Anda di halaman 1dari 3

Pengendara Kendaraan Bermotor Dibawah Umur, Masalah

Serius?

Fenomena Pengendara Di Bawah Umur


(Sayang terhadap anak jangan membuat nyawa melayang)

Apa yang anda pikirkan tentang pengendara kendaraan bermotor dibawah umur? Apakah anda
setuju? Terlalu berbahaya ataukah tuntutan zaman? Hal tersebut tentu masih menjadi pro dan
kontra dalam masyarakat Indonesia saat ini.
Fenomena pengendara motor dibawah umur sudah tidak asing bagi kita. Bahkan terkadang
dianggap sebagai masalah serius yang memerlukan solusi tepat untuk menanggulanginya.
Semakin bertambahnya angka kecelakaan lalu lintas dengan korban atau pelaku anak-anak
dibawah umur adalah salah satu alasan diperlukannya langkah tegas oleh pihak kepolisian
dalam

menanggulangi

hal

ini.

Dari data yang ada pada komisikepolisianindonesia.com, jumlah pelanggaran lalu lintas tahun
2010 sebanyak 116.522, dan terjadi kenaikan pelanggaran lalu lintas pada tahun
2011 sebanyak 193.389 pelanggaran dengan prosentase kenaikan 66%.Selain
itu, pelanggar dibawah umur yang notabene berumur kurang dari 16 tahun mempunyai
kenaikan prosentase yang cukup tinggi yaitu dari 9277 pada tahun 2010 menjadi 15.691 pada
tahun 2011 atau meningkat 69%. Jadi, dapat disimpulkan bahwa masih banyak pengemudi
dibawah umur yang melakukan pelanggaran lalu lintas.
Selain belum cukup umur, ada beberapa alasan anak-anak tidak boleh mengendarai sepeda
motor. Antara lain, mereka belum mahir, tingkat emosional yang masih tinggi, dan tidak
terkendali saat berkendara. Dan lebih parahnya, banyak pengendara dibawah umur berkendara
secara ugal-ugalan, tidak memakai helm, belum mempunyai Surat Ijin Mengemudi,
berboncengan 3 orang dalam satu sepeda motor, serta kerap kali melakukan pelanggaran
penerobosan rambu-rambu lalu lintas.
Pengendara dibawah umur tidak bisa secara langsung disalahkan, karena mereka mempunyai
alasan mengapa mereka menggunakan kendaraan bermotor yang semestinya belum mereka

gunakan. Namun bila dilihat dari nilai kegunaan yang ada, seharusnya mereka dapat
menggunakan kendaraan bermotor sesuai dengan fungsinya. Yang sering terjadi dalam
masyarakat adalah maraknya penggunaan kendaraan bermotor untuk balapan terutama oleh
remaja yang berusia dibawah 17 tahun. Hal ini dapat mengakibatkan kenaikan jumlah
kecelakaan yang terjadi serta meningkatnya jumlah kriminalitas yang dilakukan anak dibawah
umur.
Solusi
Perlu diadakan langkah-langkah preventif dari masyarakat Indonesia pada umumnya dan
lembaga kepolisian pada khususnya. Hal ini bisa dimulai dari tingkat keluarga, sekolah, serta
masyarakat. Dan diperlukan adanya sosialisasi kepada anak dibawah umur untuk tertib hukum
berlalu lintas.
1. Sosialisasi

ke

Sekolah

Pihak kepolisian harus menjalin kerjasama dengan sekolah-sekolah baik dari tingkat TK,
SD, SMP, hingga SMA tentang pentingnya menaati peraturan lalu lintas untuk
keselamatan pribadi maupun orang lain.
2. Memperketat

Pengendara

Sepeda

Motor

Dibawah

Umur

Memperketat pengamanan dengan melakukan razia kendaraan ke Sekolah Menengah


Pertama

yang

notabene

merupakan

anak

dibawah

umur

yang

belum

boleh

menggunakan kendaraan bermotor. Selain itu perlu diadakan operasi zebra secara
berkala. Dan yang perlu diingat adalah memperketat keluarnya SIM, terutama kepada
anak di bawah umur.
3. Orangtua

harus

bijaksana

Dalam hal ini, keluarga memegang peranan yang paling penting. Orangtua harus tegas
menyatakan bahwa anak dibawah umur belum boleh menggunakan sepeda motor. Dan
orangtua harus tahu kapan waktu yang tepat untuk memberi anak fasilitas kendaraan
bermotor,

yaitu

setelah

dia

cukup

umur

Upaya ini harus dibarengi dengan usaha yang nyata dan hanya bisa diperoleh
dengan keuletan, kesabaran, dan ketekunan dari seluruh pihak. Hasilnya tidak akan
diperoleh secara instan, tetapi bertahap hingga akhirnya menjadi lebih baik.