Anda di halaman 1dari 5

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer (lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925


meninggal dunia di Jakarta, 30 April 2006 pada umur 81 tahun), secara luas
dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastera
Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan
ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.
Perjalanan Hidup Pram
Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada
masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan
sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan.
13 Oktober 1965 - Julai1969
Julai 1969 - 16 Ogos1969 di Pulau Nusa Kambangan
Ogos 1969 - 12 November 1979 di Pulau Buru
November - 21 Disember 1979 di Magelang
Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun
tetap mengatur untuk menulis serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi
Manusia, serial 4 kronik novel semi-fiksi sejarah Indonesia Pramoedya
dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat
1

pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S/PKI, tapi masih
dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan
negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta
Timur selama kurang lebih 2 tahun.
Kontroversi
Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsaysay Award, 1995,
diberitakan sebanyak 26 tokoh sastera Indonesia menulis surat 'protes' ke Yayasan
Ramon Magsaysay. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai "jubir
sekaligus algojo Lekra paling galak, menghentam, menggasak, membantai dan
mengganyang" pada masa demokrasi terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan
menuntut penarikan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.
Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya tidak pernah mendapat
kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang
dan dikeroyok secara terbuka di koran.
Istri Pramoedya Anata Toer

Muthmainah, Isteri Pramoedya


Maemunah Thamrin (82) dimakamkan secara Islam di Taman Pemakaman
Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat, dengan meninggalkan 5 anak dan 9
cucu. Dialah sosok istri dari seorang sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Toer
yang lebih dulu menghadap Yang Maha Kuasa pada 30 April 2006 .
Berpulang
Pada 27 April 2006, Pram tidak sedar diri. Pihak keluarga akhirnya memutuskan

membawa dia ke RS Saint Carolus hari itu juga. Pram didiagnosis menderita
radang paru-paru, penyakit yang selama ini tidak pernah menjangkitinya,
ditambah komplikasi ginjal, jantung, dan diabetes.

Makam Pramoedya dipenuhi karangan bunga dan buku-buku karyanya


Pada 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya wafat dalam usia 81 tahun.
Ratusan pelayat kelihatan memenuhi rumah dan pekarangan Pram di Jalan
Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Pelayat yang hadir antara lain
Sitor Situmorang, Erry Riyana Hardjapamekas, Nurul Arifin dan suami, Usman
Hamid, Putu Wijaya, Goenawan Mohamad, Gus Solah, Ratna Sarumpaet,
Budiman Sudjatmiko, serta puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan. Hadir
juga Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Terlihat sejumlah karangan
bunga

tanda

duka.

Makam Pram pada tahun 2011


Penghargaan yang pernah di dapatkan
1. Pada 1951 : First Prize from Balai Pustaka for Perburuan (The Fugitive)
2. Pada 1953 : Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional for Cerita dari Blora
(Tales from Blora)
3. Pada 1964 : Yamin Foundation Award for Cerita dari Jakarta (Tales from
Jakarta)-declined by writer.
4. Pada 1978 : Adopted member of the Netherland Center During Buru exile.
5. Pada 1982 : Honorary Life Member of the International P.E.N. Australia Center,
Australia.

Karya Pramoedya Anantha Toer


1. Bumi Manusia (1980); dilarang Jaksa Agung, 1981
2. Cerita Calon Arang (1957)
3. Gadis Pantai (1962-65) dalam bentuk cerita bersambung, Bahagian
pertama triologi tentang keluarga Pramoedya; terbit sebagai buku, 1987;
dilarang Jaksa Agung; jilid kedua dan ketiga dibakar
4. Larasati (2000)

5. Rumah Kaca (1988); dilarang Jaksa Agung, 1988