Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

MEKANISASI PERTANIAN
Menghitung Slip

Oleh :
Nama

Indira Intan Dea Mayory

NIM

1410401029

Kelompok

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TIDAR
MAGELANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Dalam dunia pertanian pengolahan lahan sangat diperlukan guna
melakukan penanaman dan perbaikan tanah. Pembajakan adalah salah satu
caranya. Pembajakan dengan menggunakan alat manual atau dengan
tenaga hewan masih sering digunakan. Namun sekarang petani semakin
beralih untuk menggunakan traktor sebagai alat untuk membajak lahan
mereka.
Pada kegiatan kali ini ita akan melakukan pembajakan lahan
menggunakan traktor dengan bajak singkal. Tentunya dalam melakukan
pembajakan traktor mengalami sedikit hambatan pada lahan yang mungkin
dianggap susah dijangkau. Oleh karena itu, traktorsering mengalami slip
pada perputaran rodanya akibat lahan yang kurang baik. Slip tersebut
berpengaruh pada lamanya waktu pekerjaan. Oleh karena itu dilakukan
praktikum pembajakan untuk mengetahui durasi dan slip yang terjadi pada
roda traktor
B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah: Mahasiswa mampu
menghitung slip yang benar.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Sejarah Traktor
Sejarah traktor dimulai pada abad ke-18, motor uap barhasil
diciptakan dan pada permulaan abad ke-19 traktor dengan motor uap mulai
diperkenalkan, sementara itu penelitian untuk membuat motor bakar
internal mulai sekitar tahun 1800. Antara 1800-1860 banyak motor bakar
internal yang dibuat, tetapi satupun belum ada yang memuaskan. Baeu de
roches Insyiniur Prancis memberikan sumbangan yang besar pada
perkembangan traktor yang ada sekarang. Selanjutnya pada tahun 1898
Rudolf Diesel seorang Insyiniur Jerman berhasil membuat motor diesel
dan sejak itu traktor berkembang terus (Daywin, 1976).
Di Indonesia sendiri mekanisasi dimulai sejak 1914 diperkebunan
gula tebu di Sidoarjo kemudian berkembang dari perkebunan ke
kehutanan. Pada tahun 1946 pemerintah mulai melakukan percobaan
mekanisasi pertanian di dataran Sekom Pulau Timur dan pada tahun 1951
sampai 1970 pemerintah berusaha mencetak kader-kader mekanisasi dan
pada tahun 1970 berhasil mencetak lulusan pertama Fatemeta IPB
(Daywin, 1976).
B. Klasifikasi Traktor
Menurut Daywin dkk (1976)

Penggolongan

traktor

belum

diperoleh keseragaman karena umumnya didasarkan menurut selera dan


kepentingan masing-masing. Pada umumnya traktor digolongkan menurut
daya yang tersedia pada motor penggerak traktor, maka klasifikasi traktor
menjadi berkembang.
Klasifikasi traktor yang digunakan terutama dalam bidang
pertanian dapat didasarkan pada :
1. Menurut besar tenaganya :
a. Traktor Besar ( diatas 15 HP )
b. Traktor Kecil ( lebih kecil atau sama dengan 15 HP )
2. Menurut bahan bakar :
a. Traktor Diesel
b. Traktor Kerosine
c. Menurut bentuk dan jumlah roda dan sistem traksinya serta
putaran roda:

d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Traktor Roda Ban


Traktor dengan roda satu
Traktor dengan roda dua
Traktor dengan roda tiga
Traktor dengan roda empat
Traktor Roda Rantai
Traktor Beroda kombinasi roda ban dan rantai ( Yunus, 2004 ).

Menurut Hardjosentono dkk (2000) berdasarkan cara penggandengan


peralatannya traktor kecil diklasifikasikan dalam tiga kelompok :
a. Tipe unit (Integral Maunted Tractor) adalah traktor roda dua yang
peralatannya langsung dihubungkan dengan poros (sumbu as)
dengan gigi transmisi.
b. Tipe Gusur (Trailing Type), peralatannya digandengkan ke traktor
dengan pen (pasak) jadi bekerjanya berdasarkan kekuatan tarik
maju kedepan dari traktor.
c. Tipe Kombinasi (Combination Type), traktor yang dapat dipakai
secara tipe gusur dan tipe unit. Tipe kombinasi menggunakan rantai
(chain) sebagai penerus tenaga dari transmisi ke peralatan
cangkul/garu berputar (rotari tiller).
C. Traksi Roda
Roda traktor yang berguling akan mengalami gaya traksi, tahanan guling,
gaya kemudi, gaya dukung tanah, dan gaya akibat berat traktor (Plackett, 1985).
Traksi adalah gaya dorong yang dapat dihasilkan oleh roda penggerak atau alat
traksi lainnya (Barger et.al, 1958). Arah traksi adalah searah dengan arah gerak
traktor dan berlawanan arah dengan tahanan guling. Traksi yang dapat dihasilkan
traktor dipengaruhi oleh kondisi roda penggerak, kondisi tanah, keadaan
permukaan tanah, dan interaksi roda penggerak dengan tanah (Wanders,1978).
Menurut Wanders (1978), performansi yang dapat dihasilkan suatu traktor
dipengaruhi oleh kondisi alat traksi, kondisi tanah, keadaan pemukaan tanah, dan
interaksi alat traksi dengan tanah. Salah satu faktor yang dapat menurunkan
tenaga tarik adalah reduksi kecepatan maju (travel reduction). Reduksi kecepatan
maju (travel reduction) ini juga sering disebut dengan slip.

Traktor akan mampu menarik peralatan apabila traksi yang dihasilkan oleh
roda karena perputaran roda, mampu merubah torsi menjadi tenaga tarik yang
lebih besar dari tahanan guling. Bila traksi lebih kecil dari torsi yang
disalurkan, akan menyebabkan roda traktor slip. Hal ini sering disebut dengan
roda kehilangan traksi. Besarnya nilai traksi ini tergantung dari tenaga mesin,
dimensi roda, beban pada roda terhadap jalan dan koefisien gesek antara roda
dengan jalan. Traksi pada tanah tertentu dapat ditingkatkan dengan memperluas
bidang sentuh roda dengan tanah atau dengan menambah berat traktor (Gill dan
Vanden Berg, 1968).
Faktor slip juga memiliki peran utama dalam peningkatan atau penurunan
efisiensi traksi. Besarnya tenaga maksimum yang dapat disalurkan roda
kepermukaan tanah dipengaruhi oleh reaksi tanah terhadap roda yang
memungkinkan roda menghasilkan tenaga tarik yang lebih besar. Hal ini
tergantung pada ketahanan tanah terhadap keretakan, kohesi tanah, dan sudut
gesekan dalam tanah. Jika tanah memiliki ketahanan yang baik, maka tenaga yang
dapat disalurkan juga akan semakin besar.
D. Sistem Pengelolaan Tanah
Tanah

merupakan

Tanah menyediakan

sumber

medium

alami

organik

sebagai

pertumbuhan
nutrisi

tanaman.

tanaman.

Tanah

memiliki kesuburan yang berbeda-beda tergantung faktor pembentuk tanah yaitu


bahan induk, iklim, dan organisme tanah. Kesuburan tanah juga dipengaruhi
oleh sistem pengelolaan tanah (Rao, N. S. Subba, 1994 :15).
Suhardi
tanah merupakan

Sutedja

(2001:

9)

mendefinisikan

suatu

proses

mengelola

tanah

sistem
untuk

pengelolaan
menjaga

dan

meningkatkan kesuburan tanah. Sistem pengelolaaan tanah dapat dilakukan


dengan pemupukan organik dan anorganik. Pengelolaan tanah secara organik
banyak dikembangkan oleh masyarakat sehubungan dengan penggunanan pupuk
kimia. Penggunaan pupuk kimia secara terus menerus dapat menyebabkan
perubahan struktur tanah dan kekurangan hara. Pengelolaan tanah organik lebih
menekankan padapenggunaan pupuk organik yang ramah lingkungan dan dapat
memperbaikistruktur tanah (Sukamto Hadisuwito, 2007: 25).

Pupuk adalah suatu bahan yang bersifat organik ataupun anorganik,


biladitambahkan ke dalam tanah ataupun melalui tanaman dapat menambah
unsurehara serta dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah,
ataukesuburan tanah. Pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari sisasisamakhluk hidup yang diolah melalui proses pembusukan (dekomposisi)
olehbakteri pengurai, misalnya pupuk kompos dan pupuk kandang .

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari dan tanggal yang telah
ditentukan. Tempat paktikum yaitu di Laboratorium Fakultas Pertanian
UNTIDAR.
B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah buku kalkulator
dan alat tulis
C. Prosedur Kerja

Disajikan soal perhitungan slip oleh assistant selanjutnya akan


dihitung oleh praktikan yang diampingi assistant praktikum. Adapun soal
perhitungan slip yang sudah diberikan adalah sebagai berikut:
Menghitung waktu penggunaan traktor luas lahan 1ha dengan lebar
alat 5m, apa saja yang perlu diketahui dalam menghitung waktu
penggunaan traktor dan berapa waktu yang diperlukan?
Faktor yang diketahui:
a.
b.
c.
d.
e.

Kecepatan traktor 10km/jam


Factor hilang 0,5jam
Panjang lahan 250m
Lebar lahan 40m
Biaya Rp. 100.000/jam

Faktor yang ditanyakan:


a.
b.
c.
d.
e.
f.

Panjang lintasan
Jarak yang dibutuhkan
Waktu yang dibutuhkan
Waktu total
Biaya

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
a. Panjang lintasan =
=
=
b. Jarak yang dibutuhkan

lebar lahan / lebar alat


40m / 5m
8m
=
panjang lahan x panjang lintasan
=
250m x 8m
=
2000m
c. Waktu yang dibutuhkan =
jarak yang dibutuhkan / kecepatan
=
2000m / 10km/jam
=
2km / 10km/jam
=
0,2jam
d. Waktu total
=
waktu yang dibutuhkan + waktu yang hilang
=
0,2jam + 0,5jam
=
0,7jam
e. Biaya
=
biaya x kecepatan total

=
=

Rp. 100.000 x 0,7


Rp. 70.000

B. Pembahasan
Dari hasil yang telah didapatkan diatas dijelaskan bahwa dalam
lahan berukuran 1ha dengan panjang 250m dan lebar 4m, kecepatan alat
10km/jam, kehilangan waktu selama 0,5 jam serta bayaran pekerja Rp.
100.000 didapatkan hasil panjang lintassan mesin sepanjang 8m, jarak
yang dibutuhkan 2000m, waktu yang dibutuhkan 0,2 jam, total waktu
0,7jam dan biaya pekerja Rp. 70.000

BAB V
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu:
1. Slip roda terjadi apabila lahan licin dan kurang rata.
2. Pada saat pembajakan waktunya lebih sedikit dari pada tanpa menurunkan
implemen.

DAFTAR PUSTAKA
Daywin, F.J., L.Katu., M.Djojomartono., R.G.Sitompul dan S.Supardjo. 1976.
Diktat Kuliah Tenaga Pertanian. IPB Press. Yogyakarta.
Gill, W.R and G.E. VandenBerg .1968. Soil Dynamics in Tillage and Tractor.
agricultural Research Service United Stated Departement of Agricultural.
Rao, N. S. Subba. (1994). Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanah.
Penerjemah: Herawati Susilo, pendamping: Subiyanto. Jakarta: Percetakan
Universitas Indonesia .

Sukamto Hadisuwito. (2007). Membuat Pupuk Kompos Cair. Jakarta: Agro Media
Pustaka.
Wanders, A.A. 1978. Pengukuran Energi. Didalam Strategi Mekanisasi
Pertanian. Departemen Mekanisasi Pertanian-Fatema-IPB. Bogor.