Anda di halaman 1dari 3

Pendahuluan

Pada hakikatnya kehidupan manusia berpegang kepada satu prinsip


utama, suatu keseimbangan dinamis utama dalam tubuh, yakni
homeostasis
.
Banyak sistem yang mengatur terjadinya homeostasis ini, mulai dari
integumen, sistem endokrin, respirasi, sirkulasi, pencernaan, imun, dan lainnya.
Perubahan yang senantiasa terjadi dalam tubuh mengisyaratkan perlunya
suatu sistem pengaturan yang dinami
s, yang memungkinkan penjagaan
keadaan homeostasis.
Penyelenggaran ini terutama merupakan peran dari
sistem saraf otonom (ANS =
Autonomic Nervous System
)
.
Tidak ada satupun sistem tubuh yang dapat berfungsi sendirian. Semuanya saling
bergantung dan bekerja sama sebagai satu kesatuan sehingga kondisi normal (homeostatis)
di dalam tubuh dapat dipelihara. Sistem saraf berperan sebagai badan koordinasi utama.
Kondisi di dalam dan di luar tubuh secara ajeg selalu berubah, maka sistem saraf ini
bertugas untuk menanggapi perubahan- perubahan baik yang internal maupun ekstemal
(dikenal sebagai stimulus) sehingga tubuh dapat beradaptasi dengan kondisi yang baru.
Melalui pengarahan dan instruksi yang dikirim ke berbagai organ oleh sistem saraf,
keharmonisan dan keseimbangan antara seseorang dengan Iingkungannya dapat
dipertahankan. Sistem saraf dapat diibaratkan dengan jaringan telpon; di mana otak dan
sumsum tulang belakang bertindak sebagai pusat pertukaran (switching), sedangkan
serabut-serabut saraf berlaku sebagai kabel yang menyampaikan pesan yang dikirim dari
dan ke pusat tadi.

1.
Sistem Saraf
1.1 Pengertian
Sistem saraf merupakan serangkaian organ yang kompleks dan bersambungan
serta terdiri terutama dari jaringan saraf (Sloane, 2003). Sistem saraf merupakan
salah satu sistem yang berfungsi untuk memantau dan merespon perubahan yg
terjadi di dalam dan diluar tubuh atau lingkungan. Sistem saraf juga bertanggung
jawab sebagai sistem persepsi, perilaku dan daya ingat, serta merangsang
pergerakan tubuh (Farley et all, 2014). Kemampuan untuk dapat

memahami, mempelajari, dan merespon suatu rangsangan merupakan hasil


kerja
terintegrasi sis
tem persarafan yang mencapai puncaknya dalam bentuk

kepribadian dan tingkah laku individu (Batticaca, 2008).


Sistem saraf sebagai sistem koordinasi mempunyai 3 (tiga) fungsi utama yaitu :
Pengatur Pengendali kerja organ tubuh
Pusat pengendali tanggapan
Alat komunikasi dengan dunia luar

Sistem ini merupakan sistem saraf


eferen (motorik)
yang
mempersarafi organ
organ dalam seperti otot
otot polos, otot jantung, dan
berbagai
kelenjar.
1

Sistem ini melakukan fungsi kontrol, semisal: kontrol


tekanan darah, motilitas gastrointestinal, sekresi gastrointestinal,
pengosongan kandung kemih, proses
berkeringat, suhu tubuh, dan beberapa
fungsi lain. Karakteristik utam SSO adalah
kemampuan memengaruhi yang
sangat cepat
(misal: dalam beberapa detik saj denyut jantung dapat
meningkat hampir dua kali semula, demikian juga dengan tekanan darah
dalam belasa
n detik, berkeringat yang dapat terlihat setelah dipicu dalam
beberapa detik, juga pengosongan kandung kemih).
2

Sifat ini menjadikan


SSO
tepat untuk melakukan pengendalian terhadap homeostasis
mengingat
gangguan terhadp homeostasis dapat memengaruhi seluru
h sistem tubuh
manusia.
D
engan demikian, SSO merupakan komponen dari
refleks visceral
.
Gambar 1

Diagram skematik sistem persarafan di manusia.


SSO akan terbagi
menjadi dua divisi, yakni simpatis dan parasimpatis
Sebagai konsekuensi bahwa
ada
keterlibatan
sistem saraf pusat

terhadap sistem saraf perifer, termasuk SSO, dikenal beberapa pusat integrasi
dan pengendalian informasi sebelum diteruskan ke SSO, seperti medulla
spinalis, batang otak, dan hipotalamus.
Misalnya: medulla spinalis
bertanggu
ng jawab untuk persarafan otonom yang memengaruhi sistem
kardiovaskular dan respirasi; hipotalamus berfungsi untuk mengintegra
sikan
persarafan otonom, somati
k
, dan hormonal (endokrin) dan emosi serta
tingkah laku (misal: seseorang yang marah meningkatkan d
enyut jantung,
tekanan darah, dan laju respirasi).Di samping itu, daerah asosiasi prefrontal
Sistem saraf otonom berfungsi untuk mempertahankan keadaan tubuh dalam kondisi
terkontrol tanpa pengendalian secara sadar. Sistem saraf otonom bekerja secara otomatis
tanpa perintah dari sistem saraf sadar. Sistem saraf otonom juga disebut sistem saraf tak
sadar, karena bekerja diluar kesadaran
Struktur jaringan yang dikontrol oleh sistem saraf otonom yaitu otot jantung, pembuluh
darah, iris mata, organ thorakalis, abdominalis, dan kelenjar tubuh. Secara umu, sistem saraf
otonom dibagi menjadi dua bagian, yaitu sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis.