Anda di halaman 1dari 17

Nama

:
Pamungkas
N.P.M.
Kelas
:
Jurusan
:
Semester :

M. Heppy Putra
: 41182911150094
Reguler B
P.A.I.
II (Dua)
TUGAS UTS USHUL FIQH
Dosen: Drs. M. Sabeni, MA.

1. Jelaskan menurut Saudara hakikat fungsi manfaat dan perbedaan


yang mendasar antara fiqh dan ushul fiqh!
Jawaban:

Fiqh
Fungsi dan manfaat fiqh antara lain, yaitu:
a. Menanamkan nilai-nilai dan kesadaran beribadah kepada Allah
Swt, sebagai pedoman mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan
akhirat,
b. Membiasakan pengamalan terhadap hukum Islam dengan ikhlas
dan perilaku yang sesuai dengan peraturan yang berlaku,
c. Membentuk kedisiplinan dan rasa tanggung jawab sosial,
d. Meneguhkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT serta
menanamkan akhlaq,
e. Membangun mental dalam menyesuaikan diri dalam lingkungan
fisik dan social,
f. Memperbaiki kesalahan dalam kelemahan dalam pelaksanaan
ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

Ushul Fiqh
Fungsi dan manfaat dalam mempelajari ushul fiqh antara lain, yaitu:
a. Dengan mempelajari ushul fiqh akan memungkinkan untuk
mengetahui

dasar-dasar

membentuk

pendapat

para

mujtahid

fikihnya.

masa

Dengan

silam

demikian,

dalam
akan

dimengerti betul secara mendalam, sehingga dengan itu bisa

diketahui sejauh mana kebenaran pendapat-pendapat fikih yang


berkembang di dunia

Islam. Pengetahuan seperti ini akan

mengantarkan

ketenangan

kepada

mengamalkan

pendapat-

pendapat mereka,
b. Dengan mengetahui ushul fiqih, kita akan mengetahui dasar-dasar
dalam berdalil, dapat menjelaskan mana saja dalil yang benar dan
mana saja dalil yang palsu. Dalil yang benar adalah apa yang ada
di dalam al-quran, hadist rosulullah serta perkataan para sahabat,
sedangkan

dalil-dalil

yang

palsu

adalah

seperti

apa

yang

didakwahkan oleh kaum syiah, dimana mereka mengatakan


bahwa mimpi dari seorang yang mereka agungkan adalah dalil.
Atau juga kelompok lain yang mengatakan bahwa perkataan para
tabiin adalah dalil, ini merupakan dalil yang palsu yang dapat
merusak syariat islam yang mulia ini,
c. Dengan studi ushul fiqh seseorang akan memperoleh kemampuan
untuk memahami ayat-ayat hukum dalam Al-Quran dan hadishadis hukum dalam Sunnah Rasulullah, kemudian meng-istinbatkan hukum dari dua sumber tersebut. Dalam Ushul Fiqh,
seseorang akan memperoleh pengetahuan bagaimana seharusnya
memahami

sebuah

ayat

atau

hadis,

dan

bagaimana

cara

mengembangkannya. Oleh sebab itu, ulama-ulama mujtahid


terdahulu, lebih mengutamakan studi Ushul Fiqh dari studi Fikih itu
sendiri. Sebab dengan mempelajari Ushul Fiqh seseorang bukan
saja mampu memakai tetapi berarti mampu memproduk fikih,
d. Dengan ushul fiqih, kita dapat mengetahui cara berdalil yang
benar, dimana banyak kaum muslimin sekarang yang berdalil
namun dengan cara yang salah. Mereka berdalil namun dalil yang
mereka gunakan tidaklah cocok atau sesuai dengan pembahasan
yang dimaksudkan, sehingga pemaknaan salah dan hukum yang
diambil menjadi keliru. Seperti halnya mereka menghalalkan
maulid nabi dengan dalil sunnahnya puasa senin, yang mana ini
sesuatu yang tidak berhubungan sama sekali. Bagaimana kita bisa
mengetahui bahwa itu adalah salah? Yakni dengan mempelajari
ushul fiqih,

e. Ketika pada jaman sekarang timbul perkara-perkara yang tidak


ada dalam masa nabi, terkadang kita bingung, apa hukum
melaksanakan

demikian

dan

demikian,

namun

ketika

kita

mempelajari ushul fiqih,kita akan tahu dan dapat berijtihad


terhadap suatu hukum yang belum disebutkan di dalam al-quran
dan hadits. Seperti halnya penggunaan komputer, microphone dll,
f. Dalam ushul fiqih akan dipelajari mengenai kaidah-kaidah dalam
berfatwa, syarat-syaratnya serta adab-adabnya. Sehingga fatwa
yang diberikan sesuai dengan keadaan dari yang ditanyakan,
g. Dengan mempelajari ushul fiqih, kita dapat mengetahui sebabsebab yang menjadikan adanya perselisihan diantara para ulama
dan juga apa alasan mereka berselisih, sehingga dari hal ini kita
akan lebih paham dan mengerti maksud dari perbedaan pendapat
tersebut, yang akhirnya kita bisa berlapang dada terhadap
perbedaan pendapat yang terjadi, bukannya saling mengejek dan
menjatuhkan satu sama lainnya,
h. Ushul fiqih dapat menjauhkan seseorang dari fanatik buta
terhadap para kiayi, ustadz atau guru-gurunya. Begitu pula
dengan ushul fiqih seseorang tidak menjadi taklid dan ikut-ikutan
tanpa mengetahui dalil-dalilnya,
i. Ushul fiqih dapat menjaga aqidah islam dengan membantah
syubhat-syubhat
menyimpang.

yang

Sehingga

dilancarkan
ushul

fiqih

oleh

orang-orang

merupakan

alat

yang
yang

bermanfaat untuk membendung dan menangkal segala bentuk


kesesatan,
j. Ushul fiqih menjaga dari kebekuan agama islam. Karena banyak
hal-hal baru yang belum ada hukumnya pada jaman nabi, dengan
ushul fiqih, hukum tersebut dapat diketahui.
k. Dalam ushul fiqih, diatur mengenai cara berdialog dan berdiskusi
yang merujuk kepada dalil yang benar dan diakui, tidak sematamata pendapatnya masing-masing. Sehingga dengan hal ini,
debat kusir akan terhindari dan jalannya diskusi dihiasi oleh ilmu
dan manfaat bukannya dengan adu mulut,

Perbedaan Mendasar Fiqh dan Ushul Fiqh

Ushul fiqh merupakan metode (cara) yang harus ditempuh


oleh ahli fiqh (faqih) di dalam menetapkan hukum-hukum syara
bedasarkan dalil syari, serta mengklasifikasikan dalil-dali tersebut
bedasarkan kualitasnya. Dalil dari Al Quran harus didahulukan dari
pada qiyas serta dalil-dalil lain yang tidak berdasarkan nash AlQuran dan Hadits. Sedangkan fiqh adalah hasil hukum-hukum syari
bedasarkan methode-methode tersebut.

2. Jelaskan menurut Saudara sejarah perkembangan ushul fiqh dari


periode awal sampai periode penulisan ushul fiqh sebagai sebuah
ilmu !
Jawaban:
a. Tahap Awal (abad 3H)
Pada abad 3 H di bawah pemerintahan Abassiyah wilayah
Islam semakin meluas kebagian timur. Khalifah-khalifah yang
berkuasa

dalam

abad

ini

adalah

Al-Mamun(w.218H),

Al-

Mutashim(w.227H), Al Wasiq(w.232H), dan Al-Mutawakil(w.247H)


pada masa mereka inilah terjadi suatu kebangkitan ilmiah
dikalangan Islam yang dimulai dari kekhalifahan Arrasyid. salah
satu hasil dari kebangkitan berfikir dan semangat keilmuan Islam
ketika itu adalah berkembangnya bidang fiqh yang pada giliranya
mendorong untuk disusunya metode berfikir fiqih yang disebut
ushul fiqh.
Seperti telah dikemukakan, kitab ushul fiqh yang pertamatama tersusun seara utuh dan terpisah dari kitab-kitab fiqh ialah
Ar-Risalah karangan As-Syafii. kitab ini dinilai oleh para ulama
sebagai kitab yang bertnilai tinggi. Ar-Razi berkata kedudukan
As-Syafii dalam ushul fiqh setingkat dengan kedudukan Aristo
dalam ilmu Manthiq dan kedudukan Al-Khalil Ibnu Ahmad dalam
ilmu Ar-rud.
Ulama sebelum

As-Syafii

berbicara

tentang

masalah-

masalah ushul fiqh dan menjadikanya pegangan, tetapi mereka

belum memperoleh kaidah-kaidah umum yang menjadi rujukan


dalam mengetahui dalil-dalil syariat dan cara memegangi dan
cara mentarjih kanya: maka datanglah Al-Syafii menyusun ilmu
ushul fiqih yang merupakan kaidah-kaidah umum yang dijadikan
rujukan-rujukan untuk mengetahui tingkatan-tingkatan dalil syarI,
kalaupun ada orang yang menyusun kitab ilmu ushul fiqh sesudah
As-Syafi;I, mereka tetap bergantung pada Asy-Syafii karena AsySyafiilah yang membuka jalan untuk pertama kalinya.
Selain kitab Ar-Risalah pada abad 3 H telah tersusun pula
sejumlah kitab ushu fiqh lainya. Isa Ibnu Iban(w.221H\835 M)
menulis kitab Itsbat Al-Qiyas. Khabar Al-Wahid, ijtihad ar-rayu.
Ibrahim Ibnu Syiar Al-Nazham (w.221H\835M) menulis kitab AnNakl dan sebagainya.
Namun perlu diketahui pada umumnya kitab ushul-fiqh yang
ada pada abad 3 h ini tidak mencerminkan pemikiran-pemikiran
ushul fiqh yang utuh dan mencakup segala aspeknya kecuali kitab
Ar-Risalah itu sendiri. Kitab Ar-Risalah lah yang mencakup
permasalahan-permasalahan

ushuliyah

yang

menjadi

pusat

perhatian Para Fuqoha pada zaman itu.


Disamping itu, pemikiran ushuliyah yang telah ada, kebanyakan
termuat dalam kitab-kitab fiqh, dan inilah salah satu penyebab
pengikut

ulama-ulama

tertentu

mengklaim

bahwa

Imam

Madzhabnya sebagai perintis pertama ilmu ushul fiqh tersebut.


Golongan Malikiyah misalnya mengklaim imam madzhabnya
sebagai perintis pertama ushul fiqh dikarenakan Imam Malik telah
menyinggung sebagian kaidah-kaidah ushuliyyah dalam kitabnya
Al Muwatha. Ketika ia ditanya tentang kemungkinan adanya dua
hadits shoheh yang berlawanan yang datang dari Rasulluloh pada
saat yang sama, Malik menolaknya dengan tegas, karena ia
berperinsip bahwa kebenaran itu hanya terdapat dalam satu
hadits saja.
b. Tahap perkembangan (abad 4 H)
Pada masa ini abad (4H) merupakan abad permulaan
kelemahan Dinasty abaSsiyah dalam bidang politik. Dinasty

Abasiyah terpecah menjadi daulah-daulah kecil yang masingmasing dipimpin oleh seorang sultan. Namun demikian tidak
berpengaruh

terhadap

perkembangan

semangat

keilmuan

dikalangan para ulama ketika itu karena masing-masing penguasa


daulah itu berusaha memajukan negrinya dengan memperbanyak
kaum intelektual.
Khusus dibidang pemikiran fiqh Islam pada masa ini
mempunyai karakteristik tersendiri dalam kerangka sejarah tasyri
Islam.

Pemikiran

liberal

Islam

berdasarkan

ijtihad

muthlaq

berhenti pada abad ini. mereka mengangagap para ulama


terdahulu mereka suci dari kesalahan sehingga seorang faqih
tidak mau lagi mengeluarkan pemikiran yang khas, terkecuali
dalam hal-hal kecil saja, akibatnya aliran-aliran fiqh semakin
mantap exsitensinya, apa lagi disertai fanatisme dikalangan
penganutnya.
menganut

Hal

ini

madzhab

ditandai
tertentu

dengan
dan

adanya

larangan

kewajiban
melakukan

berpindahan madzhab sewaktu-waktu.


Akan tetapi tidak bisa di ingkari bahwa pintu ijtihad pada
periode ini telah tertutup, akibatnya dalam perkembangan fiqh
Islam adalah sebagai berikut:
1) Kegiatan para ulama terbatas terbatas dalam menyampaikan
apa yang telah ada, mereka cenderung hanya mensyarahkan
kitab-kitab terdahulu atau memahami dan meringkasnya.
2) Menghimpun masalah-masalah furu yang sekian banyaknya
dalam uaraian yang sungkat.
3)

Memperbanyak pengandaian-pengandaian dalam beberapa


masalah permasalahan.
Keadaan tersebut sangat, jauh berbeda di bidang ushul fiqh.

Terhentinya ijtihad dalam fiqh dan adanya usaha-usaha untuk


meneliti

pendapat-pendapat

para

ulama

terdahulu

dan

mentarjihkanya. Justru memainkan peranan yang sangat besar


dalam bidang ushul fiqh.

Ada

beberapa

hal

yang

menjadi

ciri

khas

dalam

perkembangan ushul fiqh pada abad 4h yaitu munculnya kitabkitab ushul fiqh yang membahas ushul fiqh secara utuh dan tidak
sebagian-sebagian

seperti

yang

terjadi

pada

masa-masa

sebelumnya. Kalaupun ada yang membahas hanya kitab-kitab


tertentu, hal itu semata-mata untuk menolak atau memperkuat
pandangan tertentu dalam masalah itu.
Selain itu Materi berpikir dan penulisan dalam kitab-kitab
yang ada sebelumnya dan menunjukan bentuk yang lebih
sempurna, sebagaimana dalam kitab fushul-fi al-ushul karya abu
baker ar-razi hal ini merupakan corak tersendiri corak tersendiri
dalam perkembangan ilmu ushul fiqh pada awal abad 4h., juga
tampak pula pada abad ini pengaruh pemikiranyang bercorak
filsafat, khususnya metode berfikir menurut ilmu manthiq dalam
ilmu ushul fiqih.
c. Tahap Penyempurnaan ( 5-6 H )
kelemahan
lahirnya

politik

beberapa

di

Baghdad,

daulah

kecil,

yang

ditandai

membawa

dengan

arti

bagi

perkembanangan peradaban dunia Islam. Peradaban Islam tak lagi


berpusat di Baghdad, tetapi juga di kota-kota seperti Cairo,
Bukhara, Ghaznah, dan Markusy. Hal itu disebabkan adanya
perhatian besar dari para sultan, raja-raja penguasa daulahdaulah kecil itu terhadap perkembangan ilmu dan peradaban.
Hingga berdampak pada kemajuan dibidang ilmu ushul fiqih
yang

menyebabkan

sebagian

ulama

memberikan

perhatian

khusus untuk mndalaminya, antara lain Al-Baqilani, Al-Qhandi,


abd. Al-jabar, abd. Wahab Al-Baghdadi, Abu Zayd Ad Dabusy, Abu
Husain Al Bashri, Imam Al-Haramain, Abd. Malik Al-Juwani, Abu
Humaid Al Ghazali dan lain-lain. Mereka adalah pelopor keilmuan
Islam di zaman itu. Para pengkaji ilmu keislaman di kemudian hari
mengikuti metode dan jejak mereka, untuk mewujudkan aktivitas
ilmu ushul fiqih yang tidak ada bandinganya dalam penulisan dan

pengkajian keislaman , itulah sebabnya pada zaman itu, generasi


Islam pada kemudian hri senantiasa menunjukan minatnya pada
produk-produk ushul fiqih dan menjadikanya sebagi sumber
pemikiran.
Dalam sejarah pekembangan ilmu ushul fiqih pada abad 5 H
dan 6 H ini merupakan periode penulisan ushul fiqih terpesat yang
diantaranya terdapat kitab-kitab yang mnjadi kitab standar dalam
pengkajian ilmu ushul fiqih slanjutnya.
d. Penulisan Ushul Fiqh sebagai Sebuah Ilmu
Salah satu yang mendorong diperlukannya pembukuan
ushul fiqih adalah perkembangan wilayah Islam yang semakin
luas, sehingga tidak jarang menyebabkan timbulnya berbagai
persoalan yang belum diketahui kedudukan hukumnya. Untuk itu,
para ulama Islam sangat membutuhkan kaidah-kaidah hukum
yang sudah dibukukan untuk dijadikan rujukan dalam menggali
dan menetapkan hukum.
Dengan disusunnya kaidah-kaidah syariyah dan kaidahkaidah lughawiyah dalam berijtihad pada abad II Hijriyah, maka
telah terwujudlah Ilmu Ushul Fiqh.Dikatakan oleh Ibnu Nadim
bahwa ulama yang pertama kali menyusun kitab Ilmu Ushul Fiqh
ialah Imam Abu Yusuf -murid Imam Abu Hanifah- akan tetapi kitab
tersebut tidak sampai kepada kita.
Diterangkan oleh Abdul Wahhab Khallaf, bahwa ulama yang
pertama kali membukukan kaidah-kaidah Ilmu Ushul Fiqh dengan
disertai alasan-alasannya adalah Muhammad bin Idris asy-Syafiiy
(150-204 H) dalam sebuah kitab yang diberi nama Ar-Risalah. Dan
kitab tersebut adalah kitab dalam bidang Ilmu Ushul Fiqh yang
pertama sampai kepada kita. Oleh karena itu terkenal di kalangan
para ulama, bahwa beliau adalah pencipta Ilmu Ushul Fiqh.
Pada periode ini, metode penggalian hokum juga bertambah
banyak,

baik

corak

maupun

ragamnya.

Dengan

demikian

bertambah banyak pula kaidah-kaidah istinbat hukum dan teknis

penerapannya.

Sebagai

contoh

Imam

Abu

Hanifah

dalam

memutuskan perkara membatasi ijtihadnya dengan menggunakan


al-Quran, Hadis, fatwa-fatwa sahabat yang telah disepakati dan
berijtihad dengan menggunakan penalarannya sendiri, seperti
istihsan. Abu Hanifah tidak mau menggunakan fatwa ulama pada
zamannya. Sebab ia berpandangan bahwa mereka sederajat
dengan dirinya. Imam Maliki setelah al-Quran dan Hadis- lebih
banyak

menggunakan

amal

(tradisi)

ahli

madinah

dalam

memutuskan hukum, dan maslahah-mursalah.


Pada periode inilah ilmu Ushul Fiqih dibukukan. Ulama
pertama yang merintis pembukuan ilmu ini adalah Imam Syafii,
ilmuan berkebangsaan Quraish. Ia memulai menyusun metodemetode

penggalian

hukum

Islam,

sumber-sumbernya

serta

petunjuk-petunjuk Ushul Fiqih. Dalam penyu-sunannya ini, Imam


Syafii

bermodalkan

peninggalan

hukum-hukum

fiqih

yang

diwariskan oleh generasi pendahulunya, di samping juga rekaman


hasil diskusi antara berbagai aliran fiqih yang bermacam-macam.
Berbekal pengalaman beliau yang pernah nyantri kepada
Imam Malik (ulama Madinah), Imam Muhammad bin Hasan (ulama
Irak dan salah seorang murid Abu Hanifah) serta fiqih Makkah
yang dipelajarinya ketika berdomisili di Makkah menjadikannya
seorang yang berwawasan luas, yang dengan kecerdasannya
menyusun kaidah-kaidah yang menjelaskan tentang ijtihad yang
benar dan ijtihad yang salah. Kaidah-kaidah inilah yang di
kemudian hari dikenal dengan nama Ushul Fiqih. Oleh sebab itu
Imam Syafii adalah orang pertama yang membukukan ilmu Ushul
Fiqih, yang diberi nama al-Risalah. Namun demikian terdapat
pula pendapat dari kalangan syiah yang mengatakan bahwa Imam
Muhammad Baqir adalah orang pertama yang membukukan ilmu
Ushul Fiqih.
Sebenarnya jauh sebelum dibukukannya ushul fiqih, ulamaulama terdahulu telah membuat teori-teori ushul yang dipegang
oleh para pengikutnya masing-masing. tak heran jika pengikut

para ulama tersebut mengklaim bahwa gurunyalah yang pertama


menyusun kaidah-kaidah ushul fiqih.
Golongan Hanafiyah misalnya mengklaim bahwa yang
pertama menyusun ilmu Ushul Fiqih ialah Abu Hanifah, Abu Yusuf
Dan Ibnu Ali-Al Hasan. Alasan mereka bahwa Abu Hanifah
merupakan orang yang pertama menjelaskan metode istinbath
dalam kitabnyanya Ar-Rayu. Dan Abu Yusuf Abu Yusuf adalah
orang yang pertama menyusun ushul fiqh dalam madzhab hanafi,
demikian pula Muhammad Ibnu Al-Hasan telah menyusun ushul
fiqh sebelum As-Syafiie, bahkan As-Syafii berguru kepadanya.
Golongan As-Syafiiyah juga mengklaim bahwa Imam AsSyafii lah orang yang pertama yang menyusun kitab ushul fiqh.
Hal ini di ungkapkan oleh Al-Allamah Jamal Ad-Din Abd Ar-Rohman
Ibnu Hasan Al-Asnawi. Menurutnya, tidak diperselisihkan lagi
Imam Syafii adalah tokoh besar yang pertama-tama menyusun
kitab dalam ilmu ini, yaitu kitab yang tidak asing lagi dan yang
sampai kepada kita sekarang, yakni kitab Al-Risalah2
Kalau dikembalikan pada sejarah, yang pertama berbicara
tentang ushul fiqih sebelum dibukukannya adalah para sahabat
dan tabiin. Hal ini tidak diperselisihkan lagi. Namun yang
diperselisihkan adalah orang yang mula-mula mengarang kitab
ushul fiqih sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri yang bersifat
umum dan mencakup segala aspeknya. Untuk itu kita perlu
mengetahui terlebih dahulu teori-teori penulisan dalam ilmu ushul
fiqih. Secara garis besar ada dua teori penulisan yang dikenal
yakni.
Pertama, merumuskan kaidah-kaidah fiqiyah bagi setiap bab
dalam bab fiqih dan menganalisisnya serta mengaplikasikan
masalah furu atas kaidah-kaidah tersebut. Teori inilah yang
ditempuh oleh golongan Hanafi dan merekalah yang merintisnya.
Kedua, merumuskan kaidah-kaidah yang dapat menolong
seorang mujtahit dan meng-istinbat hukum dari sumber hukum
syari, tanpa terikat oleh pendapat seorang faqih atau suatu

pemahaman yang sejalan dengannya maupun yang bertentangan.


Cara inilah yang ditempuh Al-Quran-syafii dalam kitabnya arrisalah, suatu kitab yang tersusun secara sempurna dalam bidang
ilmu ushul dan independen.

3. Jelaskan menurut saudara hakikat hukum hukum, mahkum bih,


mahkum alaih dengan baik dan benar !
Jawaban:
a. Hakim
Di antara masalah yang sangat penting yang harus dijelaskan
dalam kajian syari'at Islam, ialah mengetahui siapa yang berhak
mengeluarkan hukum, yakni siapakah Sang Pembuat Hukum (AlHakim) itu. Sebab pengetahuan terhadap Al Hakim akan membawa
pengetahuan
dengannya.

terhadap
Yang

hukum

dimaksud

dan

dengan

hal-hal
hakim

yang
di

sini

berkaitan
bukanlah

pemegang kekuasaan (pemerintahan), tetapi Al Hakim di sini adalah


siapa yang berhak mengeluarkan hukum atas perbuatan manusia (Al
Af'aal) dan atas benda-benda (Al-Asy-yaa').
Yang

menemukan,

menjelaskan,

memperkenalkan,

dan

menyingkapkan hukum. Pengertian hukum menurut ulama ushul


adalah Firman Allah yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf,
ini mengisyaratkan bahwa al-Hakim adalah Allah. Para ulama telah
sepakat bahkan seluruh umat Islam bahwa al Hakim adalah Allah
SWT dan tidak ada syariat (undang-undang) yang sah melainkan
dari

Allah,

karena

hukum

menurut

mereka

adalah

khitab

(pernyataan) al syari( Allah) yang berhubungan dengan perbuatan


mukallaf, baik itu tuntutan, pilihan ataupun hukum wadli (sebab,
syarat, dan mani). Al Quran telah mengisyaratkan hal ini dengan
firman Allah:

@% oT) 4n?t 7puZit/ `iB n1 OF/2ur m/


4 $tB Z $tB cq=tGn@ m/ 4 b)

N39$# w) ! ( )t ,ys9$# ( uqdur yz


t,#x9$#
Artinya:

Katakanlah

(Muhammad),

Aku

(berada)

diatas

keterangan yang nyata (al-Quran ) dari Tuhanku sedang kamu


mendustakannya. Bukanlah kewenanganku (untuk menurunkan
adzab)

yangkamu

tuntut

Menetapkan (hukum itu)

untuk

disegerakan

hanyalah hak

kedatangannya.

Allah. Dia menerangkan

kebenaran dan Dia pemberi keputusan yang terbaik. (QS.Al-Anam:


57)
Dari

sini

jelas

pula,

bahwa

yang

memiliki

wewenang

menetapkan dan membuat hukum adalah Allah SWT. Sedangkan


yang memberitahukan hukum-hukum Allah ialah para Rasul-Nya.
Beliau-beliau

inilah

yang

menyampaikan

hukum-hukum

Tuhan

kepada umat manusia. Mereka adalah para rasul Allah serta para
ulama sebagai pewaris beliau.
Ketika rasul sudah diutus dan seruannya telah sampai kepada
manusia, maka disini tidak ada perbedaan pendapat bahwa yang
menjadi al-hakim terhadap perbuatan mereka adalah Allah SWT.
Yang menjadi perselisihan adalah tentang siapakah yang menjadi alhakim terhadap perbuatan mukallaf sebelum rasul diutus. Dengan
kata lain sebelum rasul diutus, bagaimana kriteria baik buruknya
suatu perbuatan.
Golongan Mutazilah berpendapat bahwa sebelum diutus, akal
manusia itulah yang menjadi hakim, karena akal manusia dapat
mengetahui baik buruknya suatu perbuatan, baik berdasar pada
hakikat atau sifat perbuatan itu. Dasar mazhab ini, bahwa baik dari
perbuatan itu bila mengandung keuntungan, perbuatan jelek karena
mengandung madharat.
Golongan Asyariyah berpendapat bahwa sebelum diutusnya
rasul dan seruannya sampai kepada seseorang atau komunitas,
seluruh perbuatan mukallaf tidak diberi hukum. Artinya pada
perbuatan itu tidak berlaku sanksi atau pahala. Berbuat baik tidak

ada pahala dan berbuat jahat tidak ada sanksi padanya. Baik
menurut golongan ini adalah perbuatan yang mukallaf diperintahkan
untuk melaksanakannya oleh syari dan perbuatan buruk adalah
yang dilarang melakukannya oleh syari. Dengan lain ungkapan
penentuan baik buruk sebuah perbuatan itu oleh syari (Allah SWT),
bukan akal manusia.
Kekuasaan kehakiman yang diberikan Allah SWT kepada
Rasulullah SAW juga dapat kita lihat dengan jelas dalam al-Quran
pada surah An-Nisa ayat 105 yang
R) !$uZ9tRr& y7s9) |=tG39$# d,ys9$$/ zN3stG9$!
tt/ $Z9$# !$o3 y71ur& !$# 4 wur `3s? tZ!$y=j9
$VJyz
Artinya: sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu
dengan membawa kebenaran supaya kamu mengadili antara
manusia dengan apa yang telah diwahyukan kepadamu dan
janganlah kamu menjadi (orang yang tidak bersalah) karena
membela orang-orang berkhianat.
Dari arti ayat di atas jelas diutusnya Rasul oleh Allah Swt di
samping sebagai Kepala Negara, juga sebagai pengendali kekuasaan
kehakiman (Hakim) yang memutus perkara yang timbul dalam
masyarakat. Nabi Muhammad Saw sebagai Hakim sedangkan
pewaris

para

Nabi

adalah

ulama,

maka

ulama

itu

adalah

kepercayaan para Rasul, oleh karena itu Hakim dalam kapasitasnya


sebagai pengendali keadilan dan kebenaran adalah ahli waris para
Rasul. Sedangkan ahli waris dan kepercayaan para Rasul itu adalah
ulama, dengan demikian tidak dapat disangkal lagi bahwa Hakim itu
adalah ulama.
b. Mahkum Fih
Para ulama ushul fiqih menyatakan bahwa yang dimaksud
dengan adalah objek hukum, yaitu perbuatan mukallaf
yang berhubungan dengan hukum syar'i, yang bersifat tuntutan

mengerjakan, tuntutan meninggalkan suatu pekerjaan, memilih


suatu pekerjaan, dan yang bersifat syarat, sebab, halangan,
azimah, rukshah, sah, serta batal.
Misalnya firman Allah:









Artinya : "hai orang-orang yang beriman, sempurnakanlah janji."
1) Menurut syara' tidak sah membebani hal yang mustahil (yang
tidak mungkin bisa dilakukan). Misalnya mengumpulkan dua
hal yang berlawanan. Contoh : tidur dan bangun di waktu yang
sama.
Pendapat ulama ushuliyah :



Artinya: "Satu orang dalam satu waktu dengan satu hal tidak
bisa diperintah dan tidak bisa dilarang".
2) Menurut syara' tidak sah membebani mukallaf agar selain dia
mengerjakan perbuatan atau mencegahnya. Contoh,










Artinya : "Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk
agama Islam" (Q.S. Al-Baqarah : 132).
c. Mahkum alaih
Para ulama usul fiqih mengatakan bahwa yang dimaksud
dengan mahkum alaih (




) adalah seseorang yang
dikenai khitab allah taala, yang disebutkan dengan mukallaf (


) . Secara etimologi, mukallaf berarti yang dibebani
hukum. Dalam usul fiqih, istilah mukallaf disebut juga mahkum
alaih (dalam subjek). Orang mukallaf adalah orang yang telah
dianggap mampu bertindak hukum, baik yang berhubungan

dengan perintah Allah maupun dengan larangan-Nya. Apabila ia


mengerjakan perintah Allah, maka ia mendapat resiko dosa dan
kewajibannya belum terpenuhi.
Perbuatan seorang mukallaf bisa dianggap sebagai sebuah
perbuatan hukum yang sah apabila mukallaf tersebut memenuhi
dua persyaratan, yaitu:
1) Mukallaf tersebut harus mampu memahami dalil taklif.
Artinya, ia mampu memahami nash-nash perundangan yang
ada

dalam

al-Quran

maupun

as-Sunnah

dengan

kemampuannya sendiri atau melalui perantara. Hal ini


penting, sebab seseorang yang tidak mampu memahami
dalil/petunjuk taklif, maka ia tidak mungkin melaksanakan
apa yang telah ditaklifkan kepadanya. Kemampuan untuk
memahami dalil taklif hanya bisa terealisasi dengan akal dan
adanya

nash-nash

taklif.

Akal

adalah

perangkat

untuk

memahami dan merupakan penggerak untuk bertindak. Sifat


dasar akal ini abstrak, tidak bisa ditemukan oleh indera
zhahir,

oleh

karenanya

syari

mengimbangi

dengan

memberikan beban hukum (taklif) dengan sesuatu yang riil,


yang bisa diketahui oleh indera luar yaitu taraf baligh. Pada
saat baligh inilah seorang dianggap mampu untuk memahami
petunjuk-petunjuk taklif. Praktis, orang gila dan anak kecil
tidak tercakup dalam kategori mukallaf.
2) Seorang itu diharuskan Ahlan lima kullifa bihi /cakap atas
perbuatan yang ditaklifkan kepadanya. Secara bahasa ahlan
bermakna Shalahiyah/ kecakapan. Sementara kecakapan itu
sendiri akan bisa terwujud dengan akal. Terkait dengan hal
ini,

Al-Amidi,

sebagaimana

dikutip

oleh

az-Zuhaili

mengatakan bahwa para cendikiawan Muslim sepakat bahwa


syarat untuk bisa disebut sebagai seorang mukallaf adalah
berakal dan paham terhadap apa yang ditaklifkan, sebab
taklif adalah khitab dan khitabnya orang yang tidak berakal
adalah mustahil, layaknya batu padat dan hewan.

4. Jelaskan menurut saudara perbedaan hukum taklifi dan hukum


wadhI dengan baik dan benar
Jawaban:
a. Hukum Taklif
hukum taklifi adalah firman Allah yang menuntut manusia
untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu atau memilih antara
berbuat dan meninggalkan. Contohnya:
1) Contoh firman Allah SWT. Yang bersifat menuntut untuk
melakukan

perbuatan,

yang

artinya

dan

dirikanlah

sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul,


supaya kamu diberi rahmat. (An-Nur : 56)
2) Contoh firman Allah yang bersifat menuntut meninggalkan
perbuatan, yang artinya: Dan janganlah sebahagian kamu
memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan
jalan yang bathil. (Al-Baqarah: 188)
3) Contoh firman Allah yang bersifat memilih (fakultatif), yang
artinya: Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih
dari benang hitam, Yaitu fajar. (QS. Al-Baqarah : 187)
Terdapat dua golongan ulama dalam menjelaskan bentukbentuk hukum taklifi yaitu bentuk-bentuk hukum taklif menurut
jumhur ulama Ushul Fiqh/ Mutakalimin. Menurut mereka bentukbentuk hukum tersebut ada lima macam, yaitu ijab, nadb, ibahah,
karahah, dan tahrim. Kedua, bentuk-bentuk taklifi, seperti iftiradh,
ijab, nadb, ibahah, karahah tanzhiliyah, karahah tahrimiyyah, dan
tahrim. Dan dalam hal ini pemakalah hanya membahas pada
bentuk hukum yang pertama saja.
b. Hukum Wadhi
Hukum wadhi adalah firman Allah SWT. yang menuntut untuk
menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat atau penghalang dari
sesuatu yang lain. Bila firman Allah menunjukkan atas kaitan
sesuatu dengan hukum taklifi, baik bersifat sebagai sebab, syarat,

aau penghalang maka ia disebut hukum wadhi. Di dalam ilmu


hukum ia disebut pertimbangan hukum.
Contohnya:
1) Contoh firman Allah yang menjadikan sesuatu sebagai sebab
yang lain . yang artinya:

Dirikanlah shalat dari sesudah

matahari tergelincir. (Al-Isra : 78) Pada ayat tersebut,


tergelincirnya matahari dijadikan sebab wajibnya shalat.
2) Contoh firman Allah yang menjadikan sesuatu sebagai syarat,
yang artinya: Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup
umur untuk kawin (dewasa). (QS. An-Nisa: 6). Ayat tersebut
menunjukkan

kedewasaan

anak

hilangnya perwalian atas dirinya.

yatim

menjadi

syarat