ini
menjadikan open pneumothorax menjadi closed pneumothorax.
Untuk mengatasi hal ini maka tindakan yang tepat adalah:
Menutup dengan kasa 3 sisi. Kasa ditutup dengan plaster para 3 sisi
sedangkan pada sisi yang atas dibiarkan terbuka (kasa harus dilapisi
dengan zalf/softratulle para sisi dalamnya agar kedap udara).
Menutup dengan kasa kedap udara. Jika dilakukan cara ini maka
harus sering dilakukan evaluasi paru. Jika ternyata timbul tanda
tension pneumothorax maka kasa harus dibuka.
Pada luka yang sangat besar maka dapat dipakai plastk infus yang
digunting sesuai ukuran.
b. Tension Pneumothorax
Tension Pneumothorax dapat timbul karena pneumothorax
sederhana akibat trauma tembus atau benda tajam yang merobek

pleura. Penyebab lain juga bisa diakibatkan oleh penggunaan flapvalve yang tidak sesuai SOP, penggunaan ventilator mekanik yang
tidak tepat dan fraktur (patah tulang) tulang belakang thorax yang
mengalami pergeseran. Tension pneumotorax ditandai dengan nyeri
dada, sesak nagas, distress pernapasan, takikardi, hipotensi, deviasi
trakea dan hilangnya suara nafas pada satu sisi serta distensi vena
leher. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya hipersonor dan
hilangnya suara nafas pada sisi paru yang terkena. Penanganan
untuk tension pneumothorax ini harus segera karena begitu
mematikan.
Jika sudah dipastikan bahwasanya pasien mengalami tension
pnumothorax maka harus segera dilakukan tindakan darurat yakni
Needle Thoracosintesis. Tindakan needle thoracosintesis adalah
menusukkan jarum besar (ukuran 14 atau 16) pada intercostae 2
lurus dari mid clavicula. Selain itu juga dapat dilakukan dengan
memasang selang dada (Chest tube) pada intercostae (sela tulang
iga) ke-5 di antara garis axillaris anterior dan midaxillaris.
c. Hematothorax Masif
Terjadinya perdarahan hebat mencapai lebih dari 1500 cc dalam
rongga dada. Penyebab utamanya tentu adanya luka tembus yang
mengoyak pembuluh darah sistemik atau pembuluh darah pada
hilus paru. Tanda dan gejala utamanya adalah tentu adanya ciri-ciri
khas shock hipovilemi dengan diiringi hilangnya suara nafas serta
perkusi redup pada thorax. Tindakan utama yang dapat
menyelamatkan pasien adalah dengan operasi. Terapi awal untuk
masalah ini adalah dengan resusitasi cairan untuk mengatasi syol
hipovolemi. Resusitasi dilakukan bersamaan dengan dekompresi
rongga pleura dan torakotomi tilakukan jika didapatkan bahwa
jumlah perdarahan mencapai lebih dari 1500 cc atau kehilangan
terus-menerus 200 cc/jam dalam waktu 2-4 jam.
d. Flail Chest
Tidak mengembangnya salah satu paru akibat dinding dada yang
mengalami fraktur. Fraktur iga (costae) yang multiple (2-3 tulang iga
atau bahkan lebih). Fraktur multiple ini mengakibatkan otot dinding
dada tidak bekerja maksimal sehingga dada tidak mampu
mengembang. Kondisi ini akan sangat mempengaruhi paru sehingga
juga tak mampu mengembang. Pada saat ekspirasi, dada justru
menonjol dan saat inspirasi justru dada mengempis. Jika
diobservasi, dinding dada kanan dan kiri bergerak tidak simetris.
Pernapasan vesikuler jika dinding dada bergerak kanan-kiri secara
bersamaan dan teratur namun jika kondisi seperti di atas maka
disebut dengan pernapasan paradoksal. Terapi awal sebagai

tindakan emergency adalah dengan memberikan oksigen secara


adekuat, pemberian analgesik untuk mengurangi nyeri dan
resusitasi cairan.
e. Tamponade Jantung
Tamponade jantung dapat terjadi akibat luka benda tajam pada
jantung atau juga benda tumpul. Darah terkumpul dalam rongga
pericardium sehingga kontraksi jantung terganggu dan dapat timbul
syok kardiogenik. Ciri khas temponade jantung adalah trias beck
yang terdiri dari peningkatan tekanan vena, penurunan tekanan
arteri dan suara jantung yang menjauh. Pemasangan CVP dan USG
abdomen dapat membantu diagnosis. Pericardiosintesis adalah
tindakan gawat darurat untuk temponade jantung. Tindakan ini
dilakukan dengan cara menusuk rongga pericardium dengna jarum
besar untuk mengeluarkan perdarahan. Tindakan bedah dilakukan
dengan perikardiotomi.