Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS KADAR KALIUM PADA 4 JENIS PISANG (Musa paradisiaca L.

) DENGAN
METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM
Sania Taufik Alketirie1, Iis Inayati Rakhmat2, Burhanuddin Sabirin3
1

Fakultas Kedokteran Unjani, 2Bagian Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Unjani,


3
Bagian Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Unjani

ABSTRAK
Kalium merupakan salah satu mineral penting dalam tubuh. Keadaan defisiensi kalium dapat
disebabkan oleh keadaan dehidrasi yaitu akibat olahraga berlebihan pada atlit, diare, dan
penggunaan obat diuretik jangka panjang. Seorang dokter yang memberikan obat diuretik
jangka panjang biasanya menambah suplemen kalium. Pisang buah (Musa paradisiaca L.)
memiliki kandungan kalium yang tinggi sehingga dapat dijadikan sebagai pengobatan. Terdapat
lebih dari 230 jenis pisang di Indonesia dan mempengaruhi kandungan gizinya. Penelitian
dilakukan untuk mengetahui kadar kalium pada 4 jenis pisang yang berbeda. Pisang buah yang
digunakan pada penelitian ini adalah pisang raja bulu, pisang ambon lumut, pisang ambon putih,
dan pisang nangka yang didapatkan dari suatu kebun di Kabupaten Bandung Barat. Penelitian
ini dilakukan secara analitik untuk mengukur kadar kalium dengan metode spektrofotometri
serapan atom dan menggunakan statistik ANOVA yang bertujuan untuk mengetahui seberapa
jauh kebermaknaan dari kadar kalium masing-masing pisang. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa besar rata-rata kadar kalium pada pisang raja bulu 688,11 mg/100g, pisang ambon putih
622,12 mg/100g, pisang ambon lumut 747,6 mg/100g, dan pisang nangka 686,39 mg/100g. Uji
ANOVA menunjukkan pada jenis pisang p=0,000; artinya paling tidak terdapat perbedaan yang
sangat bermakna rata-rata kadar kalium pada 2 kelompok pisang. Uji post hoc dengan
bonfferoni dan tukey menunjukkan kadar kalium tertinggi ditemukan pada pisang ambon lumut
dengan kadar kalium 747,6 mg/100g.
Kata kunci : pisang, kalium, spektrofotometri serapan atom

PENDAHULUAN
Kalium (K+) merupakan salah satu mineral penting untuk tubuh yang berfungsi sebagai
elektrolit intraseluler utama (kation) dalam tubuh. Konsentrasi kalium dalam tubuh
dipertahankan oleh sistem transpor aktif. Kekurangan kalium atau hipokalemi dalam tubuh dapat
terjadi antara lain pada keadaan dehidrasi yaitu akibat olahraga berlebihan pada atlit, diare, dan
penggunaan obat diuretik jangka panjang. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit bila tidak
ditangani dengan baik akan mengakibatkan keadaan yang fatal berupa syok bahkan kematian.
Seorang dokter yang memberikan obat diuretik jangka panjang biasanya menambah suplemen
kalium.1-3
1

Penelitian yang dilakukan oleh Adrogue dan Madias (2007) menyatakan bahwa pisang
memiliki kandungan kalium yang tinggi dan asupan regular dalam diet dapat membantu
mengurangi risiko stroke hingga 40%. Menurut penelitian lainnya oleh Tobing (2011) asupan
pisang yang telah matang dan tanpa diolah terlebih dahulu dapat menurunkan tekanan darah.4,5
Pisang buah (Musa paradisiaca L.) merupakan buah yang sangat digemari oleh
masyarakat karena memiliki cita rasa yang khas, harganya relatif murah, dan teksturnya yang
lembut sehingga sering juga digunakan sebagai bahan makanan tambahan pada bayi. Selain
itu, pisang juga memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, meliputi vitamin, mineral, dan
karbohidrat.6
Sekitar 100 g pisang tanpa diolah, diperkirakan mengandung 122 kkal; 1,30 g protein;
0,37 g lemak; 27 g karbohidrat; 0,6 mg zat besi; 0,14 mg seng, 457 ug -karoten dan 400 mg
kalium. Pisang kaya akan mineral seperti kalium, magnesium, fosfor, besi, dan kalsium, juga
mengandung vitamin C, B kompleks, B6 dan serotonin yang aktif sebagai neurotransmiter dalam
kelancaran fungsi otak.6,7
Pisang merupakan salah satu tanaman yang mudah tumbuh di Indonesia. Sekitar 50%
produksi pisang di Asia berasal dari Indonesia dan tidak terbatas oleh musim. Berdasarkan
kegunaannya, pisang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu pisang serat (Musa textilis L.), pisang
hias, dan pisang buah (Musa paradisiaca L.). Terdapat lebih dari 230 jenis pisang buah di
Indonesia dan dibagi dalam 4 golongan. Kandungan pisang dapat dipengaruhi oleh kondisi
tanah, iklim, jenis pisang dan kecepatan tumbuh tanaman.8-11
Mengingat pentingnya kalium dalam metabolisme tubuh dan pisang memiliki kandungan
kalium yang tinggi, maka penelitian tentang kadar kalium pada berbagai jenis pisang dipandang
perlu sehingga dapat mengganti suplemen kalium. Pisang yang dimaksud adalah pisang yang
dapat dimakan dan termasuk pisang komersial, yakni banyak digemari masyarakat dan banyak
dijual dipasaran antara lain pisang raja bulu, ambon putih, ambon lumut dan nangka. Masing-

masing pisang tumbuh dalam satu daerah yang sama dengan kematangan penuh untuk
menghindari kesalahan dalam perbandingan kadar kalium.9

BAHAN DAN METODE


Obyek penelitian ini adalah pisang raja bulu, pisang ambon lumut, pisang ambon putih,
dan pisang nangka. Masing-masing pisang tumbuh dalam satu daerah yang sama dari sebuah
kebun di Kabupaten Bandung Barat. Penelitian dilakukan di laboratorium Gedung 50 bagian
kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di jl.SangkuriangCisitu, Bandung dari bulan
Mei 2011 sampai Februari 2012.
Bahan Penelitian
Bahan dan pereaksi yang akan digunakan pada penelitian ini, adalah sampel (4 jenis
pisang), HNO3 65%, H2O2 30%, aquamilipore, asetilen udara, dan KCl pa. Alat yang digunakan
adalah spektrofotometer serapan atom nyala (F-AAS) GBC 903, alat destruksi microwave MLS
1200 MILESTONE, timbangan analitik, batang pengaduk, plastik bening 4 buah, pisau, corong,
gelas ukur, labu takar, dan volume pipet.
Prosedur Penelitian
Prosedur yang dilakukan pada penelitian ini meliputi beberapa tahap pengerjaan, yaitu
penyediaan dan pembuatan sampel, penyediaan dan pembuatan larutan standar, pengukuran
larutan standar dan sampel, serta analisis data.
Penyediaan dan Pembuatan Sampel Penelitian
Sampel pisang diambil 3 buah dari satu buah sisir masing-masing jenis pisang yang
didapatkan dari sebuah kebun di Kabupaten Bandung Barat. Sampel diambil 3 buah secara
acak dari batang sisirnya, kemudian secara acak pula diambil 3 potong, kira-kira 0,5 cm dari
masing-masing pisang, kemudian dihaluskan dan ditimbang masing-masing sebanyak 0,20,4 g
dan ditambahkan 3 ml larutan HNO3 65% dan 0,5 ml larutan H2O2 30% lalu dipanaskan dalam
microwave MLS 1200 MILESTONE waktunya disesuaikan dengan menggunakan program,
3

kemudian dinginkan vessel. Tambahkan 3 ml larutan HNO3 65% ke dalam sediaan yang sudah
dipanaskan kemudian lakukan pemanasan kembali. Tujuan tahap kedua adalah agar proses
pemanasannya sempurna. Hasil pemanasan tahap pertama menghasilkan uap kuning
kecoklatan, dan setelah dipanaskan kembali menghasilkan uap putih, kemudian dikisatkan.
Larutan dipindahkan ke dalam labu takar 50 ml dan diencerkan dengan aquamilipore sampai ke
garis tanda lalu kocok hingga homogen.
Penyediaan dan Pembuatan Larutan Standar
Cara pembuatan larutan standar kalium 1000 mg/L, yaitu Serbuk KCl (kemurnian 99,9%)
dikeringkan dalam oven pada suhu 105C selama 1 jam, kemudian didinginkan dalam eksikator,
ditimbangkan serbuk KCl sebanyak 2,497 gram masukan ke dalam gelas piala dan larutkan
dengan HCl 3 N dalam jumlah minimal, lalu dimasukan ke dalam labu takar 1 L dan diencerkan
dengan aquamilipore hingga tanda batas, lalu kocok sampai homogen sehingga didapatkan
larutan standar 0,1912 g/100ml. Larutan standar kalium 10 mg/L: Dipipet 1 ml larutan standar
kalium 1000 mg/L ke dalam labu takar 100 ml dan tambahkan 1 ml HCl pekat kemudian
diencerkan hingga tanda batas dengan air. Pembuatan kurva kalibrasi standar kalium: Dipipet
berturut-turut larutan standar kalium 10 mg/L masing-masing sebanyak 0,1;0,2;0,3 dan 0,4 M
kemudian dimasukan ke dalam labu takar 100 ml, kemudian encerkan dengan aquamillipore
hingga tanda batas. Kocok sampai homogen.
Pengukuran larutan standar dan sampel
Alat ukur yang digunakan dalam pengukuran larutan standar dan sampel adalah
spektrofotometer serapan atom nyala (F-AAS) GBC 903 yang merupakan salah satu alat yang
digunakan untuk menganalisis secara kuantitatif untuk mayoritas jenis logam. Pada pengukuran
unsur kalium dilakukan secara spektrofotometri serapan atom diukur dengan panjang
gelombang maksimumnya 766,5 nm.
Pengukuran larutan standar

Pengukuran larutan standar dengan menggunakan spektrofotometer serapan atom nyala


(F-AAS) untuk mendapatkan kadar dan intensitas serapan standar yang digunakan pada
pembuatan kurva kalibrasi.
Pengukuran larutan Sampel
Masing-masing larutan sampel diukur dengan menggunakan spekrofotometer serapan
atom nyala (F-AAS) kemudian hasil serapannya diplotkan pada kurva kalibrasi
standarnya untuk mendapatkan konsentrasi kalium.
Analisis data
Analisis kadar unsur kalium dapat dilakukan dari larutan sampel, diukur dengan
spektrofotometer serapan atom nyala (F-AAS), kemudian dicatat hasil intensitas serapannya.
Kadar kalium merupakan hasil konsentrasi hasil plot pada perhitungan analisis regresi dan
korelasi dari standarnya dikalikan pelarutan dan pengenceran, kemudian dibagi berat sampel.

Kadar Kalium=

C x V x Fp
BS

Keterangan:

C = Konsentrasi larutan sampel (mcg/ml)


V = Pelarutan /volume total
Fp = Faktor pengenceran
BS = Berat sampel (g)
Hasil kadar kalium penelitian diolah menggunakan analisis statistika ANOVA untuk

mengukur ada atau tidaknya perbedaan bermakna diantara kadar kalium pisang dengan
sebelumnya dilakukan test of normality untuk melihat distribusi data yang normal atau tidak dan
test of homogenity of varians untuk melihat varians yang sama atau tidak sebagai syarat untuk
uji ANOVA. Setelah didapatkan hasil terdapat perbedaan bermakna, untuk melihat kelompok
mana saja yang memiliki perbedaan kadar kalium dan yang tidak dapat dilanjutkan dengan post
hoc menggunakan analisis bonferroni dan tukey.12-3
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian dilakukan untuk mengetahui kadar kalium (K+) pada 4 jenis pisang yaitu
pisang raja bulu, pisang ambon putih, pisang ambon lumut, dan pisang nangka. Kadar K + pisang
dapat dipengaruhi unsur tanah dan ketinggian tanah, maka keempat jenis pisang tersebut
diambil dari sebuah kebun di Bandung Barat untuk menghindari hasil perbandingan kadar K +
yang keliru. Sampel pisang diambil 3 buah dari satu buah sisir masing-masing jenis pisang.
5

Pengukuran pisang ini dilakukan secara triplo atau 3 kali pengukuran, dikalibrasikan dengan
standar K+ kemudian dilakukan perhitungan hasil kadar K+ dengan pengalian faktor
pengenceran dan faktor pelarutan lalu dibagi berat sampel. Setelah dilakukan perhitungan,
didapatkan rata-rata kadar K+ pada pisang raja bulu sebesar 688,12 mg/100g, pisang ambon
putih sebesar 622,13 mg/100g, pisang ambon lumut sebesar 747,60 mg/100g, dan pisang
nangka sebesar 686,39 mg/100g. Hasil rata-rata kadar K+ pada 4 jenis pisang dapat dilihat pada
(Gambar 1) sebagai berikut:
800
700
600

688,1
1

500
400

747,60
622,
1

686,3
9

Kadar K+

300
200
100
0
Raja Bulu

Ambon Putih

Ambon Lumut

Nangka

Gambar 1 Perbandingan kadar K+ pada 4 jenis pisang.

Berdasarkan keempat jenis pisang yang diteliti (Gambar 1), secara langsung dapat
dilihat jenis pisang buah mengandung K+ dengan kadar yang bervariasi antara 622,13-747,6
mg/100g. Bila dibandingkan dengan penelitian kadar K+ raja bulu dan ambon lumut sebelumnya
oleh Fawzi (2005), hasilnya sama yaitu kadar K+ pisang ambon lumut lebih tinggi dari kadar K+
pisang raja bulu. Adapun penelitian K+ pada jenis pisang lainnya oleh Willy (2011) yaitu pisang
barangan dan pisang kepok yang mengandung K+ sebesar 286,71 1,25 mg/100g dan 193,47
1,39 mg/100g. Melihat perbandingan hasil masing-masing kadar K+ tersebut, pisang dengan K+
tertinggi adalah pisang ambon lumut, akan tetapi perlu dilakukan analisis untuk mengetahui

apakah kadar tersebut memiliki perbedaan yang bermakna atau tidak dengan menggunakan
analisis statistik ANOVA.12-5
Analisis Statistik ANOVA
Berdasarkan hasil uji statistik ANOVA, terdapat perbedaan bermakna antara kelompok
pisang, yakni diantara pisang ambon lumut dengan yang lainnya dan pisang ambon putih
dengan yang lainnya. Berikut uraian interpretasi dari deskriptif, test of normality, uji ANOVA, dan
post hoc test.
Uji Normalitas
Tabel 1 Uji normalitas
Kolmogorov-Smirnova
Statistic
df
Sig.
Kadar Kalium
.178
12
.200*

Shapiro-Wilk
Statistic
df
Sig.
.909
12
.207

Dari data yang dimiliki dapat dilihat bahwa Saphiro-Wilk dengan nilai p=0,207. Nilai
p>0,05 maka H0 diterima atau dengan kata lain keempat sebaran data adalah normal. Setelah
diketahui keempat varians sama dan sebaran data normal baru dilakukan uji ANOVA.
Uji Homogenitas Varians
Tabel 2 Test of homogeneity of variances
Levence Statistic
df1
df2
.923
3
8

Sig.
.473

Dari data yang dimiliki dapat dilihat bahwa levence test hitung adalah 0,923 dengan nilai
p=0,473. P0,05 maka H0 diterima atau dengan kata lainkeempat varians adalah sama. Setelah
diketahui keempat varians sama baru dilakukan uji ANOVA.12-3
Uji ANOVA
Tabel 3 Hasil uji statistik ANOVA
Sum of Squares
Between Groups
33797.584
Within Groups
848.397
Total
34645.982

Df

Mean Square
3
11265.861
8
106.050
11

F
106.232

Sig.
.000

Berdasarkan hasil yang didapat terlihat bahwa F hitung adalah 106,232 dengan p=0,000.
Artinya H0 ditolak atau paling tidak terdapat perbedaan rata-rata kadar kalium dengan sangat
bermakna pada 2 kelompok pisang. Akan tetapi perlu dilakukan uji lanjutan untuk mengetahui
kelompok mana yang memiliki dan tidak memiliki perbedaan bermakna pada suatu kelompok,
hal ini dapat dilakukan uji post hoc dengan analisis bonferroni dan tukey.12-3
Post Hoc Tests
Setelah diketahui ada perbedaan bermakna pada suatu kelompok, maka perlu diketahui
mana saja kelompok yang kadar kaliumnya memiliki perbedaan yang bermakna dan kelompok
yang tidak bermakna.
Dari hasil uji tukey-HSD didapatkan p<0,05 terdapat perbedaan yang bermakna pada
kelompok pisang ambon putih dengan kelompok pisang lainnya dan kelompok pisang ambon
lumut dengan jenis pisang lainnya (B) dan didapatkan p>0,05 tidak terdapat perbedaan yang
bermakna pada kelompok pisang raja bulu dengan kelompok pisang nangka (TB). Berikut
simpulan dari hasil uji statistik tukey-HSD (Tabel 3):

Tabel 4 Simpulan hasil uji statistik tukey-HSD


Raja bulu
Ambon putih
Raja bulu
0
B
Ambon putih
B
0
Ambon lumut
B
B
Nangka
TB
B
Keterangan:
0: tidak dapat dibandingkan
B: bermakna
TB: tidak bermakna

Ambon lumut
B
B
0
B

Nangka
TB
B
B
0

Setelah diketahui jenis pisang yang memiliki perbedaan kadar kalium secara bermakna,
maka dilanjutkan uji homogeneous subset untuk mencari jenis pisang (group/subset) yang
mempunyai perbedaan rata-rata yang tidak berbeda secara signifikan.12-3
8

Tabel 5 Hasil uji stastistik homogenous subset


Subset for alpha = 0.05
Jenis Pisang
N
1
2
3
a
Tukey HSD Ambon Putih
3 622.125133
Nangka
3
686.390567
Raja Bulu
3
688.112833
Ambon Lumut
3
771.604033
Sig.
1.000
.997
1.000
Berdasarkan hasil uji stastistik homogenous subset (Tabel 5) dapat disimpulkan bahwa
hasil kadar kalium pada 4 jenis pisang terdapat 3 group/subset Pada subset 1 terdapat hanya
kelompok ambon putih saja, dengan kata lain kelompok ambon putih mempunyai perbedaan
dengan kelompok yang lain, pada subset 2 terdapat terdapat kelompok nangka dan raja bulu,
dengan kata lain nangka dan raja bulu tidak mempunyai perbedaan yang signifikan, dan pada
subset 3 terdapat hanya kelompok ambon lumut saja, dengan kata lain kelompok ambon lumut
mempunyai perbedaan dengan kelompok yang lain.

KESIMPULAN
Pada penelitian ini terdapat perbedaan yang sangat bermakna rata-rata kadar kalium
pada 4 jenis pisang yaitu pada pisang raja bulu sebesar 688,11 mg/100g, pisang ambon putih
sebesar 622,13 mg/100g, pisang ambon lumut sebesar 747,60 mg/100g, dan pisang nangka
sebesar 686,39 mg/100g. Kadar kalium tertinggi terdapat pada pisang ambon lumut yaitu
sebesar 747,60 mg/100g.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ernst ME, Moser M. Use of Diuretics in Patients with Hypertension. NEJM 2009; 361:
2153-64.

2. Katzung BG. Diuretic Agent. In: Ives HE, Editor. Basic & Clinical Pharmacology. 10th
Edition. Boston BurrRidge,IL Madison,WI NewYork SanFransisco St.Louis Bangkok
Bogota Caracas KualaLumpur Lisbon London Madrid Mexico Milan Montreal NewDelhi
Santiago Seoul Singapore Taipei Toronto: McGraw-Hill; 2007. p.236-52.

3. Mycek, MJ. Farmakologi Ulasan Bergambar. Edisi 2. Jakarta: Widya Medika; 2001.
4. Adrogue HJ, Madias NE. Sodium and Potassium in the Pathogenesis of Hypertension.
NEJM 2007; 356: 1966-78. [diunduh 2 juni 2011]

5. Tobing AM. Pengaruh buah pisang Cavendish (Musa cavendishii) terhadap tekanan
darah normal laki-laki dewasa. Bandung : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen
Maranatha. 2011.

6. Honfo F, Hell K, Coulibaly O, Tenkouano A.Micronutrient value and contribution of


plantain-derived foods to daily intakes of iron, zinc, and -carotene in Southern Nigeria.
The International Journal on Banana and Plantain 2007; Vol. 16 No. 1 & 2: 2-6.

7. Whitney E, Rolfes SR. Understanding Nutrition. 8th Edition. USA: Thomson 2008. p.4145.

8. Nazariah.

Pisang
dan
manfaatnya.
http://nad.litbang.deptan.go.id/ind/files
/buletin/2009/ANEKA%20MANFAAT%20PISANG%20ARTIKEL.pdf. 2009. [diunduh 2
juni 2011]

9. Suyanti, Supriyadi A. Pisang, Budi daya, Pengolahan, dan Prospek Pasar. Jakarta:
Penebar Swadaya; 2010.

10. Prihatman K. Teknologi Tepat Guna Pisang (Musa spp). http://www.warintek.


ristek.go.id/pertanian/pisang.pdf [diunduh 6 Juli 2011].

11. Esti,

Sarwedi.
Teknologi
Tepat
Guna
Buah
dan
Sayuran.
http://www.warintek.ristek.go.id/pangan/umum/buah_sayuran.pdf [ditinjau pada 19 juli
2011].

12. Dahlan S. Statistika untuk kedokteran dan kesehatan. Cetakan I. Jakarta: ARKANS 2004.
Hal. 48-56, 90-101.

13. T Cornelius. Langkah mudah melakukan analisis statistik menggunakan SPSS 19.
Yogyakarta: ANDI Yogyakarta 2011. Hal 105-8.

14. Ali FZ. Pengukuran kadar Kalium pada pisang ambon dan pisang raja bulu secara
spektrofotometri serapan atom. Bandung: Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran.
2005.

15. Delviana W. Penetapan kadar Kalium dan Natrium pada pisang (Musa paradisiaca, L)
secara spektrofotometri serapan atom. Medan: Fakultas Farmasi Universitas Sumatera
Utara. 2011.
10

11