Anda di halaman 1dari 206

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)

-8-

Modul 1

1.1. Judul : Gaya –Gaya dan Keseimbangan Gaya

Tujuan Pembelajaran Umum :


Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya.

Tujuan Pembelajaran Khusus :


Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana
bisa melakukan penjumlahannya

1.1.1. Pendahuluan
Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik
karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya,
sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian
yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan
memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami
permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada
suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban
luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya.
Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan
* Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah
suatu beban atau gaya.

struktur jembatan
gaya
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya

 Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.


Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan
skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan
besarnya gaya.

* Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg

Panjang gaya arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi)


1 cm ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah
dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah
gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm
karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg.
* Contoh 2
Batu diatas meja dengan berat 10 kg

Panjang gaya = 1 cm Arah berat = kebawah (sesuai arah


gravitasi) ditunjukkan dengan gambar
anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja
dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan
panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3

15 kg
Orang mendorong mobil
mogok kemampuan orang
mendorong tersebut adalah 15 kg.

1 cm Panjang gaya
Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan
dengan gambar anak panah arah kesamping
dengan skala 1 cm = 15 kg
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil
mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah
dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

 Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya


Seperti contoh di bawah :
Contoh
* Garis kerja gaya orang yang mempunyai
berat 50 kg tersebut adalah vertikal
Garis kerja
gaya

Orang dengan berat 50 kg

garis kerja gaya

15 kg Garis kerja gaya untuk

mendorong mobil
mogok tersebut
adalah horisontal

 Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut.


Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan
orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya


Titik tangkap gaya

50 kg
gaya

15 kg
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-11-

1.1.3. Sifat Gaya


Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam
daerah garis kerja gaya
Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya.

Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru

garis kerja gaya Posisi gaya K1 lama

K1

Posisi gaya K1 baru

Gambar 1.1. Gambar garis kerja gaya

1.1.4. Penjumlahan Gaya


Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis


Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi
gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan
secara grafis.
A C K1, K2 adalah gaya-gaya yang
akan dijumlahkan
K1 R = K1 + K2 Urut-urutan penjumlahan
Buat urut-urutan penjumlahan
garis sejajar dengan K1 dan K2
di ujung gaya, (K1 diujung K2
D dan sehingga K2 diujung K1 )
K2 B
membentuk bentuk jajaran
genjang D.A.C.B
Titik tangkap gaya Salah satu diagonal yang panjang
tersebut yaitu R adalah
merupakan jumlah dari K1 dan
K2
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-12-

Gambar 1.2. Penjumlahan gaya secara grafis

 Penjumlahan 2 gaya yang sebidang, tapi titik tangkapnya tidak sama..


Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya.

R = K1 + K2 K1 dan K2 adalah gaya-gaya


A B yang akan dijumlahkan.

2 gaya tersebut tidak mem-


Posisi awal (K2)KK2 2
punyai titik tangkap yang
sama, tapi masih sebidang.
Posisi awal
KK1 1 (K1)
0 C
K1

Gambar 1.3 Penjumlahan gaya secara grafis, yang titik tangkapnya tidak sama

Urutan-urutan penjumlahan

- Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja


gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K 2, pertemuannya di titik
0.
- Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang
berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang, OABC
- Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari
K1 dan K2.
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-13-

 Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal


Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap

C E
R
R22 = R + K
R1=K1+K2 1 3
= K1 + K2 + K3
R1 R2
A K2
K1, K2 dan K3 adalah gaya-gaya
B
K1 yang akan dijumlahkan dengan
titik tangkap tunggal.
Urut-urutan penjumlahan.
0 K3 D
Jumlahkan dulu K1, K2 dengan cara

Gambar 1.4. Penjumlahan 3 membuat garis sejajar dengan


gaya secara grafis gaya-gaya tersebut (K1, K2) di

ujung-ujung gaya yang


berlainan sehingga membentuk
suatu jajaran genjang 0ACB

 Salah satu diagonal terpanjang yaitu R 1 adalah merupakan jumlah K 1 +


K2

 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan


sehingga membentuk jajaran genjang 0CED

 Salah satu diagonal terpanjang (R 2) adalah jumlah dan R1 dan K3


sehingga sama dengan jumlah antara K1, K2 dan K3.

 Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal


 Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap

 Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya.


MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-14-

(posisi awal) Urut-urutan penjumlahan


K1
R1 = K1 + K2 (Posisi awal)  K1, K2 dan K3 adalah gaya-
C K2 gaya yang akan dijumlah-
kan.

 Kerjakan dulu penjumlahan


A antara K1 dan K2 dengan
K1 B
K2 cara :

 Tarik gaya K1 dan K2


0
sehingga titik tangkapnya
R2 = R 1 + K 3
bertemu pada satu titik di
= K1 + K2 + K3
F O.

 Buat garis sejajar K1 dan K2


D
pada ujung-ujung gaya
yang berlainan sehingga
membentuk jajaran gen-
R1
jang OACB
E Posisi awal (K3)

K3
01  Salah satu diagonal yang
Gambar 1.5. Penjumlahan 3 gaya yang tidak terpanjang yaitu R1 adalah
mempunyai titik tunggal, secara
grafis merupakan jumlah dari K1
dan K2.

 Tarik gaya R1 dan K3


sehingga titik tangkapnya
bertemu pada titik di 01
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-15-

 Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga
membentuk jajaran genjang 01, D F E, salah satu diagonal yang terpanjang
adalah R2 yang merupakan jumlah antara R 1 dan K3 berarti jumlah antara K1
dan K2 dan K3.

K3
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-16-
a
K1
b1
D K2
K1
A R
K3 K1
B K2 K4 O
C c

titik tangkap K3
O’ d
K4
R’
e

Polygon Batang Jari-jari Polygon


Gambar 1.6. Polygon batang dan jari-jari polygon

 Gaya K1, K2, K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan

 Untuk pertolongan, perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar)

dengan cara sebagai berikut :


- buat rangkaian gaya K1, K2, K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap
gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon).
- pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya
K1, K2, K3 dan K4 yaitu R, yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi
letak titik tangkapnya belum betul.
- Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R
- Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a, b, c, d,
dan e, garis - garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai
lima buah ( ) pada garis tersebut. Garis-garis tersebut dinamakan
jari-jari polygon.
- Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a
- Dari titik
( A dibuat garis sejajar
) memotong gaya KOb
1
di (titik A.) memotong gaya K 2 di titik B
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-17-

Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di


titik C.
Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( ) memotong K4 di D.
Dari titik D dibuat garis sejajar Oe , perpanjangan garis
dan
( )
garis ( )( ) pada polygon
batang akan ketemu di titik O’
yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K 1, K2, K3
dan K4.
Dari titik O’ dibuat garis sejajar R yaitu garis R’.
Jadi R’ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K 1, K2, K3
dan K4 dengan titik tangkap yang betul, dengan garis kerja melewati 0’

1.1.4.2. Penjumlahan secara analitis


Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat
(salib sumbu) koordinat, yang mana biasanya sering dipakai adalah
sumbu oxy. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan
dijumlahkan, diproyeksikan.
Contoh :
 Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal

y  K1 dan K2 adalah gaya-


gaya yang akan dijumlah-
K2 y K2 kan dimana mempunyai
titik tangkap tunggal di O ;
K1 adalah sudut antara K1
K1 y
dengan sumbu ox
adalah sudut antara K2
  x dengan sumbu ox
O K2x
K1x
 K1 dan K2 diuraikan searah
Gambar 1.7. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y
K1x = K1 cos  ; K2x = K2 cos 
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-18-

K1y = K1 sin  ; K2y = K2 sin 


Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang
searah dengan oy.
Rx = K1x + K2x Rx =  Kx
Ry = K1y + K2y Ry =  Ky
Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari
komponen-komponen tersebut adalah :
R= Rx ²  Ry ²

 Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda

y K1
 K1 dan K2 adalah gaya-gaya
 K1 dan K2 adalah gaya-gaya
yang akan dijumlahkan
K1y
 yang akan dijumlah-kan
dengan letak titik tangkap
dengan letak titik berbeda.
tangkap
K2 berbeda. K1 membentuk sudut 
K1 membentuk dengan 
sudut sumbu ox.
K2y dengan sumbu oxK2 membentuk sudut 

K2 membentukdengan sudut
sumbu ox.
dengan sumbu ox.
 K1 dan K2 diuraikan searah
 K1 dan K2 diuraikan searah
sumbu
dengan sumbu x dan y x dan y.

1x = K1 cos  K2x = K2


O K1x K2x x K1x = K1 cos  ;KK 2x = K2
cos 
cos 
Gambar 1.8. Penjumlahan gaya dengan titik K y = K1 sin  K2y = K2
K1y = K1 cos  ; K1
2y = K2
tangkap berbeda, secara analitis sin 
sin 

Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah


oy.
Rx = K1x + K2x Rx =  Kx
Ry = K1y + K2y Ry =  Ky

Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari


komponen-komponen tersebut adalah :
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-19-

R= Rx ²  Ry ²

1.1.5. Latihan
Dua gaya yang mempunyai titik tangkap
1. yang sama seperti seperti pada gambar.
K1
K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton, sudut yang
dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah
45° 45°.
K2
Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut
(R) baik secara analitis maupun grafis

2.
K1
Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik
tangkap yang sama
K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton
Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan
K2
membentuk sudut 60°

Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis.

3. Empat gaya K1, K2, K3 dan


K4, dengan besar dan arah
5 ton 7 ton 9 ton 4 ton
seperti pada gambar
0
K1 K2 K3 K4
Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya
tersebut (R) dengan cara polygon batang.

1.1.6. Rangkuman

 Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta
diketahui letak titik tangkapnya.

 Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya

 Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis.


MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-20-

 Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan
bantuan polygon batang.

1.1.7. Penutup
Untuk mengukur prestasi, mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci
yang ada, secara bertahap.
Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis, sedang soal no. 3
hanya berupa grafis, skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol
berapa skor yang didapat.

No. soal Sub Jawaban Jawaban Skor Nilai


1 Analitis R = 11,1 ton
sdt = 22,5° dari 50
sumbu x
Grafis R = 11,1 ton
sdt = 22,5° dari 50
sumbu x
2 Analitis R = 12,5 ton
sdt = 30° dari 50
sumbu x
Grafis R = 12,5 ton
sdt = 30° dari 50
sumbu x
3 Grafis
Jari-jari polygon R = 24 ton 50
Polygon batang 50

1.1.8. Daftar Pustaka


1. Samuel E. French, “Determinate Structures” ITP (International
Thomson Publishing Company) 1996. Bab I.
2. Suwarno. “Mekanika Teknik Statis Tertentu” UGM bab I.
3. Soemono. “Statika I” ITB. Bab I

1.1.9. Senarai
Gaya = mempunyai besar dan arah
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-21-

Resultante = jumlah
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-22-

1.2. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK

Tujuan Pembelajaran Umum


Setelah membaca bagian ini, maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu
bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil, sehingga dalam menerima
pelajaran akan lebih mudah menerima.
Tujuan Pembelajaran Khusus

Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu


bidang Teknik Sipil, mengerti tentang beban, kolom, balok, reaksi dan gaya
dalam, serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik.

1.2.1. Pendahuluan

Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara
tentang bangunan gedung, jembatan dan lainsebagainya, maka mahasiswa perlu
tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik, apa
itu beban, balok, kolom, reaksi, gaya dalam dan bagaimana cara
penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik.
Contoh :
a. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik

kolom Kolom = tiang-tiang vertical


Balok = batang-batang
horisontal

balok

perletakan

Gambar 1.9. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika


teknik
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-23-

b. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik.

balok

perletaka
n
Gambar 1.10. Gambar jembatan dalam mekanika teknik

1.2.2. Beban
Didalam suatu struktur pasti ada beban, beban yang bisa bergerak umumnya
disebut beban hidup misal : manusia, kendaraan, dan lain
sebagainya. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati,
misal : meja, peralatan dan lainsebagainya. Ada beberapa macam
beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata.

a. Beban terpusat
Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat.
a.1.

manusia yang berdiri diatas jembatan

P
beban terpusat
Penggambaran dalam mekanika teknik

a.2.

Kendaraan berhenti diatas jembatan

P1 P2 P3

Penggambaran dalam mekanika teknik


MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-24-

Notasi beban terpusat = P

Satuan beban terpusat = ton, kg, Newton, dan lainsebagainya,

Gambar 1.11. Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik

b. Beban terbagi rata

Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah
memanjang maupun ke arah luas.

anak-anak berbaris diatas


jembatan

q t/m’
Penggambaran dalam mekanika teknik

Notasi beban terbagi rata = q


Satuan beban terbagi rata = ton/m’, kg/cm
Newton/m’ dan lainsebagainya.

Gambar 1.12. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik


MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-25-

1.2.3. Perletakan

 Tujuan Pembelajaran Umum :

Setelah membaca modul bagian ini, maka siswa bisa memahami pengertian
tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu
struktur.

 Tujuan Pembelajaran Khusus :

Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang


struktur, konsep pengertian tentang perletakan, serta konsep kedudukan
perletakan dalam suatu struktur.

1.2.3.1. Pendahuluan

Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan


seperti bangunan gedung, jembatan, dan lainsebagainya. Bangunan-bangunan
tersebut harus terletak diatas permukaan bumi, hubungan antara bangunan
tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi.
Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas,
sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan
bawah. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan
yang disebut dengan “Perletakan”.
Contoh :
a. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi.
Struktur jembatan
(bangunan atas)

perletakan
Pondasi
Penggambaran(bangunan
pada mekanika
bawah)
struktur
jembatan

perletakan
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-26-

Gambar 1.13. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik


b. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi

Bangunan gedung (bangunan


atas)
muka tanah
Perletakan (tumpuan)

Pondasi (bangunan bawah)


Penggambaran pada mekanika teknik

perletakan
Gambar 1.14. Gambar perletakan gedung
1.2.3.2. (tumpuan) dalam mekanika teknik
Macam-Macam Perletakan
Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur
supaya kondisinya stabil.
Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol, sendi, jepit dan
perodel.
a.
Rol
Strukt
ur Bentuk perletakan rol, pada
suatu struktur jembatan yang
silinder baja bertugas untuk menyangga
sebagian dari jembatan. (Gambar
1.15)

Karena struktur harus stabil


Rv maka perletakan rol tersebut
tidak boleh turun jika kena beban
Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur, maka oleh
dari atas, rol tersebut
karena bias
itu bergeser
rol
ke arah horizontal.
Gambar jadiperletakan
1.15. Skema tidak bisa rol
mempunyai reaksiharus
tersebut horizontal, bisa berputar
mempunyai reaksi jika
diberi beban momen jadi tidak mempunyaivertical
reaksi momen.
(Rv).
Pada perletakan
jembatan
Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika
Rol teknik, ada reaksi vertikal.

Rv
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-27-

Balok jembatan
Gambar 1.16. Aplikasinya perletakan rol dalam
mekanika teknik
Rv
b. Sendi

RH
Bentuk perletakan
Penggambaran perletakan sendi
sendipadadalam
suatu
Strukt
mekanika struktur jembatan,
teknik, ada reaksi yang bertugas
vertikal dan
horisontal untuk menyangga sebagian dari
RH Rv jembatan (Gambar 1.17).
silinder baja Karena struktur harus stabil, maka

perletakan sendi tidak boleh turun


Rv jika kena beban dari atas, oleh
balok
Gambar 1.17. Skema perletakan Sendi karena itu sendi tersebut harus
jembatan
RPada
H
perletakan
Gambarmempunyai reaksiperletakan
1.18. Aplikasinya vertikal sendi
(Rv).
Selain diitu
dalam mekanika sendi
perletakan teknik tidak

Rv boleh bergeser horizontal. Oleh


karena itu perletakan sendi harus
mempunyai reaksi horizontal (RH),
sendi tersebut bisa berputar jika
Bentuk perletakan jepit dari suatu
balok diberi bebanbertugas
struktur, momen. untuk
Jadi sendi tidak
menahan
sosoran teras balok sosoran teras supaya tidak
punya reaksi momen.
jatuh (Gambar 1.19)
Karena struktur sosoran harus
RH RM stabil maka perletakan jepit tidak
RV
boleh turun jika kena beban dari
kolom
atas, oleh karena itu jepit tersebut
c. Jepit harus mempunyai reaksi vertikal
(Rv). Jepit tersebut tidak boleh
Gambar 1.19. Skema
berputar pada sambungannya jika
perletakan jepit pada
sosoran teras rumah kena beban momen, oleh karena
itu jepit tersebut harus mempunyai
reaksi momen, selain itu jepit juga
tak boleh bergeser secara
horizontal.
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-28-

Penggambaran perletakan jepit dalam


RH
mekanika teknik, ada reaksi vertikal,
horizontal, dan momen
RM

RV
Gambar 1.20. Aplikasi perletakan
RH
jepit di dalam mekanika
teknik
RM

Bentuk perletakan jepit dari suatu


d. PendelRV
balok baja struktur, bertugas untuk menyangga
sebagian dari struktur baja (Gambar
1.21.)
Pendel tersebut hanya bisa menyangga
sebagian jembatan, hanya searah
dengan sumbu pendel tersebut, jadi
pendel hanya mempunyai satu reaksi yang
Gambar 1.21. Skema perletakan searah dengan sumbu pendel.
pendel pada suatu
R R
R Penggambaran perletakan pendel
dalam mekanika teknik, ada reaksi
balok baja searah pendel.

Gambar 1.22. Aplikasi perletakan


pendel di dalam
pende
mekanika teknik
l
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-29-

1.3. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA


Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang
disebut keseimbangan pada suatu benda.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu
struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan, serta manfaatnya dalam
struktur tersebut.

1.3.1. Pendahuluan
Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang
bangunan gedung, jembatan dan lain sebagainya. Bangunan–bangunan
tersebut supaya tetap berdiri, maka struktur-strukturnya harus dalam
keadaan seimbang, hal itu merupakan syarat utama. Apa saja syarat-
syaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang, dan bagaimana cara
menyelesaikannya, mahasiswa perlu mengetahuinya.
Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak)

kotak

lem

meja

Gambar 1.23. suatu kotak yang dilem diatas meja

1.3.2. Pengertian tentang keseimbangan


Sebuah kotak yang dilem diatas meja, maka kotak tersebut dalam keadaan
seimbang, yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun, tidak bisa bergeser
horisontal dan tidak bisa berguling.
a. Keseimbangan vertikal
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-30-

kalau kotak tersebut dibebani


Pv Kotak
secara vertikal (Pv), maka
Lem
kotak tersebut tidak bisa turun,
yang berarti meja tersebut
mampu memberi perlawanan
vertikal (Rv), perlawanan
Meja
vertikal tersebut (Rv) disebut
Pv Rv reaksi vertikal.

Kotak Gambar 1.24. Keseimbangan


vertikal

Bandingkan hal tersebut diatas


dengan kotak yang berada di
atas lumpur

Kalau kotak tersebut dibebani


Lumpur secara vertikal (Pv), maka
kotak tersebut langsung
tenggelam, yang berarti
Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu
memberi perlawanan secara
vertikal (Rv).
(Gambar 1.25)

Gambar 1.25. Kotak tenggelam dalam lumpur

b. Keseimbangan horisontal
Kalau kotak tersebut dibebani
PH Kotak
secara horisontal (PH), maka
Lem
RH kotak tersebut tidak bisa

meja
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-31-

bergeser secara horisontal, yang berarti lem yang merekat antara kotak dan
meja tersebut mampu
Gambar 1.26. Keseimbangan horizontal
memberi perlawanan horisontal (RH), sehingga bisa menahan kotak untuk tidak
bergeser. Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal.
Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di
lem

Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH), maka kotak tersebut
langsung bergeser,
kotak yang
PH karena tidak ada yang
bergeser
menghambat, yang
berarti meja tersebut
tidak mampu memberi
perlawanan horisontal
(RH)
(Gambar 1.27)
Gambar 1.27. Kotak
yang
bergeser
Karena beban horizontal

c. Keseimbangan Momen
PM
Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM), maka kotak tersebut tidak bisa
Kotak
berputar (tidak bisa terangkat), yang berarti lem perekat antara kotak dan meja
tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM), perlawanan momen
tersebut (RM) disebut dengan reaksi
Lem momen.

Meja

RM

Gambar 1.28. Keseimbangan momen


MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-32-

Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di
lem.

PM Kalau kotak tersebut

Kotak yang terangkat dibebani momen (PM),


maka kotak tersebut bisa
terangkat, karena tidak
ada lem yang mengikat
Meja
antara kotak dan meja
tersebut, yang berarti
meja tersebut tidak
mampu memberikan
perlawanan momen (RM).
Gambar 1.29. Kotak yang terangkat karena beban momen

d Keseimbangan Statis

PM  Kalau kotak tersebut


PV
di lem diatas meja,
Kotak
PH yang berarti harus
Lem stabil, benda tersebut
RH
harus tidak bisa turun,
tidak bisa bergeser
RV Meja
horisontal, dan tidak
bisa terangkat.

RM

Gambar 1.30. Keseimbangan statis

 Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (P V), tumpuannya mampu


memberi perlawanan secara vertikal pula, agar kotak tersebut tidak bisa
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-33-

turun syarat minimum RV = PV, atau RV - PV = 0 atau V = 0 (jumah gaya-


gaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol).

 Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ), maka pada


tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (R H ). Agar
kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum
RH = PH atau RH – PH = 0 atau H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara
beban dan reaksi harus sama dengan nol)
 Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (P M ), maka pada
tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (R M ). Agar
kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat), maka syarat minimum R M
= PM atau RM - PM = 0 atau M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan
reaksi harus sama dengan nol).
 Dari variasi tersebut diatas, dapat dikatakan bahwa suatu benda yang
stabil atau dalam keadaan seimbang, maka harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut :
- V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus
sama dengan nol)
- H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama
dengan nol)
- M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus
sama dengan nol).

1.3.4. Latihan
1. Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg
Pv = 5
kg
Berapa reaksi vertikal yang terjadi
supaya balok tersebut tidak
Rv = ? turun ?.
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-34-

2. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar.


PV = 5 kg

PH = 2 kg
PM = 5 kgm
Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh.

1.3.5. Rangkuman
o Macam-Macam Beban

- Beban terpusat; notasi; P; satuan; kg atau ton atau Newton


- Beban terbagi rata; notasi; q; satuan kg/m’ atau ton/m’ atau Newton /
m’

o Macam Perletakan

- Rol punya 1 reaksi  Rv


- Sendi punya 2 reaksi  Rv dan RH
- Jepit punya 3 reaksi  Rv; RH dan RM
- Pendel punya 1 reaksi  sejajar dengan batang pendel

o Syarat Keseimbangan
Ada 3 syarat keseimbangan yaitu :
v = 0
H = 0
M = 0

1.3.6. Penutup
Untuk mengukur prestasi, mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci
yang ada.
Nomor Soal Reaksi yang ada Besar Reaksi Arah
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-35-

1 Rv 5 kg 
2 Rv 5 kg 
RH 2 kg 
RM 5 kg m 

1.3.7. Daftar Pustaka


1. Suwarno, “Mekanika Teknik Statis Tertentu” UGM Bab I.
2. Soemono “Statika I”ITB Bab I

1.3.8. Senarai
- Beban = aksi
- Reaksi = perlawanan aksi
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-36-

MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA


PENYELESAIANNYA

2.1. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU

Tujuan Pembelajaran Umum


Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu.

Tujuan Pembelajaran Khusus


Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis
tertentu, mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara
pemanfaatannya.

2.1.1. Pendahuluan
Dalam bangunan teknik sipil, seperti gedung-gedung, jembatan dan lain
sebagainya, ada beberapa macam sistem struktur, mulai dari yang
sederhana sampai dengan yang kompleks; sistim yang paling sederhana
tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu. Mahasiswa diwajibkan
memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang
lebih kompleks.

Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan.

Balok jembatan diatas 2


Balok jembatan
perletakan A dan B
B
A Perletakan A adalah rol
sendi
rol Perletakan B adalah sendi
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-37-

Gambar 2.1. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika


Teknik

2.1.2. Definisi Statis Tertentu


Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syarat-
syarat keseimbangan.
Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan
Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu :
 V  0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol)
 H  0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol)
 M  0 ( jumlah momen sama dengan nol)

Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan,maka pada konstruksi statis


tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan,
jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum
adalah 3 buah. Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang
harus dicari adalah reaksi perletakan, maka jumlah reaksi yang tidak diketahui
maksimum adalah 3.

2.1.3. Contoh
Balok diatas dua perletakan dengan
a).
P
beban P seperti pada gambar.
A = sendi dengan 2 reaksi tidak
RAH diketahui (RAV dan RAH
A B
adalah reaksi-reaksi vertikal
dan horizontal di A).
RAV RBV
B = rol dengan reaksi tidak
diketahui (RBV = reaksi vertikal di B)
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-38-

Gambar 2.2. Konstruksi statis tertentu

Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah, maka konstruksi


tersebut adalah konstruksi statis tertentu.

b).
Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan
P
perletakan di A adalah jepit.
A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui.
RAV = reaksi vertical di A
RAH = reaksi horizontal di A
RM
RM = momen di A.
RAH Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah, maka
A konstruksi tersebut adalah statis tertentu.
RAV

Gambar 2.3. Konstruksi statis tertentu


c)
Balok diatas 2 perletakan
P A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui R AV
dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A).
B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui R BV
dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B).
Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4
A B buah, sedang persamaan syarat keseimbangan
Gambar 2.4. Konstruksi hanya ada 3, maka konstruksi tersebut statis tak
statis tidak tertentu tertentu.
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-39-

2.1.4. Latihan
a).
suatu balok ABC berkantilever terletak diatas
P
dua perletakan dengan beban P seperti pada
gambar. Perletakan A adalah sendi dan di B
C adalah rol.
Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis
A tertentu atau bukan.
B
b).
suatu balok
ABC terletak diatas dua P perletakan
dengan beban P seperti pada gambar.
Perletakan A dan C adalah sendi. B
Tunjukkan apakah konstruksi C tersebut
statis tertentu atau bukan.

2.1.5. Rangkuman

 Konstruksi disebut statis A tertentu, jika


bisa diselesaikan dengan persamaan
syarat-syarat keseimbangan.

 Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah


V = 0 H = 0 dan  = 0
2.1.6. Penutup
Untuk mengukur prestasi,mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang
ada sebagai berikut :

Jawaban Soal

titik P
Macam Perletakan Jumlah
reaksi
C
A Sendi 2 buah
AB sendi
B
1 buah
Total reaksi 3 buah
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-40-

Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan. Jadi konstruksi


diatas adalah statis tertentu.
b)
P
Itik Macam Perletakan Jumlah reaksi
BA Sendi 2 buah
C
B sendi 2 buah
Total reaksi 4 buah
Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan
syarat-syarat keseimbangan. Jadi konstruksi
statis tidak tertentu.
A
2.1.7. Daftar Pustaka

1. Suwarno “Mekanika Teknik Statis Tertentu” UGM bab I


2. Suwarno “Statika I” ITB bab I

2.1.8. Senarai
Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan dengan
syarat-syarat keseimbangan
2.2.JUDUL : GAYA DALAM
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut
dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara
mencarinya.

Tujuan Pembelajaran Khusus


Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung
gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya
dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu.

2.2.1. Pendahuluan
Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton, kayu, baja dan lain-lain. Dalam pembuatan
struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen
strukturnya (balok, kolom, pelat, dansebagainya). Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut,
memerlukan gaya dalam.

Contoh :
a).
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-41-
o Dua buah struktur seperti pada gambar (a)
P1
dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l)
berbeda.

A B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a)


berbeda pula dengan gaya dalam yang
L1 diterima oleh struktur (b), maka demensi dari
struktur (a) akan berbeda pula dengan
struktur (b).
Gambar 2.5. Contoh (a)
Gambar 2.6. Contoh (b)
P2
2.2.2. Pengertian tentang Gaya Dalam

A B

L2

P P

P = 5 kg P = 5 kg

A B
Gambar 2.7. Orang membawa
beban
Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda, satu kecil, pendek (A), yang satu lagi besar,
tinggi (B). Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg, maka kedua tangan orang A dan B tersebut
tertegang.
Untuk A orangnya pendek,kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang
dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur urat-uratnya. Namun hal ini tidak terjadi pada B karena
orangnya besar, tinggi. Yang menjadikan urat-urat tangan orangSuatu balok
(A) tersebut menonjolterletak padadari2luar
sehingga tampak
adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. Kalau beban P tersebut dinaikkan
secara bertahap, sampai suatu saat tangan A tidak mampu membawa perletakan
beban tersebut,dengan beban
demikian juga untuk orang
seperti
B. Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban pada
maksimumgambar, maka
yang bisa dipikul oleh
orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B.
balok tersebut akan menderita
beberapa gaya dalam yaitu :
2.2.3. Macam-macam Gaya dalam  Balok menderita beban
P1
lentur yang menyebabkan
balok tersebut berubah
P P
bentuk melentur. Gaya
reaksi A B beban
dalam yang menyebabkan
RA RB
l pelenturan balok tersebut
disebut momen yang
Gambar 2.8. Balok diatas 2 perletakan dan bernotasi M.
menerima beban P (sehingga melendut)
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-42-
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-43-

o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan
kanan. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang,
maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi
notasi N.
o Balok tersebut menderita gaya lintang, akibat adanya reaksi perletakan
atau gaya-gaya yang tegak lurus (  ) sumbu batang, balok tersebut
menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D.

2.2.4. Gaya Dalam Momen


a). Pengertian Momen (M)
Suatu balok yang terletak diatas 2
c P (kg) q tumpuan dengan beban seperti pada
kg/m’ gambar, ada beban terbagi rata q (kg/m’)
A B dan beban terpusat P (kg).
Balok tersebut akan menerima beban
c
x lentur sehingga balok akan melendut,
l yang berarti balok tersebut menerima
RA RB
(m)
beban lentur atau momen. (atau
menerima gaya dalam momen)
Gambar 2.9. Balok yang menerima
beban terpusat dan terbagi rata

Definisi
Momen adalah perkalian antara gaya x jarak.
Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen.
Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B
dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut :

I II
(1) Mx = RA . x – q.x. ½ x (dihitung dari kiri ke potongan c-c) ….(pers.
1)

gaya jarak gaya jarak


MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-44-

Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A


RA (reaksi di A) merupakan
I gaya

x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c


sejauh x

qx = merupakan gaya dari beban terbagi


II rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx)

½ x = adalah jarak dari titik berat


beban terbagi rata sepanjang x ke
potongan c-c
q (kg/m’) titik berat qx
c

½x c

Q1= qx
x
Gambar 2.10. Gambar potongan struktur bagian
kiri
Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c)
I II
Mx = RB (l-x) – q (l – x) . ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ………. (pers.
2)
Kalau diambil di potongan c-c
RB (reaksi di B) merupakan
gaya
I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c

Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata


sejauh (l-x)  q (l-x) = Q2

½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi


rata sepanjang (l -x) ke potongan c-c
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-45-

II

Kalau menghitung besarnya momen di c-


c
c q (kg/m’) boleh dari kiri potongan seperti pada
titik berat dari q (l-x) persamaan (1) ataupun menghitung dari
kanan potongan seperti pada persamaan
(2) dan hasilnya pasti sama.

 Tanda Gaya
½ (l-x)
c Q2 = q (l- Dalam
x) Momen
l -x
tertekan Untuk memberi perbedaan antara momen-
Gambar 2.11. Gambar potongan struktur bagian
momen yang mempunyai arah berbeda, maka
kanan tertekan perlu memberi tanda terhadap momen
tersebut.
tertarik Jika momen tersebut mampu melentur suatu
tertarik
Tanda momen (+) *
balok sehingga serat atas tertekan dan serat
Tanda momen (+) *
bawah tertarik maka momen tersebut diberi
tanda (+) = positif. Demikian juga sebaliknya.

Tanda momen (-) *

Gambar 2.12. Tanda momen

2.2.5. Gaya Lintang (D)

c P Kalau dilihat, balok yang terletak


q (kg/m’)
(kg)
diatas 2 (dua) perletakan A dan
B, menerima gaya-gaya yang
c
arahnya  (tegak lurus)
terhadap sumbu balok. Gaya-

RA gaya tersebut adalah RA ; q dan


RB
RB  gaya-gaya tersebut yang
Gambar 2.13. Gambar balok menerima
memberi gaya lintang terhadap
beban
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-46-

Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang  dengan sumbu


batang.

Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c,
maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya  (tegak lurus) terhadap
sumbu AB.

 kalau dilihat dari C ke kiri potongan, maka

(1)  Dc = RA – q x = RA – Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri


potongan)
x
c
q (kg/m’)

Q1=q x
RA
Gambar 2.14. Potongan balok bagian kiri

 Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan, maka

(2)  D1 = RB – q (l-x) – P
= R B – Q2 – P (gaya lintang di c yang dihitung dari
kanan
potongan)

P
c q (kg/m’)

c Q2 = q (l-
(l –
x)x)
RB
Gambar 2.15. Potongan balok bagian kanan
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-47-

 Tanda Gaya Lintang


P
C
A B
Untuk membedakan gaya lintang, maka
RB perlu memberi tanda (+) dan (-).
C Definisi :
* Gaya lintang diberi tanda positif jika
C
dilihat di kiri potongan titik yang
RA
ditinjau, jumlah gaya arahnya ke
atas, atau kalau dilihat di kanan
RB
potongan, jumlah gaya arahnya ke
Gambar 2.16. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+)

Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya
gaya lintang di c (Dc).

C Dilihat dari kiri potongan C, gaya yang ada hanya R A, jadi


jumlah gaya-gayanya yang  sumbu hanya RA dengan arah
RA
 (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip.

P Jika dilihat dari kanan potongan c, gaya yang


ada  terhadap sumbu adalah RB (  ) keatas
C
dan P (  ) kebawah. Karena RB adalah
merupakan reaksi, maka P > RB sehingga
RB
jumlah antara P dan RB  arah (  ) kebawah,
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-48-

Definisi :
D B
A * Gaya lintang diberi tanda negatif,
jika dilihat di kiri titik potongan
P D yang ditinjau arahnya kebawah (
 ) dan bila ditinjau di kanan titik
A
D potongan yang ditinjau arahnya
B
ke atas.

Gambar 2.17. Skema gaya lintang


Gambar 2
dengan tanda negatif (-)

Coba dilihat pada Gambar 2.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya
gaya
lintang di D (DD).
P D

Dilihat dari kiri potongan D, gaya-gaya yang 


RA sumbu hanya RA dan P, karena RA adalah
reaksi. Jadi RA < P, maka resultante gaya-gaya
antara RA dan P arahnya adalah kebawah (  ),
maka gaya lintangnya tandanya negatif.
Jika dilihat di sebelah kanan potongan gaya-
gaya yang  sumbu hanya RB dengan arah ke
atas (  ), Jadi gaya lintangnya tandanya
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-49-

RB

Jadi untuk menghitung gaya lintang, baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama.

2.2.6. Pengertian Tentang Gaya Normal (N)

P Definisi :
Gaya normal adalah gaya-gaya yang
A B
arahnya sejajar (//) terhadap sumbu
beban balok.
* Jadi kalau kita lihat balok yang
RA RB
seperti pada Gambar 2.18 yang
Gambar 3
Gambar 2.18. Balok tanpa beban mana tidak ada gaya-gaya yang
normal sejajar sumbu batang, berarti balok
tersebut tidak mempunyai gaya
normal (N).

P P
Kalau dilihat pada Gambar 3.19
dimana ada gaya-gaya yang //

Gambar 4 (sejajar) sumbu batang yaitu P,


RA maka pada batang AB (Gambar
RB
Gambar 2.19. Balok menerima beban gaya 3.19) menerima gaya normal (N)
normal
sebesar P.
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-50-

* Tanda Gaya Normal


- Jika gaya yang ada arahnya menekan balok, maka tanda gaya normalnya
adalah negatif (-) { P

P
 }.
- Jika gaya yang ada arahnya menarik balok, maka tanda gaya normalnya
adalah positif (+) { P

P
 }.

2.2.7. Ringkasan Tanda Gaya Dalam

M M
tekan
tanda momen positif
(+)

tarik
tarik

tanda momen negatif


tekan (-)
M M

tanda gaya lintang positif (+)

tanda gaya lintang negatif (-)

tanda gaya normal negatif (-)

tanda gaya normal positif (+)


MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-51-

Gambar 2.20. Ringkasan tanda gaya dalam

2.2.8. Contoh : Penyelesaian Soal 1

Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada
gambar,
P1 = 2 2t (), P2 = 6t (), P3 = 2t ()
P4 = 3t ; q1 = 2 t/m’; q2 = 1 t/m’

P2 = 6 ton q2 = 1 t/m’
P1 = q1 = 2t/m’
P1v = 2 t
45
P4 = 3 ton
° C D P = 2t E
P1H = 2 t A 3
B RBH

RBV
6m

RAV

2m 10 2m
m

Gambar 2.21. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya


MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-52-

Diminta : Gambar bidang momen, gaya lintang dan bidang normal.


(Bidang M, N, dan D)

Jawab : Mencari reaksi vertical


Dimisalkan arah reaksi vertical di A  RA () keatas dan arah reaksi vertical di B
 RB () juga keatas.
Mencari RAV  dengan MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0)

RAV.10 – P1.12 – q1.6.7 – P2.4 + 2.q2.1 = 0

2.12  2.6.7  6.4  2.1.1


RAV = = 13 ton ()tanda + berarti arah
Karena
10 sama dengan permisalan (+)

Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen, yang searah
diberi tanda sama, sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.
RBV  

RBV.10 – q2.q1 – P2.6 – q1.6.3 + P1.2 = 0

1.2 .1  6.6  2.6.3  2.2


RBV = = 9 ton ()
10
Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan
yaitu () keatas.
Untuk mengetahui apakah reaksi di A (R A) dan reaksi di B (RB) adalah benar,
maka perlu memakai kontrol yaitu  V = 0

(P1 + q1.6 + P2 + q2.2) – (RA + RB) = 0


(2 + 2.6 + 6 + 1.2) – (13 + 9) = 0

Beban vertikal Reaksi vertikal


MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-53-

Mencari Raksi Horizontal


Karena perletakan A = rol  tidak ada RAH.
Perletakan B = sendi  ada RBH.
Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan (  H = 0)
 H=0
RBH = P1H + P3 + P4
= 2 + 2 + 3 = 7 ton ()

Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D)


Dihitung secara bertahap
Daerah C  A  lihat dari kiri
Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan
DA kr = P1 = - 2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A, di kiri potongan arah gaya
lintang kebawah ()
DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A)
DA kn = - P1 + RA = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas).

A D
Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan
menjadi P1V = 2t () dan P1H = 2t ()
q1 = 2 P2 = 6
2t t/m’ ton
P3 = 2
ton
C D
6m

RA = 13 t
X

Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P 2), sedang beban yang dihitung
dimulai dari titik C.
Dx = -2 + 13 – q1 x = (-P1V + RA – q1x)
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-54-

Persamaan (Linier)

Untuk x = 0 didapat DAkn = -2 + 13 = + 11 ton


2.6
didapat (di kiri potongan arah gaya
Untuk x = 6 m DD kr= -2 + 13 – 12 = - 1ton
lintang ke bawah)

DD kn : sedikit di kanan titik D, melampaui beban P2.

DD kn : -2 + 13 – 12 – 6 = - 7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah)

Dari titik D s/d B tidak ada beban, jadi Bidang D sama senilai D D kn (konstan dari
D sampai B).

Daerah B-E
2m
q2 = 1
B t/m’
E P4 = 3 ton
x.2

RBV = 9 ton

Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B.


Variabel x2 berjalan dari E ke B.
DE = 0
Dx2 = q2 . x2 = + x2 (persamaan liniear)
DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m)  DB kn = + 2 ton (kanan potongan
arah ke
kebawah)
DB kr (kiri titik B)  DB kr = + 2 – 9 = - 7 ton (kanan potongan arah ke atas)
Melewati
perletakan B
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-55-

MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N)


Daerah C-  dihitung dari kiri sampai D, P2 tidak termasuk dari C ke D nilai
D
gaya normal konstan.

ND kr = - P1H = - 2 ton (gaya normal menekan batang)

Daerah D-  dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C, batang
B dari D ke B nilai gaya normal konstan).

ND kn = (-2 – 2) ton = - 4 ton (gaya normal menekan batang)


NB kr = NDkn = - 4 ton

Daerah B-  dihitung dari kanan, dari E ke B nilai gaya normal konstan.


E

NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang)


Kalau dihitung dari kiri, dimana gaya normal dihitung dari titik C.
Dari kiri  DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang)

MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M)

Daerah C  A C P1V = 2t A
P1H = 2t
2m

Variabel x berjalan dari C ke A


Mx = - P1v . x = - 2 x (linier)
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-56-

Untuk x = 0  Mc = 0
x = 2  MA = - 2.2 = - 4 tm.
(momen P1v . x mengakibatkan serat atas tertarik sehingga tanda negatif
(-) ).

Daerah A
D
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-57-

Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C

q1 = 2 t/m’

C P1V = 2t A
P1H = 2t D

x.1

RAV = 13t

2 6
m m

Variabel x1 berjalan dari A ke D


Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.x1 – ½ q1 x1²
Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 – ½ q1 x12 (persamaan parabola)

= - ½ q1 x12 + 11 x1 – 4

MENCARI MOMEN MAXIMUM

D Mx1
0
d x1

d Mx1
  q1 x1  11  0  x1  5.5.m
d x1

Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0)  lihat pada Gambar
2.22.
x1 = 5.5 m  Mmax = - ½ .2 (5.5)² + 11.5.5 – 4
= 26.25 tm.
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-58-

Mencari titik dimana M = 0


Mx1 = - ½ .q1.x12 + 11 x1 – 4 = 0
= x12 – 11 x1 + 4 = 0
x1 = 0.3756 m (yang dipakai)
x1’ = 10.62 m (tidak mungkin)

Untuk x1 = 6  MD = -36 + 66 – 4 = + 26 tm

Daerah E-B (dihitung dari kanan, titik E ke titik B) variabel x 2 berjalan dari E
ke B

q2 = 1 t/m’

P4 = 3 t
B E
2m

x2

Dihitung dari kanan

Parabola
Mx2 = - ½ q2 x22

Untuk x2 = 0didapat ME = 0
Untuk x2 = 2didapat MB = - ½ . 1.4 = -2 tm
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-59-

q1 = P2 = 6 q2 =
P1V = 2 t
2t/m’ ton 1t/m’

C A D B E P4 = 3
P3 = 2
P1H =2t RBH = 7t ton
ton
RBV =9
RAV = 13 t
ton

11
+ 2 +
1 t
2 - -
6 t 7
t t

BIDANG D

2
t -
2 4t
t
+ 3
BIDANG N t
5.5 m

linier 2 tm parabola
- 4 tm --

0.286
linier
0.3756 parabola
BIDANG M

Gambar 2.22. Gambar bidang M, N, D balok diatas 2 tumpuan


MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-60-

2.2.9. Contoh 2
Diketahui:
KONSOL (CANTILEVER)
Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan
perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t
P2 = 1t
D q=1 P1 = 2t (); P2 = 1t () dan beban terbagi rata q = 1
t/m’ t/m’
A
C B Ditanya : Gambar bidang M, N, D

1m 2m 3m Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat


keseimbangan
x1
RD
RD = ?  v = 0  RD – P2 – P1 – q.5 = 0
x2
RD = 2 + 1 + 5.1 = 8 t ()

Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri


BIDANG D atau kanan, pilih yang lebih mudah  dalam hal
ini pilih yang dari kanan.

5 Bidang D (dari kanan)


8 + t
t DA kr = + 2 ton
1t Daerah A  B

x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B


BIDANG M
Dx1 = 2 + q. x1
Untuk x = 3  DB kn = 2 + 1.3 = 5 ton (dari
kanan potongan arah gaya ke bawah tanda
positif (+) ).
10.5
- tm x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C
Daerah B  C
24.5 parabola
tm
Dx2 = 2 + 1 + q . x2
32.5 Untuk x2 = 3  DB kr = 2 + 1 + 1.3 = 6 ton
tm parabola
Untuk x2 = 5  DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton

Daerah
BidangAM(dari
B kanan)
Gambar 2.23. Bidang M, N, MA = 0
linierD
Balok cantilever
: Mx1 = - P1 x1 – ½ q x12
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-61-

Daerah B - C : Mx2 = -P1 x2 – P2 (x2 –3) – ½ q x2


2

: MC = -2.5 – 1.2 – ½ .1.5² = - 24.5 tm ( )

MD : - P1.6 – P2.3 – 5.1 (2.5 + 1) = -12 – 3 – 5.3,5 = 32,5 t (


)

2.2.10. Latihan

Balok diatas 2 tumpuan.

Soal 1 Balok AB dengan beban


seperti tergambar
P1 = 4t P2 = 4 2t
A = sendi B = rol
P1 = 4 ton P2 = 4 2
HA
A B
ton
Ditanyakan;
VA

2m 3m 3m
RB
a) reaksi perletakan
b) bidang N, D dan M

Soal 2 Balok ADCB dengan beban


P3 2 t
P=3 2t
seperti tergambar
q = 1 t/m'
A = sendi B = rol
HA

A D B C P1 = 3 2 ton q = 1
VA
2m 4m
RB
2m
ton/m’
Ditanyakan;
a) reaksi perletakan
b) bidang N, D dan M
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-62-

Soal 3

P2 = 2 2t
q = 1,5 t/m'

HA

A D B C

VA P1 = 2t RB
6m 2m 2m

Balok ADCB dengan beban seperti tergambar :


A = sendi B = rol ; P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton ; q = 1,5 ton /m’
Ditanyakan; a). reaksi perletakan
b). bidang N, D dan M
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-63-
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-64-
MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK)
-65-
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1-
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2-

Jawaban Soal No. 1

Keterangan Titik Nilai Tanda/arah


Reaksi vertikal A : VA 4.5 ton 
B : RB 3.5 ton 
Reaksi horisontal A : HA 4 ton 
Gaya normal = N A–D 4 ton - tekan
D–B 0
Gaya lintang = D A–C 4.5 ton +
C–D 0.5 ton +
D–B 3.5 ton -
Momen = M A 0
C 9 tm +
D 10.5 tm +
B 0
Jawaban Soal No. 2

Keterangan Titik Nilai Tanda/arah


Reaksi vertikal A : VA 3 ton 
B : RB 6 ton 
Reaksi horisontal A : HA 3 ton 
Gaya normal = N A–D 3 ton - tekan
D–B 0
Gaya lintang = D A – D kiri 3 ton +
D kanan 0
B kiri 4 ton -
B kanan 2 ton +
C 0
Momen = M A 0
D 6 tm +
B 2 tm -
C 0
2 m kanan 4 tm +
D

Jawaban Soal No. 3

Keterangan Titik Nilai Tanda/arah


MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3-

Reaksi vertikal A : VA 4.625 ton 


B : RB 4.375 ton 
Reaksi horisontal A : HA 2 ton 
Gaya normal = N A–D–B–C 2 ton - tekan
Gaya lintang = D A 4.625 ton +
D kiri 4.375 ton -
D kanan – B kiri 2.375 ton -
B kanan – C 2 ton +
X = 3.08 m kanan A 0
Momen = M A 0
X = 3.08 m 7.13 tm +
D 0.75 tm +
B 4.0 tm -
C 0

2.3. Hubungan Antara Momen (M) ; Gaya Lintang D dan q


(Muatan)
Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban
terbagi rata (qx), potongan tersebut antara I dan II
sepanjang dx. Dengan beban sepanjang dx tersebut kita
akan mencari hubungan antara beban, gaya lintang dan
momen.

qx = beban terbagi rata


qx beban Mx = momen di potongan I ( )
½ dx Dx = gaya lintang di potongan I ()
qx . dx = berat beban terbagi rata
Sepanjang dx
qx.dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan
M x + dMx
II ()
Mx Dx D x + dDx batang dDx = selisih gaya lintang antara
Potongan I dan II.
Mx + dMx = momen di potongan II (
)
I II dMx = selisih momen antara I dan II

dx
Gambar 2.24. distribusi gaya dalam pada balok
sepanjang dx
Keseimbangan gaya – gaya vertikal V = 0 di potongan II
Dx – qx dx – (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx () dan qx dx () dan kanan
ada Dx + d Dx
()
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4-

dDx = - qx dx
d Dx
  qx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban)
dx
Keseimbangan momen
 M = 0 di potongan II
Mx + Dx dx – qx .dx . ½ dx – (Mx + d Mx) = 0

½ q. dx² - 0

d Mx = Dx . dx
o Kiri ada Mx ; Dx dx dan qx.dx. ½
dx dan kanan ada Mx + dMx
d Mx o ½ qx.dx²  0 karena dx = cukup
 Dx
dx kecil dan dx² bertambah kecil
sehingga bisa diabaikan.

* turunan pertama dari momen adalah gaya lintang

2.4. Balok Miring


Pada pelaksanaan sehari-hari sering kita menjumpai balok yang
posisinya miring seperti : tangga, dalam hal ini kita harus tahu
bagaimana menyelesaikannya.

2.4.1. Pengertian Dasar


Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul
struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar,
misal : tangga, balok atap dan lainsebagainya.
Pada kenyataan sehari-hari balok-balok tersebut bisa berdiri
sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal.
Seperti pada gambar.

Dasar Penyelesaian
Dalam penyelesaian struktur,
terutama untuk menghitung dan
menggambar gaya dalam adalah
sama dengan balok biasa
(horizontal). Namun disini perlu
lebih berhati-hati dalam
menghitung karena baloknya
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5-

(a)

(b)

Gambar 2.25. Skema balok miring

Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan


pengertian gaya-gaya dalam pada semua kondisi balok.

2.4.2. Contoh soal

Diketahui
Suatu balok miring di atas 2 tumpuan, perletakan A = sendi duduk di
bidang horizontal, perletakan B = rol duduk pada bidang miring //
dengan sumbu batang. Beban P1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 =
4t vertikal di D, dan beban terbagi rata q = 1 t/m’ dari D ke B dengan
arah vertikal.

Ditanya : Gambar bidang M, N, D

Di B = rol  jadi reaksinya


hanya satu  sumbu batang
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6-

Jawab:

q = 1 t/m’

B
rol
P2=4
P1=4 t
RB 3m
t D
C 5
A  1m 1m 1m
send 3
RAH i

RAV
 4m
4
di B = rol  jadi reaksinya hanya
1m 1m 2m satu  sumbu batang

Gambar 2.26.a. Pembebanan pada balok miring

Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.
Reaksi di B  RB  bidang sentuh
RB dicari dengan  MA = 0
RB.5 – q.2.3 – P2.2 – P1.1 = 0
18
RB.5 – 1.2.3 – 4.2 – 4.1 = 0  RB =  3.6 ton (arah RB  sumbu
5
batang)
Untuk mencari RAV dicari dulu RAH dengan syarat keseimbangan horizontal.
RAH  H = 0
RAH – RB sin2 = 0
3
RAH = .3.6 ton = 2.16 ton
5
Mencari RAV dengan  MB = 0
RAV   MB = 0
RAV.4 – RAH.3 – P1.3 – P2.2 – q.2.1 = 0
RAV.4 – 2.16.3 – 4.3 – 4.2 – 2.1.1 = 0
RAV = 7.12 ton
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7-

MENGHITUNG BIDANG NORMAL (N)

Beban P dan q diuraikan menjadi :


1
- // sumbu batang
m
-  sumbu batang

q
a

 b

Gambar 2.26.b. Distribusi beban pada balok miring

a  q sin  
Gaya yang // sebagai batang  menjadi gaya normal (N)  
b  q cos  

Gaya yang  sebagai batang  menjadi gaya lintang (D)

ND kn = -2q . sin  = -2 .1. 3/5 = -1.2 ton


(dari kanan)
ND kr = - (4 + 2) sin  = -6 .3/5 = - 3.6 ton
NC kr = - (4 + 4 + 2) sin  = -10. 3/5 = - 6 ton

MENGHITUNG GAYA LINTANG (D) (dari kanan)

DB kr = - RB = - 3.6 ton
Dari B ke D  Dx = - 3.6 + q.x . cos 
DD kn = - 3.6 + q.2 . cos = - 3.6 + 2. 4/5 = - 2 ton
DD kr = -3.6 + (2 + 4) 4/5 = 1.2 ton
Dc kr = - 3.6 + (2 + 4 + 4) cos.4.4 ton

4/5
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8-

1 t/m’

B
4t

4t
3m
D 1 t/m’
x
C
A

1m 1m 2m 4t B

4t
RB =3.6t
D 1 t/m’
MENGHITUNG BIDANG MOMEN (M)
C

Dihitung dari kanan
A B
B ke D 4
RAH x 1 4 t RB
Mx = RB . cos   2 .q.x ² t
=2.16t R D
AV
=7.12t C linier x
A 1.2 t
Untuk x = 0 konstan
MB = 0 konstan
x
2 1
Untuk x = 2 MD = 3.6 -.  .1.4   7 tm
4/5 2
cos 
- 3.6t
BIDANG 
x
- 6t
3
N
Mc = RB . cos  - q.2.2 – P.1
konstan konstan
= 3,6 . 3,75 – 2.2 – 4.1 = + 5.5 tm + 1.2
3.6
t
+ -2 -
+ 4.4
BIDANG
D linier

Gambar bidang M, N, D
+

parabol
5.5 7 tm a
tm

linier BIDANG
linier M
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9-

Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya-gaya dalam dari dan
hasilnya harus sama. Seperti contoh dibawah ini.
Gambar 2.27. Bidang gaya dalam pada balok miring
PERHITUNGAN DARI KIRI
RAV diuraikan menjadi :
RAV. Cos  (gaya  sumbu batang)
RAV . sin
 RAV. Sin  (gaya // sumbu batang)
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10-


RAV . cos 
RAV RAH diuraikan menjadi :
RAH sin 
A  RAH. sin  (gaya  sumbu batang)
RAH
RAH cos  RAH. cos  (gaya // sumbu batang)

N = - (RAV . sin  + RAH . Cos ) RAH = 2.16 t


D = + RAV . cos  - RAH . sin 
Sin  = 3/5
Cos  = 4/5
R = 7.12
NA kn = - (7.12 . 3/5 + 2.16 . 4/5) AV
= - 6 ton
t
Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan
Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton.
NC kn = - [(7.12 – 4). 3/5 + 2,16 . 4/5] = - 3.6 ton
Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton.
NDkn = - [(7,12 – 4 – 4) 3/5 + 2,16 . 4/5] = - 1,2 ton
Gaya normal dari D ke B linier {  NB = - 1.2 + q.2 . sin 
NB = - 1,2 + 2.1 . 3/5 = 0 ton
Gaya lintang  DA kn = RAV cos  - RAH sin 
Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan.
DA kn = 7.12 . 4/5 – 2,16 . 3/5 = 4,4 ton
Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton
Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan
Dc kn = (7,12 – 4) 4/5 – 2,16 . 3/5 = 1,2 ton
Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t
DD kn = (7,12 – 4 – 4) 4/5 – 2,16 . 3/5 = - 2 ton.
Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata.
DB = -2 – 2.1 . 4/5 = - 3,6 ton

2.5. Beban Segitiga


Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat atau terbagi
dinding
rata, namun yang berbentuk segitiga sepertidinding
ada tangki beban tekanan ,
beban tekanan tanah dan lain sebagainya. tangki

2.5.1. Pengertian Dasar


air
Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti
beban tekanan air dan tekanan tanah.
Contoh

bak tangki air diagram tekanan air


basement
dinding
basement
dindingbasemen
t
tana
h

Gambar
bak tangki air 2.28.a. Diagram beban segitiga
diagram tekanan
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -11-

Dasar Penyelesaian
Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain-lain
namun kita harus lebih hati-hati karena bebannya membentuk
persamaan.

Persamaan ax = a t/m’

ax
A
B
Px

RA = RB =
2/3x 1/3x P = ton

Gambar
x 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

Mencari Reaksi Perletakan l


Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B
1/ 3 l
 M B  0  R A .l  P2/3
.1 / 3l l  0  R A   P1/3 l
l
1 / 3 l a.l a.l
RA  x  ton
l 2 6
2/3 l
 M A  0  R B .l  P . 2 / 3 l  0  R B  P
l
2 / 3 l a.l a.l
RB  x  ton
l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri)


X = variable bergerak dari A ke B
x
Di potongan x  ax = .a
l
Beban segitiga sepanjang x  Px = ½ x. ax
x ax ²
Beban  Px = ½ x . l . a  2 l
Persamaan gaya lintang :
a.l ax ²
Dx = RA – Px = 6  2 l (parabola)
Persamaan pangkat 2 

Mencari tempat dimana gaya lintang = 0


D = 0  RA – Px = 0
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -12-

a.l ax ² l²
  x² 
6 2. l 3
l² 1
XD  0   l 3
3 3

MENGHITUNG BIDANG M
x
Mx = RA . x – Px .
3
a.l ax ² x
= 6 . x  2.l . 3
a.l a
= 6 x  6 l . x³ (persamaan pangkat 3 / parabola)

Mmax terletak di daerah untuk D = 0


1
x= l 3
3
a.l  1 3
 a 1 
Mmax =  l 3 l  l 3
6 3  6 3 
a.l² a.l²
= 3 3
18 54
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -13-

Contoh Perhitungan

ax =

x
h=Jawab
3 :
2/3 x 1/3 x
ton/m’
TOTAL BEBAN
A B
Px P=½lxh

RA RB P = 3.6 = 9 ton
2
P
2 l/3 l/3
 MB  RA.l – P l/3 = 0  RA . 6-9.2 = 0
l=6 2
m RA = .9 = 3 ton
6

 MA  RB . l – P.2/3 l = 0  RB .6-9.4 =
0
3,464 m 4
RB = .9 = 6 ton
6
3t + D=0 Menghitung Bidang D

- x = variable bergerak dari A ke B


BIDANG D 6t x x
ax  .3 
6 2
Px = ½ x . ax
Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban
segitiga x x x²
x = 0  DA = + 3 ton Px  . 
4 2 4
x = 6  DB = - 6 ton
Persamaan gaya lintang  Dx = RA – Px
Menghitung Bidang + M x²
x Dx = 3 -
Mx = RA . x – Px . 4
3
x² x x³ Tempat dimana gaya lintang = 0
= 3x - .  3x 
4 3 12 x²
BIDANG D=0 3
M 4
D=0 M M max (x = 3,464 max
m)
3 x  12  3,464 m
3.3,464 - 
3,464 
M max   10,392  3,464  6,928 tm
 12 

2.5.3. LATIHAN

Soal 1 : Balok Miring


MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -14-

P=3t Balok miring ABC


q = 1 t/m'
ditumpu di A = sendi,
C
B = rol, seperti
B
tergambar
Beban q = 1 t/m’ , P =
3 ton
A
HA
Ditanyakan;
a) reaksi
VA
6m 1m perletakan
b) bidang N, D
dan M

Soal 2 Portal ACB dengan


perletakan A = sendi ,
B = rol, seperti
q = 1.5 t/m' P=4t

tergambar;
Beban q = 1 t/m’ , P =
3m
RB

HA
A 
3 ton
Ditanyakan;
VA
4m 3m

a) reaksi
perletakan
b) bidang N, D
dan M

Soal 3 : Balok dengan beban segitiga.

q = t/m'

A
RHA

VA
RB

Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar


A = sendi, B = rol
Ditanyakan;
a) reaksi perletakan
c) bidang N, D dan M

Soal 4
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15-

q = 3 t/m'

A
RHA
B C

RAV
RB

4m 2m

Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi ,
B = rol, seperti tergambar;
Ditanyakan;
a) reaksi perletakan
b) bidang N, D dan M

2.5.4. Rangkuman

- Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur


tangga, ketelitian perhitungan perlu.
- Beban segitiga () adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan
tekanan tanah, besarnya merupakan fungsi x.

2.5.5. Penutup

Untuk mengukur prestasi, mahasiswa bisa melihat kunci soal-soal


yang ada sebagai berikut :

Soal no. 1

Keterangan Titik Nilai Tanda/arah


Reaksi vertikal A : VA 4.12 ton 
Reaksi miring B : RB 5.63 t
Atau : HB 2.815 t 
VB 4.88 t 
Reaksi horisontal A : HA 3 ton 

Gaya normal = N A 9.76 ton - tekan


B kiri 1.50 t - tekan
B kanan – C 1.50 t - tekan
Gaya lintang = D A 2.16 t +
B kiri t -
B kanan – C 2.6 t +
X = 2.88m jarak miring dr A 0
Momen = M A 0
B 3 tm -
C 0
X = 2.88 m 3.11 tm +
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16-

Jawaban soal no. 2

Keterangan Titik Nilai Tanda/arah


Reaksi vertikal A : VA 6 ton 
B : RB 4 ton 
Reaksi horisontal A : HA 0 
Data pendukung Sin  3/5
Cos  4/5
Gaya normal = N A 3.6 ton - tekan
C bawah 0
C kanan – B 0
Gaya lintang = D A 5.2 ton +
C kiri 0
C kanan – B 4 ton -
Momen = M A 0
C 12 tm(max) +
X = 2 m horisontal 9 tm +
dari A
B 0
Jawaban soal no. 3

Keterangan Titik Nilai Tanda/arah


Reaksi vertikal A : RAV q.l 
6
B : RB q.l 
3
Reaksi horisontal A : RAH 0
Gaya normal = N A-B 0
Gaya lintang = D A ……….. q.l +
6
B ……….. q.l -
3
L 0
X= = 0.5774 L dari A
3
Momen = M A 0
B 0
C
L 0.06415 x q +
X= ………….
3 x l2
(max)

Jawaban soal no. 4

Keterangan Titik Nilai Tanda/arah


Reaksi vertikal A : VA 4.5 ton 
B : RB 4.5 ton 
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17-

Reaksi horisontal A : RAH 0 


Gaya normal = N A–B-C 0
Gaya lintang = D A 4.5 ton +
B kiri 3.5 ton -
B kanan 1 ton +
C 0
X = 2.24m dari B 0
Momen = M A 0
B 0.67 tm -
X = 2.24m 3.73 tm +

2.5.6. Daftar Pustaka


- Suwarno, “Mekanika Teknik Statis Tertentu”, UGM, Bab I
- Soemono, “Statika I”, ITB, Bab I.

2.5.7. Senarai
Balok miring = balok yang membentuk sudut
Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18-

RB
4/5 RB

3/5 RB

catatan : q.2.2  2 = panjang beban terbagi rata


2 = jarak titik berat q ke titik D.

Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya-gaya yang  (tegak
lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu

x
= jarak RB ke sepanjang batang
cos 
BD

x
Persamaan garis ax = .a
l
a.l
Resultante Beban : P = ton
2

Diketahui :
Balok di atas 2 perletakan A dan B, dengan beban segitiga diatasnya,
tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/m’= h.
Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19-

Pada pelaksanaan sehari-hari sering dijumpai beban yang berbentuk


linier segitiga, seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada
tandon air, bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal.
Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban  (segitiga)
seperti pada gambar.
Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut :

Persamaan ax = a t/m’

ax
A
B
Px

RA = RB =
2/3x 1/3x P = ton

2/3 l 1/3 l
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20-

2.6. Gelagar Tidak Langsung

2.6.1. Pengertian Dasar


Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan
yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu,
bambu, dan profil baja.
Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa
dibuat sesuai dengan yang diinginkan, maka dalam hal ini roda
kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari
beton tersebut.

Plat lantai kendaraan yang


terbuat dari beton

Gambar 2.30.
Jembatan dengan
gelagar langsung

Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai
kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar
langsung.
Untuk jembatan yang terbuat dari kayu, bambu, baja, maka roda
kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu,
bambu atau baja tersebut, melainkan harus lewat suatu perantara
yang disebut dengan gelagar melintang, gelagar memanjang dan
plat lantai dasar (lihat Gambar 2.31).
Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung
diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung
atau beban tidak langsung yang mana dalam penggambaran
seperti pada Gambar 2.31.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21-

arah
muatan

aspa
l

Potongan
Gel. melintang
melintang
Gelagar
induk

Gel.
memanjang

Potongan Melintang

Gambar 2.31. Skema gelagar tidak langsung dari suatu


jembatan
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22-

2.6.2. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam


Mekanika Teknik

Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak


langsung harus mengalami penyederhanaan.
gel. memanjang
gel. melintang
gel. induk /
utama

Gambar 2.32. Penyederhanaan awal, gel. tidak


langsung

Gambar 2.33. Penyederhanaan


akhir, untuk gel. tidak
langsung

2.6.3. Cara distribusi beban


Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. induk),
melainkan lewat perantara gelagar melintang, maka beban yang
q kg/m’
diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama
beban dengan beban yang
terbagi
berada diatas jembatan. rata
gel. melintang
gelagar induk / utama
 
beban terbagi rata
diatas gel. memanjang beban terbagi rata tersebut akan
ditransfer ke gelagar induk melewati
P P P gelagar melintang  jadi yang
sebenarnya beban merata, masuk ke
gelagar induk (utama) menjadi beban
beban terpusat diatas gel.
terpusat. dimana beban
induk gelagar induk / utama
Gambar 2.34. Distribusi beban P = q.
terbagi rata pada gelagar
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23-

Q Jika beban terpusat Q berada diantara gel.


a b
melintang, maka Q tersebut didistribusi
menjadi beban Q1 dan Q2. dimana
a b
 Q2 = Q dan Q1 
x x
Q1 Q2

Gambar 2.35. Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung

BEBAN TAK LANGSUNG


Contoh :

Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m’ dengan jumlah bentang gel. memanjang
genap.
II I
q
t/m’ Potongan I – I = tepat diatas gel.
melintang
Potongan II-II = ditengah-tengah gel.
melintang
gelagar
induk Menghitung momen di potongan I-I
II I 6
P/2 P P P P P P/2 MI (untuk potongan I-I)
M I = RA . 2 - P/2 . 2
- P. 
= 6q ² - q² - q²
3 q  II I 3q
= 4 q ²
(muatan tidak langsung)
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24-

Kalau dicek memakai muatan langsung adalah :


MI = beban langsung
MI = 3.q  . 2 - ½ q (2)²
= 6q ² - 2 q ² = 4 q ²

Catatan :
Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel. Melintang) boleh
dihitung sebagai beban langsung.
Penyelesaian :
P=q
RA = RB = 3q 
Beban diantara perletakan P = q 
Beban di atas perletakan P/2 = q /2
Perhitungan Momen
II
Pada Potongan II q t/m’ Dengan memakai beban langsung

MII = 3 q . 1.5  - ½ q (1.5 )²


II = 4.5 ² - 1.125 q²

 /2 = 3.375 q²


3q

½ q q II

Jika dihitung dengan beban tidak langsung


 /2 II
MII = 3q  . 1.5 - ½ q  . 1.5 
3q
q t/m’ - q  . ½  = 3.25 q ²
Perbedaan momen (0.125 q ²)
q t/m’
Perbedaan tersebut adalah dari :

Momen lantai =

kendaraa
0.125 q²
n
Gambar 2.36. Distribusi beban pada
gel. tak langsung
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25-

Catatan :
Momen tidak langsung (diantara gelagar)
MII = M langsung – M. lantai
= 3.375 q ² - 0.125 q ²
= 3.25 q ²

jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar
tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan
diantara gelagar melintang.

Perhitungan gaya lintang (D)

½ P P P P P ½ P
P
Walaupun beban terbagi rata, tapi kalau
gelagarnya tidak langsung, maka gambar
bidang D (bidang gaya lintang), garisnya
3P 3P bukan linier, namun seperti gaya lintang
P beban terpusat.
2½ P
P +
P
-
P 2½
P P

Bidang D

Gambar 2.37. Bidang gaya lintang (D) dari gelagar


tidak langsung
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26-

2.6.4. Latihan

Soal 1:
q = 1.5 t/m’ Balok AB mendapat beban tak langsung
seperti tergambar, q = 1,5 t/m’
sepanjang bentang.
Ditanyakan : a). Gaya reaksi VA,
A 5 HA, RB
1 2 3 4 B
HA b). Bidang N, D, M
VA     RB
=
2m

Soal 2 :
P1=3t P2=1t Balok ABC mendapat beban tak
1m
langsung seperti tergambar, P1 =
1 2 3 4 5 6
3t
HA
P2 = 1t
B C
     Ditanyakan : a). Gaya reaksi VA, HA,
= 3m RB RB
VA

2.6.5. Rangkuman
- Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu
atau baja
- Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan,
transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat.

2.6.6. Penutup
Untuk mengukur prestasi, mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-
kunci yang ada.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27-

Soal no 1
Keterangan Titik Nilai Arah / Tanda
Reaksi Vertikal A : VA 6t 
B : RB 6t 
Reaksi Horizontal A : HA 0
Beban Pada Titik 1 1,5 t 
2 3,0 t 
3 3,0 t 
4 3,0 t 
5 1,5 t 
Gaya Normal = N 1-2-3-4-5 0
Gaya Lintang = D 1-2 4,5 t 
2-3 1,5 t 
3-4 1,5 t 
4-5 4,5 t 
Momen = M A=1 0
2 9 tm 
3 12 tm 
4 9 tm 
5=B 0 

Soal No. 2

Keterangan Titik Nilai Arah / Tanda


Reaksi Vertikal A : VA 1,75 t 
B : RB 2,25 t
Reaksi Horizontal A : HA 0
Beban Pada Titik 1 0
2 2t 
3 1t 
4 0
5 0
6 1t 
Gaya Normal = N 1-2-3-4-5-6 0
Gaya Lintang = D 1-2 1,75 t 
2-3 0,25 t 
3-4 1,25 t 
4-5 1,25 t 
5-6 1,00 t 
Momen = M A=1 0
2 5,25 tm 
3 4,5 tm 
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28-

4 0,75 tm 
5=B 3,0 tm 
6=C 0
Gaya Normal = N A–B–C 0

Gaya Lintang = D A 4.5 ton +


B kiri 3.5 ton -
B Kanan 1 ton +
C 0
X = 2.24 m dari 0
B
Momen = M A 0
B 0.67 tm -
X = 2.24 m 3.73 tm +

2.6.7. Daftar Pustaka


- Soemono, “Statika I”, ITB-Bab I
- Suwarno, “Mekanika Teknik Statis Tertentu”, UGM Bab I.

2.6.8. Senarai
Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak
langsung terletak di balok induk.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29-

2.7. Garis Pengaruh

2.7.1. Pendahuluan
Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan, maka struktur
tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan.
Di sisi lain kalau kita menganalisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut
adalah, reaksi-reaksi kemudian gaya-gaya dalamnya yaitu, gaya momen,
gaya lintang dan gaya normal. Jika dua hal tersebut dipadukan, maka
kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya-gaya dalam
di suatu tempat di struktur tersebut, jika ada muatan yang berjalan di
atasnya ?. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh.
Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi; gaya
momen, gaya lintang, dan gaya normal, jika di atas struktur jembatan
tersebut berjalan suatu muatan.

2.7.2. Pengertian Dasar


Untuk mempermudah suatu penyelesaian, maka didalam suatu
garis pengaruh, muatan yang dipakai sebagai standard adalah
beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newton) yang
berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut.
Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang
menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi
(R) atau gaya momen (M) atau, gaya lintang (D) atau gaya normal
(N) di suatu tempat pada gelagar tersebut.

Definisi
Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi),
atau gaya dalam M (Momen), atau N (Normal), atau D (Lintang)
disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30-

Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (RA dan RB)


x x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak
P=1 dari titik A ke titik B
ton
Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B
A B
G.P.RA (Garis Pengaruh Reaksi di A)
RA l RB
 MB = 0  RA . l – P (l-x) = 0
P(l - x) l  x
RA =  ton (linier)
l l
G.P. RA
Untuk P di A  x = 0  RA = 1 ton

+ Untuk P di B  x = l  RA = 0 ton
1 ton
G.P.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B)
 MA = 0  RB.l – P.x = 0
P.x x
RB =  ton (linier)
l l
G.P. RB

+
1 ton Untuk P di A  x = 0  RB = 0
Untuk P di B  x = l  RB = 1 ton

Gambar 2.38. Gambar garis pengaruh RA dan


RB
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31-

2.7.3. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh

X P=1
t
A B
RA l RB
Ini adalah GP.RA (Garis Pengaruh Reaksi di
+ A)
1t Garis ini menunjukkan besarnya nilai RA sesuai
GP.RA
dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar
+
1t Ini adalah GP.RB (Garis Pengaruh Reaksi di
P=1 GP.R B)
t B Garis ini menunjukkan besarnya nilai RB sesuai
dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar
A C B
a b * Jika beban P = 1 ton berada di titik C
sejauh a dari perletakan A dan sejauh b
+ y1 dari perletakan B, maka besarnya reaksi di
1t GP.RA
A  RA = y1 dan besarnya reaksi di B 
RB = y2, dimana
y2 b a
GP.RB + 1t y1 = ton dan y2 = ton, jadi
l l
Gambar 2.39 b a
P=1 RA = ton dan RB = ton
l l
t
Gambar 2.39. Kegunaan dari garis pengaruh
A D B untuk beban di titik c
c d
* Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D
y3 sejauh c dari perletakan A dan sejauh d
+
1t
GP.RA dari perletakan B, maka besarnya reaksi
di A  RA = y3 dan besarnya reaksi di B 
+ y4 + RB = y4, dimana
GP.RB 1t d c
y3 = ton dan y4 = ton, jadi
Gambar 2.40 l l
P= 4 d c
ton RA = ton dan RB = ton
l l
A C B
a b Gambar 2.40. Kegunaan digaris
pengaruh untuk beban di
titik D
+ y1
1t
GP.RA Bagaimana kalau P tidak sama dengan
y2 1 ton
GP.RB + 1t Jika P = 4 ton terletak di titik c
Maka RA = 4 . y1 dan RB = 4 . y2 atau
4b 4a
dan RB 
Gambar 2.41. Kegunaan garis pengaruhRA = beban
untuk l tidak sama
l
dengan 1 ton
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32-

P=6
Jika P = 6 ton terletak ti titik D
t
Maka RA = 6 . y3 dan RB = 6 y4 atau
A D B
c d 6d c
RA = ton dan R B  6 ton
l l
y3
+ Gambar 2.42. Kegunaan garis pengaruh
1t GP.RA
untuk beban P = 6t
y4 +
+
GP.RB 1t
Bagaimana kalau ada beberapa muatan :
P= 4 P2= 6  Jika di atas gelagar ada muatan
ton ton
A C D B
P1 = 4t di c, sejarak dari titik A, sejarak b
a b
c d dari titik B, dan P2 = 6t sejarak c dari titik A,
sejarak d dari titik B, maka
y3
y1 GP.RA
1t +
b d
RA = 4y1 + 6y3 = 4 . ton  6 ton
y2 1t l l
GP.RB y4
+ a c
RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 ton  6 ton
l l

Gambar 2.43. Kegunaan garis pengaruh


untuk beban P1 = 4 ton dan P2
= 6 ton

Beberapa Contoh

1. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G.P.D)


P = 1 ton berjalan dari A ke B
X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B
C = suatu titik terletak antara A – B
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33-

P = 1t
G.P. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di
x C)

A B P berjalan dari A ke C
C
 MA = 0  RB . l – P.x = 0
RA l RB
Px x
RB =  ton
l l
a b
Dc dihitung dari kanan
x
Dc = -RB =  ton (linier )
l
P = 1t Untuk P di A  x = 0  Dc = 0
x a
Untuk P di Ckr x = a  Dc = - ton
l
A B
C
P berjalan dari C ke B
P (l  x ) l  x
a RA =  ton
l l
l
G.P. RB
Dc dihitung dari kiri
- l x
Dc = RA = ton (linier)
+ l
Untuk P di Ckn  x = a 
G.P. RA
b/l l a b
Dc =  ton
l l
G.P. Dc
Untuk P di B  x = l  Dc =

Gambar 2.44. Gambar garis pengaruh


gaya lintang
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34-

Mencari Garis Pengaruh Momen (G.P.M)


P = 1 ton berjalan dari A ke B
x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P.

P = 1t
x G.P. Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di
C)

A B
C P berjalan dari A ke C

RA l RB Px x
RB =  ton
l l
a b Mc dihitung dari kanan
x
Mc = + RB . b =  . b tm (linier)
l
Untuk P di A  x = 0  Mc = 0
P = 1t
a.b
x Untuk P di C  x = a  Mc = + tm
l

A B
C P berjalan dari C ke B
P (l  x ) lx
RA = ton  ton
l l
Mc dihitung dari kiri

+ l x 
Mc = + RA . a tm =   . a tm
a.b  l 
tm
GP RB.b l Untuk P di C  x = a  Mc =

GP RA.a l a b
   . a . tm
G.P. Mc  l  l

Untuk P di B  x = l  Mc =
l l 
  a . tm
 l 
Gambar 2.45. Gambar garis pengaruh = 0 tm
momen di c (GP Mc)
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35-

3. Contoh lain
Diketahui : Balok ABC diatas 2
P perletakan A dan B
x
D B C Ditanya : Gambar Garis Pengaruh RA,
A
RB, MD, DD, DBkn
2
m l=6 l 1= 2 m
Jawab :
m
lx
GP.RA GP.RA :  MB = 0  RA = ton
- 1/3 l
t
+ Untuk P di A  x = 0  RA = 1 ton
1t Untuk P di B  x = l  RA = 0
Untuk P di C  x = 8 
l 8 68 2 1
RA =    ton  ton
l 6 6 3

GP.RB x
GP.RB :  . MA = 0  RB = ton
lt
+ 1t 4 Untuk P di A  x = 0  RB = 0
3 Untuk P di B  x = l  RB = 1 ton
t Untuk P di C  x = 8 
8 8 4
RB =   ton
2/3 l 6 3
ton
GP.MD - GP. MD
P antara A-D  lihat kanan bagian
+
x
GP.RB.4 GP.RA.2 MD = RB . 4 = . 4 tm
l
Untuk P di A  x = 0  MD = 0
4 Untuk P di D  x = 2 m
t 2 .4 4
3 MD =  tm
m 6 3
P antara D-C  lihat bagian
lx
1 MD = RA . 2 = .2
l
1 3 Untuk P di D  x = 2m 
GP.RB 3 GP.DD
t l 2 62 4
t MD = .2  .2  tm
- - l 6 3
Untuk P di B  x = 8 m 
2 + 68 2
MD = . t   tm
3 63 3
GP.RA
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36-

GP.DD

P antara A-D  lihat kanan bagian


x
DD = - R B = - ton
l
P di A  x = 0  DD = 0
P di D  x = 2  DD = -2/6 ton = -1/3 ton

P antara D-C  lihat kiri bagian

l x
DD = R A = ton
l
62 2
P di D  x = 2  DD =  ton
6 3
P di B  x = 6 m  DD = 0

68 1
P di C  x = 8 m  DD =   ton
6 3

Bkr Bkn GP.DBkr


B C
A P antara A-Bkr  lihat kanan bagian
DBkr = - RB
GP.DBkr P antara B-C  lihat kiri bagian
DBkr = + RA
- - 1/3
1t GP.RA t
GP.RB GP.DBkn
P antara A – B  lihat kanan bagian
DBkn = 0
GP.DBkn P antara B – C  lihat kanan bagian
1t + DBkn = P = 1 ton

GP.MB
2 tm
P antara A – B  lihat kanan bagian
MB = 0
GP.MB
-
P antara B – C  lihat kanan bagian

x MB = -x tm
P di B  x = 0  MB = 0
P di C  x = 2m  MB = -2 tm

Gambar 2.46. Gambar kn-


macam-macam garis
pengaruh
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37-

2.7.4. LATIHAN

Soal 1
berjalan
P = 1 t bejana

A B
I
RA
RB
3m 5m

a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC, ditanyakan GPRA, GPRB,
GPDI, GPMI

b) Bila beban 3m berjalan,

Ditanya; P1 = P2 =
DI (+) max.4t 2t
DI (-) max.
MI max.
M max. max.

Soal 2 berjalan

P = 1 t bejana

A
B C
I
RA
RB
4m 5m 3m

Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC, ditanyakan GP RA, GP RB, GP DI,
GP MI

a) Bila beban 3m berjalan,

Ditanya;
RB max.
MI max.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38-

2.7.5. Rangkuman
o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarnya reaksi atau
gaya-gaya dalam disuatu titik, akibat muatan berjalan sebesar 1 ton.
o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan
(ton atau kg atau Newton).

2.7.6. Penutup
o Untuk mengukur prestasi, mahasiswa bisa melihat hasil jawaban
sebagai berikut :

Jawaban soal no. 1

Keterangan P = 1 ton di titik Nilai Tanda/arah


RA A 1 ton + 
B 0
RB A 0
B 1 ton + 
DI A 0
3 -
t
I kiri 8
5 +
I kanan 8

MI A 0
B 0
I 15
tm
8 +

RA max. = + 5.5 ton


DI (+) max. = + 3.3 ton
MI max. = + 9 tm
Mmax. Max. = + 9.1875 tm
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39-

Jawaban soal no. 2

Keterangan P = 1 ton di titik Nilai Tanda/arah


RA A 1 ton + 
B 0
C 0.3 ton - 
RB A 0
B 1 ton + 
C 1.3 ton + 
DI A 0
I kiri 0.4 ton -
I kanan 0.6 ton +
B 0
C 0.3 ton -
MI A 0
B 0
I 2.4 tm +
C 1.2 tm -
MB A 0
B 0
C 3 TM -

RB max. = + 5.175 ton


MI max. = + 9.18 tm

2.7.7. Daftar Pustaka


- Soemono, “Statika I”, ITB, Bab I.
- Suwarno, “Mekanika Teknik Statis Tertentu”, UGM Bab I.

2.7.8. Senarai
- Garis pengaruh
- Beban berjalan
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40-

MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA


PENYELESAINNYA

3.1. Judul : BALOK GERBER

Tujuan Pembelajaran Umum


Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti
balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur
tersebut.

Tujuan Pembelajaran Khusus


Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian
balok gerber, syarat-syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan
mahasiswa bisa menggambarkan bidang-bidang gaya dalam balok
tersebut.

3.1.1. Pendahuluan
Didalam kenyataan se-hari-hari jarang dijumpai jembatan yang
berbentang Satu.
( ). Untuk mengatasi penyeberangan sungai
yang mempunyai lebar

> 100 m
penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu
jembatan yang berbentang lebih dari satu, sehingga mempunyai
perletakan > 2 buah.

Kalau dilihat pada gambar b,


a). perletakan dari jembatan tersebut >
A B
2 buah, yaitu 3 buah dimana A =
sendi; B = rol dan C = rol. Kalau di
Jembatan berbentang perletakan A terdapat 2 reaksi
satu (karena A = sendi) yaitu RAH dan
RAV, perletakan di B terdapat 1
reaksi (karena B = rol) yaitu R BV,
perletakan di C ada 1 reaksi (karena
C = rol) yaitu RCV, maka jumlah
reaksi tersebut ada 4 buah (R AV;
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41-

b).
A B C

Jembatan berbentang lebih dari


satu
Gambar 3.1. Macam-macam bentang
jembatan
Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah (V = 0; H =
0; M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih
memerlukan 1 buah persamaan baru lagi, supaya bilangan yang tidak
diketahui yaitu RAV; RAH; RBV, RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi
statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu V = 0; H =
0; M = 0. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut
dengan kontruksi statis tidak tertentu.
Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat-
syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi
jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV; RAH; RBV, RCV
dengan 4 buah persamaan yaitu V = 0; H = 0; M = 0 dan 1 (satu)
persamaan baru). Dalam kondisi tersebut konstruksi masih statis
tertentu, karena masih bisa diselesaikan dengan syarat-syarat
keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok
gerber.

Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut


dengan memberikan 1 buah perletakan
A B D C baru di D yang berbentuk sendi, maka
persamaan baru tersebut adalah  MD = 0

Sendi Sedang titik D tersebut disebut dengan


gerber sendi gerber
Gambar 3.2. Skema balok gerber

3.1.2. Definisi Balok Gerber


Dengan uraian seperti dalam pendahuluan, maka bisa didefinisikan
bahwa :
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42-

Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang


mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah,
namun masih bisa diselesaikan dengan syarat-
syarat keseimbangan.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43-

Contoh :

Sendi gerber Suatu konstruksi balok


gerber ABC dengan
perletakan :
RAH

A B D A = sendi, dimana ada 2


C reaksi yaitu RAV dan RAH.
RAV RBV RCV B = rol, dimana ada 1 reaksi
yaitu RBV.
C = rol, dimana ada 1 reaksi
yaitu RCV
Jadi jumlah reaksi adalah 4
buah yaitu, RAV; RAH; RB dan
Persamaan yang tersedia adalah :
 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu V = 0; H = 0
dan M = 0
 1 (satu) buah persamaan baru yaitu  MD = 0
Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu V = 0; H = 0; M = 0
dan MD = 0.
Kondisi kontruksi tersebut adalah :
Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada (V
= 0; H = 0; M = 0 dan MD = 0) = jumlah persamaan
(yaitu RAV; RAH; RBV dan RCV) = jumlah bilangan yang dicari
Maka konstruksi tersebut, disebut dengan konstruksi balok gerber, yang
masih statis tertentu.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44-

3.1.3. Bentuk Sendi Gerber

Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton, maka bentuk
konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar.
Sendi gerber
D

A B C

RAH

RB
RAV RC

Detail perletakan D
(sendi gerber)

Gambar 3.3. Detail sendi gerber


MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45-

B D C
A
RAH

RAV RCV
RBV

D C
B
A
RAH

RAV RCV
RBV

atau

D C
RDH

RDV
RCV
RDV
A B D
RAH RDH

RAV
RBV

Gambar 3.4. Skema pemisahan balok gerber

Catatan : Reaksi di balok DC menjadi


beban = q (beban) pada balok AB.
Jadi kalau diuraikan kg/m’
B balok gerberCABC tersebut merupakan gabungan dari
A2 balok statis tertentu DC dan ABD, dimana balok DC tertumpu di balok
AB.
L1 L2

1 - 2
+ +
3.1.4. Menentukan letak sendi gerber

Bid. M

A
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46-

Jika dalam balok ABC, sendi gerber


belum ada, maka konstruksinya masih
statis tak tertentu, dan jika diberi beban
terbagi rata sebesar q kg/m’, maka
gambar bidang momennya (bidang M)
seperti gambar dibawahnya. Bagaimana
cara mencari bidang momen (bidang M)
tersebut, untuk mahasiswa semester I
belum bisa mengerjakan, jadi untuk
sementara diterima saja. Kalau dilihat
dari sub bab 3.1.2. dimana di titik D
dibuat sendi gerber dengan persamaan
Gambar 3.5. Balok statis tak baru MD = 0, maka alangkah tepatnya
tentu dan skema jika untuk menentukan posisi di titik D
bidang momennya dicari tempat-tempat yang momennya
Dalam hal seperti tersebut diatas, alternatif tempat dimana momennya
sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan
perletakan B. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan
baru, maka kita cukup memilih salah satu dari 2 (dua) alternatif tersebut
sendi gerber
diatas, sehingga struktur bisa diselesaikan.
D B C

Cara memilih : alternatif (1), jika kita


a1 A 1
memilih titik (1) sebagai sendi gerber,
maka gambarnya adalah seperti pada
1
Gambar a1 dimana balok AD terletak di
D
A atas balok DBC, balok tersebut jika
a2 B C
disederhanakan akan seperti pada
D Gambar a2, dan jika diuraikan
A strukturnya akan seperti pada gambar
a3
B a3.
C
TIDAK MUNGKIN Apakah mungkin ?
Gambar 3.6. Penentuan sendi
gerber yang tak mungkin

Perhatikan
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47-

Lihat balok AD, perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV, RAH) perletakan
D = sendi dengan 2 reaksi (R DV, RDH), sehingga jumlah reaksi ada 4
(empat) buah, sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu.
Perhatikan balok DBC; perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV);
perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV), sehingga jumlah
reaksi hanya ada 2 (dua) buah, karena kedua perletakan B dan C adalah
rol, maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak
Alternatif 2
mungkin.
D sendiCgerber
b1
Jika yang dipilih adalah titik (2)
2
A B sebagai sendi gerber, maka
C gambarnya adalah seperti gambar
B
b2 (b1) dimana balok DC terletak diatas

A balok ABD, balok tersebut jika


gambarnya disederhanakan akan
RDH D C seperti pada gambar (b2), dan jika
diuraikan strukturnya akan menjadi
RDV
b3 A B seperti pada gambar (b3) apakah
RDH
D mungkin ?.
Perhatikan balok DC yag terletak
diatas balok ABD. Perletakan D =

Gambar 3.7. Balok gerber dan cara sendi mempunyai 2 (dua) reaksi
pemisahannya yaitu RDV dan RDH, sedang perletakan

Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga), maka konstruksi balok DC adalah


statis tertentu
 Perhatikan balok ABD, perletakan A = sendi, mempunyai 2 (dua) reaksi
yaitu RAH dan RAV, perletak B = rol, mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV.
Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah, jadi konstruksi balok ABD
masih statis tertentu.
 Jadi pemilihan titik (2) sebagai sendi gerber adalah mungkin.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48-

3.1.5. Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber

A B D C
a
Jika ada suatu konstruksi balok
gerber seperti pada gambar a, maka
D yang perlu dikerjakan pertama
b1
adalah memisahkan balok tersebut
1
A B C menjadi beberapa konstruksi balok
statis tertentu.

b2 D Jika konstruksinya seperti pada

A RD gambar (a), maka kita bisa


B
memisahkan konstruksi tersebut

RD C menjadi beberapa konstruksi


tersebut menjadi beberapa
konstruksi statis tertentu seperti
b1 dan b2  tidak
mungkin D pada gambar (b) atau (c), dimana
C
C gambar (b) terdiri dari gambar (b 1)
1
A B dan (b2), demikian juga gambar (c)

D C

RD

C RD
2
A B

C1 dan C2  mungkin

Gambar 3.8. Skema penyelesaian balok gerber

Tinjauan gambar b1 dan b2


MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49-

Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok
DC, dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti
gambar (b2), dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok
DC, sehingga reaksi RD dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada
titik D balok DC.
 Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2), perletakan A = sendi (ada
2 reaksi); perletakan B = rol (ada 1 reaksi), perletakan D = sendi (ada
2 reaksi). Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah, jadi balok
ABD merupakan balok statis tidak tertentu.
 Perhatikan balok DC (gambar b2), titik D = bebas (tak mempunyai
tumpuan), jadi tidak ada reaksi, perletakan, c = rol (ada 1 reaksi), jadi
jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. Dalam kondisi
seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil
atau labil. Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin.

Tinjauan gambar (c1) dan (2)


Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD, dan
jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2), dimana
titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD, sehingga reaksi RD
dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD.

 Perhatikan struktur balok DC gambar (C2), perletakan D = sendi, (ada


2 reaksi), perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan
ada 3 (tiga) buah.
Jadi balok DC adalah balok statis tertentu
 Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)), perletakan A = sendi
(ada 2 reaksi), perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan
ada 3 (tiga) buah. Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga.
Jadi alternatif (C) adalah mungkin.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50-

Tahapan Penyelesaian

q Sendi gerber
D P
a Kalau kita mempunyai balok
gerber ABC seperti pada gambar
A B C
(a), yang kemudian diuraikan
seperti pada gambar (b), maka
tahapan pengerjaannya adalah
sebagai berikut :
P
 Balok DC dikerjakan dulu
D C sehingga menemukan RD
dan RC.
 Reaksi RD dari balok DC
RD akan menjadi beban di titik
q D dan balok ABD.
b RD RC  Dengan beban yang ada (q)
dan beban RD, maka balok
D AB bisa diselesaikan.
 Bidang-bidang gaya dalam
A B (M, N, D) bisa diselesaikan
sendiri-sendiri pada balok
DC dan AB.
 Penggambaran bidang M, N,
D balok gerber merupakan
penggabungan dari bidang
Gambar 3.9. Skema pemisahan balok gerber
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51-

3.1.6. Contoh Soal Suatu struktur balok gerber ABC


P=4t q = 2t /m’ dengan beban seperti pada gambar.
(a) 1m
A B A = rol ; B = sendi
C
S C = rol ; S = sendi
gerber
Beban P = 4 ton, dengan jarak 1 m
4m 2m 6m dari A, dan beban terbagi rata q = 2
t/m’ dari B ke C.
P=4t Ditanya : Gambar bidang M, N, D.
x
Jawab: Struktur balok gerber seperti
S
(b) A pada gambar (a) kalau diuraikan akan

Rs = 2 t/m’ menjadi struktur seperti pada gambar


1t
x1 x2 (b).
RA = 3t
Rs Balok AS harus diselesaikan lebih
C
S dahulu, baru selanjutnya reaksi Rs dari
B balok As menjadi beban / aksi ke
RB = 7 1/3 t
RC = 5 t balok SBC
3 2
tm - tm 8.0287 Balok A-S (mencari RA dan RS)
(c) tm
+  MS = 0  RA. 4 – P.3 = 0

+ P.3 4.3
RA.=   3t
4 4
BID. M
 MA = 0  RS. 4 – P.1 = 0
2.833 m
P.1 4.1
RS =   1t
5.667 m 4 4
Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di

6.33t titik S pada balok S B C (gambar (b))


Balok S B C (mencari RB dan RC)
3t + +
 MC = 0
1t -
- RB.6 – RS.8 – q.6.3 = 0
BID. D 2
5 t
3 RB.6 – 1.8 – 2.6.3 = 0
44 1
RB = t7 t
6 3
BID. N  MB = 0  RC.6 + RS.2 – q.6.3 = 0
RC.6 + 1.2 – 2.6.3 = 0
Gambar
Bidang3.10.
Momen (M)Gambar-gambar gaya
dalam balok gerber
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52-

Balok A-S
Daerah A  P (P = letak beban P = 4t)
Mx = RA.x = 3.x (linear)
x = 0  MA = 0
x = 1  MP = 3 tm (momen dibawah P)
Daerah P  S
Mx = RA.x-P (x-1) = 3.x – 4 (x-1)
x = 1  MP = 3 tm
x = 4  MS = 0

Balok SBC
Daerah S  B (dari kiri)
Mx1 = - Rs.x1 = - 1.x1 (linear)
= -x1
x1 = 0  Ms = 0
x2 = 2  MB = -2 tm
Daerah C  B (dari kanan)
1
Mx2 = Rc.x2 - .q x2² (parabola)
2
1
Mx2 = 5.667.x2 - .2.x2²
2
= 5.667 x2 - x2²
dMx 2
Mencari Mmax  = 0  5.667 – 2 x2 = 0
dx 2

= x2 = 2.833 m (lokasi dimana terletak Mmax


Mx2 max =5.667. 2.833 – (2.833)²
= 16.0546 – 8.02589 = 8.0287 tm.
Mencari titik dimana momen = 0
Mx =5,667 x2 – x22 = 0
X2 (5,667-x2 ) = 0
 x2 =5,667 m ( Letak dimana momen = 0 )
Bidang D ( GAYA LINTANG )
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53-

Balok A-S
Daerah A P ( dari Kiri )
D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan )
Daerah P S ( Dari kiri )
Dx = + Ra - P = 3 – 4 = -1 t (Konstan )

Balok S – B C
Daerah S B ( Dari Kiri )
Dx = - Rs = -1 t (Konstan)
Daerah C  B (Dari Kanan)

Dx2 = - Rc + q . x 2

= - 5,667 + 2 . x 2 (Linieair)

X2 = 0  Dc = - 5,667 t
X2 = 6  Dbkn = -5,667 + 2.6 = + 6,333 t

Mencari titik dimana D = 0


-5,667 + 2X2 = 0  X2 = 2,833 m
(Letak D = 0 sama dengan letak Mmax )

Bidang N ( Normal )
Bidang N tidak ada

3.1.6. Latihan
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54-

Dalam mempraktekan teori – teori yang ada di depan ( bagian


sebelumnya ), maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan
.
1).
P = 5t q = 2t/m’ Suatu balok gerber
S dengan beban dan
B C struktur seperti gambar,
A
dengan perletakan A =
sendi, B = rol
2
C = rol, S = sendi
m
gerber
5m 2 4m
m Beban : P = 5t, 2m dari A
q = 2t/m’ sepanjang
bentang SC.
Gambar : bidang-bidang
gaya dalamnya (Bidang
2). P=5 2
M, N, D)
t
45° Suatu balok gerber dengan
S
beban dan struktur seperti
A B pada gambar dengan
2m 3m 3m
perletakan :
A = jepit, B = rol
S = sendi gerber
Beban  P = 5 2 t dengan
sudut 45° terletak di tengah
bentang SB.
Gambar : bidang- bidang

3.1.8. Rangkuman
o Balok gerber adalah :
- Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah,
tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.
Atau
- Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu.
o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebut harus diuraikan
lebih dahulu, dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok
tertumpu
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55-

mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu (


)
o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing-masing balok
tersebut.
o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang)
diselesaikan terlebih dahulu.
o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari
masing-masing balok tersebut.

3.1.9. Penutup
Untuk mengukur prestasi, mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban
dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol.

Soal No. 1
Keterangan Titik Harga Arah
A 1.4 ton 
Reaksi B 7.6 ton 
S 4 ton 
C 4 ton 

Keterangan Titik Harga Tanda


A 0
Momen (M) B 8 tm
S 0 (-)
C 0
A 1.4 ton (+)
Gaya Lintang (D) B kiri 3.6 ton (-)
B kanan 4 ton (+)
C 4 ton (-)
Gaya Normal (N) - - -

Soal 2
Keterangan Titik Harga Tanda
AV 2.5 ton 
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56-

Reaksi AH 5 ton 
MA 5 tm 
S 2.5 ton 
B 2.5 ton 
A 5 tm (-)
S 0
Momen (M)
di P 7,5 tm (+)
B 0
Gaya Lintang (D) A 2.5 ton (+)
B 2.5 ton (-)
A 5 ton (-)
S 5 ton (-)
Gaya Normal (N)
P kiri 5 ton (-)

3.1.10. Daftar Pustaka


1. Soemono “Statika I” ITB bab V
2. Suwarno. “Mekanika Teknik Statis Tertentu” UGM bab V-4
3.1.11. Senarai :
Sendi Gerber : tempat penggabungan balok satu dengan balok lainnya.

3.2. Garis Pengaruh Balok Gerber


3.2.1. Pendahuluan
Seperti halnya balok diatas 2 perletakan, maka untuk balok gerber
inipun kita harus mencari besarnya reaksi, atau gaya momen (M)
atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N), jika ada muatan yang
berjalan diatas balok gerber tersebut.
Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh
balok diatas 2 perletakan.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57-

Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan


berjalan dengan beban P = 1 ton atau satu satuan beban.

3.2.2. Prinsip Dasar


Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok
gerber adalah :

B S C o Harus bisa memisahkan balok yang


(a A
) mana yang disangga dan yang mana
yang menyangga.
o Dalam gambar sebelah
o Balok SC yang disangga
RS
RS RC
o Balok ABS yang menyangga.
(b A B
o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS
) P
RA
RB  maka reaksi di S (RS) dan reaksi di C
(Rc) tidak ada (Gambar d).

ada
RS RC o Namun jika ada muatan berjalan diatas
RS ada balok S-C  maka reaksi di A (RA),
(c
) reaksi di B (RB); reaksi di S (Rs) dan

RA ada reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar


RB ada
c).
P
tidak tidak
(d ada ada
) reaksi reaksi
RA ada RB ada
Gambar 3.11. Reaksi perletakan pada balok
gerber dengan muatan berjalan diatas
gelagar
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -58-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar
Cari garis pengaruh reaksi-reaksinya
x P=1 x1
P=1t t
GP.RA (Garis Pengaruh Reaksi di A)
A S B C
P berjalan dari A ke S
x = variable bergerak sesuai posisi P dari A
l1 a l2
ke C
 Ms = 0
P(l1  x ) l1  x
A S RA =  ton
l1 l1
Untuk P di A  x = 0  RA = 1 ton
RS Untuk P di S  x = l1  RA = 0
RS
B C
P dari S ke C  tidak ada pengaruh
terhadap RA
GP.RA
GP.RS (Garis Pengaruh Reaksi di S)
+
1t
P dari A  ke S
Px x
Rs = l  l
GP.RS 1 1
P di A  x = 0  Rs = 0
+ P di S  x = l1  RS = 1t
1t P dari S ke C  tidak ada pengaruh untuk
reaksi
di S (Rs)

GP.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B)


x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai
P= posisi.
GP.RB 1t P berjalan dari C ke S
x1
Px1 x1
RB = 
+ l2 l2
P di C  x1 = 0  Rs = 0
P di B  x1 = l2  RB = 1t
l2  a
P di S  x1 = l2 + a  RB =
l2
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -59-

 l2  a 
 
 l2 

A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C)

P berjalan dari C ke S

l 2  x1
Rc = t
l2
GP. Rc
P = 1t P di C  x1 = 0  Rc = 1t
x1
P di B  x1 = l2  Rc = 0
-

+ Rs . a a
P di S  Rc =  karena
l2 l2
a/l2 1t
(Rs = 1t)

P di A  Rs = 0  Rc = 0
Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi
(RA; Rs; RB dan Rc)

Jika potongan I-I antara : A3  cari garis pengaruh DI-I dan MI-I
Jika potongan II-II antara : BC  cari garis pengaruh DII-II dan MII-II
GARIS PENGARUH D DAN M
b c d e
x P G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang
I II di potongan I-I)
A B C
I S II
P berjalan di kiri potongan I-I 
(perhitungan dari kanan potongan)
l1 a l2
DI = - Rs (dari kanan)
A
Px Px x
Rs B Rs = l  DI   l   l
C 1 1 1
Untuk P di I-I  x = b 
c b
l1 DI = - l t
1
G.P.. DI-I P berjalan di kanan potongan I-I
- (perhitungan kanan potongan I)
+ b/l1
G.P. MI-I DI = + RA (dari kiri)
P(l1  x ) l1  x
RA = 
l1 l1
+
Untuk P di I-I  x = b 
.b . c l1  b c
DI = 
l t1 l1 l1
Untuk P di S  x = l1  DI = 0
Gambar 3.13. Garis pengaruh DI-I dan MI-I
Jika P berjalan dari S ke C  tidak
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -60-

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I)


P berjalan di kiri potongan I-I (perhitungan dari kanan)
Px x
MI = Rs . c = lt . c  lt . c
1 1

Untuk P di A  x = 0  MI = 0
b.c
Untuk P di I-I  x = b  MI = l1

P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri)


l1  x
MI = RA . b = .b
l1

l1  b c.b
Untuk P di I-I  x = b  MI = .b 
l1 l1

Jika P berjalan dari S ke C tidak ada MI

P d e
x
S B II C G.P. DII-II (Garis Pengaruh Gaya
A Lintang di potongan II-II)
II

l1 a l2 P berjalan dari A ke Potongan II


(perhitungan kanan potongan II)

DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)


A S
Untuk P di S  Rs = 1t
Rs a a
Rc = - l t  D II   l
2 2
Untuk P di II 
d d
Rc = l  D II   l
2 2
a/l
P berjalan dari II ke C (perhitungan
2
b/l dari kiri potongan)
+
+ 2
- d/l DII = RB (sama dengan g.p. RB)
e c
2 Untuk P di II  RB = l  D II  l
GP. DII-II 2 2
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -61-

Sama dengan g.p. Sama dengan g.p.


Rc RB G.P. MII-II (Garis Pengaruh Momen di
potongan II-II)
a/l2.b
P berjalan dari A ke II (perhitungan
dari kanan potongan)
d/l2 .
- e MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x
+ e)

a
Untuk P di S  Rs = 1t  Rc = - l
2
g.p. Rc.e g.p. RB.d a
MII = - l .e
2
Gambar 3.14. Garis pengaruh DII-II dan d
Untuk P di II  Rc = l
MII-II 2
d
MII = - l .e
2
P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri)
MII = RB . d
e
Untuk P di II  RB = l
2
e e
MII = l dtm  l d
2 2

3.2.3. MENCARI HARGA MOMEN DAN GAYA LINTANG DENGAN


GARIS
A PENGARUH
C Mencari harga Mc
a Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata
b
berjalan diatas gelagar berapa momen
Kondisi maximum
muatan sepertidipada
titik 1)
C
dan lberapa gaya lintang maximum di titik C.
Mc = P y + P y + P y 1 1 2 2 3 3

* P B
P2 P3 Kondisi muatan seperti pada 2)
1) 1
Mc = P1’ y1’ + P2’ y2’ + P3’ y3’ + P4’ y4’
*
2) P1’ P2’ P3’ P4’
Mc =  P.y

y1’ y2 y3 y1 y4’y2 y3

GP.Mc
P.a.b
l
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -62-

A C B
Untuk muatan terbagi rata = q t/m’
dx q t/m’ d Mc = y.q dx
Mc =
GP.Mc

+
Mc = q F
Luas =
F q dx = muatan q sejarak dx, dimana dx 0 (mendekati
y 0)

P1’ P2’ P3’ P4’ y = ordinat dibawah dx

Mencari harga Dc

GP.Dc Untuk beban titik


+
y1’
y2’ y3’ y 4’ Dc = -P1’ y1’ + P2’ y2’ + P3’ y3’ + P4’ y4’
-

Dcterbagi
Beban = q F rata
Dc = q F
q t/m’

GP.Dc LuasF==Fluas arsir


+

Gambar 3.15. Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis
pengaruh
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -63-

3.2.4. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar


3.2.4.1. Pendahuluan
Pada kenyataannya, muatan yang melewati suatu jembatan adalah
tidak menentu, ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu
rangkaian muatan, Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari
berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar
tersebut.
Misal :

Suatu gelagar muatan


P1 P2 P3 P4 P5 P6

A B
C Suatu
a b gelagar
l Jembatan

Gambar 3.16. Muatan berjalan diatas gelagar

Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu


rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan
seperti pada gambar.

3.2.4.2. Prinsip dasar perhitungan


- Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam
gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan
tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut
maximum.
- Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai garis
pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya.
- Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara
mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan
ordinat dari garis pengaruh yang dipakai.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64-

Contoh

Mencari Momen Maximum Pada Gelagar


Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar, jika ada
rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang
terjadi.
x

P1 P1’ P2 P2’ P3 P3’ P4 P4’ P5 P5’

Jawab :
A B
C Mencari Mc max untuk rangkaian
muatan berjalan (dari kiri ke
(c) (l- c)
kanan)
Jarak rangkaian muatan constant
l
(tetap)
l r = posisi awal

x
= posisi kedua
y1’ y2’ y3’ y4’ y5’
y1
y2 y4 y5 Pada posisi awal, ordinat garis
y3 pengaruh dinyatakan dengan y1

C1 s/d yS, atau


y”
Mc =  Py
y’ GP.Mc
y’ = P1y1 + P2 y2 + P3 y3 + P4 y4
y” + P5 y 5

Gambar 3.17. Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan

Muatan bergerak ke kanan sejauh x, dimana ordinat garis pengaruh


dinyatakan dengan y1’ s/d y5’ dan Mc =  Py’
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65-

(dalam hal ini y berubah menjadi y’)


Jika ditinjau 2 bagian : - bagian kiri titik C dan
- bagian kanan titik C
Di kiri titik C ordinat bertambah y’ dan
Di kanan titik C ordinat berkurang y”

x
y’ = . c1
c
x
y” = (l  c) . c1

Perbedaan nilai momen (M) dari perpindahan posisi beban adalah


sebagai berikut :
Mc = P1 y’ + P2 y’ – P3 y” – P4 y” – P5 y”
= (P1 + P2) y’ - (P3 + P4 + P5) y”  jika (P1 + P2) =  Pl dan (P3 + P4
+ P5) =  Pr
 x   x 
=  Pl  .c1    Pr  .c1 
 c  l c 

  Pl  Pr 
 x.c1     x.c1  ql  qr 
 c l c

ql qr

ql = jumlah beban rata-rata di sebelah kiri titik C


qr = jumlah beban rata-rata di sebelah kanan titik C

Jika ql > qr   M positif


Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C  ql =

P1
C
ql menjadi kecil sehingga ql < qr   M negatif (pergerakan P2 dari kiri C
ke kanan C menjadikan tanda  M dari positif ke negatif)
Jadi  Mmax terjadi jika P2 diatas C.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66-

M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga 

Pl Pr
  atau
C l c
ql = qr
Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata

Untuk muatan terbagi rata Mc


a b max terjadi jika :
ql = qr

A B
C
c (l – c) ql qr qs

Gambar 3.18. Posisi beban terbagi rata untuk


Mencari Mmaximum

kiri kana tota


n l
Mmax terjadi jika psosisi beban  ql = qr = qs
Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban
di kiri dan di kanan potongan seimbang, maka bisa diperkirakan secara
grafik sebagai berikut :
Gelagar diatas 2 perletakan A-B, digunakan rangkaian muatan berjalan
dengan nomor urut 01, 12, 23,34 dan 45
Cara : buat garis AB dibawah gelagar,- di ujung bagian kanan (B’) buat
muatan tumpukan beban dari 45; 34; 23;12; dan 01 (dengan skala)
- Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri
(A’) sehingga membentuk sudut ()
- Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan
momen di potongan I maksimum, yaitu dengan menarik garis
dari potongan I kebawah, sampai memotong garis A’-B’ di I’.
- Tarik dari titik I’ sejajar (//) dengan garis A’0 dan garis tersebut
akan memotong tumpukan muatan di beban 01.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67-

- Jadi MI akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I.


* Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II
maximum.
- Dengan cara yang sama, tarik garis dari potongan II ke bawah
sampai pada garis A’-B’ dan memotong di potongan II’.
- Dari titik II’ ditarik garis // (sejajar) dengan A’ – O dan
memotong tumpukan muatan di beban 12.
- Jadi MII akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan
II.

°1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika


ql = qr = qs = tg 
01  12  23  34  45
tg 
A III IV B l
I II

l
0

 5
A’
I’ II’ III’ IV’ B’
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68-

Gambar 3.19. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan


cara grafis

MI max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I-I.


MII max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II-II.
MIII max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III-III.
MIV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45

terletak diatas potongan IV-IV dan diambil yang besar.

3.2.5. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suatu Gelagar


3.2.5.1. Pendahuluan
Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan
mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar, mencari
momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya
tidak tertentu. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen
maximum terjadi, serta posisi beban yang menyebabkan
terjadinya momen maximum harus dicari. Jadi dalam hal ini-
:
- Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi. dicari !!.

- Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum.

3.2.5.2. Prinsip Dasar Perhitungan


- Untuk mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar
ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen
maximum terjadi harus dicari.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69-

- Dalam mencari momen maximum-maximorum ini harus


memakai persamaan.

Contoh 1

P1 P2 P3 P4 P5
Suatu gelagar diatas 2 perletakan A –
(a
B B, dan suatu rangkaian muatan dari P1
) A
s/d P5. Berapa dan dimana momen
Mmaximum-maximorumnnya
di P3 = 0 ?.

P1 P2 r P3 P P
P1 P2 P4 4 P5 5 Rt.rJawab:
= R1 . a – R2 . b
P3
(b  MRA1 =
= resultante
0 dari P1 dan P2
R2 = resultante dari P3 dan P4
) Rt =1 resultante dari R1; R2 dan P3 atau
R1 r R2 RB = lt resultante
P3 .x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  b
P1; P2; P3; P4; P5
RA RB
Momen dibawah P3 dengan jarak x dari titik
R1 R2 A r = jarak antara Rt dan P3
a = jarak antara R1 dan P3
a b
Rt Mxb==Rjarak
B (l-x)antara
– R2 . Rb 2 dan P3
a Rt b
x P3
Rt Mx =  l x  x ²   R1 (lx  a l  x ²  ax )
l l
l
R2
  lx  bx  x ²  blt 
l
tengah-tengah
Rangkaian muatan terletak diatas gelagar dan dimisalkan momen
AB Mencari Mmax :
maximum terletak dibawah beban P3 dengan jarak x dari perletakan A.
(c P3
dMx
)A B 0
½ E dx
dMx P3
r ½   l  2 x   R1  l  2 x  a 
r dx l l
R
Rt  2 (lt  2x  b)  0
l

Mmax terdapat di potongan E P3 (l – 2x) + R1 (l – 2x + a) + R2 (l – 2x – b) =


(dibawah P3) ; ME max. = M3 max 0
P3 l + R1 . l + R2 . l + R1 . a – R2 . b =
2 x (P3 + R1 + R2)
tengah-tengah
AB
(d P4 Rt . l + R1.a – R2 . b = 2x . Rt
) T B x = ½ l + ½ . R 1.a  R 2 .b Rt.r
Rt
1 1 Rt.r
r r x=½l+½
2 2 Rt
x = ½ l + ½ r  pada jarak x = ½ l + ½ r
Rt dari A terdapat M max.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70-

Rt

M max terdapat dibawah P4 =


M4max
Dalam hal ini r = jarak antara Rt
dengan P4
Mextrem = Mmax – maximorum
adalah tengah-tengah
momen yang terbesar
diantarabentang
Mmax (1,2,3,4,5).
P1
Mmax terjadi dibawah beban
(e A B P  M max
r 1 1

½ ½
Dalam hal ini r = jarak antara
Rt dengan P1.

½ Rt
½l
x

M max terdapat dibawah P1 = M1

P1 P2 P3 P4 P5
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71-

(f) A Mmax terjadi dibawah beban


Suatu gelagar
P2 dengan
M2 maxbentang l = 10
tengah- m danB ada suatu rangkaian muatan
tengah berjalan dengan lebar seperti pada
r Dalam hal ini r = jarak antara
gambar. Rt dengan P .
2
Cari besarnya momen maximum-
½ maximum maximorum.
r
Rt
Jawab : kondisi beban seperti pada
gambar
x=½l+½r

M max terdapat dibawah P2 = M2

P1 P2 P3 P4 P5

(g A
Mmax terjadi dibawah beban
B
r P5  M5 max
tengah
½ ½ Dalam hal ini : r = jarak
r r M max terdapat di antara Rt dengan P5
Rt
x=½l+½r bawah P5r =
=M 0,90
5 = jarak antara Rt dengan P1
 MB = 0
Gambar 3.20. Posisi beban untuk kondisi Mmax1 s/d M
max5 Contoh 2
P1=8t P2=6t P3=6t Rt.(l  x ) 20.4,55
RA =   9,1 ton
l 10
1m 1m M1 max dibawah P1 adalah :
A
B
RA. (½ l – ½ r) =
l = 10 9.1 (5 – 0,45) = 9,1 x 4,55
M1 max = 41,405 tm
Kondisi 1
r =P10,1 m P=2 jarakP3antaraRt =P2Pdan
1
+ PRt
2
+
Dimana M max dibawah P1  MA = 0 P3=
RB=
tengah 20 ton
Rt (1 / 2l  1 / 2r ) 20(5  0,05)
bentang P 1
P 2
P3
8t 4t 6t 
Statis momen  9,9 t
l 10
terhadap P1 
A M2 Max1m dibawah1m P 2 adalah :

5m B P2.1 + P3.2 =
x
RB (½ l – ½ r) = P3 .Rt.x 1 = 9,9 (4,95) –
x=½l+ l-x
6.1 = 49,005 6.1 –+66.2= =43,005
20 .
= 5½+ 0,45
r 4,55 Rtm
Rt t x
= M2 max x =
½
Kondisi 2 r = 1,1 m = jarak antara P3 dengan Rt
 MA = 0
Dimana M max dibawah P2
RB=
P1 P2 P3 Rt (1 / 2l  1 / 2r ) 20(5  0,55)
  8,9 t
l 10
M3 max dibawah P3 adalah
RB (½ l – ½ r) = 8,9 x 4,45 = 39,605
tm
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72-

B
A
0,1 tengah-
4,95 tengah
bentang
Rt

Kondisi 3
Dimana M max dibawah P3

P1 P2 P3
B
tengah-tengah
bentang r
4,45 =1.1 4,45
Rt
Gambar 3.21. Posisi beban untuk mencari
momen maximum
maximorum

3.2.6. Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan


sendi-sendi gerber

Soal 1 :
P=1t berjalan
Balok ABC dengan sendi
2m gerber S seperti tergambar.
S Akibat beban P = 1t berjalan
A B C diatas balok, ditanyakan :
I

RA RB RC GP RA; GP RB; GP RC
6m 2m 4m GP MI; GP DI; GP MB

Soal 2 :
P = 1 t berjalan
4m
S1 S2

A I B C D
Balok ABCD dengan
sendi gerber S1 dan S2
RA RB RC RD seperti tergambar.
8m 2m 6m 2m 6m
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73-

a). Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok, ditanyakan;


GP RA; GP RB; GP RC; GP RD
GP MI; GP DI; GP MB; GP DB kanan

b). Akibat rangkaian beban berjalan, ditanyakan : MI max,


2 2
M max m m

P1=4 P2=4 P3=2


t t t
maximorum pada balok tersebut.

3.2.7. Rangkuman
- Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber, harus tahu
dulu bagaimana memisahkan balok tersebut menjadi bagian-
bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu.
- Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya-gaya dalam, perlu
dibuat dulu garis pengaruh reaksi, karena dari garis pengaruh
reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan.

3.2.8. Penutup
Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan,
maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut :

Jawaban :
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74-

Soal No. 1

Keterangan P =1t Titik Nilai Tanda / Arah


RA A 1t  
B 0
S 1/3 t  
C 0
RB A 0
B 1t  
S 4/3 t  
C 0
RC A 0
B 0
S 0
C 1t  
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75-

Lanjutan Jawaban Soal 1

Keterangan P =1t Titik Nilai Tanda / Arah


MI A 0
I 1,333 tm 
B 0
S 0,667 tm 
C 0
DI A 0
I kiri 1/3 t 
I kanan 2/3 t 
B 0
S 1/3 t 
C 0
MB A 0
B 0
S 2 tm 
C 0

Soal No. 2
a).
Keterangan P = 1 dititik Nilai Tanda / Arah
RA A 1t  
B 0
S1 0,25 t  
S2 0
C 0
D 0
RB A 0
B 1t  
S1 1,25 t  
S2 0
C 0
D 0
RC A 0
B 0
S1 0
S2 1,333 t  
C 1t  
D 0
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76-

Keterangan P = 1 dititik Nilai Tanda / Arah


RD A 0
B 0
S1 0
S2 0,333 t  
C 0
D 1t  
MI A 0
I 2 tm 
B 0
S1 1 tm 
S2 0
C 0
D 0

Lanjutan Jawaban Soal 2

Keterangan P =1t Titik Nilai Tanda / Arah


DI A 0
I kiri 0,5 t 
I kanan 0,5 t 
B 0
S1 0,25 t
S2 0
C 0
D 0
MB A 0
C 0
S1 2 tm 
S2 0
C 0
D 0
DB kanan A 0
I kiri 0
I kanan 1t 
B 1t 
S1 0
S2 0
C 0
D

b). MI max = + 14 tm, pada saat P2 terletak pada titik I


MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77-

MI max maximum = + 14.05 tm, terjadi pada titik dibawah P2

3.2.9. Daftar Pustaka


- Soemono, “Statika I”, ITB, bab V
- Suwarno, “Mekanika Teknik Statis Tertentu”, UGM, bab V-4

3.2.10. Senarai
Balok gerber = balok yang bisa dipisah-pisah menjadi beberapa
konstruksi statis tertentu
Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara
balok satu dengan balok yang lain.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78-
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79-

MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI


SERTA CARA PENYELESAIANNYA

4.1. Judul : PELENGKUNG 3 SENDI

Tujuan Pembelajaran Umum

Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti
struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur
tersebut.

Tujuan Pembelajaran Khusus


Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur
pelengkung 3 sendi, mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu
cara menyelesaikan struktur tersebut, serta bisa menggambarkan bidang
gaya dalamnya (Bidang M, N, D)

4.1.1. Pendahuluan
Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi
jembatan, tapi dengan kondisi yang bagaimana ?.
(a).
a. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal :
+ 30, dan dasar sungainya tidak terlampau
+ 30
dalam, pada umumnya dipakai jembatan balok
cm
(b). diatas 2 perletakan biasa seperti pada Gambar
Untuk sungai yang mempunyai lebar
cukup berarti misal : + 100 m, dan dasar
sungainya tidak terlampau dalam, maka
dibuatlah jjembatan balok dengan
Pilar
+ 100 m
beberapa bentang, seperti pada gambar
(b) yaitu jembatan balok dengan 2
bentang (perletakan di tengah
Tapi bagaimana kalau kita mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup
berarti dan dasar sungai juga cukup dalam, sehingga sulit
untuk membuat pilar di tengah-tengah jembatan ?.
(c).
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80-

Tiang
penyangga
Maka jawabannya adalah
konstruksi utama dibuat
pelengkung sehingga tidak
memerlukan pilar di tengah-tengah
Pelengkung sungai (Gambar c). Dengan
konstruksi pelengkung tersebut,
gelagar memanjang, tempat
dimana kendaraan lewat bisa
tertumpu pada tiang-tiang
sungai penyangga yang terletak pada
pelengkung tersebut.

Gambar 4.1.
Bermacam-macam bentuk jembatan

4.1.2. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi


4.1.2.1. Pengertian Dasar
Untuk menjaga kestabilan dari perletakan,
S
struktur pelengkung
tersebut, kedua perletakan
dibuat sendi.
Perletakan
A B A = sendi (ada 2 reaksi VA dan HA).
HA HB
B = sendi (ada 2 reaksi VB dan HB).
VA VA Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah,
sedang persamaan dari
Gambar (a)
syarat keseimbangan hanya
Gambar 4.2. Skema pelengkung 3 3 (tiga) buah yaitu :  H =
sendi 0;  V = 0 dan  M = 0.

Jadi agar struktur tersebut bisa diselesaikan secara statis tertentu, maka perlu
tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu  Ms = 0 (jumlah momen
pada sendi = 0). S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut
sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi
atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi.

4.1.2.2. Penempatan Titik s (sendi)


MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81-

Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 sendi terletak di


busur pelengkung antara perletakan A dan B.

Letak S sendi tersebut


bisa ditengah-
tengah busur pe-
lengkung atau
tidak. Hal ini
tergantung dari
kondisi
B lapangan :
seperti pada
gambar (b),
A dimana letak
sendi s tidak di
tengah-tengah
busur
pelengkung

(b)
Gambar 4.3. Contoh
posisi sendi pelengkung 3 sendi
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82-

4.1.2.3. Pemilihan Bentuk Pelengkung


q kg/m’

A
B Kita kembali ke belakang, kalau kita
RA RB mempunyai balok statis tertentu diatas 2

(dua)
Kalau kita perletakan A danbesarnya
mau mencari B dengan beban di
momen
l
terbagiE –E,
rata maka
q kg/m’, 1
potongan ME-E = maka
VA.x1- bidang
q x12 –
2
+ momennya berbentuk parabola dengan
HA.h1
parabola Bidang M tanda bidang M adalah positif (+) dengan
nilai maximum di tengah-tengah bentang
(c)
Gambar 4.4. Bidang M struktur statis tertentu Nilai ME-E dibagi menjadi 2 bagian.
M terbagi
= q l² rata 1
dengan beban = q l² (coba dihitung lagi sendiri)
8 1
I = VA . x1 - q x12
Sekarang kalau ditinjau struktur pelengkung 3 sendi dengandengan
beban2
persamaan momen 
terbagi rata
diatasnya. II = H A.h1
q kg/m’ 1 1
NilaiMxI ==RA.x
VA - .2 q
x1x²- q x12 sama dengan
2
persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua)
perletakan dan dengan gambar bidang momen
Struktur pelengkung dengan bentang =
sama dengan gambar bidang momen sama
l dan tinggi = f
di A ada
dengan 2 reaksi
pada  V(c),
gambar A dan HA
dimana x1 bergerak
S di B ada 2 reaksi  VB dan HB
dari A ke B.
Perhatikan nilai II = HA.h1.

f Jika potongan E-E bergerak dari perletakan A ke


B, maka nilai x1 bergerak dari 0 s/d l dan h1
HA S HB nilainya akan berubah dari o I perlahan-lahan
II
A B V
naik
B
s/d f dan turun s/d 0 lagi dimana nilai h 1
E l
kalau x1 berubah akan sama dengan nilai
ketinggian pada parabola.
h1 f
Misal :
Jika potongan E-E di A  x1 = 0 dan h1 = 0
HA HB Jika potongan E-E di S  x1 = ½ l dan h1 = f
A B
Jika potongan E-E di B  x1 = l dan h1 = 0
Bidang M.
Gambar nilai I = VA.x
l 1 – ½ q x1² dst.
Nilai II = HA.h1
VA VB HA = konstant
x1
h1 = ketinggian pelengkung
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83-

Bidang M +

Gambar nilai II = HA.h1

Gambar 4.5. Skema bidang M pada pelengkung


Nilainya mengecil
Harga momen total adalah sebagai berikut :
Nilai I dan nilai II = nilai total ME-E
+ - = nilai total ME-E
+ = nilai kecil (saling menghapus)
Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai
momen.

4.1.3. Cara Penyelesaian


4.1.3.1. Mencari Reaksi Perletakan

P1 S Ada 2 (dua) cara pendekatan


penyelesaian untuk mencari reaksi.
S1
Pendekatan 1 :
hB Jika H dan V atau H dan V dicari
A A B B

HB hA bersamaan.
a1 B
b1 Pendekatan 2 :

HA VB Jika VA dan VB dicari dulu


A
baru HA dan HB kemudian
a b
Gambar 4.6. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1)
Pendekatan 1VA
 HA dan VA ldicari dengan persamaan MB = 0 dan MS =
0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui)
Gambar (a)
MB = 0  VA.l – HA. (hA-hB) – P1.b1 = 0  (1)
MS = 0  VA.a – HA.hA – P1.S1 = 0  (2)
(bagian kiri)
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84-

Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan HA bisa dicari.
 HB dan VB dicari dengan persamaan MA = 0 dan MS = 0 (bagian
kanan)  2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui
MA = 0  VB.l + HB (hA – hB) – P1.a1 = 0  (3).
MS = 0  VB.l - HB . hB) = 0 (4).
(bagian kanan)
Dari persamaan (3) dan (4) maka VB dan HB bisa dicari.

P1 S
S1

f Reaksi horizontal HA dan HB ditiadakan kemudian


Ba B arahnya diganti, masing-masing menuju ke arah
a1
Ab b1 perletakan yang lainnya menjadi Ab  dan  Ba
A Pendekatan 2 BV
Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan
l
arah Ba yang menuju ke perletakan A.
AV a b
Kita bisa langsung mencari reaksi Av dan Bv.
Gambar b Kemudian dengan MS = 0 dari kiri kita bisa
mencari besarnya Ab dan dengan Ms = 0 dari
Gambar 4.7. Skema gaya dan bagian
jarak kanan kita bisa mencari besarnya nilai Ba.
pada pelengkung (pendekatan
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85-

 Mencari reaksi Av

P1b1
 MB = 0  Av.l – P1. b1 = 0  Av = (1)
l

 Mencari reaksi Bv
P1a1
 MA = 0  Bv.l – P1. a1 = 0  Bv = (2)
l
 Mencari reaksi Ab

 MS = 0  Av.a – P1.S1 – Ab . f = 0
Av . a  P1S1
(bagian kiri) Ab = dengan memasukkan nilai Av
f
dari persamaan (1), maka nilai Ab bisa dicari.

 Mencari reaksi Ba

 MS = 0  Bv.b – Ba . f = 0
Bv . b
(bagian kanan) Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari
f
persamaan (2)
maka nilai Ba bisa dicari.

Lihat posisi Ba dan Ab  merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ()


dan Ab () Ba cos 
Ba 
Ba sin 
Ab sin 
Ab

Ab cos 
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86-

Kedua reaksi ini harus


diuraikan menjadi gaya-
gaya yang vertical dan
horizontal

Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu :

Ab cos () merupakan uraian horizontal dan


Ab sin () merupakan uraian vertical sedang.

Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu :


Ba cos () merupakan uraian horizontal dan
Ba cos () merupakan uraian vertikal.

 Bagaimana dengan komponen-komponen itu selanjutnya ?


Ternyata :
Ab cos  = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi
horizontal di A.
( )
Ba cos = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi
horizontal di B.
()
dan :
VA () = Av () + Ab sin  ()
Pendekatan 1 gambar (a) pendekatan 2 gambar (b) dan
VB () = Bv () + Ba sin  ()
Pendekatan 1 gambar (a) pendekatan 2 gambar (b)
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87-

4.1.3.2. Mencari Gaya-gaya Dalam


Seperti telah diketahui sebelumnya, gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam
momen (M), gaya lintang (D) dan gaya normal (N).

P
x
Untuk balok yang lurus, bukan pelengkung,
seperti pada gambar (4.8), maka dengan mudah
A B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang
a b M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D).
RA l RA Karena bidang M  merupakan fungsi x
Mx = RA . x, (x dari 0 ke a)  linear dan
Bidang bidang D  merupakan nilai konstan Dx = R A (x
M
+ dari 0 ke a).

P.a.b
l

RA + Bidang D

- RB

Gambar 4.8. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan

Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?.


x
q kg/m’
Lihat pada gambar 4.9 disamping, dimana
suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban
terbagi rata q kg/m’. Jika x adalah titik yang
ditinjau bergerak dari A s/d B, maka
Mx = VA . x – ½ q x² - HA . y
S
I = VA . x – ½ q x² gambarnya adalah parabola
seperti pada Isub bab 4.1.2.3
II Gambar (c).
y
II = HA . y  HA = konstan nilainya
y = jarak titik dasar ke
pelengkung
A B
HA HB
VA VB
Gambar 4.9
Pelengkung 3 sendi
dengan beban terbagi
rata
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88-

y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung, dimana pada

4 fx (l  x )
umumnya persamaannya adalah : y =

II = HA.y  gambarnya juga parabola
Jadi Mx = I – II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I
dan II  yang tidak mudah penggambarannya !.

* Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang)

Kita lihat titik dimana x berada di situ ada


x Vx dan Hx.
Hx
Vx = VA – q . x (jumlah gaya-gaya vertikal
S
di x kalau di hitung dari bagian kiri)
Vx
Hx = HA

HA HB

VA
VB

Gambar 4.10. Gaya vertical dan


horizontal disuatu titik pada
pelengkung 3 sendi

Bagaimana nilai Dx dan Nx ?  gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus


diuraikan ke gaya-gaya yang  (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) 
Dimana posisi sumbu batang?.
Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x
berada.

Garis singgung tersebut membentuk


Garis singgung di sudut  dengan garis horizontal.
x Hx sin 
Vx sin    maka Vx dan Hx harus diuraikan
 Hx
ke 

Vx cos 
Hx cos
Vx 
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89-

* Uraian Vx ke garis singgung * Uraian Hx ke garis


singgung

Gambar 4.11. Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang

Dx = jumlah komponen yang  garis singgung


Nx = jumlah komponen yang // garis singgung, maka
Dx = Vx cos  - Hx sin 

Jumlah gaya Jumlah gaya dari


dari kiri bagian kiri bagian dengan
arah ke atas  arah ke bawah 
tanda (+) tanda (-)

Nx = - Vx sin x cos 


= - ( Vx sin Hx cos 

Kedua gaya ini menekan


batang  tanda (-)

Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya
lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan.
Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan
nilai  akan berubah lihat gambar bawah. Garis
singgung
Garis
singgung

x di sebelah kanan titik


puncak
Gambar 4.12. Perubahan arah garis singgung
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90-

Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bidang


momen (Bid. M); bidang gaya lintang (Bid. D) ataupun bidang normal
(Bid. N). Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen,
nilai gaya lintang, dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah
pelengkung tersebut.

Contoh Penyelesaian
Contoh 1 3 t/m’
Diketahui :
Pelengkung 3 sendi dengan persamaan
4fx(lt  x )
parabola y =
S l²
c y = jarak pelengkung dari garis
C horizontal dasar
x = aksis yang bergerak secara
f=3 horizontal dari A ke B
yc m l = bentang pelengkung
f = tinggi pelengkung
H H
A B Pelengkung tersebut dibebani secara
terbagi rata q = 3 t/m’.
2.5 m
xc
VA VB

5m 5m

Gambar 4.13. Pelengkung 3 sendi


dengan beban terbagi rata

Dintanya : Nilai VA; VB; H; Mc; Dc dan Nc

Dimana c terletak sejarak xc = 2.5 m dari titik A.


Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B; di A ada V A
dan H dan di B ada VB dan H
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91-

Reaksi horizontal di A ditulis H bukanlah H A demikian juga, reaksi


horizontal di B ditulis H bukanlah HB  yang berarti reaksi horizontal di A
(HA) dan di B (HB) adalah sama.

HA = HB  kenapa ? dengan mengacu bahwa H = 0  dimana beban


luar secara horizontal tidak ada  maka HA = HB = H

Mencari VA dan VB
 MB = 0  VA . l – q.l. ½ l = 0  VA = ½ .3.10 = 15 ton ()
 MA = 0  VB . l – q. l. ½ l = 0  VB = 15 ton ()
mencari H
 Ms = 0 (kiri bagian dari S)
VA . 5- H . 3 – ½ q . (5)² = 0
VA .5  1 / 2.q (5)² 15.5  1 / 2 . 3 . 25
H=   12.5 ton
3 3
 Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y

4 fx (l  x )
=

untuk x = 2.5 m
4.3.2,5 (10  2,5)
yc =  2,25 m
10²
 Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c
Mc = VA .Xc – H.yc – ½ .q.Xc²
= 15 . 2,5 – 12,5 . 2,25 – ½ . 3 . 2,5² =0
(nilai momen = 0)
 Mencari gaya normal dan gaya lintang
Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x,
Menentukan nilai c
maka kita perlu mencari sudut c
4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x )
Hc c y = yaitu sudutyangy'  terbentuk antara
l² l²

Vc untukgaris singgung di titik c dan garis


x = 2.5
horizontal.
4 .3 (10  5)
y’ =  0,6
A B 10²

2.5m arc tg c = 0,6  c = 30,96°


sin  = 0,5145
Gambar 4.14. Sudut c cos  = 0,8575
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92-

Vc = VA – q.x = 15 – 3.2,5 = 7,5 ton ()


Hc = H = 12,5 ton ()

Dc = Vc cos c – Hc sin c
= 7,5 . 0,8575 – 12,5 . 0,5145
= 6,4312 – 6,4312 = 0

Hc sin
Vc sin c
c
c Hc c

Vc cos c
Vc Hc cos c

Gambar 4.15. Uraian gaya Vc dan Hc

Nc = - (Vc.sin c + Hc cos c)


= - (7,5 . 0,5145 + 12,5 . 0,8575)
= - 14,5774 ton
Dari hasil nilai Diketahuitampak
gaya dalam
tersebut : bahwa nilai
Mc = 0; Dc = 0; Nc = -14,5774 Pelengkung
ton, jadi ini 3jelas
sendi dengan
bahwa persamaan
struktur
4fx(l  x )
parabola
xc=2.5m ditekankan menerima gaya
pelengkung tekan. bentang l = 10 m

S
Contoh 2
xp=2m dan tinggi f = 3 m persis seperti pada
contoh 1, hanya beban luar yang
C
P=6t berbeda yaitu P = 6 ton () horizontal
f=3
yc terletak di pelengkung dengan jarak
yp m horizontal = 2 m dari titik A.
HA HB Ditanya : Nilai VA; VB; HA; HB; Mc;
A B
Dc dan Nc
Titik c terletak sejarak Xc = 2,5 m dari
VB
V A.
A

5m 5m
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93-

Gambar 4.16. Gambar


pelengkung 3 sendi
pada contoh soal
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94-

Jawab :
Karena ada beban horizontal maka HA  HB

Mencari VA dan VB
Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m
4.3.2 (10  2)
Yp =  1,92 m
10²

 MB = 0  VA . l + P.yp = 0
VA . 10 + 6 . 1,92 = 0  VA = -1,152 ton ()

 MA = 0  VB . l - P.yp = 0
VB . 10 - 6 . 1,92 = 0  VB = + 1,152 ton ()

v=0 VA + VB = 0  cocok

Mencari HA dan HB

 MS = 0 (kiri)
 MS = 0  VA . ½ l – HA . f – P ( f – yp ) = 0
- 1,152 . 5 – HA . 3 – 6 (3 – 1,92) = 0
- 5,76 – HA . 3 – 6 . 1,08 = 0
 5,76  6,48
HA =  4,08 ton ()
3
 MS = 0 (kanan)
 MS = 0  VB . ½ l – HB . f = 0
1,152 . 5 – HB . 3 = 0  HB = 1,92 ton ()

Kontrol H = 0
P + HA + HB = 0
6 – 4,08 – 1,92 = 0 (cocok)
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95-

Mencari M, Dc dan Nc
Seperti pada contoh 1  yc = 2,25 m

c = 30,96°
sin c = 0,5145; cos  = 0,8575

Mc = - VA .Xc + HA . yc – P (yc – yp)

Mc = -1,152 . 2,5 + 4,08 . 2, 25 – 6 (2,25 –


C c
1,92)
P=6 yc = - 2,88 + 9,18 – 1,98
t = 4,32 tm
HA HB

VA VB

Hc C Hc sin
Hc c
Vc c c
P
Vc sin  Vc cos 
Vc Hc cos c
HA

VA
Gambar 4.17. Distribusi Vc dan Hc

Vc = 1,152 ton () Dc = - Vc cos c – Hc sin c


Hc = 6 – 4,08 = 1,92 () = -1,152 . 0,8575 – 1,92 .
0,5145
= -1,9757 ton
Nc = + Vc sin c – Hc cos c
= 1,152 . 0,5145 – 1,92 .
0,8575
= - 1,0537 ton
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96-

4.1.4. Latihan
Untuk mempraktekan teori-teori yang ada diuraian depan, maka
perlu diadakan suatu latihan sebagai berikut :

1).
q=2
t/m’
P = 6t
S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban
c
terbagi rata q = 2 t/m’ sepanjang setengah
bentang; dan P = 6t vertical terletak sejarak 2
f=3 m horizontal dari B.
m
HA 2m Ditanyakan : VA; HA; VB; HB; Mc; Nc; Dc
A B
HB
2m
VA VB

4m 4m

Persamaan Parabola :
4 f x (l  x )
y=

2). Suatu pelengkung sendi ABS dengan beban
q=3 terbagi rata q = 3 t/m’ sepanjang
t/m’ setengah bentang dan P = 4 ton horizontal
terletak di sejarak 2 m dari A.
c S
P = 4t
Ditanyakan : VA; HA; VB; HB; Mc; Nc; Dc
f=4
m

A HA HB B
4 f x (l  x )
Xp=2 m
Persamaan parabola : y =

Xc=3 m
VA VB
5m 5m
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97-

4.1.5. Rangkuman
o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan
untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam.
o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang
bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.
o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai
momen, gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik. Sedang
bidang momen, bidang gaya lintang dan bidang normal tidak
dihitung karena penggambarannya cukup kompleks.

4.1.6. Penutup
Untuk mengukur prestasi, mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal-soal
tersebut diatas sebagai kontrol.

Soal No. 1

Keterangan Titik Nilai Arah /


Tanda
Reaksi Vertikal A 7,5 ton 
B 6,5 ton 
Reaksi Horizontal A 4,667 ton 
B 4,667 ton 
Data Pendukung yc 2,25 m
y’ 0,75
Sin  0,6
Cos  0,8
Momen C 0,5625 tm (-)
Gaya Lintang C ~0 -
Normal C 5,8336 ton (-)

Soal No. 2
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98-

Keterangan Titik Nilai Arah /


Tanda
Reaksi Vertikal A 10,226 ton 
B 4,774 ton 
Reaksi Horizontal A 1,9675 ton 
B 5,9675 ton 
Data Pendukung yc 3,36 m
y’ 0,64
Sin  0,539
Cos  0,842
Momen C 7,3672 tm (+)
Gaya Lintang C 2,184 ton (-)
Normal C 5,6854 (-)

4.1.7. Daftar Pustaka


1. Soemono “Statika I” ITB, bab
2. Suwarno “Mekanika Teknik Statis Tertentu”, UGM, bab

4.1.8. Senarai
Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana
salah satu sendinya (selain perletakan), berfungsi supaya
pelengkung tersebut menjadi statis tertentu.

4.2. Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi


4.2.1. Pendahuluan
Seperti pada balok diatas dua perletakan, struktur pelengkung 3 sendi
difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu
ada muatan yang berjalan. Untuk mencari besarnya gaya
dalam (momen, gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung
tersebut perlu adanya garis pengaruh.

4.2.2. Pengertian Dasar


Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama
dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus, yaitu besarnya
reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan
berjalan sebesar satu satuan muatan.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99-

4.2.3 Prinsip penyelesaian.


a. Garis Pengaruh Reaksi

x P
G.P. VA dan VB (garis pengaruh reaksi di A dan B) P
S
Px
berjalan dari A ke B,  MA = 0  VB =
l
VA VB VB
f Untuk P di A ; x = 0 VB = 0
Untuk P di B ; x = l VB = 1 ton
H H
 MB = 0
l
a b P (l  x )
VA = l ton (linier)
G.P VB
(+) Untuk P di A ; x = 0 VA = 1 ton
1t
Untuk P di B ; x = l VA = 0
G.P VA
G.P.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal)
(+)
1t HA = HB (karena beban hanya vertikal)

G.P. H Jika P berjalan dari A ke S (lihat bagian kanan S)

P. a . b  MS = 0 VB . b – H . f = 0,
l .f VB . b Px b
H= = . ton (di persamaan atas VB
VB . VA . f l f

Px
= )
Gambar 4.18. Garis pengaruh VA, VB dan l

H
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-100-

Untuk P di A ; x = 0  H = 0
P. a .b
Untuk P di S ; x = a  H = l . f
ton

Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): MS = 0 VA . a -


H.f = 0
a
H = VA . f
ton

P (l x ) a P (l  x )
ton
H= l f dipusatkan VA = l
Untuk P di B ; x = l H=0
P. a .b
Untuk P di S ; x = a H= l .f
ton

G. P. H segitiga dengan puncak dibawah S dengan nilai H =

G.P. MC (Garis Pengaruh Momen dititik C).


u v Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C
ke B), maka lihat kiri potongan (kiri C).

MC = VA . u - H . c
I II
(dibagi menjadi dua bagian I dan II)
VA VB
f P dikiri potongan C (dari A ke C) lihat
c
kanan potongan.

A B MC = VB . v - H . c
H H I II
(dibagi menjadi dua bagian I dan II)
a b Bagian I  VA . u dan VB . v sama dengan
l
G.P. bagian I G.P. MC pada balok di atas dua perletakan
(+)
P . u .
P . u .v Untuk P di C  maka MC =
l
l C

G.P. bagian II u v
(-) VA
P. a .b VB
c
l .f
Bagian II  H.C = G.P. H x C
G.P. MC

(+ (-)
) P . a .b Garis Pengaruh Total (MC) sama
P.u.v c dengan jumlah dari garis
l.f
l pengaruh bagian I dan bagian II
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-101-

Gambar 4.19. Gambar GP.Mc


C. Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan Normal (N)

u v
VA G.P. N dan D
Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C)
S
C  VA VC = VA
H VA sin  HC = H
VA diuraikan
VA VB
f VA cos   menjadi gaya
C yang sejajar
( // ) dan (  )
garis
B
H H singgung di C,
VA sin  dan VA cos .
a b
H cos  HC = H
H diuraikan
l 
menjadi gaya-
G.P. NC bagian I  gaya yang
Sin  sejajar ( // )
H sin  dan tegak lurus
(+)
( - )v
sin  yaitu H cos  dan H sin , sehingga:
l NC = - (VA sin  + H cos  )
GP VB sin  I II
GP. VA Sin  DC = VA cos  - H sin 
GP NC Bagian II I II
I -> identik dengan G.P. Gaya Lintang
(- P. a . b balok diatas 2 perletakan untuk G.P. Gaya
cos 
) l .f normal perlu dikalikan sin  dan untuk G.P
Gaya Lintang perlu dikalikan cos 
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-102-

GP NC Total ( I dan II )
v
sin 
l (-) II  identik dengan garis
pengaruh gaya horizontal

a .b (H), untuk GP. Gaya normal


cos 
l .f
G.P. NC perlu dikalikan cos  dan
untuk GP. Gaya lintang
v
cos  perlu dikalikan cos sin 
l
(-)
v (+)
cos  Mencari Nilai 
l
Persamaan parabola 

VB cos  VA cos  4fx (lt  x )


y=

GP.DC bagian II
Pab 4f (lt  2 x )
- sin  y’ =
lf l²

Mencari nilai 
u Persamaan parabola
cos 
l GP DC Total (I + II) 4fx (l  x )
y=

(-) (
4f ( l  2 x )
y' =

v
cos  Untuk nilai x tertentu  bisa dicari
l.
a b
sin 
G.P. DC l. f

Gambar 4.20. Garis pengaruh gaya lintang


(D) dan gaya normal (N)
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-103-

1. Contoh Soal

x P
Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar
S dengan persamaan parabola:

C C
4 fx ( l  x )
Y=

Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc
f =3
m Jawab :

H H GP VA
A B  MB = 0
VB P (l  x ) lx
VA 5m 5m VA = ton = ton
l l
2.5 l Untuk P di A  x = 0  VA = 1 ton
m Untuk P di B  x = l  VA = 0
G.P. VA
(+) G.P. VB
1t  MA = 0
Px x
VB = ton  ton
G.P. VB l l
t
(+)
1tUntuk P di A x=0 VB = 0
Untuk P di B x=l VB = 1 ton
G.P. H
G.P. H
(+)
P berjalan antara A - S (lihat kanan S)
5/6
Px x
 MA = 0 VB = 
l l
1
 MS = 0 VB l - H.f = 0
2
VB . 5 - H. 3 = 0 H=
Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari VA . 5
pelengkung 3 sendi
3
H=
( l  x ) 5 (10  x ) 5
.  t
l 3 10 3
Untuk P di B  x = 10  H = 0 t
Untuk P di S  x = 5  H =
105 5 5 5 5
.   t
10 3 10 3 6
P.a.b 1.5.5 5
Atau H =   t
l. f 10.3 6
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-104-

S
C
i VA
VA cos  VA sin  VC = VA
HC = H
C
A

G.P. NC Bagian I B

H cos 
(+)
(+ 0.1286 t
C
0.3858 (-)

H sin 
G.P. NC Bagian
(-) 0.714 t
NC = - (VA sin  + H cos )

I II
DC = VA cos  - H sin 
G.P NC
0.5144 I II
t Mencari nilai C
(-)
Y=

Y' =
0.9712 Untuk x = m  y' =
(-) y' =3/5 = arc tg C
(-) 0,2143 G.P.DC
Bag.I C = 30.96º  sin  = 0.5145
(+)
cos  = 0.8575
0.643 .G.P. NC
1
G.P. DC bag. II NC = - (VA sin  + N cos )

(-) 0.42875
I II
I untuk P di C  x = 2.5 m  VA = ¾ t
VB = ¼
t
G.P. DC VA sin  = ¾ . 0,5145 = 0,3858
(-) I
0.4286 VB sin  = ¼ . 0,5145 = 0,1286

0,428 II  H cos 
8 Untuk P di S H cos  = 5/6 . 0,8575 =
0,714
Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada G.P. DC
pelengkung 3 sendi DC = VA cos  - H sin  Untuk P di C
x = 2,5
I II VA = ¾
t ;VB = ¼ t
Utk P di S  H sin  =5/6 . 0.5145 =
0,42875

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)


-105-

4.3. Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi


4.3.1. Pendahuluan
Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun
terdapat muatan yang tak langsung.
Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung
berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas
pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara.

Gelagar perantara

Kolom perantara

Pelengkungan
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-106-

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar


Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung
pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal
ini pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian
ke kolom perantara.

q = kg/m’
P
a b

R1 R2 R3 R4 R5 R6
q kg/m’
P R1 R2 R3 R5
R4 R6

    
L =5
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-107-

. . . . .

(a). Kondisi pembebanan (b). transfer beban lewat


kolom
perantara
P
q = kg/m’

R1 R2 R3 R R5 R
  a
 b4  6

(c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer)

R1 = q . ½  = ½ q
R2 = q .  = q
R3 = q . ½  + (b/ ). P = ½ q + (L/ )P
a
R4 = P

1t 1t
R5 = R 6 = 0
q = 1 t/m’

3 4.24.
2 Gambar a a5
4 Distribusi 6
beban pada pelengkung 3 sendi
S
C

yc f

Contoh.
L=6A

xc


MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-108-

Muatan Tak Langsung Pada


Pelengkung 3 Sendi.
Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi
dengan muatan tak langsung seperti
pada gambar.

.
.
Prinsip penyelesaian sama dengan
muatan tak langsung pada balok
sederhana diatas 2(dua) perletakan.
.

.
Beban dipindahkan ke pelengkungan
melalui gelagar. Menjadi (R1; R2; R3;
. .
R4 dan R5)
a b R2 = R3 = ½ .qton
R4 = 0.5 ton
R2 R4 R5
R1 C R3 R5 = 1.5 ton
R6
.
S
e Vc = Av – R1
.

Hc = H
Yc
Mc = VA.Xc-R2.e-HA.Yc
HA HB
Vc = VA.Xc-R2.e-HA.Yc
Nc = -(Vc . sin + Hcos )
VA VB
Dc = Vc. Cos  - Hc sin 

Vc Vc sin 
Hc cos 

Vc cos  c
C C
Hc

Hc sin 
Gambar 4.25. Distribusi beban pada pelengkung 3
sendi

4.4. Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3


sendi
4.4.1. Pendahuluan
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-109-

Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang
berjalan diatasnya, untuk itu garis pengaruh selalu
diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam
(M,N,D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut.
4.4.2. Prinsip Dasar
Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan,
transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara. Beban
standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan.
(1 ton, atau 1 kg atau Newton).

   Seperti garis pengaruh pada gelagar



tak langsung diatas-atas 2 tumpuan.
Bagaimana garis pengaruh momen
A B dipotongan I pada gambar dengan
C I D E
. . . .
gelagar tak langsung (gambar a).
½ ½  Gambar b adalah gambar garis
  pengaruh momen dipotong I
+ (GP MI) untuk gelagar langsung
dengan puncak dibawah
1,5  . 2,5  15 potongan I, dengan ordinat
 
 8 1,5 .25 15
puncak adalah  
4 8
GP MI untuk gelagar langsung  Kalua gelagarnya tak langsung,
maka kalau diperhatikan beban
Gambar 4.26. Garis pengaruh momen di tak pernah lewat diatas
potongan I untuk gelagar potongan I, karena potongan I
langsung tersebut terletak diantara
   gelagar lintang C dan D.

54,33 54,33 54,33 54,33 Kalau muatan berada diatas gelagar
C – D  beban tak penuh melewati
A B tepat pada potongan I
C I D E
P

y1 y + C D
y2 I
P1 P2
GP MI gel. langsung
Beban tersebut selalu ditransfer ke
y1 y2 gelagar lewat titik C dan D dengan
C D
nilai P1 dan P2.I
Jadi ordinat yang bawah titik I
adalah (P1.Y1 + P2.Y2). Jika letak
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-110-

GP. MI gel. tak potongan I ditengah-tengah C-D


langsung maka ordinat dibawah potongan I
adalah ½ y1 + ½ y2
½ y1 + ½
y2

Gambar 4.27. Garis pengaruh momen di C I D


potongan I untuk gelagar
tak langsung
y1 y2

½ y1 + ½ y2

Jadi garis pengaruh untuk gelagar


tak langsung sama dengan garis
pengaruh pada gelagar langsung
dengan pemotongan puncak dipapar
dimana titik tersebut berada.
Pemaparan pada gelagar disebelah
kiri dan kanan dimana titik berada
seperti pada gambar d.

Contoh
Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti
pada gambar. Gambarkan Garis pengaruh Mc, Dc dan Nc
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-111-

Penyelesaian;
Untuk garis pengaruh gelagar tak
langsung.
C
S Penyelesaiannya sama dengan beban langsung,
Cuma dipapar pada bagian gelagar yang
bersangkutan.
yc f VA .x  H
 .yc
GP Mc =   
H H I II
.
.

VA VB
 
.

a .
b
GPMc bagian I
. .

pemaparan
P.. I +
l GPMc bagian II

pemaparan
- II P.a.b
yc
l.f G.P. Mc total
(bag I + bag II)
P..
+
l -
G.P.Nc = - (Av sin  + H cos  )
pemaparan P.a.b
yc
Sin  l.f

-
P.a.b
cos 
lf
pemaparan
pemaparanG.P.Dc = Av cos  - H sin 

Cos  -
P.a.b
sin 
lf

pemaparan

Gambar 4. 28.
4.5. Judul : Portal 3 sendi
4.5.1. Pendahuluan
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-112-

Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam, bisa


berupa balok menerus, balok gerder, pelengkung 3 sendi dan
gelagar lainnya.
Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi, maka
bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti
tergambar dibawah ini

A B
Gambar 4.29. Bentuk portal 3 sendi
Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari
pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan
tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung.

4.5.2. Prinsip Dasar


Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan pelengkung 3 sendi
yaitu memakai 2 pendekatan

Pendekatan I
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-113-
S2
P2
P1 P1
S

a1 b1

a2 b2

h
B

h
HB
VB

h'
A HA

VA

a b

Gambar 4.30. Arah reaksi-reaksi dari portal 3 sendi untuk


penyelesaian dengan cara pendekatan I
Prinsip penyelesaiannya sama dengan pada pelengkung 3 sendi
yaitu memakai 2 pendekatan.

Pendekatan I
2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi.

 MA = 0  VB.l + HB.h’ – P2 . a2 – P1 . a1 = 0
VB dan HB dapat
 MS = 0  VB.l + HB. (h – h’) – P2 . S2 = 0 ditentukan
(dari kanan)

 MB = 0  VA.l + HA.h’ – P1 . b1 – P2 . b2 = 0
VA dan HA dapat
 MS = 0  VA.a + HA.h – P1 . S1 = 0 ditentukan
(dari kiri)

Pendekatan II
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-114-

P2
S1 S S2
P1 P1
S

h a1 b1

a2 b2

B
h BA
BV

h
'
A AB

AV

a b

P1 P1
S

f’ ff ’
B
BA
BV
A AB

AV

a b

Av ’ AB HB
B
BA Bv ‘
A HA

Gambar 4.31. Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II


MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-115-

Cara 2
 MB = 0
Av.l – P1 . b1 – P2 . b2 = 0
P1.b1  P2 .b 2
 Av =
l

 MA = 0
Bv.l – P1 . a1 – P2 . a2 = 0
P1.a 1  P2 .a 2
 Bv =
l

 MS = 0 (kiri) HA . f ’ Nilai
AB . f = H A . f ‘
Av.a – P1 . S1 – AB . f = 0
.a  P1 . S1
 AB = Av
f
 MS = 0 (kanan) HB . f ’
Nilai
Bv.b – P2 . S2 – BA . f = 0 BA . f = HB . f ‘
Bv . b  P2 . S 2
 BA =
f

AB dan BA diuraikan
HA = AB cos 
HB = BA cos 
Av ‘ = AB sin 
Bv ‘ = BA sin 
Maka :
VA = Av + Av ‘
VB = Bv – Bv ‘
HA = AB cos 
HB = BA cos 

Contoh
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-116-

Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar , selesaikanlah struktur


tersebut.
P P1= 1 m Penyelesaian;
q = 2t/m'
S 4t
D Memakai pendekatan 2
C
 MB = 0
Av.l – q . 3 . 4,5 - P.1 = 0

4m
5m (f’)
AB Av.6 – 2.3. 4,5 – 4.1 = 0
B HA 27  4
Av =  5 1 / 6 ton

2m
BA
Av 6

HB B  MA = 0
3m 3m Bv Av.l – P.5 - q . 3 . 1,5 = 0
Av.6 – 4.5 – 2.3 . 1,5 = 0
20  9
Bv =  4 5 / 6 ton
6
HA
 MS = (dari kiri)
AB BA
Av ‘ Av . 3–2.3 . 1,5– HA.5 = 0
 Bv ‘
4 5/ 6 . 3 8
HB HB =  1.3 ton   
5
Gambar 4.32. Skema reaksi yang terjadi
VA = Av – Av’
dalam portal 3 sendi
= 5 1/6 – 0,4333 = 4,7334 t
HA = 1,3 ton VB = Bv + 0,4333 m
Av’ = HA . tg 
Av’ = 1,3 . 2/6 = 0,4333 () = 4 5/6 + 0,4333 = 5,2666 t
Kontrol :  V = 0
Bv’ = 0,4333 ()
6 + 4 = 4,7334 + 5,2666
4t Kontrol :  H =0

q = 2t/m' P1 HA () = HB ()


S
D
C

Pusat
A 1.3t

4.7334t 1.3t
A
B B

5,2666 t
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-117-

Bidang M (momen)

5,2 tm 7,8 tm Mc = -HA . 4 = -1,3.4 = - 5,2


- S -
tm
- C D - Mmax teletak di D = 0 
x = 2,3667 m (daerah cs)
x = 2,3667  Mx = -HA . 4 +
A
VA . 2,3667 – ½ . q (x²)
x
B Mx = -1,3 . 4 + 4,7334 .
BIDANG M

1,2666 t 2,3667 – ½ . 2 (2,3667)²


4,7334 + = -5,2 + 11,20254 – 5,60127
t -
5,2666 t = 0,40127 tm (M max)
- 4
MD = -HB . 6 = -1,3 . 6 = - 7,8
tm
BIDANG D
+
1,3 t Momen dibawah beban P
MP=VB.1 HB.6 = 5,2666.1 – 7,8
1,3 t
- = - 2,5334 tm
1,3 t 1,3 t
Bidang D (gaya lintang)
- BIDANG N Daerah A-C  D = -HA = -1,3t
- Daerah C-D  Dx = VA – qx
4,7334 t Di S  x = 3 m 
Ds = 4,7334 – 6 = -1,2666 tm
5,2666 t Daerah B-D  D = -HB = -1,3
Gambar 4.32. Bidang M, N, D portal 3 sendi t

Bidang N (gaya Normal)


Daerah A-C  N = -VA
= -4,7334 ton
Daerah C-D  N = -HA = -HB
= -1,3 ton
Daerah B-D  N = -VB =
-5,2666 tm
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-118-

4.6. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI

4.6.1. Pendahuluan
Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan, maka untuk
memperpanjang bentang, dibuat balok gerber dari portal 3
sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a).
S S1

C
(a)
S = sendi dari portal 3 sendi

S1 = sendi gerber
A B

C
RS1
Rc

Gambar 4.33.
RS1 Skema pemisahan struktur gerber
S
portal 3 sendi menjadi 2 bagian

(b
)

- Prinsip penyelesaian dasar seperti


pada Balok gerber biasa.
4.6.2. Prinsip Penyelesaian Dasar - Dipisahkan dulu struktur gerber
S1 C tersebut menjadi 2 bagian, dimana

RS1 kedua-duanya harus merupakan

S RS1 konstruksi statis tertentu.


- Harus pula diketahui mana struktur
yang ditumpu dan mana pula
struktur yang menumpu.
- Struktur yang ditumpu diselesaikan
dulu dan reaksinya merupakan
Gambar 4.34. Skema pemisahan struktur beban pada struktur yang
gerber portal 3 sendi
menumpu.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-119-

4.6.3. Contoh Penyelesaian


GERBER PADA PORTAL 3 SENDI
P1
q t/m’
S S1
C

S = sendi portal
S1 = sendi gerber

A B
Penyelesaian sama
dengan prinsip pada
P1 balok gerber

Balok S1-C merupakan


struktur yang ditumpu
RS1 RC dari portal 3 sendi
q t/m’ RS1
S

A B S, merupakan
struktur
yang menumpu.

Reaksi RS1 pada struktur


HA HB
B S1-C merupakan beban
A
pada struktur portal
sendi A B S1.
VA VB Baik struktur S1-C
ataupun struktur A B S1
kedua-duanya
Gambar 4.35. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi merupakan struktur sta-
tis tertentu
Penyelesaian kedua struktur tersebut, baik S1-C maupun A B S1
diselesaikan seperti biasanya, termasuk penyelesaian gaya-gaya
dalamnya.

4.7. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi


4.7.1. Pendahuluan
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-120-

Seperti biasanya, bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu


dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan. Jadi untuk
menghitung besarnya reaksi, besarnya momen serta gaya
lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh.

4.7.2. Prinsip Dasar


Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur
yang ditumpu dan mana yang menumpu.
P
Sx Seperti pada gambar (a) dan (b)
(a) S1
u v C
struktur S,C adalah yang
E C
A’ D S B’ S1 ditumpu sedang struktur ABS1
adalah struktur yang menumpu
f

H H Kalau muatan berada diatas


A B
struktur ABS1, maka RS1 dan Rc
A B
c a b d e
di struktur S1C tidak ada, namun
l sebaliknya jjika muatan berada
C
S1 d
diats S1C maka reaksi-reaksi di
l
- struktur ABS1 ada.
GP.RA
l c S
(b) + 1t
l
l d
C 1t l
-
l GP.RB
V +
Gambar
A 4.36.
l Pemisahan
B struktur pada gerber portal 3 sendi

c d
+
+ l
l - GP.DD

l a.d
GP.RB Contoh Penyelesaian
4.7.3. GP.RA
l.f
a.b
b.c
+GARIS PENGARUH GERBER
l .f PORTAL 3 SENDI
+
l .f GP.ND=GP.H
-

d.a
u.v a.b a.b
.f  l
l l.f l
GP.MD
cb
cb
l
l
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-121-

Gambar 4.37.
GP.R A
Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi

l x
RA = ton
l
l c
P di E  x = - c  RA = ton
l
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-122-

l
P di A  x = 0  RA =  1 ton
l
P di B  x = l  RA = 0 ton
d
P di S1  x = l + d  RA = - ton
l

GP.RB
x
RB = ton
l
c
P di E  x = - c  RB = ton
l
P di A  x = 0  RB = 0 ton
P di B  x = l  RB = 1 ton
l d
P di S1  x = l + d  RA = ton
l

GP. DD
P berada antara E  D  lihat kanan potongan  DD = -RB
P berada antara D  C  lihat kiri potongan  DD = RA

GP. ND
Garis pengaruh ND sama dengan g.p nilai H.
x
P berada antara E  lihat kanan S  RB =
l

 Ms = 0 (lihat kanan s)  RB . b – H.f = 0


b
H = RB . . ~ g.p. R B
f
c c l c.b
P di E  RB = l  H  l x f  N D   l f

a a b a.b
P di S  RB = l  H  l x f  N D   l f

lx
P berada antara DC  lihat kiri S  RA = t
l
 Ms = 0 (lihat kiri s)  RA . a – H.f = 0
R A .a
H=
f
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-123-

b b a ab
P di S  RA = l  H  l . f  N D   l f

b b a ab
P di S1  RA = l  H  l . f  N D   l f

GP.MD
P berada antara D  C

MD = R A .  - H . f
I II

I = RA  = Garis pengaruh MD diatas 2 perletakan


.V
P di D  MD =
l

II = H . f = Garis pengaruh H x f.

4.8. Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga


sendi

Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan

Soal 1.
S P = 1 t berjalan
4m C
yc f= 4 Pelengkung 3 sendi seperti tergambar.
Pelengkung mengikuti persamaan
H H
parabola:
A H H B y = 4fx (l - x) / l²

8m 8m Akibat beban P = 1t berjalan diatas


pelengkung, ditanyakan :
VA VB
G.P. VA , G.P. H, G.P. NC , G.P.DC ,
G.P. MC
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-124-

Soal 2.

S
C D
Portal 3 sendi ABCD seperti
tergambar
f=3m Akibat beban P = 1t berjalan
AB
  diatas portal, ditanyakanL
H 4m H G.P VA , G.PH, G.P NC bawah ,
4m 4m 4m
G.P DC bawah, G.P NC kanan,
VA VB
G.P DC kanan
Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya
masih statis tertentu. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara
portal 3 sendi dan balok statis tertentu, dimana dalam penyelesaiannya
merupakan gabungan dari penyelesaian masing-masing struktur statis
tertentu tersebut.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-125-

4.9. Rangkuman
4.10. Penutup
Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa, perlu melihat jawaban
soal-soal tersebut seperti dibawah ini.

Keterangan P = 1t dititik Nilai Tanda / Arah


VA A 1t + 
Di A = H B 0

A 0 + 
S 1t
Data pendukung B 0

Yc 3m
Y' = tng  0.5
Sin  0.447
Sin  0.894

Keterangan P = 1t di titik Nilai Tanda / Arah


NC A 0
C kiri 0,335t -
C kanan 0.782t -
S 1,1175t -
B 0

DC A 0
C kiri 0,447t -
C kanan 0,447t +
S 0
B 0
MC
A 0
C 1,5t m +
S 1,0t m -
B 0

Soal No. 2
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-126-

Keterangan P = 1t di titik Nilai Tanda/ Arah


VA A 1t + 
B 0

Di A = H A 0
S 1,333t + 
B 0

NC bawah A 0
C bawah 0,384t -
C kanan 0,084t -
S 1,336t -
B 0

DC bawah A 0
C bawah 0,60t -
C kanan 0,20t -
S 0,40t -
B 0

NC kanan A 0
S 1,333t -
B 0

DC kanan A 0
C bawah 0,25t -
C kanan 0,75t +
B 0
MC A 0
C 1t m +
S 2t m -
B 0

4.11. Daftar Pustaka


Suwarno, “Mekanika Teknik Statis Tertentu”, UGM Bab VI dan
VII

4.12. Senarai
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-127-

Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu


Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu
Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi
dan balok.
Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok.

MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN


CARA PENYELESAIANNYA

5.1. JUDUL : KONSTRUKSI RANGKA BATANG (K.R.B.)


MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-128-

5.1.2. Tujuan Pembelajaran Umum


Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti
serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang.

5.1.3. Tujuan Pembelajaran Khusus


Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk-bentuk
KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan
beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan
serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan.

5.1.4. Pendahuluan
Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan
dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang
paling murah. Jika materialnya dari beton, maka struktur
bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana, tapi kalau
materialnya dari kayu, bambu atau baja, maka kita harus
merangkai material tersebut. Rangkaian dari material bambu,
kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka
batang.
Missal :

Rangka batang dari suatu jembatan

Rangka batang dari suatu kuda-


kuda

Gambar 5.1. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi


Bentuk Rangkaian
rangka batang
Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari bentuk
segitiga.

Kenapa bentuk  tersebut dipilih !.


MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-129-

Bentuk segitiga () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu
bentuk yang mantap (stabil)  tidak mudah berubah. Bagaimana jika
bentuk tersebut segiempat ( )
bentuk segiempat ( ) tersebut tidak stabil.
P

segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang.

5.1.5. Bentuk Konstruksi Rangka Batang


5.1.5.1. Bentuk
K.R.B. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang-batang yang
berbentuk segitiga
Segitiga (bentuk tetap).
Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul.
Pada konstruksi baja sambungan-sambungan pada plat buhul
digunakan baut, paku keling atau las.
Pada konstruksi kayu memakai baut, pasak atau paku.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-130-

K.R.B = segitiga yang


dihubungkan melalui plat
buhul pada titik buhulnya
titik buhul

I
titik buhul

Gambar 5.2. Bentuk Konstruksi Rangka Batang

+ +
Batang
+ +
+ +
+ + Plat buhul

Titik buhul
Paku keling / baut

Gambar 5.3. Detail I, salah satu sambungan

Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil, tapi dalam perhitungan


titik buhul ini dianggap SENDI.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-131-

K.R.B. Pada Jembatan

K.R.B. Ruang

terdiri dari

2 K.R.B. sisi

1 K.R.B. atas (ikatan angin atas)

1 K.R.B. bawah (ikatan angin


bawah)

K.R.B. Ruang bisa dipisahkan menjadi K.R.B. Bidang.


Gambar 5.4. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan

5.1.5.2. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena


konstruksi statis tertentu

Sendi  2 Reaksi

Rol  1 Reaksi
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-132-

RH
Perletakan sendi ada 2 reaksi

RV = Reaksi vertikal
RV RH = Reaksi horizontal

Perletakan rol ada 1 reaksi

RV = Reaksi vertikal
RV

5.1.5.3. Konstruksi Statis Tertentu Pada K.R.B. (Konstruksi


Rangka Batang)
Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa
diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan ;
H = 0
3 persamaan keseimbangan
V = 0
M = 0

Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang
tidak diketahui)

Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang


K.R.B. merupakan kumpulan dari batang-batang yang mana gaya-gaya
batang tersebut harus diketahui. Dalam hal ini gaya-gaya batang tersebut
beberapa gaya tarik atau tekan. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5).

Jumlah bilangan yang tidak


4 8
2 4 6 diketahui :
Reaksi =3
Jumlah
5 7 9 Jumlah batang = 13
1 12
3 11 Bilangan yang tidak
diketahui = 3 + 13 = 16
1 2 6 10 13 8
3 5 7
RH

RV RV
Gambar 5.5. Konstruksi rangka batang bidang
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-133-

Titik simpul : dianggap sendi


Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan
Yaitu : V = 0 Kx = 0
atau
H = 0 Ky = 0

Pada gambar (5.5) ada 8 titik simpul


 jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan
Dari keseluruhan konstruksi :
3 reaksi
Ada 16 bilangan yang tidak diketahui
13 gaya batang

Ada 16 persamaan Konstruksi statis tertentu


(karena masih bisa diselesaikan dengan syarat-syarat persamaan
keseimbangan)

5.15.4. Rumus Umum Untuk K.R.B.


k=b+r
k = banyaknya titik simpul (titik buhul)
b = jumlah batang pada K.R.B.
r = jumlah reaksi perletakan

5.1.6. Rangka Batang Gerber


Seperti pada balok menerus, maka pada konstruksi rangka batangpun ada
balok gerber
2 4 4 7 6 12 8 10 19 12 23 14

3 5 18 20 22
1 8 9 11 13 15 16 24 26
2 6 10 14 17 21 25
1 15
3 5 7 S 9 11 13 rol
A
B CC
Sendi rol
Rol (Sendi Gerber)
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-134-

Gambar 5.6. Rangka batang gerber

A = sendi
B = rol
S = sendi gerber
C = rol

Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol

2 2

Jumlah batang = 26

Jumlah bilangan yang


tidak diketahui = 30

Jumlah titik simpul = 15

Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan.


Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi
statis
tertentu

Konstruksi statis tertentu

5.1.7. Prinsip Penyelesaian


Ada beberapa cara penyelesaian K.R.B.
1. Keseimbangan titik buhul
a. Cara analitis dengan menggunakan
.Kx = 0 dan
.Ky = 0
b. Cara grafis dengan metode Cremona
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-135-

2. Metode Potongan :
a. Cara Analitis

Metode Ritter
b. Cara Grafis

Metode Cullman
3. Metode Penukaran batang

5.1.8. Keseimbangan Titik Simpul


Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik
simpul saja.
a. Penyelesaian secara analitis
Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul.
y H=0 .Kx =0
.V = 0 ata .Ky = 0

semua gaya yang searah x


x
dijumlahkan demikian juga yang
searah y dan resultantenya harus
sama dengan rol.

b. Distribusi Beban
Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung, jadi kalau
ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di
tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus
diuraikan menjadi beban titik pad simpul-simpul terdekat.

P1 = distribusi akibat
P beban terbagi rata

P2 = distribusi akibat
Akibat
beban terbagi rata
P1 P2 P3 beban P
dan P

P3 = distribusi akibat
beban P

Akibat
beban
terbagi
Gambar 5.7. rata beban pada KRB
Distribusi
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-136-

c. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang

q = 1 t/m’ (muatan terbagi


rata)

4m

A B

4m 4m 4m 4m

Muatan terbagi rata tersebut dijadikan muatan terpusat pada titik-titik


simpulnya.

2t
2t
B
A

4t 4t 4t

Gambar 5.8. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik


MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-137-

5.1.9. Contoh Soal 1


Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti
pada gambar !. selesaikan struktur tersebut.

A
B
4t

RA = RB =
   
3t 1t
Gambar 5.9. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t

Mencari reaksi perletakan


 MA = 0  RB . 4  - 4 .  = 0
 RB = 1t
 MB = 0  RA . 4  - 4 . 3 = 0
 RA = 3t

Pemberian notasi
Untuk mempermudah penyelesaian, tiap-tiap batang perlu diberi notasi.
Untuk batang atas diberi notasi A1; A2 dan A1’; A2’
Untuk batang bawah diberi notasi B1, B2 dan B1’, B2’
Untuk batang diagonal diberi notasi D1; D2 dan D1’; D2’
Untuk batang vertikal diberi notasi V1; V2 dan V1’; V2’ serta V3
Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-138-

II A1 IV A2 VI A2’ VIII A1’ IX

D1 D2 D2’ D1’
V1 V2 V3 V2 V1’ 

I III
B1 B2 V B’2 VII B’1 X
4t

3t 1
   
t
Gambar 5.10. Pemberian notasi pada gaya-gaya batang

Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai


syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu  Kx = 0 dan  Ky =
0
Jadi keseimbangan pada tiap-tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika
terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui, karena hanya
menyediakan 2 persamaan yaitu Kx = 0 dan  Ky = 0.

Catatan
Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak
diketahui.
 sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya-gaya
batangnyua
 (Anggapan) / perjanjian pada K.R.B.
titik simpul
Batang tertekan dengan tanda (-) (gaya menuju titik simpul)

Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul)


Penyelesaian
Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui
Titik I
Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui
V1 adalah batang tarik. Jika hasil positif  berarti
anggapan kita betul  batang betul-betul tertarik.
B1
Jika hasil negatif  berarti anggapan kita salah 
batang tertekan.
Dalam penjumlahan, gaya yang searah diberi tanda
sama.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-139-

3t

 V = 0  3 t + V1 = 0
V1 = -3 ton (berarti batang tekan)
 H = 0  B1 + 0 = 0  B1 = 0 (batang nol)

V1

B1 = 0
Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan
batang D1 diuraikan menjadi gaya batang
Titik II horizontal dan vertikal.
V1 = - 3 t (menuju titik simpul)
½ D1 D1
A1
3t
V1 Batang D1 diuraikan menjadi arah vertikal 
½ D1 2 dan arah horizontal  ½ D1 2 .
½ D1 D1
D1

 V = 0  - 3 t + ½ D1 2 =0
½ D1 2 = 3  D1 = 3 2 t (tarik)

 H = 0  A1 + ½ D 1 2 =0
A1 = - ½ D 1 2 =-½.3 2 . 2

A1 = - 3 ton (tekan)

Titik III Batang V2 dan B2 dianggap tarik


V2
Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi
3
batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t
3t V=0 4 t – 3 t – V2 = 0
3t
 V2 = 1 t (tarik)
B2
B1 = 0 H=0 B2 – 3 t = 0
B2 = 3 t (tarik)
P = 4t
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-140-

Batang A2 dan D2 dianggap tarik.


Titik IV Batang D2 diuraikan menjadi gaya

A2 horizontal dan vertikal ½ D2 2


3t ½ D2
V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0
½ D2
D2 = - 2 t (tekan)
1t D2
H=0 3 + A2 + ½ D2 2 = 0
3 + A2 – 1 ton = 0
A2 = - 2 ton (tekan)

Titik VI
Batang A2’ dan V3 dianggap tarik

2t A2’ V=0 V3 = 0 ton


H=0 A2’ + 2 t = 0
A2’ = - 2 t (tekan)
V3 = 0

Batang D2’ dan B2’ dianggap tarik


Titik V Batang D2’ diuraikan horizontal dan vertikal
0t ½D’ V=0 ½ D2’ 2 + 0 – 1 t = 0
2 2
D2’ = 2 t (tarik)
D’2
1t
H=0 B2’ + 1t –3 t + 1t = 0
1t
B2’ = 1 ton (tarik)
3t ½ D2’ B2’

Titik VIII Batang A1’ dan V2’dianggap tarik


H=0 2 t + A1’ – 1 t = 0
2t
A1’ = - 1 t (tekan)
A1’
V=0 1 + V2’ = 0
t V2’ = - 1t (tekan)

V2’
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-141-
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-142-

Titik VII

½ D1’ D1’ Batang D1’ dan B1’dianggap tarik


Batang D1’ diuraikan menjadi ½ D1’
1t
2
1t ½ D1’ B1’ V=0 ½ D1’ 2 – 1 t = 0
D1’ = 2 t (tarik)
H=0 B1’- ½ D1’ 2 - 1t = 0
B’ + 1 – 1 = 0
B1’ = 0t

Titik X

V1’
 V = 0  1t + V1’ = 0
V1’ = - 1t (tekan)

B1’ = 0

RB =
1t
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-143-

Kontrol ke Titik IX
V=0

A1’ = 1 t V1’ – ½ D1’ 2 =0


(tekan) 1t – ½ . 2 . 2 0

V1’ = 1 t (cocok)
D1’ =
(tarik) (tekan) H=0
A1’ – ½ D1’ 2 = 0
1–½ . 2 . 2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATANG GAYA BATANG


A1 -3t
A2 -2t
A2’ -2t
A1’ -1t
B1 0
B2 3t
B2’ 1t
B1’ 0
V1 -3t
V2 1t
V3 0
V2’ -1t
V1’ -1 t
D1 3 2t
D2 - 2t
D2’ 2t
D1’ 2t

Batang B1 dan B1’ = 0, menurut teoritis batang-batang tersebut tidak ada,


tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk  maka batang ini
diperlukan.
Batang atas pada umumnya batang tekan
Batang bawah pada umumnya batang tarik.
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-144-

Contoh Soal 2
Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada gambar,
beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III

Jumlah batang = 9 = b
II A V Jumlah reaksi = 3 = r
12
 D1 D2 D3
V1 V2 Jumlahg titik simpul = 6 = k
I B1 B2 B3 VI 2k=b+r2x6=9+3
A III IV B  konstruksi .r.b. statis tertentu

2t  3t   1t Mencari Reaksi

 MB = 0
2
RA = x3t=2t
3
 MA = 0
1
RB = x3t=1t
3
Titik Simpul I

Batang D1 dan B1 dianggap tarik


Batang D1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D1 2

½ D1
D1  Ky = 0
½ D1 2 + 2t = 0
2
D1 = - . 2 = - 2 2 t . (tekan)
2
½ D1
 Kx = 0
B1 B1 - ½ D 1 2 = 0  B1 = 2 ton (tarik)

2 t (reaksi)
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-145-

Titik III

Gaya batang V1 dan B2 dianggap


V1
tarik

 Ky = 0  V1 = 3 ton (tarik)

B2  Kx = 0  B2 = 2 ton (tarik)
2t 3t

Titik II Gaya batang A dan D2 dianggap tarik


 Kx = 0
½ D2
½ D1 A ½ D1 2 - 3t – ½ D2 2 =0
½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1
(tekan)
D1 = 2 D2 = - 2 t (tekan)
D2
3t  Ky = 0
½ D2
½ D1 A + ½ D1 2 + ½ D 2 2 = 0
A+½.2 2. 2 -½. 2. 2 =0
A = 1 –2 = -1t (tekan)

Titik IV Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik


 Ky = 0
V2
½ D2 2 - V2 = 0
D2 =
V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

B3  Kx = 0
B2 = 2t
B3 – B2 + ½ D2 2 = 0
B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

Titik VI Gaya batang D3 dianggap tarik


 Ky = 0
D3
½ D3 2 + 1t = 0
D3 = - 2 . 1t
D3 = - 2 t (tekan)
B3 =
1t
1t  Kx = ½ D3 2 + B3 = 0
- ½ . 2 . 2 + B3 = 0  B3 = 1t
(tarik)
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-146-

Kontrol

Titik V
 Kx = 0

A = 1t A – ½ . D3 2 =0

1t – ½ . 2 . 2 =0 (cocok)
D3
V2 =
1t

5.1.10. Latihan : Konstruksi Rangka Batang

Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut :

Soal 1 A A2
1
Konstruksi Rangka Batang
D1 D2 seperti tergambar
D3 D4 D5 D6 3 P1 = 6t ; P2 = 3t
RAH   m
A B1 B2 B3 Ditanyakan :

P1=6 P2=3 RB a). Gaya reaksi


RAV b). Gaya-gaya batang
 t  t 

= 4m

P2 = 600 kg
Soal 2 Kuda-kuda konstruksi Rangka
Batang seperti tergambar.
P1 = 600 kg 8 P3 = 400 kg Beban ; P1 = 600 kg
10 P2 = 600 kg
P3 = 400 kg
9
5 Ditanyakan:
7 11 13
6 12
RAH 45° a). Gaya – Reaksi
45°
B b). Gaya- gaya batang
A 1 2 3 4

RAV RB
3m 3m 3m 3m
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-147-

5.1.11. Rangkuman

o KRB merupakan rangkaian dari bentuk  (segitiga)


o Dalam KRB yang dicari adalah gaya-gaya batangnya, bisa
berupa gaya tarik, atau gaya tekan.
o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.
o Pencarian gaya-gaya batang, hanya bisa diselesaikan jika
jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2.

5.1.12. Penutup
Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan, maka
mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini :

Jawaban :

Soal No. 1
Keterangan Titik / Gaya Nilai Arah / Tanda
Reaksi vertikal A : RAV 5t 
B : RB 4t 
Reaksi Horizontal A : RAH 0
Data Pendukung Sin  0,835
Cos  0,555
Gaya Batang A1 6,667 t Tekan -
A2 5,333 t Tekan -
B1 3,333 t Tarik +
B2 6,000 t Tarik +
B3 2, 667 t Tarik +
Gaya Batang D1 6,00 t Tekan -
D2 6,00 t Tarik +
D3 1,20 t Tarik +
D4 1,20 t Tekan -
D5 4,808 t Tekan -
D6 4,808 t Tarik +
MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)
-148-

Soal No. 2
Keterangan Titik / Gaya Nilai Arah / Tanda
Reaksi Vertikal A : RAV 850 kg 
B : RB 750 kg 
Reaksi Horizontal A : RAH 0
Gaya Batang  850 kg Tarik +
2 850 kg Tarik +
3 750 kg Tarik +
4 750 kg Tarik +
5 1202 kg Tekan -
6 0
7 424 kg Tekan -
8 778 kg Tekan -
9 500 kg Tarik +
10 778 kg Tekan -
11 283 kg Tekan -
12 0
13 1061 kg Tekan -

5.1.13. Daftar Pustaka


- Suwarno, “Mekanika Teknik Statis Tertentu”, UGM Bab
- Soemono, “Statika I”, bab

5.1.14. Senarai
- Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang-batang
yang berbentuk  (segitiga)
- Titik simpul : dianggap sendi.

Anda mungkin juga menyukai