Anda di halaman 1dari 12

Febriana Tri Wulandari

135020301111068
Salah satu tantangan utama mengoperasikan sistem terdesentralisasi adalah
merancang suatu metode akuntansi yang memuaskan untuk transfer barang dan jasa dari
pusat laba yang satu ke pusat laba yang lain dalam perusahaan. Pada bab ini akan dibahas
mengenai harga transfer untuk transaksi antar pusat laba dan sistem negoisasi dan arbitrase,
juga penentuan harga jasa yang diberikan oleh unit-unit staf korporat ke pusat laba.
Tujuan Penetapan Harga Transfer
Jika terdapat dua atau lebih pusat laba yang bertanggung jawab bersama atas
pengembangan, pembuatan, dan pemasaran suatu produk, maka masing-masing harus
membagi pendapatan yang dihasilkan saat produk tersebut terjual. Harga transfer berperan
sebagai mekanisme pendistribusian pendapatan tersebut. Harga transfer mempunyai tujuan
yaitu:
1. Memberi informasi yang relevan kepada masing-masing unit usaha untuk menentuka
imbal balik optimum antara pendapatan dan biaya perusahaan
2. Menghasilkan keputusan yang selaras dengan cita-cita
3. Membantu pengukuran kinerja ekonomi dari unit usaha individual
4. Membuat sistem mudah dimengerti dan dikelola

Metode Penentuan Harga Transfer


Pada buku literatur harga transfer didefinisikan sebagai nilai yang diberikan atas suatu
transfer barang atau jasa dalam suatu transaksi di mana setidaknya salah satu dari kedua
pihak yang terlibat adalah pusat laba.
Prinsip Dasar
Prinsip dasarnya adalah bahwa harga transfer sebaiknya serupa dengan harga yang
dikenakan seandainya produk tersebut dijual ke konsumen luar atau dibeli dari pemasok luar.
Namun melakukan prinsip ini merupakan hal yang sulit karena terdapat banyak pertentangan
bagaimana harga jual ke pihak luar ditentukan. Ada dua keputusan yang harus dibuat jika
suatu pusat laba di perusahaan melakukan transaksi jual beli ke satu sama lain:
1. Keputusan sourcing keputusan apakah perusahaan harus produksi sendiri atau
membeli dari pemasok luar

2. Keputusan harga transfer keputusan pada harga tingkat berapa produk ditransfer
antar pusat laba

Situasi Ideal
Sistem harga transfer dapat bervariasi dari yang paling sederhana sampai yang paling
rumit, tergantung dari sifat usahanya. Pembahasan akan dilakukan mulai dari situasi
sederhana ke situasi yang lebih sulit. Harga transfer berdasarkan harga pasar akan
menghasilkan keselarasan cita-cita jika kondisi-kondisi dibawah ini ada:
1. Orang-orang yang kompeten
Para manajer harus memperhatikan kinerja pusat tanggung jawab mereka, serta staf
yang terlibat dalam arbitrase dan negoisasi harga transfer juga harus kompeten.
2. Atmosfer yang baik
Para manajer harus menjadikan proftabilitas sebagai cita-cita penting dan
pertimbangan signifikan dalam penilaian kerja mereka.
3. Harga pasar
Harga transfer yang ideal adalah berdasarkan harga pasar normal dan mapan dari
produk identik yang ditransfer. Jadi harga pasar mencerminkan kondisi yang sama
(kuantitas, waktu pengiriman, dan kuantitas) dengan produk yang dikenakan harga
transfer.
4. Kebebasan memperoleh sumber daya
Manajer pembelian bebas membeli dari pihak luar, manajemen penjualan juga bebas
menjual ke pihak luar. Kebijakan ini akan memberikan hak kepada setiap manajer
pusat laba untuk berurusan baik dengan pihak di dalam maupun di luar perusahaan
sesuai dengan penilaian mereka masing-masing.
5. Informasi Penuh
Para manajer harus mengetahui semua alternatif yang ada, serta biaya dan pendapatan
yang relevan dari masing-masing alternatif tersebut.
6. Negoisasi
Harus ada mekanisme kerja yang berjalan lancar untuk melakukan negoisasi
kontrak antar unit usaha.
Namun dalam praktiknya kondisi-kondisi di atas sangat jarang ada. Oleh karena itu,
daftar tersebut tidak menetapkan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi untuk memiliki harga
transfer, melainkan digunakan sebagai saran untuk memandang suatu situasi, guna melihat
perubahan-perubahan apa yang sebaiknya dilakukan untuk memperbaiki operasi mekanisme
harga transfer.
Hambatan-hambatan dalam Perolehan Sumber Daya

Kondisi-kondisi yang dijelaskan sebelumnya tidak selalu ada, hambatan yang muncul
dalam kehidupan nyata adalah, kebebasan dalam perolehan sumber daya tidak selalu
mungkin dilakukan atau jika hal itu mungkin, dibatasi oleh kebijakan-kebijakan korporat.
Sekarang akan dibahas bagaimana bila situasi dimana manajer pusat laba tidak memiliki
kebebasan dalam mengambil keputusan dan akibat-akibat yang terjadi dengan adanya
hambatan tersebut.
1. Pasar yang terbatas
a. Keberadaan kapasitas internal mungkin membatasi pengembangan penjualan
eksternal
b. Jika suatu perusahaan merupakan produsen tunggal dari produk yang
terdiferensiasi, tidak ada sumber daya di luar
c. Jika suatu perusahaan telah melakukan investasi yang besar, maka perusahaan
cenderung tidak akan menggunakan sumber daya dari luar kecuali harga jual di
luar mendekati biaya variabel perusahaan, dimana hal ini sangat jarang terjadi.
Dalam kasus ini, harga transfer yang paling memenuhi persyaratan sistem pusat laba
adalah harga kompetitif. Harga kompetitif mengukur kontribusi dari setiap pusat laba
terhadap laba perusahaan secara keseluruhan, dan juga harga kompetitif mengukur
bagaimana kinerja suatu pusat laba dalam menghadapi pesaingnya.
Berikut adalah beberapa cara suatu perusahaan agar dapat mengetahui harga
kompetitif jika perusahaan tersebut tidak membeli atau menjual produknya ke pasar
bebas:
a. Jika ada harga pasar yang diterbitkan, maka harga tersebut dapat digunakan untuk
menentukan harga transfer
b. Harga pasar mungkin ditentukan berdasarkan penawaran
c. Jika pusat laba produksi menjual produk yang serupa di pasar bebas, ma pusat
laba tersebut sering kali meniru harga kompetitif berdasarkan harga di luar
d. Jika pusat laba pembelian membeli produk yang serupa di pasar bebas, maka pusat
laba tersebut dapat meniru harga kompetitif untuk produk-produk eksklusifnya
2. Kelebihan atau Kekurangan Kapasitas Industri
Misalnya jika pusat laba penjualan tidak dapat menjual seluruh produk ke pasar bebas
maka, pusat laba tersebut memiliki kapasitas yang berlebih. Perusahaan mungkin
tidak akan mengoptimalkan labanya, jika pusat laba pembelian membeli produk dari
pemasok luar, sementara kapasitas produksi didalamnya masih memadai.
Sebaliknya, jika pusat laba pembelian tidak dapat memperoleh produk yang
diperlukan dari luar sementara pusat laba penjualan menjual produknya ke pihak luar.
Situasi tersebut terjadi ketika terdapat kekurangan kapasitas produksi di dalam
industri. Dalam kasus ini, output dari pusat laba pembelian terhalang dan kembali,

laba perusahaan tidak dapat optimal. Jika jumlah transfer dalam perusahaan adalah
kecil, atau jika situasi tersebut bersifat sementara, banyak perusahaan membiarkan
para pembeli dan penjual untuk saling bekerja sama tanpa campur tangan kantor
pusat. Bahkan jika jumlah transfer dalam perusahaan cukup besar, beberapa
manajemen senior tetap tidak ikut campur berdasarkan teori yang menyatakan bahwa
manfaat dari menjaga agar pusat laba tetap independen akan menutupi kerugian dan
melakukan suboptimasi atas laba perusahan.
Singkatnya, meskipun ada hambatan dalam perolehan sumberdaya,
harga pasar tetap merupakan harga transfer yang baik. Jika harga pasar
tersedia atau dapat diperkirakan maka guanakanlah itu. Namun, jika tidak
ada cara untuk memperkirakan harga kompetitif, piliahan lainnya adalah
mengembangkan harga transfer berdasarkan biaya.
Dalam

menentukan

harga

transfer,

perusahaan

biasanya

mengeliminasi unsur iklan, pendanaan, atau pengeluaran lainnya yang


tidak dikeluarkan oleh pihak penjual dalam suatu transaksi internal. Hal ini
sama seperti ketika dua perusahaan sampai pada suatu tingkat harga.
Pihak pembeli tidak akan membayar komponen biaya yang tidak akan
berlaku untuk kontrak tersebut.
Harga Transfer Berdasarkan Biaya
Jika harga kompetitif tidak tersedia, maka harga transfer dapat
ditentukan berdasarkan biaya ditambahan laba, meskipun harga transfer
semacam

ini

memuaskan

sangat

rumit

dibandingkan

untuk

dengan

dihitung
harga

dan

hasilnya

berdasarkan

kurang

pasar.

Dua

keputusan yang harus dibuat dalam sistem harga transfer berdasarkan


biaya: (1) bagimana menetukan besarnya biaya dan (2) bagaimana
menghitung markup laba.
1. Dasar Biaya
Dasar yang umum adalah biaya standar. Biaya aktual tidak boleh
digunakan karena faktor inefisiensi produksi akan diteruskan ke
pusat laba pembeliaan. Jika biaya standar yang digunakan, maka
dibutuhkan suatu insentif untuk menetapkan standar yang ketat dan
untuk meningkatkan standar tesebut.

2. Markup Laba
Dalam menghitungkan markup laba, juga terdapat dua keputusan:
(1) apa dasar markup laba tersebut dan (2) tingkat laba yang
diperoleh.
Dasar yang paling mudah dan umum untuk dipergunakan adalah
presentase dari biaya. Meskipun demikian, jika dasar tersebut digunakan
maka tidak ada pertimbangan atas modal yang diperlukan. Dasar secara
konsep

lebih

baik

adalah persentase

dari

investasi,

tetapi

untuk

menghitung investasi yang akan dikenakan ke setiap produk yang


dihasilkan dapat menimbulkan permasalahan teknis. Jika menggunakan
dasar biaya historis suatu aktiva, maka fasilitas baru yang dirancang
untuk mengurangi harga secara aktual dapat meningkatkan biaya karena
aktiva yang lama menjadi dinyatakan terlalu rendah.
Masalah kedua dalam penyisihan laba adalah besarnya jumlah laba.
Persepsi manajemen senior atas kinerja keuangan dari suatu pusat laba
akan dipengaruhi oleh laba yang ditunjukkan oleh pusat laba tersebut.
Konsekuensi, jika mungkin, penyisihan laba harus dapat mendekati tingkat
pengembalian yang akan diperoleh seandainya unit usaha tersebut
merupakan

perusahaan

independen

yang

menjual

produknya

ke

konsumen luar. Solusi konseptual adalah membuat penyisihan laba


berdasarkan investasi yang dibutuhkan untuk memenuhi volume yang
diminta oleh pusat laba pembeliaan. Nilai investasi tersebut dihitung pada
tingkat standar, dengan aktiva tetap dan persediaan pada tingkat biaya
pengganti.
Biaya Tetap dan Laba Hulu
Penetapan harga transfer dapat menimbulkan permasalahan yang
cukup serius dalam perusahaan yang terintegrasi. Pusat laba yang pada
akhirnya menjual produk ke pihak luar mungkin tidak menyadari jumlah
biaya tetap dan laba bagian hulu yang terkandung di dalam harga
pembelian internal. Bahkan jika tingakat pusat laba terakhir menyadari
adanya biaya tetap dan laba tersebut, pusat laba itu mungkin enggan
untuk mengurangi labanya guna mengoptimalkan laba perusahaan.

Metode-metode yang digunakan oleh perusahaan untuk mengatasi


masalah ini adalah dengan cara-cara berikut.
Persetujuan Antarunit Usaha
Beberapa perusahaan membuat mekanisme formal dimana wakilwakil dari unit pembelian dan penjualan bertemu secara berkala untuk
memutuskan harga penjualan ke pihak luar dan pembagian laba untuk
produk-produk dengan biaya tetap dan laba bagian hulu yang signifikan.
Mekanisme ini hanya bekerja bila proses peninjaunya terbatas pada
keputusan-keputusan yang melibatkan jumlah bisnis yang signifikan bagi
paling tidak satu pusat laba; sebab bila tidak demikain halnya, negosiasi
ini akan sia-sia.
Dua Langkah Penentuan Harga
Cara lain untuk mengatasi masalah ini adalah dengan membuat
harga transfer yang meliputi dua beban. Pertama, untuk setiap unit yang
terjual pembebanan biaya dilakukan dalam jumlah yang sama dengan
biaya variable standar produksi. Kedua, pembebanan biaya berkala
(biasanya setiap bulan) dilakukan dalam jumlah yang sama dengan biaya
tetap yang berkaitan dengan fasilitas yang disediakan untuk unit
pembelian. Salah satu atau dua komponen tersebut harus memasukkan
margin laba .
Berikut ini merupakan beberapa hal yang harus dipertimbangkan
dalam menerapkan metode penentuan harga dua langkah:
1. Pembebanan biaya per bulan untuk biaya tetap dan laba harus
dinegosiasikan secara berkala dan bergantung dari kapasitas yang
digunakan oleh unit pembelian.
2. Pertanyaan mungkin timbul mengenai keakuratan alokasi investasi
dan biaya. Dalam beberapa situasi, mengalokasikan biaya dan asset
kepada produk secara individual tidaklah sulit. Dalam kejadian
manapun, keakuratan yang mendekati adalah cukup memadai.
Permasalahan utama bukan terletak pada teknik alokasi ; melainkan
pada keputusan mengenai jumlah kapasitas yang akan disediakan
untuk berbagai produk. Lebih lanjut lagi, jika kapasitas yang
disediakan untuk berbagai jenis produk dijual ke unit usaha yang
sama, maka tidak perlu mengalokasikan biaya tetap dan investasi
ke produk individual dalam kelompok tersebut.

3. Dengan sistem penentuan harga ini, kinerja laba dari unit produksi
tidak

dipengaruhi

volume

penjualan

dari

unit

final.

Hal

ini

menyelesaikan masalah yang muncul ketika usaha pemasaran oleh


unit usaha lain mempengaruhi kinerja laba dari unit produksi murni.
4. Mungkin terdapat konflik antara kepentingan dari unit produksi
dengan kepentingan perusahaan. Jika kapasitas terbatas, unit
produksi

dapat

meningkatkan

laba

dengan

menggunakan

kapasitasnya untuk memproduksi bagian untuk dijual ke pihak luar,


jika hal tersebut

menguntungkan. (kelemahan ini diatasi dengan

menetukan bahwa unit pemasaran memiliki prioritas utama dalam


menggunakan kapasitas tersebut.)
5. Metode ini mirip dengan penentuan harga ambil atau bayar yang
sering digunakan oleh perusahaan-perusahaan sarana

umum,

saluran pipa, dan tambang batu bara, serta dalam kontrak jangka
panjang lainnya.
Pembagian Laba
Jika sistem penetuan harga dua langkah tidak dapat digunakan,
maka sistem pembagian laba dapat digunakan untuk memastikan
keselarasan antara kepentingan unit usaha dan perusahaan. Sistem
tersebut beroperasi dengan cara sebagai berikut :
1. Produk tersebut ditransfer ke unit pemasaran pada biaya variable
standart.
2. Setelah produk

tersebut

terjual,

unit-unit

usaha

membagi

konstribusi yang dihasilkan, yang merupakan harga penjualan


dikurangi biaya variable produksi dan pemasaran.
Metode penentuan harga ini mungkin tepat jika permintaan akan
produk yang dihasilkan tidak cukup stabil untuk menjamin lokasi fasilitas
secara permanen, seperti dalam metode dua langkah. Pada umumnya,
metode ini benar-benar membuat kepentingan unit pemasaran selaras
dengan kepentingan perusahaan.
Melaksanakan sistem pembagian

laba

semacam

ini

akan

menimbulkan beberapa masalah teknis. Pertama, mungkin saja terdapat


argumen-argumen mengenai cara pembagian konstribusi antara dua
pusat laba, dan manajemen senior akan turun tangan untuk menangani
masalah tersebut. Hal ini akan memakan waktu dan biaya, serta
bertentangan dengan alasan dasar dari desentralisasi, yaitu otonomi para

manajer unit usaha. Kedua, membagi laba diantara pusat laba secara
arbitrer tidak memberikan informasi yang tepat mengenai profitabilitas
dari masing-masing pusat laba. Ketiga, karena konstribusi yang ada tidak
akan dialokasikan

sampai penjualan selesai dilakukan, maka kontribusi

unit produksi bergantung pada kemapuan unit pemasaran untuk menjual


pada harga penjualan aktual. Unit produksi mungkin merasa diperlakukan
dengan tidak adil dalam situasi ini.
Dua Kelompok Harga
Dalam metode ini, pendapatan unit produksi akan dikreditkan pada
harga jual ke luar dan unit pembeliaan dibebankan dengan total biaya
standar. Selisihnya dibebankan kedalam akun kantor pusat dan dieliminasi
ketika laporan keuangan unit usaha dikonsolidasikan. Metode penentuan
harga transfer ini terkadang digunakan ketika ada konflik antara unit
pembelian dan penjualan yang tidak dapat diselesaikan oleh metode lain.
Baik unit pembelian maupun penjualan memperoleh manfaat dari metode
ini.
Tetapi ada kelemahan dari sistem yang menggunakan dua kelompok
harga.
1. Jumlah laba unit usaha akan lebih besar dari laba perusahaan
secara keseluruhan. Pihak manajemen senior harus menyadari
situasi ini ketika mereka menyetujui anggaran untuk unit-unit usaha
dan harus mengadakan evaluasi secara berkala atas kinerja dari
anggaran tersebut.
2. Sistem ini menciptakan suatu ilusi bahwa unit usaha menghasilkan
uang,

sementara

pada

kenyataannya

perusahaan

secara

keseluruhan mengalami kerugian karena debit ke kantor pusat.


3. Sistem ini dapat memicu unit usaha untuk hanya berkonsentrasi
pada transfer internal, karena terpaku pada markup yang bagus dan
mengorbankan penjualan ke luar.
4. Ada tambahan pembukuan yang terlibat dalam pendebitan akun
kantor pusat setiap kali ada transfer dan kemudian eliminasi atas
akun ini ketika laporan keuangan unit usaha dikonsolidasi.
5. Fakta bahwa konflik diantara unit bisnis akan berkurang dalam
sistem tersebut dapat dilihat sebagai kelemahan.

Kadang-kadang

konflik mengenai harga transfer menandakan adanya permasalahan


didalam struktur organisasi atau dalam sistem manajemen. Dengan

metode dua kelompok harga, konflik-konflik ini dapat dikurangi


sehingga

tidak

menghadapkan

manajemen

senior

kepada

permasalahan seperti ini.

Penentuan Harga Jasa Korporat


Terdapat beberapa masalah terkait pembebanan unit usaha atas jasa-jasa yang
disediakan oleh unit staf korporat. Unit usah tidak memiliki kendali atas biaya dari jasa ini.
Jika seluruh biaya ini dibebankan, maka semua biaya itu akan dialokasikan, dan alokasi tidak
memasukkan komponen laba, dan juga bukan harga transfer. Terdapat dua jenis transfer,
yaitu:
1. Untuk jasa pusat yang harus diterima unit penerima, dimana unit penerima dapat
mengendalikan jumlah yang digunakan, paling tidak secara parsial.
2. Untuk jasa pusat yang dapat diputuskan oleh unit usaha apakah akan digunakannya
atau tidak.
Pengendalian atas Jumlah Jasa
Unit usaha mungkin diharusnkan untuk menggunkan staf korporat untuk jasa-jasa
tertentu. Dalam situasi seperti ini, manajer unit usaha tidak dapat mengendalikan efisiensi
kerja
dari kegiatan tersebut, namun manajer dapat mengendalikan jumlah jasa yang diterimanya.
Ada tiga teori pemikiran mengenai jasa-jasa seperti ini :
1. Teori pertama menyatakan bahwa suatu unit usaha harus membayar biaya variabel
standar dari jasa yang diberikan. Jika diharuskan membayar kurang dari itu, maka unit
usaha akan menggunakan jasa-jasa dalam jumlah yang lebih banyak daripada yang
dibenarkan secara ekonomis. Sebaliknya, jika unit usaha diharuskan membayar lebih
dari biaya variabelnya, maka mereka mungkin tidak akan menggunakan jasa-jasa
tersebut.
2. Teori pemikiran yang kedua menyarankan harga yang sama dengan biaya variabel
standar ditambah bagian yang wajar dan biaya tetap standar, yaitu biaya penuh. Jika
unit usaha tidak mempercayai bahwa jasa tersebut bernilai sebesar itu, maka ada
sesuatu
yang salah dalam kualitas dan efisiensi dari unit usaha tersebut.
3. Teori pemikiran yang ketiga menyarankan harga yang sama dengan harga pasar, atau

biaya penuh standar ditambah dengan margin labanya. Harga pasar akan digunakan
jika memungkinkan, jika tidak maka harga sebesar biaya penuh ditambah dengan ROI
yang akan digunakan.
Modal yang digunakan oleh unit jasa sebaiknya memperoleh tingkat pengembalian
atas modal yang digunakan sebagaimana dengan unit produksi. Jika unit usaha menggunakan
jasa mereka sendiri, mereka harus mengeluarkab investasi tambahan.
Pilihan Penggunaan Jasa
Pihak manajemen mungkin memutuskan bahwa unit-unit usaha dapat memilih apakah
akan menggunakan unit jasa sentral atau tidak. Unit-unit usaha dapat memperoleh jasa
tersebut dari pihak luar, mengembangkan kemampuan mereka, atau tidak menggunakan jasa
ini sama sekali. Jika pelayanan internal tidak kompetitif dibandingkan dengan penyedia jasa
dari luar, maka ruang lingkup dari aktivitas mereka akan dikontrakkan atau jasa-jasa mereka
sepenuhnya didapat dari luar perusahaan.
Dalam situasi ini, manajer unit usaha dapat mengendalikan baik jumlah maupun
efisiensi dari jasa pusat. Harga transfernya harus berdasarkan pada pertimbanngan yang sama
dengan pertimbangan yang mengendalikan harga transfer yang lain. Harga yang dibebankan
untuk jasa korporat tidak akan mencapai tujuan yang dimaksudkan, kecuali jika metode untuk
menghitungnya dapat dimengerti dan dipahami dengan cukup mudah oleh para manajer unit
usaha.

Administrasi Harga Transfer


Administrasi harga transfer berkaitan dengan bagaimana pelaksanaan kebijakan harga
transfer yang telah dipilih, yang terdiri atas:
1. Negosiasi
Umumnya, dalam perusahaan, unit usaha menegosiasikan harga transfer satu sama
lain. Alasan utama untuk hal ini adalah kepercayaan bahwa dengan menetapkan harga
jual dan mencapai kesepakatan atas harga pembelian yang paling sesuai merupakan
salah satu fungsi utama dari manajemen lini. Jika kantor pusat mengendalikan
penentuan harga, maka kemampuan manajeman lini untuk memperbaiki profitabilitas
akan semakin berkurang. Satu harga transfer yang telah dinegosiasikan sering kali
merupakan hasil kompromi antara pihak pembeli dengan penjual. Alasan lainnya, unit
usaha biasanya memiliki informasi yang paling baik mengenai pasar dan biaya-biaya

yang ada, sehingga merupakan pihak yang paling tepat untuk mencapai harga yang
pantas.
Unit-unit usaha harus mengentahui aturan dasar yang dijadikan patokan dalam
melakukan negosiasi harga. Di sebagian perusahaan, unit usaha diberi kebebasan
untuk
bertransaksi satu sama lain, atau dengan perusahaan luar, dengan syarat, jika impas,
maka bisnis tersebut harus tetap di dalam perusahaan. Jika hal ini dilaksanakan dan
terdapat sumber luar dan pasar luar, maka tidak ada lagi prosedur administrasi yang
harus dipenuhi. Harga ditentukan di pasar luar, dan jika unit usaha tidak dapat menyetujui harga tersebut, maka unit bisnis tersebut dengan mudah membeli atau menjual ke
pihak lain.
2. Arbitrase dan Penyelesaian Konflik
Mungkin akan ada kasus dimana unit-unit usaha tidak dapat menyetujui harga tertentu. Untuk alasan tersebut suatu prosedur harus dibuat untuk menengahi arbitrase harga
transfer. Dalam banyak kasus, arbitrase harga transfer merupakan tanggung jawab dari
kelompok atau eksekutif tingkat atas kantor pusat, karena keputusan arbitrase memiliki dampak yang sangat mempengaruhi laba unit-unit usaha.
Dalam sistem yang formal, kedua pihak menyerahkan kasus secara tertulis kepada
pihak penengah/pendamai (arbitrator). Arbitrator akan meninjau posisi mereka
masing-masing dan memutuskan harga yang akan diterapkan, kadangkala dengan
bantuan
staf lainnya.
Penting untuk menyelesaikan arbitrase sekecil apa pun. Jika banyak arbitrase yang
terjadi, hal ini menunjukkan bahwa peraturan yang ada masih kurang spesifik atau
sulit dilaksanakan, atau pengelolaan unit usahanya tidak rasional. Arbitrase tidak
hanya membuang-buang waktu manajer lini dan eksekutif kantor pusat, harga yang
dihasilkan juga tidak dapat memuaskan kedua pihak yang bertikai, baik pihak penjual
maupun pihak pembeli.
Selain tingkat formalitas arbitrase, jenis proses penyelesaian konflik yang digunakan
juga mempengaruhi efektivitas suatu sistem harga transfer. Terdapat empat cara
untuk menyelesaikan konflik, yaitu memaksa, membujuk, menawarkan, dan
penyelesaian masalah. Mekanisme penyelesaian konflik beragam, dari menghindari
konflik melalui memaksa dan membujuk, sampai penyelesaian konflik melalui menawarkan dan penyelesaian masalah.

3. Klasifikasi produk
Luas dan formalitas dari perolehan sumber daya dan peraturan penentuan harga
transfer bergantung pada banyaknya jumlah transfer dalam perusahaan dan ketersediaan pasar serta harga pasar. Jika harga selalu siap sedia, maka perolehan sumber daya
dapat dikendalikan dengan peninjauan kantor pusat atas keputusan buat atau beli yang
melebihi jumlah tertentu. Beberapa perusahaan membagi produknya ke dalam dua
kelas, yaitu :

Kelas I meliputi seluruh produk untuk mana manajemen senior ingin mengendalikan perolehan sumber daya. Produk ini biasanya merupakan produkproduk yang bervolume besar, produk-produk yang tidak memiliki sumber
dari luar, dan produk-produk yang produksinya tetap ingin dikendalikan oleh
pihak manajemen demi alasan kualitas atau alasan tertentu.

Kelas II meliputi seluruh produk lainnya. Secara umum, ini merupakan


produk-produk yang dapat diproduksi di luar perusahaan tanpa adanya
gangguan
terhadap operasi yang sedang berjalan, volumenya relative kecil, diproduksi
dengan peralatan umum. Produk Kelas II ditransfer pada harga pasar.

Perolehan sumber daya untuk produk Kelas I hanya dapat diubah hanya dengan izin dari
manajemen pusat. Perolehan sumber daya untuk produk Kelas II ditentukan oleh unit-unit
usaha yang terlibat, mereka dapat dengan bebas bertransaksi dengan pihak dalam maupun
luar.