Anda di halaman 1dari 14

TEORI BIROKRASI LENIN DAN TROTSKY

LENIN
SALAH SATU hal yang paling disangsikan mengenai Marxisme sampai saat ini adalah teori
politiknya untuk melenyapkan Negara (withering away the state). Hal ini, bagi banyak
orang, terutama para intelektual borjuis, teori yang tidak masuk akal. Sementara itu, selain
mencemooh ide tentang melenyapnya Negara yang ditujukan pada kaum Komunis, para
borjuasi itu sendiri mempropagandakan ke masyarakat luas bahwa tatanan yang ada saat ini
adalah tatanan yang paling alamiah. Akibatnya, imajinasi tentang suatu bentuk tatanan
masyarakat yang berbeda dari yang ada sekarang ini adalah mustahil.
Contoh empiris yang paling mudah, orang akan sulit membayangkan bagaimana bentuk
tatanan masyarakat tanpa Negara. Banyak orang akan langsung tertuju pada bayangan
tentang kekacauan. Sebab, selama ini Negara dengan segala aparatusnya dianggap sebagai
entitas pencipta dan penjaga ketertiban. Dengan begitu, akan sulit membayangkan tatanan
masyarakat tanpa adanya entitas pencipta dan penjaga ketertiban tersebut. Tetapi, benarkah
demikian?
Dalam hal ini, menjadi penting untuk membaca kembali karya Lenin, Negara dan Revolusi:
Teori Marxis tentang Negara dan Tugas Proletariat dalam Revolusi (selanjutnya disingkat
Negara dan Revolusi), yang pada kesempatan ini akan kita ulas. Negara dan Revolusi adalah
salah satu karya Marxis penting yang membahas tentang Negara. Dalam buku tersebut Lenin
menjelaskan secara gamblang apa itu Negara, bagaimana Negara mempertahankan dirinya
sendiri, hingga tugas revolusioner kaum Komunis dalam upayanya membuat Negara tidak
relevan atau tidak dibutuhkan sama sekali lagi. Selain itu, buku yang diterbitkan pada
Agustus 1917 hanya dua bulan sebelum Bolshevik menggulingkan Tsar untuk membangun
diktator proletariat- ini juga dimaksudkan untuk menyerang kaum oportunis seperti Georgi
Plekhanov dan terutama Karl Kautsky yang telah mendistorsikan Marxisme sedemikian jauh,
termasuk teorinya tentang Negara.

Negara sebagai Keniscayaan Masyarakat Berkelas


Seluruh buah pemikiran Lenin dalam Negara dan Revolusi pada dasarnya merupakan
elaborasi atau penafsiran Lenin atas pemikiran Marx dan Engels, khususnya tentang Negara.
[1] Dalam karya ini, Lenin beberapa kali mengutip pernyataan yang cukup panjang dari Marx
atau Engels dengan tujuan agar pemahaman pembaca tentang pandangan kedua orang
tersebut tidak terfragmentasi atau setengah-setengah. Tanggapan Lenin atas kutipan Marx dan
Engels kemudian dikontekstualisasikannya dalam situasi Rusia dan dunia saat itu.
Dalam Negara dan Revolusi, hal pertama yang dibahas Lenin adalah apa itu Negara?.
Sementara para intelektual lain seperti Thomas Hobbes dalam Leviathan menganggap bahwa
Negara adalah produk perdamaian antara manusia yang memiliki kepentingan yang saling
bertolakbelakang, pandangan Lenin terhadap Negara berkebalikan 180 derajat. Bagi Lenin,
Negara justru tidak lain merupakan produk dan manifestasi dari tidak terdamaikannya

antagonisme kelas dalam masyarakat. Negara ada, justru membuktikan bahwa antagonisme
kelas dalam masyarakat tidak pernah terdamaikan.
Jika Negara merupakan produk dan manifestasi dari tidak terdamaikannya antagonisme kelas
dalam masyarakat, maka pertanyaan selanjutnya adalah darimana timbulnya Negara tersebut?
Lenin dengan menggunakan metode materialisme historis mencoba memberikan jawabannya.
Dalam materialisme historis, bangunan masyakarat terdiri atas basis, yang merupakan aspek
ekonomi dan suprastruktur, yaitu aspek non-ekonomi yang ditopang oleh apa yang terjadi
pada aspek ekonomi. Dalam hal ini, aspek ekonomi yang dimaksud adalah relasi antara
manusia dengan alam dan dengan sesamanya yang tujuannya agar manusia tetap eksis, tetap
dapat terus hidup. Agar manusia tetap terus hidup, ia harus bekerja dengan mengolah alam
atau sumber daya yang ada dan sekaligus merumuskan hukum-hukum dan tata nilai untuk
menjaga ketertiban dan keamanan dalam masyarakat.
Dengan semakin berkembangnya penggunaan alat-alat produksi maka muncul kelebihan
produksi sehingga memungkinkan satu kelompok masyarakat mengakumulai kelebihan
produksi tersebut dibanding kelompok masyarakat lainnya. Agar keadaan ini berlangsung
aman, maka dimulailah pembagian kerja dalam masyarakat. Inilah basis dari kemunculan
kelas-kelas dan pertentangan kelas dalam masyarakat, yakni pertentangan antara kelas yang
menguasai alat-alat produksi yaitu sumber daya yang diberikan oleh alam serta saranasarana untuk mengolah sumber daya tersebut dan mereka yang tidak memiliki alat-alat
produksi. Mereka yang tidak menguasai alat-alat produksi akan dipaksa tunduk kepada
mereka yang menguasai alat-alat produksi. Inilah panorama yang kita saksikan dalam sejarah
panjang masyarakat berkelas: pertentangan antara budak dengan pemilik budak dalam
masyarakat perbudakan; pertentangan antara petani hamba dengan tuan tanah dalam
masyakat feodal; dan yang paling terakhir adalah pertentangan antara proletariat dan borjuasi
dalam masyarakat kapitalis. Singkatnya, pertengangan antara mereka yang ditindas dan
mereka yang menindas.
Sebagai upayanya menundukkan kelas yang tertindas itulah kelas yang menindas
menciptakan beragam sarana penundukkan, dan salah satunya adalah Negara. Dari sini Lenin
kemudian menyimpulkan bahwa Negara adalah produk kelas yang mendominasi di bidang
ekonomi yang seturut waktu juga berdominasi di bidang politik (at the same time, in the
midst of the conflict of these classes, it is, as a rule, the state of the most powerful,
economically dominant class, which, through the medium of the state, becomes also the
politically dominant class). Dengan begitu, Negara selalu merupakan Negara-nya kelas-kelas
yang berkuasa yang sesuai dengan cara-cara produksi yang eksis saat itu. Negara pada zaman
kuno selalu merupakan Negaranya para pemilik budak; Negara pada zaman feodal selalu
merupakan Negaranya tuan tanah; dan Negara pada zaman kapitalisme selalu merupakan
Negaranya borjuasi.
Lebih lanjut, penundukan kelas penindas menggunakan Negara secara spesifik diciptakan
dengan menggunakan dua sarana: aparatus represif dan aparatus ideologis.[2]. Lewat kedua
bentuk aparatus Negara ini penundukan kelas tertindas terus dilanggengkan. Tentu, tidak sulit

mengkontekstualisasikan bagaimana dua mesin Negara ini melanggenggkan penindasan


bahkan pada hari ini.

Melenyapnya Negara
Telah dijelaskan di atas bahwa Negara adalah konsekuensi atas adanya masyarakat berkelas
yang berbasiskan pada kepemilikan privat. Sedangkan perjuangan kaum Komunis,
dimaksudkan untuk menghapus kelas dalam masyarakat. Dengan dihancurkannya kelas-kelas
dalam masyarakat, maka negara pun melenyap.
Untuk menuju masyarakat tanpa kelas tersebut, proletariat memerlukan Negara-nya borjuis.
Bedanya, kelas borjuis menggunakan Negara atau kekuasaan politik untuk mempertahankan
bentuk masyarakat berkelas, dan dengan begitu eksploitasi yang dilakukannya, sedangkan
proletariat memerlukan Negara atau kekuasaan politik justru untuk menghapuskan kelaskelas tersebut. Penguasaan Negara oleh kelas proletariat ini lah yang disebut dengan diktator
proletariat.
Dalam menjelaskan momen diktator proletariat, Lenin mengutip cukup panjang pernyataan
Engels dalam Anti-Dhring.[3] Salah satunya, Engels menjelaskan bahwa apa yang dilakukan
pertama-tama oleh proletariat saat merebut kekuasaan Negara adalah mengubah corak
kepemilikan alat-alat produksi dari kepemilikan privat menjadi milik Negara atau menjadi
milik sosial karena Negara itu sendiri bukan lagi milik segelintir borjuasi. Saat kepemilikan
privat diambilalih oleh negara, maka kapitalisme dihancurkan, meskipun tidak selalu dengan
hubungan sosial kapital-nya.[4] Sedangkan menurut Lenin, proletariat tidak bisa hanya
membatasi diri pada merebut Negara dan mengambilalih alat-alat produksi saja. Sistem
Negara borjuis juga harus diganti secara keseluruhan dengan sesuatu yang baru untuk
membentuk tatanan masyarakat yang juga baru.
Lantas, dengan apa mengganti Negaranya borjuis itu? Sebelum Peristiwa Komune Paris pada
1781, Marx dan Engels masih belum terlalu jelas memberikan jawabannya atas pernyataan
ini. Setelah adanya Komune Paris, Marx dan Engels baru menemukan gambaran konkret
tentang apa yang dapat menggantikan mesin Negara tersebut dan bagaimana caranya. Tugas
utama komune, dalam penafsiran Lenin, adalah menghapuskan tentara tetap dan
menggantinya dengan rakyat pekerja bersenjata. Dalam tata Negara borjuis, tentara adalah
organ khusus yang bertindak di luar kepentingan masyarakat yang melakukan fungsi represif
untuk melanggengkan penindasan kelas berkuasa atas kelas-kelas lainnya yang tidak
berkuasa. Dengan begitu, maka solusi dari penghapusan tentara adalah menggantinya dengan
rakyat pekerja yang bersenjata, yang berada di tengah-tengah masyarakat dan bertindak
sesuai keperluan masyarakat. Itulah yang terjadi dalam sejarah singkat, namun begitu
revolusioner, dari Komune Paris.
Selain itu, Komune Paris juga memberikan contoh bagaimana menggantikan mesin birokrasi
yang lama, seperti misalnya parlemen borjuis.[5] Dalam Komune Paris, wakil-wakil
masyarakat mayoritas terdiri atas kaum buruh atau wakil yang diakui oleh kelas buruh.

Demikian juga dengan pejabat-pejabat lainnya seperti hakim dan jaksa. Mereka dipilih
dengan demokratis dan dapat di-recall sewaktu-waktu. Wakil-wakil masyarakat ini diupah
tidak lebih besar dari upah masyarakat lain dan tidak ada tunjangan ekstra apapun bagi
mereka seperti lazimnya perwakilan dalam parlemen borjuis.
Perubahan-perubahan tersebut memang terkesan merupakan perubahan yang sifatnya kecil.
Tetapi, perubahan yang terlihat kecil itu sebenarnya merupakan perubahan yang fundamental.
Dalam komune, sama sekali tidak spesial menjadi seorang wakil masyarakat sebagaimana
yang ada saat ini. Ia tidaklah memiliki hak-hak khusus atau upah yang jauh lebih tinggi pada
masyarakat pada umumnya. Sebaliknya, wakil masyakarat dalam komune memiliki
kedudukan yang sama dengan masyarakat lainnya.
Komune juga haruslah merupakan eksekutif dan legilatif sekaligus, ia merupakan pembuat
peraturan sekaligus pelaksana peraturan tersebut. Penyatuan legislatif dan eksekutif, menurut
Engels seperti yang dikutip Lenin, adalah untuk mengatasi sekaligus melampaui sistem
parlementer dalam Negara berkelas. Sebab, dalam Negara berkelas yang sebenarnya bekerja
adalah eksekutif. Dengan menyatukan legislatif dan eksekutif, komune akan menjadi badan
yang benar-benar bekerja dan bukan sekadar menjadi warung obrolan saja. Ia menetapkan
peraturan dan juga memastikan bahwa peraturan tersebut benar-benar berjalan dengan
partisipasi penuh dari seluruh anggota masyakarat.
Menurut Lenin (juga Marx dan Engels), komune ini seharusnya menjadi bentuk politik dalam
lingkup yang paling kecil. Dari sini lah kemudian dipilih semacam perwakilan komune dalam
delegasi nasional. Artinya, dalam tata masyarakat Komunis pun semacam pemerintah pusat
tetap ada. Bedanya, ia bukan lah badan khusus yang terpisah dan dipilih dalam waktu tertentu
dan memiliki waktu kerja tertentu pula. Tidak boleh dilupakan, salah satu problem dari masa
transisi diktator proletariat ini akan selalu ada aksi-aksi kontra-revolusi dari kelas borjuasi.
Dalam hal inilah delegasi nasional menjadi penting. Delegasi nasional menjadi sarana
bertemunya wakil-wakil komune untuk mengorganisir perlawanan kontra-revolusi tersebut.
Delegasi nasional dapat menjadi sarana mempersatukan aksi komune untuk menggempur
kapital, merebut pabrik-pabrik, sarana transportasi, telekomunikasi, lahan-lahan, serta banyak
lagi alat produksi dari tangan privat untuk dialihtangankan menjadi kepemilikan bersama.
Singkatnya, komune adalah perubahan sistem besar-besaran. Dengan aparat represif yang
dihapuskan dan digantikan oleh rakyat bersenjata yang berada bersama rakyat, dengan para
wakil masyarakat yang bisa siapapun selama di delegasikan dan di-recall kapan pun, artinya
semakin banyak fungsi-fungsi khusus Negara yang awalnya diurus oleh segelintir orang dan
terpisah dari mayoritas masyarakat menjadi berpindah ke tangan rakyat banyak. Fungsifungsi khusus Negara akhirnya dapat dijalankan oleh semua orang. Segala keputusan tentang
apa yang akan dijalankan diputuskan oleh seluruh anggota masyarakat dalam komune,
sekaligus eksekusi keputusan tersebut juga dilakukan bersama-sama dalam komune. Fungsifungsi Negara yang khusus akhirnya semakin menjadi fungsi administratif yang sederhana,
seperti misalnya mencatat dan menghitung, sehingga dapat dilakukan semua orang.

Pada akhirnya, saat tidak ada lagi kelas dalam masyarakat, dalam kondisi dimana tiap-tiap
anggota masyarakat menjalankan fungsi eksekutif sekaligus legislatif, maka dengan begitu
Negara sudah tidak lagi dibutuhkan dan akan melenyap dengan sendirinya.
Dalam pandangan terhadap melenyapnya Negara dan metode mencapai tujuan tersebut lah
kaum Komunis berselisih paham dengan para anarkis. Polemik ini bahkan sudah jauh
sebelum Lenin menulis Negara dan Revolusi. Marx cukup banyak mengkritik pandangan
kaum anarkis yang salah satu tokohnya adalah Bakunin. Baik Komunis maupun anarkis
tidak berselisih paham dengan tujuannya masing-masing, bahkan tujuan mereka sama:
tatanan masyarakat tanpa kelas. Polemik diantara mereka adalah sekitar strategi untuk
mencapai tujuan tersebut. Sementara, sebagaimana kita lihat dari penjabaran sebelumnya,
kaum Komunis menganggap untuk mencapai kondisi melenyapnya Negara sementara waktu
digunakan alat, sarana dan metode kekuasaan Negara, dan dengan demikian dibutuhkan
otoritas tertentu, kamu anarkis justru menolak segala bentuk otoritas. Kaum anti-otoriteris
tersebut menuntut supaya Negara dilenyapkan dalam satu kali pukul. Singkatnya, bagi
kaum anarkis tindakan pertama sebuah revolusi justru adalah menghapuskan segala bentuk
otoritas. Padahal, sampai saat ini kita sulit membayangkan bagaimana menghapuskan segala
bentuk otoritas tersebut sedangkan di satu sisi hanya otoritas, yaitu kelas pekerja yang
terorganisir dan menguasai Negara lah yang mampu untuk menghapus kelas yang menjadi
basis bagi terciptanya Negara yang hendak dihancurkan tersebut.
Bagaimana Tatanan Masyarakat Komunis Itu?
Marx, sebagaimana kita tahu, tidaklah pernah menciptakan gagasan-gagasan dari idealita
saja. Sepanjang karya intelektualnya, gagasan-gagasan yang termuat selalu merupakan
analisis yang mendalam mengenai situasi konkret yang sedang atau pernah terjadi. Demikian
pula dengan gagasannya tentang tatanan masyarakat tanpa kelas, ia tidak datang dari
renungan Marx saat dirinya berada di British Museum, tetapi ia merupakan konsekuensi atas
kritiknya terhadap kapitalisme. Maka dari itu, tidak aneh jika kita tidak menemukan
gambaran yang detail tentang tatanan masyarakat Komunis dalam seluruh karya Marx. Apa
yang akan kita temukan adalah gagasan-gagasan utama bagaimana tatanan Komunis itu
berjalan, sekali lagi, gagasan-gagasan itu pun merupakan konsekuensi logis atas kritik Marx
terhadap kapitalisme.
Dalam Negara dan Revolusi, Lenin membagi tatanan masyarakat Komunis ke dalam 2 (dua)
tahap. Tahap pertama disebutnya sebagai tahap rendah dari masyarakat Komunis atau disebut
juga sebagai sosialisme, sedangkan tahap lainnya dia sebut dengan tahap tinggi masyarakat
Komunis.
Salah satu ciri utama dari tahap pertama masyarakat Komunis, atau tahap rendah masyarakat
Komunis, atau biasa disebut juga sebagai sosialisme, adalah setiap anggota masyarakat akan
menerima bayaran sesuai dengan kontribusi yang telah diberikannya untuk menciptakan
barang untuk masyarakat. Poin ini adalah konsekuensi logis atas kritik terhadap kapitalisme.
Dalam masyarakat kapitalis, seorang buruh diupah hanya agar dirinya dapat kembali bekerja
untuk keesokan harinya dan agar saat si buruh meninggal akan ada keturunannya yang dapat

menggantikan posisinya. Sementara itu, waktu kerja yang dicurahkan seorang buruh untuk
menciptakan nilai tambah atau nilai lebih pada komoditas selalu diambil oleh para kapitalis
dan menjadi sumber utama keuntungan mereka. Perampokan nilai lebih ini dapat terjadi
karena adanya penguasaan terhadap alat-alat produksi oleh kapitalis sedangkan buruh tidak
memiliki apapun kecuali tenaga-kerjanya yang dijual secara bebas. Dalam tahap rendah
masyarakat Komunis, karena alat-alat produksi tidak lagi berada di tangan segelintir orang,
maka perampokan nilai lebih tersebut tidak terjadi.
Sebagaimana yang ditulis Lenin, setiap anggota masyarakat yang telah melakukan bagian
tertentu dari kerja-perlu sosial, menerima surat kepercayaan dari masyarakat bahwa ia telah
melakukan sekian banyak kerja. Dengan surat keterangan ini ia menerima sejumlah barang
hasil yang sesuai dari gudang umum barang-barang konsumsi. Sesudah jumlah kerja
dikurangi untuk dana umum, maka setiap buruh menerima dari masyarakat sebanyak yang
telah ia berikan kepadanya.[6]
Dari pernyataan Lenin tersebut, memang terlihat bayaran untuk produsen adalah berupa
barang-barang kebutuhan pokok. Terlihat bahwa sistem yang dibayangkan merupakan sistem
barter yang mencoba mengakhiri modus produksi utama kapitalisme yang berbasiskan pada
modus produksi nilai yang membayar seorang pekerja menggunakan uang.[7] Lenin sendiri
dalam karya ini tidak membahas tentang pembayaran produsen menggunakan uang.
Terlepas dari itu, sistem pembagian ini seakan terlihat sebagai sebuah sistem pembagian yang
adil, dimana hak yang sama diberikan bagi setiap orang atas kerja yang sama. Tetapi hal
tersebut sebenarnya tidak seperti yang terlihat. Hak yang sama, jelas Lenin, masih lah
dalam kerangka hak borjusi karena ia justru mensyaratkan ketidaksamaan. Sebab, dalam hak
yang sama untuk kontribusi kerja yang sama justru berlaku pada orang yang kenyataannya
tidak sama. Misal, ada orang yang lebih kuat, ada yang lebih lemah, ada yang masih
melajang, ada juga yang telah memiliki keluarga. Artinya, dalam tahap rendah masyarakat
Komunis ini masih terdapat ketidakadilan karena hak yang sama untuk kontribusi kerja yang
sama membuat sebagaian menerima lebih banyak atau lebih sedikit dari yang lain.
Meskipun demikian, hal yang perlu digarisbawahi adalah penghisapan atas manusia oleh
manusia tidak terjadi karena alat produksi yang telah dimiliki secara sosial. Tidak ada nilai
lebih yang dihisap dari seorang produsen. Menurut Lenin, ketidakadilan tersebut memang
tidak terelakkan dalam tahap rendah ini. Dalam tahap ini pembagian hasil menurut kerja dan
bukan berdasarkan pada kebutuhan belum dapat terlaksana karena penggulingan kapitalisme
yang belum seutuhnya belum menciptakan prasyarat ekonomi untuk perubahan semacam itu.
Untuk melenyapkan ketidakadilan terselubung tersebut, dibutuhkan Komunisme yang penuh,
Komunisme yang telah mencapai tahapan tinggi.
Bagaimana tahap tinggi masyarakat Komunis itu? Tidak lain tidak bukan, adalah tatanan
masyarakat dimana dari masing-masing menurut kemampuannya, untuk masing-masing
menurut kebutuhannya (from each according to his ability, to each according to his need).
Dalam tahap tinggi ini, pertentangan antara kerja fisik dan kerja otak yang menjadi sumber
penting dalam ketimpangan sosial modern terhapuskan, kerja tidak lagi sekadar menjadi
sarana untuk tetap terus hidup saja melainkan telah menjadi kebutuhan utama manusia, dan

pada saat itulah horison sempit ketidakadilan yang bahkan tidak terelakkan pada masa
sosialisme dapat dilampaui sepenuhnya.
Gagasan mulia ini justru dilecehkan sebagai utopia belaka oleh para borjuis. Bertolak dari
slogan dari masing-masing menurut kemampuannya, untuk masing-masing menurut
kebutuhannya, para borjuasi kemudian mencemooh: bagaimana mungkin Komunisme dapat
menyediakan semua hal yang dibutuhkan semua orang? Bagaimana mungkin Komunisme
menjanjikan semua orang akan memiliki mobil mewah jika semua orang pada kenyataannya
membutuhkan mobil mewah itu? Untuk menjawab ini kita hanya perlu balik mencemooh:
dalam tatanan masyarakat Komunis dimana seluruh alat-alat produksi dimiliki secara sosial,
seseorang tidak bisa seenaknya untuk menentukan apa yang dibutuhkannya, sebab,
masyarakat itu sendiri yang mengontrol dan mengawasi. Kontrol dan keputusan bersama atas
kebutuhan hidup bersama akan menciptakan tatanan masyarakat yang tidak bisa seenaknya
seperti yang dituduhkan para intelektual borjuis tersebut.
Selain itu, ketika mengikuti kembali tesis keadaan menentukan kesadaran, justru kita akan
sangsi dalam masyarakat Komunis akan ada individu-individu yang mengejar nafsu pribadi.
Generasi baru yang tumbuh dalam tatanan masyarakat yang tidak berkelas, dimana alat-alat
produksi dimiliki bersama dan kemajuan masyarakat berada di tangan bersama, adalah
generasi baru yang akan terbebas sama sekali dari seluruh rongsokan sifat-sifat keserakahan
yang dikondisikan oleh basis kepemilikan privat seperti saat ini. Generasi baru yang tumbuh
dalam masyarakat tanpa kelas ini akan tumbuh dengan perhargaan penuh terhadap sesama
manusia dan tentu saja terhadap alam yang memberikan mereka kehidupan.

Catatan Penutup
Telah kita saksikan dalam buku ini bahwa Negara pada dasarnya adalah konsekuensi dari
adanya kelas dalam masyarakat. Negara ada sejauh adanya kelas dalam masyarakat dan
dengan begitu ia juga akan menghilang seiring dengan hilangnya kelas dalam masyarakat.
Untuk sampai pada tujuan menghilangkan kelas dalam masyarakat, pertama-tama yang
proletariat lakukan adalah merebut negaranya borjuis dan menggunakannya untuk
kepentingannya sendiri, seperti misalnya mengambil alih alat-alat produksi dari tangan
borjuis ke kepemilikan negara dan mengubah sistem negara yang lama.
Dalam buku ini, Lenin mencoba membuktikan bahwa keadaan tanpa Negara adalah mungkin.
Tata masyarakat akan digantikan oleh sistem yang demokratis dalam arti yang sesungguhnya.
Dengan begitu, adalah salah sama sekali anggapan selama ini bahwa keadaan tanpa Negara
akan melahirkan situasi yang chaos. Sebaliknya, justru masyarakat akan mengorganisir
dirinya sendiri dalam tatanan sosial yang sama sekali baru.
Meskipun begitu, sebagaimana kita semua tahu, eksperimen Lenin pada Uni Sovyet akhirnya
gagal dan Uni Sovyet hancur di awal tahun 1990-an. Apakah dengan begitu ide tentang
masyarakat tanpa kelas tidak lagi relevan di saat ini? Tentu tidak. Kegagalan salah satu
eksperimen politik Marxisme sama sekali bukan berarti kegagalan keseluruhan teori Marxis.

Hal yang perlu ditekankan adalah, teori politik yang berbasis pada Marxisme seperti
Leninisme selalu berelasi dengan konteksnya masing-masing. Dengan begitu, yang perlu
dilakukan adalah menerapkan metode berfikir Lenin (Materialisme Dialektis), alih-alih hasil
dari cara berpikirnya, untuk membaca kondisi objektif saat ini. Hal ini, seperti yang Lenin
telah tunjukkan, adalah satu-satunya cara seorang Marxis untuk memahami realitas, satusatunya dasar untuk mempraktikkan Marxisme yang benar.
Akhirnya, harus diakui bersama bahwa teori politik Lenin tentang Negara, dan teori
Marxisme secara keseluruhan, masihlah menjadi pendekatan yang minor (bahkan dihilangkan
sama sekali) dalam lingkup akademis. Penjelasan tentang negara dalam lingkup akademis
(setidaknya yang saya temui di kampus sendiri) adalah pendekatan para dedengkot
liberalisme seperti Rosseau, Hobbes dan Locke. Dengan pendekatan tersebut, adanya negara,
kepemilikan privat, justru dijustifikasi dan terus dipertahankan keberadaannya. ***

----------------------------------------------------------------------------------------------------Dari bermacam doktrin sosialis, Marxisme-lah yang saat ini paling dominan di Eropa.
Perjuangan untuk mencapai masyarakat sosialis hampir sepenuhnya dipahami oleh Marxisme
sebagai perjuangan kelas buruh di bawah pimpinan partai-partai Sosial-Demokratis.
Dominasi sosialisme proletariat ini berdasar pada ajaran Marxisme tidak dicapai seketika,
tetapi semata setelah terjadi perjuangan panjang menentang bermacam doktrin usang,
sosialisme borjuis kecil, anarkisme dan lain-lain. Sekitar 30 tahun yang lalu Marxisme tidak
dominan, sekalipun di Jerman. Pandangan yang berlaku di negara tersebut bersifat transisi,
bercampur baur dan eklektis, terletak diantara sosialisme borjuis kecil dan sosialisme
proletariat. Doktrin-doktrin yang paling menyebar dikalangan buruh maju di negara-negara
Romawi, di Perancis, Spanyol dan Belgia adalah Proudhonisme, Blanquisme [1] dan
anarkisme yang nyata-nyata mengekspresikan cara pandang borjuis kecil, bukan proletariat.
Apa yang menyebabkan cepat dan tuntasnya kemenangan Marxisme dalam dekade terakhir
ini? Ketepatan pandangan Marxis dalam banyak hal telah dibuktikan oleh semua
perkembangan masyarakat kontemporer baik ekonomi maupun politik, dan oleh seluruh
pengalaman gerakan revolusioner serta perjuangan kelas-kelas tertindas. Kemunduran borjuis
kecil, cepat atau lambat, tak dapat dielakkan akan mengakibatkan kepunahan segala macam
prasangka borjuis kecil. Sementara itu tumbuhnya kapitalisme dan kian dalamnya perjuangan
kelas dalam masyarakat kapitalis jadi agitasi terbaik bagi gagasan sosialisme proletar.
Keterbelakangan Rusia itulah pada dasarnya yang bisa menjelaskan tetap kokohnya
bermacam doktrin sosialis usang di sana. Seluruh sejarah aliran pemikiran revolusioner Rusia
sepanjang perempat terakhir abad 19 adalah sejarah perjuangan Marxisme melawan
sosialisme borjuis kecil Narodnik. [2] Meskipun kemajuan pesat dan keberhasilan luar biasa
gerakan kelas pekerja Rusia pun sudah berhasil membuahkan kemenangan bagi Marxisme di
Rusia tapi berkembangnya sebuah gerakan petani yang jelas revolusioner khususnya
revolusi petani terkenal di Ukraina tahun 1902 [3] - di satu sisi malah membangkitkan lagi
Narodnisme kuno. Teori-teori Narodnik yang kuno dengan diwarnai oleh oportunisme Eropa
yang populer masa itu (Revisionisme, Bernteinsime [4] dan kritisisme atas Marx), mendadani

seluruh persediaan ideologis asli golongan yang umum disebut Sosialis-Revolusioner.[5]


Itulah sebabnya mengapa masalah kaum petani menonjol dalam pertentangan Marxis
melawan Narodnik sejati maupun golongan sosialis-revolusioner.
Untuk satu hal tertentu, Narodnisme adalah sebuah doktrin yang integral dan konsisten.
Narodnisme menolak adanya dominasi kapitalisme di Rusia; menentang peran buruh pabrik
sebagai pemimpin garis depan perjuangan kaum proletar; menolak pentingnya sebuah
revolusi politik dan kebebasan politik borjuis; ia menyerukan perlu segera dilaksanakannya
sebuah revolusi sosialis yang berangkat dari komune petani berikut bentuk-bentuk pertanian
kecil-nya. Semua yang masih bertahan dalam teori integral ini sekarang hanyalah serpihanserpihan saja, tapi untuk secara pandai memahami kontroversi-kontroversi yang berlangsung
saat ini,dan menjaga supaya kontroversi itu tidak melorot menjadi sekedar perang mulut,
orang semestinya ingat akar-akar Narodnik yang paling dasar dan umum yang sekaligus
merupakan akar kesalahan Sosialis-Revolusioner kita.
Kaum Narodnik beranggapan bahwa kaum Muzhik adalah manusia Rusia masa depan.
Pandangan ini tak pelak berkembang karena keyakinan mereka pada masa depan kapitalisme.
Sedangkan kaum Marxis beranggapan bahwa buruh pekerja adalah manusia masa depan, dan
perkembangan kapitalisme Rusia baik di bidang pertanian maupun industri makin
menegaskan pandangan mereka. Gerakan kelas pekerja di Rusia telah berhasil memperoleh
pengakuan bagi keberadaannya sendiri. Tetapi bagi gerakan petani, masih ada jurang pemisah
antara Narodisme dan Marxisme hingga sekarang, yang mana hal ini terungkap dalam
penafsiran mereka yang berbeda atas gerakan (petani) ini. Bagi kaum Narodnik, gerakan
petani tersebut dengan sendirinya membuktikan kekeliruan Marxisme. Ini adalah gerakan
yang bekerja untuk suatu revolusi sosialis yang langsung; gerakan ini tidak mengakui
kebebasan politik borjuis; gerakan yang berangkat dari produksi skala kecil dan bukan
produksi berskala besar. Singkatnya, bagi kaum Narodnik, gerakan petani lah yang benarbenar sosialis sejati dan segera merupakan gerakan sosialis. Kesetiaan Narodnik pada
komune petani dan bentuk tertentu anarkisme Narodnik sepenuhnya bisa menjelaskan
mengapa kesimpulan demikian yang selalu terumuskan. Bagi kaum Marxis, gerakan petani
adalah gerakan demokratik, bukan gerakan sosialis. Di Rusia, seperti juga kasus di negaranegara lain, gerakan ini pasti sejalan dengan revolusi demokratik, revolusi yang borjuis
kandungan sosial ekonominya. Gerakan yang sampai titik akhirnya memang tidak ditujukan
untuk menggoyang pondasi tatanan borjuis, menentang prodksi komoditi atau melawan
kapital. Sebaliknya gerakan itu ditujukan untuk menentang hubungan pra-kapitalis, hubungan
perhambaan kuno di wilayah pedesaan dan melawan tuan-tanahisme, yang menjadi kunci
seluruh kelangsungan hidup pemilikan hamba-hamba. Konsekuensinya kemenangan penuh
gerakan petani ini tak akan menghapus kapitalisme; malahan sebaliknya, gerakan ini akan
menciptakan pondasi lebih luas lagi bagi perkembangan kapitalisme, akan mempercepat serta
memperdalam perkembangan kapitalis sejati. Kemenangan penuh pemberontakan kaum
petani hanya bisa menciptakan benteng bagi republik demokrasi borjuis, yang didalamnya
tumbuh untuk pertama kalinya suatu perjuangan proletariat melawan kehendak borjuasi
dalam bentuk yang paling murni. Lantas, ada dua pandangan bertentangan yang harus
dimengerti dengan jelas oleh siapapun yang ingin mempelajari jurang perbedaan prinsipil

antara Sosialis-Revolusioner dan Sosialis-Demokrat. Merujuk ke salah satu pandangan,


gerakan petani adalah gerakan sosialis, sedangkan merujuk ke pandangan lain gerakan petani
adalah gerakan borjuis-demokratik. Dengan ini orang bisa lihat betapa gobloknya ungkapan
orang-orang Sosialis-Revolusioner kita ketika mereka mengulang beratus kali (lihat,
misalnya, dalam Revolutsionnaya Rossiya, no. 75) bahwa Marxis ortodoks telah
mengabaikan masalah petani. Hanya ada satu cara untuk memberantas kebodohan berbahaya
macam ini dan itu bisa diakukan dengan mengulang ABC; menyusun pandangan-pandangan
Narodnik yang secara konsisten sudah kuno itu, dan beratus bahkan beribu kali menekan
bahwa perbedaan yang sesungguhnya di antara kita itu tidak terletak pada soal berhasrat atau
tidak berhasrat pada masalah petani, juga tidak terletak pada mengakui atau tidak mengakui
masalah petani, tapi terletak pada perbedaan penilaian kita atas gerakan petani dan masalah
petani saat ini di Rusia. Dia yang berkata bahwa Marxis mengabaikan masalah petani di
Rusia adalah, pertama, seorang pengabai absolut. Sebab seluruh tulisan prinsipil Marcis
Rusia, mulai dari tulisan Plekhanov Our Differences (muncul kurang lebih 20 tahun yang
lalu), telah mencurahkan tenaga untuk menjelaskan kesalahan pandangan-pandangan kaum
Narodnik mengenai masalah petani Rusia. Kedua, dia yang menyatakan bahwa Marcis
mangabaikan masalah petani jelas menunjukkan hasratnya untuk menghindari keharusan
memberi penilaian yang lengkap atas perbedaan prinsipil yang sesungguhnya, memberi
jawaban atas pertanyaan apakah gerakan petani sekarang ini adalah gerakan borjuis atau
tidak, apakah gerakan itu secara obyektif diarahkan untuk menghancurkan kelangsungan
hidup penghambaan atau tidak.
Kaum Sosialis-Revolusioner tidak pernah memberikan, dan tidak selalu dapat memberikan
satu jawaban jelas dan tepat pada masalah itu karena mereka menggapai-gapai tanpa harapan
di antara pandangan kuno Narodnik dan pandangan Marxis saat ini mengenai masalah petani
di Rusia. Kaum Marxis menyatakan bahwa kaum Sosialis-Revolusioner mewakili pendirian
kaum borjuis kecil (mereka adalah ideolog kaum borjuis kecil) dengan alasan yang kuat
bahwa mereka tidak dapat membersihkan diri dari ilusi-ilusi kaum borjuis kecil dan bayangan
Narodnik dalam menilai gerakan buruh tani.
Itulah sebabnya mengapa kita mengulang ABC sekali lagi. Untuk apakah perjuangan kaum
petani di Rusia saat ini? Untuk tanah dan kebebasan. Arti penting apa yang bakal dimiliki
oleh seluruh kemenangan gerakan ini? Setelah meraih kemerdekaan, gerakan tersebut akan
menghapuskan kekuasaan para tuan tanah dan birokrasi dalam adiminstrasi negara. Setelah
berhasil menjaga tanah, gerakan itu akan memberikan tanah para tuan tanah kepada para
petani. Akankah kemerdekaan penuh dan perampasan tanah dari para tuan tanah tersebut juga
berarti penghapusan produksi komoditi? Tidak, tidak akan. Akankah kemerdekaan penuh dan
perampasan tanah tuan tanah tersebut mengganti bentuk pertanian individual dengan bentuk
rumah tangga petani atas dasar, tanah komunal, atau tanah yang "disosialkan"? Tidak, tidak
akan. Akankah kemerdekaan penuh dan perampasan tanah tuan tanah menjembatani jurang
dalam yang memisahkan petani kaya, yang memiliki sekian kuda dan sapi, dari pertaniancangkulan, buruh harian, misalnya: jurang pemisah antara borjuis petani dengan proletar
pedesaan? Tidak, tidak akan! Sebaliknya, makin tuntas sosial-estate (para Tuan Tanah) yang
paling tinggi itu dienyahkan dan dilenyapkan maka akan makin dalamlah perbedaan kelas

antara borjuis dan proletariat. Apakah yang secara obyektif bakal punya arti dengan adanya
kemenangan penuh kebangkitan perlawanan buruh tani? Kemenangan tersebut akan
menghilangkan seluruh kelangsungan hidup perhambaan, tetapi sama sekali tidak
menghancurkan sistem ekonomi borjuis atau menghancurkan kapitalisme atau
menghancurkan pembagian masyarakat ke dalam kelas-kelas ke dalam golongan kaya dan
miskin, borjuis dan proletar. Mengapa gerakan petani saat ini adalah gerakan borjuisdemokratik? Karena setelah menghancurkan kekuasaan birokrasi dan tuan-tuan tanah,
gerakan itu akan menyusun sebuah sistem masyarakat demokratik, tapi bagaimanapun juga,
itu dilakukan tanpa mengubah pondasi borjuis dari masyarakat demokratis tersebut, tanpa
menghapuskan kekuasaan kapital. Bagaimanakah seharusnya buruh berkesadaran kelas,
kaum sosialis, memandang gerakan petani saat ini? Ia harus mendukung gerakan ini,
menolong petani dalam kondisi yang paling bertenaga, menolong mereka menyingkirkan
tuntas segala kekuasaan birokrasi dan kekuasaan tuan-tuan tanah. Bagaimanapun, pada saat
yang sama mereka harus menjelaskan kepada para petani bahwa tidak cukup cuma
merobohkan kekuasaan birokrasi dan para tuan tanah. Ketika mereka merobohkan kekuasaan
birokrasi dan para tuan tanah tersebut, saat itu juga mereka harus bersiap untuk
menghapuskan kekuasaan kapital, kekuasaan borjuis, dan untuk maksud ini maka suatu
doktrin yang sepenuhnya berwatak sosialis; yaitu Marxist, harus segera disebar, proletariat
pedesaan harus dipersatukan, digalang bersama dan diorganisir untuk perjuangan melawan
borjuis petani dan semua borjuis Rusia. Dapatkah seorang buruh yang berkesadaran kelas
melupakan perjuangan demokratik demi perjuangan sosalis, atau melupakan perjuangan
sosialis demi perjuangan demokratik? Tidak, seorang buruh yang berkesadaran kelas akan
menyebut dirinya seorang sosial demokrat karena ia memahami kaitan dua perjuangan
tersebut. Dia tahu bahwa tidak ada jalan lain yang bisa menyelamatkan jalan menuju
sosialisme selain melalui demokrasi, kebebasan politik. Karenanya ia berjuang mencapai
demokrasi sepenuhnya dan sekonsisten mungkin untuk mencapai tujuan puncak sosialisme.
Mengapa kondisi untuk perjuangan demokratik tidak sama dengan kondisi untuk perjuangan
sosialis? Karena para buruh pekerja pasti akan memiliki sekutu yang berbeda di masingmasing dua perjuangan ini. Perjuangan demokratik dilakukan oleh buruh bersama dengan
satu bagian dari borjuis, khususnya borjuis kecil. Di lain pihak, perjuangan sosialis dilakukan
oleh buruh pekerja melawan seluruh borjuasi. Perjuangan melawan birokrat dan para tuan
tanah dapat dan harus dilakukan bersama-sama dengan seluruh petani, bahkan bersama petani
berkecukupan dan petani menengah. Di lain pihak, cuma berjuang bersama proletariat
pedesaan sajalah, maka perjuangan melawan borjuis, dan karenanya juga berarti melawan
petani berkecukupan, bisa diakukan dengan tepat. Bila kita selalu mengingat semua
kebenaran Marxis yang elementer ini, yang oleh kaum Sosialis-Revolusioner selalu lebih
suka dihindari, maka kita tak akan punya banyak kesulitan dalam menilai keberatan kaum
Sosialis-Revolusioner "yang terakhir" atas Marxisme, seperti berikut ini:
"Mengapa itu perlu?" seruan dalam Revolutsionnaya Rossiya (no. 75), "Pertama mendukung
kaum petani secara umum dalam melawan para tuan tanah, dan kemudian (yaitu, pada saat
yang sama) mendukung kaum proletar menentang seluruh kaum petani, yang sekaligus
sebagai ganti dari tindakan mendukung kaum proletar menentang para tuan tanah; dan apa
yang Marxisme harus lakukan setelah itu, hanya surga yang tahu."

Ini adalah titik pandang anarkisme paling primitif, yang naif kekanak-kanakan. Selama
berabad-abad dan bahkan ribuan tahun, manusia bermimpi melenyapkan "secara sekaligus"
segala bentuk dan jenis penghisapan. Mimpi ini tetap sekedar mimpi sampai jutaan orang di
seluruh dunia yang dihisap mulai bersatu untuk melakukan perjuangan konsisten, kokoh dan
komprehensif merubah masyarakat kapitalis dalam arahan evolusi masyarakat tersebut yang
terjadi secara alamiah. Mimpi-mimpi sosialis beralih menjadi perjuangan sosialis berjuta
manusia hanya ketika sosialisme ilmiah Marx berhasil mengkaitkan desakan untuk berubah
dengan perjuangan dari suatu kelas tertentu. Di luar perjuangan kelas, sosialisme hanyalah
ungkapan kosong dan mimpi naif. Bagaimanapun, di Rusia, dua bentuk perjuangan yang
berbeda dari dua kekuatan sosial yang berbeda tengah berlangsung di belakang penglihatan
kita. Kaum proletar sedang berjuang melawan borjuasi, dimanapun hubungan-hubungan
produksi kapitalis itu ada (dan hubungan produksi kapitalis itu ada ini patut diketahui kaum
revolusioner kita bahkan dalam komune petani, misalnya: di tanah-tanah yang menurut titik
pandang mereka telah seratus persenn "disosialisasikan"). Sedang sebagai bagian dari strata
pemilik tanah kecil, borjuis kecil, kaum petani berjuang melawan seluruh kelangsungan
hidup perhambaan, melawan birokrat dan para tuan tanah. Hanya mereka yang benar-benar
mengabaikan ekonomi politik dan sejarah revolusi-revolusi dunia yang bisa keliru melihat
bahwa ini adalah dua perang sosial yang terpisah dan berbeda. Menutup mata terhadap
perbedaan perang-perang tersebut dengan cara menuntut suatu gerakan yang "sekaligus"
sama saja menyembunyikan kepala di bawah ketiak orang dan menolak membuat analisis
realita. Kaum sosialis-revolusioner yang telah kehilangan integritas pandangan-pandangan
kuno Narodnik, bahkan telah merupakan ajaran-ajaran Narodnik itu sendiri. Seperti itu-itu
juga ditulis dalam Revolutsionnaya Rossiya dalam artikel yang sama: "Dengan menolong
kaum petani untuk mengenyahkan tuan tanah, tuan Lenin tanpa sadar sudah membantu
berdirinya ekonomi borjuis kecil di atas reruntuhan pertanian kepitalis yang kurang lebih
sudah berkembang. Tidakkah ini sebuah "langah mundur" dari titik pandang Marxisme
ortodoks?"
Memalukan, saudara-saudara!! Mengapa anda lupa dengan tulisan orang-orang anda sendiri,
Mr. V.V.! Periksa tulisannya, Destiny of Capitalism, juga Sketches, tulisan tuan Nikolai-on,
[6] dan sumber-sumber lain tentang bijaknya anda. Anda kemudian akan mengingat kembali
bahwa pertanian tuan tanah di Rusia itu memadukan dalam dirinya gambaran baik
kapitalisme dan pemilikan hamba-hamba. Kemudian anda akan menemukan bahwa terdapat
suatu sistem ekonomi yang didasarkan pada sewa buruh, suatu sistem yang langsung
mempertahankan sistem kerja tanpa upah. Jika lebih jauh lagi anda mencari pemecahan
kesulitan tersebut pada buku macam Marxis ortodoks, seperti volume ke tiga Kapital-nya
Marx, [7] anda akan temui bahwa dimanapun tak ada sistem kerja tanpa upah yang
berkembang, dan dimanapun sistem itu tak bisa berkembang serta kemudian berubah menjadi
pertanian kapitalis kecuali melalui perantaraan pertanian petani borjuis kecil. Dalam usaha
anda menghalau Marxisme, anda malah mundur ke metode yang terlalu primitif, metode yang
sudah demikian lampau digunakan; pada Marxisme secara langsung anda memberikan satu
konsepsi pertanian kapitalis skala besar yang amat dangkal dan aneh melebihi konsep
pertanian skala besar dengan dasar sistem kerja tanpa upah. Anda berpendapat bahwa karena
hasil pertanian di tanah milik tuan tanah itu lebih tinggi dibandingkan dengan pertanian

petani maka perampasan tanah milik tuan tanah adalah suatu langkah yang terbelakang.
Argumentasi ini layak dinyatakan oleh seorang anak sekolah dasar kelas 4. Sekedar
pertimbangan, Tuan-tuan: memisahkan hasil-rendah tanah petani dari hasil-tinggi perkebunan
tuan-tuan tanah ketika perbudakan dihapuskan, tidakkah itu merupakan sebuah "langkah
mundur"?
Sistem ekonomi tuan tanah di Rusia saat ini merupakan perpaduan antara ciri-ciri kapitalisme
dan pemilikan-perhambaan. Secara obyektif, saat ini perjuangan kaum petani melawan para
tuan tanah adalah perjuangan melawan kelangsungan hidup perhambaan. Tapi mencoba
menghitung seluruh kasus individual, mempertimbangkan setiap kasusnya dan menentukan
secara tepat dengan ukuran skala seorang ahli obat, untuk menemukan kapan berakhirnya
masa pemilikan-perhambaan dan kapitalisme dimulai, itu berarti mencoba menganggap
Marxis sama dengan sifat teliti dan cermat. Kita tidak bisa menghitung bagian apa dari harga
bahan-bahan yang dibeli dari sebuah toko kecil, yang mewakili nilai lebih dan bagian apa
dari harga itu yang mewakili penipuan atas kerja buruh, dan sebagainya. Apakah itu berarti
kita harus membuang teori nilai kerja, saudara-saudara?
Ekonomi tuan tanah kontemporer memadukan gambaran kapitalisme dan perhambaan. Tetapi
dari kenyataan tersebut hanya ilmuwan saja yang bisa berkesimpulan bahwa inilah tugas kita
untuk mempertimbangkan, menghitung dan memaparkan tiap menit gambaran dalam katagori
sosial ini dan itu. Oleh karenanya hanya kaum utopialah yang dapat berkesimpulan bahwa,
"tidak ada kebutuhan" bagi kita untuk melukiskan perbedaan di antara dua perang sosial yang
berbeda. Sehingga sebenarnya, satu-satunya kesimpulan sesungguhnya yang muncul adalah
bahwa baik dalam program maupun taktik, kita harus memadukan perjuangan proletariat
yang sejati melawan kapitalisme dengan perjuangan demokrasi secara umum (dan petani
secara umum) melawan penghambaan.
Makin jelas gambaran kapitalis pada ekonomi tuan tanah semifeodal saat ini, maka makin
mendesak keharusan untuk mengorganisir proletariat pedesaan secara terpisah, karena ini
akan lebih cepat menolong kapitalis sejati atau proletariat sejati, pihak yang berantagonisme
ini menegaskan posisi mereka dimanapun perampasan tanah terjadi. Makin jelas gambaran
kapitalis dalam ekonomi tuan tanah, makin cepat perebutan yang demokratik memberi
dorongan pada perjuangan yang sesungguhnya untuk sosialisme dan konsekuensinya,
makin bahayanya membangun cita-cita palsu revolusi demokratik melalui pemakaian slogan
"sosialisasi". Ini adalah kesimpulan yang ditarik dari kenyataan bahwa ekonomi tuan tanah
adalah percampuran antara kapitalisme dan hubungan-hubungan pemilikan-perhambaan.
Jadi kita harus menggabungkan perjuangan proletar yang sejati dengan perjuangan petani
pada umumnya, tetapi tidak mencampuradukan keduanya. Kita harus mendukung perjuangan
demokratik dan perjuangan petani secara umum, tetapi tidak menenggelamkan diri dalam
perjuangan yang tak berwatak kelas itu; kita tidak pernah boleh mencita-citakan perjuangan
itu dengan slogan-slogan palsu seperti "sosialisasi", atau melupakan kebutuhan untuk
mengorganisir kaum proletariat urban dan pedesaan dalam sebuah partai kelas yang
sepenuhnya mandiri dari Sosial-Demokrasi. Sambil memberikan dukungan sepenuhnya para

demokratisme yang paling kokoh, partai tersebut tidak akan membolehkan dirinya dialihkan
dari jalan revolusioner oleh mimpi-mimpi reaksioner dan usaha coba-coba melakukan
"persamaan" dalam sistem produksi komoditi. Perjuangan kaum petani melawan para tuan
tanah saat ini merupakan sebuah perjuangan revolusioner; perampasan tanah-tanah milik para
tuan tanah pada tahap sekarang dari suatu evolusi ekonomi dan politik adalah revolusioner
dalam setiap seginya dan kita mendukung serta menjaga tindakan Revolusioner-Demokratik
ini. Tapi menyebut tindakan ini adalah "sosialisasi", dan menipu dirinya maupun rakyat
dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya "persamaan" dalam pola penguasaan
tanah di bawah sistem produksi komoditi, merupakan utopia kaum borjuis kecil yang
reaksioner, pandangan yang kita letakkan pada kaum Sosialis-Reaksioner.
TROTSKY
http://senapedia.blogspot.co.id/2015/10/trotskyisme-atau-leninisme.html
http://www.berdikarionline.com/roestam-effendi-menyuarakan-indonesia-merdeka-diparlemen-belanda/
http://another-dmhdyoung.blogspot.co.id/2014/05/trotsky-dan-revolusi-rusia.html