Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Kulit manusia adalah lapisan luar dari tubuh Kulit terdiri atas dua lapisan, yaitu lapisan
epidermis (kulit ari) dan lapisan dermis. Pada manusia, kulit adalah organ terbesar dari sistem
yang menutupi. Kulit manusia sama dengan mamalia lainnya, kecuali bahwa itu tidak
dilindungi oleh suatu bulu. Meskipun hampir semua kulit manusia ditutupi dengan folikel
rambut, tampak tak berbulu. kulit memainkan peran penting dalam melindungi tubuh
terhadap patogen dan kehilangan air yang berlebihan. Fungsi lainnya adalah isolasi,
pengaturan suhu, sensasi, sintesis vitamin D, dan perlindungan vitamin B folates. Kulit yang
rusak parah akan mencoba untuk menyembuhkan dengan membentuk jaringan parut. Ini
menyebabkan kulit sering berubah warna dan depigmentasi. Pada manusia, pigmentasi kulit
bervariasi antar populasi, dan jenis kulit dapat berkisar dari kering ke berminyak. Kulit
merupakan bagian tubuh kita yang bersentuhan langsung dengan segala hal di luar tubuh,
seperti misalnya cuaca, sinar matahari atau yang lain. Fungsi kulit antara lain sebagai estetika
penampilan, untuk pertahanan tubuh, pelindung tubuh, perabaan (ada syaraf / ujung syaraf),
Mengeluarkan zat yang tidak dibutuhkan tubuh, mengatur suhu badan yakni dengan
pengeluaran keringat, dan tempat pembentukan vitamin D. Saat kulit sensitif adalah dimana
kulit memberikan respons berlebih terhadap perubahan suhu atau karna faktor yang lainnya.
Oleh karena itu kita harus menjaga kulit kita agar tetap sehat dan terhindar dari penyakit.
Dalam dunia medis penyuntikan atau kegiatan medis lainya yang menyetuh bagian kulit
jika tidak di bersihkan telebih dahulu menggunakan antiseptik dapat menyebab infeksi pada
kulit yang di sebabkan oleh adanya bakteri. WHO 1998, lebih dari 45% kematian terjadi di
negara-negara ASEAN adalah akibat penyakit akibat infeksi.
Salah satu cara pencegahan infeksi adalah dengan penggunaan antiseptik untuk
membersihkan tangan atau bagian tubuh lainya yang terkena darah atau cairan lainnya dan
mencegah infeksi pada luka. Antiseptik atau germisida adalah senyawa kimia yang digunakan
untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan yang hidup
seperti pada permukaan kulit dan membran mukosa.. Antiseptik berbeda dengan antibiotik,
yang menghancurkan kuman di dalam tubuh, dan dari disinfektan, yang menghancurkan
kuman pada benda mati. Penerapan antiseptik pada luka mungkin perlu diikuti tindakan lain
seperti pembersihan dan penutupan luka dengan pembalut agar tetap bersih dan terjaga. Ada
banyak sekali agen kimia yang dapat digunakan sebagai antiseptik. Efektivitas antiseptik
dalam membunuh mikroorganisme bergantung pada beberapa faktor, misalnya konsentrasi
dan lama paparan. Konsentrasi memengaruhi adsorpsi atau penyerapan komponen antiseptik.
Pada konsentrasi rendah, beberapa antiseptik menghambat fungsi biokimia membran bakteri,
namun tidak akan membunuh bakteri tersebut. Ketika konsentrasi antiseptik tersebut tinggi,
komponen antiseptik akan berpenetrasi ke dalam sel dan mengganggu fungsi normal seluler
secara luas, termasuk menghambat biosintesis(pembuatan) makromolekul dan persipitasi

protein intraseluler dan asam nukleat (DNA atau RNA). Lama paparan antiseptik dengan
banyaknya kerusakan pada sel mikroorganisme berbanding lurus. Beberapa antiseptik yang
umum digunakan adalah etakridin laktat (rivanol), alkohol, yodium, dan hidrogen peroksida.
Sebagian besar produk antiseptik di pasar mengandung satu atau lebih campuran zat tersebut.
Pada umumnya salah satu senyawa yang lazim digunakan dalam berbagai formula
sediaan antiseptik adalah golongan alkohol (etanol, propanol, isopropanol) dengan
konsentrasi antara 50% hingga 70%. Namun sayangnya, penggunaan golongan alkohol
sebagai antiseptik memiliki banyak keterbatasan. Keterbatasan tersebut antara lain alkohol
hanya dapat digunakan sebagai antiseptik / desinfektan untuk disinfeksi permukaan dan kulit
yang bersih tetapi tidak dapat digunakan untuk bagian kulit yang terluka. Golongan alkohol
memang memiliki daya bakterisidal tetapi hanya untuk beberapa jenis bakteri dan tidak
berfungsi untuk jamur dan virus. Golongan alkohol juga merupakan pelarut organik sehingga
dapat melarutkan lapisan lemak dan sebum pada kulit yang berfungsi sebagai pelindung
alami terhadap infeksi mikroorganisme. Alkohol juga bersifat mudah terbakar dan pada
pemakian berulang dapat menyebabkan kekeringan dan iritasi pada kulit. kulit (Dryer, 1998;
Jones, 2000; Snyder, 1999). Sedangkan sebagaimana diketahui, antiseptik selalu diperlukan
setiap saat yang artinya meniscayakan pemakaian berulang. Dikarenakan berbagai
keterbatasan penggunaan alkohol itulah, maka diperlukan senyawa lain sebagai alternatif
pengganti golongan alkohol sebagai antiseptik yang aman, efektif dan mudah digunakan.
Mengingat Indonesia merupakan negara tropis yang kaya tanaman berkhasiat, maka
dimungkinkan untuk mencari senyawa alternatif pengganti alkohol tersebut dari tanaman
yang
mudah
dijumpai
di
Indonesia.
Salah satu tanaman yang diketahui mempunyai daya antiseptik adalah tanaman wortel
(Daucus carota L.). Umbi wortel memiliki khasiat sebagai diuretik, laksatif, dan antiseptik.
Hal ini karena umbi wortel diketahui mengandung senyawa golongan sesquiterpen. (Ahmed
et. al., 2005). Di samping itu, meningkatnya minat masyarakat untuk kembali menggunakan
bahan-bahan alami.
Wortel adalah tumbuhan biennial (siklus hidup 12 - 24 bulan) yang menyimpan
karbohidrat dalam jumlah besar untuk tumbuhan tersebut berbunga pada tahun kedua. Batang
bunga tumbuh setinggi sekitar 1 m, dengan bunga berwarna putih, dan rasa yang manis langu.
Bagian yang dapat dimanfaatkan dari wortel adalah bagian umbi atau akarnya. Selain itu
tanaman wortel dapat tumbuh subur di negara indonesia sehinggaa cocok untuk di jadikan
antiseptik alami.
Kandungan antiseptik di dalam wortel dapat di manfaatkan sebagai antiseptik alami yang
di kemas kedalam bentuk kapas antiseptik wortel yang tidak mengeringkan permukaan kulit
tidak mudah terbakar dan ramah lingkungan untuk digunakan.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk membuat karya ilmiah yang berjudul
kapas antiseptik dari wortel.

1.2 PELUANG USAHA


Produk kapas antiseptik dari wortel ini kami buat karena menurut kami produk ini
masih langka dan merupakan alternatif bagi dunia medis. Produk kapas antiseptik dari
wortel ini memiliki keunggulan dari pada anti septik pada umunya yang berbahan dasar
alkohol, keungguln tersebut yaitu produk ini tidak mudah terbakar, dapat membantu luka
cepat kering dan juga ramah lingkungan Sesuai dengan iklim indonesia yaitu tropis maka
wortel atau bahan dasar anti septik ini juga sangat gampang didapatkan.
Daya saing produk ini sendiri menurut kami masih rendah karena menurut kami
belum ada usaha yang bergerak dibidang ini dan belum ada pemasarannya.
1.3 KELUARAN YANG DIHARAPKAN
Menghasilakan produk anti septik dari wortel yang ramah lingkungan lebih aman dan
mudah digunakan
1.4. MANFAAT USAHA
a. Membuka peluang usaha baru
b. Mengembangkan inovasi produk dalam dnia kesehatan
c. Memberikam alternatif mengenai anti septik

BAB II
GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA

2.1 KONDISI LINGKUNGAN


Kondisi lingkungan usaha sebelumnya belum pernah kami temui, maka dari itu kami
memilih lingkungan usaha keliling menawarkan produk ke rumah sakit dan apotek.
Ilmu kesehatan berkembang atas dasar adanya penyakit. Pemahaman masyarakat
terhadap konsep penyakit akan menentukan cara pengobatan terhadap penyakit tersebut.
Kebutuhan akan penyembuhan, menyebabkan orang-orang mencoba mengatasi penyakit
dengan mencari cara pengobatan beserta obat-obatannya.
Perkembangan selanjutnya dalam upaya mencegah penyakit adalah dengan
memperhatikan seluruh penyebab terjadinya penyakit. Hal ini disadari karena pada dasarnya
timbulnya penyakit ditentukan oleh berbagai faktor, di antaranya faktor perilaku masyarakat
itu sendiri. Jika sebelumnya, dalam ilmu kedokteran pencegahan, faktor yang diperhatikan
hanya elemen manusia, maka dalam ilmu kesehatan masyarakat, dipadukan dengan dua
elemen lainnya yang berkaitan dengan perilaku masyarakat itu sendiri, yaitu agent penyakit
dan lingkungan.
Usaha dibidang kesehatan sudah menjadi usaha yang menguntungkan dan menarik
pengusha untuk berinovasi membuat produk . banyaknya produk yang berinovasi ini
menimbulkan kompetisi yang semakin ketat dan pelanggan. Semakin mempunyai pilihan
yang selektif, dan ini merupakan tantangan yang akan mempengaruhi keberlanjutan untuk
berwirausaha. Oleh karena itu diperlukan alternatif strategi bersaing yang tepat agar para
wirausaha mampu bersaing dengan pengusaha lainnya. Kondisi lingkungan usaha demikian
mengharuskan pengusaha meningkatan kualitas dan mutu agar tetap sukses, baik ditingkat
operasional, manajerial maupun strategi.

2.2 ANALISIS EKONOMI


a. Target Pasar
Rumah sakit dan apotik merupakan tempat yang tepat untuk pemasaran produk ini
karena produk ini salah satu kebutuhan dalam dunia kesehatan.
b. Ketergantungan Usaha
Dalam usaha produksi ini membutuhkan peluang usaha yang besar atau mencari cara
yang strategis untuk peningkatan dan keberhasilan usaha yang sedang dijalankan,
serta menyediakan lapangan usaha baru dan membantu meningkatkan pendapatan
masyarakat.

BAB III
METODE PELAKSAAN
Metode yang digunakan untuk melaksanakan program ini adalah
Bahan
1. Wortel
2. Kapas
3. Air
Cara Pembuatan
Siapkan bahan utama terlebih dahulu seperti wortel yang telah di bersihkan dan juga
kapas. Kemudian siapkan bahan bahan pendukung sepeti panci dengan air untuk
merebus, bleder untuk menghancurkan wortel serta dan saringan untuk menyaring air
wortel.
Langkah:
1. Sikat wortel dan bersihkan menggunakan air dingin yang bertujuan agar
kandungan di dalam wortel tidak hilang.
2. Kemudian siapkan air sampai mendidih.
3. Rebus wortel jika air sudah mendidih dalam waktu 5-6 menit untuk wortel muda
dan 10-12 menit untuk wortel tua.
4. Jika sudah di rebus kemudian angkat dan diamkan wortel sampai tidak terasa
panas lagi.
5. Blender wortel yang telah di diamkan dan beri sedikit air untuk mempermudah
dalam penghancuran.
6. Saring wortel yang telah di hancurkan untuk mendapatkan airnya
7. Kemudian teteskan air tesebut ke kapas hingga merata yang bertujuan agar kapas
tidak terlalu basah.
8. Bungkus kapas antiseptik tersebut dengan menggunakan bahan yang dapat
menyimpan kandungan antiseptik dan tanpa menghlangkanya.

BAB VI