Anda di halaman 1dari 11

DEFINISI AIR

Menurut UU RI no 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, yang


dimaksud dengan air adalah semua air yang terdapat pada, di atas,
ataupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air
permukaan, air tanah, air hujan dan air laut yang berada di darat
SIKLUS HIDROLOGI
MANFAAT AIR
Tubuh manusia 65%nya adalah air sehingga keperluan utama
adalah untuk air minum, disamping mandi dan cuci.
Selain itu dipakai pula untuk irigasi, perikanan, pembangkit
listrik, rekreasi, produksi industri dan sebagai badan air penerima
air buangan
Dari manfaat air, secara jelas dapat dilihat bahwa kualitas air
harus menjadi perhatian
AIR TAWAR
Keberadaan air di muka bumi 1,4.109 dalam bentuk samudra,
laut, sungai, danau, es. Dari jumlah tersebut 97% AIR LAUT dan
hanya 3% yang berupa AIR TAWAR. Dari 3 %, 2%lebih terdapat di
es kutub. Sehingga + 0,62% yang merupakan sungai, danau dan
air tanah
KETERKAITAN KUALITAS AIR DALAM BIDANG PENGAIRAN
Air minum
Perikanan
Pertanian (irigasi)
Untuk produksi industri
KARAKTERISTIK AIR
FISIK
Karakteristik air yang berhubungan dengan penglihatan, sentuhan,
rasa dan bau.
Parameter fisik : suspended solid, turbiditas, warna, rasa, bau, suhu.
1. Suspended solids
Penyebab : partikel organik dan anorganik, minyak, lemak.
Dampak : tidak estetis, beberapa penyebab penyakit.
Pengukuran : gravimetri (sampel diuapkan dan ditimbang
residunya)
2. Turbiditas
Penyebab : erosi material koloid : tanah liat, pecahan batuan,
oksida logam dari tanah, fiber sayuran, mikroorganisme
Dampak : air keruh, sedimen (bila jumlahnya yang banyak)
1

Perhitungan: photometrical dengan alat turbidimeter


3. Warna
Penyebab :
a. Kontak air dengan organik debris : daun, rumput, kayu, tanin,
asam humus.
b. Besi : air kemerahan, Mangan : air kecoklatan
c. Buangan industri tekstil, dyes, pulp & paper, makanan, bahan
kimia, pertambangan, penyulingan.
Dampak : tidak estetik, tidak bisa dipakai untuk proses industri
misal kertas, tekstil, plastik, dsb; mengurangi keefektifan klorin
sebagai desinfektan
Pengukuran : perbandingan dengan standar warna
4. RASA DAN BAU
Penyebab : mineral, logam, garam dari tanah, produk akhir dari
reaksi biologis, kandungan air limbah
Misal bahan alkaline penyebab rasa pahit, garam logam
penyebab asin dan pahit, bahan inorganik penyebab bau.
Dampak : tidak estetis, bahkan karsinogen
Pengukuran : kromatografi, treshold odor number (TON)
5. TEMPERATUR
Penyebab : temperatur ambien, buangan industri, kanopi hutan
yang hilang
Dampak : mempengaruhi spesies biologis, kelarutan dan reaksi
kimia, viskositas air
Pengukuran : termometer
KIMIA
a. Organik
b. Inorganik/anorganik
c. Pestisida/desinfektan
BAKTERIOLOGIS
E.Coli dan Total Coliform
Dimana standarnya untuk air minum 0/100 ml sample (Permenkes no
907/2002)
Fakta :
Air minum isi ulang secara fisik dan kimia memenuhi namun
bakteriologis tidak (masih ditemukan E.Coli dan Salmonella)

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap baik buruknya kualitas air :


Cuaca/Musim
Aktivitas manusia : buangan air limbah
Proses-proses di alam : natural purification
Kapan air harus dipelajari dan diamati kualitasnya :
Ketika air akan digunakan/dimanfaatkan untuk
manusia dan makhluk hidup lainnya
Kecenderungan manusia yang egois ??
Ketika masalah yang disebabkan oleh air muncul

keperluan

Sumber air
A. Air tanah
B. Air permukaan : hujan, sungai kolam, danau, reservoir
C. Mata air
Perlu diperhatikan kualitas, kuantitas dan kontinyuitas sumber air
Pencemaran
Menurut UU no 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup yang dimaksud tentang PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP
adalah :
Masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, atau
komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia
sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang
menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai
dengan peruntukkannya.
Limbah
Menurut UU no 23/1997 Limbah adalah sisa suatu usaha
dan/atau kegiatan.
Apabila suatu limbah berbentuk cair maka dapat dikatakan
sebagai air limbah
Istilah lain air limbah = air kotor = air buangan = air bekas.
Secara umum air limbah didefinisikan sebagai :
Cairan buangan yang berasal dari rumah tangga, industri dan
fasilitas-fasilitas umum yang umumnya mengandung bahan/zat yang
membahayakan kehidupan makhluk hidup serta merusak kelestarian
lingkungan.
SUMBER AIR LIMBAH
Rumah tangga/domestik (municipal) : berupa ekskreta (urine),
air cucian dapur, air cucian baju, kamar mandi.

Fasilitas umum : perkantoran, perdagangan (pasar, mall), hotel,


rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, restoran, dsb
Lahan pertanian/perkebunan atau pertambangan : sisa pestisida
yang masuk kedalam perairan
Industri : berasal dari air sisa produksi yang umumnya
kualitasnya kompleks dan terkadang bersifat toksik (beracun)

KARAKTERISTIK AIR LIMBAH


Air limbah walaupun berbentuk cair, namun sebenarnya terdiri
dari 3 komposisi yakni bahan padatan, cair dan gas. Beberapa
kontaminan
penting yang terdapat dalam air limbah akan
ditabelkan berikut ini :
Tabel Kontaminan penting dalam air limbah
Kontaminan
Padatan
tersuspensi
(Suspended solid, SS)
Bahan organik yang
bisa
terurai
(biodegradable
organics)
Patogen

Sumber
Domestik,
industri,
erosi
dengan
jalan
infiltrasi
Domestik,
industri

Domestik

Dampak terhadap lingkungan


Penyebab timbunan lumpur dan
kondisi anaerobik pada lingkungan
perairan
Penyebab degradasi biologis dimana
ada penggunaan oksigen pada badan
air
penerima
limbah
dan
menghasilkan kondisi yang tidak
diinginkan
Penyebab penyakit

Nutrien
Bahan organik yang
sulit
ditangani
(refractory organics)
Logam berat (heavy
metal)
Padatan
inorganik
terlarut
(dissolved
inorganic solids)
Sumber : Peavy, 1985

Domestik,
industri
Industri

Penyebab eutrofikasi

Industri,
pertambangan
Domestik,
industri

Beracun, masih tercampur di efluen


yang diolah
Masih tercampur di
efluen yang
diolah

Penyebab problem rasa dan bau yang


beracun dan karsinogen

Beberapa kontaminan yang paling berpengaruh :


1. Padatan tersuspensi (suspended solid)
Berasal dari buangan manusia, sisa makanan, kertas, kain, sel
biologis.
2. Bahan organik yang bisa terurai (biodegradable organics)
Terdiri dari bahan protein (asam amino), karbohidrat, minyak dan
lemak
3. Patogen
Termasuk diantaranya bakteri, virus, protozoa, cacing.
Air limbah, seharusnya sebelum dibuang harus diolah terlebih dahulu
sebelum dibuang ke badan ar penerima. Peraturan untuk standar
efluen air limbah telah ditetapkan baik secara internasional maupun
nasional bahkan lokal. Besarnya standar pun sangat bervariatif
tergantung sumber air limbah (jenis industri) dan keadaan lingkungan
alam setempat. Seperti di Jawa Timur berlaku SK Gubernur Jatim No. 45
tahun 2002 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Industri/Kegiatan
Usaha lainnya di Jatim (lihat lampiran).
Analisa Kualitas Air Fisik
KEKERUHAN/TURBIDITAS

Kekeruhan di dalam air disebabkan oleh zat tersuspensi seperti


lempung, lumpur, zat organik, plankton, dan zat halus lainnya. Ukuran
partikel penyebab kekeruhan berukuran 10 nm sampai 10 m.
Kekeruhan dapat dihilangkan melalui pembubuhan sejenis bahan kimia
dengan sifat-sifat tertentu yang disebut dengan flokulan. Umumnya
flokulan tersebut adalah tawas = alum = Al 2(SO4)3 juga garam Fe (III)
atau polielektrolit

organik. Selain pembubuhan, diperlukan

juga

pengadukan sampai flok-flok terbentuk. Flok-flok ini mengumpulkan


partikel-partikel

kecil

dan

koloid

dan

akhirnya

bersama-sama

mengendap.
Untuk menentukan dosis flokulan yang optimal dilakukan jar test.
Jar test
Suatu larutan koloidal yang mengandung partikel-partikel kecil dan
koloid dapat dianggap stabil bila :
1. Partikel-partikel kecil ini terlalu ringan untuk mengendap dalam
waktu yang pendek (beberapa jam)
2. Partikel-partikel tersebut tidak dapat menyatu, bergabung dan
menjadi partikel yang lebih besar dan berat,karena muatan
elektris

pada

permukaan

partikel-partikel

adalah

setanda

(biasanya negatif)
Dengan pembubuhan flokulan maka stabilitas terganggu karena :
1. Sebagian kecil tawas tinggal terlarut dalam air. Molekul-molekul
ini dapat menempel pada permukaan koloid dan mengubah
muatan elektriknya karena sebagian molekul Al bermuatan
positif
2. Sebagian besar tawas tidak terlarut dan akan mengendap
sebagai

flok

Al(OH)3

yang

dapat

mengurung

koloid

dan

membawanya ke bawah.

Prosedur Jar test


Alat jar test dengan 6 beker 1 liter
Tawas yang diencerkan dibubuhkan
Pengadukan :
a. Pelarutan tawas dengan pengadukan cepat (1 menit, 100 rpm)
b. Pengadukan lambat untuk membentuk flok-flok (15 menit, 20
rpm)
c. Sedimentasi (15 30 menit, 0 rpm)
Metode pengukuran kekeruhan
1. Metode Nefelometrik (unit kekeruhan nefelometrik FTU atau NTU)
2. Metode Hellige Turbidimetri (unit kekeruhan silika)
3. Metode visuil (unit kekeruhan Jackson)
Prinsip : perbandingan antara intensitas cahaya yang dihamburkan dari
suatu sampel air dengan intensitas cahaya yang dihamburkan oleh
suatu larutan keruh standar pada kondisi yang sama. Makin tinggi
intensitas cahaya dihamburkan maka makin tinggi pula kekeruhannya.
Warna
Prinsip analisis
Pemeriksaan warna ditentukan dengan membandingkan secara
visuil warna sampel dengan larutan standar warna yang diketahui
konsentrasinya.Sebagai standar warna dipakai larutan platina-kobalt
(mg/l Pt-Co)
Zat padat
Zat padat terlarut
Zat padat total

Zat padat tersuspensi organis


(Volatile

Suspended

Solid=VSS)

Zat padat tersuspensi


(Total Suspended Solid=TSS)

Zat pada tersuspensi

inorganis
(Fixed Suspended Solid=FSS)

Zat padat tersuspensi (total suspended solid = TSS)


1. Prinsip analisa
Bila zat padat dalam sampel dipisahkan menggunakan kertas saring
dan

kemudian

dikeringkan

zat

pada

padat
suhu

yang
105oC

tertahan
maka

pada

berat

kertas

residu

saring

sesudah

pengeringan adalah zat padat tersuspensi (TSS).


2. Gangguan
Tersumbatnya

lubang-lubang

kertas

saring

akibat

sifat

zat

tersuspensi, sehingga filtrasi akan memakan waktu lama. Dalam hal


ini sampel dapat disaring memakai bejana pengisap dan pompa
vakuum. Bila terlalu banyak zat tersuspensi tertahan pada kertas
saring

maka jumlah air yang terperangkap dalam zat tersuspensi

bertambah sehingga membutuhkan waktu pengeringan lebih lama.


3. Alat-alat
a. Cawan porselin
b. Oven untuk pemanasan 105oC
c. Desikator
d. Timbangan analitis
e. Cawan Gooch
f. Kertas saring
g. Bejana isap dan pompa vakuum
4. Cara kerja
a. Memanaskan kertas saring di dalam oven pada suhu + 105oC
selama 1 jam. Dilanjutkan dengan pedinginan dalam desikator
selama 15 menit dan kemudian ditimbang dengan cepat.
8

b. Sampel yang sudah dikocok merata sebanyak 100 ml dipindahkan


dengan menggunakan pipet ke dalam alat penyaringan atau
cawan Gooch yang sudah ada kertas saring di dalamnya.
Kemudian disaring dengan sistem vakuum.
c. Kertas saring diambil dari alat penyaringan dengan hati-hati dan
kemudian ditempatkan di

cawan porselin untuk dimasukkan di

oven 105oC selama 1 jam. Selanjutnya didinginkan dalam


desikator selama 15 menit dan kemudian ditimbang dengan
cepat.
5. Perhitungan
mg/L TSS = (a b) x 1000
c
dimana :
a

= berat kertas saring dan residu sesudah pemanasan 105 oC

(mg)
b

= berat kertas saring sesudah pemanasan 105oC (mg)

= volume sampel (mL)

Zat padat tersuspensi organik (volatil suspended solid = VSS)


1. Prinsip analisa
Apabila zat padat tersuspensi dibakar pada suhu 550 oC maka bagian
yang habis terbakar dinyatakan sebagai zat padat tersuspensi
organik (VSS) dan residu yang tersisa dinyatakan sebagai zat padat
tersuspensi anorganik (fixed suspended solid = FSS ).
2. Gangguan
Gangguan seperti terurainya zat-zat organik sebelum pembakaran
(waktu penyimpanan) dan hilangnya air kristal dari zat anorganik
selama pembakaran seperti juga beberapa reaksi kimia lainnya
akibat suhu yang tinggi. Namun gangguan-gangguan ini tidak terlalu
mengganggu analisis. Penyerapan kelembaban udara merupakan

gangguan yang lebih besar bagi analisis zat padat organik dan
anorganik ini
3. Alat-alat
a. Furnace 550oC
b. Cawan porselin
c. Oven untuk pemanasan 105oC
d. Desikator
e. Timbangan analitis
f. Cawan Gooch
g. Kertas saring
h. Bejana isap dan pompa vakuum
4. Cara kerja
Setelah penentuan VSS maka dilanjutkan dengan kertas saring dan
residunya dibakar dalam furnace 550oC selama 10 20 menit.
Setelah itu dipindahkan dalam oven dengan suhu 105 oC selama 30
menit. Dilanjutkan dengan pendinginan dalam desikator selama 15
menit dan kemudian ditimbang cepat.
5. Perhitungan
mg/L TSS = (d a) x 1000
c
dimana :
d

= berat cawan, kertas saring dan residu sebelum pembakaran


550oC dan sesudah pemanasan 105oC (mg)

= berat cawan, kertas saring dan residu sesudah pembakaran

550oC (mg)
c

= volume sampel (mL)

Analisa kualitas air kimiawi


Derajat keasaman (pH) dan suhu
1. Prinsip analisa

10

Terdiri dari elektroda kaca dan elektroda referensi. Ion H + dari


larutan sampel menempel pada dinding kaca elektroda hingga
tegangan potensial muncul antara sisi dinding kaca yang khusus
tersebut dan diukur sebagai mV. Nilai mV perlu distandarkan
terhadap nilai pH yang sebenarnya dalam larutan sampel. Larutan
bufer dengan kadar pH yang sudah diketahui dapat digunakan untuk
mendapatkan nilai mV standar tersebut. Suhu sekaligus dapat
diukur.
2. Alat : pHmeter
3. Cara kerja
a. Menyambungkan alat pHmeter dengan sumber listrik, kemudian
menekan tombol on pada alat tersebut.
b. Apabila perlu, melakukan kalibrasi alat dengan menggunakan
larutan buffer pH tertentu. Elektroda dibilas dengan larutan buffer.
Setelah diukur, elektroda dibilas dengan aquades.
c. Menyiapkan sampel dengan memasukkan sampel ke dalam gelas
beker 100 mL.
d. Membilas elektroda dengan sedikit sampel dan kemudian
mencelupkannya ke dalam sampel sampai terendam.
e. Membaca pH dan suhu pada angka di display dan ditunggu
beberapa saat sampai angka konstan.

Besi (Fe)
Menggunakan alat spektrofotometer
Prinsip : sampel menyerap radiasi elektromagnetis yang pada
panjang gelombang tertentu dapat dilihat.

11