Anda di halaman 1dari 15

Sistem saraf merupakan salah satu sistem yang berfungsi untuk memantau dan

merespon perubahan yg terjadi di dalam dan diluar tubuh atau lingkungan. Sistem
saraf juga bertanggung jawab sebagai sistem persepsi, perilaku dan daya ingat,
serta merangsang pergerakan tubuh (Farley et all, 2014).

1.2 Fungsi Sistem Saraf


Saraf sebagai sistem koordinasi atau pengatur seluruh aktifitas tubuh
manusia mempunyai tiga fungsi utama, yaitu sebagai alat komunikasi,
pengendali atau pengatur kerja dan pusat pengendali tanggapan.
a. Saraf sebagai alat komunikasi antara tubuh dan dunia di luar tubuh. Hal
ini dilakukan oleh alat indera yang meliputi mata, hidung, telinga, lidah,
dan kulit. Karena ada indera, dengan mudah kita dapat mengetahui
perubahanyang terjadi di luar tubuh kita.
b. Saraf sebagai pengendali atau pengatur kerja organ tubuh sehingga
dapat bekerja serasi sesuai dengan fungsi masing-masing.
Saraf sebagai pusat pengendali tanggapan atau reaksi tubuh terhadap
perubahan keadaan di sekitarnya. Karena saraf sebagai pengendali kerja
alat tubuh maka jaringan saraf terdapat pada seluruh alat tubuh
(Syaifuddin, 2011).

Sistem saraf dibedakan atas divisi anatomi yaitu sistem saraf pusat(SSP! yang
terdiri dari otak dan medulla spinalis, serta sistem saraf tepi yangmerupakan selsel saraf yang terletak di luar otak dan medulla spinalis yaitusaraf-saraf yang
masuk dan keluar SSP. Sistem saraf tepi selanjutnya dibagidalam divisi eferen
yaitu neuron yang memba#a sinyal dari otak dan medullaspinalis ke jaringan
tepi, serta divisi aferen yang memba#a informasi dari perifer ke SSP (4arvey,
*5!.

Sistem saraf otonom (SSO) terutama berfungsi dalam pengaturan


fungsi organ dalam seperti curah jatung, aliran darah ke berbagai
organ, sekresi dan motilitas gastrointestinal, kelenjarkeringat dan
temperatur tubuh. Darmansyah I, Arini setiawati, Sulistia gan, Susunan
saraf Otonom dan transmisi Neurohumoral, Dalam : Farmakologi dan
Terapi, FKUT:Jakarta.1994: 23-38.

1) Saraf Simpatis
Saraf simpatis terletak di dalam kornu lateralis medula spinalis servikal
VIII sampai lumbal I. Sistem saraf simpatis berfungsi membantu proses
kedaruratan. Stres fisik maupun emosional akan menyebabkan
peningkatan impuls simpatis. Tubuh siap untuk berespon fight or flight
jika ada ancaman. Pelepasan simpatis yang meningkat sama seperti ketika
tubuh disuntikkan adrenalin. Oleh karena itu, stadium sistem saraf
adrenergik kadang - kadang dipakai jika menunjukkan kondisi seperti pada

sistem saraf simpatis (Batticaca, 2008).


2)Saraf Parasimpatis
Saraf parasimpatik memiliki serabut pra-ganglion yang panjang dan serabut
post ganglion pendek. Saraf simpatik dan parasimpatik bekerja pada efektor yang sama
tetapi pengaruh kerjanya berlawanan sehingga keduanya bersifat antagonis
(Ramadhani, 2015: 17).
Saraf simpatik berupa jaring-jaring yang saling terhubung dengan ganglion
yang tersebar pada seluruh tubuh. Sistem saraf parasimpatik memiliki fungsi kerja
yang berlawanan dengan fungsi kerja sistem saraf simpatik. Jika fungsi utama sistem
saraf simpatik adalah mempercepat kerja organ tubuh, namun beda halnya dengan
fungsi utama sistem saraf simpatik yakni memperlambat kerja organ tubuh. Dari kerja
kerja kedua sistem saraf yang berlawanan tersebut menghasilkan keadaan yang
normal.
Fungsi Sistem Saraf Parasimpatik
-

Memperkecil bronkus

Menghambat detak jantung

Memperkecil pupil mata

Mempercepat kontraksi kantung seni

Merangsang ereksi

Mempercepat kerja alat pencernaan

Meningkatkan tekanan darah

Meningkatkan sekresi empedu

Menghambat sekresi adrenalin


Saraf kranial otonom adalah saraf kranial ketiga, ketujuh, kesembilan dan

kesepuluh. Saraf-saraf ini merupakan penghubung, melalui mana serabut-serabut


parasimpatik lewat, dalam perjalanannya ke luar dari otak menuju organ-organ yang
sebagian dikendalikan olehnya. Serabut-serabut yang mencapai serabut-serabut otot
sirkuler pada iris, dan dengan demikian merangsang gerakan-gerakan yang menentukan
ukuran pupil mata, menggunakan saraf kranial ketiga, yaitu saraf okulo-motorik.
Serabut-serabut otot motorik sekretorik mencapai kelenjar ludah melalui saraf
ketujuh, fasial, serta saraf kesembilan, glosofaringeus.

Saraf vagus atau saraf kranial kesepuluh adalah serabut saraf otonom terbesar.
Daerah layanannya luas, serta serabut-serabutnya disebarkan kepada sejumlah besar
kelenjar dan organ. Penyebaran ini sejalan dengan penyebaran serabut simpatis.
Saraf parasimpatik sakral keluar dari sumsum tulang belakang melalui daerah
sakral. Saraf-saraf ini membentuk urat-urat saraf pada alat-alat dalam pelvis, dan
bersama saraf simpatis membentuk plexus yang melayani kolon, rectum dan kandung
kencing (Pearce, 2007: 306).

Fungsi saraf parasimpatis adalah sebagai pengontrol dominan untuk


kebanyakan efektor visceral dalam waktu lama. Selama keadaan diam,
kondisi tanpa stres, impuls dari serabut - serabut parasimpatis
(kolenergik) menonjol. Serabut - serabut sistem parasimpatis terletak di
dua area, yaitu batang otak dan segmen spinal di bawah L2. Karena lokasi
Serabut - serabut tersebut, saraf parasimpatis menghubungkan area
kraniosakral, sedangkan saraf simpatis menghubungkan area torakalumbal
dari sistem saraf autonom. Parasimpatis kranial muncul dari mesenfalon
dan medula oblongata. Serabut dari sel-sel pada mesenfalon berjalan
dengan saraf okulomotorius ketiga menuju ganglia siliaris, yang memiliki
serabut postganglion yang berhubungan dengan sistem simpatis lain yang
mengontrol bagian posisi yang berlawanan dengan mempertahankan
kesimbangan antara keduanya pada satu waktu (Batticaca, 2008).
Sistem persarafan mempunyai fungsi mengumpulkan informas, baik dari
dalam maupun dari luar tubuh dan kemudian informasi ini diteruskan ke otak (sistem
afferen) untuk dianalisis, selanjutnya mengirimkan impuls melalui sistem afferen
untuk direspon sesuai dengan yang diinginkan. (sarpini; 2014).
Sel-sel saraf tubuh umumnya bergabung dalam kelompok-kelompok. Dalam
otak dan medulla spinalis, kumpulan neuron ini disebut Nukleus atau daerah abuabu (karena bagian ini berwarna abu-abu). Bagian luar dari otak dan medulla
spinalis disebut Ganglia. Daerah sisanya dari sistem saraf adalah lintsan axon yang
dikenal dengan daerah putih, karena dari lapisan myelin (sarpini; 2014).
Secara umum sistem saraf dibagi 2 bagian besar (sarpini, 2014):
a. Sistem saraf pusat, terdiri dari otak dan medulla spinalis pada SSP kumpulan
neuron disebut Nukleus.
b. Sistem saraf perifer, terdiri dari banyak jaringan saraf dan saraf otak yang
menghubungkan tubuh ke otak dan medulla spinalis. Sistem saraf perifer dibagi lagi
menjadi:

c. Sistem saraf otonom (mengontrol tanpa sadar involuntary dari organ-organ dalam
tubuh, pembuluh darah, otot-otot polos dan otot jantung), terdiri dari sistem saraf
simpatik dan parasimpatik.
d. Sistem saraf somatik (mengontrol secara sadar/voluntary dari kulit, tulang, sendi dan
otot rangka).
Otak sebagai pusat pengontrol adalah salah satu organ tubuh orang dewasa
yang terbesar, terdiri dari sekitar 100 milyar neuron. Otak dibagi dalam 4
bagian (sarpini; 2014):
a. Cerebrum
b. Cerebellum
c. Diencephalon (thalamus, hypothalamus)
d. Batang otak (medulla oblongata, pons, otak tengah/midbrain, yang dilanjutkan
dengan medulla spinalis).
Bagian terbesar dari otak yaitu cerebrum (otak besar), terbagi dalam 2 sisi,
hemispher cerebri kiri dan kanan yang kedua sisi ini dihubungkan oleh Corpus
callosum. Kedua sisi otak ini sama persis bentuk dan ukurannya, juga fungsinya
sebagai pusat untuk menerima informasi sensorik (aferens) dan untuk menyalurkan
respons motorik (eferens). Sisi kiri menerima dan mengirim informasi dari dan sisi
kanan dari tubuh dan sebaliknya. Selain tu beberapa fungsi intelektual juga terpusat
baik di hemisfer kiri dan kanan. Hemsifer dibungkus oleh lapisan abu-abu yang
disebut Cortex cerebri. Tiap hemisphere dari corteks cerebri ini terbagi atas 4 lobus
oleh Sulcus dan Girus. Sulcus yaitu bagian lekuk/parit dari otak, sedangkan girus
bagian tonjolan-tonjolan/pematang pada permukaan otak. Keempat lobus berperan
dalam fungsi spesifiK (Rusbandi sarpini; 2014):
a. Lobus Frontal: mengontrol gerakan-gerakan yang halus/mulus dan indera
penciuman, juga seebagai pusat untuk berfiikir, membuat keputusan dan berbicara.
b. Lobus Pariental: mengkoordinasikan informasi aferen yang berhubungan dengan
nyeri, suhu, bentuk, pola, rupa, tekanan dan posisi. Beberapa fungsi memori juga
terdapat disini.
c. Lobus Temoral: berperan dalam hal mimpi, daya ingat dan emosi. Juga sebagai
pusat fungsi pendengaran.
d. Lobus Occipital: berperan dalam fungsi penglihatan.
Secara umum Cerebrum berfungsi sebagai kesadaran, pemikiran,
pertimbangan, daya ingat, penglihatan, pendengaran, sentuhan, bicara, bahasa,
mengontrol gerak motorik dann fungsi emosi (Rusbandi sarpini; 2014).
Struktur otak kedua terbesar yaitu cerebellum (otak kecil), terletak dibawah
cerebrum (otak besar). Seperti juga cerebrum, cerebellum terdiri dari dua hemisfer
dan bagian korteks abu-abu. Cerebellum melakukan 3 fungsi utama yang semuanya
bertugas mengontrol gerakan otot-otot tulang yaitu (Rusbandi sarpini; 2014):
a. Keseimbangan batang tubuh
b. Tegangan otot, refeks-refleks spinal, sikap (posture) dan keseimbangan anggota
gerak (lengan, tungkai)

c. Mengontrol gerak motorik dan bola mata.


Lokasi diencephalon berada diantara cerebrum dan otak tengah (midbrain),
terdiri dari beberapa struktur penting, dua diantaranya yaitu Thalamus dan
Hypothalamus. Sedangkan batang otak (brain stem) terdiri dari medulla oblongata,
pons dan Midbrain (mesencphalon), mengontrol fungsi kehidupan dasar (fungsi
vital). Dari ketiga bagian ini Medulla oblongata merupakan bagian paling penting.
Dengan kata lain penyakit atau cedera pada Medulla oblongata akan mempengaruhi
fungsi vital tubuh atau dapat berakibat vatal (Rusbandi sarpini; 2014).
Medulla spinalis terletak didalam rongga spinal, mempunyai dua fungsi utama
yaitu merupakan jalur konduksi ke dan dari otak dan juga merupakan pusat refleks
dari refleks spinal. Tiga puluh satu pasang saraf spinalis keluar dari medulla spinalis
ini. Tidak ada nama khusus dari saraf-saraf ini. Penamaan hanya menurut tempat
keluarnya diantara ruas tulang belakang yaitu 8 saraf cervicalis (C1-C8), 12
Thoracalis (T1-T12), 5 Lumbalis (L1-L5), 5 sacralis (S1-S5) dan 1 coccygesus
(Rusbandi sarpini; 2014).
Susunan saraf tepi merupakan penghubung susunan saraf pusat dengan
reseptor sensorik dan efektor motorik (otot dan kelenjar). Saraf tepi terdiri atas
ribuan serabut saraf yang dikelompokan dalam ikatan-ikatan yang masing-masing
kelompok dibungkus oleh jaringan ikat. Setiap serabut saraf adalah sebuah akson
dari neuron sensorik, motorik, atau otonom perifer. Serabut saraf perifer
berhubungan dengan otak dan korda spinalis, terdiri atas 12 pasang saraf kranial
yang keluar dari tempat berbeda dari dalam otak dan 31 pasang saraf spinal yang
merupakan persatuan kelompok serabut dari dua akar spinal yaitu akar dorsal yang
membawa serabut sensorik dan akar ventral membawa serabut motorik (somatik
dan otonom) (syaifuddin; 2013).
Indra somatik merupakan saraf yang mengumpulkan informasi sensoris dari
tubuh. Indra ini berbeda dengan indra khusus (penglihatan, penghiduan,
pendengaran, pengecapan dan keseimbangan). Indra somatik dapat digolongkan
menjadi 3 jenis (syaifuddin; 2013):
a. Indra somatik mekano reseptif: yang dirangsang oleh pemindahan mekanisme
sejumlah jaringan tubuh. Meliputi indra raba, tekanan yang menentukan posisi relatif
dan kecepatan berbagai bagian tubuh yang dikelompokan sebagai berikut:
a. Sensasi ekteroreseptif: sensasi dari permukaan tubuh.
b. Sensasi propriopseptif: sensasi yang berhubungan dengan keadaan fisik tubuh
termasuk sensasi kenestetik, sensasi tendo, dan otot tekanan dari dasar kaki.
c. Sensasi viseral: sensasi dari viseral tubuh organ dalam yang berasal dari
jaringan dalam seperti tulang, fasia terutama meliputi tekanan nyeri dan getaran
dalam.
b. Indra termoreseptor: yang mendeteksi panas dan dingin.
c. Indra nyeri: diaktifkan oleh faktor apa saja yang merusak jaringan, perasaan
kompleks karena menyertakan sensasi perasaan dan emosi.
Perjalanan dari SSP hingga Mempersarafi Organ

Perjalanan SSO dimulai dari persarafan sistem saraf pusat (selanjutnya


disebut SSP). Neuron orde pertama berada di SSP, baik di
sisi lateral
medulla
spinalis maupun di batang otak.
Akson neuron orde pertama ini disebut
dengan
serabut preganglion
(
pregangl
ionic fiber
). Serabut ini bersinaps
dengan badan sel neuron orde kedua yang terletak di dalam ganglion.
Serabut
pascaganglion menangkap sinyal dari serabut preganglion melalui
neurotransmiter yang dilepaskan oleh serabut preganglion.
Seperti yang telah
dik
etahui, ganglion merupakan kumpulan badan sel yang terletak di luar SSP.
Akson neuron orde kedua, yang disebut dengan
serabut pascaganglion
(postganglionic fiber) muncul dari ganglion menuju organ yang akan diinervasi.
Organ efektor menerima impuls melalu
i pelepasan neurotransmiter oleh
serabut pascaganglion.
Kecuali untuk
medulla adrenal
, baik sistem saraf
simpatis dan parasimpatis mengikuti pola seperti yang telah dijelaskan di atas.
Pembedaan antara keduanya akan dibahas di bawah ini.
Pembagian SSO
Kebanyakan organ visceral di
persarafi oleh dua jenis saraf otonom
sekaligus
(
dual
innervation
, persarfan ganda
), yakni SSO divisi
simpatis
dan
parasimpatis
. Karakteristik
kerja SSO divisi simpatis dan parasimpatis
cenderung berlawanan, walaupun di beberapa
organ malah saling
menguatkan.
Perbedaan keduanya dirangkum dalam tabel di bawah ini
3

:
Pembeda

Simpatis
Parasimpatis
Asal serabut praganglion
Medulla spinalis bagian
torakal dan lumbal
Batang otak
(saraf
kranial)
dan medulla
spinalis bagian sakral
Asal
serabut pascaganglion
Ganglion symphatetic
chain
; atau ganglion
kolateral (kira
kira di
setengah ja
rak medulla
spinalis
dengan efektor)
Ganglion terminal
(berada dekat dengan
organ
efektor)
Panjang Serabut
*
Pre
pendek
, termielinasi
;
Post
panjang
, tak
termielinasi
Pre panjang; Post pendek
Organ Efektor yang
DIpersarafi
Otot jantung, hampir
semua otot polos,
kebanyakan kelenjar
eksokrin, beberapa
kelenjar endokrin
Otot jantung, banyak otot
polos, hamper semua
kelenjar eksokrin,
beberapa kelenjar
endokri
n
Neurotransmiter
*
Pre
melepaskan
ACh
; Post
melepaskan

sebagian
besar melepaskan
norepinefrin, sebagian
kecil A
C
h
)
Pre dan post melepaskan
ACh
Tipe Reseptor untuk
Neurotransmiter
Pre dan
Post
*
Pre: nikotinik; Post:
adrenergik
1
,

, 2
,

Pre:
nikotinik; Post:
muskarinik
Peranan
Fight
or
Flight
General Housekeeping
*
Pre
adalah serabut preganglion;
Post
adalah serabut pascaganglion
;
ACh
adalah
asetilkolin

Kelebihan Persarafan Ganda


Persarafan s
impatis dan parasimpatis sesungguhnya bekerja
bersamaan.
Namun demikian, ada suatu kondisi yang memungkinkan simpatis
lebih dominan dari parasimpatis, atau sebaliknya.
Keduanya bekerja dengan
suatu aktivitas parsial yang dinamakan tonus simpatis dan parasimpatis, atau
aktivitas tonus. Namun demikian, ada suatu situasi yang mampu memicu
persarafan yang satu menjadi lebih aktif dari yang lain.
3

Persarafan Otonom Parasi


mpatis
Divisi parasimpatis, atau disebut divisi kraniosakral, berasal dari sistem

saraf pusat melalui saraf kranial III (okulomotor), VII (fasial), IX


(glosofaringeal), dan X (vagus).
Selain berasal dari saraf kranial, saraf
parasimpatis juga berasal dari
medulla spinalis bagian bawah, yakni melalui S2
dan S3
(atau S4)
.
Hampir serabut parasimaptis berada bersama
sama
dengan saraf vagus (X), masuk ke daerah torakal dan abdominal untuk
mempersarafi organ visceral ini.
2

Divisi p
arasimpatis yang berasal dar
i n.III keluar dan mempersarafi
sfingter pupil dan otot siliar mata, sementara yang berasal dari n.VII
mempersarafi kelenjar lakrimal, nasal, dan submandibular, n.IX mempersarafi
kelenjar parotis, serta n. X mempersarafi jantung, paru
paru, esophagus,
lamb
ung, usus halus, hati, kantung empedu, pankreas, ginjal, bagian proksimal
colon, serta bagian atas ureter.
2

Divisi parasimpatis memiliki ganglion yang berada dekat dengan


organ efektor, semisal ganglion siiar, sfenopalatina, submandibular, sublingual,
oti
k, ganglion
ganglion yang berada di organ efektor (misalnya untuk organ
jantung, otot bronkus, lambung, kantung empedu).
4

Bagian dari S2 dan S3


keluar membentuk jalinan splankik p
elvis
, serta mempersarafi bagian rectum,
kandung kemih, ureter, dan alat
kelamin wanita dan pria.
1

Serabut preganglion parasimpatis melepaskan neurotransmitter


asetilkolin
(ACh)
yang ditangkap oleh
reseptor kolinergik
nikotinik
badan
sel
pascaganglion.
Efek dari penangkapan ACh oleh reseptor nikotinik
menyebabkan pembukaan kan
al ion nonspesifik, menyebabkan influx
terutama ion Na

. Setelah itu, serabut pascaganglion parasimpatis


menghasilan juga asetilkolin yang ditangkap oleh reseptor kolinergik
muskarinik
yang terdapat di semua organ efektor parasimpatis.
Penempelan
ACh denga
n reseptor muskarinik mengaktifkan protein G, dan dapat
menginhibisi atau mengeksitasi organ efektor.
3

Divisi parasimpatis cenderung mengatur organ efektor dalam


keadaan
rest
and
digest
, yakni ketika tubuh berada dalam keadaan tenang,
relaks, kondisi yang
tidak mengancam, atau dalam keadaan pembersihan dan
pemulihan tubuh (
general housekeeping
).
3

Lihat
lampiran yang
memaparkan
efek akibat aktivitas perangsangan parasimpatis yang dominan.
Perhatikan
bahwa dengan menggunakan istilah rest
and
digest, keban
yakan efek
parasimpatis dapat dilogika dengan mudah, kecuali beberapa macam seperti
sekresi kelenjar salivaris yang menghasilkan saliva dengan jumlah yang banyak
namun cenderung encer.
1

Persarafan Otonom Simpatis


Divi
si simpatis, atau disebut juga divisi torakolumbal, berasal dari
sistem saraf pusat melalui segmen medulla spinalis T1 hingga L2.
4

Dari segmen
T1 hingga T2 mempersarafi organ visceral di daerah leher, T3 hingga T6 menuju
daerah toraks, T7 hingga T11 menuju abdomen, dan T12 hingga L2 menuju ke
ekstremitas bawah.
2

Saraf simpatis lebih rumit dibandingkan saraf


parasimpatis karena mempe
rsarafi lebih banyak organ.
1

Setelah meninggalkan
medulla spinalis melalui akar ventral, serabut

preganglion melewati
white ramus communicans
, lalu masuk ke rantai
ganglion simpatik (
sympathetic trunk ganglion
).
Karena letaknya dekat dengan
vertebrae, di
sebut juga dengan
ganglia paravertebral
.
Selanjutnya, ada tiga
cabang, yakni: (1) bersinaps dengan neuron orde dua di ganglion yang sama; (2)
naik atau turun rantai ganglion simpatis dan bersinaps di sana; (3) tidak
bersinaps, hanya melewati rantai ganglio
n simpatis dan keluar bersinaps
dengan
ganglion kolateral (ganglion pravertebra)
, yang secara khusus
disebut
saraf splanknik
.
Ganglion kolateral ini terletak di daerah abdomen
dan pelvis dan tidak berpasangan seperti ganglia simpatis lain.
Serabut preganglion yang bersinaps di rantai ganglia simpatis
berlanjut dengan serabut pascaganglion yang masuk ke akar dorsal melalui
saraf spinal yang berkesesuaian melalui
gray rami communicantes
.
Dari sini,
serabut pascaganglion meneruskan perjalanan
untuk menuju organ efektor.
Sepanjang jalur serabut postanglion dapat mempersarafi pembuluh darah dan
otot polos sebelum tiba ke organ efektor akhir.
3

Terdapat beberapa ganglion selain ganglion kolateral dan rantai


ganglion simpatis, di antaranya
ganglio
n servikal superior
yang berasal dari T1
T4 yang naik untuk bersinaps di ganglion yang terletak di atas rantai ganglion
simpatis ini. Menginervasi pembuluh darah dan otot polos di bagian kepala,
otot dilator mata, lendir hidung dan kelenjar saliva, serta m
engirimkan cabang
yang menginervasi jantung.
Ganglion servikal
merupaan ganglion yang
mempersarafi organ visceral di daerah toraks
serta berasal dari T1 hingga T6
.
Ada yang membentuk jalinan
pleksus kardiak

dan mempersarafi jantung,


beberapa lainnya mempe
rsarafi kelenjar tiroid dan kulit.
Ganglion kolateral
seperti
g
anglion seliak, mesentrik superior, mesentrik inferior
dapat
ditemukan
sebagai kelanjutan dari saraf splanknik yang tidak bersinaps di
rantai ganglion simpatis.
Serabut preganglion simpatis melepaskan neurotransmitter ACh yang
ditangkap oleh reseptor nikotinik yang berada di badan sel neuron
pascaganglion. Sementara itu
kebanyakan
serabut pascaganglion melepaskan
noradrenalin
(atau
norepinefrin
)
dan ditangkap ol
eh reseptor adrenergik.
Dikenal empat macam reseptor adrenergic untuk neurotransmitter ini, yakni
3

:
Aktivasi
reseptor
1

cenderung menghasilkan efek positif, semisal


konstriksi arteriol akibat peningkatan kontraksi otot di endotel. Aktivasi

justru menyebabkan respons inhibitori seperti pengurangan kontraksi otot


polos di sistem pencernaan. Stimulasi
1

menimbulkan efek ek
sitatori di organ
utama yang dipersarafinya, yakni jantung, menyebabkan kontraksi dan denyut
yang meningkat. Sementara itu

menyebabkan pelebaran arteriol dan


saluran pernapasan akibat relaksasi otot polos di dinding saluran ini.
Beberapa serabut pascaga
nglion tidak menghasilkan NE
, melainkan
menghasilkan asetilkolin. Serabut pascaganglion ini mempersarafi kelenjar
keringat.
2

Fu
ngsi dari saraf simpatis adalah
untuk mempersiapkan diri dalam
keadaan darurat, merespons situasi yang tidak menyenangkan dan penuh
tekanan (stress), serta keadaan ancaman dari luar. Oleh karena itu, dengan

mduah efek dominansi simaptis adalah adanya keadaan


fight
or
flight
.
Dengan demi
kian, dapat dippeningkatan denyut jantung, tekanan darah,
pelebran pembuluh darah,erkirakaan apa
efek yang ditimbulkan akibat perangsangan simpatis, seperti
peningkatan
denyut dan kekuatan kontraksi jantung, pemecahan glikogen, pelebaran

Susunan Saraf Otonom


Fungsi saraf otonom mengatur motilitas dan sekresi pada kulit , pembuluh darah, dan
organviseral dengan cara merangsang pergerakan otot polos dan kelenjar eksokrin.
Menurut Mohamad Judha dkk (2012) perbedaan aktifitas saraf simpatis dan
parasimpatis yaitu:
Saraf simpatis:
- Kesiagaan meningkat
- Denyut jantung meningkat
- Pernafasan meningkat
- Tonus otot-otot meningkat
- Gerakan saluran cerna menurun
- Metabolisme tubuh meningkat
Saraf simpatis ini menyiapkan individu untuk bertempur atau lari, semua itu
tampak pada manusia apabila menghadapi masalah, bekerja, olahraga, cemas dan lainlain, pada keadaan ini terjadi peningkatan penggunaan energi/katabolisme.
Saraf parasimpatis
-

Kesiagaan menurun

Denyut jantung melambat

Pernafasan tenang

Tonus otot-otot menurun

Gerakan saluran cerna meningkat

Metabolisme tubuh menurun

Rusbandi Sarpini (2014).


Anatomi dan Fisiologi Tubuh Manusia Untuk
Paramedis
.Bogor: Penerbit IN MEDI
A.
Batticaca Fransisca, C. 2008.
Asuha
n Keperawatan pada Klien dengan
Gangguan Sistem Persarafan.
Jakarta : Salemba Medika
Drs Syaifudin. AMK. 2011. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 4. EGC.Jakarta
1.
Marieb EN. Hoehn K. Human anatomy & physiology: 7
th

ed. London: Benjamin


Cummings; 2006.
2.
Guyton AC, Hall EJ. Textbook of medical physiology: 11th ed.
Philadelphia: Elsevier Inc.;
2006.
3.
Sherwood L. Human physi
ology: from cells to systems. 7th ed. Canada: Cengage
Learning; 2010.
Illustrated Physiology
4.
Mackenna BR. Callander R. Illustrated physiology. 6
th

ed. New York: Churchill


Livingstone; 1997.