Anda di halaman 1dari 5

AUDIT INTERN BERBASIS RISIKO

UNTUK MENGUNGKAP ADANYA


KECURANGAN (FRAUD) PADA
PEMBIAYAAN (Studi Kasus Pada PT.
Bank Syariah X di Malang)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Kecurangan (fraud) adalah penipuan kriminal yang bermaksud untuk memperoleh manfaat
keuangan oleh si pelaku kecurangan. Karakteristik kecurangan ada tiga yaitu :
1. Penipuan (theft act)
2. Pengembangan atau peyembunyian fakta (concealment) agar penipuan tidak terlacak
3. Penggunaan hasil kecurangan (conversion)
Kecurangan dapat dilakukan oleh karyawan, manajemen, pemasok, pelanggan. Contoh
kecurangan langsung yang dilakukan karyawan misalnya pengambilan uang kas,
persediaan dan peralatan perusahaan, dan kecurangan yang melibatkan pihak ketiga misalnya
suap/kick back/bribe.
Kecurangan yang dilakukan oleh manajemen misalnya rekayasa laporan keuangan
untuk mempertinggi laba bersih, investasi fiktif (investment scams) dan lain-lain.
Kecurangan yang dilakukan oleh pemasok misalnya menaikkan harga sepihak
(overcharge), pengiriman barang bermutu rendah, kekurangan atau tidak mengirimkan barang
yang sudah dibayar. Kecurangan yang dilakukan oleh pelanggan misalnya tidak membayar
barang yang dikirim, pembobolan bank dan lain-lain. Apa sebabnya orang melakukan
kecurangan? Faktor-faktor penyebab kecurangan mungkin karena tekanan (pressure)
keuangan, penyakit mental, ataupun tekanan karena beban pekerjaan.
Tekanan keuangan mungkin karena sifat tamak, besar pasak dari pada tiang, terlilit utang,
kebutuhan biaya pengobatan, kebutuhan uang mendesak, kerugian keuangan/aktiva pribadi.
Penyakit mental mungkin karena berjudi, menggunakan obat-obatan terlarang, dan perilaku
seksual yang mahal. Tekanan beban pekerjaan mungkin karena lembur jam kerja yang terlalu
lama, merasa kurang dihargai sesuai prestasi, jenjang karir (career path) yang tidak jelas dan
lain-lain. (Amin Widjaja Tunggal, 2001:iii) Menurut Association of Certified Fraud
Examiners (1993) di Amerika Serikat, kerugian tahunan dari kejahatan kerah putih (white
collar crime) diperkirakan USD 200 milyar atau lebih.

Sebagian terbesar mengalami kerugian % sampai 2% dari penjualan akibat


kecurangan dan ketidakjujuran karyawan

Pada tahun-tahun terakhir, ketidakjujuran pihak di dalam perusahaan, direksi, pejabat


dan karyawan memberi kontribusi lebih dari setengah dari kegagalan institusi
keuangan

45 manajemen puncak dari 100 pemasok militer yang terbesar berada di bawah
investigasi kecurangan kriminal

1/3 dari kegagalan usaha (business failure) karena kecurangan internal

Hanya 30% dari kerugian usaha eceran berasal dari pencuri toko (shop lifters), 70%
dicuri oleh karyawan

Dalam skandal penyimpanan dan peminjaman, diperlukan 4.000 tahun oleh perampok
untuk mengimbangi apa yang dicuri oleh pejabat dan direktur. Kejahatan finansial
mengakibatkan kerugian lebih besar daripada tipe kejahatan yang lain. Beberapa
statistik telah menunjukkan bahwa kecurangan karyawan 5000% lebih besar dari pada
kejahatan lain seperti pencurian (burlgary) dan perampokan bersenjata (armed
robbery). (Amin Wijaya Tunggal, 2001:5)

Bagaimana dengan di Indonesia ? Tidak jauh dengan apa yang terjadi di Amerika Serikat
sejumlah catatan kecurangan yang dilakukan oleh kaum kerah putih (white collar crime) yang
telah diketahui publik antara lain :

Kasus Pembobolan dana BRI Rp. 294 Miliar

Kasus Pembobolan dana BRI Rp. 676 Miliar

Kasus Pembobolan dana BNI Rp. 130 Miliar

Kasus Pembobolan dana BNI Rp. 195 Miliar

Kasus Pembobolan dana BNI Rp. 1,7 Triliun

1.1.1 Tipe Korban


Terdapat empat kategori utama korban kecurangan yaitu :
1. Pemegang saham
Pemegang saham sering menjadi korban kecurangan manajemen (management fraud) yaitu
manajer berusaha secara palsu meningkatkan laba atau aktiva.
2. Investor

Misalnya investor mengalami kerugian di pasar modal karena tindak pidana yang dilakukan
emiten (insider trading) dan lain-lain.
3. Perusahaan (enterprise)
Baik organisasi komersial maupun pemerintahan dapat menjadi korban baik kecurangan
internal maupun eksternal.
4. Pelanggan
Organisasi usaha sering mengorbankan pelanggannya melalui advertensi yang menyesatkan,
substitusi produk dan pola yang sejenis. (Amin Wijaya Tunggal,
2001:6)
1.1.2 Kecurangan Dalam Perspektif Akuntansi dan Audit
Dari sudut pandang akuntansi dan audit, kecurangan adalah penggambaran yang salah dari
fakta material dalam buku besar atau laporan keuangan. Pernyataan yang salah dapat
ditujukan pada pihak dalam organisasi seperti pemegang saham atau kreditor, atau pada
organisasi itu sendiri dengan cara menutupi atau menyamarkan penggelapan uang,
ketidakcakapan, penerapan dana yang salah atau pencurian atau penggunaan aktiva organisasi
yang tidak tepat oleh petugas, pegawai atau agen.
Kecurangan dapat juga ditujukan pada organisasi oleh pihak luar misalnya penjual, pemasok,
kontraktor, konsultan dan pelanggan dengan cara penagihan yang berlebihan, dua kali
penagihan, substitusi material yang lebih rendah mutunya, pernyataan yang salah mengenai
mutu dan nilai beli barang yang dibeli atau besarnya kredit pelanggan. Pihak luar seperti itu
dapat juga bersalah dari korupsi di dalam misalnya perampokan komersial.
Kecurangan, pencurian, penggelapan uang dan perampokan komersial adalah puncak
perhatian dari auditor keuangan. Audit kecurangan adalah disiplin yang digunakan untuk
melihat, menemukan dan mendokumentasikan kejadian-kejadian itu. kejadian- kejadian ini
bisanya melibatkan pernyataan laba, aktiva dan pendapatan yang berlebihan, dan pernyataan
kerugian, hutang dan pengeluaran yang diperkecil atau kobinasi dengan kata arbitrary,
misalnya tidak sama dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Maka membuktikan
kecurangan jenis yang sebelumnya (pemasukan yang salah dalam buku besar) pada
umumnya lebih mudah daripada membuktikan kecurangan dalam laporan keuangan.
Pemasukan yang salah dalam laporan keuangan dapat disebabkan kesalahan penilaian
karena keteraturan akuntansi cukup luas dan cukup kompleks untuk membingungkan
akuntan yang pintar. Peraturan presentasi laporan keuangan masih berkembang. Peraturan
pembukuan relatif tetap. Debet sama dengan kredit. Kolom harus dijumlahkan tanpa
kesalahan matematika. Penjualan dan pengeluaran dimasukkan ketika selesai atau terjadi
dengan jumlah yang tepat, akun yang tepat, dan periode yang tepat. (Amin Wijaya Tunggal,
2001:10)
1.1.3 Audit Intern Berbasis Risiko
Audit intern berbasis risiko (risk based auditing) adalah suatu kegiatan audit yang berpeduli
resiko, suatu audit yang dimulai dengan proses penilaian resiko audit, sehinga dalam

perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan auditnya lebih difokuskan pada area-area penting
yang beresiko dari penyimpangan, kecurangan/fraud. Dengan demikian audit berbasis resiko
bukanlah merupakan suatu jenis audit, tetapi lebih merupakan suatu pendekatan dalam
melaksanakan suatu audit.
Pengendalian (control) adalah merupakan salah satu fungsi dari manajemen (POAC) dan
kegiatan audit merupakan salah satu unsur dalam pelaksanaan pengendalian (controlling)
tersebut. Dalam Manajemen Risiko, pengendalian (control) merupakan fungsi dari
manajemen risiko, dan audit yang berbasis pada risiko (Risk-Base Audit) merupakan salah
satu unsur pengendalian yang mutlak harus dilakukan sebagai proses yang inherent dalam
manajemen risiko. Audit Berbasis Risiko (Risk-Base Audit) adalah mata rantai dari
Manajemen Risiko yang berada dalam satu paket program penerapan Manajemen Risiko
yang dilaksanakan.
Audit berbasis risiko menetapkan fokus dan prioritas pemeriksaan berbasis risiko. Dengan
demikian kegiatan audit akan diarahkan ke area yang dianggap berisiko tinggi, kemudian ke
area risiko yang di atas rata-rata dan seterusnya ke area risiko yang lebih rendah.
Menetapkan fokus pemeriksaan audit
pada area yang berisiko tinggi dan
kemudian ke risiko yang lebih rendah sangat menghemat tenaga dan lebih efektif dalam
mencapai sasaran. Walaupun demikian tidak berarti bahwa area yang lebih rendah
risikonya tidak diperiksa, yang terjadi adalah frekuensi pemeriksaan area berisiko rendah
tidak sebanyak frekuensi pemeriksaan area yang berisiko tinggi.
Penyediaan tenaga auditor yang memadai dalam hal kuantitas dan kualitas menjadi tantangan
tersendiri untuk mengimbangi pertumbuhan dan perkembangan bisnis bank yang pesat.
Auditor yang baik memerlukan jam terbang tertentu, karena keterbatasan ketersediaan
tenaga tersebut memfokuskan kegiatan dan pemeriksaan audit pada area berisiko tinggi
menjadi hal yang beralasan.
Audit coverage adalah rasio (perbandingan) antara Satuan Kerja yang di audit dengan
seluruh Satuan Kerja dalam bank yang seharusnya menjadi objek audit. Berkaitan dengan
Audit Berbasis Risiko yang memprioritaskan pemeriksaan ke Satuan Kerja yang dianggap
berisiko tinggi saja (tidak secara keseluruhan dan tentu saja menurunkan persentase audit
coverage) tentu saja menimbulkan kekhawatiran apakah Satuan Kerja yang tidak diperiksa
benar-benar aman dan apakah kecenderungan akan semakin banyaknya penyimpangan
dapat dikendalikan? Dengan penerapan Audit Berbasis Risiko efektifitas audit tidak lagi
diukur oleh luasnya cakupan audit coverage melainkan apakah area yang dan aspek kegiatan
bank yang berisiko tinggi (high risk dan above average risk) sudah seluruhnya tercakup
dalam pemeriksaan, sehingga dengan demikian kekhawatiran atas semakin banyaknya
penyimpangan yang tidak dapat dikendalikan dapat diminimalisir.
Pembiayaan (kredit) adalah salah satu kegiatan bank yang mengandung risiko yang tinggi.
Risiko pembiayaan (kredit) sebagaimana disebutkan di atas adalah risiko yang terjadi akibat
kegagalan pihak lawan (counterparty) memenuhi kewajibannya. Risiko pembiayaan (kredit)
dapat bersumber dari berbagai aktivitas fungsional bank seperti perkreditan (penyediaan
dana), tresuri dan investasi, dan pembiayaan perdagangan, yang tercatat dalam banking book
maupun trading book
Beberapa risiko pembiayaan yang merupakan risiko inherent antara lain :

1. Apabila debitur (counter party) gagal memenuhi kewajibannya baik hutang pokok
maupun bagi hasilnya, maka risiko tersebut dinamakan risiko pembiayaan, yaitu
gagalnya debitur memenuhi perjanjian yang disepakati. Risiko pembiayaan disebut
juga sebagai borrowers default atau counter party default.
2. Pembiayaan yang gagal dibayar debitur menyebabkan dana bank tidak kembali,
dana yang seharusnya dapat dipakai untuk memenuhi kewajiban bank tertahan pada
debitur yanng bersangkutan sehingga bank tidak dapat memenuhi kewajibannya
kepada pihak ketiga lainnya. Hal ini disebut risiko likuiditas.
3. Recovery kredit macet dapat diusahakan dari eksekusi jaminan yang
diserahkan kepada bank, tetapi karena proses pengikatan jaminan tidak dilakukan atau
tidak sempurna berakibat eksekusi jaminan tidak dapat dijalankan sehingga akhirnya
recovery pembiayaan tersebut gagal. Hal ini disebut sebagai risiko operasional karena
kesalahan proses.
4. Apabila pembiayaan tersebut diberikan dalam mata uang asing (valas), dan terjadi
fluktuasi nilai tukar maka risiko kerugian bank menjadi lebih besar akibat (misalnya)
terjadi penurunan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing tersebut. Hal ini
disebut sebagai risiko nilai tukar.
5. Apabila pembiayaan bermasalah tersebut disebabkan karena rekayasa analis officer
pembiayaan dalam memproses maka hal ini disebut sebagai risiko kecurangan/fraud.
Risiko kecurangan termasuk dalam risiko operasional. Dan apabila masalah
kecurangan ini mencuat dan tersebar ke masyarakat sehingga menyebabkan citra dan
reputasi bank menjadi jelek, hal ini disebut juga risiko reputasi. (Z. Dunil, 2003)
Berdasarkan uraian di atas, penulis bermaksud untuk menganalisis penerapan audit intern
berbasis risiko PT. Syariah Bank X Cabang Malang dalam sebuah skripsi berjudul :
Audit Intern Berbasis Risiko Untuk Mengungkap Adanya Kecurangan (Fraud)
Pada Bidang Pembiayaan ((Studi Kasus Pada PT. Bank Syariah X di Malang).
1.2 Perumusan Masalah
PT. Bank Syariah X Cabang Malang sebagai lembaga perbankan yang juga
menyelenggarakan kegiatan pembiayaan tentunya juga tidak terlepas dari berbagai risiko
tersebut di atas.
Oleh karena itu masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah terdapat risiko fraud pada kegiatan pembiayaan di PT. Bank Syariah X
Cabang Malang ?
2. Apakah kegiatan audit intern berbasis risiko dapat mengungkapkan atau menemukan
risiko fraud dalam kegiatan pembiayaan yang dilaksanakan?