Anda di halaman 1dari 25

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gagal ginjal yaitu ginjal kehilangan kemampuannya untuk mempertahankan
volume dan komposisi cairan tubuh dalam keadaan asupan makanan normal.
Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan
lambat (biasanya berlangsung beberapa tahun) (Price & Wilson, 2006).
Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan gangguan ginjal yang progresif
dan irreversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan
metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia
(retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) (Lukman, 2002).
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan
gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh
gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan
elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam
darah) (Sudoyo, 2006).
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana askep gadar pada CKD?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
1.3.1.1 Mahasiswa mampu memahami tentang penyakit CKD dan bagaimana
perawatan gawat darurat pada pasien CKD
1.3.1.2 mahasiswa mampu mengetahui penyakit
CKD dan perawat gawat darurat
1

1.4 Manfaat
Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang penyakit CKD dan
bagaimana asuhan keperawatan gawat darurat pada penyakit CKD

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Anatomi Ginjal


2.1.1
Ginjal merupakan organ berpasangan,
2.1.2

Berat : 125 gr, terletak pada posisi disebelah lateral vertebralis torakalis
bawah, beberapa cm disbelah kanan dan kiri garis tengah,

2.1.2
2.1.3

Organ ini terbungkus oleh jaringan ikat pipis


kapsula renis,
Disebelah anterior
dipisahkan dari kavum abdomen dan isinya oleh

2.1.4
2.1.5
2.1.6

lapisan peritoneum,
Disebelah posterior
dilindungi oleh dinding toraks bawah,
Darah dialirkan ke dalam setiap ginjal melalui arteri renalis dan keluar dari
Filtrat terseut yang sangat serupa dengan plasma darah tanpa molekul besar
(protein, sel darah merah, lekosit dan trombosit) pada hakekatnya terdiri
dari air, elektrolitdan molekul kecil lain. Dalam tubulus sebagian substansi
secara selektif diabsorbsi ulang ke dalam darah, substansi lain disekresikan
dari darah ke dalam filtrat ketika filtrat tersebut mengalir disepanjang
tubulus dan akan dipekatkan dalam tubulus distal dan duktus pengumpul

2.1.7

menjadi urin
pelvis ginjal
Glukosa (N)-nya akan diabsorbsi seluruhnya dalam tubulus dan tidak

2.1.8

terlihat dalam urin


Substansi yang diabsorbsi dn diekskresikan ke dalam urin : Na ++, Cl-,

2.1.9
2.1.10
a.
b.
c.
d.
e.

Bicarbonat, K+, Glukosa, Ureum, Kretanin, Asam urat


Urin tersusun : air, elektrolit, ureum, (hasil akhir met, protein)
Fungsi ginjal
Pengaturan ekskresi asam
Pengaturan ekskresi elektrolit
Pengaturan ekskresi air
Otoregulasi tekanan darah
Penyimpanan dan eliminasi urin3

2.2 Konsep Dasar Penyakit


2.2.1 Pengertian
Gagal ginjal yaitu

ginjal

kehilangan

kemampuannya

untuk

mempertahankan volume dan komposisi cairan tubuh dalam keadaan asupan


makanan normal.

Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif


dan lambat (biasanya berlangsung beberapa tahun) (Price & Wilson, 2006).
Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan gangguan ginjal yang progresif
dan irreversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan
metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia
(retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) (Lukman, 2002).
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan
gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan
tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan
dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain
dalam darah) (Sudoyo, 2006).
Gagal ginjal kronik(GGK) adalah kemunduran fungsi ginjal yang
progresif dimana terjadi kegagalan kemampuan tubuh untuk mempertahankan
metabolik, cairan dan elektrolit yang mengakibatkan uremia atau azotemia
(Suddart, 2000).
Kegagalan ginjal menahun (CRF= Chronic Renal Failure) merupakan
suatu kegagalan fungsi ginjal yang berlangsung perlahan-lahan, karena
penyebab yang berlangsung lama, sehingga tidak dapat menutupi kebutuhan
biasa lagi dan menimbulkan gejala sakit, (Purnawan Junadi, 1989).
Gagal ginjal kronis adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan
penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan
cukup lanjut, (Suyono & Waspaad, 2001).

2.2.2

Etiologi

2.2.2.1 Gangguan pembuluh darah ginjal : berbagai jenis lesi vaskular dapat
menyebabkan iskemik ginjal dan kematian jaringan ginjal. Lesi yang paling
sering adalah ateroklrosis pada arteri renalis yang besar, dengan kontriksi
skleratik yang progresif pada pembuluh darah. Hiperplasia fibromuskular
pada satu atau lebih arteri yang besar juga menimbulkan sumbatan
pembuluh darah. Nefrosklerosis yaitu suatu kondisi yang disebabkan oleh
hipertensi lama yang tidak diobati, dikarakteristikkan oleh penebalan,
hilangnya elastisitas sistem, perubahan darah ginjal mengakibatkan
penurunan aliran darah dan akhirny gagal ginjal.
2.2.2.2 Gangguan imunologis : seperti glumerulonefritis dan SLE
2.2.2.3 Infeksi ; dapat disebabkan oleh beberapa jenis bakteri E. Coli yang berasal
dari kontaminasi tinja pada traktus urinarius bakteri. Bakteri ini mencapai
ginjal melalui aliran darah atau yang lebih sering secara ascenden dari
traktus urinarius bagi. Bawah lewat ureter ke ginjal sehingga dapat
menimbulkan kerusakan irreversibel ginjal yang disebut plenlonefritis.
2.2.2.4 Gangguan metabolik : seperti DM yang menyebabkan mobilisasi lemak
meningkat sehingga terjadi penebalan membran kapiler dan di ginjal dan
berlanjut dengan disfungsi endotel sehingga terjadi nefropati amiloidosis
yang disebabkan oeleh endepan zat-zat proteinemia abnormal pada dinding
pembuluh darah secara serius merusak membran glumerulus.
2.2.2.5 Gangguan tubulus primer : terjadinya nefrotoksis akibat analgesik atau
logm berat.
2.2.2.6 Obstruksi traktus urinarius : oleh batu ginjal, hipertrofi prostatdan
konstriksi uretra.
2.2.2.7 Kelainan kongenital dan herediter : penyakit polikistik = kondisi keturunan
yang dikarakteristik oleh terjadinya kista/kantong berisi cairan di dalam
ginjal dan organ lain, serta tidak adanya jar. Ginjal yang bersifat kongenital
9hipoplasia renalis) serta adanya asidosis.
2.2.3

Patofisiologi

Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk


glumerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa
nefron utuh). Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume
viltrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan
GFR/daya saring. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi
sampai dari nefron nfron rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi
lebih besar daripada yang bisa terabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai
poliurri dan haus. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah
banyak oliguri timbul disertai retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya
gejala-gejala pada pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas
kegagalan ginja bila kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80%-90%. Pada tingkat
ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15
ml/menit atau lebih rendah itu. (Barbara C, Long, 1996, 368).
Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang
normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia
dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak tibunan sampah maka
gejala akan semakin berat. Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis.
(Brunner & Suddarth, 2001:1448).

2.2.4
INFEKSI
Reaksi antigen
antibodi

Pathway
Vaskular
arteriosklerosis

Zat toksik

Obstruksi saluran
kemih

Tertimbun ginjal
Retensi urin

Suplai darah ginjal


turun
Batu besar dan
kasar

Menekan saraf
perifer
Nyeri
pinggang

Nyeri akut

CFR turun
Total ics
naik
Tek.
Kapiler
naik

Retensi Na
Vol.
interstisial
naik
Edema
(kelebihan vol.
cairan

Edema
skunder

CKD/GGK

Gangguan
keseimbangan
cairan dan elektrolit
Preload
naik

Beban
jantung
Payah jantung
kiri
Bendungan
atrium kiri naik
Tekanan vena
pulmonalis
Kapiler paru
naik

Retensi Na
dan H2O

Volume cairan
tidak seimbang

Hipertrofi
Ventrikel kiri

Edema paru

Ketidakefektifan
pola nafas

2.2.5

Klasifikasi
Gagal ginjal kronik dibagi 3 stadium :
2.2.5.1 Stadium I : penurunan cadangan ginjal, kreatinin serum dan kadar BUN
normal, asimptomatik, tes beban kerja pada ginjal : pemekatan kemih, tes
GFR
2.2.5.2 Stadium II : insufisiensi ginjal, kadar BUN meningkat, (tergantung pada
kadar protein dalam diet), kadar keatinin serum meningkat, nokturia dan
poliuri (karena kegagalan pemekatan. Ada 3 derajat insufisiensi ginjal :
a. Ringan : 40% - 80% fungsi ginjal dalam keadaan normal
b. Sedang : 15% - 40% fungsi ginjal normal
c. Kondisi berat : 2% - 15% fungsi ginjal normal

10

2.2.5.3 Stadium III : gagal ginjal stadium akhir atau uremia, kadar ureum dan
kreatinin sangat meningkat, air kemih/urin isoosmotis dengan plasma,
dengan BJ 1. 010 (Smeltzer, 2001).
K/DOQI merekomendasikan pembagian CKD berdasarkan stadium dari
tingkat penurunan LFG :
2.2.5.3 Stadium I : kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dan
LFG yang masih normal (> 90 ML/MENIT/1,73 M2
2.2.5.4 Stadium II : kelainan ginal dengan albuminaria persisten dan LFG antara
60-89 ml/menit/1,73 m2
2.2.5.5 Stadium III : kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 ml/menit/1,73 m2
2.2.5.6 Stadium IV : kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29 ml/menit/1,73 m2
2.2.5.7 Stadium V : kelainan ginjal dengan LFG < 15 ml/menit/1,73 m 2 atau gagal
ginjal terminal.

2.2.6

Manifestasi Klinis
Manifestasi klinik menurut suyono (2001) adalah sebagai berikut :
2.2.6.1 Gangguan Kardiovaskuler
Hipertensi, nyeri dada dan sesak nafas akibat perikarditis, effusi
perikardiac dan gagal jantung akibat penimbunan cairan, gangguan irama
jantung dan edema.
2.2.6.2 Gangguan pulmoner
Nafas dangkal, kussmaul, batuk dengan sputum kental dan riak,
suara krekels
2.2.6.3 Gangguan gastrointestinal

11

Anoreksia, nausea dan fomitus yang berhubungan dengan metabolisme


protein dalam usus, perdarahan pada saluran gastrointestinal, ulserasi dan
perdarahan mulut, nafas bau ammonia
2.2.6.4 Gangguan muskuloskeletal
Resiles leg sindrom (pegal pada kakinya sehingga selalu digerakkan),
burning feet syndrom (rasa kesemutan dan terbakar, terutama di telapak
kaki), tremor, miopati (kelemahan dan hipertropi otot-otot ekstermitas)
2.2.6.5 Gangguan integumen
Kulit berwarna pucat kibat anemia dan kekuning-kuningan akibat
penimbunan urokrom, gatal-gatal akibat toksik, kuku tipis dan rapuh
2.2.6.6 Gangguan endokrim
Gangguan seksual : libido fertilitas dan ereksi menurun, gangguan
menstruasi dan aminore. Gangguan metabolik lemak dan glukosa serta
vitamin D
2.2.6.7 Gangguan cairan elektrolit dan keseimbangan asam basa
Biasanya retensi garam dan air tetapi dapat juga terjadi kehilangan
natrium

dan

dehidrsi,

asidosis,

hiperkalemia,

hipomagnesemia,

hipokalsemia.
2.2.6.8 System hematologi
Anemia yang disebabkan karena berkurangnya produksi eritopoetin
rangsangan eritropoesis pada sum-sum berkurang, hemolisis akibat
berkurangnya masa hidup eritrosit dalam suasana urenia toksik, dapat uga
terjadi gangguan fungsi trombosis dan trombositopeni.

2.2.7

Penatalaksanaan Keperawatan

12

Penatalaksanaan keperawatan pada pasien dengan CKD yaitu :


2.2.7.1 Konservatif
a. Dilakukan pemeriksaan lab. Darah dan urine
b. Observasi balance cairan
c. Observasi adanya edema
d. Batasi cairan yang masuk
2.2.7.2 Dialysis
a. Peritoneal dialisys
Biasanya dilakukan pada kasus-kasus emergency, sedangkan dialysis yang
bisa dilakukan dimana saja yang tidak bersifat akut adalah CAPD
(Continues Ambulatori Peritonial Dylis).
b. Hemodialisis
Yaitu dialisis yang dilakukan melalui tindakan infasif di vena dengan
menggunakan mesin. Pada awalnya hemodialisis dilakukan melalui daerah
pemoralis namun untuk mempermudah maka dilakukan :
1). AV Fistule : menggabungkan vena dan arteri
2). Double Lumen : langsung pada daerah jantung (vaskularisasi ke
jantung).
2.2.7.3 Operasi
a. Pengambilan batu
b. Transplantasi
2.2.7.4 Intervensi diit
Protein dibatasi karena urea, asam urat dan asam organik merupakan hasil
pemecahan protein yang akan menumpuk secara cepat dalam darah jika
tedapat gangguan pada klirens renal. Protein yang dikonsumsi harus

13

bernilaibiologi (produk susu, telur, daging). Dimana makanan tersebut


dapat mensuplai asam amino untuk perbaikan dan pertumbuhan sel.
2.2.7.5 Hipertensi
Ditangani dengan medikasi antihipertensi kontrol volume intravaskuler.
Gagal jantung kongesif dan edema pulmoner perlu pembatasan cairan, diit
rendah natrium diuretik, digitalis atau dobitamine dan dialisis.

2.2.8

Pemeriksaan Penunjang
Didalam memberikan pelayanan keperawatan terutama intervensi maka
perlu pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan baik secara medis ataupun
kolaborasi, antara lain :

2.2.8.1 Pemeriksaan lab. Darah


a. Hematologi
Hb, Ht, Eritrosit, Lekosit, Trombosit
b. RFT (Renal Fungsi Test)
Ureum dan kreatinin
2.2.8.2 LFT (Liver Fungsi Test)
a. Elektrolit
kalium, kalsium
b. Koagolasi studi
PTT, PTTK
c. BGA
2.2.8.3 Urine
a. Urine rutin
b. Urine khusus : benda keton, analisa kristal batu
2.2.8.4 Pemeriksaan kardiovaskuler
a. ECG
b. ECD
2.2.8.5 Radidiagnostik
a. USG
b. CT Scan abdomen
c. BND/NP, FPA
d. Renogram
2.2.8.6 RPG (Retio Pie Lografi)

14

2.2.9

Komplikasi

2.2..9.1 Hiperkalemia : akibat penurunan ekskresi, asidosis metabolik,


katabolisme dan masukan diit berlebihan.
2.2.9.2 Perikarditis : efusi pleura dan tamponade jantung akibat produk sampah
uremik dan dialisis yang tidak adekuat
2.2.9.3 Hipertensi : akibat retensi cairan dan natrium serta mal fungsi sistem
renin-angiotesin-aldosteron.
2.3

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Gawat Darurat


2.3.1

Pengkajian

Identitas Pasien

Nama

Umur

Jenis Kelamin

Pekerjaan

Agama

Tanggal Masuk RS

Alasan Masuk

Initial survey

A (alertness) : sadar penuh, respon bagus


V (verbal) : voice respon, kesadaran menurun, berespon terhadap suara

15

P (pain) : pain respon, kesadaran menurun, tidak berespon terhadap suara, berespon
terhadap rangsangan nyeri
U (unserpons) : kesadaran menurun, berespon terhadap rangsangan nyeri
SURVEY PRIMER dan RESUSITASI
A. AIRWAY DAN KONTROL SERVIKAL
1. Keadaan jalan nafas
Pernafasan

Upaya bernafas

Benda asing di jalan nafas: apakah ada gurgling atau tidak


Bunyi nafas

: apakah suara napas snoring atau stridor

Hembusan nafas

: apakah hembusan nafas melengking, snoring atau


gurgling

2. Masalah/diagnosa Keperawatan
Bersihan jalan nafas tak efektif
3. Intervensi / Implementasi
Manajemen jalan nafas (airway management)
4. Evaluasi
B. BREATHING
1. Fungsi pernafasan
Jenis Pernafasan

Frekwensi Pernafasan

Retraksi Otot bantu nafas

16

Kelainan dinding thoraks


Bunyi nafas

: apakah stridor, gurgling atau snoring

Hembusan nafas
1

: (simetris, perlukaan, jejas trauma)

: stridor

Masalah/diagnosa Keperawatan
Pola nafas tak efektif
Ggn pertukaran gas

Intervensi / Implementasi
Terapi oksigen

Evaluasi

C. CIRCULATION
1. Keadaan sirkulasi
Perdarahan (internal/eksternal) :
Kapilari Refill
Nadi radial/carotis
Akral perifer
Nyeri
Cairan
2. Masalah/diagnosa Keperawatan
CO menurun/risiko
Risiko syok
Nyeri akut

17

Ggn keseimbangan cairan dan elektrolit


Cairan lebih/kurang
Risiko perfusi myokard tak efektif
Risiko perfusi jaringan perifer tak efektik
Risiko takstabil glukosa darah
3. Intervensi / Implementasi sesuai masalah
4. Evaluasi

D. DISABILITY
1. Pemeriksaan Neurologis:

GCS : E.VM..

: ..

Reflex fisiologis :
Reflex patologis :
2.

Masalah/diagnosa Keperawatan
Risiko perfusi serebral tak efektif
E. Intervensi / Implementasi
Peningkatan perfusi serebral
F. Evaluasi

PENGKAJIAN SEKUNDER / SURVEY SEKUNDER


1. RIWAYAT KESEHATAN

18

a. RKD
b. RKS
c. RKK
2. RIWAYAT DAN MEKANISME TRAUMA
3. PEMERIKSAAN FISIK (HEAD TO TOE)
a. Kepala
Kulit kepala

Mata

Telinga

Hidung

Mulut dan gigi

Wajah

b. Leher

c. Dada/ thoraks
Paru-paru

Inspeksi

Palpasi

Perkusi

Auskultasi

Jantung

19

Inspeksi

Palpasi

Perkusi

Auskultasi

d. Abdomen
Inspeksi

Palpasi

Perkusi

Auskultasi

e. Pelvis
Inspeksi

Palpasi

f. Perineum dan rektum :


g. Genitalia

h. Ekstremitas
Status sirkulasi

Keadaan injury

i. Neurologis

Fungsi sensorik

Fungsi motorik

4. HASIL LABORATORIUM

20

5. HASIL PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

6. TERAPI DOKTER
B. ANALISIS DATA

Data focus

Analisis

Data Subyektif :

Analisis

Masalah
dengan

pohon masalah

Data Obyektif :

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN PRIORITAS MASALAH

1. Ketidakefektifan pola nafas

2. Nyeri akut

D. PERENCANAAN

No

Tujuan

Dx

Setelah

Intervensi
dilakukan

Rasional

21

tindakan
keperawatan
selama 1X10 detik
diharapkan
nafas

pola
kembali

efektif
S M A R T : tulis
1.

NOC

Tulis :
: NIC :

respiratory status :
Ventilation

Kaji

respirasi dan status

o2

Respiratory status :
Airway patency
KH:

Buka jalan nafas, gunakan


teknik chin lift atau jaw
thrust bila perlu

Mendemonstrasika
n batuk efektif dan
suara nafas bersih,

Posisikan

pasien

memaksimalkan ventilasi

tidak ada sianosis Identifikasi

pasien

dan

dyspneu pemasangan

mampu buatan bila perlu

mengeluarkan

untuk

alat

nafas

Pasang mayo bila perlu

sputum,

mampu

bernafas

dengan Lakukan

suction

pada

mudah, dan tidak mayo jika terdapat gurgle


ada lips)

22

NOC: Pain level

NIC : Pain management

Pain control

Nursing activities :

KH:

mampu Kaji skala nyeri, durasi,

mengontrol
dan

nyeri, intensitas

nyeri

berkurang

bisa
atau

hilang

Lakukan

relaksasi

nafas

klien

untuk

dalam
Ajarkan

mengenali dan dan gejala


nyeri
Kolaborasi

dengan

tim

medis kesehatan lain dalam


pemberian obat analgetik

E. PELAKSANAAN

No

Tgl/ jam

Implementasi

Disesuaikan dengan rencana

Respon

Paraf

23

F. EVALUASI

No

Tgl / jam

Catatan Perkembangan

S : data
O : data obyektif
A : analisis apakah tujuan tercapai atau tidak dengan
hasil : tercapai (semua indicator tercapai), sebagian
(satu atau lebih indicator tercapai) dan tidak tercapai
(semua indicator tidak tercapai)
P : dianalisis

semua aspek asuhan (diagnose

keperawatan, implementasi, intervensi, NOC dan


waktu)
perencanaan dilanjutkan atau dimodifikasi. Bila tujuan
belum tercapai mungkin perlu dilakukan modifikasi
perencanaan mengacu pada hasil

RESUME DAN PERENCANAAN PASIEN PULANG

Paraf

24

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Gagal ginjal yaitu ginjal kehilangan kemampuannya untuk mempertahankan
volume dan komposisi cairan tubuh dalam keadaan asupan makanan normal.
Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan
lambat (biasanya berlangsung beberapa tahun) (Price & Wilson, 2006).
3.2 Manfaat
Semoga makalah ini dapat berguna bagi penyusun dan pembaca. Kritik dan
saran sangat diharapkan untuk pengerjaan berikutnya yang lebih baik

DAFTAR PUSTAKA
23

25

Brunner & suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 vol 3.
Jakarta : EGC
Carpenito. 2001. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan, Diagnosa
Keperawatan dan masalah kolaboratif. Jakarta : EGC
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Kedokteran, Jilid 1 Edisi 3. Jakarta : EGC