Anda di halaman 1dari 6

Biografi K.H.

Imam Hambali

A. Riwayat Imam Ahmad bin Hanbal


Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal
bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin Auf bin
Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsalabah adz-Dzuhli asySyaibaniy atau Al Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal bin Hilal Azzdahili
Assyaibani atau Imam Ahmad bin Hanbal dan di Indonesia beliau disebut
dengan nama Imam Hambali. Beliau lahir
Awwal

di Bagdad pada bulan Rabiul

pada tahun 164 H. Dan beliau wafat pada permulaan hari Jumat

tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 241 H. Orang tua beliau pindah dari kota
Marwa, tempat tinggal sang ayah, ke kota Baghdad. Di kota itu beliau
dilahirkan, Ayah beliau, Muhammad, meninggal dalam usia muda, 30 tahun,
ketika beliau baru berumur tiga tahun.
Ahmad bin Hanbal adalah seorang imam yang banyak berkunjung ke
berbagai negara untuk mencari ilmu pengetahuan, antara lain : Siria, Hijaz,
Yaman, Kufah dan Basrsh.
Beliau mendapatkan pendidikannya yang pertama di kota Baghdad.
Saat itu, kota Bagdad telah menjadi pusat peradaban dunia Islam, yang
penuh dengan manusia yang berbeda asalnya dan beragam kebudayaannya,
serta penuh dengan beragam jenis ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para
qari, ahli hadits, para sufi, ahli bahasa, filosof, dan sebagainya.
Setamatnya menghafal Alquran dan mempelajari ilmu-ilmu bahasa
Arab di al-Kuttab saat berumur 14 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya
ke ad-Diwan.
Perhatian beliau saat itu memang tengah tertuju kepada keinginan
mengambil hadits dari para perawinya. Beliau mengatakan bahwa orang
pertama yang darinya beliau mengambil hadits adalah al-Qadhi Abu Yusuf,
murid/rekan Imam Abu Hanifah.
Imam Ahmad tertarik untuk menulis hadits pada tahun 179 saat
berumur 16 tahun. Beliau terus berada di kota Baghdad mengambil hadits
dari syaikh-syaikh hadits kota itu hingga tahun 186. Beliau melakukan
mulazamah kepada syaikhnya, Hasyim bin Basyir bin Abu Hazim al-Wasithiy

hingga syaikhnya tersebut wafat tahun 183. Disebutkan oleh putra beliau
bahwa beliau mengambil hadits dari Hasyim sekitar tiga ratus ribu hadits
lebih.
Pada tahun 186, beliau mulai melakukan perjalanan (mencari hadits)
ke Bashrah lalu ke negeri Hijaz, Yaman, dan selainnya. Tokoh yang paling
menonjol

yang

beliau

temui

dan

mengambil

ilmu

darinya

selama

perjalanannya ke Hijaz dan selama tinggal di sana adalah Imam Syafii.


Beliau banyak mengambil hadits dan faedah ilmu darinya. Imam Syafii sendiri
amat memuliakan diri beliau dan terkadang menjadikan beliau rujukan dalam
mengenal keshahihan sebuah hadits. Ulama lain yang menjadi sumber beliau
mengambil ilmu adalah Sufyan bin Uyainah, Ismail bin Ulayyah, Waki bin alJarrah, Yahya alQaththan, Yazid bin Harun, dan lain-lain. Beliau berkata, Saya tidak
sempat bertemu dengan Imam Malik, tetapi Allah menggantikannya untukku
dengan Sufyan bin Uyainah. Dan saya tidak sempat pula bertemu dengan
Hammad bin Zaid, tetapi Allah menggantikannya dengan Ismail bin Ulayyah.
Beliau baru menikah setelah berumur 40 tahun. Ada orang yang
berkata kepada beliau, Wahai Abu Abdillah, Anda telah mencapai semua ini.
Anda telah menjadi imam kaum muslimin.? Beliau menjawab, Bersama
mahbarah (tempat tinta) hingga ke maqbarah (kubur). Aku akan tetap
menuntut ilmu sampai aku masuk liang kubur.
Dan memang senantiasa seperti itulah keadaan beliau: menekuni
hadits, memberi fatwa, dan kegiatan-kegiatan lain yang memberi manfaat
kepada kaum muslimin. Sementara itu, murid-murid beliau berkumpul di
sekitarnya, mengambil darinya (ilmu) hadits, fiqih, dan lainnya. Ada banyak
ulama yang pernah mengambil ilmu dari beliau, di antaranya kedua putra
beliau, Abdullah dan Shalih, Abu Zurah, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, alAtsram, dan lain-lain.
Beliau menyusun kitabnya yang terkenal, al-Musnad, dalam jangka
waktu sekitar enam puluh tahun dan itu sudah dimulainya sejak tahun tahun
180 saat pertama kali beliau mencari hadits. Beliau juga menyusun kitab
tentang tafsir, tentang an-nasikh dan al-mansukh, tentang tarikh, tentang yang
muqaddam dan muakhkhar dalam Alquran, tentang jawaban-jawaban dalam
Alquran. Beliau juga menyusun kitab al-Manasik ash-Shagir dan al-Kabir,
kitab az-Zuhud, kitab ar-Radd ala al-Jahmiyah wa az-Zindiqah (Bantahan

kepada Jahmiyah dan Zindiqah), kitab as-Shalah, kitab as-Sunnah, dan lainlain. Beliau dapat menghimpun sejumlah 40.000 hadis dalam kitab
Musnadnya..

B. Mazhab Imam Ahmad bin Hanbal


1. Dasar-dasar Mazhabnya
Adapun dasar-dasar mazhabnya dalam mengistinbatkan hukum adalah :
a. Nash Al Qur-an atau nash hadits.
b. Fatwa sebagian Sahabat.
c. Pendapat sebagian Sahabat.
d. Hadits Mursal atau Hadits Doif.
e. Qiyas.
Dalam menjelaskan dasar-dasar fatwa Ahmad bin Hanbal ini didalam kitabnya
Ilaamul Muwaaqiin.

2. Pengembang-pengembang Mazhabnya
Adapun ulama-ulama yang mengembangkan mazhab Ahmad bin Hanbal
adalah sebagai berikut :
a. Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Hani yang terkenal dengan nama Al
Atsram; dia telah mengarang Assunan Fil Fiqhi Alaa Mazhabi Ahamd.
b. Ahmad bin Muhammad bin Hajjaj al Marwazi yang mengarang kitab As
Sunan Bisyawaahidil Hadis.
c. Ishaq bin Ibrahim yang terkenal dengan nama Ibnu Ruhawaih al Marwazi
dan termasuk ashab Ahmad terbesar yang mengarang kitab As Sunan Fil
Fiqhi.
Ada beberapa ulama yang mengikuti jejak langkah Imam Ahmad yang
menyebarkan mazhab Hambali, diantaranya :

1. Muwaquddin Ibnu Qudaamah al Maqdisi yang mengarang kitab Al


Mughni.
2. Syamsuddin Ibnu Qudaamah al Maqdisi pengarang Assyarhul Kabiir.
3. Syaikhul Islam Taqiuddin Ahmad Ibnu Taimiyah pengarang kitab terkenal
Al Fataawa.
4. Ibnul Qaiyim al Jauziyah pengarang kitab Ilaamul Muwaaqiin dan
Atturuqul Hukmiyyah fis Siyaasatis Syariyyah.Ibnu Taimiyah dan Ibnul

Qaiyim adalah dua tokoh yang membela dan mengembangkan mazhab


Hambali.
C. Kitab Peninggalan Imam Ahmad bin Hanbal
Imam Ahmad bin Hanbal telah meninggalkan sederet warisan berupa
kitab-kitab ilmu agama yang ditulis sepanjang hidupnya. Berikut ini adalah
karya sang Imam: * Kitab Al Musnad Al-Kabir: memuat lebih dari 27 ribu
hadis:

1. Kitab at-Tafsir. Menurut Adz-Dzahabi, kitab ini telah hilang.


2. Kitab an-Nasikh wa al-Mansukh
3. Kitab at-Tarikh
4. Kitab Hadis Syu'bah
5. Kitab al-Muqaddam wa al-Mu'akkhar fi Alquran
6. Kitab Jawabah Alquran
7. Kitab al-Manasik al-Kabir
8. Kitab al-Manasik as-Saghir
9. Kitab al-'Ilal
10. Kitab al-Manasik
11. Kitab az-Zuhd
12. Kitab al-Iman
13. Kitab al-Masa'il
14. Kitab al-Asyribah
15. Kitab al-Fadha'il
16. Kitab Tha'ah ar-Rasul
17. Kitab al-Fara'idh
18. Kitab ar-Radd ala al-Jahmiyyah Ulama Terkemuka Pengikut Mazhab
Hambali
Al-Khallal (wafat 311 H) adalah seorang pelajar dari sahabat dekat dan
murid Imam Hambali. Ia berjasa telah mengumpulkan tanggapan Imam
Ahmad bin Hanbal dari murid-muridnya yang tersebar di seluruh dunia Islam.
* Al-Khiraqi (wafat 334 H). Ia adalah ulama yang meringkas Jami' al-Khallal ke
dalam sebuah buku pegangan fikih, induk dari seluruh buku pegangan fikih
dalam Mazhab Hambali. * Ghulam al-Khallal (wafat 363 H). Ia adalah murid
Al-Khallal dan penulis sejuhmlah kitab dalam berbagai disiplin ilmu. * Ibnu
Hamid (wafat 403 H). Ulama yang satu ini tercatat sebagai penganut Mazhab
Hambali terkemuka di zamannya. * Al-Qadhi Abu Ya'la (wafat 458 H).

Sejatinya dia adalah ulama yang terlahir dari keluarga yang menganut
Mazhab Hanafi. Setelah belajar dari Ibnu Hamid, ia akhirnya menjadi ulama
yang mengembangkan Mazhab Hambali. * Abu al-Khattab (wafat 510 H). Ia
adalah murid dari Al-Qadhi Abu Ya'la. Abu Al-Khattab tercatat sebagai penulis
sederet kitab yang juga sangat penting dalam pengembangan Mazhab
Hambali. Salah seorang muridnya adalah `Abd al-Qadir al-Jailani. * Abu
Isma'il al-Harawi (wafat 481 H). Ia adalah ulama dan ahli hukum yang
beraliran Mazhab Hambali. Ia dikenal sebagai salah seorang Sufi terkemuka
dalah sejarah. Kitabnya yang paling terkenal adalah Manazil al-Sa'irin,
sebuah buku pegangan dalam Tasawuf. * Abdul-Qadir al-Jailani (wafat 561
H). Ia adalah ulama bermazhab Hambali. Seorang pemuka agama yang
hebat dan sufi yang berpengaruh. Ia pendiri Tarekat Qadiriyah. * Ibnu al-Jawzi
(wafat 597 H). Dikenal sebagai ahli hukum, ahli tafsir yang turut
mengembangkan Mazhab Hambali. * Ibnu Qudama al-Maqdisi (wafat 620 H).
salah seorang ulama terkemuka yang mengembangkan Mazhab Hambali. Ia
termasyhur lewat buku hukumnya yang berjudul Al-Mughni. * Majd al-Din Ibn
Taymiyah (wafat 653 H). Pakar bahasa, ahli hukum, dan tafsir dari Harran ini
juga dikenal sebagai ulama yang mengembangkan Mazhab Hambali. Taqi alDin Ibn Taymiyah (wafat 728 H). Inilah tokoh legendaris dalam sejarah Islam.
Dan dengan keteguhan di atas kebenaran yang Allah berikan kepadanya
itu, maka madzhab Ahlussunnah pun dinisbatkan kepada dirinya karena
beliau sabar dan teguh dalam membelanya. Ali bin al-Madiniy berkata
menggambarkan keteguhan Imam Ahmad, Allah telah mengokohkan agama
ini lewat dua orang laki-laki, tidak ada yang ketiganya. Yaitu, Abu Bakar asShiddiq pada Yaumur Riddah (saat orang-orang banyak yang murtad pada
awal-awal pemerintahannya), dan Ahmad bin Hanbal pada Yaumul Mihnah.
D. Daerah yang Menganut Mazhab Imam Ahmad bin Hanbal
Awal perkembangannya, mazhab Hambali berkembang di Bagdad, Irak
dan Mesir dalam waktu yang sangat lama. Pada abad XII mazhab Hambali
berkembang terutama pada masa pemerintahan Raja Abdul Aziz As Suudi.
Dan masa sekarang ini menjadi mazhab resmi pemerintahan Saudi Arabia

dan mempunyai penganut terbesar di seluruh Jazirah Arab, Palestina, Siria


dan Irak.

Daftar Pustaka
1. http://www.republika.co.id/berita/ensiklopediaislam/khazanah/09/03/25/39967-imam-ahmad-bin-hanbal-legenda-pendirimazhab-hambali
2. http://seputarbiografi.blogspot.com/2012/04/imam-hambali.html
3. http://hasbiedaud.wordpress.com/2007/09/03/mazhab-hambali/