Anda di halaman 1dari 16

PENGARUH MACAM BAHAN ORGANIK DAN FREKUENSI PENYIRAMAN TERHADAP

PERTUMBUHAN TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L) PADA MEDIA


PASIR PASCA ERUPSI MERAPI

Disusun oleh :
Nama

: Ulfi Setyaningrum

NIM

: 1410401047

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TIDAR
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Media tanam adalah komponen penting dalam bercocok tanam. Bahan organik adalah
komponen yang berasal dari sisa-sisa kehidupan, hewan, atau tanaman. Campuran antara
pasir,lempung, bahan organik untuk memenuhi syarat pertumbuhan tanaman. Pasir digunakan
untuk menambah kadungan kimia yang ada di dalam tanah dan dominan pori makro yang ada di
dalamnya, sedangkan lempung adalah untuk menahan laju kehilangan air akibat gaya grafitasi
yang dipadukan dengan pasir yang tidak bisa menahan gaya grafitasi air. Macam bahan organik
yang digunakan adalah cococpeat,arang sekam, dan pupuk kandang kambing yang diberikan
tidak hanya untuk menambah hara akan tetapi juga untuk memperbaiki sifat-sifat pasir baik sifat
kimia,fisik dan lain sebagainya.Campuran digunakan karena untuk memenuhi dari syarat tumbuh
tanaman bawang merah. Cocopeat mampu untuk menghilangkan senyawa kimia yang merugikan
tanaman dan mampu untuk menahan air, arang sekam merupakan limbah tanaman padi yang
mempunyai sifat-sifat antara lain: ringan, drainase dan aerasi yang baik, tidak mempengaruhi
pH, ada ketersediaan hara atau larutan garam namun mempunyai kapasitas penyerapan air dan
hara rendah, pupuk kandang kambing mampu memperbaiki sifat fisik yaitu dengan
menggemburkan dan memperbaiki aerasi tanah,selain itu memperbaiki sifat kimia dengan
penyediaan unsur hara,serta sifat biologi dengan memperkaya mikroorganisme untuk proses
dekomposisi.
Frekuensi penyiraman adalah jumlah atau takaran air yang digunakan untuk menyiram
tanaman yang ditanam, dilakukan dengan mengetahui kapasitas lapang, kapasitas lapang adalah
jumlah air maksimum yang mampu ditahan oleh tanah dengan kapasitas lapang cocopeat sebesar
780 ml, arang sekam 800 ml, pupuk kandang kambing 820 ml, dan pasir 500 ml. Penyiraman
pada tanaman dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air pada tanaman yang ditanam. Fungsi air
secara internal meliputi bahan baku fotosintesis, penyusun protoplasma sel, pengatur suhu lewat
transpirasi, penyimpan fotosintat pada organ-organ generatif sedangkan fungsi secara eksternal
meliputi pelarut unsur hara dan mineral, menjaga kelembaban udara, menyebarkan organ
vegetatif.
Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang sejak lama telah
diusahakan oleh petani secara intensif dan juga digunakan sebagai rempah-rempah dan bumbu .
tanaman bawang merah memiliki bentuk morfologi berupa akar tunggang, batang berbentuk
cakram,beruas-ruas dan diantara ruas terdapat kuncup, daun bertangkai relatif pendek,bulat mirip
pipi berlubang dan ukuran lebih panjang dari 45cm meruncing pada bagian ujung, bunga terdiri
dari tangkai dan tandan, biji dan buah berbentuk seperti kubah.

B. Tujuan praktikum
1. Untuk mengetahui pengaruh macam bahan organik terhadap pertumbuhan tanaman
bawang merah pada media pasir pasca erupsi merapi
2. Untuk mengetahui pengaruh frekuensi penyiraman terhadap pertumbuhan tanaman
3.

bawang merah pada media pasir pasca erupsi merapi


Untuk mengetahui perbandingan antara bahan organik dan lempung yang paling baik
sebagai campuran pasir erupsi merapi

C. Kegunaaan
Praktikum ini untuk mendapatkan kombinasi perlakuan yang paling baik untuk
pertumbuhan dan perkembangan tanaman bawang merah pada media tanam pasir pasca erupsi
merapi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Taksonomi Tanaman Bawang Merah
1.1 Klasifikasi tanaman

Didalam dunia tumbuh-tumbuhan, taksonomi bawang merah dapat


diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Magnoliophyta/Spermatophyta (Angiospermae)
Kelas
: Liliopsida (Monocotiledon)
Ordo
: Liliales
Sub-ordo
: Liliflorae
Famili
: Li-liaceae (keluarga bawang-bawangan)
Genus
: Allium
Spesies
:(Allium ascalonicum L.)(Firmanto,2011)
1.2 Morfologi tanaman
Tanaman bawang merah termasuk tanaman sempurna yang hidup semusim.Secara
morfologi, bagian-bagian tanaman bawang merah adalah sebagai berikut:
a. Akar
Akar bawang merah akar serabut dengan sistem perakaran dangkal dan
bercabang terpencar, pada kedalaman antara 15-20 cm di dalam tanah dengan
diameter akar 2-5 mm. Untuk memperoleh pertumbuhan yang ideal, tanaman
bawang merah harus didukung oleh perakaran yang banyak.Akar tanaman
bawang merah terdiri dari akar pokok (primary root) yang berfungsi sebagai
tempat tumbuh akar adventif dan bulu akar yang berfungsi untuk menopang
berdirinya tanaman serta menyerap air dan zat-zat hara dari dalam tanah.
Berwarna putih dan jika diremas berbau menyengat seperti bau bawang merah.
(Pitojo,2007)
b. Batang
Terbentuk seperti cakram (discus), beruas-ruas dan diantara ruas terdapat
kuncup.bagian bawah cakram merupakan umbi semu, berupa umbi lapis (bulbus)
yang berasal dari modifikasi pangkal daun bawang merah. Pangkal dan sebagian
tempat penyimpanan cadangan makanan. (Pitojo,2007)
Apabila dalam pertumbuhan tanaman tumbuh tunas atau anakan maka
akan terbentuk beberapa umbi yang berhimpitan yang disebut suing. Pertumbuhan
suing biasanya terjadi pada perbanyakan bawang merah dari benih umbi dan
kurang biasa terjadi pada perbanyakan bawang merah dari biji. Warna kulit umbi
beragam, ada yang merah muda, merah tua, atau kekuningan, tergantung
spesiesnya.Umbi bawang merah mengeluarkan aroma menyengat. (Pitojo,2007)
c. Daun
Daun bawang merah bertangkai relatif pendek, berbentuk bulat mirip pipi,
berlubang, berukuran panjang lebih dari 45cm dan meruncing pada bagian
ujung.Daun berwarna hijau tua atau hijau muda, tergantung varietasnya. Setelah
tua,daun menguning,tidak lagi setegak daun yang masih muda, dan akhirnya
mongering dimulai dari bagian bawah tanaman. Daun relatif lunak. Jika diremas

akan berbau spesifik seperti bau bawang merah. Setelah kering di penjemuran,
daun tanaman bawang merah melekat relatif kuat dengan umbi sehingga
memudahkan pengangkutan dan penyimpanan. (Pitojo,2007)
d. Bunga
Bunga bawang merah terdiri atas tangkai Bunga dan tandan
bunga.Tangkai bunga berbentuk ramping, bulat, dan berukuran panjang lebih dari
50cm. pangkal tangkai bunga dibagian bawah agak menggelembung dan tangkai
bagian atas berukuran lebih kecil.Pada bagian ujung tangkai terdapat bagian yang
bebrbentuk kepala dan berujung agak runcing, yaitu tandan bunga yang masih
terbungkus seludang. Setelah seludang terbuka secara bertandan akan nampak dan
muncul kuncup-kuncup bunga dengan ukuran tangkai kurang dari 2cm.
(Pitojo,2007)
Seludang tetap melekat erat pada pangkal tandan dan mengering seperti
kertas, tidak luruh hingga bunga-bunga mekar.Jumlah bunga dapat lebih dari 100
kuntum.Kuncup bunga mekar secara tidak bersamaan.Dari mekar pertama kali
hingga bunga dalam sattu tandan mekar seluruhnya memerlukan waktu sekitar
seminggu. Bunga yang telah mekar penuh berbentuk seperti payung. Bunga
bawang merah merupakan bunga sempurna, memiliki benang sari dan kepala
putik.Tiap kuntum Bunga terdiri atas 6 daun bunga yang berwarna putih, 6 benang
sari yang berwarna hijau kekuning-kuningan, dan sebuah putik. Kadang-kadang ,
diantara kuntum bunga bawang merah ditemukan bunga yang memiliki putik
sangat kecil dan pendek atau rudimenter, yang diduga merupakan bunga steril,
mestipun jumlah kuntum bunga banyak, namun bunga yang berhasil mengadakan
persarian relatif sedikit. Jika diremas tangkai bunga dan bunga beraroma spesifik
sperti aroma bawang merah dan mata akan pedih jika terkena air remasan ini.
(Pitojo,2007)
e. Buah dan Biji
Bakal buah bawang merah tampak seperti kubah, terdiri atas tiga ruangan
yang masing masing memiliki 2bakal biji. Bnga yang berhasil mengadakan
persarian akan tumbuh membentuk buah. Sedngkan bunga-bunga yang lain akan
mengering dan mati. Buah bawang merah berbentuk bulat, didalamnya terdapat
biji yang berbentuk agak pipih dan berukuran kecil.Pada waktu masih muda biji
berwarna putih bening dan setelah tua berwarna hitam. (Pitojo,2007)
1.3 Syarat tumbuh tanaman
A. Iklim

Tanaman bawang merah lebih senang tumbuh di daerah beriklim kering. Tanaman
bawang merah peka terhadap curah hujan dan intensitas hujan yang tinggi, serta cuaca
berkabut. Tanaman ini membutuhkan penyinaran cahaya matahari yang maksimal
(minimal 70% penyinaran), suhu udara 25-32C, dan kelembaban nisbi 50-70% (Sutarya
dan Grubben 1995, Nazarudin 1999).
Tanaman bawang merah dapat membentuk umbi di daerah yang suhu udaranya
rata-rata 22C, tetapi hasil umbinya tidak sebaik di daerah yang suhu udara lebih panas.
Bawang merah akan membentuk umbi lebih besar bilamana ditanam di daerah dengan
penyinaran lebih dari 12 jam. Di bawah suhu udara 22C tanaman bawang merah tidak
akan berumbi. Oleh karena itu, tanaman bawang merah lebih menyukai tumbuh di
dataran rendah dengan iklim yang cerah (Rismunandar 1986).
Di Indonesia bawang merah dapat ditanam di dataran rendah sampai ketinggian
1000 m di atas permukaan laut. Ketinggian tempat yang optimal untuk pertumbuhan dan
perkembangan bawang merah adalah 0-450 m di atas permukaan laut (Sutarya dan
Grubben 1995). Tanaman bawang merah masih dapat tumbuh dan berumbi di dataran
tinggi, tetapi umur tanamnya menjadi lebih panjang 0,5-1 bulan dan hasil umbinya lebih
rendah.
B. Tanah
Tanaman bawang merah memerlukan tanah berstruktur remah, tekstur sedang
sampai liat, drainase/aerasi baik, mengandung bahan organik yang cukup, dan reaksi
tanah tidak masam (pH tanah : 5,6 6,5). Tanah yang paling cocok untuk tanaman
bawang merah adalah tanah Aluvial atau kombinasinya dengan tanah Glei-Humus atau
Latosol (Sutarya dan Grubben 1995). Tanah yang cukup lembab dan air tidak
menggenang disukai oleh tanaman bawang merah (Rismunandar 1986).
Di Pulau Jawa, bawang merah banyak ditanam pada jenis tanah Aluvial, tipe iklim
D3/E3 yaitu antara (0-5) bulan basah dan (4-6) bulan kering, dan pada ketinggian kurang
dari 200 m di atas permukaan laut. Selain itu, bawang merah juga cukup luas diusahakan
pada jenis tanah Andosol, tipe iklim B2/C2 yaitu (5-9) bulan basah dan (2-4) bulan kering
dan ketinggian lebih dari 500 m di atas permukaan laut (Nurmalinda dan Suwandi 1995).
Waktu tanam bawang merah yang baik adalah pada musim kemarau dengan
ketersediaan air pengairan yang cukup, yaitu pada bulan April/Mei setelah panen padi

dan pada bulan Juli/Agustus. Penanaman bawang merah di musim kemarau biasanya
dilaksanakan pada lahan bekas padi sawah atau tebu, sedangkan penanaman di musim
hujan dilakukan pada lahan tegalan. Bawang merah dapat ditanam secara tumpangsari,
seperti dengan tanaman cabai merah (Sutarya dan Grubben 1995).
Media tanam
Media tanam merupakan komponen utama ketika akan bercocok tanam.
Menentukan media tanam yang tepat untuk jenis tanaman yang berbeda habitat asalnya
merupakan hal yang sulit.Media tanam harus memiliki unsur hara yang dibutuhkan
tanaman, menyediakan cukup udara, air, dan cahaya. (Nia, 2011)
Tanah sebagai media tanam menyediakan faktor-faktor utama untuk pertumbuhan
tanaman, yaitu unsur hara, air, dan udara dengan fungsinya sebagai media tunjangan
mekanik akar dan suhu tanah. Semua faktor tersebut haruslah seimbang agar tanaman
dapat tumbuh dengan baik (Nia, 2011).
Tanah latosol mempunyai ciri kersai yang sangat meningkatkan drainase.
Lempung hidrat oksida tidak memiliki sifat liat dan kohesi yang mencirikan lempung
silica di suatu daerah tertentu. Warna tanah latosol adalah cokelat atau kelabu (Buckman
and Brady, 1982).

Pasir merapi
Dilihat dari potensi hara di balik bencana letusan gunung api. Ada pelepasan unsur
hara makro baik yang melekat pada permukaan debu melalui kondensasi maupun sebagai
bagian struktur mineral mudah lapuk (easily weatherable minerals) adalah Si, Ca, Mg, K,
P dan S. Disamping itu juga terdapat unsur mikro seperti Fe, Zn, Mn dan Cu. Semua
unsur tersebut dibutuhkan tanaman sehingga kehadiran abu volkan akan meningkatkan
kandungan dan cadangan nutrisi tanah untuk meningkatkan produktivitas tanah. Secara
umum sifat kimia abu letusan dapat dibedakan berdasarkan kandungan silika (SiO2%)
yaitu abu bersifat basis (45-55%), intermedier (55-62%) dan masam (>62%).Makin
masam abu letusan makin sedikit cadangan unsur hara yang dilepaskan. Dari berbagai data
analisa total kandungan unsur dalam abu volkan, umumnya abu letusan di Indonesia
termasuk bersifat intermedier dan peralihan dari basis ke intermedier. Dengan sifat

tersebut maka cadangan kandungan hara dalam mineral abu letusan masih termasuk tinggi.
(Sumber: Dr. Ir. Markus Anda, MSc, 2011)
Abu volkan juga mengandung unsur hara, yang didominasi silika (SiO2) 54%, aluminium
(Al2O3) 18%, belerang (S) 5% dan klorida (Cl) 6%.Sisanya adalah kation-kation, calsium (Ca),
magnesium (Mg), kalium (K), besi (Fe) dan unsur mikro lainnya. Belerang dibutuhkan untuk
membentuk protein esensial yang tak tergantikan oleh unsur hara lain, sedangkan klorida untuk
menjaga keseimbangan tekanan osmotik sel tanaman. Tingginya kandungan fosfor (P) sebesar
200 ppm, bermanfaat bagi biji untuk berkecambah serta tanaman untuk berbunga dan
berbuah. (Purwanto,2010) apa kelemahan pasir pasca erupsi merapi ???
Bahan Organik
Pupuk kandang kambing
Pupuk kandang merupakan bahan organik dan humus yang dapat memberikan
pengaruh terhadap perubahan sifat fisik, kimia, biologi tanah dan mengandung unsur hara
makro maupun mikro, sehingga makin banyak pula ketersediaan unsur hara bagi
tanaman. Memperbaiki sifat fisik yaitu dengan menggemburkan dan memperbaiki aerasi
tanah,selain itu memperbaiki sifat kimia dengan penyediaan unsur hara,serta sifat biologi
dengan memperkaya mikroorganisme utuk proses dekomposisi. (Syarief ,S .1989).
Kotoran kambing teksturnya berbentuk butiran bulat yang sukar dipecah secara
fisik mempengaruhi dekomposisi dan penyediaan hara pada tanah. Nilai C/N pupuk
kandang sebanyak 30%. Pupuk kandang yang baik mengandug C/N <20 % sehingga
lebih baik jika dikomposkadahulu.Ciri-ciri kotoran kambing yang telah matang suhunya
dingin, kering dan relatif sudah tidak bau.Kotoran kambing memiliki kandungan K yang
tinggi. (Lingga ,1991).
Cocopeat
Cocopeat diolah dari sabut kelapa.Sebelum diolah, sabut kelapa direndam selama
6 bulan untuk menghilangkan senyawa-senyawa kimia yang dapat merugikan tanaman
seperti tanin.Senyawa itu dapat menghambat pertumbuhan tanaman.Setelah dikeringkan,
sabut kelapa itu dimasukkan ke dalam mesin untuk memisahkan serat dan jaringan

empulur.Residu dari pemisahan itulah yang kemudian dicetak membentuk kotak.Media


dicetak dengan tingkat kerapatan rongga kapiler sehingga dapat menyimpan oksigen
sampai 50%.Itu lebih tinggi ketimbang kemampuan menyimpan oksigen pada tanah yang
hanya 2-3%.Ketersediaan oksigen pada media tanam dibutuhkan untuk pertumbuhan
akar.
Hasil penelitian Dr Geoff Creswell, dari Creswell Horticultural Service, Australia,
media tanam cocopeat sanggup menahan air hingga 73%. Dari 41 ml air yang dialirkan
melewati lapisan cocopeat, yang terbuang hanya 11 ml. Jumlah itu jauh lebih tinggi
daripada sphagnum moss yang hanya 41%. Secara umum, derajat keasaman media
cocopeat 5,8-6. Menurut Joko Pramono, pengguna cocopeat di Semarang, Jawa Tengah,
pada kondisi itu tanaman optimal menyerap unsur hara. Derajat keasaman ideal yang
diperlukan tanaman 5,5-6,5. Karena kemampuan cocopeat menahan air cukup tinggi,
hindari pemberian air berlebih.'Pada beberapa jenis tanaman, media terlalu lembap dapat
menyebabkan busuk akar,' kata Joko. Oleh sebab itu, ia mencampur cocopeat dengan
bahan lain yang daya ikat airnya tidak begitu tinggi seperti pasir atau arang sekam.
Creswell menyarankan, air diberikan sedikit demi sedikit tetapi kontinu seperti dengan
cara irigasi tetes atau pengabutan. Menurut Kevin Handreck dalam bukunya Growing
Media, kandungan klor pada cocopeat cenderung tinggi. Bila klor bereaksi dengan air, ia
akan membentuk asam klorida. Akibatnya, kondisi media menjadi asam.
Arang sekam
Sekam padi merupakan limbah yang mempunyai sifat-sifat antara lain: ringan,
drainase dan aerasi yang baik, tidak mempengaruhi pH, ada ketersediaan hara atau larutan
garam namun mempunyai kapasitas penyerapan air dan hara rendah. Sekam padi
mengandung unsur N sebanyak 1 % dan K 2 %. Pada umumnya sekam ini dibakar
menjadi arang sekam yang berwarna hitam banyak digunakan untuk media hidroponik
secara komersial di Indonesia (Rahardi, 1991). Berdasar analisis Japanese Society for
Examining Fertilizer and Fodders, komposisi arang sekam paling banyak mengandung
senyawa SiOz sebanyak 52 % dan unsur C sebanyak 31 %. Komposisi lainnya adalah
Fe203, K2O, MgO, CaO, MnO dan Cu dalam jumlah yang sangat kecil, juga mengandung
bahan-bahan organik. (Suyekti 1993).
Frekuensi penyiraman
Air adalah salah satu komponen utama penyusun tubuh tanaman. Air memiliki
fungsi-fungsi pokok antara lain sebagai bahan baku dalam proses fotosintesis, penyusun
protoplasma yang sekaligus memelihara turgor sel, sebagai media dalam proses
transpirasi, sebagai pelarut unsur hara, serta sebagai media translokasi unsur hara, baik di
dalam tanah maupun di dalam jaringan tubuh tanaman (Sugito, 1999).

Kebutuhan air tanaman ditentukan berdasarkan nilai kandungan air (%) pada
keadaan kapasitas lapang (pF 2,54) dan nilai kandungan air (%) pada keadaan titik layu
permanen (pF 4,2). Kapasitas lapang adalah jumlah air maksimum yang mampu ditahan
oleh tanah. Sedangkan titik layu permanen adalah kandungan air tanah saat tanaman
yang berada di atasnya me-ngalami layu permanen atau tanaman sulit hidup kembali
meski telah ditambahkan sejumlah air yang mencukupi. Selisih antara kadar air tanah
pada kapasitas lapang dan titik layu permanen disebut dengan air tersedia (Heryani et al.,
2001).
Tanaman yang kelebihan air akan menimbulkan dampak negatif yaitu, Dampak
bagi tanaman yaitu proses transpirasi (proses pendinginan) terganggu karena tingginya
nilai kelembaban udara relatip (Rh) tinggi. Keadaan ini diperparah dengan sulitnya proses
pendinginan secara konduksi lewat daun. Akibatnya tanaman akan kepanasan, daun dan
batang tanaman nampak layu meski masih nampak hijau. Kalau kondisi parah ranting dan
daun akan menguning dan rontok. Kesalahan yang sering dilakukan pada fase ini, melihat
tanaman nampak layu timbul anggapan tanaman kurang air. Padahal kelayuan muncul
bukan karena kekurangan air (seperti pada musim panas), namun akibat terganggunya
proses penyerapan air karena transpirasi terhambat. Dampak selanjutnya gampang
diduga, zona akar akan kelebihan air dan mengundang penyakit. Selain itu dampak lain
yang timbul adalah Tanaman yang tidak sehat atau bagian tanaman yang tua menjadi
rentan serangan jamur. Genangan-genangan air pada bagian batang, bonggol, dan daun
(bagian-bagian yang kaya karbohidrat) cepat atau lambat akan diserbu jamur .
(Evita,2012)
Pertumbuhan tanaman sangat dibatasi oleh jumlah air yang tersedia dalam tanah,
karena air mempunyai peranan penting dalam proses kehidupan tanaman. Kekurangan air
akan mengganggu aktivitas fisiologis maupun morfologis, sehingga mengakibatkan
terhentinya pertumbuhan. Devisiensi air yang terus-menerus akan menyebabkan berbagai
perubahan irreversible (tidak dapat balik) dan pada gilirannya tanaman akan mati.Selama
pertumbuhan tanaman terus-menerus mengisap air dari tanah dan mengeluarkannya pada
saat transpirasi. Kehilangan air pada tanaman dapat terjadi melalui transpirasi dan akibat
sampingan, fiksasi karbon dioksida. Dalam tanah, air berada diantara rongga-rongga
tanah dan terikat oleh butir tanah, dengan kekuatan yang ditentukan oleh banyaknya air
yang dikandung oleh tanah tersebut, atau dengan kata lain besarnya gaya untuk
memisahkan air dari partikel tanah (pF). Tanah yang terlalu banyak mengandung air
menyebabkan berkurangnya air dalam tanah. (Evita,2012).
Kekurangan air akan mengganggu aktivitas fisiologis maupun morfologis,
sehingga mengakibatkan terhentinya pertumbuhan. Defisiensi air yang terus menerus

akan menyebabkan perubahan irreversible (tidak dapat balik) dan pada gilirannya
tanaman akan mati. Kebutuhan air bagi tanaman dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain jenis tanaman dalam hubungannya dengan tipe dan perkembangannya, kadar air
tanah, dan kondisi cuaca. apabila terjadi kekurangan air pada masa pembentukan bunga,
pembentukan dan pengisian polong akan menyebabkan sedikit biji yang terbentuk, biji
yang dihasilkan kecil-kecil sehingga bobot dari biji berkurang. Kekurangan air selama
masa pertumbuhan tanaman menyebabkan hasil biji rendah karena transkolasi hasil
fotosintesis yang diberikan untuk pengisian biji rendah. kekurangan air yang berlangsung
lama akan mengakibatkan kegagalan pada pembungaan, pembuahan dan pengisian biji
atau buah. kekurangan air pada tahap otogeni reproduktif menyebabkan pengurangan
terbesar dalam hasil (Evita,2012).
Frekuensinya ?????
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
Pertumbuhan merupakan proses pertambahan volume dan jumlah sel yang
mengakibatkan bertambah besarnya ukuran organisme.Pertambahan jumlah sel terjadi
karena adanya pembelahan mitosis.Pertumbuhan bersifat irreversibel, artinya organisme
yang tumbuh tidak akan kembali kedalam ukuran semula. Kurva pertumbuhan disebut
juga kurva signoide yang mempunyai beberapa periode. Periode pertama yaitu periode
lamban, dengan ciri adanya sedikit pertumbuhan atau tidak ada pertumbuahan yang
sebenarny (Cambell, 1954). Dalam periode ini organisme sedang mempersiapkan diri
untuk tumbuh, Periode kedua adalah periode logaritma atau periode eksponen,dimana
pertumbuhan telah dimulai dengan lambat tetapi kemudian semakin cepat. Laju
kecepatan yang berangsur-angsur pada tumbuhan dinyatakan dalam bentuk aljabar atau
logaritma. Periode yang ketiga adalah periode perlambatan yaitu pertumbuhan akan
menjadi lambat dan akhirnya akan berhenti (Kimball, 1992).
Seiring dengan berlangsungnya proses pertumbuhan didalam tubuh organisme
terjadi proses pertambahan jenis sel atau disebut perkembangan melalui proses
diferensiasi. Perkembangan dapat dinyatakan melalui berbagai cara ,mulai dari bagian

tertentu suatu tanaman sampai jumlah total perkembangan tanaman dan dinyatakan
dalam batasan bahan kering, tinggi, dan diameter bagian tubuh tanaman atau total tubuh
tanaman. Perkembangan juga merupakan suatu proses kemajuan yang terjadi secara
berangsur-angsur dari kompleksitas tinggi. Perkembangan pada hewan dan tumbuhan
atau tanaman tidak terbatas pada morfogenesis dan diferensiasi tetepi juga mencakup
suatu peningkatan besarnya organisme. Tanaman aktifitas perkembangan yang vital ini
banyak yang tumpang tindih. Proses perkembangan memerlukn tiga kunci yaitu
pembelahan sel yang merupakan proses perbanyakan sel, diferensiasi merupakan suatu
proses pembentukan sel-sel yang memiliki fungsi dan struktur khusus, serta
morfogenesis yakni gerakan-gerakan sel dan jaringan untuk membentuk organ tubuh
(Kimball, 1992). Pada tumbuhan dibedakan menjadi dua macam pertumbuhan, yang
pertama pertumbuhan primer, pada akhir perkecambahan tumbuhan membuntuk akar,
batang dan daun. Akar tumbuhan merupakan struktur tumbuhan yang terdapat di dalam
tanah. Akar adalah tempat masuknya mineral atau zat-zat hara. Batang adalah bagian
kedua dari tumbuhan setelah akar. Batang bersatu dengan akar melanjutkan sari makanan
yang dibawa oleh akar melalui jaringan pengangkut. Daun merupakan bagian dari
tumbuh-tumbuhan yang mempunyai fungsi dan peran penting untuk melangsungkan
kelangsungan hidup tumbuh-tumbuhan itu sendiri. Ciri khas dari daun, pada umumnya
berwarna hijau bentuk dari daun bagian besar adalah melebar, memiliki zat klorofil yang
berguna untuk membantu proses fotosintesis.
Pertumbuhan sekunder merupakan macam pertumbuhan yang kedua. Jaringan
permanen sebagai hasil diferensiasi pada ujung batang dan ujung akar dikotil terdiri dari
jaringan epidermis, parenkima, kolenkima, sklerenkima, protofloen, protoxilem dan
jaringan kambium yang masih tetap bersifat meristematis. Jaringan kambium memiliki
kemampuan membelah secara mitosis. Jika sel kambium membelah ke arah luar,akan

membentuk sel floem dan yang dalam tetap sebagai kambium,sebaliknya jika membelah
kearah dalam sel akan membentuk xilem dan yang luar tetap sebagai kambium. Jadi
selam proses pembelahan ini jarinan kambium tetap dipertahankan. Xilem dan floem
yang terbentuk dari aktifitas kambium disebut xilem sekunder dan floem sekunder.
(Istamar, 2003)

BB,BK ????

BAB III
METODE PERCOBAAN
A. Metode Percobaan
Percobaan dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok lengkap
(RAKL)
Faktor I
: Macam Bahan Organik (B)

B1
B2
B3

: Cocopeat
: Arang sekam
: Pupuk Kandang Kambing

Faktor II
: Frekuensi Penyiraman (F)
F1
: 1 hari sekali
F2
: 2 hari sekali
Sehingga diperoleh enam kombinasi perlakuan yaitu :
B1F1
B2F1
B3F1
B1F2
B2F2
B3F2
Data dianalisis dengan menggunakan sidik ragam pada taraf 5% dan 1%. Uji lanjut
dengan menggunakan polinom dan Least Significant Different test (Uji Beda Nyata
Terkecil).
Layout tata letak
blok 1

blok 2

blok 3

B1F1

B2F1

B3F1

B3F1

B1F1

B2F1

B2F1

B3F1

B1F1

B1F2

B3F2

B2F2

B2F2

B2F2

B1F2

B3F2

B1F2

B3F2

B. Waktu dan Tempat Percobaan


Waktu praktikum dilaksanakan pada tanggal sampai tanggal 15 Maret 2016
sampai 10 Mei 2016. Praktikum dilakukan di lapangan tenis UniversitasTidar
C. Alat dan Bahan
1. Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah cetok, polibag, sekop, ember, gelas
ukur, penggaris atau meteran, cuter, kantong panen, timbangan analitik dan alat tulis.
2. Bahan yang digunakan adalah cocopeat, arang sekam, pupuk kandang kambing, pasir
pasca erupsi merapi,lempung, air, dan umbi bawang merah.

D. Pelaksanaan Percobaan
1. Persiapan Media Tanam
Media tanam yang digunakan menggunakan pasir merapi, tanah lempung, dan
bahan organik dengan perbandingan volume sesuai perlakuan yaitu pasir erupsi
Merapi : lempung: BO sesuai perlakuan ( P:L:BO 2:0.5:1). Media yang telah
dicampur kemudian dimasukkan ke dalam polibag sebanyak 6 kg polybag per
polibag. Selanjutnya media tanam yang telah siap disiram dan diukur kapasitas
lapangnya. Media kemudian didiamkan selama 7 hari.
2. Penanaman
Penanaman dilakukan dengan memilih bibit yang baik dan seragam kemudian
ditanam
3. Pemeliharaan
a. Penyiraman
Penyiraman dilakukan dengan frekuensi satu hari sekali dan dua hari
sekali sebanyak 0,5 kapasitas lapang dari masing-masing perbandingan media.
b. Penyulaman
Penyulaman dilakukan pada tanaman umur satu minggu setelah tanam
pada B1F2 blok satu.
c. Penyiangan
Penyiangan dilakukan secara teknis dengan cabut secara langsung gulma
yang tumbuh di sekitar tanaman.
4. Pengamatan
Dalam percobaan ini parameter yang di gunakan adalah :
a. Tinggi Tanaman (cm)
Pengukuran tinggi tanaman bawang merah dilakukan dengan cara
mengukur tanaman dari pangkal batang hingga titik tumbuh daun tertinggi.
b. Jumlah Daun (helai)
Perhitungan jumlah daun pada tanaman bawang merah dilakukan setiap
minggu, yaitu dengan menghitung jumlah daun sempurna pada setiap tanaman.
c. Panjang Akar Terpanjang (cm)
Panjang akar terpanjang diukur setelah pemanenan, sebelumnya akar
dicuci terlebih dahulu hingga semua kotoran yang menempel pada akar hilang.
Kemudian dilakukan pengukuran dari mulai leher akar sampai ujung akar
terpanjang.
d. Berat Basah Akar (gram)
Penimbangan akar dilakukan pada saat akar masih segar yaitu setelah
tanaman bawang merah dipanen.Akar yang telah dipisahkan dari tanaman bagian
atas dibersihkan dari tanah yang menempel.Akar yang sudah dibersihkan
kemudian ditimbang dan catat hasil penimbangan tersebut.
e. Berat Kering Akar (gram)
Berat kering akar dihitung dengan menimbang akar tanaman bawang
merah yang sebelumnya telah dioven pada suhu 60oC hingga kering dan diperoleh
berat konstan, kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan analitis dan
catat hasil penimbangan tersebut.

f. Berat Basah Tanaman Bagian Atas (gram)


Penimbangan bagian atas tanaman dilakukan pada saat bagian atas
tanaman masih segar yaitu tanaman bagian atas dipisahkan dengan bagian akar,
kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan analitis dan catat hasil
penimbangan tersebut.
g. Berat Kering Tanaman Bagian Atas (gram)
Berat kering bagian atas tanaman dihitung dengan menimbang tanaman
bawang merah bagian atas yang sebelumnya telah dioven pada suhu 60oC hingga
kering dan beratnya konstan, kemudian ditimbang dengan menggunakan
timbangan analitis dan catat hasil penimbangan tersebut.
h. Pengamatan visual
Pengamatan visual dilakukan pada saat pemanenan yaitu mengamati kekekaran
batang, warna daun.
i. Nilai Kapasitas Lapang
Pengukuran nilai kapasitas lapang dilakukan satu hari setelah pembuatan
media tanam. Pengukuran kapasitas lapang dilakukan dengan cara menyiramkan
sejumlah air dengan volume tertentu dan menampung air gravitasi yang turun
dengan menggunakan ember tidak berlubang dan diukur dengan menggunakan
gelas piala. Sehingga diperoleh nilai kapasitas lapang dari masing-masing media.