Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN KUNJUNGAN

MEKANISASI PERTANIAN
PLTH Bantul Pantai Baru

Oleh :
Nama

Indira Intan Dea Mayory

NIM

1410401029

Kelompok :

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TIDAR
MAGELANG
2016

Sumber: Kemenristek 2010


Energy. Jika berbicara mengenai masalah energy, banyak hal yang bisa
kita kaji. Mulai dari aspek teknik baik teori maupun aplikasi di lapangan, aspek
pemanfaatan, aspek ekonomi, bahkan kaitannya dengan perdagangan, perikanan,
dan pertanian pun masih sangat luas cakupannya. Pada hari Sabtu tepatnya
tanggal 21 mei 2016, teman teman mahasiswa Agroteknolgi Fakultas Pertanian
dengan assistant praktikum Mekanisasi pertanian dan dosen mekanisasi pertanian
melakukan study ekskursi atau kunjungan lepangan ke Pembangkit Listrik Tenaga
Hybrid (PLTMH) yang berada di kabupaten Bantul yaitu di Pantai Baru.
PLTMH di Pantai Baru merupakan gabungan dari Pembangkit Listrik
Tenaga Bayu (Angin) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Kalau dalam istilah
sistem pambangkit listrik disebut dengan tenaga hybrid. Energy hibrid sangat
cocok untuk dipasang di beberapa wilayah pesisir kawasan Indonesia. Pembangkit

listrik ini merupakan sumber energy terbarukan yang relevan untuk dikembangkan
di Indonesia dikarenakan potensi energi surya di Indonesia sangat tinggi, dengan
intensitas radiasi rata-rata 4 5 kWh/m2 yang berlaku sepanjang tahun. Saat ini,
pemanfaatan energi surya baru mencapai 5 MWp (ESDM).
Berdasarkan hasil penelitian LAPAN diperoleh gambaran bahwa potensi
angin di Indonesia Timur rata rata mencapai 6,6 m/s pada ketinggian 30m dan
mencapai 7,5 m/s pada ketinggian 50m. Potensi yang cukup baik di dukung
kemajuan teknologi kincir angin telah mampu memanfaatkan energi dengan
kecepatan 3 m/s. Potensi energi angin dan matahari tersebut secara
berkesinambungan dapat dikembangkan terutama di daerah Nusa Tenggara Barat,
Nusa Tenggara Timur, wilayah pesisir pantai dan selat selat (ITB),
(Kemenristek, 2010).

Proyek pembangunan PLTH ini merupakan kerjasama antara Ristek, LIPI,


Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), UGM, dan warga setempat.
Pembangunan proyek tersebut ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat sekitar yaitu dengan mendukung perekonomian di sektor perikanan
dan pertanian. Karena hasil output listrik yang dihasilkan oleh Pembangkit listrik
hybrid ini digunakan untuk penerangan lokasi setempat, membuat es dan
budidaya ikan. Es yang dihasilkan berupa es balok yang digunakan untuk
mengawetkan ikan dan berupa es kristal yang digunakan oleh warung warung
sekitar untuk jualan. Es- es tersebut dijual dengan harga yang terjangkau ke para
nelayan ikan dan pemilik warung. Hasil dari penjualan es akan digunakan sebagai
dana perawatan sistem. Listrik sisa dari pembuatan es digunakan untuk budidaya
ikan yaitu dengan cara aquafonik. Aquafonik adalah sistem budidaya ikan dengan
cara memadukan ikan dan tanaman. Air yang digunakan didalam kolam ikan akan
dipompa ke atas dan dimasukkan ke tanaman tanaman yang telah disipakan
didalam pot plastik berlubang. Air yang diangkat mengandung kotoran kotoran
ikan dan setelah melalui tanah dan tanaman, air tersebut akan tersaring menjadi
bersih yang kemudian air akan disalurkan kembali ke dalam kolam. Sistem
aquafonik merupakan sistem sirkulasi air yang memanfaatkan kemampuan

tanaman dalam menyaring air. Sistem ini terbukti lebih efisien dan cukup mudah.
Ada sekitar 40 kolam yang berada di lokasi PLTH.
Selain pembuatan es dan budidaya ikan , proyek pembangunan PLTMH
menjadikan lokasi pantai Baru sebagai lokasi percontohan pembangunan listrik
tenaga hybrid yang ke depan akan dikembangkan menjadi desa wisata. Di sekitar
lokasi kincir angin juga mulai dikembangkan peternakan sapi yang dapat
dimanfaatkan sebagai Biogas. Hasil pemasukan dari wisatawan akan digunakan
juga untuk biaya maintenance alat dan mengganti perlengkapan yang sudah rusak.

Monumen pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid, di Pantai Baru


Bantul

Panel surya

Es kristal, produksi dari listrik PLTH