Anda di halaman 1dari 27

ANALISIS BATUAN METAMORF

Batuan asal atau batuan induk baik berupa batuan beku, batuan sedimen maupun
batuan metamorf dan telah mengalami perubahan mineralogi, tekstur serta struktur
sebagai akibat adanya perubahan temperatur (di atas proses diagenesa dan di bawah
titik lebur; 200-350oC < T < 650-800oC) dan tekanan yang tinggi (1 atm < P < 10.000
atm) disebut batuan metamorf. Proses metamorfisme tersebut terjadi di dalam bumi
pada kedalaman lebih kurang 3 km 20 km. Winkler (1989) menyatakan bahwasannya
proses-proses metamorfisme itu mengubah mineral-mineral suatu batuan pada fase
padat karena pengaruh atau respons terhadap kondisi fisika dan kimia di dalam kerak
bumi yang berbeda dengan kondisi sebelumnya. Proses-proses tersebut tidak termasuk
pelapukan dan diagenesa.
Pembentukan Batuan Metamorf
Batuan beku dan sedimen dibentuk akibat interaksi dari proses kimia, fisika, biologi dan
kondisi-kondisinya di dalam bumi serta di permukaannya. Bumi merupakan sistim yang
dinamis, sehingga pada saat pembentukannya, batuan-batuan mungkin mengalami
keadaan yang baru dari kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan perubahan yang luas
di dalam tekstur dan mineraloginya. Perubahan-perubahan tersebut terjadi pada
tekanan dan temperatur di atas diagenesa dan di bawah pelelehan, maka akan
menunjukkan sebagai proses metamorfisme.
Suatu batuan mungkin mengalami beberapa perubahan lingkungan sesuai dengan
waktu, yang dapat menghasilkan batuan polimetamorfik. Sifat-sifat yang mendasar dari
perubahan metamorfik adalah batuan tersebut terjadi selama batuan berada dalam
kondisi padat. Perubahan komposisi di dalam batuan kurang berarti pada tahap ini,
perubahan tersebut adalah isokimia yang terdiri dari distribusi ulang elemen-elemen
lokal dan volatil diantara mineral-mineral yang sangat reaktif. Pendekatan umum untuk
mengambarkan batas antara diagenesa dan metamorfisme adalah menentukan batas
terbawah dari metamorfisme sebagai kenampakan pertama dari mineral yang tidak
terbentuk secara normal di dalam sedimen-sedimen permukaan, seperti epidot dan
muskovit. Walaupun hal ini dapat dihasilkan dalam batas yang lebih basah. Sebagai
contoh, metamorfisme shale yang menyebabkan reaksi kaolinit dengan konstituen lain
untuk menghasilkan muskovit. Bagaimanapun juga, eksperimen-eksperimen telah
menunjukkan bahwa reaksi ini tidak menempati pada temperatur tertentu tetapi terjadi
antara 200C 350C yang tergantung pada pH dan kandungan potasium dari materialmaterial disekitarnya. Mineral-mineral lain yang dipertimbangkan terbentuk pada awal
metamorfisme adalah laumonit, lawsonit, albit, paragonit atau piropilit. Masing-masing

terbentuk pada temperatur yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda, tetapi secara
umum terjadi kira-kira pada 150C atau dikehendaki lebih tinggi. Di bawah permukaan,
temperatur di sekitarnya 150C disertai oleh tekanan lithostatik kira-kira 500 bar.
Batas atas metamorfisme diambil sebagai titik dimana kelihatan terjadi pelelehan
batuan. Di sini kita mempunyai satu variabel, sebagai variasi temperatur pelelehan
sebagai fungsi dari tipe batuan, tekanan lithostatik dan tekanan uap. Satu kisaran dari
650C 800C menutup sebagian besar kondisi tersebut. Batas atas dari
metamorfisme dapat ditentukan oleh kejadian dari batuan yang disebut migmatit.
Batuan ini menunjukkan kombinasi dari kenampakan tekstur, beberapa darinya muncul
menjadi batuan beku dan batuan metamorf yang lain.
Berdasarkan tingkat malihannya, batuan metamorf dibagi menjadi dua yaitu (1)
metamorfisme tingkat rendah (low-grade metamorphism) dan (2) metamorfisme tingkat
tinggi (high-grade metamorphism) (Gambar 3.9). Pada batuan metamorf tingkat rendah
jejak kenampakan batuan asal masih bisa diamati dan penamaannya menggunakan
awalan meta (-sedimen, -beku), sedangkan pada batuan metamorf tingkat tinggi jejak
batuan asal sudah tidak nampak, malihan tertinggi membentuk migmatit (batuan yang
sebagian bertekstur malihan dan sebagian lagi bertekstur beku atau igneous).

Gambar: memperlihatkan batuan asal yang mengalami metamorfisme tingkat rendah


medium dan tingkat tinggi (ODunn dan Sill, 1986).
Pembentukan batuan metamorf selain didasarkan pada tingkat malihannya juga
didasarkan pada penyebabnya. Berdasarkan penyebabnya batuan metamorf dibagi
menjadi tiga yaitu (1) Metamorfisme kontak/ termal, pengaruh T dominan; (2)
Metamorfisme dinamo/ kataklastik/dislokasi/kinematik, pengaruh P dominan; dan (3)
Metamorfisme regional, terpengaruh P & T, serta daerah luas. Metamorfisme kontak
terjadi pada zona kontak atau sentuhan langsung dengan tubuh magma (intrusi)
dengan lebar antara 2 3 km (Gambar 3.10). Metamorfisme dislokasi terjadi pada
daerah sesar besar/ utama yaitu pada lokasi dimana masa batuan tersebut mengalami
penggerusan. Sedangkan metamorfisme regional terjadi pada kulit bumi bagian dalam
dan lebih intensif bilamana diikuti juga oleh orogenesa (Gambar 3.11). penyebaran
tubuh batuan metamorf ini luas sekali mencapai ribuan kilometer.

Gambar 3.10 memperlihatkan kontak aureole disekitar intrusi batuan beku (Gillen,
1982).

Gambar 3.11 penampang yang memperlihatkan lokasi batuan metamorf (Gillen, 1982).
Pengenalan Batuan Metamorf
Pengenalan batuan metamorf dapat dilakukan melalui kenampakan-kenampakan yang
jelas pada singkapan dari batuan metamorf yang merupakan akibat dari tekanantekanan yang tidak sama. Batuan-batuan tersebut mungkin mengalami aliran plastis,
peretakan dan pembutiran atau rekristalisasi. Beberapa tekstur dan struktur di dalam
batuan metamorf mungkin diturunkan dari batuan pre-metamorfik (seperti: cross
bedding), tetapi kebanyakan hal ini terhapus selama metamorfisme. Penerapan dari
tekanan yang tidak sama, khususnya jika disertai oleh pembentukan mineral baru,
sering menyebabkan kenampakan penjajaran dari tekstur dan struktur. Jika planar
disebut foliasi. Seandainya struktur planar tersebut disusun oleh lapisan-lapisan yang
menyebar atau melensa dari mineral-mineral yang berbeda tekstur, misal: lapisan yang
kaya akan mineral granular (seperti: felspar dan kuarsa) berselang-seling dengan
lapisan-lapisan kaya mineral-mineral tabular atau prismatik (seperti: feromagnesium),
tekstur tersebut menunjukkan sebagai gneis. Seandainya foliasi tersebut disebabkan
oleh penyusunan yang sejajar dari mineral-mineral pipih berbutir sedang-kasar
(umumnya mika atau klorit) disebut skistosity. Pecahan batuan ini biasanya sejajar
dengan skistosity menghasilkan belahan batuan yang berkembang kurang baik.
Pengenalan batuan metamorf tidak jauh berbeda dengan jenis batuan lain yaitu
didasarkan pada warna, tekstur, struktur dan komposisinya. Namun untuk batuan
metamorf ini mempunyai kekhasan dalam penentuannya yaitu pertama-tama dilakukan
tinjauan apakah termasuk dalam struktur foliasi (ada penjajaran mineral) atau non
foliasi (tanpa penjajaran mineral) (Tabel 3.12). Pada metamorfisme tingkat tinggi akan
berkembang struktur migmatit (Gambar 3.12). Setelah penentuan struktur diketahui,
maka penamaan batuan metamorf baik yang berstruktur foliasi maupun berstruktur non
foliasi dapat dilakukan. Misal: struktur skistose nama batuannya sekis; gneisik untuk
genis; slatycleavage untuk slate/ sabak. Sedangkan non foliasi, misal: struktur
hornfelsik nama batuannya hornfels; liniasi untuk asbes.

Variasi yang luas dari tekstur, struktur dan komposisi dalam batuan metamorf,
membuatnya sulit untuk mendaftar satu atau lebih dari beberapa kenampakkan yang
diduga hasil dari proses metamorfisme. Oleh sebab itu hal terbaik untuk
mempertimbangkan secara menerus seperti kemungkinan banyaknya perbedaan
kenampakan-kenampakan yang ada.
Table 3.12 Diagram alir untuk identifikasi batuan metamorf secara umum (Gillen, 1982).

Gambar 3.12 Berbagai struktur pada migmatit dengan leukosom (warna terang)
(Compton, 1985).

Struktur Batuan Metamorf


Secara umum struktur yang dijumpai di dalam batuan metamorf dibagi menjadi dua
kelompok besar yaitu struktur foliasi dan struktur non foliasi. Struktur foliasi ditunjukkan
oleh adanya penjajaran mineral-mineral penyusun batuan metamorf, sedang struktur
non foliasi tidak memperlihatkan adanya penjajaran mineral-mineral penyusun batuan
metamorf.
Struktur Foliasi
a. Struktur Skistose: struktur yang memperlihatkan penjajaran mineral pipih (biotit,
muskovit, felspar) lebih banyak dibanding mineral butiran.
b. Struktur Gneisik: struktur yang memperlihatkan penjajaran mineral granular, jumlah
mineral granular relatif lebih banyak dibanding mineral pipih.
c. Struktur Slatycleavage: sama dengan struktur
mineraloginya sangat halus (dalam mineral lempung).

skistose,

kesan

kesejajaran

d. Struktur Phylitic: sama dengan struktur slatycleavage, hanya mineral dan


kesejajarannya sudah mulai agak kasar.

Struktur Non Foliasi


a. Struktur Hornfelsik: struktur yang memperlihatkan butiran-butiran mineral relatif
seragam.
b. Struktur Kataklastik: struktur yang memperlihatkan adanya penghancuran terhadap
batuan asal.
c. Struktur Milonitik: struktur yang memperlihatkan liniasi oleh adanya orientasi mineral
yang berbentuk lentikuler dan butiran mineralnya halus.
d. Struktur Pilonitik: struktur yang memperlihatkan liniasi dari belahan permukaan yang
berbentuk paralel dan butiran mineralnya lebih kasar dibanding struktur milonitik, malah
mendekati tipe struktur filit.
e. Struktur Flaser: sama struktur kataklastik, namun struktur batuan asal berbentuk
lensa yang tertanam pada masa dasar milonit.
f. Struktur Augen: sama struktur flaser, hanya lensa-lensanya terdiri dari butir-butir
felspar dalam masa dasar yang lebih halus.
g. Struktur Granulose: sama dengan hornfelsik, hanya butirannya mempunyai ukuran
beragam.
h. Struktur Liniasi: struktur yang memperlihatkan adanya mineral yang berbentuk jarus
atau fibrous.

Tekstur Batuan Metamorf


Tekstur yang berkembang selama proses metamorfisme secara tipikal penamaanya
mengikuti kata-kata yang mempunyai akhiran -blastik. Contohnya, batuan metamorf
yang berkomposisi kristal-kristal berukuran seragam disebut dengan granoblastik.
Secara umum satu atau lebih mineral yang hadir berbeda lebih besar dari rata-rata;
kristal yang lebih besar tersebut dinamakan porphiroblast. Porphiroblast, dalam
pemeriksaan sekilas, mungkin membingungkan dengan fenokris (pada batuan beku),
tetapi biasanya mereka dapat dibedakan dari sifat mineraloginya dan foliasi alami yang
umum dari matrik. Pengujian mikroskopik porphiroblast sering menampakkan butiranbutiran dari material matrik, dalam hal ini disebut poikiloblast. Poikiloblast biasanya

dianggap terbentuk oleh pertumbuhan kristal yang lebih besar disekeliling sisa-sisa
mineral terdahulu, tetapi kemungkinan poikiloblast dapat diakibatkan dengan cara
pertumbuhan sederhana pada laju yang lebih cepat daripada mineral-mineral
matriknya, dan yang melingkupinya. Termasuk material yang menunjukkan (karena
bentuknya, orientasi atau penyebarannya) arah kenampakkan mula-mula dalam batuan
(seperti skistosity atau perlapisan asal); dalam hal ini porphiroblast atau poikiloblast
dikatakan mempunyai tekstur helicitik. Kadangkala batuan metamorf terdiri dari
kumpulan butiran-butiran yang berbentuk melensa atau elipsoida; bentuk dari
kumpulan-kumpulan ini disebut augen (German untuk mata), dan umumnya hasil dari
kataklastik (penghancuran, pembutiran, dan rotasi). Sisa kumpulan ini dihasilkan dalam
butiran matrik. Istilah umum untuk agregat adalah porphyroklast.
Tekstur Kristaloblastik
Tekstur batuan metamorf yang dicirikan dengan tekstur batuan asal sudah tidak
kelihatan lagi atau memperlihatkan kenampakan yang sama sekali baru. Dalam
penamaannya menggunakan akhiran kata blastik. Berbagai kenampakan tekstur
batuan metamorf dapat dilihat pada Gambar 3.13.
a. Tekstur Porfiroblastik: sama dengan tekstur porfiritik (batuan beku), hanya kristal
besarnya disebut porfiroblast.
b. Tekstur Granoblastik: tekstur yang memperlihatkan butir-butir mineral seragam.
c. Tekstur Lepidoblastik: tekstur yang memperlihatkan susunan mineral saling sejajar
dan berarah dengan bentuk mineral pipih.
d. Tekstur Nematoblastik: tekstur yang memperlihatkan adanya mineral-mineral
prismatik yang sejajar dan terarah.
e. Tekstur Idioblastik: tekstur yang memperlihatkan mineral-mineral berbentuk euhedral.
f. Tekstur Xenoblastik: sama dengan tekstur idoblastik, namun mineralnya berbentuk
anhedral.

Tekstur Palimpset

Tekstur batuan metamorf yang dicirikan dengan tekstur sisa dari batuan asal masih bisa
diamati. Dalam penamaannya menggunakan awalan kata blasto.
a. Tekstur Blastoporfiritik: tekstur yang memperlihatkan batuan asal yang porfiritik.
b. Tekstur Blastopsefit: tekstur yang memperlihatkan batuan asal sedimen yang ukuran
butirnya lebih besar dari pasir.
c. Tekstur Blastopsamit: sama dengan tekstur blastopsefit, hanya ukuran butirnya sama
dengan pasir.
d. Tekstur Blastopellit: tekstur yang memperlihatkan batuan asal sedimen yang ukuran
butirnya lempung.

Komposisi Batuan Metamorf


Pertumbuhan dari mineral-mineral baru atau rekristalisasi dari mineral yang ada
sebelumnya sebagai akibat perubahan tekanan dan atau temperatur menghasilkan
pembentukan kristal lain yang baik, sedang atau perkembangan sisi muka yang jelek;
kristal ini dinamakan idioblastik, hypidioblastik, atau xenoblastik. Secara umum batuan
metamorf disusun oleh mineral-mineral tertentu (Tabel 3.13), namun secara khusus
mineral penyusun batuan metamorf dikelompokkan menjadi dua yaitu (1) mineral stress
dan (2) mineral anti stress. Mineral stress adalah mineral yang stabil dalam kondisi
tekanan, dapat berbentuk pipih/tabular, prismatik dan tumbuh tegak lurus terhadap arah
gaya/stress meliputi: mika, tremolit-aktinolit, hornblende, serpentin, silimanit, kianit,
seolit, glaukopan, klorit, epidot, staurolit dan antolit. Sedang mineral anti stress adalah
mineral yang terbentuk dalam kondisi tekanan, biasanya berbentuk equidimensional,
meliputi: kuarsa, felspar, garnet, kalsit dan kordierit.

Gambar 3.13 Tekstur batuan metamorf (Compton, 1985).


A. Tekstur Granoblastik, sebagian menunjukkan tekstur mosaik; B. Tekstur Granoblatik
berbutir iregular, dengan poikiloblast di kiri atas; C. Tekstur Skistose dengan
porpiroblast euhedral; D. Skistosity dengan domain granoblastik lentikuler; E. Tekstur
Semiskistose dengan meta batupasir di dalam matrik mika halus; F. Tekstur
Semiskistose dengan klorit dan aktinolit di dalam masa dasar blastoporfiritik metabasal;

G. Granit milonit di dalam proto milonit; H. Ortomilonit di dalam ultramilonit; I. Tekstur


Granoblastik di dalam blastomilonit.
Tabel 3.13 Ciri-ciri fisik mineral-mineral penyusun batuan metamorf (Gillen, 1982)
Setelah kita menentukan batuan asal mula metamorf, kita harus menamakan batuan
tersebut. Sayangnya prosedur penamaan batuan metamorf tidak sistematik seperti
pada batuan beku dan sedimen. Nama-nama batuan metamorf terutama didasarkan
pada kenampakan tekstur dan struktur (Tabel 3.14). Nama yang umum sering
dimodifikasi oleh awalan yang menunjukkan kenampakan nyata atau aspek penting dari
tekstur (contoh gneis augen), satu atau lebih mineral yang ada (contoh skis klorit), atau
nama dari batuan beku yang mempunyai komposisi sama (contoh gneis granit).
Beberapa nama batuan yang didasarkan pada dominasi mineral (contoh metakuarsit)
atau berhubungan dengan facies metamorfik yang dipunyai batuan (contoh granulit).
Metamorfisme regional dari batulumpur melibatkan perubahan keduanya baik tekanan
dan temperatur secara awal menghasilkan rekristalisasi dan modifikasi dari mineral
lempung yang ada. Ukuran butiran secara mikroskopik tetap, tetapi arah yang baru dari
orientasi mungkin dapat berkembang sebagai hasil dari gaya stres. Resultan batuan
berbutir halus yang mempunyai belahan batuan yang baik sekali dinamakan slate.
Bilamana metamorfisme berlanjut sering menghasilkan orientasi dari mineral-mineral
pipih pada batuan dan penambahan ukuran butir dari klorit dan mika. Hasil dari batuan
yang berbutir halus ini dinamakan phylit, sama seperti slate tetapi mempunyai kilap
sutera pada belahan permukaannya. Pengujian dengan menggunakan lensa tangan
secara teliti kadangkala memperlihatkan pecahan porpiroblast yang kecil licin
mencerminkan permukaan belahannya. Pada tingkat metamorfisme yang lebih tinggi,
kristal tampak tanpa lensa. Disini biasanya kita menjumpai mineral-mineral yang pipih
dan memanjang yang terorientasi kuat membentuk skistosity yang menyolok. Batuan ini
dinamakan skis, masih bisa dibelah menjadi lembaran-lembaran. Umumnya
berkembang porpiroblast; hal ini sering dapat diidentikkan dengan sifat khas mineral
metamorfik seperti garnet, staurolit, atau kordierit. Masih pada metamorfisme tingkat
tinggi disini skistosity menjadi kurang jelas; batuan terdiri dari kumpulan butiran sedang
sampai kasar dari tekstur dan mineralogi yang berbeda menunjukkan tekstur gnessik
dan batuannya dinamakan gneis. Kumpulan yang terdiri dari lapisan yang relatif kaya
kuarsa dan feldspar, kemungkinan kumpulan tersebut terdiri dari mineral yang
mengandung feromagnesium (mika, piroksin, dan ampibol). Komposisi mineralogi
sering sama dengan batuan beku, tetapi tekstur gnessik biasanya menunjukkan asal
metamorfisme; dalam kumpulan yang cukup orientasi sering ada. Penambahan
metamorfisme dapat mengubah gneis menjadi migmatit. Dalam kasus ini, kumpulan

berwarna terang menyerupai batuan beku tertentu, dan perlapisan kaya feromagnesium
mempunyai aspek metamorfik tertentu.
Jenis batuan metamorf lain penamaannya hanya berdasarkan pada komposisi mineral,
seperti: Marmer disusun hampir semuanya dari kalsit atau dolomit; secara tipikal
bertekstur granoblastik. Kuarsit adalah batuan metamorfik bertekstur granobastik
dengan komposisi utama adalah kuarsa, dibentuk oleh rekristalisasi dari batupasir atau
chert/rijang. Secara umum jenis batuan metamorfik yang lain adalah sebagai berikut:
Amphibolit: Batuan yang berbutir sedang sampai kasar komposisi utamanya adalah
ampibol (biasanya hornblende) dan plagioklas.
Eclogit: Batuan yang berbutir sedang komposisi utama adalah piroksin klino ompasit
tanpa plagioklas felspar (sodium dan diopsit kaya alumina) dan garnet kaya pyrop.
Eclogit mempunyai komposisi kimia seperti basal, tetapi mengandung fase yang lebih
berat. Beberapa eclogit berasal dari batuan beku.
Granulit: Batuan yang berbutir merata terdiri dari mineral (terutama kuarsa, felspar,
sedikit garnet dan piroksin) mempunyai tekstur granoblastik. Perkembangan struktur
gnessiknya lemah mungkin terdiri dari lensa-lensa datar kuarsa dan/atau felspar.
Hornfels: Berbutir halus, batuan metamorfisme thermal terdiri dari butiran-butiran yang
equidimensional dalam orientasi acak. Beberapa porphiroblast atau sisa fenokris
mungkin ada. Butiran-butiran kasar yang sama disebutgranofels.
Milonit: Cerat berbutir halus atau kumpulan batuan yang dihasilkan oleh pembutiran
atau aliran dari batuan yang lebih kasar. Batuan mungkin menjadi protomilonit, milonit,
atau ultramilomit, tergantung atas jumlah dari fragmen yang tersisa. Bilamana batuan
mempunyai skistosity dengan kilap permukaan sutera, rekristralisasi mika, batuannya
disebut philonit.
Serpentinit: Batuan yang hampir seluruhnya terdiri dari mineral-mineral dari kelompok
serpentin. Mineral asesori meliputi klorit, talk, dan karbonat. Serpentinit dihasilkan dari
alterasi mineral silikat feromagnesium yang terlebih dahulu ada, seperti olivin dan
piroksen.
Skarn: Marmer yang tidak bersih/kotor yang mengandung kristal dari mineral kapursilikat seperti garnet, epidot, dan sebagainya. Skarn terjadi karena perubahan
komposisi batuan penutup (country rock) pada kontak batuan beku.

Tabel 3.14 Klasifikasi Batuan Metamorf (ODunn dan Sill, 1986).


1. Pendahuluan
Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk akibat proses perubahan tekanan (P),
temperatur (T) atau keduanya di mana batuan memasuki kesetimbangan baru tanpa
adanya perubahan komposisi kimia (isokimia) dan tanpa melalui fasa cair (dalam
keadaan padat), dengan temperatur berkisar antara 200-800 derajat C.
Proses metamorfosa membentuk batuan yang sama sekali berbeda dengan batuan
asalnya, baik tekstur dan struktur maupun asosiasi mineral. Perubahan tekanan (P),
temperatur (T) atau keduanya akan mengubah mineral dan hubungan antar
butiran/kristalnya bila batas kestabilannya terlampaui. Selain faktor tekanan dan
temperatur, pembentukan batuan metamorf juga tergantung pada jenis batuan asalnya.
1.2. Tipe-tipe metamorfosa Tipe-tipe metamorfosa :

Metamorfosa termal/kontak : terjadi akibat perubahan (kenaikan) temperatur (T),


biasanya dijumpai di sekitar intrusi/batuan plutonik, luas daerah kontak bisa
beberapa meter sampai beberapa kilometer, tergantung dari komposisi batuan
intrusi dan batuan yang diintrusi, dimensi dan kedalaman intrusi.

Metamorfosa regional/dinamo termal : terjadi akibat perubahan (kenaikan)


tekanan (P) dan temperatur (T) secara bersama-sama, biasanya terjadi di jalur
orogen (jalur pembentukan pegunungan atau zona subduksi) yang meliputi
daerah yang luas, perubahan secara progresif dari P & T rendah ke P & T tinggi..

Metamorfosa kataklastik/kinematik/dislokasi : terjadi di daerah pergeseran yang


dangkal (misal zona sesar) dimana tekanan lebih berperan daripada temperatur,
yang menyebabkan terbentuknya zona hancuran, granulasi, breksi sesar
(dangkal), milonit, filonit (lebih dalam) kemudian diikuti oleh rekristalisasi.

Metamorfosa burial : terjadi akibat pembebanan, biasanya terjadi di cekungan


sedimentasi, perubahan mineralogi ditandai munculnya zeolit.

Metamorfosa lantai samudera : terjadi akibat pembukaan lantai samudera (ocean


floor spreading) di punggungan tengah samudera, tempat dimana lempeng
(litosfer) terbentuk, batuan metamorf yang dihasilkan umumnya berkomposisi
basa dan ultra basa.
1.3. Mineralogi Batuan Metamorf
Beberapa bentuk dan sifat fisik mineral karakteristik batuan metamorf dapat dilihat pada
tabel 1 dan tabel 2.
Tabel 1. Beberapa sifat fisik mineral karakteristik batuan metamorf

Tabel 2. Beberapa bentuk mineral karakteristik batuan metamorf

Proses pertumbuhan mineral saat terjadinya metamorfosa pada fase padat dapat
dibedakan menjadi 3 yaitu (Jackson, 1970) :
Secretionary growth : pertumbuhan kristal hasil reaksi kimia fluida yang terdapat
pada batuan yang terbentuk akibat adanya tekanan pada batuan tersebut.

Concentionary growth : proses pendesakan kristal oleh kristal lainnya untuk


membuat ruang pertumbuhan.

Replacement : proses penggantian mineral lama oleh mineral baru.


Kemampuan mineral untuk membuat ruang bagi pertumbuhannya tidak sama satu
dengan yang lainnya. Percobaan Becke (1904) menghasilkan seri kristaloblastik yang
menunjukan bahwa mineral pada seri yang tinggi akan lebih mudah membuat ruang
pertumbuhan dengan mendesak mineral pada seri yang lebih rendah. Mineral dengan
kekuatan kristaloblastik tinggi umumnya besar dan euhedral (Tabel 3).

Tekanan merupakan faktor yang mempengaruhi stabilitas mineral pada batuan


metamorf. Dalam hal ini dikenal dua kelompok mineral yaitu stress mineral dan
antistress mineral. Stress mineral merupakan mineral yang kisaran stabilitasnya akan
semakin besar bila terkena tekanan atau merupakan mineral yang tahan terhadap
tekanan, contoh : kloritoid, staurolit, dan kyanit. Antistress mineral merupakan mineral
yang kisaran stabilitasnya akan semakin kecil bila terkena tekanan atau merupakan
mineral yang tidak tahan terhadap tekanan, contoh : andalusit, kordierit, augit,
hypersten, olivin, potasium felspar dan anortit.
Tabel 3. Seri Kristaloblastik

1.4. Struktur Batuan Metamorf


Struktur batuan metamorf adalah kenampakan batuan yang berdasarkan ukuran,
bentuk atau orientasi unit poligranular batuan tersebut (Jackson, 1970). Pembahasan
mengenai struktur juga meliputi susunan bagian masa batuan termasuk hubungan
geometrik antar bagian serta bentuk dan kenampakan internal bagian-bagian tersebut
(Bucher & Frey, 1994). Secara umum struktur batuan metamorf dapat dibedakan
menjadi 2 yaitu : struktur foliasi dan struktur non foliasi (Gambar 1).
1.4.1. Struktur Foliasi
Struktur foliasi adalah struktur paralel yang dibentuk oleh mineral pipih/ mineral
prismatik, seringkali terjadi pada metamorfosa regional dan metamorfosa kataklastik.
Beberapa struktur foliasi yang umum ditemukan :

Slaty cleavage : struktur foliasi planar yang dijumpai pada bidang belah batu
sabak/slate, mineral mika mulai hadir, batuannya disebut slate (batusabak).
Phylitic : rekristalisasi lebih kasar daripada slaty cleavage, batuan lebih
mengkilap daripada batusabak (mulai banyak mineral mika), mulai terjadi
pemisahan mineral pipih dan mineral granular meskipun belum begitu jelas/belum
sempurna, batuannya disebut phyllite (filit).
Schistose : struktur perulangan dari mineral pipih dan mineral granular, mineral
pipih orientasinya menerus/tidak terputus, sering disebut dengan close schistosity,
batuannya disebut schist (sekis).

Gneisose : struktur perulangan dari mineral pipih dan mineral granular, mineral
pipih orientasinya tidak menerus/terputus, sering disebut dengan open schistosity,
batuannya disebut gneis.
1.4.2. Struktur Non Foliasi
Struktur non foliasi adalah struktur yang dibentuk oleh mineral-mineral yang
equidimensional dan umumnya terdiri dari butiran-butiran granular, seringkali terjadi
pada metamorfosa termal. Beberapa struktur non foliasi yang umum ditemukan :

Granulose : struktur non foliasi yang terdiri dari mineral-mineral granular


Hornfelsik : struktur non foliasi yang dibentuk oleh mineral-mineral
equidimensional dan equigranular, tidak terorientasi, khusus akibat metamorfosa
termal, batuannya disebut hornfels.

Cataclastic : struktur non foliasi yang dibentuk oleh pecahan/fragmen batuan


atau mineral berukuran kasar dan umumnya membentuk kenampakan breksiasi,
terjadi akibat metamorfosa kataklastik, batuannya disebut cataclasite (kataklasit).

Mylonitic : struktur non foliasi yang dibentuk oleh adanya penggerusan mekanik
pada metamorfosa kataklastik, menunjukan goresan-goresan akibat penggerusan
yang kuat dan belum terjadi rekristalisasi mineral-mineral primer, batuannya
disebut mylonite (milonit).

Phyllonitic : gejala dan kenampakan sama dengan milonitik tetapi butirannya


halus, sudah terjadi rekristalisasi, menunjukan kilap silky, batuannya disebut
phyllonite (filonit).
1.5. Tekstur Batuan Metamorf
Tekstur batuan metamorf adalah kenampakan batuan yang berdasarkan ukuran, bentuk
atau orientasi butir mineral individual penyusun batuan metamorf (Jackson, 1970).

Tekstur batuan metamorf berdasarkan ketahanan terhadap proses metamorfosa


(Gambar 1 dan 2) :
Tekstur relic (sisa) : tekstur batuan metamorf yang masih menunjukan sisa
tekstur batuan asalnya atau tekstur batuan asalnya masih tampak pada batuan
metamorf tersebut. Penamaannya dengan memberi awalan blasto (kemudian
disambung dengan nama tekstur sisa), misalnya : tekstur blastoporfiritik (batuan
metamorf yang tekstur porfiritik batuan beku asal nya masih bisa dikenali) atau
dengan memberi awalan meta untuk memberikan nama batuan metamorf bila
masih dikenali sifat dari batuan asalnya, misalnya metasedimen, metagraywacke,
metavolkanik, dsb.

Tekstur kristaloblastik : setiap tekstur yang terbentuk pada saat metamorfosa.


Penamaannya dengan memberi akhiran blastik, dipakai untuk memberikan nama
tekstur yang terbentuk oleh rekristalisasi proses metamorfosis, misal tekstur
porfiroblastik yaitu batuan metamorf yang memperlihatkan tekstur mirip porfiritik
pada batuan beku, tapi tekstur ini betul-betul akibat rekristalisasi metamorfosis.
Tekstur batuan metamorf berdasarkan bentuk individu kristal :


Idioblastik : mineralnya berbentuk euhedral

Hypidioblastik : mineralnya berbentuk subhedral

Xenoblastik/alotrioblastik : mineralnya berbentuk anhedral


Tekstur batuan metamorf berdasarkan bentuk mineral (Gambar 2) :
Tekstur Homeoblastik : bila terdiri dari satu tekstur saja yaitu :

Lepidoblastik : terdiri dari mineral-mineral tabular/pipih, misalnya mineral


mika (muskovit, biotit)

Nematoblastik : terdiri dari mineral-mineral prismatik, misalnya mineral


plagioklas, k-felspar, piroksen

Granoblastik : terdiri dari mineral-mineral granular (equidimensional),


dengan batas mineralnya sutured (tidak teratur), dengan bentuk mineral
anhedral, misalnya kuarsa.

Granuloblastik : terdiri dari mineral-mineral granular (equidimensional),


dengan batas mineralnya unsutured (lebih teratur), dengan bentuk mineral
anhedral, misalnya kuarsa.

Tekstur Hetereoblastik : bila terdiri lebih dari satu tekstur homeoblastik, misalnya
lepidoblastik dan granoblastik, atau lepidoblastik, nematobalstik dan granoblastik.
Beberapa tekstur khusus lainnya yang umumnya tampak pada pengamatan petrogarafi
(pengamatan batuan/mineral dengan menggunakan mikroskop polarisasi) yaitu
(Gambar 2) :

Porfiroblastik : kristal yang lebih besar (porphyroblast) dikelilingi oleh mineralmineral yang berukuran lebih kecil.
Poikiloblastik (Sieve Texture) : tekstur porfiroblastik dengan porphyroblast
tampak melingkupi beberapa kristal yang lebih kecil.
Mortar Texture : fragmen mineral yang besar terdapat pada masa dasar material
yang berasal dari kristal yang sama yang terkena pemecahan (crushing).
Decussate Texture : tekstur kristaloblastik batuan polimineralik yang tidak
menunjukan keteraturan orientasi.
Sacaroidal Texture : tekstur yang kenampakannya seperti gula pasir.
Gambar 1. Beberapa tekstur batuan metamorfik, A. Granoblastic dengan tekstur
mosaic, B. Granoblastic (butir tak teratur), C. Schistose dengan porfiroblast
euhedral, D. Schistose dengan granoblastik lentikuler, E. Metasandstone dengan
Semischistose, F. Semischistose dalam batuan blastoporphyritic metabasalt, G.
Mylonite granite ke arah bawah menjadi Protomylonite, H. Orthomylonite ke arah
bawah menjadi Ultramylonite, I. Granoblastic di dalam blastomylonite.

1.6.
Penamaan
dan
Klasifikasi
Batuan
Metamorf
1.6.1. Klasifikasi batuan metamorf berdasarkan komposisi kimia batuan asal

Batuan metamorf pelitik, berasal dari batuan lempungan (batulempung, serpih,


batulumpur); komposisinya banyak mengandung Al2O3, K2O, dan SiO2;
batuannya kebanyakan bertekstur skistosa contohnya sekis, batusabak, dll.;
mineralogi : muskovit, biotit, kianit, silimanit, kordierit, garnet, stauroeit; secara

umum batuan pelitik akan berubah menjadi batuan metamorfosis dengan


meningkatnya T, akan terbentuk berturut-turut : batu sabak - filit sekis genes.

Batuan metamorf kuarsa-felspatik, berasal dari batupasir atau batuan beku felsik
(misalnya granit, riolit), dicirikan kandungan SiO2 tinggi dan MgO serta FeO
rendah, hasilnya batuannya bertekstur bukan skistosa.

Batuan metamorf karbonatan, berasal dari batuan yang berkomposisi CaCO3


(batugamping, dolomit), hasil metamorfosa berupa marmer, bila batuan asal
(batugamping) mengandung MgO dan SiO2 diharapkan terbentuk mineral
tremolit, diopsid, wolastonit dan mineral karbonatan yang lain, bila batuan asal
mengandung cukup Al2O3 diharapkan terbentuk mineral plagioklas, epidot,
hornblenda yang hampir mirip dengan mineralogi batuan metamorf yang berasal
dari batuan beku basa.

Batuan metamorf basa, berasal dari batuan beku basa (SiO2 sekitar 50%),
batuan metamorfnya disebut metabasite, batuan asal banyak mengandung MgO,
FeO, CaO dan Al2O3 maka mineral metamorfosanya berupa klorit, aktinolit,
epidot (fasies sekis hijau) dan hornblenda (fasies amfibolit), untuk T lebih tinggi
akan muncul klino dan ortopiroksen dan plagioklas.

Batuan metamorf ultra basa, berasal dari batuan beku ultra basa, batuan hasil
metamorfosa berupa serpentinit, sering dijumpai pada daerah metamorf yang
mengandung glaukofan.
1.6.2. Penamaan batuan metamorf berdasarkan tekstur dan mineraloginya
Tekstur, struktur dan mineralogi memegang peranan penting dalam penamaan batuan
metamorf. Secara umum kandungan mineral di dalam batuan metamorf akan
mencerminkan tekstur, misalnya melimpahnya mika akan memberikan tekstur sekistosa
pada batuannya. Penamaan batuan metamorf bisa berdasarkan struktur, misal sekis,
gneiss, dll. Untuk memperjelas dalam penamaan, banyak digunakan kata tambahan
yang menunjukan ciri khusus batuan metamorf tersebut, misalnya keberadaan mineral
pencirinya (contoh sekis klorit), atau nama batuan beku yang mempunyai komposisi
sama (contoh granite gneiss). Bisa juga berdasarkan jenis mineral penyusun
utamanya (contoh kuarsit) atau berdasarkan fasies metamorfiknya (contoh granulit).
Tabel 4 di bawah ini bisa digunakan untuk membantu dalam determinasi batuan
metamorf.
Tabel 4. Tabel untuk determinasi batuan metamorf

Beberapa batuan metamorf yang penting :


Batusabak (Slate)
Mineral utama : seringkali masih berupa mineral lempung; mineral tambahan :
muskovit, biotit, kordierit, andalusit. Warna : abu-abu gelap yang mengkilap. Struktur :
foliasi (sekistose) mulai tampak namun belum jelas (slaty cleavage). Tekstur :
lepidoblastik dan granoblastik tetapi tanpa selang-seling mineral pipih dan mineral
granular dengan butiran yang halus. Metamorfosa : regional.
Filit (Phyllite)
Mineral utama : kuarsa, serisit, klorit; mineral tambahan : plagioklas, mineral bijih.
Warna : terang, abu-abu perak, abu-abu kehijauan, lebih mengkilap daripada batu
sabak. Struktur : foliasi (sekistose) mulai jelas dibandingkan dengan batu sabak (tekstur
filitik). Tekstur : mulai granoblastik sampai lepidoblastik dengan mulai terlihat
perselingan antara mineral pipih dan mineral granular, butiran mulai lebih kasar
daripada batusabak. Metamorfosa : regional.
Sekis (Schist)
Mineral utama : biotit, muskovit, kuarsa (sekis mika), klorit (sekis klorit), talk (sekis talk)
dll. Warna : tergantung dari mineralnya misalnya sekis mika umumnya putih, hitam,
mengkilap. Struktur : foliasi (sekistose tertutup). Tekstur : granoblastik dan lepidoblastik,
perselingan antara mineral pipih dan mineral granular baik sekali, butiran umumnya
sudah kasar. Metamorfosa : regional.

Geneis (Gneis)
Mineral utama : k-felsfar, plagioklas, biotit, muskovit, kuarsa. Warna : sesuai dengan
batuan asalnya, misalnya dari granit atau batupasir arkose. Struktur : foliasi (sekistose
terbuka/gneisose). Tekstur : granoblastik dan lepidoblastik, mineral pipih dipotong oleh
mineral granular. Metamorfosa : regional.
Migmatit (Migmatite)
Beberapa jenis batuan bertekstur gneisik secara megaskopik sering memperlihatkan
sifat yang heterogen dan terlihat seperti percampuran antara metasedimen dan batuan
granitis, batuan yang demikian ini lazim disebut migmatit, material granitis diperkirakan
berasal dari luar, hasil dari insitu partial melting atau dapat juga dari segregasi akibat
proses metamorfosis. Struktur : foliasi (sekistose terbuka/gneisose). Tekstur :
granoblastik dan lepidoblastik, mineral pipih dipotong oleh mineral granular.
Metamorfosa : regional, pada zona T tinggi, dan selalu dijumpai berasosiasi dengan
batuan granit.
Milonit (Mylonite)
Mineral dan warna tergantung batuan yang mengalami metamorfosa kataklastik.
Struktur dan tekstur : terlihat seperti adanya foliasi dengan lensa-lensa dari batuan yang
tidak hancur berbentuk mata, butiran umumnya halus. Tekstur : granoblastik,
poikiloblastik, dengan tekstur mosaik. Metamorfosa : kataklastik.
Filonit (Phyllonite)
Gejala dan kenampakan sama dengan milonitik (filonit butirannya halus), sudah terjadi
rekristalisasi, derajat metamorfosa lebih tinggi dibanding milonit. Matriks terdiri dari mika
berserabut, terorientasi tak sempurna (berupa alur-alur sangat halus), menunjukan kilap
silky, butiran halus sekali. Metamorfosa : kataklastik.
Kuarsit (Quartzite)
Mineral utama : kuarsa (>80%), mineral tambahan : muskovit, biotit, k-felsfar, mineral
bijih. Warna : putih terang, warna lainnya tergantung warna mineral tambahannya.
Struktur : masif, kadang-kadang berfoliasi. Tekstur : granoblastik tipe mosaik, kadangkadang sacaroidal. Metamorfosa : regional dan termal
Serpentinit (Serpentinite)
Mineral utama : serpentin, mineral tambahan : mineral bijih, mineral sisa : olivin,
piroksen. Warna : hijau terang hijau kekuningan. Struktur : masif, kadang-kadang
terdapat struktur sisa dari peridotit. Tekstur : lamelar, selular, tekstur sisa dari piroksen
(bastit). Metamorfosa : regional
Amfibolit (Amphybolite)
Mineral utama : amfibol (horblenda), plagioklas, mineral tambahan : kuarsa, epidot,
klorit, biotit, garnet, mineral bijih. Warna : hijau/hitam bintik-bintik putih atau kuning.
Struktur : masif atau berfoliasi, kadang-kadang ada struktur sisa dari metagabro atau

meta lava basal. Tekstur : idioblastik/nematoblastik, kadang-kadang poikiloblastik


(plagioklas), lepido-blastik (biotit), porfiroblastik (garnet), berukuran sedang-kasar.
Metamorfosa : regional
Granulit (Granulite)
Mineral utama : kuarsa, k-felspar, plagioklas, garnet, piroksen, sedikit mika. Warna :
bervariasi dari terang sampai gelap, tergantung mineralnya. Struktur : masif dengan
besar butir bervariasi. Tekstur : granoblastik, gneisosa seringkali mineral kuarsa
berbentuk pipih, berukuran sedang-kasar. Metamorfosa : regional Eklogit (Eklogite)
Batuan metamorf berkomposisi basik, mineral utama : piroksen ompasit
(klinopiroksen/diopid yang kaya sodium dan aluminium), garnet kaya pyrope, kuarsa.
Warna : hijau-merah dengan bintik-bintik. Struktur : masif dengan besar butir bervariasi.
Tekstur : granoblastik seringkali porfiroblastik, berukuran sedang-kasar. Metamorfosa :
regional
Marmer
(Marble)
Mineral utama : kalsit; kadang-kadang dolomit, piroksen, amfibol, flogopit, ada mineral
bijih atau oksida besi. Warna : putih dengan garis-garis hijau, abu-abu, coklat dan
merah. Struktur : masif dengan besar butir bervariasi. Tekstur : granoblastik dengan
tekstur sacaroidal. Metamorfosa : kontak dan regional
Hornfels (Hornfels)
Mineral utama : andalusit, silimanit, kordierit, biotit, k-felsfar. Warna : terang, merah,
coklat, ungu dan hijau. Struktur : masif kadang-kadang dengan sisa foliasi. Tekstur :
hornfelsik, granoblastik, poikiloblastik, kadang-kadang porfiroblastik, dengan tekstur
mosaik, butiran ekuidimensional, tidak berorientasi, butiran halus. Metamorfosa :
kontak.
DIAGRAM ALIR DESKRIPSI BATUAN METAMORF

Share this:
Batuan
Metamorf
a.
Slate
->
Mudah
membelah
menjadi
lembaran
tipis
b.
Filit
->
Membelah
mengikuti
permukaan
gelombang
c. Gneiss -> Kuarsa dan feldspar nampak berselang-seling dengan lapisan tipis kaya
amphibole
dan
mika.
d. Sekis -> Foliasi yang kadang bergelombang, terkadang terdapat kristal garnet
e. Marmer -> ekstur berupa butiran seperti gula, terkadang terdapat fosil, bereaksi
dengan
HCl.
f.
Kuarsit
->
Lebih
keras
dibanding
glass
g.
Milonit
->
Dapat
dibelah-belah
h.
Filonit
->
Permukaan
terlihat
berkilau
i. Serpetinit -> Kilap berminyak dan lebih keras dibanding kuku jari
j. Hornfels -> Lebih keras dari pada glass, tekstur merata
materi referensi:

-permukaan
terlihat
-warna
batuan
-batuan memiliki struktur foliasi (mineral penyusun tidak beragam)

berkilau
seragam

Batuan metamorf adalah batuan yang mengalami metamorfosa oleh akibat dari
pengaruh suhu dan tekanan yang tinggi, dimana Batuan asal atau batuan induk baik
berupa batuan beku, batuan sedimen maupun batuan metamorf dan telah mengalami
perubahan mineralogi, tekstur serta struktur sebagai akibat adanya perubahan
temperatur (di atas proses diagenesa dan di bawah titik lebur; 200-350 oC < T < 650800oC) dan tekanan yang tinggi (1 atm < P < 10.000 atm) disebut batuan metamorf.
Proses metamorfisme tersebut terjadi di dalam bumi pada kedalaman lebih kurang 3 km
20 km. Winkler (1989) menyatakan bahwasannya proses-proses metamorfisme itu
mengubah mineral-mineral suatu batuan pada fase padat karena pengaruh atau
respons terhadap kondisi fisika dan kimia di dalam kerak bumi yang berbeda dengan
kondisi sebelumnya. Proses-proses tersebut tidak termasuk pelapukan dan diagenesa.
adapun 10 contoh batuan metamorf beserta keterangannya yaitu:
1. Slate

Slatycleavage (sabak)
Slate merupakan batuan metamorf terbentuk dari proses metamorfosisme batuan
sedimen Shale atau Mudstone (batulempung) pada temperatur dan suhu yang rendah.
Memiliki struktur foliasi (slaty cleavage) dan tersusun atas butir-butir yang sangat halus
(very fine grained).
Asal

: Metamorfisme Shale dan Mudstone

Warna

: Abu-abu, hitam, hijau, merah

Ukuran butir

: Very fine grained

Struktur

: Foliated (Slaty Cleavage)

Komposisi

: Quartz, Muscovite, Illite

Derajat metamorfisme : rendah


Ciri khas

: mudah membelah menjadi lembaran tipis.

kegunaan
: batu sabak yang berbentuk pipih biasa digunakan untuk papan
tulis, biasanya juga untuk trotoar dan atap

2. Filit

Filitik ( filit)
Merupakan batuan metamorf yang umumnya tersusun atas kuarsa, sericite mica dan
klorit. Terbentuk dari kelanjutan proses metamorfosisme dari Slate.
Asal

: Metamorfisme Shale

Warna

: Merah, kehijauan

Ukuran butir

: Halus

Struktur

: Foliated (Slaty-Schistose)

Komposisi

: Mika, kuarsa

Derajat metamorfisme

: Rendah Intermediate

Ciri khas

: Membelah mengikuti permukaan gelombang

kegunaan
: sebagai bahan isolator/isolasi elektrik yang baik dan tahan
terhadap api, bahan interior dan exterior untuk lantai dan dinding. Digunakan dalam
kontruksi suatu bangunan (atap, dll).
3. Gneiss

Gneissa (gneiss)
Merupakan batuan yang terbentuk dari hasil metamorfosisme batuan beku dalam
temperatur dan tekanan yang tinggi. Dalam Gneiss dapat diperoleh rekristalisasi dan
foliasi dari kuarsa, feldspar, mika dan amphibole.
Asal

: Metamorfisme regional siltstone, shale, granit

Warna

: Abu-abu

Ukuran butir

: Medium Coarse grained

Struktur

: Foliated (Gneissic)

Komposisi

: Kuarsa, feldspar, amphibole, mika

Derajat metamorfisme

: Tinggi

Ciri khas

: Kuarsa dan feldspar nampak berselang-seling dengan lapisan


tipis kaya amphibole dan mika

kegunaan
bangunan (Building stone)
4. Sekis

Skistosa (sekis)

:Digunakan Sebagai Agregat, atau sebagai batu untuk

Schist (sekis) adalah batuan metamorf yang mengandung lapisan mika, grafit,
horndlende. Mineral pada batuan ini umumnya terpisah menjadi berkas-berkas
bergelombang yang diperlihatkan dengan kristal yang mengkilap.
Asal

: Metamorfisme siltstone, shale, basalt

Warna

: Hitam, hijau, ungu

Ukuran butir

: Fine Medium Coarse

Struktur

: Foliated (Schistose)

Komposisi

: Mika, grafit, hornblende

Derajat metamorfisme

: Intermediate Tinggi

Ciri khas

: Foliasi yang kadang bergelombang, terkadang terdapat


kristal garnet

Kegunaan

:Digunakan dalam kontruksi suatu bangunan (atap, dll).

5. Marmer

Marble (marmer)
Terbentuk ketika batu gamping mendapat tekanan dan panas sehingga mengalami
perubahan dan rekristalisasi kalsit. Utamanya tersusun dari kalsium karbonat. Marmer
bersifat padat, kompak dan tanpa foliasi.
Asal

: Metamorfisme batu gamping, dolostone

Warna

: Bervariasi

Ukuran butir

: Medium Coarse Grained

Struktur

: Non foliasi

Komposisi

: Kalsit atau Dolomit

Derajat metamorfisme : Rendah Tinggi


Ciri khas

: Tekstur berupa butiran seperti gula, terkadang


terdapat fosil, bereaksi dengan HCl.

kegunaan
: untuk dinding, lantai dan mebel, Batu marmer dipakai sebagai
bahan ornamen dinding dan lantai juga digunakan untuk pembuatan barang-barang
kerajinan.

6. Kuarsit

quartzite (kuarsit)
Adalah salah satu batuan metamorf yang keras dan kuat. Terbentuk ketika batupasir
(sandstone) mendapat tekanan dan temperatur yang tinggi. Ketika batupasir
bermetamorfosis menjadi kuarsit, butir-butir kuarsa mengalami rekristalisasi, dan
biasanya tekstur dan struktur asal pada batupasir terhapus oleh proses metamorfosis .
Asal

: Metamorfisme sandstone (batupasir)

Warna

: Abu-abu, kekuningan, cokelat, merah

Ukuran butir

: Medium coarse

Struktur

: Non foliasi

Komposisi

: Kuarsa

Derajat metamorfisme

: Intermediate Tinggi

Ciri khas

: Lebih keras dibanding glass

kegunaan
: Sebagai bahan pembuatan bola refraktori, bahan penggosok,
untuk industri gelas, keramik, bahan bangunan sebagai agregat, lantai dan dinding.
7. Milonit

Milonitik (milonit)
Milonit merupakan batuan metamorf kompak. Terbentuk oleh rekristalisasi dinamis
mineral-mineral pokok yang mengakibatkan pengurangan ukuran butir-butir batuan.
Butir-butir batuan ini lebih halus dan dapat dibelah seperti schistose.
Asal

: Metamorfisme dinamik

Warna

: Abu-abu, kehitaman, coklat, biru

Ukuran butir

: Fine grained

Struktur

: Non foliasi

Komposisi

: Kemungkinan berbeda untuk setiap batuan

Derajat metamorfisme : Tinggi


Ciri khas

: Dapat dibelah-belah

8. Filonit

Filonit
Merupakan batuan metamorf dengan derajat metamorfisme lebih tinggi dari Slate.
Umumnya terbentuk dari proses metamorfisme Shale dan Mudstone. Filonit mirip
dengan milonit, namun memiliki ukuran butiran yang lebih kasar dibanding milonit dan
tidak memiliki orientasi. Selain itu, filonit merupakan milonit yang kaya akan filosilikat
(klorit atau mika)

Asal

: Metamorfisme Shale, Mudstone

Warna

: Abu-abu, coklat, hijau, biru, kehitaman

Ukuran butir

: Medium Coarse grained

Struktur

: Non foliasi

Komposisi

: Beragam (kuarsa, mika, dll)

Derajat metamorfisme : Tinggi


Ciri khas

: Permukaan terlihat berkilau

9. Serpetinit

Serpentinit
Serpentinit, batuan yang terdiri atas satu atau lebih mineral serpentine dimana mineral
ini dibentuk oleh proses serpentinisasi (serpentinization). Serpentinisasi adalah proses
proses metamorfosis temperatur rendah yang menyertakan tekanan dan air, sedikit
silica mafic dan batuan ultramafic teroksidasi dan ter-hidrolize dengan air menjadi
serpentinit.
Asal

: Batuan beku basa

Warna

: Hijau terang / gelap

Ukuran butir

: Medium grained

Struktur

: Non foliasi

Komposisi

: Serpentine

Ciri khas

: Kilap berminyak dan lebih keras dibanding kuku jari

10. Hornfels

Hornfelsik (hornfels)
Hornfels terbentuk ketika shale dan claystone mengalami metamorfosis oleh temperatur
dan intrusi beku, terbentuk di dekat dengan sumber panas seperti dapur magma, dike,
sil. Hornfels bersifat padat tanpa foliasi.
Asal

: Metamorfisme kontak shale dan claystone

Warna

: Abu-abu, biru kehitaman, hitam

Ukuran butir

: Fine grained

Struktur

: Non foliasi

Komposisi

: Kuarsa, mika

Derajat metamorfisme : Metamorfisme kontak


Ciri khas

: Lebih keras dari pada glass, tekstur merata

PERBEDAAN

MARMER

CARA
TERJADINYA

Terbentuk
dari
batu kapur (karst) Lava panas yang mendingin
yang mengalami dengan cepat dipermukaan
tekanan
dan bumi
panas tinggi

MANFAAT

Untuk
media
tulis
(digunakan sebelum kertas
Bahan bangunan digunakan secara masal.
Bahan baku kaca
(lantai, perhiasan) Dindonesia tahun 60-an
masih
digunakan
di
sekolah-sekolah pedesaan

Sumber : geology.com

SABAK

KWARSA
Pembekuan magma
yang
mendingin
dalam waktu lama
dipermukaan bumi