Anda di halaman 1dari 5

A.

Thaqifah bani saidah


1. Peristiwa Saqifah Bani Saidah
Peristiwa saqifah bani saidah adalah peristiwa berkumpulnya beberapa gelintir
kaum

Muslimin

disebuah

tempat

bernama

Saqifah

Bani

Saidah

untuk

memusyawarahkan siapakah yang akan menjadi pemimpin setelah Nabi Muhammad Saw
wafat. Musyawarah ini terjadi antara orang-orang Anshar dan Muhajirin dan memilih
Abu Bakar bin Abi Qahafah sebagai khalifah dan pengganti Nabi Muhammad Saw. Umat
Muslim Syiah mengecam kejadian ini dan dalam sebagian hal menilai kejadian ini
sebagai fitnah. Umat Muslim Syiah menganggap kejadian ini sebagai permulaan
perebutan hak kekhalifahan Imam Ali As dan kegagalan kaum Muslimin dalam
mengamalkan wasiat Nabi di Ghadir Ghum serta merupakan bentuk penyimpangan dari
ajaran Islam yang benar.
2. Lokasi Saqifah
Saqifah Bani Saadah berada di dekat Masjid Nabawi. Letaknya berada di sebelah
Barat Masjid Nabawi, di samping sumur Badzaah.
B. System pergantian Khalifah
Sosok Khulafaur Rasyidin atau Khalifah Ar-Rasyidin adalah empat orang khalifah
(pemimpin) pertama agama Islam, yang dipercaya oleh umat Islam sebagai penerus
kepemimpinan setelah Nabi Muhammad wafat.
Dalam sejarah Islam, empat orang pengganti Nabi yang pertama adalah para pemimpin
yang adil dan benar. Mereka menyelamatkan dan mengembangkan dasar-dasar tradisi dari
sang Guru Agung bagi kemajuan Islam bagi kemajuan Islam dan umatnya. Karena itu gelar
yang mendapat bimbingan dijalan lurus (al-khulafa ar-rasyidin) diberikan pada mereka.
Keempat khalifah tersebut dipilih bukan berdasarkan keturunannya, melainkan
berdasarkan konsensus bersama umat Islam. Sistem pemilihan terhadap masing-masing
khalifah tersebut berbeda-beda, hal tersebut terjadi karena para sahabat menganggap tidak
ada rujukan yang jelas yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad tentang bagaimana suksesi
kepemimpinan Islam akan berlangsung.
Sahabat yang disebut Khulafaur Rasyidin terdiri dari empat orang khalifah yaitu Abu
Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.
C. Tipe Kepemimpinan dan kotribusi Khalifah
1. Masa Khalifah Abu Bakar As-Shidiq (1113 H /632634 M)
Abu Bakar, nama lengkapnya ialah Abdullah bin Abi Quhafah bin Utsman bin
Amr bin Masud bin Taim bin Murrah bin Kaab bin Luay bin Ghalib bin Fihr At-Taimi

Al-Qurasyi. Di zaman pra-Islam bernama Abdul Kabah, kemudian diganti oleh Nabi
menjadi Abdullah. Ia termasuk salah seorang sahabat yang utama (orang yang paling
awal) masuk Islam. Gelar Ash-Shiddiq diperolehnya karena ia dengan segera
membenarkan Nabi dalam berbagai peristiwa, terutama Isra dan Miraj.
Sepak terjang pola pemerintahan Abu Bakar dapat dipahami dari pidato Abu
Bakar ketika ia diangkat menjadi khalifah. Secara lengkap, isi pidatonya sebagai
berikut:Wahai manusia! Sungguh aku telah memangku jabatan yang kamu percayakan,
padahal aku bukan orang yang terbaik di antara kamu. Apabila aku melaksanakan
tugasku dengan baik maka bantulah aku, dan jika aku berbuat salah maka luruskanlah
aku. Kebenaran adalah suatu kepercayaan, dan kedustaan adalah suatu pengkhianatan.
Orang yang lemah di antara kamu adalah orang kuat bagiku sampai aku memenuhi hakhaknya, dan orang kuat di antara kamu adalah lemah bagiku hingga aku mengambil
haknya, Insya Allah. Janganlah salah seorang dari kamu meninggalkan jihad.
Sesungguhnya kaum yang tidak memenuhi panggilan jihad maka Allah akan
menimpakan atas mereka suatu kehinaan. Patuhlah kepadaku selama aku taat kepada
Allah dan Rasul-Nya. Jika aku tidak menaati Allah dan Rasul-Nya, sekali-kali janganlah
kamu menaatiku. Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kamu.
Ucapan pertama ketika dibaiat ini menunjukkan garis besar politik dan
kebijaksanaan Abu Bakar r.a. dalam pemerintahan. Di dalamnya terdapat prinsip
kebebasan berpendapat, menuntut ketaatan rakyat, mewujudkan keadilan dan mendorong
masyarakat berjihad serta shalat sebagai intisari ketakwaannya. Secara umum, dapat
dikatakan bahwa pemerintahan Abu Bakar melanjutkan kepemimpinan sebelumnya, baik
kebijaksanaan dalam kenegaraan maupun pengurusan terhadap agama.
Dalam pemerintahannya Abu Bakar memiliki tipologi kebijakan yang sangat baik
diantaranya:
a. Kebijaksanaan pengurusan terhadap agama
b. Kebijaksanaan politik kenegaraan
2. Masa Khalifah Umar bin Khatab (13-23 H/634 - 644 M)
Umar bin Khattab adalah khalifah ke-2 dalam sejarah Islam. pengangkatan umar
bukan berdasarkan konsensus tetapi berdasarkan surat wasiat yang ditinggalkan oleh Abu
Bakar. Hal ini tidak menimbulkan pertentangan berarti di kalangan umat islam saat itu
karena umat Muslim sangat mengenal Umar sebagai orang yang paling dekat dan paling
setia membela ajaran Islam.

Ketika Abu Bakar sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, ia bermusyawarah
dengan para pemuka sahabat, kemudian mengangkat Umar bin Khatthab sebagai
penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan
perpecahan di kalangan umat Islam.
Peranan Umar dalam sejarah Islam pada masa permulaan tampak paling menonjol
diantaranya yaitu:
1. Penyebaran Agama
2. Segi Politik
3. Segi Ekonomi
Dalam segi ekonomi, pemerintahan khalifah Umar bin Khattab memiliki
gebrakan yang yang sangat besar diantaranya yaitu:
Pembaruan Baitul Mal
Status Kepemilikan Tanah
Manajemen Zakat
Penetapan Ushr
Pemberdayaan Sedekah dari Nonmuslim
Sumber dan Distribusi Pendapatan Negara
Segi Reformasi dalam Budaya
3. Masa Khalifah Utsman bin Affan (23-35 H/644-656 M)
Umar bin Khattab tidak dapat memutuskan bagaimana cara terbaik menentukan
khalifah penggantinya. Segera setelah peristiwa penikaman dirinya oleh Fairuz, seorang
majusi Persia, Umar mempertimbangkan untuk tidak memilih pengganti sebagaimana
dilakukan rasulullah. Namun Umar juga berpikir untuk meninggalkan Utsman bin Affan
wasiat seperti dilakukan Abu Bakar. Sebagai jalan keluar, sebelum khalifah Umar wafat,
beliau sempat berwasiat dan menunjuk tim yang terdiri dari 6 orang sahabat terkemuka,
sekaligus telah dijamin Nabi masuk surga, sebagai calon ganti kekhalifaannya. Ke-6
orang tersebut adalah Usman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Abdurrahman bin Auf,
Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam dan Saad bin Abi Waqash.
Kepada tim, Umar menganjurkan agar putranya, Abdullah bin Umar ikut sebagai
peserta musyawarah dan tidak boleh dipilih menjadi khalifah. Awalnya hasil musyawarah
yang diketuai oleh Abdurrahman bin Auf menunjukkan bahwa suara pada posisi
seimbang, antara Ali dan Usman. Karena Usman lebih tua, Abdurrahman menetapkan
Usman bin Affan sebagai khalifah.
Dalam pemerintahannya, ada beberapa hal menarik dari kepemimpinan Khalifah
Utsman bin Affan, diantaranya yaitu:
1. Segi Agama, Pengetahuan dan Budaya

2. Segi Politik
4. Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib
Para pemberontak terus mengepung rumah Utsman. Ali memerintahkan ketiga
puteranya, Hasan, Husain dan Muhammad bin Ali al-Hanafiyah mengawal Utsman dan
mencegah para pemberontak memasuki rumah. Namun kekuatan yang sangat besar dari
pemberontak akhirnya berhasil menerobos masuk dan membunuh Khalifah Utsman.
Setelah Utsman wafat, masyarakat beramai-ramai membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai
khalifah.
Banyak hal yang terjadi selama pemerintahan yang dipimpin khalifah Ali bin Abi
Thalib, diantaranya yaitu:
a) Segi Politik
b) Segi Pengetahuan
Sebagai upaya untuk mencerdaskan umat, Khalifah Ali meningkatkan dalm Ilmu
pengetahuan, khususnya ilmu yang berkaitan dengan Bahasa Arab agar umat Islam
mudah dalam mempelajari Al-Quran dan Hadits.
c) Segi Agama
Dari segi agama, khalifah Ali bin Abi Thalib berusaha untuk mengembalikan
persatuan dan kesatuan umat Islam. Akan tetapi usahanya ini kurang berhasil, karena
api fitnah dikobarkan kaum munafik Yahudi yang tidak menyukai Islam. Mengatur
tata pemerintahan untuk mengembalikan kepentingan umat, seperti memberikan
kepada kaum muslimin tunjangan yang diambil dari Baitul Mal sebagaimana yang
telah dilakukan Abu Bakar dan Umar.
d) Segi Peristiwa
Ali ibn Abi Thalib menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubair dan Aisyah.
Alasan mereka, Ali tidak mau menghukum para pembunuh Utsman, dan mereka
menuntut bela terhadap darah Utsman yang telah ditumpahkan secara zhalim. Ali
sebenarnya ingin sekali menghindari perang. Dia mengirim surat kepada Thalhah dan
Zubair agar keduanya mau berunding untuk menyelesaikan perkara itu secara damai.
Namun ajakan tersebut ditolak. Akhirnya, pertempuran yang dahsyat pun berkobar.
Perang ini dikenal dengan nama Perang Jamal (Unta), karena Aisyah dalam
pertempuran itu menunggang unta, dan berhasil mengalahkan lawannya. Zubair dan
Thalhah terbunuh, sedangkan Aisyah ditawan dan dikirim kembali ke Madinah.
e) Segi Bahasa dan Ilmu Pengetahuan

Di antara perkembangan yang ada pada masa Khalifah Ali adalah pertama,
terciptanya ilmu bahasa / nahwu (Aqidah nahwiyah), berkembangnya ilmu Khatt alQuran serta berkembangnya Sastra.