Anda di halaman 1dari 7

SYARAT TUMBUH

2.1. Iklim
Tanaman bawang merah lebih senang tumbuh di daerah beriklim kering. Tanaman bawang merah peka
terhadap curah hujan dan intensitas hujan yang tinggi, serta cuaca berkabut. Tanaman ini membutuhkan
penyinaran cahaya matahari yang maksimal (minimal 70% penyinaran), suhu udara 25-32C, dan kelembaban
nisbi 50-70% (Sutarya dan Grubben 1995, Nazarudin 1999).
Tanaman bawang merah dapat membentuk umbi di daerah yang suhu udaranya rata-rata 22C, tetapi hasil
umbinya tidak sebaik di daerah yang suhu udara lebih panas. Bawang merah akan membentuk umbi lebih besar
bilamana ditanam di daerah dengan penyinaran lebih dari 12 jam. Di bawah suhu udara 22C tanaman bawang
merah tidak akan berumbi. Oleh karena itu, tanaman bawang merah lebih menyukai tumbuh di dataran rendah
dengan iklim yang cerah (Rismunandar 1986).
Di Indonesia bawang merah dapat ditanam di dataran rendah sampai ketinggian 1000 m di atas permukaan laut.
Ketinggian tempat yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan bawang merah adalah 0-450 m di atas
permukaan laut (Sutarya dan Grubben 1995). Tanaman bawang merah masih dapat tumbuh dan berumbi di
dataran tinggi, tetapi umur tanamnya menjadi lebih panjang 0,5-1 bulan dan hasil umbinya lebih rendah.
2.2. Tanah
Tanaman bawang merah memerlukan tanah berstruktur remah, tekstur sedang sampai liat, drainase/aerasi
baik, mengandung bahan organik yang cukup, dan reaksi tanah tidak masam (pH tanah : 5,6 6,5). Tanah yang
paling cocok untuk tanaman bawang merah adalah tanah Aluvial atau kombinasinya dengan tanah Glei-Humus
atau Latosol (Sutarya dan Grubben 1995). Tanah yang cukup lembab dan air tidak menggenang disukai oleh
tanaman bawang merah (Rismunandar 1986).
Di Pulau Jawa, bawang merah banyak ditanam pada jenis tanah Aluvial, tipe iklim D3/E3 yaitu antara (0-5)
bulan basah dan (4-6) bulan kering, dan pada ketinggian kurang dari 200 m di atas permukaan laut. Selain itu,
bawang merah juga cukup luas diusahakan pada jenis tanah Andosol, tipe iklim B2/C2 yaitu (5-9) bulan basah
dan (2-4) bulan kering dan ketinggian lebih dari 500 m di atas permukaan laut (Nurmalinda dan Suwandi 1995).
Waktu tanam bawang merah yang baik adalah pada musim kemarau dengan ketersediaan air pengairan yang
cukup, yaitu pada bulan April/Mei setelah panen padi dan pada bulan Juli/Agustus. Penanaman bawang merah
di musim kemarau biasanya dilaksanakan pada lahan bekas padi sawah atau tebu, sedangkan penanaman di
musim hujan dilakukan pada lahan tegalan. Bawang merah dapat ditanam secara tumpangsari, seperti dengan
tanaman cabai merah (Sutarya dan Grubben 1995).

Serbuk sabut kelapa.


Serbuk sabut kelapa berasal dari sabut kelapa yang sudah dipisahkan dari seratnya, dan telah
direbus untuk menghilangkan zat tanin (zat yang dapat mematikan tanaman). Proses perebusan
berarti juga sterilisasi untuk menghilangkan benih-benih penyakit yang mungkin ada di
dalamnya.
Kelebihan serbuk sabut kelapa sebagai media tanam adalah memiliki kemampuan mengikat air
dan menyimpan air dengan kuat, serbuk sabut kelapa mengandung unsur-unsur hara esensial,
seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), natrium (Na), dan Fosfor (P) serta dapat
menetralkan keasaman tanah (Prayugo, 2007).
Penelitian Susilawati (2007) menunjukkan bahwa campuran serbuk sabut kelapa, tanah dan
kompos dengan perbandingan 3:2:1 pada tanaman bunga kertas (Zinnia elegans) memiliki
serabut akar yang banyak dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Campuran media tersebut
mempunyai jumlah dan penyebaran pori-pori yang cukup besar sehingga ujung akar mudah untuk
masuk dan memungkinkan perluasan akar. Campuran media serbuk sabut kelapa, tanah dan
kompos dengan perbandingan 3:2:1 pada tanaman bunga kertas memberikan rata-rata daya
berkecambah terbanyak.
Wuryaningsih dan Andyantoro (1998) menjelaskan bahwa campuran media
pasir dan serbuk sabut kelapa dengan perbandingan 1:1 pada tanaman
melati memberikan rata-rata panjang akar, volume akar dan jumlah akar
terbaik dibanding perlakuan lain.
Arang Sekam
Arang sekam berasal dari sekam padi yang disangrai sampai hitam tetapi bentuknya masih utuh
dan tidak sampai menjadi abu. Proses sangrai ini, sekam menjadi arang sekaligus disterilkan,
karena dengan suhu yang tinggi benih penyakit yang tersisa akan mati.

Arang sekam merupakan media tanam yang porous dan memiliki kandungan karbon (C) yang
tinggi sehingga membuat media tanam ini menjadi gembur (Prayugo, 2007). Kelemahan
penggunaan arang sekam adalah mudah hancur dan harus rajin melakukan penggantian media
tanam. Arang sekam disarankan sebagai bahan campuran media, tetapi digunakan sekitar 25%
saja, karena dalam jumlah banyak akan mengurangi kemampuan media dalam menyerap air
(Junaedhie, 2007).
Susilawati (2007) mengemukakan bahwa campuran media arang sekam,
tanah dan kompos dengan perbandingan 1:2:1 pada tanaman Helichrysum
bracteatum memberikan rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman,
pertambahan diameter batang, dan jumlah daun yang lebih besar dibanding
perlakuan lain. Campuran media arang sekam, tanah dan kompos dengan
perbandingan 1:2:1 pada tanaman bunga kertas (Zinnia elegans)
memberikan kecepatan tumbuh tercepat. Arang sekam yang berwarna hitam
akibat adanya proses pembakaran mempunyai daya serap terhadap panas
tinggi dapat menaikkan suhu dan mempercepat perkecambahan.

Arang sekam merupakan hasil pembakaran tidak sempurna dari


sekam padi (kulit gabah) dengan warna hitam. Warna hitam pada
arang sekam akibat proses pembakaran tersebut menyebabkan
daya
serap terhadap panas tinggi sehingga menaikkan suhu dan
mempercepat perkecambahan.
Arang sekam mengandung unsur N, P, K dan Ca masingmasing
0.18; 0.08; 0.30 dan 0.14% serta unsr Mg uang besarnya tidak
terukur dan mempunyai pH 6-7 setelah mengalami perendaman
selama 2 hari (Prabowo, 1987). Menurut hasil analisa Japanese
Society For Examining Fertilizers and Fodders komposisi arang
sekam paling banyak ditempati oleh SiO2(52%), C (31%), Fe2O3,
K2O, MgO, Cao dan Cu (dalam jumlah kecil) sehingga arang sekam
memiliki sifat kimia menyerupai tanah (Wuryaningsih, 1997).
Porositas yang tinggi dapat memperbaiki aerasi dan drainase
media namun menurunkan kapasitas menahan air pada arang
sekam.
Kemampuan menyimpan air pada sekam padi sebesar 12.3% yang
nilainya jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan pasir yang
memiliki kapasitas menyimpan air sebesar 33.7% (Nelson, 1981).
Pupuk Kandang
Secara umum, penggunaan pupuk organik pada lahan ditujukan
untuk mengembalikan hara, memperbaiki struktur tanah dan
mengumpulkan bahan organik dalam tanah. Sumber pupuk organik
adalah sisa tanaman dan pupuk kandang (Lee dan Wani, 1988).
Pupuk
kandang adalah pupuk yang berasal dari kandang ternak baik
berupa
kotoran padatnya bercampur sisa makanannya maupun air
kencingnya

sekaligus (Lingga, 1998).


Pengaruh pemberian pupuk kandang antara lain: 1)
memudahkan penyerapan air hujan; 2) memperbaiki kemampuan
tanah dalam mengikat air; 3) mengurangi erosi; 4) memberikan
lingkungan tumbuh yang baik untuk perkecambahan biji dan akar;
5)
merupakan sumber unsur hara tanaman (Setiawan, 1999).
Kandungan unsur hara dalam pupuk kandang yang penting bagi
tanaman antara lain nitrogen, fosfor dan kalium. Rata-rata
kandungan
unsur hara di dalam pupuk kandang adalah 0.3-0.6% N; 0.1-0.3%
P2O5 dan 0.3-0.5%K2O (Jacob dan Uexkll, 1960). Tisdale dan
Nelson (1965) menambahkan bahwa pupuk kandang biasanya terdiri
dari campuran 0.5% N; 0.25% P2O5; dan 0.5% K2O yang dapat
terdilhat pada Tabel 1.
Pupuk

Kandang Kambing
Susunan hara dalam pupuk kandang kambing yang masih segar terdiri atas
0.6% N; 0.3% P dan 0.17% K untuk kotoran padat. Sedangkan untuk kotoran
cair
terdiri atas 1.5% N; 0.13% P dan 1.8% K (Soepardi, 1983).

Peristiwa letusan gunung merapi telah membawa dampak perubahan lahan yang sangat
signifikan, terutama terkait dengan perubahan tata guna lahan. Letusan gunung Merapi
membawa dampak terhadap lahan yang terkenan erupsi. Letusan Merapi telah memberikan
konsekuensi terhadap bahan material yang berupa pasir dan abu vulkan. Dampak timbunan
material panas yang berupa batu dan pasir di atas permukaan tanah di area aliran erupsi yang
lantas menjadi banjir lahar dingin bila terjadi hujan. Erupsi merapi telah mengubah topografi
aliran sungai, rusaknya sistem sumber daya khususnya air, rusaknya area produktif
persawahan,
merupakan gejala yang relevan dengan persoalan dinamika ekosistem. (Rajiman, 2013)
Kerusakan sumberdaya lahan yang terjadi akibat letusan Gunung Merapi adalah
erupsi abu dan pasir yang menutupi lahan pertanian dengan ketebalan abu dan pasir yang
bervariasi. Kerusakan lahan mencakup 2 Propinsi yaitu Jawa`Tengah dan Provinsi D. I.
Yogyakarta. Provinsi Jawa Tengah mencakup Kabupaten Magelang, Boyolali, dan Klaten,
sedangkan Provinsi DI. Yogyakarta hanya kabupaten Sleman. Dampak yang langsung
terhadap lahan adalah penutupan lapisan olah bagian atas tanah oleh abu dan rusaknya
tanaman yang tumbuh diatasnya.

Abu vulkanik Gunung Merapi yang diambil

pada Juli 2008 mengandung Al, Mg, Si dan Fe yang dianalisis dengan metode Analisis
Aktivasi Neutron ( AAN ). Berturut - turut berkisar antara 1,8 - 15,9 % Al, 0,1 - 2,4% Mg, 2,6
- 2 8,7% Si dan 1,4 - 9,3% Fe ( Sudaryo dan Sutjipto, 2009 ). Menurut Zuarida ( 1999 ), abu

vulkanik Gunung Kelud Jawa Timur mengandung 45,9% SiO2 dan mineral yang dominan
adalah plagioklas intermedier. Abu vulkanik Gunung Kelud dapat meningkatkan pH tanah,
meningkatkan tinggi tanaman, berat kering tanaman dan akar jagung. Semakin halus abu
vulkan semakin efektif terhadap pertumbuhan tanaman jagung. Abu Gunung Merapi saat ini
umumnya bertekstur agak kasar sehingga dampak kerusakan terhadap tanaman cukup besar.
Usaha
yang dapat dilakukan untuk mengelola lahan pasca erupsi merapi adalah dengan
menambahkan bahan organik seperti kotoran hewan atau sisa sisa tanaman untuk
membantu memecah mineral - mineral yang membeku, penambahan bahan organic juga
bertujuan untuk meningkatkan agregasi tanah, karena bahan organic dapat berperanan sebagai
bahan sementasi . Di samping itu bahan organic akan mampu meningkatkan daya simpan
air,sehingga mampu menyediakan air dan hara. Bahan organic yang mempunyai humus yang
tinggi akan memingkatkan KTK tanah. Bahan organik dan bahan mineral sangat diperlukan
untuk pertumbuhan tanaman. Bila abu tersebut sudah diberi bahan organik, diperkirakan
hanya butuh waktu berbulan - bulan untuk memulihkan kondisi tanah yang over mineralnya.
Lebih cepat dibandingkan keadaan yang tidak diberi bahan organik. (Septiyanto, 2010)

Sabut kelapa (cocopeat)


Kalau dilihat dari kandungan cocopeat, cocopeat mengandung unsur hara
makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman. Unsur hara tersebut adalah Kalium,
Fosfor, Calsium, Magnesium dan Natrium. Dengan unsur calsium plus fosfor sangat
diperlukan oleh tanaman terutama sewaktu tanaman tersebut sedang mengalami
pembungan dan pembuahan. Unsur Kalium ini akan mengokohkan akar sehingga
tidak mudah rebah. Dan masih banyak lain fungsi yang lain. Selain itu kelebihan
lainnya adalah kemampuan dengan mudah menyerap dan menyimpan air .Bahkan
kemampuannya luar biasa yaitu dapat menyerap air bisa sebanyak 6 x dari
volumenya. Bila ada 1 kg berarti dapat menyerap 6 x nya. Bagaimana kalau cocopeat
ditaburkan ke sawah, apalagi bila pada musim kemarau. Ini sangat membantu proses
penyimpanan air. Cocopeat juga memiliki pori-pori yang bagus buat media tanam.
Dengan kelebihan ini maka aerasi/sirkulasi udara akan lancar. Bila oksigen banyak di
dalam tanah dan pupuk organik banyak maka kehidupan di dalamnya akan dinamis.
Banyak mikroba, cacing tanah, dll akan menjadi mesin pupuk yang baik buat akar
tanaman. (Nurman, 2013)

Sekam padi
Sekam padi merupakan limbah yang mempunyai sifat-sifat antara lain: ringan,

drainase dan aerasi yang baik, tidak mempengaruhi pH, ada ketersediaan hara atau
larutan garam namun mempunyai kapasitas penyerapan air dan hara rendah. Sekam
padi mengandung unsur N sebanyak 1 % dan K 2 %. Pada umumnya sekam ini
dibakar menjadi arang sekam yang berwarna hitam banyak digunakan untuk media
hidroponik secara komersial di Indonesia (Rahardi, 1991). Berdasar analisis Japanese
Society for Examining Fertilizer and Fodders, komposisi arang sekam paling banyak
mengandung senyawa SiOz sebanyak 52 % dan unsur C sebanyak 31 %. Komposisi
lainnya adalah Fe203, K2O, MgO, CaO, MnO dan Cu dalam jumlah yang sangat kecil,
juga mengandung bahan-bahan organik. (Suyekti 1993).

Pasir merapi
Jika dilihat dari potensi hara di balik bencana letusan gunung api. Ada
pelepasan unsur hara makro baik yang melekat

pada permukaan debu melalui

kondensasi maupun sebagai bagian struktur mineral mudah lapuk (easily weatherable
minerals) adalah Si, Ca, Mg, K, P dan S. Disamping itu juga terdapat unsur mikro
seperti Fe, Zn, Mn dan Cu. Semua unsur tersebut dibutuhkan tanaman sehingga
kehadiran abu volkan akan meningkatkan kandungan dan cadangan nutrisi tanah
untuk meningkatkan produktivitas tanah. Secara umum sifat kimia abu letusan dapat
dibedakan berdasarkan kandungan silika (SiO2%) yaitu abu bersifat basis (45 - 55%),
intermedier (55 - 62%) dan masam (>62%). Makin masam abu letusan makin sedikit
cadangan unsur hara yang dilepaskan. Dari berbagai data analisa total kandungan
unsur dalam abu volkan, umumnya abu letusan di Indonesia termasuk bersifat
intermedier dan peralihan dari basis ke intermedier. Dengan sifat tersebut maka
cadangan kandungan hara dalam mineral abu letusan masih termasuk tinggi. (Sumber:
Dr. Ir. Markus Anda, MSc, 2011)
Pasir Merapi
Sifat fisik pasir merapi yaitu lepas, gembur, drainase dan aerasi baik serta mudah
diolah dan porous. Unsur Kimiawi Sifat kimiawi abu dan pasir volkan Merapi menunjukkan
tingkat pH 4,9, masuk kategori masam dengan daya hantar listrik tanah rata-rata 5,1 mS per
cm. Daya hantar ini merupakan ukuran banyaknya garam terlarut dalam suatu bahan.
Umumnya tanaman bertahan pada daya hantar listrik kurang dari 2 mS per cm. Sehingga,

tanaman sayuran dan buah-buahan, seperti lombok, melon, salak pondoh, banyak yang mati,
di samping karena menahan berat akibat daunnya tertimpa bahan volkan. Demikian juga
salak pondoh, akibat pucuk daun patah dan bunganya tertutup bahan volkan, sehingga tidak
dapat dibuahi kemudian menjadi busuk. Pemulihannya membutuhkan waktu 2-3 tahun.
Namun, abu volkan juga mengandung unsur hara, yang didominasi silika (SiO2) 54%,
aluminium (Al2O3) 18%, belerang (S) 5% dan klorida (Cl) 6%. Sisanya adalah kation-kation,
calsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), besi (Fe) dan unsur mikro lainnya. Unsur-unsur
tersebut sangat bermanfaat bagi pertumbuhan, terutama padi, agar batangnya bisa berdiri
tegak, selain untuk ketahanan dari hama dan penyakit. Belerang dibutuhkan untuk
membentuk protein esensial yang tak tergantikan oleh unsur hara lain, sedangkan klorida
untuk menjaga keseimbangan tekanan osmotik sel tanaman. Tingginya kandungan fosfor (P)
sebesar 200 ppm, bermanfaat bagi biji untuk berkecambah serta tanaman untuk berbunga dan
berbuah. (Purwanto,2010)
Kotoran kambing teksturnya berbentuk butiran bulat yang sukar dipecah secara fisik
mempengaruhi dekomposisi dan penyediaan hara pada tanah. Nilai C/N pupuk kandang
sebanyak 30%. Pupuk kandang yang baik mengandug C/N <20 % sehingga lebih baik jika
dikomposkadahulu.Ciri-ciri kotoran kambing yang telah matang suhunya dingin, kering dan
relatif sudah tidak bau.Kotoran kambing memiliki kandungan K yang tinggi. (Lingga ,1991).
Pupuk kandang merupakan bahan organik dan humus yang dapat memberikan
pengaruh terhadap perubahan sifat fisik, kimia, biologi tanah dan mengandung unsur hara
makro maupun mikro, sehingga makin banyak pula ketersediaan unsur hara bagi tanaman.
Memperbaiki sifat fisik yaitu dengan menggemburkan dan memperbaiki aerasi tanah,selain
itu memperbaiki sifat kimia dengan penyediaan unsur hara,serta sifat biologi dengan
memperkaya mikroorganisme utuk proses dekomposisi. (Syarief ,S .1989).
Cocopeat diolah dari sabut kelapa. Sebelum diolah, sabut kelapa direndam selama 6
bulan untuk menghilangkan senyawa-senyawa kimia yang dapat merugikan tanaman seperti
tanin. Senyawa itu dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Setelah dikeringkan, sabut
kelapa itu dimasukkan ke dalam mesin untuk memisahkan serat dan jaringan empulur. Residu
dari pemisahan itulah yang kemudian dicetak membentuk kotak. Media dicetak dengan
tingkat kerapatan rongga kapiler sehingga dapat menyimpan oksigen sampai 50%. Itu lebih
tinggi ketimbang kemampuan menyimpan oksigen pada tanah yang hanya 2-3%.
Ketersediaan oksigen pada media tanam dibutuhkan untuk pertumbuhan akar.
Hasil penelitian Dr Geoff Creswell, dari Creswell Horticultural Service, Australia,
media tanam cocopeat sanggup menahan air hingga 73%. Dari 41 ml air yang dialirkan
melewati lapisan cocopeat, yang terbuang hanya 11 ml. Jumlah itu jauh lebih tinggi daripada
sphagnum moss yang hanya 41%. Secara umum, derajat keasaman media cocopeat 5,8-6.

Menurut Joko Pramono, pengguna cocopeat di Semarang, Jawa Tengah, pada kondisi itu
tanaman optimal menyerap unsur hara. Derajat keasaman ideal yang diperlukan tanaman 5,56,5. Karena kemampuan cocopeat menahan air cukup tinggi, hindari pemberian air berlebih.
'Pada beberapa jenis tanaman, media terlalu lembap dapat menyebabkan busuk akar,' kata
Joko. Oleh sebab itu, ia mencampur cocopeat dengan bahan lain yang daya ikat airnya tidak
begitu tinggi seperti pasir atau arang sekam. Creswell menyarankan, air diberikan sedikit
demi sedikit tetapi kontinu seperti dengan cara irigasi tetes atau pengabutan. Menurut Kevin
Handreck dalam bukunya Growing Media, kandungan klor pada cocopeat cenderung tinggi.
Bila klor bereaksi dengan air, ia akan membentuk asam klorida. Akibatnya, kondisi media
menjadi asam.